Padalarang, 13 Oktober 2025 – Dalam menjalankan peran advokasi, fasilitasi, dan supervisi pendidikan, kemampuan berbahasa yang baik menjadi bekal utama, Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) Tahap I, pada Senin (13/10), bertempat di Aula Tangkuban Perahu, Kampus Padalarang.
Kegiatan ini diikuti oleh 74 peserta yang terdiri dari unsur Kepala, Kepala Bagian Umum, serta para Widyaprada BBPMP Jawa Barat. Pelaksanaan UKBI bertujuan untuk memetakan tingkat kemahiran berbahasa Indonesia para pegawai sebagai langkah awal dalam pengembangan kompetensi berbahasa yang menjadi bagian penting dari proses bisnis penjaminan mutu pendidikan.
Sebagaimana diketahui, BBPMP Jawa Barat memiliki peran strategis dalam melaksanakan fungsi advokasi, fasilitasi, dan supervisi kualitas capaian pendidikan di Provinsi Jawa Barat. Dalam menjalankan peran tersebut, kemampuan menyampaikan pesan secara efektif menjadi keterampilan yang sangat penting, terutama dalam membangun komunikasi yang baik dengan berbagai pemangku kepentingan pendidikan.
Kepala BBPMP Provinsi Jawa Barat dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk komitmen lembaga dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.
“Kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar bukan hanya soal tata bahasa, tetapi juga mencerminkan profesionalisme, kejelasan dalam menyampaikan ide, dan kemampuan berdialog dengan berbagai pihak. Melalui UKBI ini, kita ingin memastikan seluruh pegawai BBPMP Jabar memiliki kemampuan komunikasi yang efektif dalam menjalankan peran penjaminan mutu,” ujarnya.
Hasil dari pelaksanaan UKBI ini akan dijadikan dasar dalam rencana tindak lanjut peningkatan kompetensi berbahasa pegawai, baik melalui pelatihan, pendampingan, maupun kegiatan penguatan literasi komunikasi.
Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan seluruh pegawai BBPMP Jawa Barat dapat semakin terampil dalam menggunakan bahasa Indonesia secara efektif, santun, dan sesuai kaidah, sehingga dapat mendukung peran BBPMP Jabar dalam mengawal mutu pendidikan yang berkualitas dan berkeadilan di Provinsi Jawa Barat.
Bandung Barat – Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Barat menjadi tuan rumah Rapat Koordinasi Penyusunan Rencana Strategis (Renstra) UPT Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Kemendikdasmen periode 2025–2029, yang berlangsung pada 1–3 Oktober 2025 di BBPMP Provinsi Jawa Barat Kampus Jayagiri, Lembang, Kabupaten Bandung Barat.
Kegiatan ini dibuka langsung oleh Direktur Jenderal PAUD Dasmen, Gogot Suharwoto. Dalam sambutannya, Gogot menegaskan bahwa penyusunan Renstra tidak hanya berorientasi pada dokumen perencanaan, melainkan harus berangkat dari visi besar pendidikan dasar dan menengah yaitu “Pendidikan Bermutu Untuk Semua”.
“Pendidikan bermutu harus dihadirkan ke semua orang, tidak boleh ada program pendidikan yang hanya untuk kelompok tertentu,” kata Gogot saat memberikan pembekalan.
Lebih jauh, ia menekankan tiga pilar Pendidikan Bermutu untuk Semua yang menjadi landasan penyusunan Renstra: Inklusif, dimana setiap individu, tanpa memandang latar belakang atau kondisi, berhak mendapatkan pendidikan yang berkualitas Adaptif, apa yang kita ajarkan ke anak-anak sesuai dengan apa yang dibutuhkan mereka dan bakat potensinya Partisipatif, menekankan pentingnya keterlibatan semua pihak, baik pemerintah, sekolah, guru, orang tua, hingga masyarakat luas
Rakor ini dihadiri oleh Kepala Bagian/Kepala Subbagian Umum dan staf Perencanaan BBPMP dan BPMP dari seluruh Indonesia untuk membahas rancangan Renstra 2025–2029 yang mencakup program prioritas Kemendikdasmen.
Kepala BBPMP Jawa Barat, Komalasari, menyampaikan bahwa Renstra akan menjadi pedoman bagi UPT di seluruh Indonesia dalam melaksanakan program pendidikan yang sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat. “Penyusunan Renstra ini diharapkan mampu meningkatkan akuntabilitas, transparansi, dan sekaligus menjadi instrumen nyata dalam peningkatan mutu pendidikan di daerah,” ujarnya. (MD)
BBPMP Jabar sebagai salah satu UPT Kemdikdasmen di daerah memiliki peran dan tugas dalam menyiapkan data peserta didik, satuan pendidikan (satdik) serta memberi edukasi dalam implementasi Program MBG. Dalam tugasnya memberi edukasi perlu memastikan semua satdik memiliki cukup pengetahuan tentang persiapan, pelaksanaan MBG, walau dalam kasus kejadian luar biasa keracunan MBG di Kab. Bandung Barat, BBPMP tidak terkait langsung, namun sebagai bentuk tanggung jawab moral, memberi dukungan dan mendengarkan keluhan warga sekolah merupakan bagian yang harus diperhatikan.
Untuk itu Tim MBG BBPMP Provinsi Jawa Barat yang dikoordinir oleh Rina Mutaqinah beserta anggota, mengunjungi sekolah yang siswanya menjadi korban keracunan MBG di SDN Sirnagalih dan SMPN 3 Cipongkor KBB.
Dalam pertemuan tersebut dihadiri para guru masing-masing di dua sekolah tersebut. Dari hasil pembicaraan langsung dengan para guru, ditemukan bahwa penyebab utama siswa SDN Sirnagalih sebanyak 30 orang korban menyatakan mereka mual, pusing, sesak nafas dan kejang setelah mereka mengkonsumsi MBG teritama menu Ayam Kecapnya, terdapat siswa yang hanya makan melon saja namun tetap menunjukkan gejala keracunan. Sebagian besar siswa lainnya di SDN tersebut tidak mengalami gejala apapun, mereka umumnya menyatakan makannya enak, tidak basi dan bahkan ada yang nambah porsi temannya yang tidak masuk sekolah
Sedangkan di SMPN 3 Cipongkor siswa yang menjadi korban sebanyak 46 orang ditambah 2 tenaga kependidikan, mereka mengeluhkan hal yang sama dengan SDN Sirnagalih yakni menu ayam kecap yang mereka konsumsi berbau tidak sedap. Sebagian besar siswa lainnya yakni sebanyak 286 siswa tidak mengalami gejala apa-apa.
Dari kedua sekolah tsb MBG mereka peroleh dari dapur yang sama yakni SPPG Cipari.
Saat kunjungan hari ini semua siswa sudah kembali sekolah kecuali ada satu siswa SDN 3 Cipongkor yang kembali lagi dirawat di RS Cililin, walaupun hampir 100% para siswa sembuh, namun menyisakan trauma bagi mereka termasuk para orang tua. PR bagi para guru untuk memulihkan kembali siswa agar bisa kembali menerima MBG tanpa kekuatiran. Saat ini SPPG ysb dihentikan sementara operasionalnya sampai waktu yang tidak ditentukan, sambil tentunya Pemerintah melakukan evaluasi berbagai aspek dalam implementasi MBG.
Selanjutnya Tim MBG memberikan arahan berupa panduan implementasi MBG dan mengenalkan Dashboard MBG, hasilnya tim guru dari masing-masing sekolah meras baru mendapatkan pencerahan dan pengetahuan mengenai pelaksanaan MBG, selama ini mereka belum mendapatkan sosialisasi dan edukasi terkait MBG. Tim MBG merekomendasikan adanya pendampingan bagi satdik di setiap semua kecamatan di KBB agar mendapatkan sosialisasi terkait Implementasi MBG, PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) oleh Tim MBG secara sukarela bergiliran ke semua kecamatan di KBB sebagi bentuk kepedulian bagi lingkungan sekitar dimana BBPMP Provinsi Jawa Barat berdomisili
Cimahi — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti melanjutkan agenda kunjungan kerja di Jawa Barat dengan menghadiri rangkaian kegiatan di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Mesin dan Teknik Industri (BBPPMPV BMTI), Kota Cimahi, Senin (22/9).
Dimulai dengan temu sapa pegawai UPT Kemendikdasmen di Jawa Barat yang berlangsung di Ruang Serbaguna Bale Binangkit. Dalam kesempatan itu, Abdul Mu’ti menyampaikan apresiasi kepada seluruh pegawai atas komitmen mendukung transformasi pendidikan dasar dan menengah di Jawa Barat.
Pada kesempatan tersebut, Menteri Abdul Mu’ti juga menegaskan pentingnya menghadirkan layanan pendidikan yang RAMAH – responsif, akuntabel, melayani, adaptif, dan harmonis sehingga mampu memperkuat komitmen Kemendikdasmen untuk mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua menuju Indonesia Emas 2045.
Usai temu sapa, Mendikdasmen meninjau laboratorium praktik kerja program keahlian yang meliputi Teknik Energi Terbarukan, Teknik Otomotif, serta Teknik Las dan Fabrikasi Logam. Kunjungan ini sekaligus menjadi momentum peresmian Sarana Praktek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), yang dikembangkan BBPPMPV BMTI sebagai bentuk inovasi pendidikan vokasi berbasis energi berkelanjutan.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan pengarahan Mendikdasmen pada kegiatan peningkatan pelatihan guru vokasi.
Turut mendampingi Mendikdasmen, Dirjen Vokasi dan PKPLK Tatang Muttaqin, Kepala BBPMP Jawa Barat Komalasari, Kepala BBGTK Jawa Barat Sugito Adiwarsito, Kepala BBPPMPV BMTI Anwar Sidarta, serta Kepala Balai Bahasa Jawa Barat Herawati.
Bandung, 22 September 2025 — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Jawa Barat pada Senin (22/9). Kunjungan ini mencakup dua agenda utama, yakni menghadiri Pelatihan Bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS) di Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Jawa Barat, Kota Bandung, serta meninjau implementasi digitalisasi pembelajaran dan program 7 Jurus Bimbingan Konseling (BK) di SDN Cimahi Mandiri, Kota Cimahi.
Dalam arahannya saat membuka kegiatan BCKS, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa peran kepala sekolah sangat vital dalam meningkatkan mutu pendidikan di satuan pendidikan. “Kepala sekolah harus memiliki visi yang kuat, mampu menjadi motor penggerak perubahan, serta adaptif menghadapi tantangan zaman,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa kepemimpinan yang transformatif akan membawa dampak nyata pada kualitas pembelajaran dan pengembangan karakter peserta didik.
Setelah agenda di Bandung, Abdul Mu’ti melanjutkan kunjungan ke SDN Cimahi Mandiri. Di sekolah tersebut, ia menyaksikan langsung praktik digitalisasi pembelajaran yang memanfaatkan teknologi untuk mendukung interaksi guru dan siswa di kelas. Selain itu, ia juga meninjau penerapan inovasi 7 Jurus BK, yang dirancang untuk memperkuat layanan konseling di tingkat sekolah dasar.
Dalam kunjungan ini, Mendikdasmen didampingi oleh Dirjen Vokasi dan PKPLK Tatang Muttaqin, Kepala BBPMP Jawa Barat Komalasari, Kepala BBGTK Jawa Barat Sugito Adiwarsito, Kepala BBPPMPV BMTI Anwar Sidarta, serta Kepala Balai Bahasa Jawa Barat Herawati.
Jakarta, 17 September 2025 — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat pencapaian signifikan dalam implementasi program prioritas Pendidikan Bermutu untuk Semua sepanjang periode Oktober 2024 hingga September 2025. Dengan alokasi anggaran sebesar Rp181,72 triliun untuk enam program prioritas, pemerintah membuktikan komitmennya dalam memastikan layanan pendidikan yang lebih merata, inklusif, dan bermutu bagi seluruh anak Indonesia.
Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, menegaskan bahwa capaian tersebut bukan sekadar angka statistik, melainkan hasil nyata yang telah langsung dirasakan oleh masyarakat. “Program prioritas ini bukan hanya angka capaian, tetapi nyata membawa dampak langsung bagi guru, siswa, dan masyarakat. Pembangunan dan Revitalisasi Satuan Pendidikan menggerakkan ekonomi daerah, Digitalisasi Pembelajaran menutup kesenjangan pembelajaran, tunjangan guru lebih cepat sampai, pemberian insentif guru non ASN, dan beasiswa membuka jalan masa depan anak bangsa. Kami berkomitmen untuk terus menghadirkan pendidikan yang bermutu dan merata untuk semua,” ujarnya di Jakarta, Selasa (16/9).
Salah satu capaian paling menonjol datang dari program revitalisasi satuan pendidikan yang dengan anggaran Rp16,97 triliun berhasil melampaui target. Dari target 10.440 satuan pendidikan, program ini dapat dialokasikan untuk 15.523 satuan pendidikan. Pembangunan dan revitalisasi tersebut mencakup seluruh jenjang pendidikan mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA, SMK, hingga SLB, serta pembangunan 52 unit sekolah baru dan revitalisasi 122 satuan pendidikan nonformal.
Peningkatan kualitas pendidikan juga dilakukan dengan melanjutkan program digitalisasi pendidikan. Sesuai Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2025, program ini memfasilitasi akses pembelajaran digital bagi lebih dari 285.000 sekolah pada jenjang PAUD hingga SKB. Digitalisasi pembelajaran diharapkan mampu mendorong motivasi belajar, mempermudah pemahaman materi, meningkatkan keterampilan digital, serta mengurangi learning loss dan ketertinggalan literasi maupun numerasi.
Di sisi lain, peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru dengan alokasi anggaran Rp13,2 triliun turut menjadi perhatian utama. Tunjangan Profesi bagi guru non-ASN yang mengalami kenaikan sebesar Rp500 ribu dari Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta per bulan menyasar lebih dari 785 ribu guru. Bantuan subsidi upah (BSU) sebesar Rp300 ribu juga disalurkan bagi 253 ribu guru PAUD nonformal non-ASN. Selain itu, program fasilitasi pengembangan karir S1/D4 menjangkau 16.197 guru. Sebanyak 804 ribu guru pun difasilitasi untuk mengikuti sertifikasi Pendidikan Profesi Guru (PPG). Selain itu, guru non-ASN juga mendapat insentif sebesar Rp300 ribu per bulan, yang untuk tahun 2025 diberikan selama 7 bulan mulai Juni 2025. Dengan demikian setiap guru mendapatkan Rp2,1 juta yang diberikan sekaligus dan penyalurannya diberikan antara bulan Agustus sampai September 2025.
Capaian signifikan juga datang melalui Program Indonesia Pintar (PIP) dan beasiswa Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) yang membuka akses pendidikan bagi jutaan siswa. Program Indonesia Pintar (PIP) menargetkan 18,5 juta siswa dengan pagu anggaran Rp13,5 triliun. Program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) menargetkan 4.679 siswa dengan pagu anggaran Rp127 miliar.
Sementara itu, Program Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) yang dialokasikan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik telah menyalurkan Rp59,3 triliun untuk 50.463.212 peserta didik dan 422.106 satuan pendidikan.
Tunjangan bagi guru ASN melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik juga menunjukkan progres signifikan pada Tahun Anggaran 2025. Total anggaran Rp70 triliun telah dialokasikan untuk 1) Tunjangan Profesi Guru (TPG) untuk 1.522.722 guru; 2) Dana Tambahan Penghasilan (DTP) untuk 332.170 guru; dan 3) Tunjangan Khusus Guru (TKG) untuk 62.536 guru.
Dampak Nyata Program Prioritas
Program revitalisasi sekolah tidak hanya meningkatkan kualitas infrastruktur pendidikan, tetapi juga membuat siswa menjadi lebih aman dan nyaman dalam mengikuti proses belajar mengajar di kelas, serta dengan pelaksanaan swakelola ekonomi daerah setempat tumbuh. Digitalisasi pembelajaran juga membawa perubahan nyata di ruang kelas. Dengan perangkat interaktif, siswa lebih termotivasi, pemahaman materi meningkat, dan keterampilan digital semakin terasah.
Peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru memberikan dampak langsung terhadap kualitas pembelajaran. Taraf hidup guru semakin meningkat, akses pengembangan kompetensi semakin terbuka, dan proses penyaluran tunjangan lebih efisien. Program tunjangan guru ASN melalui DAK Nonfisik juga membawa perubahan besar. Penyaluran yang kini langsung ke rekening penerima mempercepat proses, memangkas birokrasi, dan memastikan manfaat segera dirasakan.
Program PIP dan ADEM memberi dampak besar pada keberlanjutan akses pendidikan. PIP dan ADEM membantu jutaan siswa dari keluarga prasejahtera, anak-anak dari daerah 3T utamanya Papua, dan keluarga migran, untuk melanjutkan sekolah, mengurangi angka putus sekolah, sekaligus meringankan beban ekonomi keluarga. Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan yang selanjutnya disebut Dana BOSP adalah dana alokasi khusus nonfisik untuk mendukung biaya operasional nonpersonalia bagi satuan pendidikan.
Suharti menegaskan bahwa seluruh program dan kebijakan yang dijalankan pemerintah berorientasi pada hasil nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. “Kami ingin memastikan bahwa setiap rupiah yang dialokasikan benar-benar kembali sebagai manfaat bagi guru, siswa, dan keluarga Indonesia. Pendidikan bermutu bukan hanya sebuah visi, tetapi komitmen nyata untuk menghadirkan perubahan yang dapat dirasakan di kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Bandung Barat, 18 September 2025 – Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan Webinar dan Coaching Tes Kemampuan Akademik (TKA) bagi satuan pendidikan di Jawa Barat, Kamis (18/9). Kegiatan ini diikuti lebih dari 1.500 peserta melalui Zoom dan lebih dari 10.000 peserta via kanal YouTube.
Webinar dibuka oleh Kepala BBPMP Jawa Barat, Komalasari, S.Pd., M.Pd, sambutan dari Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Dr. Deden Saepul Hidayat, M.Pd. Adapun narasumber meliputi Neni Niawati (Widyaprada Ahli Muda BBPMP Jabar), Endri Oktavian, SE., MM (Staf Bidang PSMA Disdik Jabar/ koordinator teknis TKA Jabar), serta Tim Teknis TKA Disdik Jabar. Tim Program Prioritas 7 (pembelajaran dan penilaian) BBPMP Jawa Barat juga mengikuti kegiatan tersebut.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman pemerintah daerah dan satuan pendidikan jenjang SMA/MA/SMK/MAK/SLB serta pendidikan kesetaraan terkait kebijakan TKA 2025. Selain itu, peserta dibekali strategi teknis pendaftaran, coaching clinic sesuai kebutuhan, dan diperkuat sinergi BBPMP dengan Disdik Provinsi Jawa Barat, 27 Dinas Pendidikan Kabupaten dan Kota Se-Jawa Barat, Kantor Kementerian Agama Provinsi/Kabupaten/Kota di Jawa Barat, dan satuan pendidikan dalam pelaksanaan TKA. Acara ini juga dihadiri perwakilan dari BBPPMPV BMTI.
Yang menarik, webinar kali ini menghadirkan juru bahasa isyarat, Januar Basuki dari DPC Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kota Cimahi. Kehadiran juru bahasa menjadi terobosan BBPMP Jawa Barat untuk memastikan layanan yang RAMAH bagi kelompok rentan dan disabilitas, sejalan dengan semangat pendidikan inklusif dan bermutu bagi semua.
Oleh Idris Apandi Widyaprada Ahli Madya BBPMP Provinsi Jawa Barat, Penulis 1100-an Artikel dan 57 Buku
Intisari
Widyaprada (WP) adalah ASN yang bertugas melaksanakan penjaminan mutu pendidikan melalui pemetaan, pendampingan, pembimbingan, supervisi, dan pengembangan model mutu. Tugas ini menghasilkan banyak data, pengalaman, dan praktik baik. Namun jika hanya berhenti dalam laporan administratif, maka nilainya kurang terasa. Menulis menjadi sarana untuk mengabadikan, menyebarkan, dan menginspirasi dari hasil kerja tersebut.
Mengapa Widyaprada Perlu Menulis?
Profesionalisme – Tulisan adalah bukti kinerja intelektual, memperlihatkan kemampuan berpikir sistematis dan kritis.
Refleksi – Menulis membantu WP mengevaluasi diri dan menemukan pembelajaran baru.
Pengembangan Diri – Tulisan meningkatkan kepercayaan diri, reputasi, serta membuka jejaring profesional.
Kontribusi Nyata – Tulisan menjadi rujukan kebijakan, inspirasi sekolah, sekaligus pengetahuan publik.
Bentuk Tulisan
Artikel ilmiah populer.
Kajian analisis mutu pendidikan.
Dokumentasi praktik baik.
Buku atau antologi pengalaman.
Tulisan singkat di media sosial.
Hambatan & Solusi
Hambatan utama WP dalam menulis adalah minimnya tradisi, rendahnya kepercayaan diri, keterbatasan waktu, dan kurangnya media publikasi. Solusi yang ditawarkan antara lain:
Pelatihan menulis dan pendampingan.
Media publikasi internal Kemendikdasmen, AWI, BBPMP/BPMP, dan BB/BPPMPV.
Lomba dan tantangan menulis.
Pemanfaatan teknologi digital dan Artificial Intelligence (AI) sebagai asisten menulis.
Pesan Utama
Widyaprada yang menulis adalah Widyaprada produktif dan inspiratif. Tulisan mereka bukan hanya dokumentasi, tetapi juga pahlawan penggugah dan pencerah bagi dunia pendidikan.
Ajakan:
Mulailah menulis sekarang, tuliskan pengalaman nyata, dan jadikan tulisan sebagai napas profesionalisme kita. Karena laporan mungkin tersimpan di lemari arsip, tetapi tulisan akan hidup sepanjang zaman.
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” (Pramoedya Ananta Toer)
Pendahuluan
Ketika kita berbicara tentang peningkatan mutu pendidikan di Indonesia, maka ada satu jabatan fungsional yang relatif baru namun memiliki peran sangat strategis, yakni Widyaprada. Widyaprada (WP) adalah Aparatur Sipil Negara (ASN) di bawah naungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang diberi tugas khusus untuk melaksanakan kegiatan penjaminan mutu pendidikan.
Tugas mulia ini meliputi pemetaan mutu, pendampingan, pembimbingan, supervisi, hingga pengembangan model penjaminan mutu pendidikan. Artinya, Widyaprada berada di garda depan untuk memastikan bahwa Standar Nasional Pendidikan (SNP) dapat dicapai secara merata di setiap daerah dan satuan pendidikan.
Namun, sebuah pertanyaan penting muncul: Apakah cukup bagi Widyaprada hanya bekerja di lapangan tanpa menulis? Jawabannya tentu tidak. Justru menulis adalah salah satu bentuk kontribusi nyata yang membuat keberadaan Widyaprada semakin terasa manfaatnya. Lewat tulisan, pengalaman, analisis, dan hasil kerja Widyaprada dapat menjangkau lebih luas, memberi inspirasi, dan menjadi rujukan bagi banyak pihak.
Pengertian dan Tugas Pokok Jabatan Fungsional Widyaprada
Pada pasal 1 ayat (2) Permendikbud Nomor 37 Tahun 2020 disebukan bahwa Jabatan Fungsional Widyaprada adalah jabatan yang mempunyai ruang lingkup tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak untuk melaksanakan penjaminan mutu pendidikan. Kemudian pada ayat (3) disebutkan bahwa Pejabat Fungsional Widyaprada yang selanjutnya disebut Widyaprada adalah PNS yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak untuk melaksanakan kegiatan pemetaan mutu pendidikan, pendampingan satuan pendidikan, pembimbingan satuan pendidikan, supervisi pendidikan, dan/atau pengembangan model penjaminan mutu pendidikan.
Secara garis besar, tugas pokok Widyaprada meliputi:
Pemetaan Mutu Pendidikan – melakukan analisis untuk mengetahui sejauh mana ketercapaian SNP di daerah maupun satuan pendidikan.
Pendampingan Satuan Pendidikan – memberikan dukungan agar sekolah mampu meningkatkan kualitasnya.
Pembimbingan Satuan Pendidikan – membantu sekolah secara lebih intensif dalam menghadapi kendala peningkatan mutu.
Supervisi Pendidikan – mengawasi, mengevaluasi, serta memberikan masukan agar standar mutu terpenuhi.
Pengembangan Model Penjaminan Mutu – menemukan strategi baru yang relevan dengan dinamika dunia pendidikan.
Semua tugas tersebut menghasilkan data, pengalaman, serta rekomendasi yang sangat kaya. Sayangnya, jika hanya berhenti di laporan administratif, maka pengetahuan berharga itu tidak akan tersebar luas. Di sinilah menulis memainkan peran penting: mengubah data menjadi informasi, informasi menjadi pengetahuan, dan pengetahuan menjadi inspirasi.
Menulis sebagai Bagian dari Kinerja Widyaprada
Seorang Widyaprada sesungguhnya memiliki “tambang emas” berupa pengalaman lapangan. Setiap kali melakukan pemetaan mutu, pendampingan, atau supervisi, selalu ada temuan baru yang bisa menjadi bahan tulisan. Misalnya:
Hasil analisis rapor pendidikan di sebuah daerah yang menunjukkan tren literasi dan numerasi menurun.
Praktik baik (best practice) sebuah sekolah yang berhasil meningkatkan mutu melalui inovasi sederhana.
Catatan advokasi ke pemerintah daerah tentang pentingnya perencanaan berbasis data.
Semua itu dapat dituangkan ke dalam bentuk tulisan, baik berupa artikel populer, laporan analitis, hingga buku. Dengan menulis, Widyaprada bisa menghadirkan rekomendasi nyata yang bermanfaat bagi:
Pemerintah pusat, sebagai bahan kebijakan nasional.
Pemerintah daerah, sebagai dasar perencanaan dan pengambilan keputusan.
Satuan pendidikan, sebagai inspirasi dan panduan praktis.
Tanpa menulis, hasil kerja Widyaprada hanya akan “terkubur” dalam tumpukan laporan. Dengan menulis, hasil kerja itu bisa hidup, menyebar, dan menggerakkan perubahan.
Bentuk Tulisan yang Bisa Dihasilkan oleh Widyaprada
Ada banyak ragam tulisan yang bisa dihasilkan oleh seorang Widyaprada:
Artikel Ilmiah Populer – mudah dipahami masyarakat luas, dapat dipublikasikan di media massa atau blog pribadi.
Praktik Baik Pendampingan – cerita inspiratif tentang keberhasilan sekolah dalam meningkatkan mutu.
Kajian Analitis – tulisan yang membahas tren mutu pendidikan berdasarkan data rapor pendidikan.
Buku Antologi – kumpulan pengalaman Widyaprada dalam mendampingi satuan pendidikan.
Tulisan di Media Sosial – refleksi singkat yang bisa menjangkau audiens lebih luas dan cepat.
Artikel Jurnal atau Majalah Pendidikan – karya akademik yang memperkuat reputasi profesional.
Setiap bentuk tulisan memiliki kekuatan masing-masing. Bahkan tulisan sederhana di media sosial bisa menjadi pemantik diskusi dan inspirasi banyak orang.
Menulis untuk Peningkatan Profesi dan Pengembangan Diri
Mengapa menulis penting bagi Widyaprada?
Pengembangan profesi. Tulisan menjadi bukti kinerja intelektual, memperlihatkan kemampuan berpikir sistematis dan kritis.
Refleksi diri. Menulis membantu WP menilai kembali apa yang telah dilakukan di lapangan.
Kepercayaan diri. Tulisan yang dipublikasikan memberi pengakuan sosial dan profesional.
Jejaring profesional. Menulis membuka peluang kolaborasi dan diskusi lintas profesi.
Hambatan Menulis di Kalangan Widyaprada
Sayangnya, tidak semua Widyaprada terbiasa menulis. Hambatan yang sering muncul:
Belum menjadi tradisi. Menulis hanya dianggap kewajiban administratif.
Rendahnya minat dan kepercayaan diri. Banyak yang merasa tidak berbakat.
Keterbatasan waktu. Beban kerja padat sering dijadikan alasan.
Minimnya fasilitas publikasi. Tidak semua lembaga menyediakan wadah bagi WP untuk mempublikasikan tulisan.
Strategi dan Solusi Agar Widyaprada Mau Menulis
Bagaimana cara menjadikan menulis sebagai budaya Widyaprada?
Dorongan dan “paksaan positif” – misalnya target menulis rutin setiap bulan.
Pelatihan menulis berkelanjutan. Kegiatan ini bisa difasilitasi oleh Kemendikdasmen, Asosiasi Widyaprada Indonesia (AWI), Balai Besar/Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BB/BBPMP), atau Balai Besar/Balai Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BB/BPPMPV).
Peran Kemendikdasmen, AWI, BB/BPMP, BB/BPPMPV. Menjadi fasilitator sekaligus penyedia media publikasi.
Media publikasi internal. Buletin, majalah, jurnal, laman web lembaga.
Tantangan/lomba menulis. Membuat menulis jadi kompetisi sehat.
Sarasehan praktik baik. Forum untuk mempresentasikan karya tulis WP.
Pemanfaatan teknologi digital. Blog, media sosial, dan kini juga Artificial Intelligence (AI).
AI sebagai Sahabat Menulis Widyaprada
Selain membaca artikel atau buku tentang tip dan trik menulis, atau mengikuti pelatihan konvensional, Widyaprada juga bisa memanfaatkan kecerdasan artifisial (AI). AI dapat membantu:
Membuat kerangka tulisan.
Memberi saran pengembangan ide.
Menyusun data atau tabel agar lebih komunikatif.
Mempercepat penyusunan draft, yang kemudian bisa diperbaiki dengan gaya pribadi.
AI bukan pengganti kreativitas, melainkan asisten untuk memperlancar proses menulis. Dengan begitu, hambatan teknis maupun keterbatasan waktu bisa diatasi.
Data dan Inspirasi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat literasi menulis ASN di Indonesia masih rendah. Banyak ASN hanya terbiasa menulis laporan teknis.
Menurut BKN (2024), ada ±4,7 juta ASN di Indonesia, dan 74% berpendidikan S1 atau lebih tinggi. Potensi intelektual besar ini belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk menulis.
Riset literasi digital ASN Sumedang (2022) menunjukkan adanya gap dalam kemampuan publikasi dan pemanfaatan platform digital untuk menulis.
Beberapa daerah sudah mulai berinisiatif, misalnya Kabupaten Banggai Kepulauan dengan program ASN Menulis.
Kementerian PANRB juga menegaskan:
“Kemampuan menulis menjadi warisan berharga bagi birokrat muda. Jadi penting bagi kita semua untuk belajar menulis, sehingga pengetahuan-pengetahuan yang kita miliki bisa dituliskan dalam bentuk yang tampak.” – Teguh Widjinarko, Plt. Deputi SDM Aparatur (sumber: https://www.menpan.go.id/, 20 April 2020).
Pengalaman pribadi saya: menulis lebih dari 1.100 artikel dan 57 buku. Menulis bukan sekadar melahirkan karya, tetapi juga melatih disiplin, konsistensi, dan dedikasi.
Penegasan: Widyaprada Penulis = Widyaprada Produktif dan Inspiratif
Widyaprada yang menulis adalah Widyaprada produktif dan inspiratif.
Produktif karena menambah khasanah pengetahuan.
Inspiratif karena mampu menggugah dan mencerahkan banyak pihak.
Tulisan WP adalah warisan pengetahuan sekaligus bukti dedikasi terhadap penjaminan mutu pendidikan. WP penulis sejatinya adalah pahlawan penggugah dan pencerah.
Penutup: Ajakan dan Semangat untuk Menulis
Menulis adalah keterampilan sekaligus panggilan. Bagi Widyaprada, menulis berarti mengabadikan kerja nyata, menyebarkan inspirasi, dan memperkuat kontribusi terhadap penjaminan mutu pendidikan.
Maka saya mengajak seluruh Widyaprada di Indonesia: mulailah menulis sekarang juga. Tidak perlu menunggu sempurna. Tulis apa adanya, tulis dari pengalaman nyata, tulis dari hati. Ingatlah, laporan akan tersimpan di lemari arsip, tetapi tulisan akan hidup sepanjang zaman. Menulis bukan soal bakat, melainkan keterampilan yang bisa dilatih.
Mari kita jadikan menulis sebagai napas profesionalisme kita. Karena Widyaprada penulis adalah Widyaprada produktif, Widyaprada inspiratif, pahlawan penggugah dan pencerah penjaminan mutu pendidikan. (IA)
Ciamis – Ciamis Smart Challenge (CSC) merupakan sebuah Lomba Cerdas Cermat untuk siswa jenjang SMP se-Kabupaten Ciamis yang merupakan inisiatif Komunitas Belajar Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Mata Pelajaran Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, Matematika, Pendidikan Kewarganegaraan, Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan dan Bahasa Inggris jenjang SMP se-kabupaten Ciamis.
Diikuti oleh 106 SMP Negeri dan Swasta se-Kabupaten Ciamis, kegiatan Lomba Cerdas Cermat CSC ini dikemas secara kreatif, inovatif dan kolaboratif oleh Komunitas Belajar MGMP Mata Pelajaran di Kabupaten Ciamis ini bertujuan untuk: meningkatkan pengetahuan, kemampuan berpikir kritis, dan semangat berkompetisi siswa, menambah pengetahuan siswa di bidang IT, menggali pengetahuan siswa mengenai perkembangan ilmu dan teknologi, mempersiapkan siswa dalam menghadapi dan menguasai kemajuan teknologi yang sekarang dan yang akan datang, meningkatkan kegemaran membaca dan literasi siswa serta kecintaan terhadap karya budaya bangsa melalui budaya kompetisi edukatif, mengangkat dan mempopulerkan “Ciamis Smart Challenge (CSC)” Kabupaten Ciamis sebagai warisan budaya untuk generasi muda; dan menumbuhkembangkan kecintaan siswa terhadap karya budaya dan kearifan lokal Kabupaten Ciamis.
Bertempat di di Gedung Islamic Center Ciamis, Jl. Mr. Iwa Kusuma Sumantri, Kertasari, Kec. Ciamis, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat 46213, dilaksanakan Babak Semifinal dan Final dan dihadiri oleh Bupati Ciamis, Dr. H. Herdiat Sunarya, yang memberikan arahan dan motivasi untuk para siswa peserta LCC CSC. Dalam sambutannya, Herdiat menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis dan semua pihak yang terlibat dalam kegiatan CSC ini. Selanjutnya Herdiat menghimbau agar kegiatan seperti ini harus menjadi tradisi tahunan, jangan hanya sekali lalu berhenti, “Jangan ‘obor karari’, sekarang semangat, tahun depan hilang. Harus berkesinambungan,” tegas Herdiat.
Pada kesempatan yang sama, Herdiat juga menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para tamu undangan yang telah menghadiri kegiatan LCC CSC, antara lain, perwakilan Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Provinsi Jawa Barat, Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Barat, dan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah XIII.
Foto Bersama Undangan kegiatan Lomba Cerdas Cermat CSC
Dikomandoi oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis, Dr. Erwan Darmawan, S.STP, M.Si. dan didukung oleh Penerbit Erlangga, Bank Jabar Banten (BJB), Bank Galuh, dan Penerbit Yudistira kegiatan yang mengusung Kemitraan Pendidikan antara orangtua siswa, sekolah dan masyarakat/Mitra Pembangunan ini dapat terselenggara dengan sukses dan diikuti oleh seluruh peserta secara bersungguh-sungguh, penuh semangat dan antusiasme yang sangat tinggi.
Sebuah gagasan yang cerdas, kreatif dan inovatif, LCC CSC ini mengusung Bahasa Inggris sebagai Bahasa yang digunakan oleh para Juri ketika melemparkan pertanyaan dan dijawab oleh peserta lomba juga dalam Bahasa Inggris. Dalam hal ini, peserta, selain diuji kemampuan dalam menjawab berbagai pertanyaan yang terkait dengan mata Pelajaran-mata Pelajaran yang diujikan, juga ditantang untuk memahami pertanyan-pertanyaan yang disampaikan dalam Bahasa Inggris dan juga dituntut untuk memiliki kemampuan untuk menyampaikan jawaban dalam Bahasa Inggris. Hal ini sejalan dengan prinsip Conquer the world by mastering its language.
Keluar sebagai pemenang lomba ditetapkan 18 (delapan belas) sekolah yang mendapatkan skor tertinggi untuk seluruh materi pertanyaan yang mencakup mata Pelajaran Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, Matematika, Pendidikan Kewarganegaraan, Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan dan Wawasan Kegaluhan (Ciamis), yaitu:
Pemenang LCC CSC Tahun 2025 berfoto Bersama Kepala Dinas Pendidikan
Lomba Cerdas Cermat Ciamis Smart Challenge (LCC CSC) Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kabupate Ciamis merupakan sebuah Langkah nyata dan terobosan (breakthrough) untuk mendorong peningkatan kompetensi siswa jenjang SMP dalam berkomunikasi dalam Bahasa Inggris dan sebagai salah satu bentuk pembinaan untuk mewujudkan 8 (Delapan) Dimensi Profil Lulusan (DPL), yaitu: Beriman dan Bertakwa kepada Tuhan YME: Menghormati sesama dan selalu bersyukur, kemandirian, berani mencoba, bertanggung jawab, dan tidak mudah menyerah, kewargaan: bangga sebagai anak Indonesia dan peduli dengan lingkungan sekitar, kesehatan, menjaga kebersihan diri, makan sehat, dan rajin berolahraga, penalaran kritis, mampu berpikir logis dan menemukan solusi saat menghadapi tantangan, kreativitas, selalu punya ide baru dan senang mencoba hal-hal baru, kolaborasi, mampu bekerja sama dengan teman dan membangun kebersamaan, dan komunikasi: Berani berbicara dan menyampaikan pendapat dengan sopan.
Menyoroti peran penting pemerintah daerah dalam penguatan pendidikan karakter di daerah sesuai kebijakan nasional, LCC CSC diharapkan dapat memperkuat peran strategis Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis melalui Dinas Pendidikan dan sebagai salah satu upaya peningkatkan sinergi antara Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis, sekolah, Dinas Pendidikan, orangtua siswa dan Mitra Pembangunan Pendidikan (Bank BJB, Bank Galuh, Penerbit Erlangga dan Yudistira) dalam menciptakan ekosistem pembinaan karakter yang berkelanjutan untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Semoga kegiatan ini juga dapat menjadi sebuah inspirasi praktik baik dalam pengembangan program-program Pendidikan di Kabupaten Ciamis untuk mewujudkan visi “Sinergi Mewujudkan Ciamis Maju dan Berkelanjutan.”
Kontributor Naskah:
Ida Siti Hodijah (Widyaprada Ahli Madya BBPMP Provinsi Jawa Barat
Risnandar (Ketua MGMP Bahasa Inggris Kabupaten Ciamis)
Tangerang, 6 September 2025 – Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Barat bersama BBPMP Sulawesi Selatan, BPMP Sumatera Utara, dan BBPMP Sumatera Barat menghadiri kegiatan Koordinasi Piloting Pengembangan Berpikir Komputasional (PBK) dan Pemanfaatan Kecerdasan Artifisial (KA) di Satuan PAUD. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pada 4–6 September 2025 di Hotel Mercure Serpong Alam Sutera, Tangerang.
Koordinasi dibuka oleh Direktur PAUD, Dr. Nia Nurhasanah, S.Si., M.Pd., dan dihadiri berbagai pemangku kepentingan, termasuk Kepala BBPMP Jawa Barat, Komalasari, S.Pd., M.Pd., Kepala BBPMP Sulawesi Selatan, BPMP Sumatera Utara, serta BBPMP Sumatera Barat. Turut hadir Widyaprada Ahli Utama/Ketua Tim Kerja Pembelajaran dan Penilaian, Tim Penulis Pengembangan PBK dan KA di jenjang PAUD, serta Dr. Muhammad Muchlas Rowi, S.F., S.H., M.M., Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Transformasi Digital dan Kecerdasan Buatan, yang memaparkan mengenai sekolah model Koding-KA.
Menyiapkan Anak dengan Keterampilan Abad 21
Di era digital, anak-anak perlu dibekali keterampilan abad 21, seperti berpikir komputasional, literasi digital, dan pemahaman data. Tujuan pengembangan ini tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk karakter, kreativitas, empati, serta kesiapan menghadapi tantangan global. PBK dan KA mendorong strategi pembelajaran yang menempatkan anak sebagai pusat proses belajar, dengan suasana yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful). Pengembangan berpikir komputasional pada anak usia dini dapat dilakukan melalui dua pendekatan:
Plugged – menggunakan perangkat digital seperti komputer atau tablet.
Unplugged – tanpa perangkat digital, misalnya melalui permainan, puzzle, kegiatan seni, dan aktivitas kreatif lainnya.
Peran Kecerdasan Artifisial di PAUD
Kecerdasan Artifisial (KA) berperan penting dalam mendukung pembelajaran di PAUD. Guru dapat memanfaatkannya untuk mengembangkan kurikulum yang lebih relevan dan kontekstual, sekaligus meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan inovatif pada anak.
Penggunaan KA juga semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari melalui aplikasi populer seperti Google, TikTok, Instagram, Canva, hingga ChatGPT. Kehadiran teknologi ini membuat KA semakin mudah diakses oleh siapa pun tanpa harus menjadi ahli teknologi. Bahkan, sistem berbasis KA dapat membantu guru mendeteksi lebih dini keterlambatan perkembangan atau kesulitan belajar anak dengan menganalisis pola perilaku dan performa mereka secara berkelanjutan.
Menuju Generasi Emas Indonesia
Melalui pengembangan PBK dan pemanfaatan KA, anak-anak diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang logis, kreatif, mampu bekerja sama, dan berkomunikasi dengan baik. Upaya ini menjadi langkah nyata dalam menyiapkan Generasi Emas Indonesia 2045 yang adaptif, inovatif, dan siap menghadapi perkembangan zaman. (TR)