Misel dan Mimpinya Menjadi Peneliti: SNT 7 Bogor Buka Ruang Setiap Murid Mengembangkan Potensi

Misel dan Mimpinya Menjadi Peneliti: SNT 7 Bogor Buka Ruang Setiap Murid Mengembangkan Potensi

Siaran Pers

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 697/sipers/A6/VIII/2026

Kabupaten Bogor, Jawa Barat, 10 Agustus 2026 – Hari pertama menjadi murid Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) 7 Bogor membuka babak baru bagi Misel. Murid kelas VII yang memiliki ketertarikan pada bidang fisika, sains, komputer, koding dan kecerdasan artifisial (AI), serta bahasa Inggris itu menyimpan satu mimpi besar: menjadi peneliti.

Misel mungkin belum pernah berdiri di podium untuk menerima medali lomba. Namun, baginya, hal itu bukan batas untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan. Kesempatan menjadi bagian dari angkatan pertama SNT 7 Bogor membuatnya semakin bersemangat untuk mengenali potensi diri dan membawanya ke tingkat yang lebih tinggi.

“Saya sekolah di sini karena ingin memiliki fasilitas yang lebih baik, mengejar akademik saya, dan meningkatkan diri ke tingkat yang baru,” ujar Misel di sela kegiatan hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SNT 7 Bogor, Senin (10/8).

Ketertarikan Misel pun tidak berhenti pada satu bidang. Ia ingin terus mendalami sains dan komputer, sekaligus memperluas wawasannya. Kelak, ia bercita-cita menjadi peneliti yang mendalami makhluk hidup dan sejarah.

“Saya ingin menjadi anak yang lebih berprestasi lagi, memiliki banyak kemampuan, dan ingin membahagiakan orang tua saya,” katanya.

Cerita Misel menggambarkan bahwa potensi seorang anak tidak semata-mata ditentukan oleh medali, piala, atau prestasi yang telah diraih. Setiap murid memiliki minat, kemampuan, dan potensi yang dapat terus ditemukan serta dikembangkan melalui lingkungan belajar yang mendukung.

Kepala SNT 7 Bogor, Fitriyani, mengatakan bahwa pemetaan awal terhadap murid angkatan pertama menunjukkan keragaman potensi yang besar, mulai dari bahasa, sains, hingga seni. Ada murid yang telah memiliki kemampuan berbahasa Inggris dan Arab, berprestasi dalam olimpiade, serta memiliki talenta seni. Bahkan, salah seorang murid memiliki pengalaman di bidang seni tari hingga mewakili Indonesia di tingkat internasional.

“Dalam kondisi awal, kami sudah melihat begitu banyak potensi bakat dan minat yang sangat luar biasa. Ada anak-anak yang potensinya di bahasa, sains, hingga seni,” tutur Fitriyani.

Keragaman tersebut menjadi salah satu pijakan SNT 7 Bogor dalam membangun lingkungan belajar yang memberi kesempatan kepada setiap murid untuk berkembang sesuai dengan potensi masing-masing.

“SNT, salah satunya SNT 7 Bogor, akan didesain untuk memfasilitasi seluruh potensi bakat dan minat,” ujarnya.

Menurut Fitriyani, proses pendidikan di SNT tidak hanya diarahkan pada kemampuan akademik. Murid juga akan mendapatkan ruang untuk mengeksplorasi berbagai bidang sehingga dapat semakin mengenali kekuatan dirinya dan memperoleh pendampingan untuk mengembangkannya.

Pengembangan potensi tersebut turut didukung melalui pemanfaatan fasilitas sekolah. Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) SNT 7 Bogor, Muharsyad Al Azip, mencontohkan lapangan futsal sintetis yang dapat dimanfaatkan murid secara rutin melalui kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan talenta olahraga.

