Bimtek BBPMP Provinsi Jabar Dorong Pembelajaran Interaktif Berbasis IFP

Bimtek BBPMP Provinsi Jabar Dorong Pembelajaran Interaktif Berbasis IFP

Bandung — Pemanfaatan perangkat digital di ruang kelas terus didorong agar benar-benar berdampak pada kualitas pembelajaran. Hal tersebut terlihat dalam peninjauan Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Muchlas, pada pelaksanaan Bimbingan Teknis (Bimtek) Digitalisasi Pembelajaran yang diselenggarakan Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Barat di SMPN 7 Bandung dan SDN 113 Banjarsari, Selasa (24/2/2026).

Kegiatan ini menekankan penguatan kapasitas guru dalam menggunakan bantuan perangkat digitalisasi, khususnya Interactive Flat Panel (IFP), sebagai media pembelajaran yang interaktif dan bermakna. Pendekatan tersebut diarahkan agar teknologi tidak hanya hadir sebagai fasilitas, tetapi menjadi bagian dari strategi pembelajaran yang mendorong partisipasi aktif peserta didik.

Dalam sesi pendampingan, guru didorong memanfaatkan fitur IFP untuk menampilkan materi visual, kuis interaktif, hingga kolaborasi kelas secara langsung. Pemanfaatan perangkat ini memungkinkan pembelajaran berlangsung lebih dinamis, karena peserta didik dapat terlibat melalui diskusi, eksplorasi, dan pemecahan masalah secara bersama.

BBPMP Provinsi Jawa Barat melalui Bimtek ini memastikan satuan pendidikan penerima bantuan perangkat digital memiliki kesiapan pedagogik dan teknis dalam mengintegrasikan teknologi ke proses belajar. Transformasi pembelajaran dipahami bukan sekadar menghadirkan perangkat modern di kelas, melainkan mengubah praktik mengajar menjadi lebih partisipatif dan kontekstual.

Staf Khusus Mendikdasmen menekankan bahwa keberhasilan digitalisasi pembelajaran sangat bergantung pada peran guru sebagai pengarah proses belajar. Teknologi diposisikan sebagai alat yang memperluas kemungkinan pembelajaran, sementara kreativitas guru menentukan bagaimana pengalaman belajar terbentuk di kelas.

Peninjauan juga menunjukkan bahwa penggunaan perangkat digital dapat memperkaya pengalaman belajar melalui visualisasi konsep, simulasi, dan aktivitas kolaboratif. Lingkungan belajar yang interaktif dinilai mampu meningkatkan motivasi belajar sekaligus membantu peserta didik memahami materi secara lebih mendalam.

Melalui penguatan kompetensi dan pendampingan berkelanjutan, BBPMP Jawa Barat mendorong sekolah memanfaatkan bantuan digitalisasi secara optimal. Upaya ini menjadi bagian dari transformasi pembelajaran menuju kelas yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan belajar peserta didik.

Digitalisasi pembelajaran diharapkan tidak berhenti pada tahap pelatihan, tetapi berlanjut pada praktik nyata di kelas sehari-hari. Dengan pemanfaatan yang konsisten, perangkat digital dapat menjadi sarana pembelajaran yang efektif, inspiratif, dan berdampak pada peningkatan mutu pendidikan.

(Tim media)

Suasana Belajar Interaktif, Wamendikdasmen Pastikan Implementasi Pembelajaran Mendalam

Suasana Belajar Interaktif, Wamendikdasmen Pastikan Implementasi Pembelajaran Mendalam

Bandung – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terus mendorong penerapan Pembelajaran Mendalam (PM)  di satuan pendidikan sebagai upaya meningkatkan kualitas proses belajar yang berpusat pada peserta didik. Hal tersebut ditunjukkan melalui peninjauan langsung Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, terhadap praktik pembelajaran di SMPN 5 Bandung dan SDN 001 Merdeka Kota Bandung, (23/2).

Peninjauan difokuskan pada bagaimana pendekatan pembelajaran diterapkan di kelas, termasuk keterlibatan aktif peserta didik, penggunaan media pembelajaran, serta kemampuan guru mengelola pembelajaran bermakna. Pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila di SMPN 5 Bandung, peserta didik mempresentasikan proyek digital bertema kekayaan budaya Sumatra yang disusun secara kolaboratif. Kegiatan tersebut tidak hanya memperluas pengetahuan kontekstual, tetapi juga melatih kemampuan kerja sama dan pemecahan masalah.

Pendekatan pembelajaran interaktif juga terlihat pada pembelajaran Bahasa Indonesia melalui pemanfaatan papan interaktif digital dan aplikasi kuis daring. Guru memandu peserta didik memahami materi teks prosedur melalui video dan pertanyaan reflektif, sehingga mendorong partisipasi aktif serta suasana belajar yang dinamis.

Dalam dialog pembelajaran, Wakil Menteri menekankan pentingnya penggunaan pertanyaan pemantik untuk membangun keterlibatan peserta didik sejak awal proses belajar. Strategi tersebut dinilai efektif dalam mengaitkan pengetahuan awal dengan materi baru, sehingga pemahaman peserta didik berkembang secara lebih mendalam dan kontekstual.

Menurutnya, Pembelajaran Mendalam merupakan pendekatan yang menempatkan makna sebagai inti proses belajar. Peserta didik tidak hanya memperoleh informasi, tetapi juga memahami relevansi pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, implementasi pembelajaran perlu diarahkan pada pengalaman belajar yang reflektif, kolaboratif, dan berorientasi pemecahan masalah.

“Pembelajaran mendalam memberikan informasi sekaligus inspirasi. Dengan pembelajaran mendalam, murid dapat mengetahui secara lebih mendalam dan memaknai apa yang disampaikan, sehingga mampu mengontekstualisasikan mata pelajaran,” ujarnya dalam kunjungannya yang didampingi oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, Asep Saeful Gufron, serta Kepala Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Jawa Barat, Sugito Adiwarsito.

Hasil peninjauan menunjukkan bahwa praktik pembelajaran mendalam di satuan pendidikan memerlukan penguatan berkelanjutan, khususnya pada kompetensi pedagogik guru dan konsistensi penerapan di kelas. Pelatihan guru dinilai perlu diikuti dengan pendampingan implementasi agar perubahan praktik pembelajaran berlangsung sistematis dan terukur.

Kepala satuan pendidikan menyampaikan bahwa kunjungan tersebut memberikan umpan balik langsung terhadap praktik pembelajaran yang telah berjalan. Evaluasi bersama antara kementerian dan sekolah menjadi bagian dari upaya peningkatan mutu pembelajaran secara berkelanjutan, terutama dalam memastikan pembelajaran benar-benar berpusat pada peserta didik.

Selain itu, refleksi bersama menegaskan pentingnya peran guru dalam menciptakan lingkungan belajar yang aktif, menyenangkan, dan bermakna. Pembelajaran tidak lagi dipahami sebagai penyampaian materi, melainkan proses pembentukan pemahaman dan karakter peserta didik melalui pengalaman belajar yang relevan.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menegaskan bahwa implementasi Pembelajaran Mendalam harus diwujudkan secara nyata dalam praktik pembelajaran sehari-hari. Konsistensi penerapan di kelas menjadi kunci agar pendekatan ini berdampak langsung pada peningkatan kualitas pembelajaran dan hasil belajar peserta didik.

“Pelatihan saja tidak cukup jika belum diimplementasikan secara optimal. Kita ingin memastikan guru tidak hanya memahami konsepnya, tetapi juga mampu menerapkannya dalam proses pembelajaran sehari-hari,” ujar Wamen Atip.

Peninjauan ini merupakan bagian dari langkah kementerian memastikan kebijakan pembelajaran mendalam terlaksana efektif di satuan pendidikan. Melalui pemantauan, refleksi, dan penguatan kapasitas guru, diharapkan transformasi pembelajaran menuju pembelajaran bermakna dapat berlangsung berkelanjutan di seluruh Indonesia.

(berita ini telah tayang di https://kemendikdasmen.go.id/siaran-pers/14790-suasana-kelas-hidup-dan-interaktif-wamendikdasmen-atip-perkuat-implementasi-pembelajaran-mendalam )

BBPMP Provinsi Jawa Barat Terima Kunjungan Unit Governance Bank Dunia Terkait Layanan Pendidikan

BBPMP Provinsi Jawa Barat Terima Kunjungan Unit Governance Bank Dunia Terkait Layanan Pendidikan

Bandung Barat – Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Barat menerima kunjungan lapangan Unit Governance Kantor Bank Dunia Jakarta dalam rangka pelaksanaan kajian penguatan kapasitas (capacity building) penyediaan layanan dasar pendidikan di daerah. Kegiatan ini dilaksanakan di kantor BBPMP Provinsi Jawa Barat sebagai bagian dari pengumpulan data dan informasi lapangan terkait tata kelola layanan pendidikan daerah.

Kunjungan tersebut diikuti oleh tim Bank Dunia dan jajaran BBPMP Provinsi Jawa Barat. Pertemuan difokuskan pada pembahasan peran dan fungsi BBPMP dalam melaksanakan pembinaan, pendampingan, serta penguatan mutu layanan pendidikan kepada pemerintah daerah dan satuan pendidikan di wilayah Jawa Barat.

Dalam pemaparan kelembagaan, BBPMP Provinsi Jawa Barat menjelaskan mekanisme pendampingan kepada pemerintah daerah melalui perencanaan berbasis data, penguatan implementasi kebijakan mutu pendidikan, serta fasilitasi program peningkatan mutu pada satuan pendidikan. Pendampingan tersebut bertujuan memastikan kebijakan dan program prioritas pendidikan dapat diterapkan secara selaras dengan kebutuhan daerah.

Tim Bank Dunia menyampaikan bahwa penguatan kapasitas kelembagaan merupakan komponen penting dalam perbaikan tata kelola layanan dasar. Kelembagaan yang kuat dinilai berkontribusi terhadap efektivitas pelaksanaan program, transparansi tata kelola, serta peningkatan kualitas layanan pendidikan kepada masyarakat.

Diskusi juga mengidentifikasi sejumlah aspek yang perlu diperkuat dalam penyediaan layanan pendidikan daerah, antara lain kapasitas perencanaan berbasis data, koordinasi pemangku kepentingan, serta konsistensi implementasi kebijakan mutu di tingkat daerah dan satuan pendidikan. Temuan lapangan ini akan menjadi bagian dari bahan kajian capacity building layanan dasar pendidikan.

Melalui kegiatan ini, BBPMP Provinsi Jawa Barat diharapkan semakin optimal dalam menjalankan fungsi penjaminan mutu dan pendampingan pemerintah daerah. Kolaborasi dengan Bank Dunia juga menjadi bagian dari upaya penguatan tata kelola layanan pendidikan yang efektif, akuntabel, dan berorientasi pada hasil.

Kegiatan kajian capacity building layanan dasar oleh Bank Dunia di Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu langkah penguatan kualitas layanan pendidikan daerah secara berkelanjutan, khususnya dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan pada satuan pendidikan.

(Tim media)

Perluasan SPPG Polri Dorong Akses Makan Bergizi Gratis bagi Peserta Didik

Perluasan SPPG Polri Dorong Akses Makan Bergizi Gratis bagi Peserta Didik

Jakarta – Presiden RI Prabowo Subianto meresmikan 1.179 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri dan 18 gudang ketahanan pangan sebagai bagian dari percepatan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Peresmian dipusatkan di SPPG Polri Palmerah, Jakarta Barat, pada 13 Februari 2026.

Kehadiran SPPG dinilai tidak hanya mendukung pemenuhan gizi peserta didik, tetapi juga membuka rantai pasok bagi produk pertanian dan peternakan lokal. Setiap unit layanan membutuhkan bahan pangan seperti sayur, telur, ayam, dan daging yang disuplai dari produsen di daerah, sehingga menciptakan kepastian pasar bagi petani kecil.

“Kita lihat, satu SPPG butuh sayur, telur, ayam, daging, dan sebagainya, ini menghidupkan petani-petani kecil. Mereka sekarang yakin punya penghasilan. Dulu mereka panen tidak tahu siapa yang beli, sekarang mereka dijamin, produksi mereka akan diserap,” tegas Presiden Prabowo Subianto.

Dari sisi keamanan pangan, SPPG Polri menerapkan standar pengolahan dan distribusi makanan yang ketat. Seluruh dapur dilengkapi perangkat sterilisasi dan uji keamanan pangan, sementara makanan yang akan didistribusikan harus melalui pengujian organoleptik untuk memastikan bebas dari zat berbahaya seperti formalin, nitrit, sianida, dan arsenik.

“Penyelenggaraan program Makan Bergizi Gratis ini akan memperhatikan aspek fisik, mental, dan karakter anak-anak. Kami ingin program ini menjadi bagian integral dari upaya penguatan karakter bangsa melalui nilai-nilai kebersamaan, tanggung jawab, dan kemandirian,” ungkapnya pada kesempatan berbeda.

Program MBG juga menjadi bagian dari kebijakan pembangunan pendidikan. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyebut penyediaan makanan bergizi di sekolah diarahkan tidak hanya pada aspek kesehatan fisik, tetapi juga pembentukan karakter murid melalui pembiasaan hidup sehat dan tanggung jawab.

“Kalau makan makanan yang sehat dan bergizi, anak-anak kita akan menjadi sehat dan kuat,” tuturnya

Menurutnya, lingkungan belajar yang aman dan didukung pemenuhan gizi yang memadai menjadi fondasi penting dalam menyiapkan generasi muda menuju visi Indonesia 2045. Kebiasaan konsumsi makanan sehat diharapkan berlanjut di lingkungan keluarga agar dampaknya lebih berkelanjutan.

Sementara itu, Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana menyampaikan bahwa program MBG telah menjangkau sekitar 60,2 juta penerima manfaat di 38 provinsi. Jumlah tersebut ditargetkan meningkat hingga lebih dari 80 juta penerima dalam tahap pengembangan berikutnya.

Peresmian fasilitas MBG ini melibatkan kolaborasi lintas kementerian dan lembaga, termasuk sektor pangan dan kepolisian, sebagai upaya memperluas jangkauan layanan gizi bagi peserta didik di seluruh wilayah Indonesia.

( Berita ini telah ditayangkan di https://kemendikdasmen.go.id/berita/14749-perkuat-program-makan-bergizi-gratis-presiden-resmikan-1179-sppg-polri-dan-18-gudang-ketahanan)

Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Digitalisasi Pembelajaran Hadirkan Harapan Baru bagi Siswa

Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Digitalisasi Pembelajaran Hadirkan Harapan Baru bagi Siswa

Bandung Barat – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq  meninjau langsung pelaksanaan revitalisasi sarana prasarana sekolah serta digitalisasi pembelajaran di SD Yayasan Amal Keluarga, Kabupaten Bandung pada Jumat (2/6). Kunjungan ini dilakukan untuk untuk memantau pemanfaatan bantuan pemerintah guna meningkatkan kualitas pembelajaran.

Revitalisasi Satuan Pendidikan tersebut didukung melalui anggaran sebesar Rp180 juta, yang digunakan untuk merehabilitasi dua ruang  kelas baru dan satu perpustakaan. Selain revitalisasi fisik, sekolah juga menerima dukungan digitalisasi pembelajaran melalui pemanfaatan Papan Interaktif Digital (PID) / Interactive Flat Panel (IFP) guna mendukung proses belajar mengajar yang lebih interaktif dan menyenangkan.

Dalam kunjungan tersebut, Wamen Fajar berinteraksi langsung dengan guru dan peserta didik di dalam kelas. Ia berdialog dengan guru mengenai pemanfaatan sarana hasil revitalisasi serta penggunaan IFP dalam pembelajaran, sekaligus menyapa dan berinteraksi dengan siswa yang tengah mengikuti kegiatan belajar untuk melihat secara langsung suasana pembelajaran.

Pada kesempatan yang sama, Wamen Fajar juga menyampaikan pesan kepada para siswa mengenai pentingnya menjaga kebersihan sebagai bagian dari pembentukan karakter sejak dini dan penerapan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.

“Membuang sampah pada tempatnya dan membersihkan lingkungan merupakan wujud dari 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yaitu bermasyarakat. Anak-anak jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan, baik di lingkungan sekitar, di rumah, maupun di sekolah. Kalau ada sampah, buanglah pada tempatnya, dan jika sampah tersebut bisa didaur ulang, maka manfaatkan untuk didaur ulang. Di mana pun berada, kebiasaan menjaga kebersihan harus terus dilakukan,” ujar Fajar.

Kepala SD Yayasan Amal Keluarga, Asep Miftahudin, mengungkapkan bahwa sebelum revitalisasi, kondisi sekolah sangat memprihatinkan. Pada masa pandemi COVID-19, sekolah hampir libur total selama kurang lebih dua tahun sehingga banyak bangunan dan infrastruktur mengalami kerusakan dan tidak terurus.

“Keadaan sekolah itu memang sangat memprihatinkan karena pada masa COVID-19 sekolah kami hampir libur total selama dua tahun. Kondisi ini jelas mengganggu proses pembelajaran karena sekolah digunakan aktif oleh anak-anak. Kami juga khawatir apabila tidak diperbaiki akan berdampak pada keberlangsungan belajar, bahkan keselamatan anak-anak, karena kondisi bangunan terutama atap sudah rusak parah,” ujar Asep.

Ia menuturkan bahwa kerusakan paling parah terjadi pada perpustakaan dan ruang kelas yang kemudian direhabilitasi. Akibat kondisi tersebut, pihak sekolah sempat mengevakuasi siswa dan memindahkan kegiatan belajar ke ruang kelas lain, yang juga dikeluhkan oleh siswa karena ruang belajar yang tersedia tidak sesuai dengan harapan mereka.

Melalui program revitalisasi, kondisi sekolah kini mengalami perubahan signifikan. Dua ruang kelas dan perpustakaan yang sebelumnya rusak telah direhabilitasi dan kembali dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.

“Alhamdulillah, setelah ada program revitalisasi, sekolah kami sudah bisa digunakan kembali oleh anak-anak untuk belajar. Hari ini sudah dipakai dan anak-anak terlihat gembira, nyaman, dan sangat bersemangat untuk bersekolah. Guru-guru juga mengucapkan terima kasih, khususnya kepada Bapak Presiden, Bapak Menteri, Bapak Wakil Menteri, serta para kepala dinas terkait. Bantuan revitalisasi ini sangat membantu sekolah kami,” Ujarnya.

Terkait digitalisasi pembelajaran, Asep menyampaikan bahwa kehadiran IFP membawa dampak besar bagi proses belajar mengajar dan menyesuaikan karakter peserta didik dengan perkembangan zaman.

“Wah, kehadiran IFP sangat luar biasa. Anak-anak senang. Di satu sisi ini memudahkan guru, dan di sisi lain juga memudahkan anak-anak. Anak-anak jadi lebih aktif dan kritis ketika pembelajaran menggunakan IFP. Beda dengan dulu, kemajuannya luar biasa. Anak-anak gembira dan lebih mudah belajar karena ini sesuai dengan tuntutan zaman dan karakter anak-anak sekarang yang sudah akrab dengan dunia digital,” ungkapnya.

Dampak positif digitalisasi pembelajaran juga dirasakan oleh guru kelas IV, Murti Kurnia. Ia menyampaikan bahwa penggunaan IFP meningkatkan antusiasme dan motivasi belajar siswa.

“Setelah ada IFP, anak-anak lebih antusias. Jadi belajar menyenangkan. Dulu juga anak-anak belajarnya menyenangkan, tapi tidak seperti sekarang. Banyak hal baru yang mereka temukan dari pelajaran. Anak-anak jadi ceria dan semangat. Bahkan ada anak-anak yang tadinya malas sekolah, sekarang jadi senang sekolah karena ingin belajar di TV besar,” tambahnya.

Menurutnya, digitalisasi pembelajaran sangat penting agar peserta didik tidak tertinggal perkembangan zaman dan tetap memiliki kesempatan belajar yang setara. “Sekarang sudah masuk era globalisasi. Anak-anak harus belajar bernalar kritis, jadi digitalisasi pembelajaran sangat penting supaya mereka tidak ketinggalan zaman. Tidak semua anak punya handphone, sehingga pembelajaran digital di sekolah sangat membantu,” tuturnya.

Dampak pembelajaran berbasis digital juga dirasakan langsung oleh peserta didik. Jovinka, siswa kelas II SD Yayasan Amal Keluarga, ia mengaku senang belajar menggunakan IFP karena membuat pembelajaran terasa lebih menyenangkan. “Aku suka belajar matematika di kelas pakai IFP karena seru, bisa sambil main game bareng teman-teman,” ujar Jovinka. (D)

(Berita ini telah ditayangkan di https://kemendikdasmen.go.id/siaran-pers/14705-revitalisasi-satuan-pendidikan-dan-digitalisasi-pembelajaran)