Karawang – Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal (Ditjen PAUD, Dikdas, dan PNFI) melalui BBPMP Provinsi Jawa Barat selaku UPT Kemendikdasmen menyalurkan bantuan berupa sepeda dan peralatan sekolah kepada Isah Nur Aisah, salah satu murid dari keluarga kurang mampu di SMPS Nurul Ansor Jayakerta, Kabupaten Karawang, Senin (2/11/2026).
Bantuan ini diberikan untuk mendukung kelancaran Aisah dalam menempuh pendidikan. Setiap hari, Aisah harus menempuh perjalanan sekitar 3 kilometer dari rumah menuju sekolah. Jarak tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam aktivitasnya sehari-hari.
Melalui bantuan sepeda, diharapkan perjalanan Aisah menuju sekolah menjadi lebih mudah, aman, dan menyenangkan. Sementara itu, bantuan peralatan sekolah diharapkan dapat meringankan beban orang tua sekaligus meningkatkan semangat dan motivasi belajarnya.
Pendidikan merupakan hak setiap anak dan tidak boleh terhenti karena keterbatasan. Melalui bantuan ini, BBPMP Provinsi Jawa Barat berharap Aisah dapat terus bersemangat dalam menempuh pendidikan dan meraih cita-citanya. Mari bersama-sama kita dukung anak-anak bangsa untuk terus melangkah, mengayuh, dan meraih cita-cita setinggi langit.
Jakarta, 1 November 2026 – Kesempatan memperoleh pendidikan bermutu tidak boleh ditentukan oleh kondisi geografis, keterbatasan fasilitas, maupun latar belakang ekonomi. Karena itu, selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkuat fondasi pendidikan melalui revitalisasi satuan pendidikan, digitalisasi pembelajaran, peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru, serta penguatan karakter. Upaya tersebut diarahkan untuk memastikan setiap murid, termasuk yang tinggal di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) serta murid berkebutuhan khusus, memperoleh kesempatan belajar yang lebih baik.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menyampaikan bahwa Presiden Prabowo memberikan mandat untuk membangun generasi Indonesia yang berkualitas melalui perbaikan pendidikan dasar dan menengah. Mandat tersebut sejalan dengan Asta Cita keempat, yakni membangun sumber daya manusia unggul, sekaligus memperkuat ideologi Pancasila, budaya, dan bahasa. Salah satu arahan Presiden yang menjadi perhatian utama adalah memastikan tidak ada lagi murid yang harus belajar di ruang kelas dengan atap roboh, fasilitas sanitasi yang tidak layak, maupun bangunan sekolah yang rusak.
“Pak Presiden berkali-kali menyampaikan tidak boleh ada sekolah yang atapnya roboh, tidak boleh ada yang toiletnya kotor, tidak boleh ada kelas yang rusak dan sebagainya,” ujar Abdul Mu’ti dalam program One on One tvOne, Jumat (30/10).
Menindaklanjuti arahan tersebut, Kemendikdasmen telah merevitalisasi lebih dari 55.000 satuan pendidikan dalam dua tahun pertama. Jumlah ini diproyeksikan meningkat menjadi hampir 80.000 satuan pendidikan hingga akhir 2026. Revitalisasi diprioritaskan bagi sekolah dengan kerusakan berat, sekolah di wilayah 3T, serta satuan pendidikan yang terdampak bencana. Bagi anak-anak di daerah terdampak bencana Sumatra, misalnya, pemulihan fasilitas pendidikan turut mendukung keberlangsungan pembelajaran. Mendikdasmen menyampaikan bahwa 98 persen sekolah terdampak di wilayah tersebut telah dibangun kembali dan seluruhnya sudah melaksanakan pembelajaran secara normal, meskipun sebagian masih menerapkan sistem pergantian waktu belajar.
Selain perbaikan infrastruktur, pemerintah memperluas pemanfaatan teknologi agar pembelajaran semakin interaktif dan dapat menjangkau lebih banyak murid. Sepanjang 2025, lebih dari 288.865 papan interaktif digital atau Interactive Flat Panel (IFP) telah dikirimkan ke satuan pendidikan di seluruh Indonesia. Pada 2026, pemerintah menargetkan distribusi lebih dari 700.000 perangkat tambahan sehingga totalnya melampaui satu juta perangkat dalam dua tahun. Menteri Mu’ti menegaskan bahwa teknologi bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. “Program digitalisasi itu paketnya ada empat. Pertama tentu saja adalah perangkatnya, yang kedua adalah laptop, yang ketiga yaitu pelatihan guru, dan yang keempat adalah fasilitas pendukung seperti internet, listrik, dan juga materi pembelajarannya,” jelasnya.
Manfaat digitalisasi juga terlihat dalam terbukanya kesempatan belajar bagi murid berkebutuhan khusus. Berdasarkan pemantauan Abdul Mu’ti di sejumlah sekolah, fitur audio pada IFP dapat membantu murid tunanetra mengikuti pembelajaran, sementara guru di sekolah luar biasa di Kudus telah mengembangkan materi berbantuan kecerdasan artifisial (AI) untuk murid tunarungu. Perangkat tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium virtual untuk membantu murid memahami konsep sains melalui simulasi. Untuk mengatasi keterbatasan infrastruktur, Kemendikdasmen bekerja sama dengan PLN dalam penyediaan akses listrik dan menyiapkan panel surya bagi sekolah yang belum terjangkau jaringan listrik. IFP juga dilengkapi penyimpanan materi sehingga tetap dapat digunakan meskipun sekolah belum memiliki akses internet.
Di sisi lain, peningkatan kualitas pendidikan tidak dapat dilepaskan dari peran guru sebagai pendamping tumbuh kembang murid. Kemendikdasmen menjalankan kebijakan peningkatan kualitas guru melalui pendekatan 3K, yaitu kualifikasi, kompetensi, dan kesejahteraan. Bagi lebih dari 200.000 guru yang belum berkualifikasi D4 atau S1, pemerintah memberikan kesempatan melanjutkan pendidikan melalui Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), dengan bantuan beasiswa Rp3 juta per semester per guru. Peningkatan kompetensi dilakukan melalui pelatihan pembelajaran mendalam, bimbingan konseling, koding dan kecerdasan artifisial, STEM (Sains, Teknologi, Enjinering/Rekayasa, dan Matematika), serta bahasa Inggris. Sementara itu, tunjangan sertifikasi guru non-ASN meningkat dari Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta per bulan, sedangkan insentif guru yang belum bersertifikat naik dari Rp300.000 menjadi Rp400.000 per bulan.
Penguatan mutu pendidikan juga dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan belajar setiap murid. Kemendikdasmen mendorong peran guru wali agar pendampingan tidak hanya mencakup perkembangan akademik, tetapi juga persoalan psikologis, kesulitan belajar, hingga kondisi keluarga yang dapat memengaruhi proses pendidikan. Melalui Tes Kemampuan Akademik (TKA), pemerintah berupaya menyediakan instrumen evaluasi yang lebih terstandar untuk membantu guru, orang tua, dan murid mengenali capaian serta aspek pembelajaran yang masih perlu diperbaiki. Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya menjawab tantangan kesenjangan mutu pendidikan antardaerah dan antarsatuan pendidikan.
Ke depan, Kemendikdasmen akan mempercepat penyelesaian revitalisasi sekolah, memperluas digitalisasi pembelajaran, dan meningkatkan kapasitas guru melalui pelatihan serta kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk Inovasi Australia dan McGill University Kanada. Seluruh upaya tersebut dijalankan dengan semangat partisipasi semesta agar peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga melibatkan masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan. Mendikdasmen menegaskan bahwa keberhasilan transformasi pendidikan pada akhirnya bergantung pada komitmen seluruh ekosistem pendidikan untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas diri. “Murid jadilah pembelajar sepanjang hayat. Guru juga jadilah pendidik dan pembelajar sepanjang hayat,” pesannya. ***(Penulis: Rany/Editor: Destya, Seno).
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Moskow, 1 November 2026 — Bahasa Indonesia yang 98 tahun lalu diikrarkan sebagai bahasa persatuan kini dipelajari anak-anak muda di Rusia. Di Moskow, sekitar 140 mahasiswa, akademisi, pengajar, dan Indonesianis berkumpul dalam Kongres Bahasa Indonesia di Higher School of Economics University (HSE University), Rabu (28/10).
Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) membawa bahasa Indonesia semakin dikenal dan digunakan di dunia.
Bagi Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, memperkenalkan bahasa Indonesia kepada masyarakat dunia tidak cukup hanya dengan mengajak mereka belajar kosakata dan tata bahasa. Bahasa Indonesia juga harus hadir dalam percakapan akademik, diplomasi, perdagangan, hingga kebudayaan internasional.
“Penginternasionalan bahasa Indonesia bukan semata-mata upaya menambah jumlah orang yang mempelajari bahasa Indonesia, melainkan juga sebagai upaya meningkatkan fungsi, martabat, dan daya guna bahasa Indonesia dalam kehidupan masyarakat global,” ujarnya dalam kongres bertema “Bahasa Indonesia di Pentas Global: Tantangan, Peluang, dan Masa Depan”.
Pengakuan bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa resmi Sidang Umum UNESCO pada 20 November 2023 menjadi modal penting. Namun, pekerjaan berikutnya jauh lebih besar: memastikan bahasa Indonesia tidak hanya dikenal, tetapi juga digunakan dalam berbagai forum dan kegiatan di tingkat dunia.
Pemerintah telah menyusun Peta Jalan Penginternasionalan Bahasa Indonesia 2025–2045. Indeks Penginternasionalan Bahasa Indonesia (IPBI) meningkat dari 51,44 pada 2024 menjadi 52,99 pada 2025, dengan target 55,87 pada 2029.
Salah satu pintu masuknya adalah program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Hingga Oktober 2026, BIPA telah menjangkau 62 negara melalui 520 lembaga penyelenggara dengan lebih dari 234.000 pemelajar aktif. Di Rusia, program ini mendapat tempat melalui kelas BIPA KBRI Moskow yang kini diikuti 149 pemelajar.
Wamen Atip menilai Rusia memiliki potensi besar sebagai mitra pengembangan bahasa Indonesia. Tradisi akademik Rusia dalam kajian bahasa, sastra, dan budaya dapat menjadi landasan untuk memperluas pertukaran mahasiswa dan akademisi, riset bersama, program BIPA, serta penerjemahan karya sastra.
“Bahasa Indonesia adalah identitas bangsa Indonesia, tetapi bahasa Indonesia juga merupakan jembatan persahabatan bagi masyarakat dunia,” katanya.
Bahasa Indonesia memang bukan hal baru di Rusia. Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia, Jose Tavares, menyampaikan bahwa pengajarannya di Universitas Negeri Moskow telah dimulai sejak akhir 1950-an. Kini, bahasa Indonesia juga dipelajari di HSE University.
Meski memiliki sejarah panjang, pengajaran bahasa Indonesia di Rusia masih menghadapi sejumlah kendala. Jumlah pengajar terbatas, bahan ajar yang disesuaikan dengan penutur bahasa Rusia masih minim, dan keberlanjutan program perlu mendapat perhatian. Jose berharap kongres ini menghasilkan rekomendasi konkret untuk mengatasi persoalan tersebut sekaligus memperluas jejaring Indonesianis di Rusia dan Belarus.
Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Moskow, Khoirul Rosyadi, menyampaikan bahwa kongres ini akan dilanjutkan sebagai agenda tahunan. Penyelenggaraan kedua ini juga mempertemukan Indonesianis Rusia dari berbagai generasi, mulai dari mereka yang telah lama menekuni kajian Indonesia hingga mahasiswa yang sedang mempelajarinya.
Di luar ruang diskusi, pameran buku BIPA memperkenalkan bahan pembelajaran bahasa Indonesia kepada peserta. Suasana semakin semarak ketika Veronika Khomkina dan Anastasia Marker membawakan lagu “Karena Kamu” serta lagu keroncong “Sapu Tangan”.
Dari ruang kelas di Moskow hingga forum internasional, bahasa Indonesia sedang menempuh perjalanan yang berbeda dari 98 tahun lalu. Jika dahulu bahasa ini menjadi ikrar untuk menyatukan berbagai suku di Nusantara, kini bahasa Indonesia membuka kesempatan bagi masyarakat dunia untuk mengenal Indonesia lebih dekat. (Penulis dan Dokumentasi: Tim Badan Bahasa dan Tim KBRI Moskow)
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah