by Tim Media | Mar 30, 2026 | Warta Kiwari
Bandung Barat – Momentum Halal Bihalal Keluarga Besar BBPMP Jawa Barat bersama BAN PDM dimanfaatkan sebagai ruang refleksi pasca-Ramadan yang menekankan pentingnya keimanan, pengendalian diri, serta penguatan nilai kebersamaan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga sarana untuk memperkuat karakter individu dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan kerja maupun pendidikan.
Dalam tausyiah yang disampaikan, untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan melalui konsistensi ibadah, termasuk memperbanyak istigfar sebagai bentuk introspeksi diri. Refleksi Ramadan juga diarahkan pada kesadaran atas kesalahan pribadi, kemampuan menahan amarah, serta membangun sikap mudah memaafkan terhadap orang lain. Nilai-nilai tersebut dinilai penting untuk menciptakan hubungan yang harmonis dan menghindari konflik.
Selain penguatan nilai spiritual, kegiatan ini juga menyoroti pentingnya kampanye Gerakan Indonesia Asri di satuan pendidikan. Gerakan ini mendorong terciptanya lingkungan yang bersih, aman, dan nyaman, dengan menekankan budaya “resik” agar lingkungan sekolah terbebas dari sampah serta lebih tertata. Aspek keindahan juga diperhatikan melalui penataan taman dan ruang terbuka hijau.
Tidak hanya itu, perhatian terhadap penggunaan gawai pada anak menjadi bagian penting dalam pembahasan melalui kebijakan PP Tunas. Pengaturan screen time perlu dilakukan agar penggunaan gawai tidak berlebihan, disertai dengan penerapan screen zone untuk memastikan penggunaan perangkat dilakukan di tempat yang tepat dan tetap menghargai interaksi sosial.
Selanjutnya, penerapan screen break juga menjadi langkah penting untuk menjaga keseimbangan aktivitas anak. Dengan memberikan jeda dari layar, anak didorong untuk lebih banyak berinteraksi langsung bersama keluarga dan teman. Melalui berbagai pesan tersebut, kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara nilai spiritual, budaya lingkungan, dan literasi digital dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang sehat dan berkelanjutan.
(Tim media)
by Tim Media | Mar 17, 2026 | Warta Kiwari
Bandung Barat – Koordinasi antara Dinas Pendidikan Kota Bogor dan Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Barat dilakukan untuk memastikan analisis daya tampung dalam pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun 2026 berjalan lebih akurat.
Pertemuan yang berlangsung pada Senin, 16 Maret 2026 ini difokuskan pada penyamaan pemahaman terkait perhitungan daya tampung sekolah, yang menjadi salah satu aspek krusial dalam proses penerimaan murid baru.
Dalam pembahasan, analisis daya tampung tidak hanya dilakukan berdasarkan jumlah ruang kelas, tetapi juga harus mempertimbangkan kondisi riil di lapangan. Beberapa faktor yang menjadi perhatian antara lain sebaran satuan pendidikan, potensi jumlah calon murid, serta kepadatan penduduk di masing-masing wilayah.
Perbedaan karakteristik wilayah menjadi tantangan tersendiri dalam menentukan kapasitas sekolah. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan harus bersifat komprehensif agar kebijakan yang dihasilkan tetap relevan dengan kondisi daerah.
BBPMP Jawa Barat berperan dalam melakukan verifikasi dan validasi (verval) terhadap setiap usulan daya tampung yang diajukan. Proses ini dilakukan untuk memastikan data yang digunakan benar-benar akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pelaksanaan verval mengacu pada sejumlah regulasi, di antaranya Permendikdasmen Nomor 26 Tahun 2025 tentang Standar Pengelolaan, Permendikdasmen Nomor 3 Tahun 2025 tentang SPMB, serta Kepmendikdasmen Nomor 14 Tahun 2026 yang mengatur mekanisme penetapan jumlah peserta didik dalam satu rombongan belajar.