Pengembangan talenta di SNT juga berjalan beriringan dengan pembentukan karakter. Menurut Fitriyani, kemampuan akademik dan berbagai talenta yang dimiliki murid perlu ditopang karakter yang kuat agar mereka memiliki bekal yang utuh untuk menghadapi masa depan.

“Karena ketika pintar saja, tapi karakternya tidak kita asah, itu menjadi sesuatu yang sangat perlu kita pertimbangkan. Jadi karakter itu pun menjadi bagian dari visi besar Sekolah Nasional Terintegrasi di seluruh Indonesia,” tambahnya.

Arah tersebut sejalan dengan konsep integrasi yang menjadi dasar pengembangan SNT. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa integrasi dalam SNT tidak hanya menyangkut jenjang pendidikan maupun bangunan sekolah, tetapi juga keseluruhan ekosistem pendidikan yang mendukung perkembangan murid.

“Jadi yang diintegrasikan bukan hanya jenjang dan bangunannya, tetapi juga pembelajaran, pengembangan guru, pembinaan karakter, pengembangan talenta, pemanfaatan fasilitas, dan penjaminan mutu. Dengan demikian perkembangan murid dapat didampingi secara lebih utuh dan berkelanjutan,” ujar Mendikdasmen di SNT 7 Bogor, Jawa Barat, Senin (10/8).

Melalui pendekatan tersebut, SNT diharapkan menjadi ruang tempat setiap murid tidak hanya belajar, tetapi juga mengenali dirinya, menemukan kekuatannya, mengembangkan talenta, dan membangun karakter untuk berani menata cita-cita masa depan.

Bagi Misel, perjalanan itu baru saja dimulai. Dari ketertarikannya pada sains, komputer, dan berbagai bidang pengetahuan, kini ia memiliki ruang yang lebih luas untuk belajar dan mengejar mimpinya menjadi seorang peneliti.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

17 SNT Mulai Beroperasi, Tandai Babak Baru Pemerataan Pendidikan Bermutu

17 SNT Mulai Beroperasi, Tandai Babak Baru Pemerataan Pendidikan Bermutu

Siaran Pers

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 696/sipers/A6/VIII/2026

Kabupaten Bogor, Jawa Barat, 10 Agustus 2026 Sebanyak 17 Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) di berbagai wilayah Indonesia telah resmi memulai layanan pendidikan untuk tahun ajaran 2026/2027. SNT menjadi bagian dari langkah pemerintah untuk mendorong pemerataan pendidikan bermutu sekaligus menghadirkan ruang belajar yang memungkinkan setiap murid mengembangkan potensi, kemampuan, minat, dan bakatnya secara optimal.

Beroperasinya 17 SNT ditandai dengan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah yang dimulai pada Senin (10/8). Di SNT 7 Bogor, Jawa Barat, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, hadir dan menjadi pembina upacara pada hari pertama MPLS.

Mendikdasmen mengatakan bahwa penyelenggaraan SNT merupakan bagian dari upaya besar pemerintah membangun sumber daya manusia unggul menuju Generasi Emas Indonesia 2045. Dimulainya layanan pendidikan SNT pada tahun ajaran 2026/2027 sekaligus menjadi momentum penting dalam perjalanan pendidikan Indonesia.

“Sekolah Nasional Terintegrasi merupakan salah satu model pendidikan khusus yang kita kembangkan sebagai penjabaran dari Instruksi Presiden yang telah diterbitkan oleh Bapak Presiden dan sebagai bagian dari usaha besar bangsa Indonesia untuk mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045. Penyelenggaraan Sekolah Nasional Terintegrasi menjadi sejarah baru karena mulai dilaksanakan pada tahun ajaran 2026/2027,” ujar Menteri Mu’ti.

Menurut Mendikdasmen, SNT memberikan kesempatan dan layanan pendidikan yang memungkinkan murid dengan kemampuan istimewa, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik, memperoleh lingkungan belajar yang mendukung perkembangan potensinya secara lebih optimal.

“Tujuannya untuk memberikan kesempatan dan pelayanan kepada anak-anak yang memiliki kemampuan istimewa, khususnya dalam bidang akademik maupun nonakademik, untuk dapat tumbuh dan berkembang lebih cepat dan lebih baik lagi,” tuturnya.

SNT dikembangkan untuk memberikan ruang tumbuh yang lebih luas bagi potensi murid melalui lingkungan dan proses pembelajaran yang berkualitas. Kehadiran SNT di berbagai daerah juga menjadi bagian dari upaya pemerintah menghadirkan pusat-pusat mutu pendidikan yang diharapkan dapat memberikan manfaat bagi peningkatan kualitas pendidikan di wilayah sekitarnya.

Mendikdasmen menekankan bahwa setiap murid memiliki kemampuan dan kebutuhan belajar yang beragam. Karena itu, diperlukan pendekatan pendidikan yang dapat memberikan ruang bagi murid untuk berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

“Model pendidikan khusus ini adalah satu pilihan agar kalian semua dapat tumbuh, dapat berkembang sesuai dengan kemampuan akademik yang kalian miliki, dan berkembang menjadi generasi hebat Indonesia 2045,” kata Mendikdasmen kepada para murid.

Untuk memastikan layanan pendidikan SNT dapat segera dimulai pada tahun ajaran 2026/2027, pemerintah pada tahap awal mengoptimalkan fasilitas yang dimiliki Kemendikdasmen dan pemerintah daerah di sejumlah kabupaten/kota sebagai lokasi pembelajaran. Pada saat yang sama, pemerintah terus mempersiapkan pembangunan gedung SNT dengan fasilitas yang lebih representatif.

“Pada tahap awal, penyelenggaraan 17 Sekolah Nasional Terintegrasi di seluruh Indonesia dilakukan di fasilitas yang dimiliki Kemendikdasmen dan fasilitas yang dimiliki pemerintah daerah. Proses pembangunan sedang dipersiapkan dan diharapkan pada tahun depan Sekolah Nasional Terintegrasi telah memiliki gedung sendiri dengan fasilitas yang representatif, yang memungkinkan kalian semua dapat belajar dengan sebaik-baiknya,” ujar Mendikdasmen.

Hari pertama pembelajaran di SNT juga menjadi awal perjalanan baru bagi para murid angkatan pertama. Mereka datang membawa pengalaman, prestasi, cita-cita, serta semangat untuk tumbuh bersama di lingkungan belajar yang baru.

Salah satunya adalah Agisni Ramadani, murid jenjang SMP di SNT 7 Bogor. Sebelum bergabung dengan SNT, Agisni berhasil meraih peringkat pertama di kelas dan menjadi lulusan terbaik di sekolah asalnya. Ia berharap kesempatan belajar di SNT dapat membantunya terus mengembangkan kemampuan dan mewujudkan cita-citanya.

“Saya sangat senang setelah diterima di sini. Saya berharap bisa berkembang dan menjadi lebih baik lagi. Saya ingin menjadi dokter spesialis,” ujar Agisni.

Semangat yang sama disampaikan Nadine A. Zuhrah Farista, murid kelas X SNT 7 Bogor. Nadine membawa pengalaman dan prestasi nonakademik, khususnya di bidang kepramukaan. Sebelumnya ia berhasil meraih predikat Pramuka Garuda tingkat penggalang.

“Harapan saya ke depan semoga saya bisa lebih berkembang lagi di sini dan menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya,” ujar Nadine.

Dimulainya pembelajaran di 17 SNT menjadi langkah awal pemerintah dalam mengembangkan SNT sebagai lingkungan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar, bertumbuh, berprestasi, dan mengembangkan potensi terbaiknya. Melalui SNT, pemerintah berkomitmen memperluas hadirnya pendidikan bermutu di berbagai daerah sekaligus menyiapkan generasi Indonesia yang unggul menuju Indonesia Emas 2045.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

Pembukaan MPLS Tandai Dimulainya SNT Angkatan Pertama

Pembukaan MPLS Tandai Dimulainya SNT Angkatan Pertama

Bogor – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) Angkatan Pertama Tahun Ajaran 2026/2027 resmi dibuka pada Senin (10/8/2026). Pembukaan dipusatkan di SNT 7 Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dan terhubung secara daring dengan 16 lokasi SNT lainnya di berbagai wilayah Indonesia.

Pembukaan tersebut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Dudung Abdurachman, Wakil Ketua Komisi X DPR RI Himatul Aliah, serta Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara Basuki Hadimuljono yang hadir secara daring.

Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal (Dirjen PAUD Dikdas dan PNFI) Kemendikdasmen Gogot Suharwoto mengatakan, SNT merupakan bagian dari upaya pemerintah menghadirkan layanan pendidikan bermutu, unggul, dan terintegrasi yang dapat dijangkau anak-anak di berbagai daerah. Program tersebut merupakan amanat Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2026.

“Untuk angkatan pertama ini, dari total 37 lokasi yang ditetapkan untuk dibangun pada 2026, sebanyak 17 lokasi SNT telah siap beroperasi. Sebanyak 1.360 murid yang terdiri dari 680 murid SMP dan 680 murid SMA berhasil lolos seleksi penerimaan murid baru dari total 2.068 pendaftar,” ungkap Gogot.

Sebanyak 17 lokasi tersebut ditetapkan setelah Kemendikdasmen menerima usulan lokasi SNT dari 114 kabupaten dan kota yang kemudian melalui proses verifikasi, validasi, dan kunjungan lapangan bersama kementerian dan lembaga terkait. SNT 7 Parung, Kabupaten Bogor, menjadi salah satu lokasi yang mulai beroperasi pada Tahun Ajaran 2026/2027.

Untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan di 17 SNT tersebut, Kemendikdasmen juga menyiapkan tenaga pendidik dan kependidikan melalui proses seleksi. Sebanyak 17 kepala sekolah dipilih dari 1.800 pendaftar, sementara 204 guru dan tenaga pendamping pembelajaran direkrut dari 60 ribu lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan. Para kepala sekolah, guru, dan tenaga pendamping pembelajaran tersebut telah mengikuti pelatihan dan persiapan sebelum bertugas di sekolah masing-masing.

Dari sisi pembelajaran, Kemendikdasmen juga menyiapkan Learning Management System (LMS) yang menyediakan bahan ajar serta mendukung pemanfaatan perangkat pembelajaran digital di ruang kelas. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan belajar yang mendorong murid untuk berkembang dan berprestasi.

Dalam sambutannya, Pratikno menekankan bahwa SNT tidak hanya menghadirkan sekolah, tetapi juga membawa perubahan dalam tata kelola pendidikan melalui integrasi jenjang SMP dan SMA dalam satu manajemen. Integrasi tersebut memungkinkan keberlanjutan kurikulum dan pemanfaatan fasilitas bersama secara lebih optimal, termasuk laboratorium dan sarana olahraga.

“Kualitas pendidikan yang baik harus ada di mana-mana. Tempat anak lahir dan tumbuh tidak boleh menentukan nasib kualitas pendidikannya. Selain penguasaan akademik, SNT juga memfasilitasi seni, budaya, dan olahraga agar lahir manusia unggul yang utuh,” tegas Pratikno.

Pratikno juga menyoroti pentingnya menciptakan ruang pendidikan yang aman dan nyaman tanpa kekerasan bagi anak. Hal tersebut sejalan dengan perhatian SNT terhadap pembentukan karakter murid, selain pencapaian akademik.

Senada dengan itu, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa keberadaan SNT merupakan bagian dari pemenuhan amanat konstitusi untuk memberikan layanan pendidikan bagi warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Kepada para murid SNT angkatan pertama, ia berpesan agar mereka mengambil peran sebagai bagian dari perjalanan awal program tersebut.

“Kalian adalah pionir, pelopor, dan mitra kami dalam mewujudkan cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa,” pesan Abdul Mu’ti.

Penguatan karakter juga menjadi perhatian dalam pembukaan MPLS. Kepala KSP Dudung Abdurachman mengingatkan para murid untuk menjaga karakter, kejujuran, dan kepedulian sosial. Sementara itu, Himatul Aliah menekankan pentingnya keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia sebagai fondasi dalam menghadapi perkembangan era digital dan tantangan abad ke-21.

Rangkaian pembukaan MPLS SNT Angkatan Pertama turut diisi dengan unjuk bakat dan bincang interaktif antara pejabat negara dengan murid berprestasi dari berbagai SNT. Beragam potensi ditampilkan, mulai dari seni tari dan tarik suara hingga bela diri.

Kegiatan kemudian ditutup dengan seremoni penekanan tombol secara serentak yang menandai dimulainya MPLS bagi seluruh murid SNT angkatan pertama di Indonesia. Momentum ini menjadi langkah awal bagi 1.360 murid untuk belajar, bertumbuh, dan mengembangkan potensi melalui layanan pendidikan SNT, sekaligus menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas akses terhadap pendidikan berkualitas di berbagai daerah.

Filosofi Memuliakan Murid Kunci Utama dalam Aksi Pembelajaran Mendalam

Filosofi Memuliakan Murid Kunci Utama dalam Aksi Pembelajaran Mendalam

Siaran Pers

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 695/sipers/A6/VIII/2026

Malang, Jawa Timur, 10 Agustus 2026 – Pendidikan tidak hanya tentang apa yang diajarkan, tetapi bagaimana proses belajar dialami oleh murid. Pengalaman belajar yang bermakna menjadi kunci dalam membentuk pemahaman yang lebih dalam. Menjawab hal tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong transformasi pembelajaran melalui pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang berfokus pada pengalaman belajar yang Berkesadaran (Mindful), Bermakna (Meaningful), dan Menyenangkan (Joyful) melalui Apresiasi Karya Implementasi Pembelajaran Mendalam (Aksi PM) pada jenjang SMK di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Otomotif dan Elektronika (BBPPMPV BOE) Malang, Jawa Timur, Minggu (9/8).

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa transformasi pendidikan perlu dimulai dari akar permasalahan, yaitu pendekatan pembelajaran di kelas. “Kita ingin memperbaiki problematika pendidikan kita itu dari hulunya, yaitu dari pendekatan pembelajaran yang kita kembangkan, yang kita sebut dengan Deep Learning atau Pembelajaran Mendalam,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Pembelajaran Mendalam dibangun di atas prinsip utama Mindful, Meaningful, dan Joyful yang menempatkan pengalaman belajar murid sebagai pusat. Menurutnya, esensi Pembelajaran Mendalam terletak pada sikap dalam memandang proses belajar, di mana kualitas proses menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan, serta harus didukung dengan cara pandang yang menghargai setiap murid.

“Pembelajaran Mendalam adalah pembelajaran yang ingin kita lakukan dengan prinsip dasar memuliakan. Kata kuncinya adalah memuliakan: memuliakan murid, memuliakan guru, dan memuliakan ilmu. Disebut mendalam karena memang sangat kuat pengaruh dari teori Information Processing, yang menekankan bahwa kualitas proses itu yang menentukan keberhasilan. Tapi di atas itu semua adalah sikap pandang kita dalam memandang setiap murid, murid itu harus kita muliakan apa pun kemampuan akademiknya, apa pun latar belakang ekonominya, apa pun latar belakang (lainnya) dalam Pembelajaran Mendalam itu,” jelas Mendikdasmen.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Dirjen Dikmen Diksus), Tatang Muttaqin, menegaskan bahwa penguatan Pembelajaran Mendalam (PM) merupakan elemen krusial dalam merancang transformasi pendidikan vokasi yang adaptif. Menurutnya, ajang Aksi PM tidak sekadar berfokus pada kompetisi, melainkan menjadi wadah apresiasi bagi guru SMK untuk menjawab tantangan, mengeksplorasi strategi pembelajaran baru, serta menyebarkan praktik baik yang dapat direplikasi.

Melalui ajang ini, proses dan perjalanan pembelajaran dinilai secara menyeluruh mulai dari identifikasi masalah, pilihan pedagogis, hingga dampak konkretnya terhadap siswa. “Aksi PM menjadi ruang apresiasi bagi guru SMK yang telah menerapkan Pembelajaran Mendalam di kelas. Karya yang ditampilkan menggambarkan perjalanan pembelajaran secara utuh, dari masalah yang dihadapi, strategi pedagogis yang dipilih, hingga bukti pembelajaran dan dokumen pendukung. Dengan kata lain, yang kita nilai bukan sekadar bagusnya poster, tetapi seberapa dalam pembelajaran itu mengubah pengalaman belajar murid,” jelas Tatang.

Menurutnya, pendidikan vokasi yang unggul membutuhkan guru yang terus belajar dan berinovasi demi menyiapkan siswa menghadapi tantangan masa depan.

Krisna Kirana, peraih penghargaan Terbaik 1 dari SMK Negeri 2 Jiwan, Madiun, meyakini bahwa pembelajaran bermakna lahir saat murid mampu menghubungkan konsep teori dengan dunia nyata. Melalui karyanya yang berjudul “MATABOR” (Matematika Terapan Abad 21: Basis Operasi Trigonometri pada Pengeboran Presisi), ia mengintegrasikan konsep trigonometri ke dalam praktik pengeboran presisi di bengkel mesin agar murid merasakan langsung manfaat ilmu tersebut dalam dunia kerja. Ia menekankan bahwa penerapan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) tidak harus rumit dan mendorong guru lain untuk mulai mengeksplorasi integrasi materi antarjurusan demi menciptakan pengalaman belajar yang lebih relevan.

Sementara itu, peraih Terbaik 2, Yusra Khairunnisa dari SMK Negeri 1 Singosari, Malang, menghadirkan inovasi berbasis teknologi melalui pendekatan hybrid dengan memanfaatkan Augmented Reality (AR). Inovasi ini dirancang untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih konkret guna mendorong kemampuan analisis murid. Untuk mewujudkan aspek Menyenangkan (Joyful), ia menggunakan Diorama AR yang memungkinkan murid memindai penanda (marker) untuk mempelajari furnitur, psikologi warna, hingga aspek ergonomi secara interaktif.

Kedua pengajar tersebut berpesan agar rekan sejawat tidak menunda perubahan dan mulai menerapkan Pembelajaran Mendalam dari langkah-langkah terkecil di kelas masing-masing. Yusra menegaskan bahwa perubahan sejati bukan berasal dari apa yang diketahui, melainkan dari apa yang dilakukan secara nyata. Ia menyatakan, “Silakan dimulai dari hal kecil karena yang paling mengetahui permasalahan di kelas adalah Bapak/Ibu guru sendiri,” sebagai ajakan bagi para pendidik untuk lebih peka terhadap dinamika belajar murid mereka.

Rangkaian Aksi PM berlangsung pada 22 Juli hingga 9 Agustus 2026, melibatkan 250 satuan pendidikan sasaran pelatihan tahun 2025 hingga terpilih 10 karya terbaik yang meraih berbagai kategori penghargaan. Melalui Aksi PM SMK, Kemendikdasmen berharap praktik baik Pembelajaran Mendalam dapat terus berkembang dan diadopsi secara luas, sehingga menghadirkan pengalaman belajar yang lebih relevan, bermakna, dan berdampak bagi masa depan murid.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers