Bandung – Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama BBPMP Provinsi Jawa Barat terus memperkuat komitmen dalam pencegahan dan penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) sebagai bagian dari pelaksanaan Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pencegahan dan Penanganan Anak Tidak Sekolah.
Kegiatan Rapat Koordinasi Pendidikan ini dilaksanakan pada Selasa (13/10/2026) dan dihadiri oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat. Kehadiran Sekretaris Daerah menjadi wujud nyata komitmen dan tekad kuat Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat untuk memperkuat sinergi lintas sektor dalam mewujudkan Jabar Istimewa, dengan target Jawa Barat Bebas ATS pada tahun 2029.
Berdasarkan data per 8 Oktober 2026, jumlah ATS di Jawa Barat berhasil turun dari 647.604 anak menjadi 508.615 anak. Artinya, terdapat penurunan sebanyak 138.989 anak atau 21,46%, melampaui target penurunan minimal 20% yang telah ditetapkan. Capaian ini menjadi langkah penting menuju target tahun 2029, yaitu seluruh anak di Jawa Barat mendapatkan layanan pendidikan, baik melalui jalur formal maupun nonformal, sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing anak.
Melalui kolaborasi pemerintah provinsi, kabupaten/kota, perangkat daerah, satuan pendidikan, dan seluruh pemangku kepentingan, Jawa Barat terus bergerak memastikan setiap anak memperoleh haknya atas pendidikan.
Sidoarjo, Jawa Timur, 13 Oktober 2026 — Peringatan Bulan Bahasa di SMAN 1 Taman, Sidoarjo, Jawa Timur, menjadi momentum penguatan literasi sekaligus ajang kreativitas murid melalui gelar karya kokurikuler berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Salah satu karya yang ditampilkan adalah ART-MATIKS, inovasi yang memadukan matematika, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dan pelestarian batik Sidoarjo.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan pentingnya bahasa sebagai identitas dan kedaulatan bangsa. “Kalau berbicara mengenai bahasa, kita tidak hanya berbicara mengenai bahasa sebagai alat komunikasi, tapi bahasa sebagai identitas bangsa dan juga bahasa sebagai kedaulatan,” ujar Mendikdasmen di Jawa Timur, Senin (12/10).
Pesan tersebut sejalan dengan upaya sekolah menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa Indonesia, sastra, dan literasi. Kepala SMAN 1 Taman, Dewi Nurmalasari, menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan tersebut menghadirkan pembelajaran mendalam yang bermakna, kolaboratif, dan berpusat pada murid.
Melalui proyek kokurikuler, murid dilatih untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kemandirian, dan komunikasi. “Melatih mereka untuk menelusuri masalah, berpikir kreatif, berpikir kritis, mandiri, berkolaborasi, mampu komunikasi, dan seterusnya,” tegas Dewi.
ART-MATIKS, Dari Rumus Matematika Menjadi Desain Batik
Salah satu karya yang menarik perhatian adalah ART-MATIKS (Aplikasi Redesain & Transformasi Matematika Batik Sidoarjo), yang dibimbing oleh salah satu guru SMAN 1 Taman, Ika Yunita, dan dikembangkan oleh murid kelas XI.
Dalam kesempatan tersebut, salah satu murid kelas XI, Elfaretha Shifa, menyampaikan bahwa proyek ini memanfaatkan konsep transformasi geometri, meliputi dilatasi, refleksi, rotasi, dan translasi, untuk merancang motif batik yang kemudian dikembangkan dengan bantuan AI.
“Mulai dari dilatasi, refleksi, rotasi, dan translasi. Nah, kemudian dari rumus-rumus tersebut, kita membuat sebuah rancangan motif menggunakan prompt AI untuk mengaplikasikan dan mengembangkannya menjadi lebih bagus lagi hingga menghasilkan sebuah karya,” jelas Shifa saat mempresentasikan proyek tersebut.
Motif yang dihasilkan dapat diaplikasikan pada berbagai produk, mulai dari botol minum, pajangan, kipas, gantungan kunci, hingga desain kain dan busana.
Bagi Shifa, proyek ini juga menjadi upaya mengenalkan kekayaan budaya daerah. “Sebelumnya kita sebagai warga Sidoarjo juga memiliki kewajiban untuk melestarikan kearifan lokal itu sendiri,” ucap Shifa.
