by Tim Media | Mar 2, 2026 | Warta Kiwari
Bandung – Program Bimbingan Teknis (Bimtek) Digitalisasi Pembelajaran gelombang ketiga di Jawa Barat diikuti ratusan guru lintas jenjang dan menandai selesainya rangkaian pelatihan yang menyasar ribuan satuan pendidikan. Kegiatan yang berlangsung di 21 Tempat Praktik Kegiatan (TPK) ini melibatkan 820 guru dari PAUD, pendidikan kesetaraan, SD, SMP, hingga SMA yang sebelumnya belum pernah mengikuti pelatihan serupa.
Pelaksanaan gelombang terakhir tersebut sekaligus menuntaskan target program digitalisasi pembelajaran di 3.000 satuan pendidikan se-Jawa Barat. Melalui pelatihan ini, peserta dibekali pemahaman kebijakan digitalisasi pendidikan, pemanfaatan perangkat pembelajaran interaktif (IFP), serta penggunaan platform Rumah Pendidikan dan fitur ruang murid untuk mendukung proses belajar berbasis teknologi.
Selain materi konseptual, kegiatan juga menekankan praktik langsung penggunaan perangkat dan aplikasi pembelajaran. Guru dibagi dalam kelompok untuk mencoba berbagai skenario pemanfaatan teknologi di kelas, termasuk penyusunan bahan ajar digital. Pendekatan berbasis praktik ini dimaksudkan agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi mampu menerapkannya dalam pembelajaran sehari-hari.
Pelatihan menghadirkan narasumber dari dinas pendidikan kabupaten/kota, pegiat digital daerah, serta tim BBPMP Jawa Barat. Kolaborasi ini diharapkan memperkuat dukungan teknis di tingkat daerah sekaligus mempercepat adopsi pembelajaran digital di sekolah. Guru peserta juga didorong menularkan keterampilan yang diperoleh kepada rekan sejawat di sekolah maupun satuan pendidikan sekitar.
BBPMP Jawa Barat menargetkan dampak berkelanjutan melalui pendampingan hingga Mei 2026. Pemantauan dilakukan secara daring untuk memastikan penggunaan perangkat interaktif dan praktik pembelajaran digital berjalan sesuai rencana tindak lanjut yang telah disusun peserta. Pendekatan ini diarahkan agar transformasi pembelajaran berbasis teknologi tidak berhenti pada pelatihan, tetapi menjadi praktik rutin di sekolah.
(Tim media)
by Tim Media | Mar 2, 2026 | Warta Kiwari
Bandung Barat – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memperkuat implementasi kebijakan Wajib Belajar 13 Tahun dengan menekankan pentingnya layanan pendidikan sejak usia dini hingga jalur kesetaraan. Kebijakan ini tidak hanya berorientasi pada akses pendidikan, tetapi juga kualitas pembelajaran awal anak melalui peran guru PAUD dan dukungan lingkungan belajar yang sehat, termasuk pemenuhan gizi.
Masa usia dini dipandang sebagai periode krusial dalam pembentukan fondasi perkembangan anak. Karena itu, layanan prasekolah didorong mampu menumbuhkan rasa percaya diri, kemampuan sosial, serta kesiapan belajar sebelum memasuki pendidikan dasar. Guru PAUD dinilai memiliki posisi strategis dalam membangun karakter melalui interaksi positif, bahasa yang baik, serta aktivitas belajar yang menyenangkan dan eksploratif.
“Guru diharapkan mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, ramah anak, serta mendorong anak untuk bertanya, bermain, berimajinasi, belajar berbagi, bekerja sama, dan berkomunikasi dengan bahasa yang baik. Lingkungan bahasa, sikap pendidik, serta interaksi sosial dinilai menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter anak sejak usia dini,” ujar Mendikdasmen.
Implementasi Wajib Belajar 13 Tahun mencakup satu tahun prasekolah sebelum pendidikan dasar serta perluasan akses pendidikan pada seluruh jenjang. Pemerintah menyoroti kebutuhan penyediaan ruang belajar, peningkatan kompetensi pendidik, dan keterlibatan pemerintah daerah agar layanan pendidikan awal dapat menjangkau lebih banyak anak. Kesiapan anak sebelum SD menjadi fokus agar transisi pendidikan berjalan optimal.
Di sisi lain, jalur pendidikan nonformal juga diperkuat untuk menuntaskan wajib belajar, terutama bagi masyarakat yang tidak terjangkau sekolah formal. Program kesetaraan melalui PKBM dan SKB semakin diminati dan berkembang, menunjukkan bahwa pendidikan nonformal telah menjadi pilihan alternatif yang relevan. Peserta didik pada jalur ini juga memperoleh hak pendanaan pendidikan yang setara dengan jalur formal, termasuk dukungan program revitalisasi dan digitalisasi pembelajaran.
Upaya peningkatan kualitas pendidikan anak turut dikaitkan dengan pemenuhan gizi sejak dini. Program makan bergizi bagi anak, ibu hamil, dan ibu menyusui dipandang sebagai bagian dari investasi kualitas generasi. Pendekatan ini menempatkan pendidikan keluarga, kesehatan, dan lingkungan tumbuh kembang sebagai satu kesatuan dalam menyiapkan anak agar siap belajar dan berkembang secara optimal sepanjang jenjang Wajib Belajar 13 Tahun.
(berita ini telah tayang di https://kemendikdasmen.go.id/siaran-pers/14829-sosialisasi-wajib-belajar-13-tahun-mendikdasmen-dorong-penguatan-guru-paud-dan-pemenuhan-gizi-anak )
by Tim Media | Feb 26, 2026 | Warta Kiwari
Bandung — Pemanfaatan perangkat digital di ruang kelas terus didorong agar benar-benar berdampak pada kualitas pembelajaran. Hal tersebut terlihat dalam peninjauan Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Muchlas, pada pelaksanaan Bimbingan Teknis (Bimtek) Digitalisasi Pembelajaran yang diselenggarakan Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Barat di SMPN 7 Bandung dan SDN 113 Banjarsari, Selasa (24/2/2026).
Kegiatan ini menekankan penguatan kapasitas guru dalam menggunakan bantuan perangkat digitalisasi, khususnya Interactive Flat Panel (IFP), sebagai media pembelajaran yang interaktif dan bermakna. Pendekatan tersebut diarahkan agar teknologi tidak hanya hadir sebagai fasilitas, tetapi menjadi bagian dari strategi pembelajaran yang mendorong partisipasi aktif peserta didik.
Dalam sesi pendampingan, guru didorong memanfaatkan fitur IFP untuk menampilkan materi visual, kuis interaktif, hingga kolaborasi kelas secara langsung. Pemanfaatan perangkat ini memungkinkan pembelajaran berlangsung lebih dinamis, karena peserta didik dapat terlibat melalui diskusi, eksplorasi, dan pemecahan masalah secara bersama.
BBPMP Provinsi Jawa Barat melalui Bimtek ini memastikan satuan pendidikan penerima bantuan perangkat digital memiliki kesiapan pedagogik dan teknis dalam mengintegrasikan teknologi ke proses belajar. Transformasi pembelajaran dipahami bukan sekadar menghadirkan perangkat modern di kelas, melainkan mengubah praktik mengajar menjadi lebih partisipatif dan kontekstual.
Staf Khusus Mendikdasmen menekankan bahwa keberhasilan digitalisasi pembelajaran sangat bergantung pada peran guru sebagai pengarah proses belajar. Teknologi diposisikan sebagai alat yang memperluas kemungkinan pembelajaran, sementara kreativitas guru menentukan bagaimana pengalaman belajar terbentuk di kelas.
Peninjauan juga menunjukkan bahwa penggunaan perangkat digital dapat memperkaya pengalaman belajar melalui visualisasi konsep, simulasi, dan aktivitas kolaboratif. Lingkungan belajar yang interaktif dinilai mampu meningkatkan motivasi belajar sekaligus membantu peserta didik memahami materi secara lebih mendalam.
Melalui penguatan kompetensi dan pendampingan berkelanjutan, BBPMP Jawa Barat mendorong sekolah memanfaatkan bantuan digitalisasi secara optimal. Upaya ini menjadi bagian dari transformasi pembelajaran menuju kelas yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan belajar peserta didik.
Digitalisasi pembelajaran diharapkan tidak berhenti pada tahap pelatihan, tetapi berlanjut pada praktik nyata di kelas sehari-hari. Dengan pemanfaatan yang konsisten, perangkat digital dapat menjadi sarana pembelajaran yang efektif, inspiratif, dan berdampak pada peningkatan mutu pendidikan.
(Tim media)
by Tim Media | Feb 25, 2026 | Warta Kiwari
Bandung – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terus mendorong penerapan Pembelajaran Mendalam (PM) di satuan pendidikan sebagai upaya meningkatkan kualitas proses belajar yang berpusat pada peserta didik. Hal tersebut ditunjukkan melalui peninjauan langsung Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, terhadap praktik pembelajaran di SMPN 5 Bandung dan SDN 001 Merdeka Kota Bandung, (23/2).
Peninjauan difokuskan pada bagaimana pendekatan pembelajaran diterapkan di kelas, termasuk keterlibatan aktif peserta didik, penggunaan media pembelajaran, serta kemampuan guru mengelola pembelajaran bermakna. Pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila di SMPN 5 Bandung, peserta didik mempresentasikan proyek digital bertema kekayaan budaya Sumatra yang disusun secara kolaboratif. Kegiatan tersebut tidak hanya memperluas pengetahuan kontekstual, tetapi juga melatih kemampuan kerja sama dan pemecahan masalah.
Pendekatan pembelajaran interaktif juga terlihat pada pembelajaran Bahasa Indonesia melalui pemanfaatan papan interaktif digital dan aplikasi kuis daring. Guru memandu peserta didik memahami materi teks prosedur melalui video dan pertanyaan reflektif, sehingga mendorong partisipasi aktif serta suasana belajar yang dinamis.
Dalam dialog pembelajaran, Wakil Menteri menekankan pentingnya penggunaan pertanyaan pemantik untuk membangun keterlibatan peserta didik sejak awal proses belajar. Strategi tersebut dinilai efektif dalam mengaitkan pengetahuan awal dengan materi baru, sehingga pemahaman peserta didik berkembang secara lebih mendalam dan kontekstual.
Menurutnya, Pembelajaran Mendalam merupakan pendekatan yang menempatkan makna sebagai inti proses belajar. Peserta didik tidak hanya memperoleh informasi, tetapi juga memahami relevansi pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, implementasi pembelajaran perlu diarahkan pada pengalaman belajar yang reflektif, kolaboratif, dan berorientasi pemecahan masalah.
“Pembelajaran mendalam memberikan informasi sekaligus inspirasi. Dengan pembelajaran mendalam, murid dapat mengetahui secara lebih mendalam dan memaknai apa yang disampaikan, sehingga mampu mengontekstualisasikan mata pelajaran,” ujarnya dalam kunjungannya yang didampingi oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, Asep Saeful Gufron, serta Kepala Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Jawa Barat, Sugito Adiwarsito.
Hasil peninjauan menunjukkan bahwa praktik pembelajaran mendalam di satuan pendidikan memerlukan penguatan berkelanjutan, khususnya pada kompetensi pedagogik guru dan konsistensi penerapan di kelas. Pelatihan guru dinilai perlu diikuti dengan pendampingan implementasi agar perubahan praktik pembelajaran berlangsung sistematis dan terukur.
Kepala satuan pendidikan menyampaikan bahwa kunjungan tersebut memberikan umpan balik langsung terhadap praktik pembelajaran yang telah berjalan. Evaluasi bersama antara kementerian dan sekolah menjadi bagian dari upaya peningkatan mutu pembelajaran secara berkelanjutan, terutama dalam memastikan pembelajaran benar-benar berpusat pada peserta didik.
Selain itu, refleksi bersama menegaskan pentingnya peran guru dalam menciptakan lingkungan belajar yang aktif, menyenangkan, dan bermakna. Pembelajaran tidak lagi dipahami sebagai penyampaian materi, melainkan proses pembentukan pemahaman dan karakter peserta didik melalui pengalaman belajar yang relevan.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menegaskan bahwa implementasi Pembelajaran Mendalam harus diwujudkan secara nyata dalam praktik pembelajaran sehari-hari. Konsistensi penerapan di kelas menjadi kunci agar pendekatan ini berdampak langsung pada peningkatan kualitas pembelajaran dan hasil belajar peserta didik.
“Pelatihan saja tidak cukup jika belum diimplementasikan secara optimal. Kita ingin memastikan guru tidak hanya memahami konsepnya, tetapi juga mampu menerapkannya dalam proses pembelajaran sehari-hari,” ujar Wamen Atip.
Peninjauan ini merupakan bagian dari langkah kementerian memastikan kebijakan pembelajaran mendalam terlaksana efektif di satuan pendidikan. Melalui pemantauan, refleksi, dan penguatan kapasitas guru, diharapkan transformasi pembelajaran menuju pembelajaran bermakna dapat berlangsung berkelanjutan di seluruh Indonesia.
(berita ini telah tayang di https://kemendikdasmen.go.id/siaran-pers/14790-suasana-kelas-hidup-dan-interaktif-wamendikdasmen-atip-perkuat-implementasi-pembelajaran-mendalam )
by Tim Media | Feb 23, 2026 | Warta Kiwari
Bandung Barat – Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Barat menerima kunjungan lapangan Unit Governance Kantor Bank Dunia Jakarta dalam rangka pelaksanaan kajian penguatan kapasitas (capacity building) penyediaan layanan dasar pendidikan di daerah. Kegiatan ini dilaksanakan di kantor BBPMP Provinsi Jawa Barat sebagai bagian dari pengumpulan data dan informasi lapangan terkait tata kelola layanan pendidikan daerah.
Kunjungan tersebut diikuti oleh tim Bank Dunia dan jajaran BBPMP Provinsi Jawa Barat. Pertemuan difokuskan pada pembahasan peran dan fungsi BBPMP dalam melaksanakan pembinaan, pendampingan, serta penguatan mutu layanan pendidikan kepada pemerintah daerah dan satuan pendidikan di wilayah Jawa Barat.
Dalam pemaparan kelembagaan, BBPMP Provinsi Jawa Barat menjelaskan mekanisme pendampingan kepada pemerintah daerah melalui perencanaan berbasis data, penguatan implementasi kebijakan mutu pendidikan, serta fasilitasi program peningkatan mutu pada satuan pendidikan. Pendampingan tersebut bertujuan memastikan kebijakan dan program prioritas pendidikan dapat diterapkan secara selaras dengan kebutuhan daerah.
Tim Bank Dunia menyampaikan bahwa penguatan kapasitas kelembagaan merupakan komponen penting dalam perbaikan tata kelola layanan dasar. Kelembagaan yang kuat dinilai berkontribusi terhadap efektivitas pelaksanaan program, transparansi tata kelola, serta peningkatan kualitas layanan pendidikan kepada masyarakat.
Diskusi juga mengidentifikasi sejumlah aspek yang perlu diperkuat dalam penyediaan layanan pendidikan daerah, antara lain kapasitas perencanaan berbasis data, koordinasi pemangku kepentingan, serta konsistensi implementasi kebijakan mutu di tingkat daerah dan satuan pendidikan. Temuan lapangan ini akan menjadi bagian dari bahan kajian capacity building layanan dasar pendidikan.
Melalui kegiatan ini, BBPMP Provinsi Jawa Barat diharapkan semakin optimal dalam menjalankan fungsi penjaminan mutu dan pendampingan pemerintah daerah. Kolaborasi dengan Bank Dunia juga menjadi bagian dari upaya penguatan tata kelola layanan pendidikan yang efektif, akuntabel, dan berorientasi pada hasil.
Kegiatan kajian capacity building layanan dasar oleh Bank Dunia di Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu langkah penguatan kualitas layanan pendidikan daerah secara berkelanjutan, khususnya dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan pada satuan pendidikan.
(Tim media)
by Tim Media | Feb 19, 2026 | Warta Kiwari
Jakarta – Presiden RI Prabowo Subianto meresmikan 1.179 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri dan 18 gudang ketahanan pangan sebagai bagian dari percepatan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Peresmian dipusatkan di SPPG Polri Palmerah, Jakarta Barat, pada 13 Februari 2026.
Kehadiran SPPG dinilai tidak hanya mendukung pemenuhan gizi peserta didik, tetapi juga membuka rantai pasok bagi produk pertanian dan peternakan lokal. Setiap unit layanan membutuhkan bahan pangan seperti sayur, telur, ayam, dan daging yang disuplai dari produsen di daerah, sehingga menciptakan kepastian pasar bagi petani kecil.
“Kita lihat, satu SPPG butuh sayur, telur, ayam, daging, dan sebagainya, ini menghidupkan petani-petani kecil. Mereka sekarang yakin punya penghasilan. Dulu mereka panen tidak tahu siapa yang beli, sekarang mereka dijamin, produksi mereka akan diserap,” tegas Presiden Prabowo Subianto.
Dari sisi keamanan pangan, SPPG Polri menerapkan standar pengolahan dan distribusi makanan yang ketat. Seluruh dapur dilengkapi perangkat sterilisasi dan uji keamanan pangan, sementara makanan yang akan didistribusikan harus melalui pengujian organoleptik untuk memastikan bebas dari zat berbahaya seperti formalin, nitrit, sianida, dan arsenik.
“Penyelenggaraan program Makan Bergizi Gratis ini akan memperhatikan aspek fisik, mental, dan karakter anak-anak. Kami ingin program ini menjadi bagian integral dari upaya penguatan karakter bangsa melalui nilai-nilai kebersamaan, tanggung jawab, dan kemandirian,” ungkapnya pada kesempatan berbeda.
Program MBG juga menjadi bagian dari kebijakan pembangunan pendidikan. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyebut penyediaan makanan bergizi di sekolah diarahkan tidak hanya pada aspek kesehatan fisik, tetapi juga pembentukan karakter murid melalui pembiasaan hidup sehat dan tanggung jawab.
“Kalau makan makanan yang sehat dan bergizi, anak-anak kita akan menjadi sehat dan kuat,” tuturnya
Menurutnya, lingkungan belajar yang aman dan didukung pemenuhan gizi yang memadai menjadi fondasi penting dalam menyiapkan generasi muda menuju visi Indonesia 2045. Kebiasaan konsumsi makanan sehat diharapkan berlanjut di lingkungan keluarga agar dampaknya lebih berkelanjutan.
Sementara itu, Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana menyampaikan bahwa program MBG telah menjangkau sekitar 60,2 juta penerima manfaat di 38 provinsi. Jumlah tersebut ditargetkan meningkat hingga lebih dari 80 juta penerima dalam tahap pengembangan berikutnya.
Peresmian fasilitas MBG ini melibatkan kolaborasi lintas kementerian dan lembaga, termasuk sektor pangan dan kepolisian, sebagai upaya memperluas jangkauan layanan gizi bagi peserta didik di seluruh wilayah Indonesia.
( Berita ini telah ditayangkan di https://kemendikdasmen.go.id/berita/14749-perkuat-program-makan-bergizi-gratis-presiden-resmikan-1179-sppg-polri-dan-18-gudang-ketahanan)