Dalam proses tersebut, setiap usulan yang bersifat pengecualian wajib disertai dengan data pendukung yang lengkap dan valid. Hal ini penting agar keputusan yang diambil tidak hanya berbasis kebutuhan, tetapi juga memiliki dasar yang kuat.
Koordinasi ini juga menjadi bagian dari upaya untuk meminimalkan potensi permasalahan dalam pelaksanaan SPMB, khususnya yang berkaitan dengan ketidaksesuaian data daya tampung di lapangan. Dengan penguatan pada tahap perencanaan dan validasi data, pelaksanaan SPMB diharapkan dapat berlangsung lebih tertib dan mampu menjangkau seluruh calon peserta didik secara merata.
Melalui langkah ini, Dinas Pendidikan Kota Bogor bersama BBPMP Jawa Barat menekankan pentingnya penyelenggaraan SPMB yang objektif, transparan, dan berkeadilan, sehingga setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses layanan pendidikan.
(Tim media)
by Tim Media | Mar 16, 2026 | Warta Kiwari
Bandung Barat – Upaya memperkuat koordinasi pelaksanaan program pendidikan terus dilakukan oleh Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa BaratbersamaDinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Salah satu langkah yang dilakukan adalah melalui rapat koordinasi yang digelar pada Kamis, 12 Maret 2026.
Pertemuan tersebut membahas sejumlah agenda penting terkait implementasi program pendidikan di Jawa Barat, di antaranya progres revitalisasi 258 SMA, pengembangan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT), serta kesiapan pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).
Dalam pembahasan revitalisasi sekolah, diketahui bahwa proses pengisian data usulan telah mencapai 100 persen. Meski demikian, beberapa aspek masih memerlukan perhatian, terutama terkait kelengkapan dokumen pendukung serta akurasi data daya tampung sekolah agar pelaksanaan program dapat berjalan lebih tepat sasaran.
Ketersediaan data yang valid dinilai menjadi faktor penting dalam menentukan prioritas pembangunan maupun perbaikan fasilitas pendidikan. Oleh karena itu, proses verifikasi dan pembaruan data perlu dilakukan secara cermat oleh pihak sekolah maupun dinas terkait.
Selain revitalisasi sekolah, pembahasan juga menyoroti pengembangan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) yang diharapkan dapat menjadi model penguatan kualitas pendidikan melalui integrasi berbagai aspek pembelajaran dan pengelolaan sekolah.
Sementara itu, kesiapan pelaksanaan SPMB juga menjadi perhatian dalam pertemuan tersebut. Data daya tampung sekolah perlu disesuaikan dengan kondisi riil di lapangan agar proses penerimaan peserta didik baru dapat berlangsung lebih transparan dan adil.
Sebagai tindak lanjut dari pertemuan tersebut, disepakati bahwa setiap sekolah perlu melakukan validasi data secara mandiri guna memastikan seluruh informasi yang disampaikan telah sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Selain itu, perbaikan dan penyempurnaan dokumen juga akan dipercepat dengan target penyelesaian hingga 31 Maret 2026. Langkah ini dilakukan agar pelaksanaan berbagai program pendidikan di Jawa Barat dapat berjalan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Melalui koordinasi yang lebih intensif antara BBPMP dan Dinas Pendidikan, diharapkan berbagai program peningkatan mutu pendidikan dapat terlaksana dengan lebih efektif serta memberikan dampak nyata bagi satuan pendidikan di Jawa Barat.
(Tim media)
by Tim Media | Mar 13, 2026 | Warta Kiwari
Bandung Barat – Program Belajar Bersama BBPMP Provinsi Jawa Barat (B3) kembali menghadirkan layanan Moving Class sebagai bagian dari pembelajaran di luar kelas. Pada Rabu, 11 Maret 2026, kegiatan ini diikuti oleh peserta didik RA Nurul Hidayah yang belajar langsung di Laboratorium PAUD BBPMP Jawa Barat.
Dalam kegiatan tersebut, anak-anak mengikuti pembelajaran dengan tema “Indahnya Berbagi dan Menyambut Idulfitri.” Melalui tema ini, peserta didik diperkenalkan pada berbagai nilai kebaikan yang dapat dipraktikkan sejak usia dini.
Kegiatan diawali dengan membiasakan anak-anak untuk berdoa sebelum memulai aktivitas sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah. Anak-anak juga belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan baru serta mengikuti aturan yang berlaku selama kegiatan berlangsung.
Selain itu, peserta didik berlatih melafalkan surat-surat pendek dan doa harian, sekaligus mengenal berbagai informasi sederhana yang ada di sekitar mereka. Pembiasaan lain yang juga dikenalkan adalah menjaga kebersihan lingkungan sebagai bagian dari pembentukan karakter.
Tidak hanya berfokus pada anak-anak, kegiatan Moving Class ini juga melibatkan orang tua melalui kelas parenting bertajuk “Yuk, Gunakan Gawai dengan Bijak.” Pada sesi tersebut, orang tua diajak berdiskusi mengenai pentingnya pendampingan dalam penggunaan gawai oleh anak. Mereka juga mendapatkan pemahaman tentang cara memilih konten yang sesuai serta membangun kebiasaan penggunaan teknologi yang lebih sehat di lingkungan keluarga.
Melalui kegiatan ini, proses belajar tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melibatkan keluarga sebagai bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang anak. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu menanamkan nilai berbagi, kebiasaan baik, serta membangun pola pendampingan yang lebih tepat bagi anak di rumah.
(Tim media)
by Tim Media | Mar 13, 2026 | Warta Kiwari
Bandung Barat – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tidak hanya sekadar menyediakan makanan bagi peserta didik di sekolah. Program ini dirancang sebagai langkah strategis untuk mendukung kesehatan, meningkatkan kualitas belajar, sekaligus mempersiapkan masa depan generasi muda Indonesia.
Dalam kurun waktu sekitar 1 tahun 5 bulan sejak diluncurkan, program MBG telah menjangkau sekitar 60 juta penerima manfaat di berbagai daerah. Capaian tersebut menunjukkan bahwa upaya penyediaan makanan bergizi di sekolah mulai memberikan dampak luas bagi peserta didik.
Penyediaan makanan bergizi di lingkungan sekolah dinilai penting karena kondisi gizi sangat memengaruhi kemampuan anak dalam belajar. Anak yang datang ke sekolah dalam keadaan lapar sering kali mengalami kesulitan berkonsentrasi dan cender ung tidak aktif selama proses pembelajaran berlangsung.
Berbagai kajian menunjukkan bahwa program makan di sekolah dapat membantu meningkatkan partisipasi siswa dalam pendidikan. Dengan adanya akses makanan bergizi, siswa memiliki energi yang cukup untuk mengikuti kegiatan belajar dengan lebih baik.
Laporan UNESCO tahun 2025 juga menyoroti manfaat program makan bergizi di sekolah yang diterapkan di berbagai negara. Program semacam ini terbukti mampu meningkatkan motivasi siswa untuk datang ke sekolah sekaligus membantu mengurangi risiko kekurangan gizi pada anak.
Selain itu, program tersebut juga berdampak pada peningkatan kualitas pembelajaran. Siswa yang mendapatkan asupan gizi yang cukup cenderung lebih fokus saat mengikuti pelajaran dan mampu memahami materi dengan lebih optimal.
Hasil evaluasi dari puluhan penelitian di sejumlah negara menunjukkan bahwa program makan bergizi di sekolah dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa. Peningkatan ini terlihat dari kemajuan dalam berbagai bidang akademik, termasuk literasi dan matematika.
Tidak hanya berdampak pada proses belajar, program ini juga berkontribusi dalam menekan angka putus sekolah. Ketika siswa mendapatkan dukungan gizi yang memadai, peluang mereka untuk menyelesaikan pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi menjadi lebih besar.
Program MBG juga menjadi bagian dari kontribusi Indonesia dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Program ini berkaitan erat dengan upaya meningkatkan kualitas kesehatan sekaligus memperluas akses pendidikan yang lebih baik.
Melalui program ini, pemerintah berupaya memastikan bahwa kebutuhan dasar peserta didik dapat terpenuhi. Asupan gizi yang baik menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Di sisi lain, program MBG juga diharapkan mampu membangun kebiasaan hidup sehat di kalangan siswa. Selain menyediakan makanan, program ini turut mendorong penerapan pola makan yang lebih baik melalui edukasi mengenai pentingnya gizi seimbang. Upaya tersebut juga dapat membantu menekan berbagai masalah kesehatan pada anak, seperti kekurangan gizi maupun risiko stunting yang masih menjadi perhatian di sejumlah daerah.
Dengan cakupan penerima manfaat yang terus bertambah, program Makan Bergizi Gratis diharapkan mampu memberikan dampak jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia. Melalui sinergi antara sektor pendidikan dan kesehatan, program ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih mendukung bagi peserta didik.
Ke depan, keberlanjutan program MBG menjadi salah satu langkah penting untuk memastikan generasi muda Indonesia dapat tumbuh sehat, berprestasi, dan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk meraih masa depan yang lebih baik.
(Tim media)
by Tim Media | Mar 11, 2026 | Warta Kiwari
Bandung Barat – Upaya mengatasi persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS) di Jawa Barat terus diperkuat melalui koordinasi antara Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Barat dengan pemerintah daerah. Pertemuan yang berlangsung pada Selasa, 10 Maret 2026 tersebut menjadi ruang diskusi untuk menyamakan langkah dalam menangani anak-anak yang belum mendapatkan layanan pendidikan.
Dalam koordinasi tersebut, berbagai pihak membahas kondisi terbaru terkait data ATS di daerah. Pemutakhiran data menjadi salah satu fokus utama karena data yang akurat dinilai penting untuk mengetahui jumlah anak yang belum bersekolah sekaligus memahami penyebabnya. Dengan data yang lebih terbarui, pemerintah daerah dapat menentukan langkah penanganan yang lebih tepat sasaran.
Selain pembaruan data, diskusi juga menyoroti beragam faktor yang membuat anak tidak melanjutkan pendidikan. Beberapa di antaranya berkaitan dengan kondisi ekonomi keluarga, anak yang harus bekerja, hingga keterbatasan akses pendidikan di wilayah tertentu. Karena itu, penanganan ATS tidak bisa dilakukan hanya oleh satu pihak, melainkan membutuhkan kerja sama lintas sektor.
BBPMP Jawa Barat juga mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat berbagai alternatif layanan pendidikan, termasuk pendidikan nonformal. Program seperti paket kesetaraan menjadi salah satu pilihan agar anak yang sempat putus sekolah tetap memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan.
Pendekatan kepada keluarga dan masyarakat juga dinilai penting dalam upaya ini. Dukungan orang tua dan lingkungan sekitar menjadi faktor yang berpengaruh terhadap keberlanjutan pendidikan anak. Melalui pendekatan sosial yang lebih intensif, diharapkan kesadaran akan pentingnya pendidikan dapat terus meningkat.
Di sisi lain, koordinasi ini juga menekankan pentingnya pendampingan bagi anak-anak yang bekerja. Upaya penanganan tidak hanya sebatas mengajak mereka kembali ke sekolah, tetapi juga mencari solusi agar mereka tetap dapat mengakses pendidikan tanpa mengabaikan kondisi yang mereka hadapi.
Langkah penanganan ATS ini turut mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2026 yang menegaskan pentingnya percepatan penuntasan anak tidak sekolah di berbagai daerah. Kebijakan tersebut memberikan kerangka bagi pemerintah daerah untuk memperkuat upaya penjangkauan dan pengembalian anak ke dalam sistem pendidikan.
Melalui koordinasi yang dilakukan, diharapkan pemerintah daerah dapat merancang strategi yang lebih terarah dalam menurunkan angka ATS. Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan berbagai pihak terkait menjadi kunci agar setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan.
Upaya bersama ini juga menjadi bagian dari komitmen untuk memastikan akses pendidikan yang lebih inklusif. Dengan langkah yang terkoordinasi dan berbasis data, penanganan ATS di Jawa Barat diharapkan dapat berjalan lebih efektif sehingga semakin sedikit anak yang tertinggal dari layanan pendidikan.
(Tim media)
by Tim Media | Mar 10, 2026 | Warta Kiwari
Sukabumi — Upaya menumbuhkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan mulai ditanamkan sejak usia sekolah melalui berbagai kegiatan sederhana yang dilakukan secara rutin. Salah satunya melalui kegiatan Jumat Bersih yang dilaksanakan di SD Negeri 01 Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari implementasi Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) yang bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang lebih bersih, sehat, dan nyaman bagi peserta didik. Dalam kegiatan ini, para siswa terlibat langsung membersihkan lingkungan sekolah bersama para guru.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, meninjau langsung pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, pembiasaan menjaga kebersihan lingkungan sekolah memiliki peran penting dalam membentuk karakter peserta didik.
“Ini bagian dari program yang didorong oleh Bapak Presiden melalui Gerakan Indonesia ASRI: Aman, Sehat, Resik, dan Indah. Salah satu implementasinya di lingkungan sekolah adalah menggiatkan kembali kegiatan Jumat Bersih, yakni kegiatan bersih-bersih yang dilakukan secara rutin dengan melibatkan para siswa,” ucap Wamen Fajar.
Melalui kegiatan sederhana seperti membersihkan kelas dan halaman sekolah, siswa dapat belajar memahami pentingnya menjaga lingkungan. Kebiasaan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari perilaku sehari-hari yang terus terbawa hingga di luar lingkungan sekolah.
Selain menciptakan lingkungan belajar yang lebih bersih, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menanamkan rasa tanggung jawab kepada siswa. Dengan dilibatkan secara langsung, siswa dapat memahami bahwa menjaga kebersihan merupakan tanggung jawab bersama.
Para guru juga berperan aktif dalam membimbing siswa selama kegiatan berlangsung. Mereka tidak hanya mengajak siswa membersihkan lingkungan sekolah, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kebersihan dalam kehidupan sehari-hari.
Guru kelas 5 SD Negeri 01 Cibadak, Gina Permata Desa, menilai kegiatan tersebut memberikan dampak positif bagi siswa. Menurutnya, kebiasaan menjaga kebersihan yang dilakukan di sekolah dapat memengaruhi perilaku siswa di rumah.
Ia menjelaskan bahwa melalui pembiasaan yang dilakukan secara rutin, siswa menjadi lebih mandiri dan sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Nilai-nilai tersebut tidak hanya diterapkan di sekolah, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kegiatan pembelajaran, guru juga sering memberikan contoh sederhana kepada siswa mengenai perbedaan kondisi belajar di lingkungan yang bersih dan yang kotor. Dari pengalaman tersebut, siswa dapat merasakan secara langsung bagaimana kebersihan memengaruhi kenyamanan belajar.
Lingkungan yang bersih membuat siswa lebih fokus dalam mengikuti pembelajaran. Sebaliknya, kondisi lingkungan yang kotor dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan mengganggu konsentrasi siswa saat belajar.
Melalui Gerakan ASRI, pemerintah bersama satuan pendidikan berupaya mendorong terbentuknya budaya hidup bersih dan sehat di lingkungan sekolah. Pembiasaan tersebut diharapkan dapat membangun karakter siswa yang lebih peduli terhadap kebersihan dan lingkungan sejak dini.
Selain menciptakan lingkungan sekolah yang lebih nyaman, gerakan ini juga menjadi bagian dari upaya pendidikan karakter yang menekankan pentingnya tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.
(berita ini telah tayang di https://kemendikdasmen.go.id/siaran-pers/14859-menanamkan-kepedulian-lingkungan-sejak-dini-melalui-gerakan-asri-di-sekolah )
by Tim Media | Mar 9, 2026 | Warta Kiwari
Sukabumi — Upaya peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah terus dilakukan melalui perbaikan fasilitas pendidikan. Salah satu langkah tersebut terlihat di SMAN 2 Sukabumi, Jawa Barat, yang baru saja menyelesaikan program revitalisasi sarana dan prasarana sekolah.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, meninjau langsung kondisi sekolah tersebut untuk melihat bagaimana fasilitas yang telah diperbaiki digunakan dalam mendukung kegiatan belajar mengajar. Perbaikan yang dilakukan mencakup berbagai ruang penting di sekolah, seperti ruang kelas, laboratorium IPA, perpustakaan, hingga ruang administrasi.
Program revitalisasi ini didukung oleh bantuan pemerintah pusat senilai sekitar Rp1,4 miliar. Dana tersebut digunakan untuk memperbaiki fasilitas yang sebelumnya mengalami kerusakan dan dinilai kurang mendukung kegiatan pembelajaran.
“Kami ingin memastikan bahwa program revitalisasi ini benar-benar memberikan manfaat bagi sekolah, baik bagi siswa maupun guru. Perbaikan sarana prasarana seperti laboratorium, perpustakaan, dan ruang belajar menjadi bagian penting dalam mendukung proses pembelajaran yang lebih berkualitas,” ujar Fajar.
Perbaikan sarana pendidikan dinilai memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih nyaman dan efektif. Fasilitas seperti laboratorium dan perpustakaan, misalnya, dapat memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan pemahaman materi secara lebih mendalam melalui kegiatan praktik maupun eksplorasi sumber belajar.
Selain perbaikan infrastruktur fisik, sekolah juga mulai memanfaatkan perangkat pembelajaran berbasis teknologi. Salah satunya adalah penggunaan Interactive Flat Panel (IFP) atau papan interaktif digital yang tersedia di ruang perpustakaan. Perangkat ini memungkinkan guru menyampaikan materi dengan cara yang lebih visual dan interaktif.
Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran diharapkan dapat membantu siswa memahami materi secara lebih menarik sekaligus menyesuaikan metode belajar dengan perkembangan teknologi digital.
Dalam waktu dekat, pemerintah juga berencana menambah dua unit perangkat papan interaktif digital untuk setiap satuan pendidikan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperluas penggunaan teknologi pembelajaran di sekolah.
Di sisi lain, pihak sekolah merasakan perubahan yang cukup signifikan setelah revitalisasi dilakukan. Sebelumnya, beberapa fasilitas di SMAN 2 Sukabumi mengalami kerusakan cukup berat sehingga mengganggu kenyamanan kegiatan belajar mengajar. Bahkan terdapat ruang kelas yang kondisinya sudah tidak layak digunakan.
Setelah proses perbaikan selesai, kondisi sekolah menjadi lebih aman dan mendukung aktivitas pembelajaran. Lingkungan belajar yang lebih baik diharapkan dapat meningkatkan motivasi siswa serta membantu guru menjalankan proses pembelajaran secara lebih optimal.
Program revitalisasi satuan pendidikan sendiri menjadi salah satu upaya pemerintah dalam memperbaiki kondisi fasilitas sekolah di berbagai daerah. Melalui program ini, sekolah yang membutuhkan perbaikan sarana dapat memperoleh dukungan untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih layak dan kondusif.
Dengan fasilitas yang lebih baik serta dukungan teknologi pembelajaran, sekolah diharapkan mampu meningkatkan kualitas proses belajar mengajar sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman belajar yang lebih efektif dan relevan dengan perkembangan zaman.
(berita ini telah tayang di https://kemendikdasmen.go.id/siaran-pers/14868-wamen-fajar-pastikan-fasilitas-belajar-sman-makin-berkualitas-di-sukabumi )
by Tim Media | Mar 9, 2026 | Warta Kiwari
Bandung Barat – Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Barat menggelar kegiatan sosialisasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) pada Jumat, 6 Maret 2026. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan satuan pendidikan dalam menghadapi potensi bencana yang cukup tinggi di wilayah Jawa Barat.
Sosialisasi tersebut diikuti oleh ratusan peserta yang terdiri dari perwakilan Dinas Pendidikan, kepala sekolah, serta guru dari jenjang PAUD hingga SMA di berbagai daerah di Jawa Barat. Kegiatan dilaksanakan secara daring untuk menjangkau lebih banyak peserta dan memperluas pemahaman tentang pentingnya kesiapsiagaan bencana di lingkungan sekolah.
Kepala Bagian Umum BBPMP Jabar, Mardi Wibowo, dalam pembukaannya turut menceritakan duka yang dialami warga sekolah di Desa Pasirlangu, Kabupaten Bandung Barat, yang terdampak longsor beberapa waktu lalu.
“Sekolah bukan hanya tempat mereka untuk belajar, sekolah itu adalah tempat mereka untuk membangun mimpinya, mengantar masa depannya, sekolah adalah tempat lahirnya generasi yang suatu hari nanti akan menggantikan kita akan memimpin negeri ini, dan kita sangat berharap mereka tumbuh dalam suasana, dalam lingkungan yang penuh dengan kebaikan, yang penuh dengan keamanan, yang penuh dengan kenyamanan,” ujar Mardi saat membuka acara secara resmi
Langkah ini menjadi bagian dari upaya penguatan budaya keselamatan di satuan pendidikan, terutama setelah beberapa wilayah di Jawa Barat mengalami peristiwa pergerakan tanah dan longsor dalam waktu terakhir. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sekolah juga perlu memiliki kesiapan dalam menghadapi berbagai risiko bencana yang mungkin terjadi.
Dalam kegiatan tersebut, pihak BBPMP Jawa Barat menekankan bahwa sekolah bukan hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai ruang yang harus memberikan rasa aman bagi seluruh warga sekolah. Lingkungan pendidikan yang aman dinilai sangat penting agar proses belajar dapat berlangsung dengan baik dan siswa dapat berkembang secara optimal.
BBPMP Jawa Barat juga menampilkan dokumentasi kondisi salah satu sekolah yang terdampak bencana longsor di wilayah Kabupaten Bandung Barat. Tayangan tersebut memperlihatkan bagaimana fasilitas pendidikan sempat digunakan sebagai tempat pengungsian ketika terjadi bencana.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa satuan pendidikan perlu memiliki kesiapan menghadapi situasi darurat. Selain kesiapan infrastruktur, kesiapsiagaan warga sekolah juga menjadi faktor penting dalam meminimalkan risiko saat bencana terjadi.
Salah satu guru dari SD Negeri Karyabakti di wilayah Cisarua mengungkapkan bahwa bencana yang terjadi sempat menimbulkan rasa cemas pada para siswa. Namun secara perlahan kondisi psikologis siswa mulai membaik seiring dengan dukungan dari sekolah dan berbagai pihak yang terlibat dalam proses pemulihan.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bagi sekolah untuk meningkatkan kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan bencana di masa depan.
Dalam kegiatan sosialisasi tersebut, BBPMP Jawa Barat juga menghadirkan narasumber dari Bandung Mitigasi Hub yang memberikan pemaparan mengenai manajemen kebencanaan di lingkungan sekolah. Materi yang disampaikan mencakup langkah-langkah yang perlu dilakukan sebelum, saat, dan setelah terjadinya bencana.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu sekolah dalam menyusun rencana mitigasi yang lebih terstruktur. Sekolah juga didorong untuk mengenali potensi risiko bencana di wilayah masing-masing sehingga dapat menyusun langkah pencegahan yang lebih tepat.
Melalui kegiatan sosialisasi SPAB ini, satuan pendidikan diharapkan tidak hanya memahami teori mitigasi bencana, tetapi juga mampu menerapkannya dalam praktik di lingkungan sekolah. Upaya ini menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan tangguh terhadap risiko bencana.
(Tim media)
by Tim Media | Mar 6, 2026 | Warta Kiwari
Bandung Barat – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan gizi peserta didik, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sarana pembentukan kebiasaan positif di lingkungan sekolah. Program ini mulai diintegrasikan dengan penguatan nilai dan karakter siswa melalui berbagai kegiatan pendamping dalam proses pembelajaran.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menjelaskan bahwa MBG dapat menjadi bagian dari pendidikan karakter yang diterapkan secara langsung dalam keseharian siswa. Melalui program tersebut, siswa didorong untuk membangun kebiasaan baik yang sejalan dengan konsep 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH).
Menurutnya, kegiatan makan bersama di sekolah dapat dimanfaatkan untuk menanamkan sejumlah nilai seperti disiplin, kebersamaan, serta kepedulian terhadap kesehatan. Dengan cara itu, program MBG tidak hanya berfungsi sebagai dukungan pemenuhan gizi, tetapi juga sebagai media pembelajaran yang membentuk perilaku positif sejak dini.
“Berdasarkan hasil penelitian kolaboratif dengan LabSosio UI, program MBG membantu murid meningkatkan motivasi belajar, memberikan pengalaman menyenangkan bagi siswa baik dari produk maupun saat makan bersama, juga memberikan kesempatan bagi siswa dari kelompok sosio-ekonomi rendah mendapatkan pangan yang bergizi,” jelasnya.
Secara nasional, implementasi program MBG telah menjangkau sekitar 49,6 juta siswa atau sekitar 93 persen dari total peserta didik di Indonesia. Cakupan tersebut menunjukkan bahwa program ini telah menjadi salah satu intervensi pendidikan dan kesehatan terbesar yang dijalankan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir.
Untuk mendukung pelaksanaannya, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah juga menyiapkan berbagai perangkat pendukung. Di antaranya berupa modul edukasi serta pedoman pelaksanaan MBG yang dirancang agar dapat diterapkan secara terintegrasi dengan kegiatan belajar di sekolah.
Selain itu, penguatan program ini juga dikaitkan dengan rencana peningkatan anggaran pendidikan pada 2026. Dukungan anggaran tersebut tidak hanya difokuskan pada penyediaan makanan bergizi bagi siswa, tetapi juga diarahkan pada revitalisasi satuan pendidikan serta pengembangan pembelajaran berbasis teknologi.
Pelaksanaan MBG juga melibatkan dukungan lintas sektor dari berbagai kementerian dan lembaga. Koordinasi tersebut diperlukan untuk memastikan program berjalan efektif, mulai dari penyediaan bahan pangan, distribusi, hingga pengawasan kualitas makanan yang diterima siswa.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menilai kecukupan gizi bagi peserta didik merupakan faktor penting dalam mendukung kualitas sumber daya manusia di masa depan. Asupan gizi yang memadai dinilai dapat membantu meningkatkan konsentrasi belajar sekaligus mendukung perkembangan fisik dan kognitif anak.
Karena itu, pemerintah terus mendorong perbaikan dalam implementasi program MBG agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas. Evaluasi berkala dilakukan untuk memastikan kualitas makanan, sistem distribusi, serta mekanisme pengawasan berjalan sesuai standar yang ditetapkan.
Ke depan, pemerintah juga berupaya meningkatkan kualitas pelaksanaan program dengan memperkuat koordinasi antara sekolah, pemerintah daerah, serta pihak terkait lainnya. Langkah tersebut dilakukan agar program MBG dapat berjalan berkelanjutan sekaligus memberikan dampak nyata bagi kesehatan dan pendidikan siswa.
(berita ini telah tayang di https://kemendikdasmen.go.id/siaran-pers/14845-mendikdasmen-mbg-bagian-dari-pendidikan-karakter-siswa )