Tangerang Selatan, Banten, 6 November 2026 – Sebagai wadah pengembangan kreativitas murid, memperkuat karakter, serta memperkenalkan budaya Indonesia, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengajak murid-murid Indonesia untuk berpartisipasi dalam Enikki Festa 2026/2027. Mengusung tema “Inilah Hidupku”, ajang ini mendorong anak-anak menyuarakan perdamaian dengan menghasilkan karya dari pengalaman menarik yang dapat dibagikan kepada anak-anak lainnya dari belahan dunia.
“Bagi dunia pendidikan, program ini bukan hanya kegiatan menggambar. Enikki Festa menjadi sarana edukatif bagi murid Indonesia untuk belajar mengamati, merefleksikan pengalaman, serta mengekspresikan gagasan dan perasaan melalui karya,” ungkap Kepala Biro Kerjasama Kemendikdasmen, Sholahuddin, saat membuka Sosialisasi Enikki Festa 2026/2027, di Tangerang Selatan, Kamis (5/11).
Lebih lanjut, Sholahuddin menilai bahwa Enikki Festa sejalan dengan arah kebijakan Kemendikdasmen. Melalui kegiatan menggambar dan menulis, murid tidak hanya mengembangkan kemampuan menghafal, tetapi juga melakukan Pembelajaran Mendalam dengan memahami, menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman nyata, serta mengekspresikan kreativitas dengan karya.
Selain itu, Enikki Festa juga turut mendukung penguatan karakter melalui pembiasaan positif. Proses menuangkan pengalaman ke dalam gambar dan tulisan menurutnya dapat melatih murid untuk membangun sikap kejujuran, rasa syukur, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya.
“Ajang ini juga mendorong murid untuk mengembangkan literasi. Dengan demikian, karya yang dihasilkan menjadi wujud nyata kemampuan berbahasa dan literasi yang tergambar melalui aktivitas yang menyenangkan serta kontekstual,” terang Sholahuddin.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) periode 2025-2026, Ananto Kusuma Seta, mengatakan bahwa Enikki Festa tidak hanya menjadi ajang kompetisi seni, tetapi juga sebuah platform untuk menyampaikan gagasan, pengalaman, dan pesan kemanusiaan melalui imajinasi.
Dalam konteks pendidikan karakter, Ananto menilai kompetisi ini juga relevan untuk memperkuat pesan persahabatan dan perdamaian di tengah meningkatnya tantangan sosial, seperti perundungan, kekerasan, dan ujaran kebencian. Lewat karya seni, anak-anak diajak untuk menyampaikan pesan positif dan membangun hubungan yang saling menghargai.
“Program ini perlu kita pandang sebagai salah satu ruang bagi anak-anak untuk menyampaikan pesan persahabatan dan perdamaian. Energi serta kreativitas mereka sebaiknya diarahkan untuk menghasilkan karya yang membawa pesan positif, bukan justru digunakan untuk menyebarkan kebencian,” ujar Ananto.
Ananto berharap partisipasi murid Indonesia dalam Enikki Festa 2026/2027 semakin meningkat. Semakin banyak murid yang terlibat, semakin luas pula kesempatan bagi Indonesia untuk menampilkan karya-karya berkualitas di tingkat internasional. “Kami berharap karya terbaik murid Indonesia dapat memperoleh pengakuan sekaligus memperkuat citra bangsa melalui kreativitas generasi muda,” tutur Ananto.
Prestasi Murid Indonesia di Enikki Festa 2024/2025
Pengalaman mengikuti kompetisi internasional menjadi kesempatan berharga bagi Ni Kadek Ayunindita Gayatri, murid SMP Negeri 103 Jakarta, untuk memperkenalkan kekayaan budaya Bali kepada dunia. Bersama guru dan kedua orang tuanya, Nindi membagikan pengalamannya saat proses menggambar hingga mendapatkan penghargaan.
Ketertarikan Nindi terhadap kompetisi tersebut bermula ketika dirinya masih duduk di kelas 5 SD. Informasi tersebut ia peroleh dari guru di SDN Pekayon 05, sekaligus menjadi titik awal dalam membangkitkan semangatnya untuk mencoba hal baru.
“Pada lomba itu saya mengangkat pengalaman mengikuti tradisi budaya Bali, yakni upacara Melasti dan pawai ogoh-ogoh menjelang Hari Raya Nyepi pada 2024. Gambar itu saya kerjakan kurang lebih satu minggu di atas kertas berukuran A4, lengkap dengan cerita yang menggambarkan pengalaman dan makna tradisi yang diangkat,” kata Nindi.
Bagi Nindi, penghargaan di ajang Enikki Festa 2024/2025 tidak hanya pencapaian pribadi, namun juga kesempatan untuk memperkenalkan budaya Bali kepada masyarakat internasional. “Semoga pengalaman ini dapat menginspirasi murid-murid SD di seluruh Indonesia agar tidak ragu mengangkat kekayaan budaya lokal ke panggung dunia. Jangan ragu untuk berkarya dan mencintai tradisi kita, matur suksma,” tutup Nindi.
Kompetisi Enikki Festa 2026/2026 ditujukan untuk anak berusia 6 – 12 Tahun. Untuk mengikuti kompetisi ini, peserta harus membuat satu karya yang terdiri dari tiga halaman dan dibuat pada kertas berukuran A4. Karya tersebut dapat dikirim sebelum 30 November 2026 ke surel incu.moec@gmail.com. Informasi selengkapnya dapat diakses melalui laman https:/bit.ly/PendaftaranEnikkiFesta2026. (Penulis: Destian/Editor: Ririn/Seno)
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Jakarta, 6 November 2026 — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menggandeng 101 perguruan tinggi negeri dan swasta untuk mempercepat peningkatan kompetensi guru sekolah dasar dalam mengajar Bahasa Inggris. Melalui program Pengembangan Kompetensi Guru Sekolah Dasar Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD-MBI), kerja sama dengan perguruan tinggi penerima Bantuan Pemerintah ini ditargetkan menjangkau guru dari 58.482 sekolah di 19 provinsi, 227 kabupaten/kota, dan 2.717 kecamatan melalui 3.002 kelas pelatihan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengatakan kesiapan guru menjadi faktor penting dalam pelaksanaan kebijakan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di SD mulai Tahun Ajaran 2027/2028. Kebijakan berdasarkan Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 tersebut dimulai dari kelas 3.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa kebijakan ini tidak dilakukan dengan menambah guru baru, melainkan meningkatkan kemampuan guru yang sudah tersedia, terutama guru kelas. Selain kompetensi Bahasa Inggris, guru perlu memiliki keterampilan pedagogis dan kepercayaan diri dalam mengajar. “Kami tegaskan bahwa pembelajaran Bahasa Inggris untuk SD mulai kelas 3 ini tidak dengan menambah jumlah guru, tapi meng-upgrade kemampuan guru, terutama guru-guru kelas,” ujar Abdul Mu’ti di Jakarta, Kamis (5/11).
Ia menambahkan bahwa pembelajaran Bahasa Inggris di SD berfokus pada pengenalan dasar-dasar bahasa dan menumbuhkan kecintaan anak untuk mempelajarinya, bukan menuntut murid langsung mahir berbahasa Inggris. “Yang penting semuanya gembira, fun, dan mereka berani serta percaya diri menggunakannya,” tuturnya.
Pelibatan perguruan tinggi dinilai strategis untuk memperluas jangkauan pelatihan dengan mengoptimalkan kapasitas akademik dan sumber daya manusia yang dimiliki masing-masing institusi. Kolaborasi ini juga menjadi bagian dari semangat Partisipasi Semesta Kemendikdasmen dalam meningkatkan kualitas pendidikan dasar.
Pelatihan Jangkau 58.482 Sekolah di 19 Provinsi
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Nunuk Suryani, menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan guru melalui berbagai program. Pada 2025, sebanyak 1.057 Fasilitator Daerah (Fasda) disiapkan melalui PKGSD-MBI. Pada 2026, pelatihan terstruktur melalui pola In-On-In telah menjangkau sekitar 5.777 guru SD. Pola ini mencakup pembelajaran melalui Learning Management System (LMS), pelatihan tatap muka, praktik di sekolah melalui On the Job Training (OJT), dan tatap muka lanjutan. Selain itu, sekitar 15.000 guru telah mengakses Pelatihan Mandiri Bahasa Inggris melalui Ruang GTK. “Berbagai upaya tersebut merupakan bagian dari langkah pemerintah dalam menyiapkan guru menghadapi pemberlakuan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di sekolah dasar. Namun, mengingat besarnya kebutuhan peningkatan kompetensi guru, diperlukan langkah percepatan dengan melibatkan lebih banyak mitra, khususnya perguruan tinggi,” jelas Nunuk.
Melalui prinsip Perguruan Tinggi Mendatangi Lokus, pengajar dari kampus hadir langsung ke wilayah sasaran agar pelatihan lebih mudah dijangkau guru. Pelatihan berlangsung selama 10 hari efektif dengan total 80 Jam Pelajaran (JP), terdiri atas 40 JP tatap muka dan 40 JP pembelajaran mandiri melalui Ruang GTK. Materinya meliputi penguatan Bahasa Inggris, penyusunan perangkat pembelajaran, praktik dan simulasi mengajar, serta strategi pembelajaran sesuai karakteristik murid SD. Perguruan tinggi bertanggung jawab mengelola Bantuan Pemerintah, menyiapkan fasilitator dan sumber daya pelatihan, menyelenggarakan kegiatan, serta menyusun laporan dan pertanggungjawaban anggaran. Pelaksanaan dikoordinasikan dengan dinas pendidikan kabupaten/kota dan Unit Pelaksana Teknis Ditjen GTK di daerah. Perguruan tinggi juga dapat melibatkan Fasda dan alumni PKGSD-MBI sesuai kebutuhan wilayah.
Mustamin Anggo, dosen Universitas Halu Oleo Kendari, menilai program ini bermanfaat untuk memperluas akses peningkatan kompetensi guru, terutama di daerah dengan tantangan geografis. Sementara itu, Nengah Dwi Handayani, Ketua Program Studi S1 Bahasa Inggris Universitas Mahasaraswati Denpasar, menyambut baik kerja sama tersebut. Pihaknya telah berkoordinasi dengan BGTK Bali, dinas pendidikan, Fasda, alumni PKGSD-MBI, dan dosen untuk mendukung pelatihan.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti mengingatkan perguruan tinggi agar menjaga mutu pelatihan, mengikuti standar materi pemerintah, serta memastikan praktik dan simulasi mengajar terlaksana. Pengelolaan bantuan juga harus tertib, transparan, efisien, dan akuntabel. Keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah kelas, peserta, atau sertifikat, tetapi dari peningkatan kompetensi dan kepercayaan diri guru serta dampaknya terhadap pembelajaran murid. (Penulis: Tim GTK, Rona Uly / Editor: Ririn, Seno Hartono/ Fotografer: Morecka)
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Jakarta, 6 November 2026 – Pengembangan talenta digital generasi muda membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Melalui semangat Partisipasi Semesta, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Assemblr Edu, dengan dukungan Samsung dan mitra lainnya, menghadirkan ImajiNation 2026 sebagai ruang bagi murid dan guru untuk mengembangkan kreativitas, imajinasi, serta kemampuan memanfaatkan teknologi melalui karya digital.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, dalam pesannya mengingatkan bahwa penguasaan teknologi harus berjalan seiring dengan kemampuan berpikir dan kreativitas manusia. Menurutnya, teknologi perlu dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk mengembangkan potensi, bukan justru mengambil alih kendali manusia.
“Teknologi harus tetap menjadi alat. Kalian harus tetap menjadi bos dari teknologi itu, jangan sampai kalian menjadi budak teknologi atau orang yang sangat bergantung dan tidak bisa lepas dari teknologi. Otak kalian, kecerdasan kalian, harus terus kalian asahi dengan teknologi sebagai alat bantunya,” pesan Mendikdasmen kepada para peserta ImajiNation 2026.
Ia juga mendorong murid untuk terus mengembangkan imajinasi, rasa ingin tahu, dan keberanian mencoba hal-hal baru. Menurutnya, kreativitas tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan berpikir logis dan menghasilkan gagasan baru.
“Yang menang dan yang tidak menang, semua tetap tersenyum. Kalian semua adalah para juara,” ujarnya, seraya mengapresiasi seluruh murid dan guru yang telah berpartisipasi dan menghasilkan karya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, menyampaikan apresiasi kepada Assemblr Edu, Samsung, dan seluruh mitra yang telah berkolaborasi dalam penyelenggaraan program tersebut. Ia menilai kolaborasi ini membuka kesempatan bagi murid dan guru untuk mengembangkan kreativitas serta menghadirkan pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna melalui teknologi.
“Perkembangan teknologi membawa peluang sekaligus tantangan. Karena itu, guru dan murid tidak hanya perlu mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami, memanfaatkan, dan mengembangkannya secara tepat,” tutur Suharti.
Ia menjelaskan bahwa melalui kolaborasi Kemendikdasmen dan Assemblr Edu yang didukung Samsung, pemanfaatan akun belajar.id memberikan akses kepada pengguna untuk menggunakan berbagai fitur Assemblr Edu. Teknologi 3D, augmented reality (AR), dan virtual reality (VR) dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran kreatif serta mendorong murid menghasilkan proyek digital.
Dalam laporannya, Suharti menyampaikan bahwa Data pengguna belajar.id saat ini yang mendapatkan akses platform Assemblr Edu adalah 16,9 juta terdiri dari akun aktif 5 juta GTK dan 11.9 juta murid.
Dasar pengambilan data dapat diakses melalui https://docs.google.com/spreadsheets/d/1Ea6CeV9E-z8lKsNiYxyhpuKftySz6IZsFY-anApPFww/edit?gid=901550031#gid=901550031 (Cut off data April 2026). Dari jumlah tersebut, 244 ribu pengguna telah membuat media pembelajaran digital. Program ini juga melibatkan 5.200 guru dan murid dari 38 provinsi, dengan lebih dari 1.640 karya yang dihasilkan. Sebanyak 1.393 karya terpilih, terdiri atas 908 karya murid dan 485 karya guru. Selain itu, sebanyak 500 guru dari 10 provinsi memperoleh pendampingan intensif pada Agustus 2026.
Rangkaian acara puncak ImajiNation 2026 juga diisi dengan Pertandingan Langsung Koding Visual yang mempertemukan empat tim finalis kategori SMP Makers. Keempat tim tersebut berasal dari MTsN 1 Lumajang, Jawa Timur; SMP Islam Al Azhar 37 Pekanbaru, Riau; SMP Negeri 95 Jakarta, DKI Jakarta; dan SMPII Al Abidin Boyolali, Jawa Tengah. Dalam kompetisi ini, para finalis ditantang menyelesaikan persoalan Koding Visual secara langsung melalui proses pengembangan ide, penyusunan strategi, dan kolaborasi untuk menghasilkan solusi kreatif.
Selain kompetisi, acara puncak turut menghadirkan workshop edukasi bersama Google dan Assemblr Edu. Melalui kegiatan tersebut, para guru berkesempatan mengenal pemanfaatan teknologi untuk menciptakan pengalaman pembelajaran yang kreatif dan interaktif. Para pengunjung juga dapat mengunjungi booth mitra dan sponsor untuk mengenal berbagai produk, layanan, serta inovasi yang mendukung ekosistem pendidikan digital.
Puncak kegiatan ditandai dengan penganugerahan pemenang dari seluruh jalur kompetisi ImajiNation 2026. Para peserta yang telah melalui proses seleksi dan penilaian memperoleh apresiasi atas ide, kreativitas, dan karya digital yang dihasilkan. Daftar lengkap pemenang dapat diakses melalui laman resmi ImajiNation.
Lebih lanjut, CEO Assemblr Edu, Hasbi Asyadiq menyampaikan bahwa ImajiNation 2026 merupakan bagian dari upaya memberikan ruang kepada generasi muda untuk berimajinasi, berkarya, dan berinovasi melalui teknologi. Program ini menjangkau 38 provinsi, 463 kabupaten/kota, dan 3.499 sekolah, dengan total 6.800 peserta.
“Masa depan bukan hanya tentang bagaimana kita menggunakan teknologi, tapi bagaimana teknologi bisa berdampak lebih nyata,” ujar Hasbi.
Ia menjelaskan bahwa terdapat 1.640 karya yang masuk, terdiri atas 1.128 karya murid dan 512 karya guru. Setelah melalui proses kurasi, sebanyak 1.393 karya lolos ke tahap berikutnya dan 264 karya terpilih untuk penilaian tingkat nasional. Proses penilaian melibatkan 34 juri daerah yang terbagi dalam 13 tim serta tiga juri nasional. Setiap karya dinilai berdasarkan aspek substansi dan teknis sesuai jenjang pendidikan.
Karya peserta dikelompokkan dalam sejumlah kategori, yaitu Dreamers untuk jenjang SD, Makers untuk SMP, Visionaries untuk SMA/SMK, serta Edu-Innovators untuk guru. Assemblr Edu berharap program ini tidak berhenti sebagai kompetisi tahunan, tetapi berkembang menjadi ekosistem yang mendorong anak-anak menjadi pencipta teknologi, bukan hanya pengguna.
Ke depan, ImajiNation 2027 direncanakan menjadi langkah lanjutan untuk memperluas akses, mengembangkan komunitas, dan mendukung talenta digital. Assemblr Edu juga memperkenalkan platform Imaji yang diarahkan untuk mendukung pembelajaran berpikir komputasional. Karya para pemenang kategori Edu-Innovators direncanakan akan dihadirkan melalui Ruang Murid pada platform Rumah Pendidikan agar dapat diakses dan dimanfaatkan oleh guru dan murid di seluruh Indonesia.
Penyelenggaraan ImajiNation 2026 menjadi salah satu wujud Partisipasi Semesta dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan mitra pendidikan. Melalui kolaborasi ini, Kemendikdasmen berharap semakin banyak murid dan guru memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kreativitas, memanfaatkan teknologi secara bijak, serta menghasilkan karya inovatif yang memberi manfaat bagi lingkungan sekitar. ***(Penulis: Ririn/Editor: Seno)
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Jakarta, 6 November 2026 – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Pengembangan Prestasi dan Pembinaan Karakter (Puspreska) kembali mengantarkan talenta riset muda Indonesia meraih prestasi di tingkat internasional. Dalam ajang Young Inventors Challenge (YIC) 2026, delegasi Indonesia berhasil meraih satu medali emas, satu medali perak, dua medali perunggu, dan empat penghargaan Consolation Prizes. Pemenang YIC diumumkan secara daring pada Rabu (4/11).
Prestasi tersebut diraih oleh delapan tim yang terdiri atas 16 murid jenjang pendidikan menengah hasil pembinaan Kemendikdasmen. Capaian ini menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025, delegasi Indonesia meraih satu medali perak dan satu penghargaan Consolation Prizes. Sementara itu, pada 2026, delegasi Indonesia berhasil meraih empat medali, terdiri atas satu medali emas, satu medali perak, dan dua medali perunggu, serta empat penghargaan Consolation Prizes.
“Prestasi yang diraih dalam ajang YIC kali ini meningkat empat kali lipat, dari satu medali pada 2025 menjadi empat medali pada 2026. Jumlah tim penerima penghargaan juga meningkat dari dua tim pada 2025 menjadi delapan tim. Kami berharap capaian ini dapat menjadi motivasi bagi adik-adik untuk terus mengembangkan potensi, kreativitas, dan kemampuan inovasinya,” jelas Kepala Puspreska, Kemendikdasmen, Rusprita Putri Utami.
Rusprita menegaskan bahwa capaian tersebut bukan hanya tentang perolehan medali, tetapi juga menjadi bagian dari proses pengembangan talenta dan pembinaan karakter murid. Melalui pengalaman pembinaan dan kompetisi, murid diharapkan semakin terasah dalam berpikir kritis, berkolaborasi, dan menghasilkan inovasi yang bermanfaat. “Kami berharap capaian ini menjadi motivasi bagi murid untuk terus mengembangkan potensi, memberikan manfaat bagi masyarakat, dan berkarakter kuat,” tutur Rusprita.
Medali emas diraih oleh Tim ChemisTwin, Safira Laksmi Dewi dan Prayogo Aryobimo dari SMA Nasional KPS Balikpapan. Keduanya mengembangkan penelitian berjudul NANOVA: Ecofriendly Cellulose Nanocrystals (CNC)-SiO₂-PDMS Superhydrophobic Coating for Robust Steel Protection, yaitu inovasi pelapis superhidrofobik ramah lingkungan untuk melindungi material baja.
Selanjutnya, medali perak diraih Tim SYFORCE, Muhammad Sulthan Fadhil Ardani dan Alrizta Winant Maliki Herdyanto dari MAN Insan Cendekia Pekalongan. Melalui penelitian berjudul SIMUFLEX: A Wearable Spinal Curvature Measurement System Based on Fusion Sensor for Detecting Scoliosis, tim ini mengembangkan perangkat untuk mengukur kelengkungan tulang belakang menggunakan sistem fusi sensor.
Adapun dua medali perunggu diraih oleh Tim SCAB, Revalina Marbun dan Kayra Naurin Aqueeni dari SMA Negeri 6 Yogyakarta, melalui inovasi EnviroSmart Device: Smart Guidance and Emergency Device for Visually Impaired yang berupa perangkat pemandu cerdas dan pemberitahuan darurat bagi penyandang tunanetra.
Medali perunggu berikutnya diraih Tim PORTIS, Cameela Ahmad dan Shaheza Aleesha Risky dari SMA Negeri 1 Sumenep. Keduanya mengembangkan DRAVIS: The Use of Drone Surveillance Equipped with YOLO Computer Vision Framework for Monitoring and Detecting Illegal Fishing, yaitu pemanfaatan teknologi drone untuk memantau dan mendeteksi praktik penangkapan ikan ilegal.
Selain perolehan medali, empat tim Indonesia juga mendapatkan penghargaan Consolation Prizes. Penghargaan tersebut diraih oleh Tim DewaCerva (Muhammad Bagir dan Xahida Xena Xanadu Adam Talib) dari SMA Negeri 8 Jakarta, melalui penelitian potensi formulasi nanopartikel berbasis ekstrak daun dewandaru untuk terapi kanker serviks; Tim Tirto’s User (Hanin Naurayani Alifa dan Khariza Fazari Shafiya) dari SMA Negeri 2 Ponorogo melalui pengembangan sistem irigasi sawah terintegrasi dan otomatis berbasis kecerdasan artifisial; Tim AKU DAH LUPA (Fathan Abdillah Al Attar dan Fachry Bahtiar Rahadiansyah) dari MAN 2 Kota Malang melalui pengembangan sistem pendeteksi penyakit Alzheimer berbasis analisis citra MRI; serta Tim AGRITEVO (Muhammad Rijal dan Salwa Salsabila Az) dari SMAS Islam Athirah, Sulawesi Selatan, melalui pengembangan inkubator kecambah benih padi berbasis Internet of Things (IoT) dengan dukungan energi surya.
Persiapan delegasi Indonesia menuju YIC 2026 telah dimulai melalui Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2025. Sebanyak 12 tim pemenang OPSI yang terdiri atas 24 murid mengikuti pra-pembinaan pada 2–6 Maret 2026 di Jakarta. Dari rangkaian Pembinaan Tahap I dan II, sebanyak delapan tim berhasil lolos sebagai 32 besar finalis YIC 2026. Para murid kemudian mengikuti presentasi dan wawancara utama (online viva session) pada 17 Oktober 2026.
Sementara itu, Peraih medali emas YIC 2026, Safira Laksmi Dewi dari SMA Nasional KPS Balikpapan (Tim ChemisTwin), mengaku bersyukur atas capaian yang diraih. Menurutnya, pembinaan yang diberikan turut membantu timnya berkompetisi di tingkat internasional. “Alhamdulillah kami berhasil meraih medali emas. Melalui pembinaan, kami dapat mengembangkan dan menyempurnakan penelitian kami,” ucap Safira.
Hal senada disampaikan peraih medali perak YIC 2026, Muhammad Sulthan Fadhil Ardani dari MAN Insan Cendekia Pekalongan (Tim SYFORCE). “Melalui proses pembinaan, kami mendapatkan banyak masukan dan pendampingan untuk mengembangkan penelitian agar menjadi lebih baik. Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi kami untuk terus belajar dan berinovasi,” katanya.
Sebagai informasi, Young Inventors Challenge merupakan ajang penelitian internasional yang diselenggarakan oleh Association of Science, Technology, and Innovation (ASTI). Ajang ini bertujuan mendorong kolaborasi murid jenjang pendidikan menengah dalam menghasilkan produk dan solusi inovatif untuk menjawab berbagai persoalan, termasuk yang berkaitan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). ***(Penulis: Tim Puspreska/Editor: Ririn/Seno)
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Jakarta, 6 November 2026 — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat pemerataan akses dan mutu pendidikan anak usia dini (PAUD) sebagai bagian dari pelaksanaan program Wajib Belajar 13 Tahun. Upaya ini menjadi penting mengingat masih terdapat sekitar 14.000 desa di Indonesia yang belum memiliki taman kanak-kanak (TK). Pemerintah mendorong perluasan layanan PAUD sekaligus memperkuat fasilitas pendidikan, bantuan bagi murid, dan peningkatan kualifikasi guru agar semakin banyak anak memperoleh layanan pendidikan yang bermutu sejak usia dini.
Langkah afirmatif ini menjadi mendesak mengingat masih terdapat sekitar 14.000 desa di Indonesia yang belum memiliki fasilitas Taman Kanak-Kanak (TK). Pemerintah mematok target ambisius agar seluruh wilayah tersebut sudah dapat terjangkau fasilitas PAUD pada akhir periode ini.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, memaparkan bahwa pemerataan akses perlu dipercepat karena ketimpangan jangkauan antarwilayah masih sangat terasa. “Meskipun kalau kita lihat di Jakarta, Lampung, atau mungkin Jawa Barat, sebagian besar desa sudah terjangkau bahkan satu desa memiliki beberapa TK, masih ada dalam data kami 14.000 desa yang belum memiliki taman kanak-kanak,” ujar Abdul Mu’ti dalam acara Finalisasi Dokumen Perencanaan dan Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Program Revitalisasi Satuan PAUD Angkatan ke-90 di Jakarta, Selasa (3/11).
Seiring dengan perluasan jangkauan tersebut, Kemendikdasmen memperketat pengawasan tata kelola anggaran revitalisasi sekolah. Seluruh dana bantuan dipastikan harus terserap sepenuhnya untuk memperbaiki infrastruktur pendidikan yang mengalami kerusakan tanpa ada penyimpangan peruntukan. “Semua dana yang kita salurkan ini untuk memperbaiki TK yang rusak. Kami berharap agar semuanya dikelola sesuai dengan peraturan yang berlaku dan berintegritas,” tegas Mu’ti.
Ia menambahkan bahwa pemerintah memberikan keleluasaan dalam pelaksanaan revitalisasi agar penggunaan anggaran menyesuaikan kondisi riil di lapangan. Kendati demikian, fleksibilitas tersebut bukan berarti penerima bantuan boleh mengabaikan aturan administrasi. Pengelola sekolah diminta segera melapor secara transparan apabila menghadapi kendala tak terduga seperti bencana alam, agar tidak timbul masalah dalam pertanggungjawaban anggaran.
17.267 Sekolah Terjangkau Program Revitalisasi
Direktur Jenderal PAUD Pendidikan Dasar dan PNFI, Gogot Suharwoto, dalam kesempatan yang sama juga melaporkan bahwa sasaran Program Revitalisasi Satuan PAUD pada tahun 2026 mencapai 19.940 sekolah (terdiri atas 3.865 jalur reguler dan 16.075 Alokasi Biaya Tambahan/ABT). “Saat ini kita sudah PKS dengan 17.267 sekolah PAUD, dengan nilai total 10,9 T,” jelas Gogot.
Program ini juga menjadi bentuk apresiasi negara terhadap peran besar masyarakat. Pasalnya, sebanyak 95 persen satuan PAUD di Indonesia dikelola secara mandiri oleh masyarakat, sementara porsi sekolah negeri hanya berkisar 5 persen.
Intervensi Kesejahteraan, Mutu, dan Filosofi PAUD
Sebagai bagian dari paket kebijakan terpadu mulai tahun 2026, Kemendikdasmen menyalurkan Program Indonesia Pintar (PIP) sebesar Rp450.000 per tahun bagi murid TK, yang diprioritaskan bagi 888.000 anak menjelang usia Sekolah Dasar (SD). Bagi tenaga pendidik, pemerintah memfasilitasi guru TK yang belum berijazah D4/S1 melalui sistem Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) dengan beasiswa Rp3 juta per semester, yang telah menjangkau 12.500 guru tahun ini.
Di sisi lain, Mendikdasmen Abdul Mu’ti mengingatkan agar penguatan fasilitas ini beriringan dengan pelaksanaan metode pembelajaran yang tepat. Pendidik diimbau untuk mengembalikan esensi PAUD pada prinsip play as learning (belajar melalui bermain) tanpa membebani anak dengan tuntutan akademis kaku maupun tradisi seremonial seperti wisuda bertoga.
“Semuanya harus kita buat menggembirakan, tidak boleh anak-anak TK ini belajar dalam suasana yang dalam tekanan,” pungkasnya.
Melalui pemerataan akses, revitalisasi sarana pendidikan, dukungan bagi murid, dan peningkatan kualifikasi guru, Kemendikdasmen berupaya memperkuat fondasi pendidikan sejak usia dini. Keberhasilan program tidak hanya diukur dari bertambahnya layanan dan membaiknya fasilitas, tetapi juga dari kesempatan setiap anak untuk tumbuh, bermain, dan belajar dalam lingkungan yang aman, inklusif, dan menyenangkan. ***(Penulis: Tim Direktorat PAUD/Editor: Ririn/Seno)
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah