Kolaborasi BBPMP Provinsi Jawa Barat dan YPKI dalam Penyuluhan Kanker

Kolaborasi BBPMP Provinsi Jawa Barat dan YPKI dalam Penyuluhan Kanker

Bandung Barat – BBPMP Provinsi Jawa Barat mengadakan kegiatan sosialisasi dan penyuluhan kesehatan mengenai penyakit tumor dan kanker sebagai upaya meningkatkan kesadaran serta pemahaman masyarakat tentang pentingnya pencegahan dan deteksi dini. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen BBPMP dalam mendukung peningkatan kualitas hidup melalui edukasi kesehatan.

Sosialisasi menghadirkan narasumber Afina Putri Indriani, bidan dari Rumah Sakit Ibu dan Anak (Rumah Sakit Medina) yang juga aktif di Yayasan Pemerhati Kanker Indonesia (YPKI). Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa kanker secara medis merupakan perubahan sel normal dalam tubuh manusia menjadi sel yang tidak normal.

Narasumber menjelaskan lebih rinci mengenai jenis penyakit kanker yang saat ini cenderung mengalami peningkatan di masyarakat, yaitu kanker prostat, kanker rahim, dan kanker payudara. Ketiga jenis kanker ini perlu mendapat perhatian khusus karena pada tahap awal sering kali tidak menunjukkan gejala yang jelas, sehingga kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini menjadi sangat penting.

”Penyakit ini dapat menyerang siapa saja, baik perempuan maupun laki-laki, dan kerap disebut sebagai silent killer karena pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan gejala yang dirasakan” Ujarnya.

Lebih lanjut disampaikan bahwa kanker umumnya berawal dari tumor yang terbagi menjadi tumor jinak dan tumor ganas. Tumor ganas dapat berkembang dan menyebar ke jaringan di sekitarnya hingga ke organ lain melalui pembuluh darah. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak mengabaikan tanda-tanda seperti benjolan yang terus membesar dan segera melakukan pemeriksaan sedini mungkin agar penanganan dapat dilakukan secara optimal.

Selain membahas pengertian dan gejala, penyuluhan ini juga mengulas berbagai faktor pemicu kanker, antara lain pola makan dan kondisi lingkungan. Narasumber turut menyampaikan informasi mengenai upaya pencegahan, termasuk pemanfaatan tanaman herbal yang secara tradisional dikenal, seperti daun sirsak, benalu yang tumbuh di sekitar tanaman teh, serta temu putih sebagai upaya pendukung pencegahan.

“Sebagian besar kasus kanker di Indonesia, sekitar 80 persen, berkaitan dengan pola makan serta paparan polusi udara dan radikal bebas, yang masuk kedalam tubuh kita” jelasnya.

Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui sesi tanya jawab, di mana peserta aktif mengajukan pertanyaan seputar kanker, cara deteksi dini, serta langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui kegiatan ini, BBPMP Provinsi Jawa Barat berharap masyarakat semakin memahami bahaya kanker dan tumor serta mampu menerapkan pola hidup sehat guna menekan angka penderita dan kematian akibat penyakit tersebut. serta Melalui kegiatan penyuluhan ini, seluruh pegawai diharapkan semakin memiliki kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan pribadi maupun lingkungan kerja, sehingga mampu menunjang peningkatan produktivitas serta mutu layanan pendidikan secara berkelanjutan.

(Tim media)

BBPMP Provinsi Jawa barat Paparkan Hasil Asesmen INOVASI Perkuat Lingkungan Belajar Inklusif

BBPMP Provinsi Jawa barat Paparkan Hasil Asesmen INOVASI Perkuat Lingkungan Belajar Inklusif

Bandung Barat – Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Barat bersama Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) melaksanakan kegiatan refleksi dan diskusi terkait  hasil asesmen pelaksanaan Program INOVASI tahun 2025 di Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Sumedang. Kegiatan ini bertujuan untuk mengidentifikasi tantangan serta peluang peningkatan mutu pendidikan berbasis data dan konteks daerah.

Hasil refleksi menunjukkan bahwa capaian literasi dan numerasi murid di Kabupaten Cirebon, berdasarkan data Asesmen Nasional Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi tahun 2022, masih berada di bawah rata-rata Provinsi Jawa Barat. Skor literasi murid laki-laki tercatat sebesar 48,36 dan murid perempuan 52,95. Sementara itu, skor numerasi murid laki-laki mencapai 36,91 dan murid perempuan 38,73. Data tersebut memperlihatkan pola konsisten bahwa capaian murid perempuan lebih tinggi dibanding murid laki-laki, sekaligus menunjukkan adanya kesenjangan gender.

Secara umum, skor literasi dan numerasi Kabupaten Cirebon berada sekitar dua poin di bawah rata-rata Jawa Barat. Kondisi ini mengindikasikan masih adanya tantangan dalam mutu pembelajaran serta kualitas lingkungan belajar yang perlu mendapatkan perhatian bersama.

Program INOVASI mengidentifikasi sejumlah faktor yang berkontribusi terhadap kondisi tersebut. Pada aspek kesetaraan gender, hasil temuan menunjukkan bahwa sebagian murid masih merasa belum aman di sekolah akibat perundungan, kekerasan fisik, maupun kekerasan seksual, dengan risiko yang lebih tinggi dialami oleh murid perempuan. Situasi ini dipengaruhi oleh belum seragamnya pemahaman pemangku kepentingan terkait bentuk dan penanganan kekerasan, serta masih kuatnya stereotip gender dalam praktik pendidikan di sekolah.

Dari sisi inklusi disabilitas dan sosial, Kabupaten Cirebon memiliki 4.186 murid penyandang disabilitas. Namun, hanya sebagian kecil yang bersekolah di satuan pendidikan inklusi. Tantangan yang dihadapi antara lain keterbatasan akses dan layanan, kesiapan pendidik dan kepala sekolah dalam menerapkan pembelajaran inklusif, serta masih adanya stigma sosial. Selain itu, kelompok murid rentan lainnya juga memerlukan perhatian khusus, seperti murid dari keluarga kurang mampu, murid dengan keterbatasan bahasa pengantar, serta murid dengan latar belakang keluarga pekerja migran atau orang tua yang berpisah.

Kabupaten Cirebon tergolong tinggi dan berada di atas rata-rata provinsi maupun nasional. Risiko cuaca ekstrem, banjir dan abrasi, serta kebakaran lahan berpotensi berdampak pada keberlangsungan proses pendidikan. Namun demikian, pemahaman mengenai dampak perubahan iklim di lingkungan sekolah masih terbatas, khususnya terkait dampak jangka panjang terhadap ketahanan ekonomi keluarga dan keberlanjutan pendidikan.

Secara keseluruhan, hasil asesmen menunjukkan bahwa peningkatan capaian literasi dan numerasi murid sangat berkaitan erat dengan kualitas lingkungan belajar. Oleh karena itu, sekolah diharapkan dapat berperan sebagai ruang yang aman, inklusif, adil gender, serta adaptif terhadap tantangan perubahan iklim dalam mendukung terwujudnya pendidikan bermutu untuk semua.

Sementara itu, hasil asesmen di Kabupaten Sumedang menekankan pentingnya penguatan mutu pelaksanaan program transisi PAUD ke SD. Penguatan tersebut difokuskan pada pengembangan keterampilan dasar literasi, numerasi, dan pendidikan karakter, dengan tetap mengintegrasikan prinsip keadilan gender, disabilitas, dan inklusi sosial. Melalui penguatan ekosistem pendidikan secara menyeluruh, diharapkan upaya peningkatan mutu pendidikan di daerah dapat berjalan lebih berkelanjutan.

(Tim Media)