Melalui ART-MATIKS, murid tidak hanya mempelajari matematika sebagai kumpulan rumus, tetapi juga menerapkannya dalam karya yang menghubungkan teknologi, kreativitas, dan budaya lokal. Proyek ini sekaligus memperlihatkan bagaimana pembelajaran berbasis STEM dapat menjadi sarana untuk mengembangkan inovasi sekaligus menumbuhkan apresiasi terhadap warisan budaya.
Perpaduan Bulan Bahasa dan gelar karya kokurikuler menunjukkan bahwa literasi dan penguasaan teknologi dapat tumbuh beriringan. Sekolah mendorong murid menjadi generasi yang bangga terhadap bahasa dan budayanya, mampu mengomunikasikan gagasan, serta adaptif terhadap perkembangan zaman. (Penulis: Ririn/Editor: Stephanie/Seno H.)
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Banyumas, Jawa Tengah, 13 Oktober 2026 – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mendorong sekolah memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar untuk mendukung pembelajaran mendalam. Hal tersebut disampaikannya saat mengunjungi SMA Negeri 1 Patikraja, dalam rangka pelaksanaan program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun Anggaran 2026 di Banyumas, Jawa Tengah (10/10). Melalui pengalaman langsung, murid dapat mengenali jenis tanaman, mempelajari karakteristiknya, dan menghubungkan pengetahuan di kelas dengan kehidupan sehari-hari.
Salah satu cara yang diusulkan ialah memasang papan informasi pada pohon-pohon di lingkungan sekolah. Papan tersebut dapat memuat nama pohon, nama ilmiah, serta informasi mengenai karakteristik dan manfaatnya. Dengan cara ini, lingkungan sekolah dapat menjadi sumber belajar yang mudah diakses murid sekaligus mendorong mereka untuk mengamati, bertanya, dan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa pemanfaatan lingkungan sekolah merupakan bagian dari penerapan pembelajaran mendalam (deep learning) melalui penciptaan lingkungan belajar yang mendukung proses pendidikan. “Namanya deep learning itu antara lain terintegrasi dengan penciptaan lingkungan sekolah yang disebut dengan hidden curriculum,” ujar Mu’ti. Konsep hidden curriculum merujuk pada nilai, kebiasaan, dan pengalaman yang dipelajari murid melalui lingkungan serta keseharian di sekolah. Dengan demikian, lingkungan sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga dapat membantu membentuk karakter dan rasa ingin tahu murid.
Dalam kunjungan tersebut, Mendikdasmen juga meninjau pelaksanaan program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun Anggaran 2026 di SMA Negeri 1 Patikraja. Pekerjaan di sekolah tersebut mencakup pembangunan dua ruang baru dan rehabilitasi tiga ruang. Area dak juga berpotensi dikembangkan menjadi ruang kelas pada masa mendatang, sesuai dengan kebutuhan sekolah dan kelayakan teknis. Pemanfaatan fasilitas sekolah perlu diiringi pengelolaan dan pemeliharaan yang bertanggung jawab agar sarana yang tersedia dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi pembelajaran murid.
Di Provinsi Jawa Tengah, program Revitalisasi Satuan Pendidikan pada 2025 menjangkau 1.783 sekolah atau satuan pendidikan dengan total anggaran Rp1,475 triliun dan menyerap 23.430 tenaga kerja. Pada 2026, sebanyak 5.443 sekolah telah menandatangani perjanjian kerja sama (PKS) senilai Rp4,169 triliun. Hingga data yang tersedia, penyaluran dana telah dilakukan kepada 4.597 sekolah dengan total Rp2,434 triliun, serta menyerap 62.609 tenaga kerja.
Khusus di Kabupaten Banyumas, program revitalisasi pada 2025 menjangkau 30 sekolah atau satuan pendidikan dengan total anggaran Rp29,786 miliar dan menyerap 499 tenaga kerja. Pada 2026, sebanyak 176 sekolah telah menandatangani PKS senilai Rp114,875 miliar. Penyaluran dana telah dilakukan kepada 156 sekolah dengan total Rp69,387 miliar, dengan serapan tenaga kerja sebanyak 1.996 orang.
Dalam kesempatan bersama murid, Mendikdasmen juga menekankan pentingnya persiapan menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA), yang meliputi penguasaan materi, strategi mengerjakan soal, dan kesiapan mental. “Pertama, kuasai materi. Kedua, siapkan strategi. Ketiga, persiapkan mental. Ketiga itu adalah kuncinya,” ujar Mendikdasmen. Ia mengingatkan bahwa ketiga aspek tersebut perlu dipersiapkan secara seimbang. “Materi dikuasai tetapi jika strateginya salah, kalian tidak bisa menguasai materinya dengan baik. Tapi strateginya oke, mentalnya down, lihat soal sudah stres dulu, tidak ada hasilnya. Makanya kita membuat moto jujur dan gembira,” ujarnya.
Abdul Mu’ti juga mengingatkan murid agar tidak berkecil hati ketika menghadapi soal dengan bacaan panjang. Ia menjelaskan bahwa soal TKA disusun dengan mengacu pada standar PISA (Programme for International Student Assessment). Menurutnya, penguasaan materi, strategi, dan kesiapan mental perlu berjalan beriringan agar murid dapat menunjukkan kemampuan mereka dengan baik.
Lebih jauh, Abdul Mu’ti menegaskan pentingnya pendidikan bagi masa depan murid dan kontribusi mereka kepada masyarakat. “Jangan percaya kalau ada orang bilang tidak usah sekolah penting-penting, yang penting pintar. Tidak ada orang pintar tanpa sekolah. Sekolah itu intinya membuat kita sukses. Pendidikan juga bisa membuat kita melakukan lebih baik dan lebih banyak bagi orang lain dan bangsa,” pesan Mendikdasmen Abdul Mu’ti.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Bandung Barat – BBPMP Provinsi Jawa Barat menerima kunjungan konsultasi Panitia Khusus (Pansus) XIV DPRD Provinsi Jawa Barat dalam rangka pembahasan Rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 5 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Pendidikan, Senin (12/10/2026). Kunjungan diterima langsung oleh Kepala BBPMP Provinsi Jawa Barat, Komalasari, dengan melibatkan BBGTK Provinsi Jawa Barat dan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat yang didampingi Biro Hukum dan Biro Kesejahteraan Rakyat.
Dilaksanakan secara hybrid, pertemuan ini mendiskusikan tantangan dan permasalahan terkait penyelenggaraan Pendidikan ini membahas berbagai tema antara lain pemetaan mutu Pendidikan, Akreditasi dan penjaminan mutu, Guru dan Peningkatan Kompetensi, Tata Kelola dan koordinasi serta Data dan tindak lanjutnya.
Diawali dengan paparan Kepala BBPMP Provinsi Jawa Barat terkait Program Prioritas Pendidikan tahun 2026, diskusi banyak membahas permasalahan akses dan relevansinya terhadap penjaminan dan pemerataan mutu Pendidikan di wilayah Jawa Barat, termasuk permasalahan akses dalam implementasi kebijakan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) dan dikaitkan dengan Pencegahan dan Penanganan Anak Tidak Sekolah.
Pembahasan berikutnya terkait Pengelolaan Guru dan Kepala Sekolah dengan BBGTK Provinsi Jawa Barat yang menyisakan banyak PR bagi para pihak dan memerlukan tindak lanjut dengan segera.
Di akhir, BBPMP Provinsi Jawa Barat mengapresiasi kedatangan Pansus DPRD Provinsi Jawa Barat ini sebagai bentuk sinergi, koordinasi dan kolaborasi yang lebih intensif dalam mewujudkan Pendidikan bermutu bagi semua.
Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, 10 Oktober 2026 – Bahasa ibu akan tetap hidup jika generasi muda terus menggunakannya, bukan hanya mengenalnya sebagai warisan budaya. Oleh karena itu, menumbuhkan kecintaan anak terhadap bahasa daerah menjadi bagian penting dari pendidikan. Melalui Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengajak anak-anak merawat bahasa Jawa melalui kegiatan yang dekat dengan dunia mereka, yaitu menulis, bercerita, berpuisi, bernyanyi, hingga melawak.
Sebanyak 560 peserta dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah, yang terdiri atas 490 siswa SD dan SMP serta 70 pendamping, mengikuti festival yang diselenggarakan Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah pada 9–11 Oktober 2026. Para siswa merupakan juara pertama FTBI tingkat kabupaten/kota yang melanjutkan kompetisi di tingkat provinsi.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menekankan bahwa pelestarian bahasa daerah tidak cukup mengandalkan pembelajaran di sekolah. Kebiasaan menggunakan bahasa Jawa perlu tumbuh dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan keluarga.
“Tidak cukup dengan hanya bahasa Jawa menjadi muatan lokal dalam kurikulum di sekolah kita, tetapi membiasakan mereka berbahasa Jawa di rumah, di masyarakat, atau di berbagai forum menjadi bagian penting agar bahasa-bahasa daerah itu dapat kita lestarikan,” ujar Mendikdasmen.
Menurut Menteri Mu’ti, pengalaman pribadi juga dapat menjadi pengingat pentingnya mewariskan bahasa kepada anak. Ia menceritakan bahwa dirinya sempat lama tidak menggunakannya. Ketika menyadari anak-anaknya juga tidak terbiasa berbahasa Jawa, ia mulai mengajarkannya kembali. Hal ini menunjukkan bahwa pewarisan bahasa membutuhkan partisipasi orang tua, bukan hanya sekolah.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menyoroti nilai yang terkandung dalam bahasa Jawa. Ia menjelaskan bahwa bahasa daerah tidak mengajarkan cara berbicara saja, tetapi juga mengenalkan tata krama dalam berinteraksi.
“Bahasa Jawa itu tidak hanya mengajarkan kita berbicara. Di dalamnya ada unggah-ungguh, ada akhlak,” tutur Taj Yasin.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kebiasaan berbahasa Jawa di tengah perkembangan zaman dan derasnya pengaruh media. Keberagaman dialek di Jawa Tengah, mulai dari wilayah Pantura hingga kawasan yang menggunakan dialek Ngapak, merupakan bagian dari kekayaan bahasa yang perlu dirawat.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, mengatakan bahwa bahasa daerah memiliki kedudukan penting dalam menjaga identitas bangsa dan mewariskan nilai budaya kepada generasi berikutnya.
“Bahasa daerah tentu bukan sekadar alat komunikasi, tetapi sebagai wadah nilai-nilai luhur, identitas, dan jati diri bangsa,” ujarnya.
Pesan tersebut diwujudkan melalui tujuh mata lomba FTBI, yakni menulis dan membaca aksara Jawa, membaca geguritan, menulis cerkak, mendongeng, berpidato atau sesorah, nembang macapat, dan komedi tunggal atau ndhagel ijen. Melalui kegiatan ini, siswa mendapat ruang untuk mengembangkan kemampuan berbahasa dan bersastra sekaligus mengekspresikan kreativitas mereka.
FTBI merupakan puncak program pelindungan atau revitalisasi bahasa daerah yang diselenggarakan Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah sejak 2021. Program ini mencakup pelatihan guru bahasa Jawa, pengimbasan pembelajaran di 35 kabupaten/kota, serta penyelenggaraan festival secara berjenjang hingga tingkat provinsi.
Upaya pelestarian tersebut juga menghasilkan capaian yang membanggakan. Pada 2024, Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah bersama Pemerintah Kabupaten Jepara mencatat rekor MURI melalui penulisan pitutur luhur menggunakan aksara Jawa pada 3.386 daun lontar. Pada 2025, bersama Pemerintah Kota Surakarta, Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah kembali mencatat rekor MURI melalui penulisan geguritan secara serentak oleh 1.120 siswa SD dan SMP se-Jawa Tengah.
Penyelenggaraan FTBI 2026 didukung Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kabupaten Semarang, Universitas Ngudi Waluyo, pemerintah kabupaten/kota, guru, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan.
Semangat festival ini sejalan dengan pesan Badan Bahasa, “Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, Kuasai Bahasa Asing.” Penguasaan bahasa Indonesia dan bahasa asing dapat berjalan beriringan dengan kecintaan terhadap bahasa daerah sebagai bagian dari identitas budaya.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah