Jakarta, 4 September 2026 – Tiga pekan pascabencana gempa bumi yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mempercepat pemulihan layanan pendidikan kepada para warga sekolah terdampak bencana. Upaya tersebut dilakukan guna memastikan proses pembelajaran tetap berlangsung dengan menyesuaikan kondisi masing-masing satuan pendidikan, termasuk penyediaan ruang kelas darurat dan penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menjelaskan bahwa proses pemulihan layanan pendidikan pascagempa di NTT menunjukkan tren positif. Hingga saat ini, sebanyak 1.931 satuan pendidikan dan 171.476 murid telah kembali melaksanakan proses pembelajaran. Dari jumlah tersebut, 1.504 satuan pendidikan melaksanakan pembelajaran di sekolah darurat, 392 satuan pendidikan menerapkan PJJ, dan 35 satuan pendidikan telah kembali melaksanakan pembelajaran secara tatap muka.
Hingga 3 September 2026, Kemendikdasmen juga telah mendistribusikan 100 tenda kelas darurat ke sejumlah wilayah terdampak. Bantuan tersebut terdiri atas 8 tenda di Kabupaten Manggarai Barat, 28 tenda di Kabupaten Manggarai, 27 tenda di Kabupaten Manggarai Timur, 17 tenda di Kabupaten Nagekeo, 7 tenda di Kabupaten Ngada, 8 tenda di Kabupaten Sikka, dan 5 tenda di Kabupaten Ende.
Selain penyediaan ruang belajar darurat, Kemendikdasmen juga menyalurkan berbagai bantuan untuk mendukung pemulihan warga sekolah terdampak. Bantuan tersebut meliputi 5.500 school kit, 500 paket sembako, 9.500 bingkisan anak, 1.500 family kit, serta 9.500 buku bacaan yang didistribusikan ke Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka.
Lebih lanjut, bantuan awal senilai Rp1,1 miliar telah disalurkan untuk mendukung pembersihan lokasi sekolah yang mengalami kerusakan berat. Kemendikdasmen juga telah memberikan santunan senilai Rp47 juta kepada murid dan guru yang meninggal dunia maupun mengalami cedera akibat gempa.
“Penyediaan ruang belajar darurat dan seluruh bantuan yang diberikan merupakan upaya kami untuk memastikan anak-anak NTT tetap mendapatkan haknya untuk belajar di tengah situasi pascagempa. Selain itu, kami juga terus melakukan pendataan terkait kebutuhan revitalisasi untuk sekolah-sekolah terdampak dan menguatkan pos-pos pendidikan di setiap kabupaten,” ungkap Mendikdasmen, dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (4/9).
Memasuki masa transisi pembelajaran, Menteri Abdul Mu’ti menuturkan Kemendikdasmen terus berkomitmen melanjutkan pemulihan layanan pendidikan dengan memastikan kebutuhan dasar satuan pendidikan terdampak dapat terpenuhi. Upaya tersebut dilakukan melalui penyediaan ruang belajar darurat, peningkatan mutu layanan pendidikan, pendampingan psikososial, perbaikan sanitasi, serta asesmen terhadap kelayakan bangunan sekolah.
Untuk ruang kelas darurat, Kemendikdasmen berupaya memenuhi 3.763 unit ruang kelas darurat, sekaligus meningkatkan mutu layanan pembelajaran di 1.504 sekolah yang saat ini masih menggunakan fasilitas darurat. Selain penyedian sarana pendidikan, Kemendikdasmen juga akan memberikan pendampingan psikososial kepada 822 sekolah guna memulihkan kembali rasa aman dan nyaman kepada para warga sekolah.
Di sektor sanitasi, Kemendikdasmen juga akan melakukan perbaikan darurat terhadap 2.294 unit toilet sebagai langkah penting memastikan lingkungan belajar menjadi aman, sehat, dan layak bagi warga sekolah. Terakhir, Kemendikdasmen juga akan melaksanakan asesmen teknis terhadap kelayakan bangunan sekolah terdampak guna memastikan bangunan yang akan kembali digunakan memenuhi aspek keamanan dan kelayakan.
“Layanan pendidikan harus bangkit dan kembali membangun kebahagiaan dan harapan anak-anak NTT menatap masa depan yang jauh lebih baik. Dengan kerja keras dan partisipasi semesta dari seluruh pihak, kami berharap seluruh layanan pendidikan yang terdampak gempa di NTT akan berangsur pulih dengan cepat,” pungkas Mendikdasmen.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Bandung Barat – Gelaran Gala Siswa Indonesia (GSI) Provinsi Jawa Barat Tahun 2026 resmi bergulir pada Rabu (2/9/2026) di Kabupaten Purwakarta. Ajang kompetisi talenta sepak bola jenjang SMP ini menjadi wadah bagi murid untuk mengembangkan kemampuan olahraga sekaligus membangun karakter melalui semangat kompetisi yang sehat.
Sebanyak 16 tim putra dari berbagai daerah di Jawa Barat turut ambil bagian dalam GSI 2026. Tim tersebut berasal dari Kota Bogor, Bekasi, Cimahi, Bandung, Cirebon, dan Banjar, serta Kabupaten Bandung Barat, Ciamis, Cirebon, Garut, Kuningan, Indramayu, Pangandaran, Sukabumi, Tasikmalaya, dan Purwakarta sebagai tuan rumah.
Selain kategori putra, GSI Jawa Barat 2026 juga menghadirkan dua tim putri yang berasal dari Kabupaten Indramayu dan Kota Bandung. Kehadiran tim putri turut memperkaya gelaran sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi talenta sepak bola murid jenjang SMP untuk menunjukkan kemampuan dan prestasinya.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat sekaligus Ketua Panitia Penyelenggara, Purwanto, menyampaikan bahwa GSI tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga bagian dari upaya pembinaan talenta sepak bola sejak usia sekolah. Melalui ajang ini, bakat-bakat muda diharapkan dapat terus tumbuh dan berkembang hingga menjadi atlet yang membanggakan provinsi dan nasional.
Sementara itu, Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, dalam sambutannya sekaligus membuka kegiatan menyebutkan bahwa talenta olahraga harus memiliki kebiasaan yang sehat dan karakter yang baik. Hal ini senyampang dengan tema GSI 2026 yaitu “Talenta Sehat, Hebat dan Berkarakter melalui Olahraga”.
Pertandingan GSI Provinsi Jawa Barat 2026 berlangsung pada 2-6 September 2026 di Stadion Purnawarman dan Yon Armed, Purwakarta. Pertandingan diawali dengan laga antara Kabupaten Purwakarta melawan Kota Banjar sebagai kick off penyelenggaraan.
BBPMP Provinsi Jawa Barat sebagai UPT Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah turut memberikan asistensi dalam persiapan dan penyelenggaraan GSI 2026. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya bersama dalam mendorong pembinaan talenta murid melalui kegiatan olahraga yang sehat, sportif, dan berkarakter.
Melalui GSI Jawa Barat 2026, para peserta diharapkan tidak hanya mampu menunjukkan prestasi terbaik, tetapi juga menjunjung tinggi sportivitas dan membangun persahabatan antarmurid. Semangat tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk generasi muda yang sehat, hebat, berkarakter, dan siap berkontribusi bagi kemajuan Indonesia.
Junjung tinggi sportivitas! Tunjukkan prestasi! Bangun persahabatan! Majulah generasi Indonesia!
Kudus, Jawa Tengah, 3 September 2026 – Pembelajaran Sains, Teknologi, Enjinering, dan Matematika (STEM) hadir sebagai upaya untuk menumbuhkan pola pikir kritis dan inovatif pada peserta didik. Dengan mengusung prinsip 5M, yaitu: Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful, Kemendikdasmen mengenalkan STEM dengan cara yang sederhana sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di pembelajaran mereka.
Penerapan Program STEM di sekolah perlu didukung dengan meningkatkan kompetensi guru dalam menerapkan pembelajaran STEM yang sesuai prinsip Pembelajaran Mendalam serta prinsip 5M. Dengan pembekalan ini, guru diharapkan tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga mampu menghadirkan pengalaman belajar yang relevan, inspiratif, dan berdampak bagi murid.
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Nunuk Suryani, mengatakan bahwa komitmen penguatan STEM hadir melalui berbagai program prioritas. Upaya ini diwujudkan melalui berbagai upaya peningkatan kompetensi, termasuk menargetkan 3.272 guru yang menjadi sasaran pengimbasan oleh fasilitator daerah.
“Dengan implementasi terarah, pembelajaran STEM dengan prinsip 5M yang erat dengan kearifan lokal diharapkan dapat menjadi pengungkit mutu pembelajaran sekaligus mempersiapkan Generasi Emas bagi terwujudnya Indonesia Emas 2045,” tambah Dirjen Nunuk.
Kemendikdasmen telah membentuk 155 Fasilitator Nasional melalui pelatihan yang bermitra dengan Monash University, SEAQIS, dan Korea National University of Education. Program penguatan kompetensi mencakup pelatihan teknis, micro-credential, dan lokakarya lintas jenjang. Dengan prinsip ini diharapkan agar para pendidik dapat mengajarkan STEM kepada anak-anak dengan cara yang tidak rumit dan mahal.
“Sebagai wujud partisipasi semesta, dukungan Bupati Kudus beserta seluruh jajaran pemerintahan, para kepala dinas pendidikan, dan tentunya seluruh mitra pembangunan, termasuk Pusat Belajar Guru menjadi kunci Program STEM ini dapat berjalan dan memberikan dampak nyata bagi pendidikan Indonesia,” tutur Nunuk Suryani.
Salah satu guru yang hadir dalam acara peluncuran Fitri Anggraeni, guru RA Miftahul Falah Dawe menyampaikan pesan semangat agar rekan-rekan pendidik terus meningkatkan kompetensi. “Mari kita terus semangat belajar mengasah kemampuan dan saling menginspirasi bertukar pengalaman mengajar untuk memperkaya wawasan dan mencetak generasi unggul,” pesannya.
Senada dengan itu, guru TKIT Umar bin Khatab, Annisa berharap, melalui peluncuran program STEM Nasional ini guru-guru di Indonesia terdorong untuk menciptakan model pembelajaran yang lebih kreatif guna menumbuhkembangkan pola pikir kritis anak sejak dini.
Dukungan Dinas Pendidikan Pelaksana tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga, Kabupaten Kudus, Anggun Nugroho, mengatakan bahwa Dispora Kabupaten Kudus sangat mengapresiasi peluncuran Program STEM Nasional. Ia menyatakan bahwa hal ini adalah bukti kepedulian Kemendikdasmen terhadap tumbuh kembang anak-anak di sekolah.
“Kami akan mengimplementasikan program ini secara bertahap di semua jenjang. Mungkin akan ada piloting satu atau dua sekolah terlebih dahulu sebelum pelaksanaan secara menyeluruh di Kudus. Kami juga siap berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk memberikan bekal kepada anak-anak kita untuk menerapkan STEM,” tambah Anggun
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Jepara, Adi Hananto juga menyatakan apresiasinya atas peluncuran Program STEM Nasional. Ia berharap Program STEM dapat dilaksanakan secara menyeluruh di Kabupaten Jepara, sehingga peserta didik yang ada di Kabupaten Jepara dapat belajar dasar STEM dengan lebih baik lagi. “Kami akan mendukung program ini melalui komunitas belajar (kombel) guru. Harapannya, mereka dapat mengimbaskan STEM ini kepada semua guru yang ada di Kabupaten Jepara,” ujar Adi.
Pendekatan STEM dipilih untuk mengajarkan anak berpikir lewat masalah nyata, bukan menghafal rumus tanpa tahu untuk apa rumus itu dipakai. Dengan prinsip 5 M, STEM bisa dimulai dari apa yang ada di sekitar kita, oleh guru mana pun, di sekolah mana pun. Ini sesuai dengan slogan STEM, yaitu Berani Mencoba, Kreatif Mencipta.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Kudus, Jawa Tengah, 3 September 2026 — Seekor katak di sawah, belalang yang melompat di rerumputan, semut yang berjalan beriringan, hingga kupu-kupu yang beterbangan dapat menjadi pintu masuk anak mengenal sains. Tak perlu laboratorium mahal atau peralatan berteknologi tinggi. Rasa ingin tahu dan lingkungan sekitar justru dapat menjadi ruang belajar yang kaya.
Cara pandang inilah yang didorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Sains, Teknologi, Enjinering, dan Matematika (STEM) dengan pendekatan 5M: Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti mengatakan perubahan pola pikir menjadi kunci agar pembelajaran sains dapat hadir dekat dengan kehidupan anak. “Bangun mindset menentukan bagaimana kita melakukan sesuatu sehingga mindset kita ubah dengan science itu mudah. Semua orang bisa menjadi saintis dan murah, tidak harus membeli peralatan lab yang mahal. Bisa dari keseharian, di mana anak-anak menemukan banyak hal di sekitarnya, dan belajar sains itu menggembirakan, mindful dan meaningful,” ujarnya.
Menurut Abdul Mu’ti, pendekatan tersebut perlu ditanamkan sejak pendidikan anak usia dini (PAUD), sejalan dengan gagasan wajib belajar 13 tahun dan pengenalan sains sejak taman kanak-kanak. “Mereka bisa tanya apa saja dan semuanya spontan sehingga sains bisa menggembirakan kalau rasa ingin tahu itu tidak kita batasi dan takut-takuti,” katanya.
Ia mencontohkan, anak dapat diajak ke sawah untuk mengamati rumput, padi, katak, belalang, semut, serta berbagai hal yang ada di lingkungan nyata. Pengalaman langsung membantu anak memahami bahwa sains bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan mereka. “Sains tidak boleh menjauhkan dari lingkungan alam di mana mereka berada karena alam adalah tempat belajar,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya memberi ruang kepada anak untuk mencipta dan bereksplorasi. “Kita dorong mereka mencipta. Pengalaman itu sangat penting untuk memancing rasa ingin tahu mereka.dalam suasana yang menggembirakan.”
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Nunuk Suryani mengungkapkan, “Kami menyadari, selama ini STEM diidentikkan sebagai bidang mahal dan sulit untuk diterapkan dalam pembelajaran. Stigma ini menjadi salah satu alasan mendorong kami untuk merancang Program STEM secara menyeluruh, termasuk di dalamnya penguatan kompetensi guru melalui pelatihan STEM yang mengusung prinsip 5M, yaitu Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful,” tutur Nunuk.
Melalui pendekatan tersebut, Kemendikdasmen ingin STEM hadir sebagai cara berpikir dalam keseharian murid: mengamati persoalan, bertanya, mencari solusi, mencoba, mengevaluasi, dan menciptakan sesuatu yang bermakna. Guru menjadi penggerak utama agar pengalaman belajar tersebut tumbuh secara alami, menyenangkan, dan relevan dengan lingkungan anak.
“Peluncuran ini bukan sebagai awal kegiatan, tetapi menjadi sebuah katalis dalam praktik pedagogis yang menghubungkan konsep lintas disiplin dengan konteks nyata sekaligus memfasilitasi praktik saintifik, enjinering, komunikasi ilmiah, dan kolaborasi,” lanjut Dirjen Nunuk.
Fitri Anggraeni, guru RA Miftahul Falah Dawe menyampaikan rasa senangnya atas peluncuran STEM Nasional. Meski baru menyadari bahwa aktivitas mengajarnya selama ini merupakan bentuk penerapan STEM, peluncuran secara nasional membuatnya semakin yakin bahwa metode pembelajaran yang telah ia terapkan sudah tepat. “Alhamdulillah, memang sedikit banyak aktivitas pembelajaran selama ini ternyata sudah terkait dengan STEM. Anak-anak memang terlihat lebih bersemangat mengikuti pelajaran ketika diajak dalam suasana bermain. Seperti membuat bangun ruang menggunakan kardus, belajar numerasi sambil bernyanyi, dan lain-lain,” jelas Fitri.
Sementara itu, Syafaatun Nimah, guru RA Miftahul Huda 1 Dawe justru merasakan pengalaman pembelajaran yang lebih kaya saat anak-anak belajar dengan menerapkan STEM. “Tak jarang saya takjub dengan reaksi dan umpan balik yang diberikan anak-anak. Sebab, sering kali justru saya belajar dari mereka. Ruang interaksi antara guru dan murid, membuat saya belajar hal baru dan terpacu untuk menjadi pengajar yang lebih baik lagi untuk anak-anak,” ungkapnya.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah