Kabupaten Bogor – Pada Rabu (7/10/2026), Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) 7 Bogor menjadi ruang perjumpaan antara kebijakan pendidikan nasional dan praktik pendidikan yang tumbuh dalam keseharian anak-anak.
Kunjungan kerja sinergis Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dipimpin langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Sugiono, dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. Rombongan turut didampingi oleh Dirjen PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah beserta jajaran, Bupati Kabupaten Bogor beserta jajaran, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor beserta jajaran, Universitas Negeri Jakarta (UNJ), serta para undangan terkait. Kunjungan ini bukan semata-mata untuk melihat bagaimana sebuah sekolah menjalankan proses pembelajaran. Lebih jauh, kunjungan ini menjadi kesempatan untuk menyaksikan bagaimana pendidikan hadir dalam kehidupan anak: bagaimana mereka diberi ruang untuk berpikir, mencoba, menemukan, berkarya, berkolaborasi, dan perlahan mengenali siapa dirinya serta apa yang dapat ia berikan bagi lingkungannya.
Sekitar pukul 12.00 WIB, rombongan tiba di SNT 7 Bogor dan disambut dengan penuh semangat melalui penampilan kreasi siswa berupa olahraga Pencak Silat. Sambutan tersebut bukan sekadar pertunjukan. Ia menjadi simbol bahwa pendidikan memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada pencapaian akademik. Di dalamnya terdapat ketangguhan, kedisiplinan, keberanian, kecintaan terhadap budaya, serta pembentukan karakter.
SNT 7 Bogor berangkat dari keyakinan bahwa pendidikan bukanlah sekadar proses memenuhi kepala anak dengan pengetahuan. Pendidikan adalah proses menyalakan rasa ingin tahu, menumbuhkan keberanian untuk mencoba, membangun kemampuan untuk bekerja bersama, serta menumbuhkan keyakinan bahwa setiap anak memiliki potensi untuk menjadi manusia yang berarti bagi dirinya, keluarga, masyarakat, dan bangsa. Atas semangat tersebut, rangkaian kunjungan diarahkan pada tiga agenda utama.
1. Menyaksikan Pembelajaran Berlandaskan STEAMS
Menteri dan rombongan meninjau proses pembelajaran di kelas X A, X B, VII A, dan VII B yang menerapkan pendekatan STEAMS (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics and Sports). Suasana kelas memperlihatkan wajah pembelajaran yang hidup. Siswa tidak hanya duduk menerima penjelasan, tetapi terlibat dalam proses berpikir dan berkarya. Mereka berdiskusi, mencoba, membuat, menguji, memperbaiki, dan kemudian menjelaskan kembali apa yang telah mereka temukan. Berbagai model dan proyek dikembangkan untuk mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan, di antaranya Modul Teknologi Tapal Batas dan Site Plan Ruang Terbuka.
Melalui STEAMS, batas-batas antarbidang ilmu menjadi lebih cair. Sains bertemu teknologi, teknologi berkelindan dengan seni, matematika hadir untuk menjawab persoalan nyata, dan olahraga membangun ketangguhan tubuh serta karakter. Semuanya bertemu dalam satu tujuan: membentuk anak yang mampu berpikir, mencipta, bekerja sama, beradaptasi, dan memecahkan persoalan kehidupan.
2. Gallery Walk: Menghargai Jejak Proses Belajar
Perjalanan kemudian dilanjutkan melalui Gallery Walk, yang menampilkan beragam karya dan dokumentasi perjalanan belajar siswa, mulai dari tahap pra-study hingga proses pembelajaran terakhir pada awal Oktober 2026. Berbagai karya hadir dalam beragam bentuk, antara lain Model Atom, Model Teknologi Tapal Batas, Game Interaktif, Game Pengelolaan Sampah, Film Pendek, Lukisan, dan berbagai karya lainnya.
Para siswa dengan antusias menjelaskan hasil karya yang mereka buat dan proses di balik karya mereka kepada para pengunjung yang hadir. Dari setiap penjelasan terlihat bahwa yang paling berharga bukan semata-mata produk akhirnya, tetapi perjalanan panjang yang menyertainya: bagaimana sebuah gagasan lahir, dikembangkan, mengalami kesulitan, diperbaiki, dan akhirnya diwujudkan menjadi sebuah karya.
Karena itu, Gallery Walk bukan sekadar ruang untuk memamerkan hasil belajar. Ia adalah ruang untuk menghargai proses. Setiap karya menyimpan jejak perjuangan, kegigihan, rasa ingin tahu, kerja sama, bahkan kegagalan yang kemudian menjadi bagian penting dari keberhasilan.
3. Sambutan dan Dialog Bersama Siswa SNT se-Indonesia
Agenda berikutnya berlangsung di aula melalui sambutan dan dialog bersama siswa Sekolah Nasional Terintegrasi dari seluruh Indonesia secara daring. Kegiatan ini diikuti oleh 17 Sekolah Nasional Terintegrasi dari berbagai wilayah Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Menko PMK dan Mendikdasmen menyampaikan arahan serta motivasi kepada seluruh siswa SNT untuk terus belajar, berani bermimpi, dan mempersiapkan diri menjadi generasi yang akan menentukan masa depan Indonesia. Setelah itu dilakukan dialog interaktif dengan siswa dari berbagai provinsi. Mereka diberi ruang untuk bertanya, menyampaikan gagasan, serta berbagi pengalaman. Antusiasme mereka memperlihatkan sesuatu yang sederhana namun sangat penting: anak-anak tidak hanya membutuhkan ruang untuk belajar, tetapi juga ruang untuk didengar.
Jejak yang Ditinggalkan Pendidikan
Pada penghujung kegiatan, diserahkan dua buku kompilasi karya siswa SNT 7 Bogor kepada Menko PMK dan Mendikdasmen. Dua buku tersebut berjudul “Jejak Juang dan Jejak Syukur” serta “Jejak Belajar Kami.”
Kedua judul tersebut bukan sekadar nama sebuah buku. Ia menjadi cermin dari perjalanan pendidikan yang sedang dibangun di SNT 7 Bogor. “Jejak Juang dan Jejak Syukur” mengingatkan bahwa setiap pencapaian selalu memiliki perjuangan di belakangnya. Tidak ada keberhasilan yang hadir begitu saja. Di dalamnya ada proses, ketekunan, kesabaran, dukungan, dan orang-orang yang hadir menemani perjalanan. Pada saat yang sama, rasa syukur mengajarkan anak untuk tidak hanya melihat apa yang telah dicapai, tetapi juga menghargai kesempatan untuk belajar, orang-orang yang telah mendampingi, serta perjalanan yang telah dilalui.
Sementara itu, “Jejak Belajar Kami” menjadi pengingat bahwa pendidikan pada akhirnya adalah sebuah perjalanan yang meninggalkan jejak. Jejak itu tidak hanya tertulis dalam buku atau tersimpan dalam nilai rapor. Ia tertanam dalam cara seseorang berpikir, bersikap, mengambil keputusan, memperlakukan orang lain, menghadapi persoalan, dan memandang masa depan.
Karena itulah, pendidikan sesungguhnya bukan hanya tentang apa yang anak ketahui, tetapi juga tentang siapa yang kemudian ia tumbuh menjadi.
Kunjungan kerja ke SNT 7 Bogor memberikan gambaran bahwa sekolah semestinya bukan hanya tempat anak belajar tentang dunia, tetapi juga tempat anak belajar hidup di dalam dunia. Di sekolah, anak tidak hanya perlu belajar menjawab pertanyaan, tetapi juga diberi keberanian untuk mengajukan pertanyaan. Tidak hanya belajar menghafal, tetapi belajar memahami, menghubungkan, dan mencipta. Tidak hanya belajar menyelesaikan tugas sendiri, tetapi belajar bekerja bersama. Tidak hanya mengejar keberhasilan pribadi, tetapi belajar memahami bahwa dirinya adalah bagian dari masyarakat dan memiliki tanggung jawab untuk memberi manfaat bagi lingkungan di sekitarnya. Di situlah pendidikan menemukan maknanya yang paling dalam.
Pendidikan bukan hanya mempersiapkan anak untuk menghadapi masa depan. Pendidikan juga membentuk manusia yang kelak akan menciptakan masa depan itu sendiri.Inilah filosofi yang menjadi ruh Sekolah Nasional Terintegrasi: membangun manusia secara utuh—manusia yang memiliki pengetahuan, karakter, keterampilan, kepedulian, kreativitas, ketangguhan, dan keberanian untuk menghadapi perubahan.
Pada akhirnya, SNT 7 Bogor bukan sekadar tentang sebuah bangunan, ruang kelas, atau kumpulan program pendidikan. SNT adalah tentang sebuah gagasan tentang manusia dan masa depan.Sebuah keyakinan bahwa ketika pendidikan dirancang secara terintegrasi, berpihak pada anak, dekat dengan kehidupan, memberi ruang bagi kreativitas, dan membuka kesempatan bagi setiap potensi untuk tumbuh, maka sekolah tidak lagi sekadar menjadi tempat belajar. Sekolah dapat menjadi tempat tumbuhnya harapan. Harapan bagi seorang anak untuk mengenali dirinya. Harapan bagi keluarga untuk melihat masa depan yang lebih baik.Harapan bagi masyarakat untuk melahirkan generasi yang peduli dan mampu memberi arti. Dan pada akhirnya, harapan bagi Indonesia untuk memiliki generasi yang tidak hanya cerdas dalam berpikir, tetapi juga kuat dalam karakter, luas dalam wawasan, lembut dalam sikap, dan teguh dalam memberikan kontribusi bagi bangsa.
Kabupaten Bogor, 7 Oktober 2026 — Di SD Negeri Cirimekar 02, Kabupaten Bogor, ruang kelas yang sebelumnya mengalami kerusakan kini telah diperbaiki, dan pembelajaran berlangsung dengan dukungan layar interaktif. Di sekolah tersebut, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mendampingi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Sugiono, meninjau langsung pelaksanaan program prioritas pemerintah di bidang pendidikan, Rabu (7/10).
Kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat hasil Revitalisasi Satuan Pendidikan dan pemanfaatan program Digitalisasi Pembelajaran. Menko PMK dan Mendikdasmen melihat kondisi sekolah sebelum dan sesudah revitalisasi, mengamati proses pembelajaran di kelas, serta makan bersama anak-anak melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Mendikdasmen, Abdul Mu’ti, mendampingi Menko PMK, Sugiono, saat melakukan kunjungan kerja di SD Negeri Cirimekar 02 Kab. Bogor, pada Rabu (7/10), untuk meninjau hasil Revitalisasi Satuan Pendidikan dan pemanfaatan program Digitalisasi Pembelajaran. (Fotografer: Ikram)
Kedatangan kedua menteri disambut antusias oleh para murid. Anak-anak tampak bersemangat menyapa dan bersalaman, sekaligus menunjukkan ruang belajar mereka yang kini terasa lebih nyaman.
Menteri Mu’ti turut mengingatkan para murid untuk memanfaatkan lingkungan belajar yang semakin baik dengan meningkatkan semangat belajar. “Kalau sekolahnya bagus, harus rajin belajar,” ucapnya.
Kepala SD Negeri Cirimekar 02, Bagus Eko Kurniawan, mengatakan kondisi sekolah sebelum direvitalisasi cukup memprihatinkan. Ruang kelas mengalami kebocoran, plafon rusak berat, dan lantai juga mengalami kerusakan. Melalui program revitalisasi dengan nilai bantuan Rp951.543.177, sekolah mendapatkan rehabilitasi tiga ruang kelas dan ruang UKS, pembangunan toilet beserta sanitasinya, serta pembangunan ruang administrasi.
Perbaikan tersebut, kata Bagus, tidak hanya mengubah kondisi fisik sekolah, tetapi juga membuat kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dengan lebih baik. Guru, murid, dan orang tua murid turut menyambut perubahan tersebut.
“Revitalisasi membawa dampak yang signifikan terhadap sarana dan prasarana di sekolah kami, sehingga pembelajaran di sekolah pun berjalan dengan baik,” ungkap Bagus.
Hal senada diungkapkan oleh para murid. Ketika ditanya mengenai kondisi sekolah setelah direvitalisasi, mereka dengan semangat mengatakan lebih senang karena kini memiliki ruang belajar yang lebih nyaman. Bagi mereka, perubahan sederhana yang terlihat pada kelas menjadi sesuatu yang langsung mereka rasakan dalam keseharian.
Salah satu murid kelas VI, Muhammad Ghazy Alfarizki, mengatakan ruang belajar yang telah diperbaiki membuat suasana belajar menjadi lebih nyaman dibandingkan sebelumnya. “Sekarang lebih nyaman!” ujar Ghazy.
Selain revitalisasi, SD Negeri Cirimekar 02 juga menerima program Digitalisasi Pembelajaran berupa Interactive Flat Panel (IFP). Menko PMK melihat langsung bagaimana perangkat tersebut digunakan dalam pembelajaran. Para murid tampak mengikuti kegiatan dengan antusias, menyimak materi yang ditampilkan melalui layar, dan berinteraksi selama proses pembelajaran.
Guru kelas V, Satya Dewanta, mengatakan IFP telah dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran selama sekitar satu tahun. Mata pelajaran IPAS menjadi salah satu yang paling sering memanfaatkan perangkat tersebut, antara lain untuk memvisualisasikan bagian tubuh, bunyi, cahaya, dan berbagai materi lainnya.
Menurut Satya, penggunaan IFP membuat pembelajaran terasa lebih dekat dengan keseharian anak-anak yang sudah terbiasa berinteraksi dengan perangkat digital. “Mereka lebih berani mengungkapkan pendapat. Mereka lebih terpantik lagi motivasinya untuk belajar dengan adanya IFP ini,” ungkapnya.
Kunjungan ke SD Negeri Cirimekar 02 menunjukkan bagaimana program revitalisasi dan digitalisasi pembelajaran hadir secara langsung di lingkungan sekolah. Perbaikan ruang belajar memberikan kenyamanan bagi murid dan guru, sementara pemanfaatan teknologi membuka pengalaman belajar yang lebih interaktif bagi peserta didik. (Penulis: Stephanie / Editor: Ririn)
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Depok, Jawa Barat, 7 Oktober 2026 – International Mathematics and Science Olympiad (IMSO) ke-23 resmi ditutup di Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Depok, Jawa Barat, Selasa (6/10). Penutupan ini menjadi momentum apresiasi bagi para peserta sekaligus menegaskan pentingnya penguatan fondasi matematika dan sains, penalaran, serta kemampuan pemecahan masalah.
Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Manajemen dan Kelembagaan, Didik Suhardi, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah mengikuti rangkaian IMSO ke-23. Menurutnya, seluruh peserta merupakan anak-anak muda yang telah mempersiapkan diri untuk menjadi yang terbaik.
“Saya mengucapkan selamat kepada para peserta yang telah meraih prestasi luar biasa dan medali emas. Bagi kami, seluruh peserta adalah anak-anak muda hebat yang telah mempersiapkan diri untuk menjadi yang terbaik,” ujar Didik.
SKM Bidang Manajemen dan Kelembagaan, Didik Suhardi, saat menyampaikan sambutan dalam penutupan IMSO-23 di PPSDM Kemendikdasmen, Depok, Jawa Barat, Selasa (6/10). (Fotografer: Laili)
Ia mengatakan, selama enam hari pelaksanaan IMSO ke-23, berbagai kegiatan telah sukses dijalankan, mulai dari seminar internasional, malam kebudayaan, hingga wisata edukasi ke Taman Mini Indonesia Indah. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Ketua Umum IMSO, dewan juri, serta seluruh panitia dan sukarelawan yang telah bekerja keras hingga kompetisi berjalan lancar.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum IMSO, Raden Ridwan Hasan Saputra, mengatakan IMSO bukan sekadar kompetisi akademik. Menurutnya, selama pelaksanaan kompetisi, para peserta juga menunjukkan sportivitas, ketangguhan, serta semangat persahabatan global.
“IMSO jauh lebih dari sekadar kompetisi. Ini adalah sebuah keluarga besar internasional yang dipersatukan oleh semangat penemuan dan rasa saling menghormati,” ujar Ridwan.
Ia menilai keberanian peserta untuk tampil di panggung internasional, ketekunan menghadapi setiap soal, serta persahabatan yang terjalin merupakan pencapaian yang jauh lebih bernilai daripada medali. Ia juga menyebut para peserta sebagai duta sains dan matematika yang diharapkan dapat membawa pengalaman untuk membangun dunia yang lebih cerah dan bersatu.
Dari sisi akademik, laporan Komite Akademik Bidang Sains menunjukkan bahwa peserta secara umum memiliki pemahaman yang baik terhadap berbagai konsep sains. Namun, peserta masih perlu memperdalam konsep dan memahami penerapannya secara lebih luas. Juri menemukan sejumlah kekeliruan konsep pada materi penyajian grafik, gravitasi dan percepatan, arus dan hambatan listrik, penguapan dan kondensasi, serta perbedaan unsur, senyawa, dan campuran.
Pada tes eksperimen, kemampuan komunikasi dan kerja sama tim peserta mendapat apresiasi. Namun, sebagian peserta masih lebih mengandalkan pengamatan dibandingkan menerapkan konsep ilmiah. Beberapa peserta juga masih mengalami kesulitan mengolah data menjadi grafik yang tepat. Meski demikian, juri menilai IMSO ke-23 merupakan salah satu kompetisi yang paling ketat, dengan selisih nilai yang sangat tipis antara peraih medali perak dan perunggu.
Sementara itu, Komite Akademik Bidang Matematika melaporkan bahwa IMSO ke-23 menghadirkan 207 matematikawan muda dari 23 negara. Soal yang diberikan dirancang untuk menguji kelancaran matematis, penalaran logis, pemahaman konseptual, dan keterampilan pemecahan masalah secara kreatif melalui tiga bagian ujian, yakni isian singkat, uraian, dan eksplorasi.
Data kinerja tahun ini menunjukkan rerata skor keseluruhan sebesar 24,43 dengan skor individu tertinggi mencapai 65. Tingkat kesulitan soal disebut jauh lebih tinggi dibandingkan IMSO sebelumnya. Namun, peningkatan tersebut dirancang untuk mendorong peserta keluar dari zona nyaman dan berhadapan dengan persoalan baru yang menantang.
Para peserta juga didorong untuk tidak mengukur keberhasilan hanya berdasarkan skor, tetapi menjadikan IMSO sebagai tonggak evaluasi dalam perjalanan belajar matematika. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi katalis untuk mengasah kemampuan pemecahan masalah sehingga peserta dapat kembali dengan lebih kuat, lebih bijak, dan lebih siap menghadapi kompetisi mendatang. (Penulis: Rayhan/Editor: Ririn)
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Bogor, 7 Oktober 2026 – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menekankan pentingnya pendidikan dalam meningkatkan kesadaran dan mendorong aksi nyata pelestarian keanekaragaman hayati. Hal tersebut disampaikan dalam pembukaan The 5th International Conference on Tropical Biology (ICTB) 2026 di Bogor, yang mempertemukan peneliti, akademisi, pendidik, pembuat kebijakan, mahasiswa, dan pemangku kepentingan dari berbagai negara, Senin (5/10).
Dalam kesempatan tersebut, Staf Ahli Bidang Teknologi Pendidikan, Kemendikdasmen, Moch. Abduh, menyampaikan bahwa keanekaragaman hayati merupakan fondasi kehidupan yang menopang sistem pangan, perekonomian, warisan budaya, dan keseimbangan ekologi. Namun, kehilangan keanekaragaman hayati, perubahan iklim, degradasi lahan, serta pembangunan yang tidak berkelanjutan menjadi tantangan yang membutuhkan kerja sama lintas negara, disiplin ilmu, dan generasi. Menurutnya, pendidikan menjadi salah satu instrumen penting untuk membangun masa depan yang berkelanjutan.
Abduh menjelaskan bahwa pendidikan tidak hanya berfungsi untuk menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membentuk cara berpikir, sikap, dan hubungan manusia dengan lingkungan. Oleh karena itu, pembelajaran perlu memberikan pengalaman langsung agar peserta didik mampu memahami ekosistem serta berkontribusi dalam pelestarian alam. Ia menegaskan, “Sebuah sekolah juga tidak terpisah dari lingkungannya. Sebaliknya, lingkungan itu sendiri seharusnya menjadi ruang kelas hidup. Hutan, sungai, gunung, kawasan pesisir, dan taman nasional dapat dimanfaatkan sebagai ruang belajar untuk menghubungkan pengetahuan ilmiah dengan kondisi nyata,” ujarnya pada ICTB 2026 sekaligus acara peluncuran PROTIBAGURU (Program Praktik Baik Guru Berkelanjutan) di Bogor (5/10).
Sementara itu, Direktur SEAMEO BIOTROP, Edi Santosa, menyampaikan bahwa tantangan pelestarian keanekaragaman hayati tidak dapat diselesaikan oleh satu negara, lembaga, atau disiplin ilmu saja. Menurutnya, diperlukan keterhubungan antara sains, pendidikan, inovasi, kebijakan, dan kolaborasi regional.
Selain itu, Koordinator ICTB 2026, Dewi Suryani, menjelaskan bahwa konferensi ini menjadi wadah pertukaran pengetahuan dan pengembangan kolaborasi di bidang biologi tropis. ICTB 2026 menerima 51 makalah/karya penelitian, terdiri atas 43 presentasi lisan dan delapan presentasi poster. Kegiatan ini diikuti sekitar 200 peserta yang mencakup mahasiswa, guru, dan pemakalah dari sembilan negara, yaitu Aljazair, Australia, India, Indonesia, Malaysia, Filipina, Polandia, Tailan, dan Timor-Leste. Ia berharap konferensi ini dapat memperkuat kolaborasi untuk mendukung masa depan kawasan tropis yang berkelanjutan.
Dukungan terhadap kolaborasi lintas negara juga disampaikan oleh Deputy Director for Programme and Development, SEAMEO Secretariat, John Arnold Sasi Siena, yang menekankan bahwa strategi pelestarian, penelitian, dan tata kelola keanekaragaman hayati perlu melampaui batas geografis. Ia juga berharap ICTB 2026 menghasilkan keluaran konkret, termasuk rekomendasi kebijakan, publikasi ilmiah, dan jaringan regional untuk memperkuat kolaborasi jangka panjang.
Pada kesempatan yang sama, Presiden IPB University sekaligus anggota Governing Board SEAMEO BIOTROP dari Indonesia, Alim Setiawan, menambahkan bahwa pengetahuan ilmiah perlu diterapkan dalam kebijakan dan praktik nyata. Alim menuturkan bahwa upaya pelestarian membutuhkan pendidikan keanekaragaman hayati, literasi lingkungan, inovasi teknologi, serta kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah, lembaga penelitian, masyarakat, dan sektor swasta.
ICTB 2026 menjadi momentum untuk memperluas jejaring kolaborasi dan mempertemukan berbagai gagasan dalam menjawab tantangan pelestarian keanekaragaman hayati tropis. Hasil pertemuan tersebut diharapkan dapat membuka lebih banyak peluang kerja sama dalam penelitian, pendidikan, dan penerapan di masyarakat demi mendukung keberlanjutan lingkungan.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Jakarta, 7 Oktober 2026 — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat upaya pencegahan korupsi dan pembangunan budaya integritas di sektor pendidikan. Hal itu disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti sebagai respons atas penyampaian hasil Indeks Integritas Pendidikan 2026 oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), saat peluncuran Indeks Integritas Pendidikan Nasional, di Jakarta, Selasa (6/10).
Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyampaikan apresiasi kepada KPK atas kolaborasi serta hasil Indeks Integritas Pendidikan 2026 yang menjadi salah satu masukan guna memperbaiki kebijakan layanan pendidikan. Ia menegaskan, penguatan integritas pendidikan telah dilakukan melalui sejumlah kebijakan strategis yang sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk membangun bangsa yang jujur, berperilaku baik, serta memiliki budaya yang bersih dari korupsi.
“Pendidikan bukan sekadar proses administratif yang hanya untuk mengukur capaian akademik, tetapi juga proses untuk membangun karakter dan budaya bangsa. Salah satu karakter yang terus kita bangun adalah sikap kejujuran dan integritas,” ungkap Mendikdasmen.
Untuk mendukung hal tersebut, Kemendikdasmen terus melakukan penguatan sistem layanan publik yang semakin terbuka, akuntabel, dan mampu mencegah terjadinya praktik penyimpangan. Dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), Mendikdasmen menjelaskan bahwa Kemendikdasmen terus menyempurnakan sistem tersebut melalui kebijakan yang mengedepankan prinsip inklusif dan berkeadilan.
Kemendikdasmen juga turut memperkuat layanan pengaduan masyarakat melalui Unit Layanan Terpadu (ULT). Masyarakat diberikan akses untuk menyampaikan laporan dan aspirasi melalui berbagai saluran yang tersedia, termasuk kanal komunikasi langsung dengan pihak kementerian.
”Penguatan integritas juga kami lakukan melalui Pembelajaran Mendalam. Dengan pendekatan tersebut, kami tidak hanya mengarahkan murid untuk meningkatkan kemampuan akademik, namun juga memperkuat pendidikan karakter yang melibatkan empat pusat pendidikan, yakni sekolah, keluarga, masyarakat, dan media,” ujarnya.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, saat menyampaikan keynote speech dalam peluncuran Indeks Integritas Pendidikan Nasional di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (6/10). Fotografer: Destian
Upaya pembentukan karakter juga turut diperkuat melalui Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, penguatan layanan bimbingan dan konseling, serta berbagai program lainnya. Penguatan transparansi dan akuntabilitas juga dilakukan dalam penyaluran dana pendidikan yang terus disempurnakan melalui sistem yang semakin terbuka, akuntabel, dan berbasis digital.
Lebih lanjut, pada program Revitalisasi Satuan Pendidikan, Kemendikdasmen juga telah melakukan penyederhanaan proses sekaligus memperkuat akuntabilitas agar pelaksanaan pembangunan sekolah dapat menghasilkan kualitas hasil pekerjaan yang lebih baik. Dalam pelaksanaannya, program ini dilakukan dengan skema swakelola, dengan harapan juga mampu meningkatkan ekonomi bagi masyarakat di daerah.
Pada sektor Data Pokok Pendidikan (Dapodik), Mendikdasmen juga mendorong seluruh pihak untuk membangun budaya kejujuran dalam penyampaian data. Menurutnya, akurasi data yang tepat dapat berpengaruh pada penentuan arah kebijakan dan program agar memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat.
”Berbagai langkah yang telah kami lakukan merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk membangun tata kelola pendidikan yang semakin transparan, akuntabel, dan berintegritas. Dengan semangat tersebut, kami ingin layanan pendidikan dapat menjadi cerminan pembangunan budaya integritas dan pencegahan korupsi,” tutur Mendikdasmen.
Sementara itu, Ketua KPK, Setyo Budiyanto, menekankan bahwa masa depan Indonesia dapat dibangun dari aktivitas ruang kelas. Sudut sekolah bukan hanya tempat ilmu diajarkan, namun juga tempat karakter murid dibentuk dan tempat masa depan bangsa dimulai.
Kepada seluruh peserta acara, Setyo menegaskan bahwa pemberantasan korupsi harus dimulai dari ruang belajar. Baginya, penindakan korupsi merupakan hal penting, namun pencegahan melalui pembangunan karakter adalah kunci utama dalam menentukan masa depan bangsa.
”Sekolah boleh melahirkan orang cerdas, kampus boleh melahirkan ahli. Tetapi hanya pendidikan yang berintegritas yang dapat melahirkan pemimpin yang dapat dipercaya,” tutup Setyo. (Penulis: Destian, Editor: Ririn, Seno)
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah