by Tim Media | Jan 15, 2026 | Warta Kiwari
Kota Sukabumi – Transformasi pembelajaran di TKN Pembina Lembursitu kian terasa sejak hadirnya Interactive Flat Panel (IFP) di ruang kelas. Teknologi ini membawa perubahan signifikan dalam aktivitas belajar anak-anak, yang kini dapat bergerak, bermain, bernyanyi, dan berkolaborasi melalui tampilan visual yang lebih menarik. Suasana kelas pun tampak lebih hidup dan mampu membuat anak betah selama proses belajar.
Kehadiran perangkat digital tersebut juga memperluas kreativitas para pendidik dalam menyampaikan materi. Salah satu guru menuturkan bahwa IFP menjadi angin segar bagi pembelajaran di TK, karena guru dapat menghadirkan materi secara visual, interaktif, dan lebih mudah dipahami peserta didik.
“Ini bukan hanya soal teknologi, tetapi tentang menyiapkan generasi yang siap menghadapi masa depan,” ujarnya.
Selain itu, kolaborasi pembelajaran di dalam Rumah Pendidikan semakin mudah dilakukan berkat dukungan layar interaktif tersebut. Guru kini dapat mengeksplor berbagai konten edukatif secara bersama-sama dengan cara yang lebih menarik dan relevan bagi anak-anak. Orang tua pun merasakan dampak positifnya. Salah satu ibu mengungkapkan bahwa anaknya kini pulang sekolah dengan penuh antusias.
“Sekarang anak kami selalu bercerita tentang hal-hal baru dari papan pintar di kelas,” tuturnya.
Pemerintah daerah turut memberikan apresiasi atas dukungan transformasi pendidikan ini. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Sukabumi, Novian Restiadi, menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo atas komitmennya memperkuat kualitas pendidikan di berbagai daerah, termasuk Kota Sukabumi. Menurutnya, kehadiran teknologi seperti IFP menjadi langkah penting dalam menghadirkan pembelajaran yang adaptif di era digital.
Dengan kombinasi teknologi, kreativitas guru, dan dukungan orang tua, TKN Pembina Lembursitu terus bergerak menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sejak usia dini. Pemanfaatan IFP tidak hanya menjadikan pembelajaran lebih menarik, tetapi juga menanamkan rasa ingin tahu serta semangat belajar pada anak-anak sebagai fondasi menuju generasi emas Indonesia.
( Tim media )
by Tim Media | Jan 14, 2026 | Warta Kiwari
Bandung Barat – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mengampanyekan pentingnya membangun karakter positif di lingkungan sekolah. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memperkenalkan lagu “Rukun Sama Teman”, sebuah lagu sederhana namun penuh pesan tentang persahabatan, toleransi, dan saling menghargai di antara peserta didik.
Lagu “Rukun Sama Teman” dibawakan oleh dua penyanyi cilik, Quinn Salman dan Prince Poetiray, yang sebelumnya juga dikenal melalui lagu “Selalu Ada di Nadimu.” Keduanya menyuarakan pesan mengenai pentingnya menciptakan budaya sekolah yang aman dan nyaman.
Lagu ini berisi ajakan untuk menjalin pertemanan yang baik, saling menghargai satu sama lain, serta membangun rasa aman di lingkungan sekolah. Yang membuatnya semakin istimewa, lagu tersebut merupakan karya khusus dari Mendikdasmen, Abdul Mu’ti.
“Semoga lagu ini dapat menemani kegiatan belajar anak serta membantu orang tua dan guru menanamkan nilai karakter dalam keseharian,” harap Kemendikdasmen dikutip Selasa (13/1/2026)
Lirik Lagu Rukun Sama Teman – Prof Abdul Mu’ti
Semua insan ciptaan Tuhan
Berbeda rupa dan kemampuan
Mari saling menghormati
Jangan saling menyakiti
Tak ada guna permusuhan
Tak ada guna pertengkaran
Mari jalin persahabatan
Rukun sama teman
Banyak kawan kita tenang
Banyak sahabat kita hebat
Mari bergandeng tangan
Rukun sama teman
Semua insan ciptaan Tuhan
Berbeda rupa dan kemampuan
Mari saling menghormati
Jangan saling menyakiti
Tak ada guna permusuhan
Tak ada guna pertengkaran
Mari jalin persahabatan
Rukun sama teman
Banyak kawan kita tenang
Banyak sahabat kita hebat
Mari bergandeng tangan
Rukun sama teman
Banyak kawan kita tenang
Banyak sahabat kita hebat
Mari bergandeng tangan
Rukun sama teman
Rukun sama teman
Makna yang terkandung dalam lagu ini menonjolkan nilai kebersamaan, sikap saling menghargai, dan kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat. Sejak bait awal, lagu tersebut menekankan bahwa setiap individu adalah ciptaan Tuhan dengan keunikan masing-masing, baik dalam penampilan maupun kemampuan. Perbedaan itu digambarkan sebagai hal yang wajar dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan, sekaligus menjadi landasan untuk saling memahami. Lagu ini mengingatkan pendengarnya bahwa keberagaman bukanlah alasan untuk merasa lebih hebat atau meremehkan sesama, tetapi menjadi peluang untuk menumbuhkan sikap saling menghormati.
Lirik yang menyatakan bahwa tidak ada manfaat dari permusuhan menegaskan sikap anti konflik dalam lagu ini. Pesannya jelas pertengkaran tidak menyelesaikan masalah, justru merusak hubungan dan menguras energi. Karena itu, lagu ini mengingatkan pendengar bahwa memilih perdamaian adalah langkah terbaik.
Ajakan untuk bersahabat juga menjadi inti makna lagu. Persahabatan dipandang sebagai jembatan yang menyatukan perbedaan serta memberi rasa aman dan kekuatan. Ungkapan tentang banyak teman dan sahabat menggambarkan bahwa relasi yang sehat mampu memberikan ketenangan, dukungan, dan semangat untuk tumbuh bersama.
Pengulangan ajakan untuk rukun dengan teman menegaskan betapa pentingnya nilai tersebut untuk selalu diingat. Pesan dalam lagu ini tidak terbatas pada satu kelompok, melainkan berlaku bagi semua orang. Nilainya bersifat universal dan relevan di berbagai lingkungan, mulai dari keluarga, sekolah, hingga masyarakat luas.
Secara keseluruhan, lagu ini menyampaikan ajakan moral untuk hidup damai dalam keberagaman. Perbedaan dipandang sebagai ketetapan Tuhan yang harus dihormati. Dengan menumbuhkan sikap saling menghargai, menjauhi konflik, dan mempererat persahabatan, lagu ini mendorong pendengarnya untuk membangun kehidupan yang lebih rukun, aman, dan penuh kemanusiaan.
(Tim media)
by Tim Media | Jan 14, 2026 | Warta Kiwari
Indramayu – Program revitalisasi sekolah yang dijalankan pemerintah memberikan perubahan signifikan bagi lingkungan belajar di UPTD SMP Negeri 3 Sliyeg, Kabupaten Indramayu. Pembenahan ruang kelas, peningkatan fasilitas, serta penyediaan perangkat pembelajaran digital turut menciptakan suasana belajar yang lebih aman, nyaman, dan mendukung kebutuhan peserta didik maupun pendidik..
Kepala UPTD SMPN 3 Sliyeg, Rahmat Hidayat, M.Pd., menyampaikan bahwa program revitalisasi memberikan dorongan besar bagi peningkatan kualitas pembelajaran.
“Program revitalisasi menghadirkan kenyamanan bagi siswa dalam belajar. IFP juga memudahkan guru menyampaikan materi, serta Program Makanan Bergizi Gratis menjadikan siswa lebih sehat dan siap belajar,” ujarnya.
Peningkatan mutu fasilitas turut dirasakan langsung oleh para tenaga pendidik. Guru SMPN 3 Sliyeg, Muhammad Fajri Yusuf, S.Pd., menilai ruang-ruang baru yang kini dimiliki sekolah membuat kegiatan belajar mengajar jauh lebih optimal.
“Dengan ruangan yang baru, kami bisa mengajar dengan aman, nyaman, dan menyenangkan. Fasilitas lengkap dan adanya IFP sangat membantu membuat pembelajaran lebih interaktif,” jelasnya.
Tidak hanya guru, para siswa pun menunjukkan antusiasme tinggi terhadap perubahan ini. Murid kelas VIII, Bagus Maulana Rifai, mengungkapkan kegembiraannya.
“Kami senang sekolah sudah diperbaiki. Sekarang bisa belajar di perpustakaan yang nyaman, toiletnya bersih, bisa cuci tangan sebelum makan, dan kami mendapatkan makanan bergizi gratis setiap hari. Jadi lebih semangat menuntut ilmu,” katanya.
BBPMP Provinsi Jawa Barat berharap revitalisasi ini dapat menjadi contoh transformasi sekolah yang berkelanjutan. Melalui kerja sama dan kepedulian semua pihak, pendidikan yang aman, nyaman, dan bermutu diyakini dapat diwujudkan untuk seluruh peserta didik di Jawa Barat.
(Tim media)
by Tim Media | Jan 13, 2026 | Warta Kiwari
Jawa Barat – Program digitalisasi pembelajaran terus menunjukkan dampak positif di berbagai satuan pendidikan. Melalui pemanfaatan teknologi, proses belajar kini tidak lagi berlangsung satu arah. Hal ini terlihat pada implementasi digitalisasi pembelajaran di SMP Negeri 2 Margaasih yang mulai menghadirkan suasana belajar yang lebih dinamis.
Dengan hadirnya perangkat digital, peserta didik dapat merasakan pengalaman belajar yang lebih interaktif, kolaboratif, dan menyenangkan. Teknologi memungkinkan siswa untuk terlibat lebih aktif dalam setiap aktivitas pembelajaran, baik secara individual maupun kelompok.
Salah satu perangkat yang memberikan peran signifikan adalah Papan Interaktif Digital. Alat ini membuka ruang partisipasi aktif bagi peserta didik, sehingga mereka dapat berkontribusi secara langsung dalam proses pembelajaran. Penggunaan papan interaktif juga membuat materi pelajaran lebih mudah dipahami karena penyajiannya lebih visual dan menarik.
“Belajarnya seru banget bisa ngerjain soal lewat layar, lihat video, ikut kuis, jadi belajarnya lebih cepat mengerti” ujar Syakiran Siswa SMP Negeri 2 Margaasih.
Lebih dari itu, digitalisasi pembelajaran memungkinkan guru memberikan umpan balik secara cepat dan tepat. Guru dapat memantau perkembangan siswa melalui perangkat digital, memberikan koreksi langsung, serta menyesuaikan metode mengajar sesuai kebutuhan masing-masing peserta didik. Hal ini membuat proses belajar lebih hidup dan bermakna.
“Dengan menggunakan papan interaktif digital saya bisa mengajar dengan jelas karena ada audionya dan visualnya sehingga siswa menjadi lebih aktif bertanya, kemudian bisa memanfaatkan fitur-fitur yang kita gunakan untuk pembelajaran dan lebih interaktif lagi” ujar guru SMP Negeri 2 Margaasih..
Keberadaan teknologi ini menjadikan proses belajar lebih hidup dan bermakna. Interaksi antara guru dan siswa semakin efektif, sementara suasana kelas menjadi lebih kondusif untuk eksplorasi, diskusi, dan kreativitas. Transformasi ini turut mendorong tumbuhnya budaya belajar yang lebih terbuka dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Langkah digitalisasi pembelajaran di sekolah menjadi bukti nyata upaya transformasi pendidikan yang berpusat pada peserta didik. Dengan dukungan perangkat yang tepat, sekolah mampu menciptakan ekosistem belajar yang lebih relevan dan responsif terhadap kebutuhan generasi saat ini.
(Tim media)
by Tim Media | Jan 13, 2026 | Warta Kiwari
Bandung Barat – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi meluncurkan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 6 Tahun 2026 yang berfokus pada penguatan budaya sekolah aman dan nyaman. Aturan baru ini menjadi landasan penting untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif, ramah, serta menjunjung tinggi nilai saling menghormati di sekolah.
Untuk membuat pendidikan yang baik bagi semua, sekolah tidak hanya perlu fokus pada pelajaran, tetapi juga harus menjadi tempat yang aman dan nyaman. Saat ini, cara sekolah menangani masalah tidak lagi menunggu kejadian buruk terjadi baru ditangani. Sebaliknya, sekolah mulai lebih banyak melakukan pencegahan sejak awal. Tujuannya agar murid merasa dihargai, dilindungi, dan tetap mendapatkan hak-haknya.
Agar upaya ini berjalan dengan baik, pemerintah juga menyesuaikan aturan-aturan sekolah dengan berbagai undang-undang yang berlaku. Aturan baru perlu sesuai dengan UU Perlindungan Anak, UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual, PP Tunas, dan aturan lain yang mendukung keamanan murid. Dengan aturan yang jelas dan lengkap, sekolah bisa melindungi murid dengan lebih maksimal.
Mewujudkan sekolah aman bukan hanya tugas guru atau kepala sekolah saja. Murid, orang tua, masyarakat, hingga media juga harus ikut terlibat. Semua pihak memiliki peran penting untuk menjaga kenyamanan di sekolah, baik secara fisik, emosional, maupun dalam penggunaan teknologi. Dengan bekerja sama, sekolah dapat menjadi tempat yang lebih positif dan mendukung perkembangan anak.
Setiap orang di sekolah murid, guru BK, wali kelas, kepala sekolah, hingga tenaga kependidikan memiliki perannya masing-masing. Mereka perlu saling mendukung untuk mencegah masalah, seperti kekerasan, perundungan, atau ketidaknyamanan lainnya. Langkah pencegahan dilakukan melalui kegiatan pembiasaan positif, pengaturan kelas yang baik, komunikasi yang hangat, dan edukasi tentang pentingnya saling menghormati.
Program Sekolah Aman dan Nyaman memiliki tujuan untuk memenuhi empat kebutuhan penting murid kebutuhan spiritual, keamanan fisik, kesehatan mental dan keamanan sosial, serta keamanan digital. Program ini diperuntukkan bagi seluruh warga sekolah. Pelaksanaannya didukung oleh sembilan prinsip, seperti manusiawi, tidak membeda-bedakan, melibatkan semua pihak, serta dilakukan secara terus-menerus. Dengan prinsip tersebut, sekolah diharapkan menjadi tempat yang ramah, aman, dan mendukung semua murid untuk belajar dengan tenang.
“Mari bersama-sama menjadi bagian dari perubahan positif untuk mewujudkan sekolah yang aman dan nyaman bagi seluruh anak Indonesia,” tulisnya dalam caption.
Demikian ajakan Kemendikdasmen melalui keterangan resminya. Peraturan baru ini diharapkan menjadi dorongan bagi satuan pendidikan untuk terus memperkuat budaya positif di lingkungan sekolah.
(Tim media)
by Tim Media | Jan 12, 2026 | Warta Kiwari
Tasikmalaya – Pemerintah terus mendorong pemerataan akses serta peningkatan mutu pendidikan melalui program revitalisasi satuan pendidikan. Langkah ini kembali terlihat dengan diresmikannya sejumlah Unit Sekolah Baru (USB) dan hasil revitalisasi sekolah tahun 2025 yang dipusatkan di SMA Negeri 11 Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, pada Minggu, 11 Januari 2026.
Peresmian tersebut ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Atip Latipulhayat, S.H., LL.M., Ph.D., didampingi Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan. Acara ini turut dihadiri jajaran Muspida, Dinas Pendidikan, organisasi kepemudaan, lembaga masyarakat, tokoh masyarakat, camat, hingga para pendidik.
SMA Negeri 11 Tasikmalaya yang berada di Kecamatan Bungursari kini menjadi simbol penting pemerataan layanan pendidikan menengah di wilayah yang sebelumnya belum memiliki sekolah negeri. Kehadiran lembaga pendidikan baru ini diharapkan memperluas akses masyarakat untuk mendapatkan layanan pendidikan yang lebih memadai.
“Pembangunan ini diawali usulan tokoh masyarakat setempat. Kebetulan ada warga dermawan yang menghibahkan tanahnya. Pemerintah pusat kemudian menjadikannya program prioritas demi meningkatkan mutu sarana pendidikan,” jelas Prof. Atip.
Ia menitipkan pesan kepada masyarakat agar merawat fasilitas pendidikan tersebut dengan sepenuh hati. “Mari kita jaga bersama agar SMAN 11 menjadi sekolah unggulan yang membanggakan bagi Kota Tasikmalaya,” ujarnya.
Revitalisasi satuan pendidikan mencakup sejumlah peningkatan, mulai dari perbaikan sarana prasarana, penataan lingkungan sekolah, hingga penyediaan fasilitas dasar seperti air bersih dan sanitasi. Program ini bertujuan menciptakan ruang belajar yang aman, nyaman, dan berkualitas demi menunjang proses pendidikan yang setara bagi seluruh peserta didik.
Dalam sambutannya, Prof. Atip Latipulhayat menegaskan bahwa revitalisasi pendidikan tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi merupakan investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa. Ia mengingatkan bahwa upaya peningkatan kualitas pembelajaran, penguatan karakter siswa, serta penciptaan budaya sekolah yang bersih dan aman harus berjalan seiring dengan pengembangan infrastruktur pendidikan.
( Tim Media)