Jakarta, 2 September 2026 — Bagi guru sekolah menengah kejuruan (SMK), belajar di industri tidak berhenti pada pengalaman pribadi. Pengetahuan tentang teknologi, cara kerja industri, hingga budaya kerja yang diperoleh di Jerman akan dibawa pulang ke sekolah dan diterjemahkan menjadi pembelajaran yang lebih relevan bagi murid. Hal tersebut menjadi salah satu tujuan Program Magang Luar Negeri bagi Guru SMK Tahun 2026 yang diikuti 50 guru SMK selama tiga bulan di Jerman. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) menggandeng Technische Universität Dresden (TU Dresden) dan Festo sebagai mitra pendidikan dan industri dalam pelaksanaan program.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengatakan pengalaman yang diperoleh para guru selama berada di Jerman perlu memberikan manfaat lebih luas setelah mereka kembali ke Indonesia. Menurutnya, pengetahuan yang diperoleh peserta dapat ditransformasikan kepada guru SMK lainnya sehingga dampaknya tidak berhenti pada 50 peserta program.
“Setelah memperoleh pengalaman dan keahlian selama tiga bulan, ada trickle down effect atau ada proses di mana Bapak dan Ibu sekalian juga dapat mentransformasikan pengalamannya pada guru-guru SMK yang lainnya, sehingga dapat terjadi peningkatan mutu yang berjalan seiring dengan pengalaman Bapak dan Ibu sekalian magang di Jerman,” ujar Mendikdasmen saat melepas peserta Program Magang Luar Negeri Guru SMK Tahun 2026 di Gedung A Kemendikdasmen, Jakarta, Selasa (1/9).
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, mengatakan pengalaman internasional menjadi bagian penting dalam pengembangan profesional guru SMK. Menurutnya, pembelajaran di lingkungan pendidikan dan industri menjadi jembatan untuk mendekatkan sekolah dengan kebutuhan dunia kerja.
“Keberangkatan ini penting untuk meningkatkan kompetensi, kapasitas profesional, dan sekaligus pengalaman belajar dan praktik bagaimana di dunia pendidikan dan juga di dunia industri,” ujar Tatang.
Tatang menambahkan, pengalaman peserta juga membuka peluang bagi SMK untuk membangun jejaring dengan industri, termasuk perusahaan Jerman yang beroperasi di Indonesia. Jejaring tersebut dapat berkembang menjadi kerja sama yang memberi manfaat bagi pembelajaran dan kesiapan lulusan.
Dari sisi industri, Festo turut memberikan pengalaman pembelajaran di bidang otomasi industri. Perwakilan Festo, Safri Susanto, mengatakan peserta akan memperoleh gambaran mengenai perkembangan teknologi yang digunakan dalam manufaktur, termasuk otomasi dan mekatronika. Menurut Safri, kolaborasi Festo dengan pendidikan vokasi Indonesia telah berlangsung sejak 2015. Setelah sempat terhenti akibat pandemi, kerja sama tersebut kembali dilanjutkan pada 2026 melalui program magang guru SMK.
Bagi peserta, kesempatan tersebut bukan hanya tentang mengenal sistem pendidikan vokasi di negara lain. Mereka juga akan mempelajari perkembangan teknologi dan praktik industri yang dapat diterapkan sesuai kebutuhan sekolah masing-masing.
Guru Teknik Otomasi Industri SMK Negeri 1 Cilegon, Banten, Lingganu Rahman, melihat program tersebut sebagai kesempatan untuk membawa pembelajaran vokasi Indonesia agar semakin mampu bersaing secara global. Ia secara khusus ingin mendalami perkembangan teknologi kontrol otomasi selama berada di Jerman.
“Saya sangat bersemangat untuk mengikuti program ini, karena saya rasa ini bisa meningkatkan pendidikan vokasi di negeri kita agar mampu bersaing di tingkat global,” ujar Lingganu.
Sepulang dari Jerman, Lingganu berencana membagikan pengetahuan yang diperolehnya kepada rekan-rekan sejawat, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Menurutnya, pengalaman tersebut akan lebih berarti jika dapat digunakan bersama untuk mengembangkan pembelajaran.
“Saya akan mendiseminasikan praktik-praktik baik yang saya pelajari di sana kepada rekan-rekan sejawat, di lingkungan internal maupun eksternal,” tuturnya.
Hal serupa disampaikan Guru SMK Negeri 1 Sanga-Sanga, Kalimantan Timur, Astri Damayanti. Ia ingin menerjemahkan pengalaman magang menjadi perubahan yang dirasakan langsung oleh murid dan sekolah.
“Perubahan yang kami bawa itu bisa berdampak langsung kepada siswa kami, sekolah kami, maupun daerah kami untuk membawa vokasi Indonesia menjadi lebih baik,” kata Astri.
Menurut Astri, salah satu hal penting yang ingin dipelajari adalah bagaimana sekolah membangun hubungan yang lebih erat dengan industri. Dengan demikian, pembelajaran di SMK tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki keterampilan teknis, tetapi juga memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
“Yang kami harapkan jelas bagaimana penerapannya nanti di sekolah, bagaimana cara kita bekerja sama dengan perusahaan sehingga hasil lulusan-lulusan SMK itu tidak hanya memiliki keterampilan berstandar internasional, tapi kami harapkan bisa bersaing di tingkat internasional,” ujarnya.
Program ini menjadi ruang bagi guru untuk membawa pengetahuan baru tentang teknologi, praktik kerja, dan hubungan dengan industri ke sekolah masing-masing. Pengalaman tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam pembelajaran yang lebih dekat dengan kebutuhan dunia kerja, sehingga murid SMK tidak hanya belajar keterampilan, tetapi juga mengenal standar dan cara kerja industri global.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Jakarta, 3 September 2026 — Isu kekerasan dan paparan paham ekstremisme di kalangan anak menjadi perhatian bersama berbagai pihak. Untuk memperkuat langkah pencegahan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menggelar kegiatan Penguatan Peran Komite Sekolah, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan dalam Pencegahan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme di Satuan Pendidikan. Kegiatan ini menjadi ruang untuk membangun komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman sekaligus mendukung tumbuh kembang anak.
“Forum ini menjadi sangat penting untuk melakukan langkah bersama, gerakan bersama, menciptakan lingkungan yang aman dan lingkungan yang memungkinkan anak-anak kita dapat tumbuh dengan gembira dalam mencapai cita-cita,” ujar Menteri Pendididikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, di Jakarta, Rabu (2/9).
Menurutnya, upaya tersebut sejalan dengan kebijakan Presiden dalam membangun budaya ASRI, yaitu Aman, Sehat, Resik, dan Indah. Selain itu, Kemendikdasmen juga terus mendorong terwujudnya budaya sekolah yang aman dan nyaman sesuai dengan kebijakan yang berlaku.
“Kami berupaya untuk menjadikan sekolah yang aman dan nyaman itu sebagai budaya dan lingkungan yang memungkinkan anak-anak kita dapat belajar dengan sebaik-baiknya dan dapat merasakan suasana kekeluargaan di dalam lingkungan sekolah mereka. Kami menggunakan pendekatan yang humanis, inklusif, dan partisipatif,” tuturnya.
Mendikdasmen menjelaskan bahwa sejak awal Kemendikdasmen menekankan pentingnya sinergi empat pusat pendidikan, yaitu lingkungan sekolah, keluarga, masyarakat, dan media. Keempat lingkungan tersebut memiliki peran dalam mendampingi anak, terutama pada masa pertumbuhan ketika mereka sedang membangun identitas dan mencari ruang untuk berekspresi.
Dalam konteks keluarga, Mendikdasmen menilai hubungan antara orang tua dan anak menjadi bagian penting dari pencegahan. “Tidak hanya educate, tetapi juga nurture. Tidak hanya mendidik, tetapi juga membimbing. Inilah yang menjadi penting, bagaimana membangun relasi dan keharmonisan keluarga sebagai faktor untuk mendukung program ini,” ujarnya.
Ia juga mengaitkan upaya tersebut dengan Program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, khususnya kebiasaan bermasyarakat. Menurutnya, anak perlu tetap memiliki ruang untuk berinteraksi, bergaul, dan menjadi bagian dari lingkungan sosialnya. Mendikdasmen menjelaskan bahwa sebagian anak yang terpapar paham kekerasan dan radikalisme memiliki keterbatasan ruang sosial dan ekspresi. Karena itu, anak perlu didampingi melalui pendekatan sosial yang humanis serta diberikan ruang aktualisasi yang edukatif, bermanfaat, dan produktif sesuai bakat dan minat mereka.
“Kita mendampingi mereka karena suasana aman, perasaan terlindungi, dan rasa di mana mereka mendapatkan pengakuan itu menjadi modal dan bekal yang penting untuk kita mendidik anak-anak kita menjadi generasi Indonesia yang hebat, generasi Indonesia yang kuat,” kata Mendikdasmen.
Sementara itu, Kepala BNPT, Eddy Hartono, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAN PE) yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2026.
Ia mengungkapkan bahwa tantangan pencegahan semakin penting diperhatikan mengingat perkembangan paparan paham kekerasan di kalangan anak. Berdasarkan data aparat penegak hukum, sejak Januari hingga 26 Agustus 2026 terdapat 620 anak yang masuk dalam kategori terpapar paham kekerasan maupun radikalisme. Paparan tersebut antara lain terjadi melalui berbagai ruang digital, seperti media sosial, podcast, forum, dan platform lainnya.
Menurut Eddy, kondisi tersebut membutuhkan langkah bersama yang tidak hanya dilakukan di tingkat pusat. Setelah deklarasi komitmen, BNPT akan melakukan intervensi ke 38 provinsi sebagai bagian dari upaya pencegahan yang lebih luas.
“Hari ini kita hadir, kita sama-sama membuat komitmen. Nanti setelah komitmen deklarasi ini, kami akan melakukan intervensi ke 38 provinsi,” ujar Eddy.
Kegiatan tersebut juga diisi dengan deklarasi komitmen bersama sebagai bentuk kesepahaman untuk memperkuat peran komite sekolah, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat dalam mencegah ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme di lingkungan pendidikan.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Jakarta, 3 September 2026 — Bagi Luvidi Pranawa Alghari, prestasi tidak datang secara instan. Ketertarikannya pada matematika dan pemrograman sejak sekolah dasar membawanya mengikuti berbagai ajang talenta, mulai dari Olimpiade Sains Nasional (OSN) hingga meraih medali emas International Olympiad in Artificial Intelligence (IOAI).
Murid kelas 11 SMAS Pribadi Beji, Depok, Jawa Barat, tersebut kini tercatat sebagai peraih medali emas IOAI 2026 setelah sebelumnya meraih medali perak pada IOAI 2025. Capaian tersebut melengkapi perjalanan prestasinya yang dimulai dari tingkat nasional, dengan meraih medali perak OSN Jenjang Pendidikan Dasar cabang ajang matematika pada 2023 dan medali emas OSN Jenjang Pendidikan Menengah cabang ajang Informatika pada 2024.
Perjalanan Luvidi menunjukkan bahwa ajang talenta nasional dapat menjadi salah satu pintu masuk bagi murid untuk mengembangkan potensi hingga ke tingkat internasional. Prestasi yang diraih dalam kompetisi nasional kemudian berlanjut dengan kesempatan mengikuti seleksi dan pembinaan untuk menjadi delegasi Indonesia pada ajang internasional.
“Dari SD, saya suka ikut lomba matematika. Tahun 2023, saya ikut OSN SMP cabang ajang matematika dan mendapat medali perak. Tahun 2024, saya mendapat medali emas OSN cabang ajang informatika. Lalu, saya ikut seleksi untuk delegasi IOAI 2025. Saya lolos dan mendapat medali perak di Beijing. Awal tahun 2026 ini, saya diundang untuk ikut seleksi IOAI 2026 dan mendapat medali emas di Astana, Kazakshtan,” tutur Luvidi.
Ketertarikan Luvidi terhadap kecerdasan artifisial juga tumbuh dari minatnya pada matematika dan pemrograman. Ketika mengikuti proses pembinaan dan seleksi IOAI, ia mulai mempelajari lebih dalam kecerdasan artifisial hingga akhirnya menemukan ketertarikan baru. “Karena awalnya saya tertarik pada matematika dan pemrograman, jadi saya mencoba ikut seleksi IOAI. Di sana, saya belajar lebih banyak tentang kecerdasan artifisial dan saya tertarik,” ujarnya.
Perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Salah satu tantangan yang dihadapi Luvidi adalah masih terbatasnya soal-soal latihan untuk olimpiade kecerdasan artifisial dibandingkan olimpiade lainnya. Untuk mengatasinya, Luvidi membangun kebiasaan belajar secara rutin. Ia berusaha belajar hampir setiap hari atau memanfaatkan waktu luang. Selain itu, ia bergabung dengan sejumlah komunitas olimpiade kecerdasan artifisial yang anggotanya berasal dari berbagai negara. “Usahakan rutin belajar hampir setiap hari atau saat ada waktu luang. Saya juga ikut beberapa komunitas olimpiade kecerdasan artifisial yang anggotanya dari berbagai negara,” kata Luvidi.
Pembinaan Membuka Ruang untuk Berkembang Dalam perjalanan menuju prestasi internasional, pembinaan menjadi bagian penting bagi Luvidi. Melalui pembinaan internasional yang dilakukan oleh Puspresnas, ia tidak hanya mendapatkan pembelajaran dari para ahli, tetapi juga bertemu dengan murid dari seluruh Indonesia yang memiliki ketertarikan serupa. “Saat mengikuti pembinaan, saya bertemu banyak teman dengan ketertarikan yang serupa. Selain itu, banyak diajarkan oleh para ahli di bidangnya,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut menjadi gambaran bahwa pengembangan talenta tidak berhenti setelah murid meraih prestasi di tingkat nasional. Capaian dalam ajang talenta dapat menjadi bagian dari proses panjang untuk mengidentifikasi, mengembangkan, dan mengaktualisasikan potensi murid melalui pembinaan yang berkelanjutan.
Hal tersebut sejalan dengan upaya Kemendikdasmen melalui Puspresnas dalam membangun ekosistem talenta murid. Berbagai ajang talenta nasional, seperti OSN, OPSI, FIKSI, LKS, O2SN, GSI, dan FLS3N, memberikan ruang bagi murid untuk mengembangkan minat dan bakat sesuai potensinya. Prestasi yang diraih kemudian dapat menjadi pintu masuk menuju berbagai program pembinaan dan kesempatan pengembangan di tingkat yang lebih tinggi.
Pada 2026, Puspresnas memfasilitasi talenta terbaik Indonesia untuk mengikuti 14 ajang internasional melalui proses seleksi dan pembinaan. Hingga September 2026, delegasi Indonesia yang telah dibina Puspresnas telah meraih 40 penghargaan internasional, terdiri atas enam medali emas, 12 medali perak, 18 medali perunggu, satu honorable mention, dan tiga penghargaan khusus.
“Prestasi murid tidak berhenti ketika kompetisi selesai. Capaian prestasi pada ajang talenta nasional menjadi pintu masuk bagi proses pembinaan berikutnya agar talenta yang telah teridentifikasi dapat terus berkembang,” tutur Kepala Pusat Prestasi Nasional, Kemendikdasmen, Maria Veronica Irene Herdjiono.
Perjalanan Luvidi menjadi salah satu contoh bagaimana prestasi pada ajang talenta nasional dapat berkembang menjadi prestasi internasional. Dari medali perak OSN matematika SMP pada 2023, medali emas OSN informatika pada 2024, medali perak IOAI 2025, hingga medali emas IOAI 2026, perjalanan tersebut menunjukkan proses pengembangan talenta yang berlangsung secara bertahap.
Bagi Luvidi, perjalanan prestasi juga tidak terlepas dari dukungan banyak pihak. Keluarga menjadi pendukung utama, ditambah dukungan sekolah melalui pembinaan OSN, guru, pembina, dan teman-teman. Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah dapat belajar sekaligus bertemu dengan teman-teman selama pelatnas.
Kisah Luvidi memperlihatkan bahwa keberhasilan seorang murid tidak hanya ditentukan oleh satu kompetisi. Ada proses panjang yang mencakup pencarian minat, pengembangan kemampuan, kesempatan berkompetisi, pembinaan, hingga aktualisasi talenta di tingkat internasional.
Melalui ekosistem tersebut, Kemendikdasmen terus berupaya memastikan prestasi murid menjadi awal dari kesempatan yang lebih luas. Ajang talenta nasional bukan sekadar ruang untuk mencari juara, melainkan bagian dari perjalanan untuk menemukan dan mengembangkan talenta terbaik Indonesia.“Isi waktu dengan kegiatan positif dan jangan mudah menyerah,” pesan Luvidi kepada Sobat Prestasi di seluruh Indonesia.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Jakarta, 3 September 2026 — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) resmi membuka Lomba Debat Indonesia (LDI) 2026 Tingkat Nasional Jenjang Pendidikan Menengah, Selasa (1/9). Ajang ini menjadi ruang bagi murid untuk mengembangkan kemampuan komunikasi dan berdebat sekaligus mengasah kemampuan berpikir kritis, logis, kepemimpinan, dan pengembangan karakter.
LDI merupakan salah satu bentuk aktualisasi Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 25 Tahun 2025 tentang Manajemen Talenta Murid. Melalui penyelenggaraan LDI, Puspresnas menyediakan ruang bagi murid untuk menunjukkan kemampuan dan kreativitas komunikasi dan berdebat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dengan mengangkat isu-isu global aktual.
“LDI tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga bagian dari ekosistem manajemen talenta yang mendorong pembinaan talenta secara berkelanjutan,” ujar Kepala Puspresnas, Kemendikdasmen, Maria Veronica Irene Herdjiono, dalam acara pembukaan LDI.
Irene menambahkan, antusiasme murid untuk mengikuti LDI juga menunjukkan peningkatan. Jumlah pendaftar pada 2025 tercatat sebanyak 12.780 peserta, sementara pada 2026 meningkat menjadi 17.115 peserta.
Peningkatan jumlah pendaftar tersebut mencapai 34 persen. Capaian ini menunjukkan semakin luasnya minat murid untuk mengembangkan kemampuan debat, komunikasi, berpikir kritis, dan menyampaikan gagasan melalui ajang talenta yang diselenggarakan Puspresnas.
Penyelenggaraan LDI Tingkat Nasional 2026 berlangsung pada 31 Agustus hingga 6 September 2026, secara daring. Kegiatan diikuti oleh 38 provinsi di Indonesia dan Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) di Arab Saudi, Malaysia, Tailan, dan Singapura, dengan mempertandingkan dua cabang ajang, yaitu Debat Bahasa Indonesia dan Debat Bahasa Inggris.
Setiap provinsi mengirimkan masing-masing tiga murid untuk cabang Debat Bahasa Indonesia dan tiga murid untuk Debat Bahasa Inggris. Dengan demikian, jumlah keseluruhan finalis LDI Tingkat Nasional 2026 mencapai 234 murid.
Salah satu peserta asal provinsi Sulawesi Utara, Neil Delen Walandow (SMA Negeri 9 Manado) menyampaikan tekadnya untuk meraih prestasi terbaik pada ajang LDI Tingkat Nasional cabang ajang Debat Bahasa Indonesia.
“Persiapan bersama tim cukup intensif dengan memperdalam isu-isu terkini, riset, dan sparring. Target utama kami juara satu dan tentunya pengalaman dari peserta-peserta terbaik dari seluruh Indonesia lainnya,” ucap Neil.
Begitu juga dengan Allesia Keiran The (SMA Bina Bangsa School Pantai Indah Kapuk) dari provinsi DKI Jakarta. Menurutnya, LDI Tingkat Nasional bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga ruang untuk terus belajar dan mengembangkan talentanya di bidang debat.
“Setiap hari kami latihan dan tim kami terus berkembang. Kami berusaha memberikan performa terbaik pada ajang LDI kali ini. Kami sangat bersyukur dengan terselenggaranya LDI Tingkat Nasional” ungkap Allesia.
Selain kompetisi, LDI 2026 juga memberikan apresiasi dan peluang pengembangan talenta lebih lanjut bagi para pemenang. Sebanyak 15 Best Speakers LDI Tingkat Nasional 2026 pada cabang ajang Debat Bahasa Inggris, yaitu peringkat 1 sampai dengan 15, akan memperoleh kesempatan mengikuti program pelatihan dan pembinaan MUN Academy yang difasilitasi oleh International Global Network.
Dari 15 peserta tersebut, selanjutnya akan dipilih tiga peserta terbaik untuk menjadi delegasi Indonesia pada AYIMUN 24 Malaysia, yang akan dilaksanakan pada 15 s.d. 18 Januari 2027.
Kesempatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas ruang pengembangan talenta murid melalui pengalaman dan pembinaan lanjutan. Dengan demikian, prestasi yang diraih dalam LDI dapat menjadi bagian dari perjalanan pengembangan talenta secara berkelanjutan.
Kemendikdasmen melalui Puspresnas, khususnya melalui LDI terus mendorong lahirnya murid yang tidak hanya unggul dalam kompetisi, tetapi juga mampu berpikir kritis, menyampaikan gagasan secara logis, memiliki wawasan luas dalam menghadapi berbagai persoalan di tingkat nasional maupun global, dan memperoleh keberlanjutan dalam pengembangan talenta di bidang debat.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Jakarta, 2 September 2026 — Usulan tambahan anggaran Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sebesar Rp157,76 triliun untuk Tahun Anggaran (TA) 2027 mendapat dukungan dari Komisi X DPR RI untuk dibahas lebih lanjut dalam Badan Anggaran.
“Kemendikdasmen secara resmi mengajukan usulan tambahan anggaran sebesar Rp157,76 triliun, untuk dukungan berbagai program prioritas nasional dan kementerian,” ujar Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR RI, pada Selasa (1/9).
Mendikdasmen menyampaikan bahwa Pagu Anggaran Kemendikdasmen TA 2027 sebelumnya sudah ditetapkan sebesar Rp61,10 triliun, meningkat Rp2,86 triliun dari Pagu Indikatif sebesar Rp58,24 triliun. Namun, menurutnya, penambahan pada fase Pagu Anggaran tersebut masih belum optimal untuk mendukung pelaksanaan berbagai program prioritas.
Pagu Anggaran sebesar Rp61,10 triliun tersebut sudah ditetapkan alokasinya melalui Surat Bersama Pagu Anggaran (SBPA) Kementerian Keuangan dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Pagu Anggaran yang sudah ditetapkan itu selanjutnya akan dibahas di Badan Anggaran beserta usulan tambahan anggaran sebesar Rp157,76 triliun untuk mendapatkan kesepakatan DPR RI.
“Penambahan ini masih jauh dari yang kami usulkan dan belum secara optimal dapat mendukung pelaksanaan program prioritas yang tepat sasaran demi mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua,” ujar Mendikdasmen.
Usulan tambahan anggaran Kemendikdasmen mendapat persetujuan Komisi X DPR RI untuk dibahas lebih lanjut dalam Badan Anggaran. Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Muhamad Nur Purnamasidi, menyatakan persetujuannya. “Kami Fraksi Partai Golongan Karya menyatakan setuju atas pagu anggaran Tahun Anggaran 2027 dan usulan tambahan anggarannya dengan berharap kualitas layanan pendidikan kita semakin meningkat di tahun-tahun berikutnya,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan oleh anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PAN, Hoerudin Amin. Ia menyampaikan terima kasih kepada Presiden RI dan Mendikdasmen atas upaya memperjuangkan harapan bagi para guru di Indonesia serta menyatakan persetujuan terhadap pagu dan usulan tambahan anggaran Kemendikdasmen.
“Kami Fraksi PAN menyampaikan persetujuan terhadap pagu dan usulan tambahan anggarannya, semoga terealisasi dan menjadi kenyataan,” ungkapnya.
Dalam paparannya, Mendikdasmen menjelaskan bahwa usulan tambahan anggaran tersebut terdiri atas Program Wajib Belajar 13 Tahun sebesar Rp115,25 triliun, Program Kualitas Pengajaran dan Pembelajaran Rp35,81 triliun, Program Pendidikan dan Pelatihan Vokasi Rp3,69 triliun, Program Pembangunan Kebahasaan dan Kesastraan Rp235,73 miliar, serta Program Dukungan Manajemen Rp2,77 triliun.
Lebih lanjut, Mendikdasmen menuturkan bahwa salah satu tujuan usulan tambahan anggaran tersebut adalah untuk perluasan sasaran revitalisasi satuan pendidikan hingga 100 ribu satuan pendidikan. “Perluasan sasaran revitalisasi satuan pendidikan sebanyak 100 ribu satdik sesuai arahan Bapak Presiden, peningkatan satuan biaya PIP jenjang SD dan SMP, serta bantuan beasiswa dan pembiayaan pendidikan bagi murid,” jelasnya.
Selain itu, Mendikdasmen juga mengusulkan penguatan dukungan bagi guru melalui keberlanjutan program bantuan biaya pendidikan untuk meningkatkan kompetensi hingga jenjang S1/D4. “Perluasan sasaran dan keberlanjutan program bantuan biaya pendidikan bagi guru untuk peningkatan kompetensi ke jenjang S1/D4,” ujarnya.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah