CEGAH BULLYING, WUJUDKAN STUDENT WELLBEING

CEGAH BULLYING, WUJUDKAN STUDENT WELLBEING

Sumber: id.pinterest.com

Di sini teman di sana teman, di mana-mana kita berteman
Tak ada musuh tak ada lawan, semuanya saling menyayangi
Tidak ejek-ejekan, Tidak pukul-pukulan
Saling tolong dan sayang dengan teman

Lirik lagu di atas adalah salah satu bentuk kampanye antiperundungan (bullying)   yang cukup banyak beredar di media sosial. Kampanye perundungan memang perlu dilakukan melalui berbagai macam strategi, cara, dan media sesuai dengan karakter dan jenjang sasarannya supaya mudah dipahami dan efektif mencapai tujuan. Keterlibatan berbagai pihak juga diperlukan dalam kampanye antiperundungan. Di mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Kasus bullying dan kekerasan cenderung meningkat di lembaga pendidikan. Bahkan kondisinya semakin mengkhawatirkan. Perundungan dan kekerasan bukan lagi dalam dilakukan dalam bentuk pelanggaran ringan, tetapi sudah menjurus kepada tindakan pidana serius, menyebabkan luka serius, cacat permanen, trauma berat, sampai kematian.

Hal ini bukan hanya terjadi di lembaga pendidikan formal, tetapi juga di lembaga pendidikan nonformal seperti pesantren. Pelaku dan korban bisa melibatkan peserta didik, guru, dan/atau orang tua. Pada beberapa kasus, pelaku bullying pernah juga atau mengalami menjadi korban bullying, sehingga tindakan yang dilakukannya bisa menjadi sebuah tindakan ”balas dendam” atas peristiwa yang pernah dialaminya di masa lalu.

Bullying di sekolah bentuknya bisa verbal, tulisan, simbol, sikap, dan perilaku yang pada intinya meredahkan harkat dan martabat manusia. Hinaan, cacian, makian, mempermalukan di depan umum, ancaman, teror, kekerasan fisik, atau kekerasan seksual kepada korban secara berulang-ulang yang menyebabkan luka fisik, luka batin, stres, depresi, rasa rendah diri, dan terganggunya kesehatan mental jenis lainnya. Korban bullying biasanya pihak yang lemah, tidak suka bergaul, penyendiri, memiliki kekurangan secara fisik/ mental, atau memiliki keunggulan/prestasi tetapi ada pihak yang iri, tidak mau tersaingi sengaja melemahkan mentalnya.

Kasus bullying menjadi tantangan dan ”horor” di sekolah karena bisa terjadi kapan saja. Anak-anak kita bisa saja menjadi pelaku atau korban bullying. Di sekolah-sekolah yang tampak adem-adem saja tidak menjamin bebas dari kasus bullying, karena kadang kasus bullying ditutup-tutupi atas nama menjaga nama baik sekolah. Korban bullying juga takut melapor karena tidak ada jaminan keselamatan baginya. Kalau ketahuan melapor, justru akan mendapat tindakan kekerasan yang berat lagi dari pelaku.  

Jangankan di sekolah yang biasa-basa saja, di level sekolah internasional pun yang dianggap sudah memiliki sistem yang sangat baik, standar operasional yang sangat jelas, kurikulum yang berpihak pada peserta didik, dan tingkat pengawasan yang ketat, kasus bullying tetap terjadi. Dengan demikian, kasus bullying tidak melihat kepada kondisi dan sistem sekolahnya saja, tetapi melihat kepada sejauh mana semua warga sekolah (pendidik, tenaga kependidikan, dan orang tua/komite sekolah) memiliki kesadaran, semangat, dan komitmen untuk mencegah terjadinya bullying. Secara regulasi, saat ini pun sudah ada Permendikbudristek 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan. Tinggal bagaimana regulasi tersebut dilaksanakan secara serius oleh pemerintah daerah dan oleh satuan pendidikan.

Sekolah yang aman, nyaman, sehat, menghargai perbedaan, pembelajaran yang berpihak pada murid, dan bebas dari perundungan menjadi sekolah yang dicita-citakan. Sekolah dengan kondisi seperti itu tentunya akan membangun iklim kondusif dalam pembelajaran. Peserta didik merasa aman, nyaman, dan terlindungi. Kegiatan belajar akan berjalan dengan baik dan menyenangkan. Hal ini pun bisa berdampak terhadap meningkatnya semangat dan motivasi belajar yang bermuara kepada meningkatnya prestasi peserta didik. Dengan kata lain, sekolah yang aman dan nyaman akan berdampak positif terhadap terwujudnya kesejahteraan peserta didik (student wellbeing).

Student wellbeing adalah kondisi peserta didik merasa senang, bahagia, aman, nyaman, dan diakui menjadi bagian dari keluarga di sekolah. Kesejahteraan mencakup dua aspek, yaitu aspek jasmani dan rohani. Aspek jasmani, misalnya kesehatan dan pertumbuhan fisik peserta didik. Sedangkan aspek rohani meliputi kesehatan emosional dan sosial. Ciri-ciri peserta didik yang memiliki student wellbeing antara lain; 1) sehat secara fisik dan mental, 2) merasa aman dan nyaman di lingkungan sekolah, 3) terlibat aktif dalam kegiatan sekolah (intrakurikuler, ekstrakurikuler) dan kegiatan sosial, 4) memiliki hubungan positif dengan orang lain, 5) memiliki motivasi belajar yang tinggi, dan 6) dapat mengatasi stres dan tantangan.

Bullying di sekolah membuat peserta didik yang menjadi korban tidak betah di sekolah, tidak mau (takut) bersekolah, bahkan minta pindah sekolah. Kadang korban tidak mau bicara jujur terhadap guru dan orang tuanya terkait dengan penyebab ketidakbetahannya di sekolah karena takut terhadap keselamatan dirinya. Bullying juga bukan hanya terjadi  di lingkungan sekolah, tetapi terjadi di luar sekolah, saat peserta didik sudah pulang sekolah sehingga luput dari pengawasan sekolah. Hal ini yang cukup menyulitkan sekolah. Kadang setelah video bullying viral, baru pihak sekolah pun mengetahui dan menindaklanjutinya.

Walau mungkin seorang anak tidak secara terbuka tidak terbuka menjadi korban bullying, tetapi baik orang tua maupun sekolah dapat memperhatikan sikap, ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan gerak-geriknya. Oleh karena itu, baik orang tua maupun guru harus peka jika menemukan kondisi anak seperti itu, dan segera menelusuri informasinya dengan jelas agar segera dapat menentukan solusi jika ditemukan ada masalah.

Kampanye anti bullying bukan hanya perlu dilakukan oleh guru-guru di sekolah, tetapi juga perlu melibatkan peserta didik dan orang tua/ komite sekolah. Pelibatan peserta didik bisa dilakukan melalui kegiatan pembelajaran (intrakurikuler), kegiatan ekstrakurikuler, dan upacara bendera hari Senin. Sedangkan pelibatan orang tua/komite melalui kegiatan paguyuban orang tua/ parenting atau kegiatan lainnya.

Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dan peringatan hari besar nasional atau keagamaan bisa menjadi momentum kampanye anti bullying. Kegiatan bisa diselenggarakan dengan tema anti bullying. Bentuknya, misalnya lomba pidato, lomba menulis, lomba puisi, lomba karikatur, lomba konten, diskusi, dan sebagainya. Intinya, setiap momentum bisa dimanfaatkan kampanye anti bullying.

Kampanye anti bullying di sekolah perlu juga diimbangi dengan peran dan pemangku kebijakan lainnya. Penyebab tindakan kekerasan dan bullying bukan hanya dari internal pelaku, tetapi juga kondisi lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, dan media. Ajakan untuk sensor mandiri (self sensor) terhadap setiap konten yang beredar di media sosial mungkin tujuannya baik. Walau demikian, hal tersebut belum tentu efektif mengingat masih rendahnya literasi media sebagian masyarakat kita, termasuk para pelajar. Oleh karena itu, disamping penguatan literasi warga, juga perlu diperketat konten-konten yang boleh dishare di media sosial agar tidak berdampak buruk terhadap masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja. Mari bersama cegah bullying untuk mewujudkan student wellbeing.

Penulis: Idris Apandi

STRATEGI MENINGKATKAN KEMAMPUAN NUMERASI INSPIRASI DARI SDN 1 CILANDAK KAB. PURWAKARTA

STRATEGI MENINGKATKAN KEMAMPUAN NUMERASI INSPIRASI DARI SDN 1 CILANDAK KAB. PURWAKARTA

SDN 1 Cilandak Kec. Cibatu Kab. Purwakarta dalam kegiatan mengamati dan merawat tanaman padi sebagai bagian dari penguatan numerasi dalam pembelajaran. (Doc. Budi, 2024).

Salah satu tantangan sekolah saat ini adalah meningkatkan mutu pembelajaran. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa mutu literasi dan numerasi di satuan pendidikan masih rendah. Pada rapor pendidikan di setiap satuan pendidikan pun tercantum capaian aspek literasi dan numerasi. Hal inilah yang menjadi dasar bagi sekolah untuk meningkatkan mutu literasi dan numerasi melalui penguatan pembelajaran dan kegiatan lainnya.

Begitu pun yang dilakukan di SDN 1 Cilandak Kecamatan Cibatu Kab. Purwakarta. Walaupun capaian literasi dan numerasi di sekolah ini sudah kategori baik, tapi bukan berarti kepala sekolah dan guru-gurunya berpuas hati. Sekolah tetap berupaya untuk lebih meningkatkannya lagi. Pada rapor pendidikan tahun 2024 kemampuan literasi peserta didik sebesar 93,33. Naik sebesar 23,33% dari tahun 2023 dengan capaian 70. Capaian aspek numerasi sebesar 73,33. Naik sebesar 23,33% dari tahun 2023 dengan capaian 50. Walau capaian literasi dan numerasi di sekolah ini sama-sama meningkat, tetapi aspek numerasi perlu lebih mendapatkan prioritas untuk ditingkatkan lagi karena capaiannya baru sebesar 73,77, sedangkan aspek literasi sudah mencapai 93,33.

Berdasarkan hal tersebut, maka guru-guru SDN 1 Cilandak  melakukan upaya untuk meningkatkan mutu numerasi. Salah satunya melalui proyek menanam padi pada bekas galon air di kelas V. Apakah ada kaitan antara proyek tersebut dengan peningkatan numerasi peserta didik? Tentu saja ada dan sangat relevan. Proyek ini dilakukan mulai tanggal 2 September 2024. Anissa Rahmawati, guru kelas V SDN 1 Cilandak mengatakan bahwa proyek ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan numerasi peserta didik. Selain itu, kemampuan berpikir kritis (critical thinking) peserta didik diasah melalui kegiatan tersebut. Proyek pembelajaran menanam padi pun sejalan dengan kebijakan Tatanén di balé atikan yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Purwakarta dan menjadi salah satu tema Proyek Penguatan Profil Pencasila (P5).

Pada proyek tersebut, setiap peserta didik memiliki 1 wadah yang ditanami padi. Dengan dibantu oleh penjaga sekolah dan guru, pada peserta didik menyiapkan galon, media tanam, dan bibit padi. Dari tahap persiapan saja, kemampuan numerasi peserta didik sudah ditingkatkatkan. Minimal pada tahap mengetahui. Misalnya 1 orang peserta didik masing-masing memiliki 1 buah galon bekas air mineral, lalu menentukan berapa butir bibit padi yang akan ditanam, berapa takaran tanah/ media tanam yang diperlukan, dan berapa kali tanaman harus disiram dalam 1 hari.

Dalam prosesnya, peserta didik setiap hari memantau perkembangan dan mengukur tinggi padi, kemudian mencatatnya pada buku jurnal yang disiapkan oleh guru. Pertumbuhan setiap padi bisa saja berbeda-beda. Hal ini pun bisa menjadi sarana untuk membangun kemampuan berpikir kritis dan analitis peserta didik. Mereka bisa mengamati, bertanya kepada guru, dan berdiskusi dengan teman-temannya.

Beberapa orang peserta didik kelas V, yaitu Achmad Fauzan Abiyyu, Aufa Rijal Rais, Mayla Rahayu Faranisa, dan Ranisya Aulia Putri mengamati wadah padinya masing-masing. Mereka mengukur tinggi tanaman padi. Tingginya pun bervariasi. Per Kamis, 19 September 2024, tingginya ada yang 19 cm dan ada pula yang 17 cm. Pertanyaan yang bisa dimunculkan misalnya mengapa tingginya berbeda? Apa penyebabnya? Apa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan padi? Bagaimana cara untuk memacu pertumbuhan padi? Dan sebagainya.

Melalui tanya jawab antara guru dan murid, sebenarnya bukan hanya aspek numerasi saja yang ditingkatkan, aspek literasi pun ikut ditingkatkan, karena antara literasi (membaca) dan numerasi (angka) ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Literasi dan numerasi adalah  kemelekkan dasar yang harus dimiliki oleh manusia. Dua-duanya saling melengkapi. Melalui kegiatan menanam padi, guru dapat menguatkan literasi pertanian, literasi gizi, dan literasi lingkungan kepada peserta didik.

Numerasi adalah kemampuan seseorang untuk mengetahui, memahami, dan menganalisis data-data atau angka-angka sebagai dasar untuk mengambil keputusan.  Numerasi bukan matematika, tetapi matematika mendukung kemampuan numerasi. Kemampuan numerasi yang baik akan melahirkan seseorang yang cermat, penuh perhitungan, dan bijak dalam mengambil keputusan.

Kemampuan  numerasi akan berkembang melalui praktik dan latihan menjawab soal-soal, studi kasus, atau pembelajaran berbasis masalah. Bukan hanya MIPA, tetapi semua mata pelajaran bisa dijadikan sarana untuk menguatkan kemampuan numerasi, karena numerasi tidak lepas dari kehidupan sehar-hari. Praktik menguatkan numerasi dengan menggunakan bilangan, aljabar, geometri, dan data dan ketidakpastian akan semakin meningkatkan pengetahuan, pemahaman, penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Penguatan numerasi peserta didik di kelas bukan hanya sebatas mengenalkan angka-angka, tetapi juga harus mampu menerapkan dan menalarnya. Misalnya, jika mengacu kepada contoh proyek menanam padi di atas, selain mengukur dan mencatat pertumbuhan tanaman padi, juga diarahkan untuk menganalisis pertumbuhannya dari mulai menanam hingga panen. Mereka pun harus mampu merawatnya dengan baik. Dengan demikian, selain menguatkan literasi dan numerasi, guru juga menumbuhkan jiwa peneliti kepada peserta didik. Karakteristik seorang peneliti antara lain memiliki rasa ingin tahu, berpikir kritis, tidak cepat puas, dan kemampuan menyelesaikan masalah.

Dalam konteks pendidikan karakter, proyek menanam padi di SDN 1 Cilandak dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kartakter tanggung jawab, kerjasama, teliti, ulet, sungguh-sungguh, cinta dan peduli lingkungan, kreativitas, dan sebagainya. Peserta didik pun mendapatkan pendidikan vokasi atau pendidikan kecakapan hidup (life skill). Mereka diajari untuk bercocok tanam dan bertani. Hal yang justru saat ini sudah kurang diminati oleh generasi Z.Intinya, dari satu program, jika dikelola dengan baik, manfaatnya akan dirasakan dari berbagai sisi.

Peserta didik pun merasa senang dengan pembelajaran proyek yang dilakukan di SDN 1 Cilandak, karena memberikan pengalaman langsung kepada mereka. Kemampuan bercocok tanam atau bertani yang didapatkan bukan berarti mendorong mereka semuanya untuk menjadi petani, tetapi setidaknya punya pengetahuan dan kemampuan dasar dalam bercocok tanam. Jika pun ada diantara mereka yang menjadi petani atau sarjana pertanian, maka pengalaman bercocok tanam di sekolah akan menjadi bekal dan pengalaman berharga bagi mereka.

Dalam pembelajaran yang efektif, terdapat guru yang kreatif. Hal itulah yang ditunjukkan oleh guru-guru SDN 1 Cilandak dalam meningkatkan kemampuan numerasi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam menyukseskan implementas kurikulum merdeka. Saat ini, proyek peningkatan kemampuan numerasi peserta masih terus dilakukan melalui proyek menanam padi. Prosesnya harus terus dipantau disertai dengan bimbingan dari guru. Semoga suatu saat hasilnya dapat digapai dengan riang gembira sambil merayakan panen padi dari hasil positif perjuangan mereka bercocok tanam.

Penulis: Idris Apandi

Kisah Sukses Pembelajaran Berdiferensiasi di SMAN 1 Jatiluhur

Kisah Sukses Pembelajaran Berdiferensiasi di SMAN 1 Jatiluhur

Peserta didik di SMAN 1 Jatiluhur Purwakarta sedang terlibat aktivitas pembelajaran berdiferensiasi

Purwakarta – Dalam era Kurikulum Merdeka, pembelajaran berdiferensiasi telah menjadi pendekatan yang semakin populer di berbagai sekolah, termasuk sekolah penggerak. Konsep ini sejalan dengan pandangan Ki Hajar Dewantara yang meyakini pentingnya pendidikan yang berpusat pada peserta didik. Dengan memberikan fleksibilitas dalam proses pembelajaran, guru dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih personal bagi peserta didik. Mulai dari pemilihan materi, metode pengajaran, hingga penilaian, semuanya dapat disesuaikan dengan gaya belajar, minat, dan tingkat kemampuan peserta didik.

Meskipun demikian, tantangan seperti kurangnya sumber daya, waktu yang terbatas, dan kurangnya pelatihan guru masih sering ditemui. Oleh karena itu, diperlukan dukungan yang lebih besar dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, sekolah, dan komunitas, untuk memastikan keberhasilan penerapan pembelajaran berdiferensiasi.

Pembelajaran Berdiferensiasi di SMAN 1 Jatiluhur

SMAN 1 Jatiluhur Purwakarta pada tahun 2023 telah menorehkan sejumlah prestasi membanggakan di bawah kepemimpinan Tanty Erlianingsih. Sekolah Penggerak ini berhasil meraih penghargaan di bidang literasi, yakni “Parasamya Suratma Nugraha 2023“, serta ditetapkan sebagai Sekolah Berintegritas di Jawa Barat. Selain itu, pada tahun 2023 pula, sejumlah guru SMAN 1 Jatiluhur juga meraih penghargaan individu. Hal ini menunjukkan bahwa sekolah tidak hanya fokus pada prestasi lembaga, tetapi juga memberikan perhatian yang besar pada pengembangan profesionalisme guru, sehingga berdampak pada kemampuan para gurunya dalam mengelola pembelajaran berdiferensiasi.

Untuk mewujudkan pembelajaran berdiferensiasi yang berpusat pada peserta didik dan relevan dengan dunia kerja, SMAN 1 Jatiluhur telah menerapkan beberapa strategi inovatif. Pertama, sekolah melakukan asesmen awal untuk menggali visi dan minat masing-masing peserta didik. Melalui diskusi kelas dan wawancara individu, sekolah berusaha memahami aspirasi peserta didik di masa depan. Hasil asesmen ini kemudian digunakan sebagai dasar untuk merancang kurikulum yang fleksibel dan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan individu. Materi pelajaran yang dipilih pun relevan dengan minat peserta didik, serta dilengkapi dengan berbagai pilihan tugas dan proyek yang menantang dan menarik.

Kedua, sekolah mengintegrasikan keterampilan teknis ke dalam pembelajaran. Melalui kegiatan laboratorium, proyek, dan kunjungan industri, peserta didik tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memperoleh pengalaman praktis yang relevan dengan dunia kerja.

Ketiga, SMAN 1 Jatiluhur menerapkan model pembelajaran yang fleksibel dengan mengelompokkan peserta didik berdasarkan minat dan kemampuan. Setiap kelompok diberikan materi dan tugas yang berbeda-beda, sehingga peserta didik dapat belajar dengan lebih efektif dan sesuai dengan ritme masing-masing.

“Dengan memberikan perhatian yang lebih individual, saya bisa memastikan bahwa setiap peserta didik merasa tertantang dan termotivasi untuk belajar. Misalnya, bagi peserta didik yang kesulitan dengan konsep gaya, saya akan memberikan contoh-contoh konkret dari kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, bagi peserta didik yang sudah menguasai materi, saya akan mengajak mereka untuk melakukan penelitian kecil-kecilan,”ungkap Agung seorang guru fisika SMAN 1 Jatiluhur Purwakarta.

Kunci Sukses Pembelajaran Berdiferensiasi di SMAN 1 Jatiluhur

“Kami tidak hanya ingin peserta didik kami menguasai teori, tetapi juga siap untuk menghadapi dunia kerja yang dinamis. Oleh karena itu, kami mengintegrasikan pembelajaran teori dan praktik melalui berbagai proyek yang relevan. Ini adalah salah satu pilar utama dalam pembelajaran berdiferensiasi di sekolah kami,” ujar Tantry.

“Setiap peserta didik berhak mendapatkan pendidikan yang terbaik. Dengan menerapkan pembelajaran yang berdiferensiasi, kami memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar pada tingkat yang sesuai dengan kemampuan mereka dan mengeksplorasi minat mereka lebih dalam. Ini adalah langkah penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan efektif,” Tanty melanjutkan.

“Salah satu kunci keberhasilan pembelajaran berdiferensiasi di sekolah kami adalah pengelompokan peserta didik berdasarkan minat dan kemampuan,” jelas Agung. “Dengan cara ini, peserta didik bisa belajar bersama teman-teman yang memiliki minat yang sama dan mendapatkan tantangan yang sesuai dengan level kemampuannya. Ini membuat pembelajaran menjadi lebih efektif dan menyenangkan.”

“Dulu, saya sering kesulitan mengikuti pelajaran. Materinya terasa terlalu cepat dan saya sering ketinggalan. Tapi, sejak para guru menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, saya jadi lebih mudah paham. Saya diberikan tugas yang sesuai dengan kemampuan saya, jadi saya bisa belajar dengan santai dan tidak merasa terbebani.” ujar Andi, peserta didik SMAN 1 Jatiluhur Purwakarta.

“Dengan pembelajaran berdiferensiasi, saya jadi lebih percaya diri untuk bertanya kalau ada yang tidak saya mengerti. Pa Agung selalu sabar menjelaskan sampai saya paham”

Penulis; Agus Ramdani dan Bisma Adiyta
Editor: Gc

Peer to Peer: Inovasi Anti Bullying di SMAN 3 Sukabumi

Peer to Peer: Inovasi Anti Bullying di SMAN 3 Sukabumi

Sukabumi – Permasalahan bullying di kalangan remaja, khususnya di lingkungan sekolah, telah menjadi wabah yang serius dan mendesak untuk segera diatasi. SMAN 3 Sukabumi, seperti sekolah lainnya, tidak luput dari permasalahan ini. Fenomena bullying di sekolah ini seringkali dipicu oleh tradisi senioritas yang tidak sehat, di mana peserta didik kelas atas merasa berhak untuk mendominasi dan mengintimidasi adik kelas. Selain itu, faktor-faktor seperti dendam pribadi, keinginan untuk diakui dalam kelompok teman sebaya, dan pengaruh media sosial juga turut memperparah situasi.

Dampak dari bullying sangatlah luas dan merusak. Korban bullying seringkali mengalami trauma psikologis yang mendalam, kesulitan berkonsentrasi dalam belajar, hingga menarik diri dari lingkungan sosial. Bahkan, beberapa kasus ekstrem dapat berujung pada tindakan bunuh diri. Sementara itu, para pelaku bullying juga tidak luput dari dampak buruk, seperti kesulitan menjalin hubungan sosial dan berpotensi menjadi pelaku kekerasan di kemudian hari.

Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan upaya yang komprehensif dari seluruh pihak. Sekolah perlu mengadakan program-program pencegahan bullying yang melibatkan seluruh warga sekolah yang dikoordinir Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) SMAN 3 Sukabumi.

Program mediasi peer-to-peer

TPPK SMAN 3 Sukabumi telah berperan aktif dalam upaya pencegahan dan penanganan bullying di lingkungan sekolah. Tim ini telah menjalankan beberapa program strategis, di antaranya pengumpulan data dari berbagai sumber, termasuk peserta didik kelas bawah dan atas. Informasi yang diperoleh kemudian digunakan sebagai dasar untuk merancang program-program intervensi yang tepat.

Salah satu program unggulan tim TPPK SMAN 3 Sukabumi adalah program mediasi peer-to-peer, di mana peserta didik yang telah dilatih menjadi mediator membantu menyelesaikan konflik antar peserta didik.

Tahap awal melibatkan pengumpulan data yang komprehensif melalui berbagai sumber, termasuk wawancara dengan peserta didik kelas bawah dan atas. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara mendalam untuk mengidentifikasi akar permasalahan dan pola-pola bullying yang terjadi.

Setelah memahami situasi secara menyeluruh, TPPK melakukan mediasi antara peserta didik yang terlibat dalam kasus bullying. Proses mediasi ini bertujuan untuk menciptakan dialog yang terbuka dan jujur, sehingga semua pihak dapat memahami perspektif masing-masing dan mencari solusi bersama. Selain itu, TPPK juga melakukan sosialisasi secara intensif kepada seluruh warga sekolah mengenai bahaya bullying, bentuk-bentuk bullying, serta pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang inklusif dan bebas dari kekerasan

Peer-To-Peer Ubah Iklim Sekolah

Bullying adalah masalah serius yang harus ditangani secara serius pula. Dengan kerjasama antara TPPK, peserta didik, dan orang tua, diharapkan masalah bullying di SMAN 3 Sukabumi dapat teratasi secara efektif. Setiap individu memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan sekolah yang bebas dari kekerasan dan diskriminasi.

Berkat upaya yang dilakukan, telah terjadi perubahan yang signifikan di SMAN 3 Sukabumi. Peserta didik mulai memahami bahwa bullying adalah perilaku yang tidak dapat dibenarkan dan memiliki dampak buruk bagi semua pihak. Selain itu, terciptanya suasana sekolah yang lebih aman dan nyaman membuat peserta didik lebih fokus pada kegiatan belajar-mengajar

Program mediasi sebaya (peer-to-peer) yang digagas oleh PPK telah menjadi salah satu inovasi paling sukses dalam upaya mengatasi bullying di SMAN 3 Sukabumi. Dengan memberdayakan peserta didik sebagai mediator, program ini tidak hanya berhasil menurunkan angka bullying secara signifikan, tetapi juga menciptakan lingkungan sekolah yang lebih positif dan inklusif.

Salah satu peserta didik, bernama Agus, mengungkapkan, “Saya merasa bangga bisa membantu teman-teman saya menyelesaikan masalah. Program ini mengajarkan saya banyak hal tentang pentingnya komunikasi dan empati.” Melalui program ini, peserta didik tidak hanya belajar untuk menyelesaikan konflik, tetapi juga tumbuh menjadi individu yang lebih bertanggung jawab dan peduli terhadap sesama.

Penulis: Pipih Saripah dan Enden Nursaidah
Editor: Gc

Digitalisasi Sekolah: SMA Pesantren Terpadu Hayatan Thayyibah Luncurkan SIHAT

Digitalisasi Sekolah: SMA Pesantren Terpadu Hayatan Thayyibah Luncurkan SIHAT

Sehari-hari, siswa di SMA Hayatan Thayyibah terbiasa menggunakan aplikasi SIHAT

Sukabumi-SMA Pesantren Terpadu Hayatan Thayyibah, sebuah lembaga pendidikan yang berkomitmen pada inovasi dan kolaborasi, telah berhasil mengembangkan sebuah aplikasi digital bernama SIHAT (Sistem Informasi Hayatan Thayyibah). Aplikasi ini dirancang untuk mengatasi berbagai tantangan dalam pengelolaan pendidikan di era digital, khususnya dalam hal administrasi pembelajaran dan komunikasi antara sekolah, peserta didik, dan orang tua.

Terinspirasi oleh semangat untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses pembelajaran, tim pengembang SIHAT yang terdiri dari wakil kepala sekolah dan guru IT, berkolaborasi untuk menciptakan solusi digital yang komprehensif. Aplikasi ini hadir sebagai jawaban atas permasalahan yang sering dihadapi oleh sekolah, seperti tumpukan administrasi fisik, kurangnya integrasi kegiatan pembelajaran, dan kurang optimalnya komunikasi antara sekolah dan orang tua.

Jembatan Koneksi antara Guru, Peserta Didik, dan Orang Tua

Salah satu fitur unggulan SIHAT adalah kemampuannya untuk mengintegrasikan berbagai aktivitas pembelajaran. Mulai dari perencanaan pembelajaran, pengisian nilai, hingga pemantauan kehadiran peserta didik, semuanya dapat dilakukan secara digital melalui aplikasi ini. Selain itu, SIHAT juga memungkinkan guru untuk berbagi materi ajar dengan peserta didik secara online, sehingga proses belajar mengajar menjadi lebih fleksibel dan menarik.

Tidak hanya memudahkan guru, SIHAT juga memberikan manfaat bagi peserta didik dan orang tua. Peserta didik dapat dengan mudah mengakses nilai, jadwal pelajaran, dan pengumuman sekolah melalui aplikasi ini. Sementara itu, orang tua dapat memantau perkembangan belajar anak secara real-time dan berkomunikasi dengan guru secara lebih efektif.

Dalam proses pengembangannya, tim pengembang SIHAT menghadapi berbagai tantangan, seperti adaptasi guru terhadap teknologi baru dan kebutuhan untuk terus memperbarui fitur-fitur aplikasi. Namun, dengan semangat kolaborasi dan inovasi, semua tantangan tersebut berhasil diatasi.

Inovasi Pendidikan yang Meningkatkan Kualitas Belajar

Dengan adanya SIHAT, SMA Pesantren Terpadu Hayatan Thayyibah telah berhasil mewujudkan visi sekolah untuk menjadi lembaga pendidikan yang berbasis teknologi. Aplikasi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi pengelolaan sekolah, tetapi juga memperkaya pengalaman belajar peserta didik dan meningkatkan komunikasi antara semua stakeholder.

Keberhasilan pengembangan SIHAT menunjukkan bahwa teknologi informasi dapat menjadi alat yang sangat berguna dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Sekolah-sekolah lain dapat belajar dari pengalaman SMA Pesantren Terpadu Hayatan Thayyibah dan mengembangkan solusi digital yang serupa untuk menjawab tantangan pendidikan di era modern.

Ke depannya, tim pengembang SIHAT akan terus melakukan perbaikan dan pengembangan pada aplikasi ini. Rencananya, SIHAT akan dilengkapi dengan fitur-fitur baru yang lebih canggih, seperti analisis data pembelajaran dan integrasi dengan platform pembelajaran online lainnya. Dengan demikian, SIHAT diharapkan dapat menjadi solusi komprehensif untuk meningkatkan kualitas pendidikan di SMA Pesantren Terpadu Hayatan Thayyibah.

Penulis: Taufik Rahman dan Endang Sutisna
Editor: Gc

Jelang Gateways Study Visit, Indonesia Siap Berbagi Kunci Transformasi Pendidikan

Bali, 29 September 2024 – Gateways Study Visit Indonesia (GSVI) 2024 yang mempertemukan Indonesia dengan 56 peserta dari 20 negara dan 9 organisasi internasional diharapkan menjadi momentum nasional untuk terus mendorong keberlanjutan transformasi pendidikan. Mengusung tema “Lebih dari Intervensi Teknologi: Menavigasi Transformasi Pendidikan Indonesia,” praktik baik Indonesia dalam mengembangkan ekosistem teknologi pendidikan di dalam payung kebijakan Merdeka Belajar menjadi materi diskusi oleh para peserta. Seperti diyakini oleh UNESCO dan UNICEF, kehadiran platform dan konten digital akan membuka akses lebih luas terhadap pembelajaran berkualitas di negara maju maupun berkembang.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Kemendikbudristek, Iwan Syahril menyebutkan, “Dalam lima tahun terakhir, Indonesia telah mengembangkan berbagai platform dalam ekosistem pendidikan di bawah Kemendikbudristek, khususnya untuk mendukung pelaksanaan Merdeka Belajar. Terdapat sejumlah capaian yang menjadi perhatian, dan kami juga melakukan refleksi atas hal-hal yang perlu dioptimalkan. Maka itu, pada kesempatan ini, Indonesia akan membuka ruang diskusi bagi para peserta untuk mengkaji bagaimana praktik terbaik di Indonesia dapat diterapkan di negara mereka, dan sebaliknya, praktik terbaik di negara mereka bagaimana dapat diterapkan di Indonesia.”

