Sinergi Ekosistem Pendidikan Menyiapkan Kompetensi Guru Terapkan STEM yang Mudah dan Sederhana

Sinergi Ekosistem Pendidikan Menyiapkan Kompetensi Guru Terapkan STEM yang Mudah dan Sederhana

Siaran Pers

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 782/sipers/A6/IX/2026

Kudus, Jawa Tengah, 3 September 2026 Pembelajaran Sains, Teknologi, Enjinering, dan Matematika (STEM) hadir sebagai upaya untuk menumbuhkan pola pikir kritis dan inovatif pada peserta didik. Dengan mengusung prinsip 5M, yaitu: Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful, Kemendikdasmen mengenalkan STEM dengan cara yang sederhana sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di pembelajaran mereka.

Penerapan Program STEM di sekolah perlu didukung dengan meningkatkan kompetensi guru dalam menerapkan pembelajaran STEM yang sesuai prinsip Pembelajaran Mendalam serta prinsip 5M. Dengan pembekalan ini, guru diharapkan tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga mampu menghadirkan pengalaman belajar yang relevan, inspiratif, dan berdampak bagi murid.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Nunuk Suryani, mengatakan bahwa komitmen penguatan STEM hadir melalui berbagai program prioritas. Upaya ini diwujudkan melalui berbagai upaya peningkatan kompetensi, termasuk menargetkan 3.272 guru yang menjadi sasaran pengimbasan oleh fasilitator daerah.

“Dengan implementasi terarah, pembelajaran STEM dengan prinsip 5M yang erat dengan kearifan lokal diharapkan dapat menjadi pengungkit mutu pembelajaran sekaligus mempersiapkan Generasi Emas bagi terwujudnya Indonesia Emas 2045,” tambah Dirjen Nunuk.

Kemendikdasmen telah membentuk 155 Fasilitator Nasional melalui pelatihan yang bermitra dengan Monash University, SEAQIS, dan Korea National University of Education. Program penguatan kompetensi mencakup pelatihan teknis, micro-credential, dan lokakarya lintas jenjang. Dengan prinsip ini diharapkan agar para pendidik dapat mengajarkan STEM kepada anak-anak dengan cara yang tidak rumit dan mahal.

“Sebagai wujud partisipasi semesta, dukungan Bupati Kudus beserta seluruh jajaran pemerintahan, para kepala dinas pendidikan, dan tentunya seluruh mitra pembangunan, termasuk Pusat Belajar Guru menjadi kunci Program STEM ini dapat berjalan dan memberikan dampak nyata bagi pendidikan Indonesia,” tutur Nunuk Suryani.

Salah satu guru yang hadir dalam acara peluncuran Fitri Anggraeni, guru RA Miftahul Falah Dawe menyampaikan pesan semangat agar rekan-rekan pendidik terus meningkatkan kompetensi. “Mari kita terus semangat belajar mengasah kemampuan dan saling menginspirasi bertukar pengalaman mengajar untuk memperkaya wawasan dan mencetak generasi unggul,” pesannya.

Senada dengan itu, guru TKIT Umar bin Khatab, Annisa berharap, melalui peluncuran program STEM Nasional ini guru-guru di Indonesia terdorong untuk menciptakan model pembelajaran yang lebih kreatif guna menumbuhkembangkan pola pikir kritis anak sejak dini.

Dukungan Dinas Pendidikan
Pelaksana tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga, Kabupaten Kudus, Anggun Nugroho, mengatakan bahwa Dispora Kabupaten Kudus sangat mengapresiasi peluncuran Program STEM Nasional. Ia menyatakan bahwa hal ini adalah bukti kepedulian Kemendikdasmen terhadap tumbuh kembang anak-anak di sekolah.

“Kami akan mengimplementasikan program ini secara bertahap di semua jenjang. Mungkin akan ada piloting satu atau dua sekolah terlebih dahulu sebelum pelaksanaan secara menyeluruh di Kudus. Kami juga siap berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk memberikan bekal kepada anak-anak kita untuk menerapkan STEM,” tambah Anggun

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Jepara, Adi Hananto juga menyatakan apresiasinya atas peluncuran Program STEM Nasional. Ia berharap Program STEM dapat dilaksanakan secara menyeluruh di Kabupaten Jepara, sehingga peserta didik yang ada di Kabupaten Jepara dapat belajar dasar STEM dengan lebih baik lagi. “Kami akan mendukung program ini melalui komunitas belajar (kombel) guru. Harapannya, mereka dapat mengimbaskan STEM ini kepada semua guru yang ada di Kabupaten Jepara,” ujar Adi.

Pendekatan STEM dipilih untuk mengajarkan anak berpikir lewat masalah nyata, bukan menghafal rumus tanpa tahu untuk apa rumus itu dipakai. Dengan prinsip 5 M, STEM bisa dimulai dari apa yang ada di sekitar kita, oleh guru mana pun, di sekolah mana pun. Ini sesuai dengan slogan STEM, yaitu Berani Mencoba, Kreatif Mencipta.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

Formula Kemendikdasmen Dekatkan Pembelajaran STEM dengan Kehidupan Anak

Formula Kemendikdasmen Dekatkan Pembelajaran STEM dengan Kehidupan Anak

Siaran Pers

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 781/sipers/A6/IX/2026

Kudus, Jawa Tengah, 3 September 2026 Seekor katak di sawah, belalang yang melompat di rerumputan, semut yang berjalan beriringan, hingga kupu-kupu yang beterbangan dapat menjadi pintu masuk anak mengenal sains. Tak perlu laboratorium mahal atau peralatan berteknologi tinggi. Rasa ingin tahu dan lingkungan sekitar justru dapat menjadi ruang belajar yang kaya.

Cara pandang inilah yang didorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Sains, Teknologi, Enjinering, dan Matematika (STEM) dengan pendekatan 5M: Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti mengatakan perubahan pola pikir menjadi kunci agar pembelajaran sains dapat hadir dekat dengan kehidupan anak. “Bangun mindset menentukan bagaimana kita melakukan sesuatu sehingga mindset kita ubah dengan science itu mudah. Semua orang bisa menjadi saintis dan murah, tidak harus membeli peralatan lab yang mahal. Bisa dari keseharian, di mana anak-anak menemukan banyak hal di sekitarnya, dan belajar sains itu menggembirakan, mindful dan meaningful,” ujarnya.

Menurut Abdul Mu’ti, pendekatan tersebut perlu ditanamkan sejak pendidikan anak usia dini (PAUD), sejalan dengan gagasan wajib belajar 13 tahun dan pengenalan sains sejak taman kanak-kanak. “Mereka bisa tanya apa saja dan semuanya spontan sehingga sains bisa menggembirakan kalau rasa ingin tahu itu tidak kita batasi dan takut-takuti,” katanya.

Ia mencontohkan, anak dapat diajak ke sawah untuk mengamati rumput, padi, katak, belalang, semut, serta berbagai hal yang ada di lingkungan nyata. Pengalaman langsung membantu anak memahami bahwa sains bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan mereka. “Sains tidak boleh menjauhkan dari lingkungan alam di mana mereka berada karena alam adalah tempat belajar,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya memberi ruang kepada anak untuk mencipta dan bereksplorasi. “Kita dorong mereka mencipta. Pengalaman itu sangat penting untuk memancing rasa ingin tahu mereka.dalam suasana yang menggembirakan.”

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Nunuk Suryani mengungkapkan, “Kami menyadari, selama ini STEM diidentikkan sebagai bidang mahal dan sulit untuk diterapkan dalam pembelajaran. Stigma ini menjadi salah satu alasan mendorong kami untuk merancang Program STEM secara menyeluruh, termasuk di dalamnya penguatan kompetensi guru melalui pelatihan STEM yang mengusung prinsip 5M, yaitu Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful,” tutur Nunuk.

Melalui pendekatan tersebut, Kemendikdasmen ingin STEM hadir sebagai cara berpikir dalam keseharian murid: mengamati persoalan, bertanya, mencari solusi, mencoba, mengevaluasi, dan menciptakan sesuatu yang bermakna. Guru menjadi penggerak utama agar pengalaman belajar tersebut tumbuh secara alami, menyenangkan, dan relevan dengan lingkungan anak.

“Peluncuran ini bukan sebagai awal kegiatan, tetapi menjadi sebuah katalis dalam praktik pedagogis yang menghubungkan konsep lintas disiplin dengan konteks nyata sekaligus memfasilitasi praktik saintifik, enjinering, komunikasi ilmiah, dan kolaborasi,” lanjut Dirjen Nunuk.

Fitri Anggraeni, guru RA Miftahul Falah Dawe menyampaikan rasa senangnya atas peluncuran STEM Nasional. Meski baru menyadari bahwa aktivitas mengajarnya selama ini merupakan bentuk penerapan STEM, peluncuran secara nasional membuatnya semakin yakin bahwa metode pembelajaran yang telah ia terapkan sudah tepat. “Alhamdulillah, memang sedikit banyak aktivitas pembelajaran selama ini ternyata sudah terkait dengan STEM. Anak-anak memang terlihat lebih bersemangat mengikuti pelajaran ketika diajak dalam suasana bermain. Seperti membuat bangun ruang menggunakan kardus, belajar numerasi sambil bernyanyi, dan lain-lain,” jelas Fitri.

Sementara itu, Syafaatun Nimah, guru RA Miftahul Huda 1 Dawe justru merasakan pengalaman pembelajaran yang lebih kaya saat anak-anak belajar dengan menerapkan STEM. “Tak jarang saya takjub dengan reaksi dan umpan balik yang diberikan anak-anak. Sebab, sering kali justru saya belajar dari mereka. Ruang interaksi antara guru dan murid, membuat saya belajar hal baru dan terpacu untuk menjadi pengajar yang lebih baik lagi untuk anak-anak,” ungkapnya.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers