by Tim Media | Feb 3, 2026 | Warta Kiwari
Cianjur – Upaya pemerataan akses pendidikan terus diperkuat melalui pemanfaatan teknologi pembelajaran di satuan pendidikan. Di Kabupaten Cianjur, penggunaan Papan Interaktif Digital mulai diterapkan di PAUD Kunang-Kunang dan PKBM Bhayangkara sebagai bagian dari dukungan terhadap proses belajar yang lebih adaptif dan inklusif bagi anak usia dini dan peserta didik pendidikan kesetaraan.
Lembaga tersebut melayani peserta didik dari latar belakang keluarga petani, dengan rentang usia yang beragam. Anak-anak PAUD mengikuti pembelajaran dasar, sementara peserta didik PKBM tetap menjalani pendidikan di tengah aktivitas membantu orang tua. Dalam kondisi tersebut, keberlanjutan pembelajaran menjadi tantangan yang memerlukan pendekatan fleksibel dan relevan dengan kebutuhan peserta didik.
Pemanfaatan Papan Interaktif Digital diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses belajar melalui metode yang lebih visual dan partisipatif. Perangkat ini memungkinkan guru menyajikan materi secara variatif, sekaligus mendorong keterlibatan aktif anak-anak dalam kegiatan menulis, menggambar, dan mengenal konsep dasar pembelajaran secara interaktif.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menilai penguatan layanan pendidikan tidak hanya bertumpu pada sekolah formal, tetapi juga perlu menjangkau jalur pendidikan nonformal dan informal. Pendekatan tersebut dipandang penting untuk memastikan setiap anak memperoleh kesempatan belajar yang setara, terutama di wilayah dengan keterbatasan akses pendidikan konvensional.
“Semangat ya, rajin belajar. Semoga sekolahnya terus berjalan dan anak-anaknya terus maju,” pesan Mendikdasmen kepada para murid.
“Kami memperkuat pendidikan tidak sekadar dengan sistem sekolah (schooling), tetapi juga dengan sistem belajar (learning). Sehingga pendidikan itu tidak hanya diselenggarakan di sekolah-sekolah formal, tetapi juga di lembaga pendidikan nonformal dan informal,” tambahnya.
Melalui integrasi teknologi pembelajaran dan penguatan ekosistem belajar di masyarakat, pemerintah mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang aman, menyenangkan, dan berkelanjutan. Langkah ini diharapkan dapat mendukung perkembangan anak sejak usia dini sekaligus memperkuat kualitas layanan pendidikan di berbagai satuan pendidikan.
Sumber: Siaran Pers Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor: 83/sipers/A6/II/2026
by Tim Media | Feb 3, 2026 | Warta Kiwari
Bandung Barat – BBPMP Jawa Barat menerima kunjungan Program Kuliah Kerja Lapangan (KKL) mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bogor Raya (UMBARA) pada Senin, 2 Februari 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi antara lembaga penjaminan mutu pendidikan dengan perguruan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia bidang ad ministrasi pendidikan.
Melalui KKL ini, mahasiswa memperoleh gambaran langsung mengenai peran dan fungsi BBPMP Jawa Barat dalam sistem penjaminan mutu pendidikan. Pemaparan materi dan diskusi difokuskan pada praktik tata kelola pendidikan, kebijakan mutu, serta tantangan implementasi penjaminan mutu di satuan pendidikan.
Kegiatan tersebut mengusung tema Peluang Karier dan Kompetensi Lulusan Administrasi Pendidikan dalam Sistem Penjaminan Mutu dan Tata Kelola Pendidikan. Tema ini diarahkan untuk memperluas pemahaman mahasiswa terhadap kebutuhan kompetensi di dunia kerja, khususnya pada sektor pendidikan yang menuntut kemampuan analisis, pengelolaan data, serta pemahaman regulasi.
Selain memperkaya wawasan akademik, kegiatan ini juga mendorong mahasiswa untuk memahami keterkaitan antara kebijakan, pelaksanaan program, dan peningkatan mutu layanan pendidikan. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membekali mahasiswa dengan perspektif praktis yang relevan dengan dinamika dunia kerja setelah lulus.
BBPMP Jawa Barat menilai kolaborasi dengan perguruan tinggi merupakan langkah strategis dalam membangun ekosistem pendidikan yang adaptif dan berkelanjutan. Sinergi ini diharapkan dapat berkontribusi dalam menyiapkan lulusan yang memiliki kompetensi profesional, responsif terhadap perubahan, serta mampu berperan aktif dalam penguatan mutu pendidikan.
(Tim media )
by Tim Media | Feb 3, 2026 | Warta Kiwari
Cianjur — Anak-anak di SDN Batulayang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, (31/1/2026) mendapat pendampingan psikososial menyusul bencana angin puting beliung yang melanda wilayah tersebut. Kegiatan ini dilakukan oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sebagai bagian dari upaya pemulihan dampak bencana terhadap peserta didik.
Penasihat DWP Kemendikdasmen, Masmidah Abdul Mu’ti, menyampaikan bahwa dukungan terhadap anak-anak terdampak bencana tidak hanya bersifat material, tetapi juga menyasar pemulihan kondisi mental dan rasa aman. Menurutnya, trauma yang dialami anak perlu ditangani secara bertahap agar tidak mengganggu proses belajar dan perkembangan psikologis mereka.
“Anak-anak harus tetap semangat bersekolah. Trauma yang dialami perlu kita pulihkan secara perlahan agar tidak menjadi ketakutan yang berkepanjangan. Kita bangun keyakinan bahwa semua ini bisa kita lalui bersama,” tambahnya.
Selain memberikan pendampingan, DWP Kemendikdasmen menyalurkan bantuan berupa perlengkapan sekolah serta bantuan kebutuhan dasar bagi keluarga yang terdampak. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu meringankan beban warga sekaligus mendukung keberlangsungan aktivitas belajar anak-anak di sekolah.
Kepala SDN Batulayang, Siti Badriah, menjelaskan bahwa bencana puting beliung yang terjadi pada Oktober 2025 menyebabkan kerusakan pada sejumlah rumah siswa dan meninggalkan dampak psikologis yang masih dirasakan hingga kini. Ia menyebut sebagian murid mengalami kecemasan, ketakutan, serta penurunan semangat belajar pascabencana.
Sebagai bagian dari pemulihan trauma, kegiatan juga diisi dengan aktivitas edukatif seperti menggambar rumah impian. Melalui kegiatan tersebut, anak-anak diajak mengekspresikan perasaan dan membangun kembali rasa aman serta harapan. Pendekatan ini dinilai membantu proses pemulihan psikologis sekaligus mendorong anak tetap optimistis menghadapi masa depan.
Sumber: website kemendikdasmen
by Tim Media | Feb 2, 2026 | Warta Kiwari
Cianjur — Sejumlah sekolah menengah kejuruan (SMK) di Kabupaten Cianjur mulai merasakan dampak nyata Program Revitalisasi Satuan Pendidikan, khususnya dalam peningkatan kualitas ruang praktik yang disesuaikan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Pembaruan sarana ini mendorong proses pembelajaran yang lebih aplikatif dan relevan dengan kompetensi kerja.
Revitalisasi tidak hanya berfokus pada perbaikan bangunan yang rusak akibat gempa bumi beberapa tahun 2022, tetapi juga pada penataan ulang ruang belajar dan praktik agar mendukung pembelajaran berbasis keterampilan. Di SMK Kesehatan Cianjur, misalnya, ruang praktik farmasi kini dirancang menyerupai fasilitas layanan kesehatan, sehingga siswa dapat berlatih sesuai standar kerja lapangan.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menilai peningkatan kualitas pendidikan vokasi perlu ditopang oleh sarana pembelajaran yang memadai. Revitalisasi sekolah dipandang sebagai bagian dari upaya memperkuat kesiapan lulusan SMK agar memiliki keterampilan fungsional dan mudah beradaptasi dengan kebutuhan sektor industri dan layanan profesional.
“Membangun gedung tidak sekadar membangun fisiknya, tapi membangun peradaban dengan gedung yang berkualitas,” ujar Mendikdasmen saat meresmikan hasil revitalisasi di SMK Kesehatan Cianjur, Sabtu (31/1/2026).
Ia menambahkan bahwa pemerintah terus berkomitmen memajukan pendidikan melalui penyediaan fasilitas yang mendukung proses belajar yang berkualitas.
“Kami berusaha dengan sumber daya dan dana yang kami miliki, memajukan sekolah-sekolah di tanah air kita, memajukan pendidikan dengan sarana dan prasarana yang semakin kita perbaiki. Dengan fasilitas yang semakin baik, pembelajaran tentu semakin baik sehingga mutunya juga akan semakin meningkat,” pungkasnya.
Selain SMK Kesehatan Cianjur, pembaruan fasilitas juga dilakukan di SMK Negeri 1 Cidaun. Sekolah ini kini memiliki ruang praktik nautika yang dirancang sesuai standar industri perikanan, memungkinkan siswa mempelajari perencanaan pelayaran, pemetaan, hingga desain alat tangkap secara lebih terstruktur dan aplikatif.
Dengan tersedianya ruang praktik yang representatif, proses pembelajaran di SMK diharapkan tidak lagi bertumpu pada teori semata. Revitalisasi satuan pendidikan menjadi langkah strategis untuk menjembatani dunia pendidikan dan dunia kerja, sekaligus memperkuat peran SMK sebagai penghasil sumber daya manusia yang kompeten dan berdaya saing.
(Tim media)
by Tim Media | Feb 2, 2026 | Warta Kiwari
Cianjur — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat telah menyelesaikan revitalisasi 83 satuan pendidikan di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat,Sabtu (31/1/2026), sepanjang 2025 dengan total anggaran sekitar Rp106 miliar. Program ini menjadi bagian dari upaya memperbaiki kualitas sarana pendidikan sekaligus memastikan keamanan dan kenyamanan lingkungan belajar.
Secara nasional, Kemendikdasmen merevitalisasi 16.169 satuan pendidikan dengan total anggaran Rp16,9 triliun. Capaian tersebut melampaui target awal yang hanya mencakup 10.440 satuan pendidikan, seiring penerapan sistem swakelola yang dinilai mampu meningkatkan efisiensi pelaksanaan tanpa mengurangi kualitas hasil pembangunan.
“Awalnya anggaran Rp16,9 triliun itu hanya untuk 10.440 satuan pendidikan, tapi dengan sistem swakelola atas saran Presiden Prabowo ternyata terjadi efisiensi lebih dari 32 persen, namun kami dapat menuntaskan revitalisasi untuk 16.169 satuan pendidikan,” Ujar Mendikdasmen Abdul Mu’ti.
Di Cianjur, revitalisasi mencakup berbagai jenjang pendidikan, mulai dari pendidikan anak usia dini hingga sekolah menengah dan pendidikan khusus. Meski demikian, masih terdapat lima satuan pendidikan yang proses pengerjaannya belum rampung, terdiri atas dua taman kanak-kanak dan tiga sekolah dasar, yang ditargetkan segera diselesaikan dalam waktu dekat.
Kemendikdasmen menyebut kendala penyelesaian pembangunan tersebut dipengaruhi faktor alam dan kondisi geografis. Cuaca hujan serta jarak lokasi yang relatif jauh menjadi tantangan dalam distribusi material dan pelaksanaan pekerjaan di lapangan.
“Beberapa revitalisasi yang belum selesai tersebut karena faktor alam atau geografis, misalnya ketika pengerjaan terjadi cuaca hujan, dan serta jarak yang cukup jauh, sehingga berpengaruh terhadap pengiriman material,” ujarnya.
Selain berfokus pada perbaikan infrastruktur sekolah, program revitalisasi juga diarahkan agar memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Pelibatan tenaga kerja lokal dan pemanfaatan material dari wilayah setempat diharapkan mampu mendorong pergerakan ekonomi sekaligus memperkuat keterlibatan masyarakat dalam pembangunan pendidikan.
(Tim media)