Lebih lanjut, di Indonesia, transformasi pendidikan dilakukan melalui adopsi teknologi untuk pembelajaran, yang didukung dengan kebijakan untuk mendukung keberlanjutan prosesnya. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan ekosistem pendidikan terbesar keempat di tingkat dunia. Mencakup lebih dari 60 juta murid, lebih dari empat juta pendidik yang tersebar di lebih dari 400 ribu sekolah, kompleksitas dan cakupan transformasi ini menjadi salah satu materi yang ingin diketahui oleh para peserta delegasi.

“(Dalam Gateways Study Visit kali ini), kami akan mengunjungi Indonesia pada pekan pertama Oktober 2024 untuk mempertemukan perwakilan dari berbagai negara, sehingga mereka dapat melihat dan mempelajari apa yang dilakukan di Indonesia secara langsung,” kata Pimpinan Gateways UNESCO, Mark West, dalam webinar bertema “Unleashing Innovation: Embracing Digital Transformation in Education”, beberapa waktu.

Mark menjelaskan, kerja sama lintas batas ini bertujuan untuk membantu negara maju dan berkembang dalam mengembangkan platform pembelajaran digital yang terbuka bagi masyarakat umum. Atas dasar tersebut, UNESCO dan UNICEF menunjuk Indonesia sebagai tuan rumah Gateways Study Visit di Bali pada 1–3 Oktober 2024. Simposium internasional tersebut terkonfirmasi akan dihadiri oleh berbagai negara termasuk Finlandia, India, Inggris, Prancis, Tiongkok, dan Uni Emirat Arab.

“Kami sangat menantikan (transformasi pendidikan) apa yang terjadi di Indonesia. Kami tidak sabar untuk melihat (Gateways Study Visit) selanjutnya karena Indonesia merupakan salah satu yang terdepan dalam melakukan transformasi digital. Banyak hal yang dapat kami pelajari dari Indonesia,” kata Pimpinan Gateways dan Kepala Pusat Inovasi Pembelajaran Global UNICEF, Frank van Cappelle.

Guna mengakomodasi minat para peserta delegasi untuk mempelajari transformasi pendidikan di Indonesia, aneka sesi dalam Gateways Study Visit Indonesia 2024 akan didesain interaktif, termasuk melalui keberadaan ekshibisi, kunjungan ke sekolah setempat, dan lokakarya. Dengan demikian, para peserta Gateways diharapkan dapat mengaplikasikan temuan-temuan dari Indonesia untuk mendukung keberlanjutan transformasi pendidikan di negara masing-masing.

Sumber: Siaran Pers_Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi_
Nomor: 467/sipers/A6/IX/2024

Membaca Bersama di SDN 1 Cilandak Purwakarta: Menyenangkan dan Inspiratif

Membaca Bersama di SDN 1 Cilandak Purwakarta: Menyenangkan dan Inspiratif

Seorang guru di SDN 1 Cilandak Purwakarta tengah asyik membimbing murid-muridnya dalam kegiatan literasi, membaca buku cerita bersama.

Purwakarta – Membaca buku cerita sejak dini adalah investasi terbaik untuk masa depan anak. Kegiatan ini bukan hanya sekadar mengenal huruf dan kata, tetapi juga menjadi kunci untuk membuka potensi otak mereka. Saat membaca, otak anak akan bekerja keras, merangsang kemampuan berpikir kritis, menganalisis, dan membayangkan hal-hal baru. Perbendaharaan kata mereka pun akan semakin kaya dengan paparan berbagai kata dan kalimat yang sebelumnya belum pernah mereka kenal. Lebih dari itu, buku cerita juga menjadi jendela dunia yang memperkenalkan anak pada beragam budaya, nilai, dan perspektif yang berbeda.

Melalui membaca, anak akan mengembangkan keterampilan berbahasa yang baik, memahami struktur kalimat, tata bahasa, dan penggunaan bahasa yang tepat. Semua ini akan menjadi fondasi yang kuat untuk kesuksesan akademik mereka di masa depan. Sayangnya, minat baca anak usia dini, terutama di sekolah dasar, masih seringkali kurang mendapatkan perhatian.

Membaca Seru Bersama SDN 1 Cilandak Purwakarta

Membacakan buku cerita bersama anak adalah cara yang menyenangkan dan efektif untuk menumbuhkan minat baca mereka. Pilihlah buku dengan gambar-gambar yang menarik dan cerita yang mudah dipahami. Ciptakan suasana yang nyaman dan tenang saat membaca, misalnya dengan duduk bersama di sofa atau di bawah pohon.

SDN 1 Cilandak Purwakarta berkomitmen untuk menumbuhkan minat baca sejak dini pada anak didik. Sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka, sekolah berupaya menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan inspiratif. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan rutin mengadakan kegiatan membaca bersama. Melalui kegiatan ini, diharapkan peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga mengembangkan berbagai keterampilan penting seperti berbahasa, berpikir kritis, dan imajinasi.

Kegiatan membaca bersama di SDN 1 Cilandak Purwakarta tidak hanya sebatas membacakan buku. Setelah sesi membaca, berbagai aktivitas menarik disiapkan untuk memantik minat dan kreativitas peserta didik. Misalnya, setelah membaca cerita tentang tumbuhan, peserta didik diajak untuk melakukan eksperimen sederhana dengan tanaman. Atau, setelah membaca cerita tentang tokoh sejarah, mereka juga dapat berdiskusi dan membuat presentasi singkat tentang tokoh tersebut. Dengan demikian, kegiatan membaca menjadi lebih bermakna dan tidak membosankan.

Saat membacakan cerita di SDN 1 Cilandak Purwakarta, guru tidak hanya sekadar menyampaikan kata-kata. Dengan intonasi yang bervariasi dan ekspresi yang hidup, guru mengajak anak-anak untuk menyelami dunia cerita. Setelah selesai, guru mengajak bermain peran atau menuliskan akhir cerita yang berbeda. Dengan kegiatan kreatif seperti ini, membaca menjadi pengalaman yang tak terlupakan dan memotivasi mereka untuk terus menjelajahi dunia buku.

Membaca bersama di SDN 1 Cilandak Purwakarta adalah momen yang sangat berharga. Setelah mendengarkan cerita, peserta didik bisa berdiskusi dalam kelompok kecil. Siapa karakter favoritmu? Apa pesan yang ingin disampaikan penulis? Dengan berbagi pendapat, peserta didik belajar untuk menghargai perbedaan dan bekerja sama. Selain itu, peserta didik juga bisa membuat komik bersama berdasarkan cerita yang telah dibaca. Kegiatan ini tidak hanya melatih kreativitas, tetapi juga kemampuan berkomunikasi.

Membangun Generasi Pembaca Melalui Kolaborasi Semua Pihak

Membaca bersama anak memang memiliki banyak manfaat, namun tentu saja ada tantangan yang perlu diatasi. Misalnya, tidak semua anak menyukai buku yang sama. Untuk mengatasi hal ini, libatkan anak dalam memilih buku bacaan agar mereka merasa lebih tertarik. Selain itu, perhatikan juga kemampuan membaca masing-masing anak. Jangan memaksakan anak untuk membaca buku yang terlalu sulit karena dapat membuatnya merasa frustasi. Jika ada kata-kata yang sulit, jelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami.

Untuk menjaga fokus anak selama membaca, ciptakan lingkungan yang tenang dan gunakan teknik-teknik interaktif seperti bertanya atau meminta mereka untuk menebak kejadian selanjutnya. Jika anak merasa malu atau takut untuk berpartisipasi, dorong mereka dengan lembut dan berikan pujian atas usaha mereka.

Membaca bersama anak memang membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Jadi, usahakan untuk meluangkan waktu khusus setiap hari untuk membaca bersama. Dengan demikian, minat baca anak akan tumbuh dengan sendirinya.

Untuk mewujudkan hal ini, sekolah, perpustakaan, orang tua, dan komunitas harus bekerja sama. Kita bisa menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menarik, seperti lomba membaca, pameran buku, atau mengundang penulis untuk berbagi cerita. Dengan begitu, minat baca anak akan semakin tumbuh dan berkembang.

Penulis: Idris Apandi
Editor: Gc

Lady Kokom: Inovasi Lesson Study untuk Pembelajaran Berkualitas di SDN 035 Soka

Lady Kokom: Inovasi Lesson Study untuk Pembelajaran Berkualitas di SDN 035 Soka

Peserta didik terlibat dalam diskusi kelompok dan proyek kolaboratif
Fotografer: Syifa Andismah

Bandung, – SDN 035 Soka Bandung memulai perjalanannya sebagai Sekolah Penggerak pada tahun ajaran 2023-2024 dengan pondasi yang sudah cukup kuat. Sebelum bergabung dalam Program Sekolah Penggerak (PSP), sekolah ini telah menerapkan metode pembelajaran berpihak pada siswa melalui Kurikulum 2013 dan pendekatan RADEC (Read, Answer, Discuss, Explain, Create). Pendekatan RADEC mendorong siswa untuk berpikir aktif dan berpartisipasi dalam pembelajaran dengan membaca, mengajukan pertanyaan, berdiskusi, dan menerapkan konsep melalui kreativitas.

Tantangan dan Peluang dalam Implementasi PSP di SDN 035 Soka

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi dalam mengimplementasikan PSP adalah mengubah pola pikir para guru yang terbiasa dengan metode tradisional. Kepala Sekolah Agus Supriadi mengakui bahwa beberapa guru merasa enggan beradaptasi dengan perubahan. Selain tantangan internal, Agus Supriadi juga harus menjelaskan kepada orang tua siswa bahwa pembelajaran tidak lagi berfokus pada prestasi akademik, melainkan pada pengembangan karakter dan keterampilan berpikir kritis. Hal ini menimbulkan kebingungan di kalangan orang tua yang masih berharap pada pendekatan tradisional yang berorientasi pada nilai dan ranking.

Selain itu, tantangan infrastruktur juga menjadi kendala. Dengan jumlah siswa mencapai 1.080 yang terbagi dalam 36 kelas, sekolah hanya memiliki 24 ruang kelas, menyebabkan pembelajaran harus dibagi menjadi dua sesi. Di sisi teknologi, meskipun internet tersedia, banyak guru masih belum nyaman dengan penggunaan perangkat digital dalam pembelajaran, meskipun sekolah telah mencoba menerapkan teknologi seperti absen digital dan asesmen berbasis teknologi.

Pembelajaran berdiferensiasi di SDN 035 Soka juga menjadi tantangan tersendiri. Para guru mengalami kesulitan dalam menyusun modul ajar yang secara explisit mengakomodasi kebutuhan siswa yang beragam. Platform Merdeka Mengajar (PMM) memberikan prinsip-prinsip diferensiasi, tetapi belum memberikan panduan yang jelas dan spesifik mengenai penerapan modul ajar untuk kelas yang heterogen.

Untuk mengatasi perubahan mindset guru, Agus Supriadi menggunakan pendekatan personal. Ia sering berbicara secara informal dengan guru untuk memahami kesulitan yang dihadapi. Selain itu, sekolah menyelenggarakan In-House Training (IHT) dan membangun Komunitas Belajar (Kombel) yang disebut Soka Learning Community. Kombel ini melibatkan diskusi dan pelatihan yang membantu guru memahami konsep pembelajaran berdiferensiasi, asesmen diagnostik, dan evaluasi berbasis kinerja siswa. Tidak hanya bersifat internal, Kombel juga menyelenggarakan webinar eksternal dengan peserta dari berbagai daerah.

Untuk mengatasi keterbatasan infrastruktur, SDN 035 Soka memaksimalkan penggunaan teknologi dengan menggabungkan pembelajaran berbasis digital dan budaya lokal. Dengan slogan “Sinergitas Budaya Lokal dan Digital,” sekolah ini menggunakan perangkat twin mirror untuk menampilkan materi pembelajaran digital yang menarik, seperti video tentang gerakan anti-narkoba dan anti-bullying.

Lady Kokom: Kolaborasi Guru dalam Menguasai Pembelajaran Berdiferensiasi

SDN 035 Soka menerapkan pendekatan lesson study melalui program “Lady Kokom (Lesson Study Kolaborasi Kelompok Belajar)” untuk menghadapi tantangan pembelajaran berdiferensiasi. Guru-guru dibagi dalam tiga grup sesuai dengan fasenya dan menjalani tiga tahapan Plan (penyusunan modul ajar diferensiasi), Do (implementasi di kelas), dan See (refleksi pasca-pengajaran). Setiap tahap melibatkan kolaborasi antara guru model dan guru observer untuk mencari solusi atas tantangan yang dihadapi dalam pembelajaran diferensiasi.

Tahap Plan melibatkan penyusunan modul ajar berdiferensiasi. Modul yang dikembangkan berfokus pada strategi konkret untuk menangani perbedaan kemampuan siswa di kelas.  Pada Tahap Do, setelah modul disusun, guru model menerapkannya di kelas. Proses pembelajaran diobservasi melalui live streaming di YouTube untuk menjaga naturalitas pengajaran di kelas. Guru observer berkumpul untuk menyaksikan pembelajaran sambil mencatat, sehingga guru model tetap bisa mengajar tanpa merasa terganggu dengan kehadiran observer di kelas. Pada tahap See, setelah pengajaran selesai, dilakukan refleksi langsung pada hari itu juga. Setiap guru model di tiap fase diobservasi dan didiskusikan mengenai keberhasilan dan tantangan yang dihadapi dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. Proses refleksi ini melibatkan diskusi mendalam di antara para guru untuk menemukan solusi bersama.

Lesson Study Efektif: Kunci Sukses SDN 035 Soka

Setelah setahun menerapkan Program Sekolah Penggerak, SDN 035 Soka melihat perubahan signifikan. Para guru semakin termotivasi untuk berinovasi dan menghasilkan praktik baik dalam pengajaran. Mayoritas guru sudah mampu beradaptasi dengan perubahan, meskipun beberapa masih merasa minder dalam penggunaan teknologi. Bagi guru yang kurang mahir dalam teknologi, sekolah memberikan kesempatan untuk berkontribusi sesuai kemampuan mereka, seperti membantu dalam penyusunan modul ajar tanpa harus terlibat langsung dalam aspek teknis.

Program “Lady Kokom” mendapatkan pengakuan positif karena kolaborasi dan refleksi yang efektif antar-guru. Kegiatan ini mendapat apresiasi karena berhasil mengatasi tantangan pembelajaran berdiferensiasi dengan pendekatan inovatif.

Perubahan ini juga terasa bagi siswa, di mana pembelajaran di SDN 035 Soka menjadi lebih menyenangkan dan kreatif. Siswa belajar dengan cara yang lebih santai, seperti berbaring di karpet sambil membaca atau berdiskusi dengan teman. Orang tua mulai memahami bahwa pembelajaran tidak lagi berfokus pada ujian atau ranking, melainkan pada pengembangan kompetensi siswa secara holistik. Asesmen di sekolah ini lebih menekankan pada evaluasi formatif yang berkelanjutan melalui penugasan dan proyek.

Secara keseluruhan, perjalanan SDN 035 Soka sebagai Sekolah Penggerak penuh tantangan, namun dampak positif terasa signifikan bagi guru, siswa, dan orang tua. Sekolah ini berhasil menjadi contoh bagi banyak sekolah di Kota Bandung dalam membangun budaya belajar yang menyenangkan dan memberdayakan.

Penulis: Sofi Suwaris
Editor: Agus R

Padahal Bukan PSP, SDN Sukasirna I Sukses Terapkan Kurikulum Merdeka Melalui Komunitas Belajar

Padahal Bukan PSP, SDN Sukasirna I Sukses Terapkan Kurikulum Merdeka Melalui Komunitas Belajar

Suasana Saling Belajar di Komunitas Belajar Berkah SDN I Sukasirna Sumedang

Sumedang-Kemendikbudristek telah menetapkan target yang menantang bagi BBPMP Jawa Barat untuk memastikan keberhasilan Kurikulum Merdeka. Salah satu targetnya adalah agar 75% sekolah yang menerapkan kurikulum baru memiliki komunitas belajar yang aktif. Komunitas ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi guru untuk berbagi pengalaman dan inovasi dalam pembelajaran. Selain itu, Kemendikbudristek juga ingin memastikan bahwa setidaknya 75% dari seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah hingga orang tua, memiliki pandangan positif terhadap Kurikulum Merdeka.

Tantangan Implementasi Kurikulum Merdeka: Apa Saja Kendalanya?

Peralihan ke Kurikulum Merdeka telah membuka babak baru dalam dunia pendidikan, namun juga menghadirkan tantangan signifikan bagi sekolah-sekolah, terutama yang baru memulai implementasinya. SDN Sukasirna I Sumedang, meski tidak tergabung dalam program Sekolah Penggerak, telah menunjukkan semangat yang patut diacungi jempol dengan aktif berpartisipasi dalam komunitas belajar Namun, sekolah ini, seperti banyak sekolah lainnya, menghadapi kendala yang kompleks. Salah satu tantangan terbesar adalah terbatasnya jumlah pengawas sekolah di Kabupaten Sumedang, yang berimbas pada minimnya pendampingan bagi sekolah-sekolah yang sedang beradaptasi dengan kurikulum baru.

Dalam upaya mengatasi tantangan implementasi Kurikulum Merdeka, komunitas belajar telah muncul sebagai salah satu solusi yang menjanjikan. Sekolah-sekolah seperti SDN Sukasirna I Sumedang, yang secara proaktif terlibat dalam komunitas belajar, telah menemukan wadah untuk berbagi pengalaman, berkolaborasi, dan mencari solusi bersama. Meskipun demikian, kendala seperti ketidakseimbangan jumlah pengawas dan tuntutan perubahan yang mendasar masih menghantui. Komunitas belajar, meski efektif, membutuhkan dukungan yang lebih kuat dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, untuk memastikan keberlanjutan dan keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka.

Kepemimpinan Inspiratif: Kepala Sekolah Jadi Penggerak Komunitas Belajar

Komunitas belajar (Kombel) diharapkan dapat menjadi solusi efektif untuk mengatasi tantangan implementasi Kurikulum Merdeka. Melalui komunitas belajar, guru dapat saling berbagi pengalaman, pengetahuan, dan solusi secara kolaboratif.

Komunitas belajar yang Bernama Berkah di SDN I Sukasirna telah menjadi jantung kegiatan pengembangan profesional guru. Dengan pertemuan rutin setiap minggu, baik secara tatap muka maupun daring, komunitas ini telah menciptakan ruang kolaboratif yang dinamis. Guru-guru dengan antusiasme berbagi praktik terbaik, berdiskusi mengenai tantangan dalam implementasi Kurikulum Merdeka, dan saling memberikan dukungan. Melalui kegiatan berbagi materi ajar, studi kasus, dan refleksi bersama, Kombel Berkah telah berhasil meningkatkan kompetensi guru dalam merancang pembelajaran yang inovatif dan menarik.

Dukungan penuh dari Kepala Sekolah SDN I Sukasirna telah menjadi salah satu kunci keberhasilan komunitas belajar Berkah. Kehadiran beliau dalam setiap pertemuan, baik secara langsung maupun virtual, menunjukkan komitmen yang kuat terhadap pengembangan profesional guru. Dengan arahan dan motivasi dari kepala sekolah, komunitas ini telah tumbuh menjadi sebuah kekuatan yang mendorong transformasi pembelajaran di sekolah. Selain itu, dukungan sarana dan prasarana yang diberikan oleh kepala sekolah juga sangat membantu kelancaran kegiatan komunitas.

Bersama Komunitas Belajar, Guru Percaya Diri Terapkan Kurikulum Merdeka

“Komunitas belajar di Kecamatan Sumedang Selatan telah menjadi angin segar bagi para guru,” ungkap Ibu Inggit Gantina, Kepala Sekolah SDN Sukasirna I Sumedang dengan penuh semangat. “Melalui diskusi yang mendalam dan berbagi pengalaman, mereka tidak hanya memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif tentang Kurikulum Merdeka, tetapi juga merasakan semangat kolaborasi yang kuat. Dukungan dari rekan sejawat, baik dalam bentuk saran, masukan, maupun berbagi praktik baik, telah menjadi motivasi tersendiri bagi mereka untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Kami merasa tidak sendirian dalam menghadapi tantangan implementasi Kurikulum Merdeka.”

“Sebelum bergabung dengan komunitas belajar, para guru merasa agak kesulitan dalam memahami dan menerapkan Kurikulum Merdeka,” aku Inggit. “Namun, setelah aktif berpartisipasi dalam komunitas, pemahaman mereka menjadi jauh lebih baik. Mereka merasa lebih percaya diri dalam merancang pembelajaran yang inovatif dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Komunitas belajar telah memberikan bekal yang sangat berharga untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila.”

Selanjutnya, Nining Marianingsih Guru Kelas 5 juga mengungkapkan “Saya sangat bersyukur dengan adanya komunitas belajar ini,” tuturnya dengan penuh syukur. “Diskusi-diskusi yang kami lakukan tidak hanya membahas tentang Kurikulum Merdeka, tetapi juga tentang berbagai aspek pembelajaran lainnya. Saya merasa seperti memiliki keluarga kedua di komunitas ini. Dukungan dan semangat yang mereka berikan telah menjadi motivasi terbesar bagi saya untuk terus berkarya.”

“Dini Apriani, guru kelas 3 SDN Sukasirna I Sumedang juga menjelaskan “’Komunitas ini telah menjadi rumah bagi kami para guru untuk berkolaborasi, belajar, dan tumbuh bersama,’ ujarnya. ‘Melalui diskusi yang mendalam, kami tidak hanya memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif tentang Kurikulum Merdeka, tetapi juga menemukan solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi dalam implementasinya.”

Komunitas Belajar: Kunci Sukses Implementasi Kurikulum Merdeka

Berdasarkan testimoni dari Ibu Inggit Gantina, Bu Nining Marianingsih, dan Bu Dini Apriani, dapat disimpulkan bahwa komunitas belajar di Kecamatan Sumedang Selatan telah memberikan dampak yang sangat positif bagi para guru di SDN Sukasirna I Sumedang. Komunitas ini tidak hanya menjadi wadah untuk belajar, tetapi juga menjadi tempat para guru merasa terhubung dan termotivasi untuk terus berkarya. Melalui kolaborasi  di Kombel Berkah dan dukungan yang kuat dari Kepala Sekolah, para guru semakin percaya diri dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka dan menciptakan pembelajaran yang berkualitas”

Komunitas belajar telah terbukti menjadi solusi yang efektif bagi sekolah-sekolah seperti SDN Sukasirna I. Melalui komunitas belajar, sekolah ini dapat berbagi pengalaman, pengetahuan, dan solusi dengan sekolah lain. Namun, keberhasilan komunitas belajar bergantung pada pemahaman yang sama di antara semua pihak terkait, termasuk dinas pendidikan, pengawas sekolah, kepala sekolah, dan guru. Meskipun SDN Sukasirna I telah menunjukkan semangat yang tinggi, perlu adanya upaya yang lebih efektif dalam mensosialisasikan pentingnya komunitas belajar dan cara menjalankannya agar manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak sekolah

Tim Penulis : Agus Ramdani, Enang Komala, Mohamad Diva – BBPMP Jabar

PEDAGOGIK WELAS ASIH UNTUK WUJUDKAN PENDIDIKAN RAMAH ANAK

PEDAGOGIK WELAS ASIH UNTUK WUJUDKAN PENDIDIKAN RAMAH ANAK

Sumber: https://id.pinterest.com/pin/512988213821389425/

Hakikat pendidikan adalah untuk memanusiakan manusia. Manusia adalah makhluk yang unik dan memiliki karakteristik masing-masing. Proses mendidik bukan hanya memerlukan kemampuan guru dalam pengetahuan substansi terkait materi yang akan diajarkan dan kemampuan cara mengajarkannya, tetapi lebih dari itu, memerlukan kepribadian (soft skill) guru yang baik. Mengapa? Karena yang dihadapi oleh guru adalah manusia, makhluk yang selain memiliki akal, juga memiliki perasaan, dan memiliki kecerdasan yang beragam.

Mendidik adalah sebuah aktivitas yang kompleks. Bukan hanya mengandalkan logika dan penguasaan materi pelajaran, tetapi membutuhkan sentuhan kasih sayang. Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara dalam pemikirannya telah mewanti-wanti untuk mengedepan kasih sayang dalam mendidik. Pemikirannya yang begitu terkenal antara lain, ”Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, dan Tut wuri handayani”. Di depan memberikan teladan, di tengah membangun semangat, dan di belakang memberikan dorongan.

Eleanor Rosevelt (1884-1962), seorang pendidik, dosen, penulis buku, penyiar, dan istri presiden Amerika Serikat F. D. Rosevelt (1933-1945) mengatakan bahwa memberikan kasih sayang kepada peserta didik adalah bagian dari pendidikan itu sendiri. Pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan menyampaikan bahwa semangat mendidik dengan penuh kasih sayang dan toleransi adalah “kartu identitas” komunitas Islam. Kemudian pendiri Nahdlatul Ulama (NU), K. H. Hasyim Ashari menyampaikan bahwa berdakwah dengan cara memusuhi ibarat orang membangun kota, tetapi merobohkan istananya. Oleh karena itu, berdakwah perlu dilakukan dengan kasih sayang. Tokoh NU K. H. Mustofa Bisri juga menyampaikan bahwa “asal kita mendahulukan kasih sayang, kita bukan hanya akan masuk surga, tetapi kita di surga itu sendiri.”

UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization)  pada buku The Heart of Education Learning to Live Together menyampaikan bahwa kerangka mendidik dengan hati merupakan integrasi dari 3 elemen, yaitu (1) kecerdasan emosional, (2) empati, dan (3) mendidik dengan kasih sayang. Mendidik dengan berbasis kasih sayang akan menyentuh hati peserta didik. Saat hati peserta didik tersentuh oleh sikap guru yang  baik dan penuh dengan pancaran kasih sayang, maka mereka akan senang, nyaman, dan semangat selama mengikuti pembelajaran.

Saat mereka senang, nyaman, dan semangat belajar, maka proses belajar akan menjadi sebuah pengalaman yang bermakna bagi mereka. Belajar menjadi sebuah rekreasi akademik bagi mereka. Kondisi tersebut akan membantu peserta didik dalam memahami dan menguasai materi pelajaran.

Guru perlu melakukan tugas mendidik disertai hati dan passion (bergairah). Pembelajaran yang menyenangkan hanya bisa dilakukan oleh guru yang menyenangi profesinya, kondisi hati yang senang, dan lingkungan pekerjaan yang menyenangkan. Pada buku The Pedagogy of Love (UNESCO, 2014) dinyatakan bahwa seorang guru dapat bekerja dengan sepenuh hati jika dia mencintai dirinya sendiri, mencintai materi yang dia ajarkan, mencintai peserta didik, mencintai administrasi pembelajaran, mencintai (saling menghormati) sesama rekan sejawat, dan mencintai sekolah tempatnya bertugas.

Pendidikan yang berdasarkan welas asih ditopang oleh sejumlah nilai seperti kebaikan, empati, rela berkorban, suka memaafkan, kerelaan menerima dan menghargai terhadap kondisi yang berbeda, membangun berkolaborasi dalam komunitas, menjunjung tinggi etika, memiliki pola pikir berkembang (growth mindset), peduli, saling menghormati, kemerdekaan untuk mengemukakan pendapat dan beraktivitas, mengutamakan dialog dalam menyelesaikan masalah, adanya keterikatan secara emosional antara guru dan murid, dan keakraban dalam komunikasi guru dan murid.

Pendidikan yang berdasarkan welas asih akan mendukung terwujudnya Sekolah Ramah Anak (SRA). Sejalan dengan implementasi kurikulum merdeka, pembelajaran diharapkan berpihak atau berpusat kepada peserta didik (student center). Peserta didik menjadi fokus pencapaian target pembelajaran. Pencapaian visi dan misi sekolah pun tecermin dalam mutu anak didik atau lulusan. Adanya Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) pun bertujuan untuk membangun, menumbuhkan, menguatkan karakter peserta didik agar memiliki nilai-nilai Pancasila. Welas dan asih adalah salah satu cerminan manusia pancasilais.

SRA adalah gambaran sekolah yang ideal atau sekolah yang dicita-citakan. Sekolah yang inklusif. Sekolah yang membangun keseteraan dan memberikan kesempatan yang sama kepada setiap peserta didik untuk mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas. Nilai welas asih yang diimplementasikan dalam pembelajaran dapat membentuk karakter peserta didik untuk peduli, empati, menghargai dan menghormati orang lain, mau membantu orang lain tanpa melihat latar belakang suku, ras, kelompok, dan agama.

SRA bukan hanya dilihat dari konteks kepribadian guru dan proses pembelajarannya, tetapi juga bisa dilihat dari konteks visi, misi, lingkungan, dan sarana-prasarana penunjangnya. Apakah lingkungan sekolah aman dan nyaman untuk belajar? Apakah sekolah dilengkapi oleh sarana-prasarana yang diperlukan untuk menunjang pembelajaran? Apakah sarana-prasana mudah diakses untuk belajar? Dan sebagainya.

Mengapa saat ini banyak anak, remaja, dan bahkan orang dewasa yang mudah tersulut emosi, mudah melakukan perundungan (bullying), melakukan tindakan kekerasan, mudah menganiaya orang lain, bahkan sampai tega menghilangkan nyawa orang lain? Disamping ada masalah dengan latar belakang dan pribadinya sendiri, bisa saja karena lingkungan tempatnya belajar (rumah, sekolah, dan lingkungan masyarakat) tidak memunculkan pendidikan yang berbasis welas asih. Ditambah dampak negatif dari media sosial yang akrab di gawai mereka. Masalah ini menjadi hal yang kompleks dan solusinya harus melibatkan berbagai pihak terkait. Tidak hanya mengandalkan salah satu pihak saja.

Data-data dari lembaga terkait dan berita viral yang muncul di media terkait tindakan bullying dan tindakan kekerasan sungguh sangat mengerikan sekaligus membuat kita merinding dan prihatin. Kadang kita bertanya dalam hati, kok bisa ya anak yang masih di bawah umur melakukan tindakan kekerasan dan merudapaksa korban hingga meninggal? Sudah separah itukah kondisi moralitas bangsa? Sudah separah itukah dampak gawai dan media sosial dalam “mencuci otak” generasi muda? Apakah hal ini menjadi ciri kegagalan pendidikan? Lalu, bagaimana pendidikan yang di satu sisi menjadi “tertuduh” atas terjadinya krisis karakter bisa memberikan solusi atas masalah tersebut?

Pendidikan berdasarkan welas asih menjadi sebuah ikhtiar bersama untuk mewujudkan generasi muda yang disamping cerdas secara intelektual, terampil, juga beradab dan berakhlak mulia. Tantangan Gen-Z dan Gen Alpha saat ini sangat kompleks. Disamping

maraknya dampak negatif dari teknologi di era digital, banyak juga anak muda yang lebih suka atau lebih memilih ”dibimbing” dan ”diasuh” oleh gawai dibandingkan oleh orang tua dan guru. Mereka juga kebingungan mendapatkan figur yang bisa menjadi teladan bagi mereka. Di sinilah orang tua, guru, pemimpin, dan para tokoh diharapkan bisa menjadi agen-agen untuk menjadi (contoh) role model pendidikan berbasis welas asih tersebut sehingga anak didik bisa menjadi manusia yang berperikemanusiaan.

Penulis: Idris Apandi