Penabuhan Gong oleh Kepala BBPMP Jabar di Pembukaan FPK 2024 Fotografer: M Diva
Bandung, 30/07/2024, WK – Dalam rangka membangun komitmen bersama wujudkan sekolah yang dicita-citakan, Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Barat melaksanakan kegiatan Forum Pemangku Kepentingan (FPK) Tahun 2024. Kegiatan ini dilaksanakan dari tanggal 29 s.d. 31 Juli 2024 di Hotel Harris Convention Hall Bandung. Para peserta yang terlibat terdiri dari unsur Kementerian Pendidikan, DPRD Bidang Pendidikan, Bappeda, Dinas Pendidikan, Dewan Pendidikan hingga Satuan Pendidikan di Provinsi Jawa Barat yang terlibat dalam Program Sekolah Penggerak (PSP) angkatan 2 dan 3 di Provinsi Jawa Barat.
Unsur-unsur pendidikan tersebut merumuskan dan membangun komitmen bersama demi mewujudkan sekolah yang dicita-citakan untuk mewujudkan peserta didik yang kompeten dan berkarakter Pancasila. Forum ini menjadi ajang membangun komitmen untuk saling mendukung dan berkolaborasi dalam mengatasi berbagai tantangan yang ada, serta memastikan setiap langkah diambil dengan mempertimbangkan kebutuhan dan aspirasi semua pihak terkait.
Kegiatan ini menjadi wadah untuk berbagi pandangan dan gagasan, serta memperkuat ikatan di antara berbagai elemen pendidikan. Melalui penandatanganan deklarasi komitmen, para unsur pendidikan daerah menegaskan keseriusan dalam upaya menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik dan lebih inklusif. Dengan adanya kesepakatan ini, diharapkan setiap upaya dan sumber daya yang ada dapat dimaksimalkan untuk mencapai visi bersama mengenai sekolah yang dicita-citakan, dimana setiap peserta didik dapat berkembang secara optimal.
Penampilan tari Badaya Merak dari dua siswi SMPN 9 Kota Bandung menyambut para unsur-unsur pendidikan yang masuk ruang sidang. Kemudian, penampilan tari Jaipong dan tari Nusantara dari 4 siswi SMAN 1 Kota Bandung ikut memeriahkan acara pembukaan.
Kegiatan ini dibuka oleh Kepala BBPMP Provinsi Jawa Barat Sri Wahyuningsih yang ditandai dengan pemukulan gong sebanyak 5 kali. Pada sambutannya, Sri berpesan bahwa pendidikan modern membekali anak anak kita dengan karakter yang mampu mandiri, berakhlak mulia, baik, cerdas dan percaya diri. Sambutan dari perwakilan PDM 01 PAUD disampaikan oleh Ir. Djajeng Baskoro, M.Pd. Kemudian sambutan dari Pj. Gubernur Jawa Barat yang diwakili oleh Plt. Kadisdik Provinsi Jawa Barat.
Pada kegiatan tersebut, BBPMP Provinsi Jawa Barat memberikan penghargaan kepada Sekolah Penggerak Kategori Inovatif Kolaboratif kepada oleh 10 (sepuluh) satdik di Jabar dari semua jenjang. Penghargaan tersebut diterima oleh TK Cikal Cahaya Kab. Bogor, TK Assunah Kota Cirebon, SLBN Kab. Bandung Barat, SLBN Cileunyi Kab. Bandung, SDN 1 Sukamulya Kab. Ciamis, SDN 1 Kondangjajar Kab. Pangandaran, SMPN 4 Kota Cimahi, SMPN 1 Cipanas Kab. Cianjur, SMAN Jatinangor Kab. Sumedang, dan SMAN 1 Kota Bandung.
Kategori Inovatif Transformatif diberikan kepada SDN Purwaasih Kabupaten Tasikmalaya, SDN 1 Nagrikidul Kabupaten Purwakarta, SMPN 1 Lebakwangi Kabupaten Kuningan, SMAN 2 Babelan Kabupaten Bekasi (KCD III), SMAN 8 Kota Bandung (KCD VII), SMAN 1 Cikembar Kab. Sukabumi (KCD V), SD Islam Assuryaniyah Kota Bekasi, SMPN 1 Tambun Selatan Kab. Bekasi, SDN 1 Kaliwadas Kab. Cirebon.
Bandung, 30 Juli 2024, WK – Perkembangan teknologi yang sangat cepat dan dinamis menuntut masyarakat harus beradaptasi dengan cepat. Masyarakat sudah sangat akrab dan familiar dengan perangkat teknologi, gawai, dan aplikasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk mendukung efektivitas dan efisiensi kerja. Tren saat ini, masyarakat pun senang berselancar di media sosial, mencari informasi dengan cepat dan dapat mudah dipahami. Ingin mendapatkan informasi yang sederhana tapi berbobot, langsung ke intinya tanpa harus membaca panjang lebar, apalagi bertele-bertele. Oleh karena itu, trennya saat ini Sudah banyak bergeser dari membaca informasi secara tertulis menjadi melihat video pendek atau desain grafis.
Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Barat sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kemendikbudristek yang bertugas untuk menginformasikan, menyosialisasikan, dan mengadvokasi kebijakan Kemendikbudristek berkepentingan untuk dapat menyampaikan informasi kepada masyarakat secara efektif, efisien, dan mudah dipahami oleh masyarakat. Agar hal tersebut dapat tercapai, perlu didukung oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten.
Berdasarkan hal tersebut, di atas, maka BBPMP Provinsi Jawa Barat melaksanakan kegiatan Pelatihan Teknis Videografi, Desan Grafis, dan Teknik Jurnalisme bagi pegawai BBPMP Provinsi Jawa Barat ditambah peserta perwakilan dari Dinas Pendidikan dan sekolah di wilayah Bandung Raya. Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 29 s.d. 31 Juli 2024 bertempat di Pop! Hotel Festival Citilink Bandung. Peserta dari BBPMP Provinsi Jawa Barat sebanyak 28 orang, peserta dari Dinas Pendidikan se-Bandung Raya sebanyak 5 orang, dan peserta perwakilan dari guru/tenaga kependidikan se-Bandung Raya sebanyak 7 orang.
Kegiatan dibuka oleh Kepala BBPMP Jawa Barat, Sri Wahyuningsih. Dalam sambutannya, Sri menyampaikan bahwa media sosial di BBPMP Provinsi Jawa Barat memiliki peran yang sangat strategis dalam ikut mempromosikan dan menyosialisasikan berbagai kebijakan prioritas Kemendikbudristek. “Media sosial BBPMP Provinsi Jawa Barat harus bisa menjadi sarana edukasi bagi publik, khususnya dalam bidang pendidikan.”, imbuhnya.
Sri menambahkan bahwa dalam menyikapi sebuah kebijakan pemerintah, kadang muncul kesalahpahaman atau miskonsepsi. Oleh karena itu, peran media sosial lembaga pemerintah seperti halnya BBPMP Provinsi Jawa Barat sangat berkepentingan untuk mampu memberikan pemahaman kepada masyarakat melalui media yang mudah dipahami melalui konten-konten media sosial yang kreatif dan menarik. Sri berharap, dampak dari pelatihan ini bisa meningkatkan kemampuan staf BBPMP Provinsi Jawa Barat, khususnya yang bertugas di tim media, humas, dan PIC Content Creator dalam membuat, mengemas, dan menyampaikan informasi dan pesan yang bermanfaat untuk meningkatkan mutu pendidikan di Jawa Barat serta dapat meng-counter jika ada miskonsepsi yang muncul dari masyarakat terhadap sebuah kebijakan yang digulirkan oleh Kemendikbudristek.
Ketua Tim Kerja 2 Tintin Kartini selaku penanggung jawab kegiatan dalam laporannya menyampaikan bahwa tujuan dari kegiatan ini antara lain:
Memberikan peserta pemahaman tentang prinsip-prinsip dasar dan etika videografi, desain grafis, dan jurnalistik.
Memberikan peserta pengetahuan dan keterampilan teknis yang dibutuhkan untuk menghasilkan konten video, desain grafis, dan jurnalistik yang berkualitas.
Meningkatkan kemampuan peserta dalam memanfaatkan aplikasi smartphone dan AI untuk menghasilkan konten video, desain grafis, dan jurnalistik yang menarik dan sesuai dengan target audiens.
Meningkatkan kemampuan peserta untuk mengukur efektivitas strategi publikasi dan melakukan penyesuaian yang diperlukan.
Agus Ramdani selaku PIC PDM 07 menyampaikan bahwa materi yang diberikan pada pada pelatihan ini antara lain; teknik jurnalisme, desain grafis untuk media sosial, dan videografi untuk media sosial. Narasumber yang dihadirkan pada kegiatan ini sebanyak 3 orang, yaitu Rurry Fatchurrahman (Tim kreatif PDM 07 pusat), Nurulloh (praktisi media/ COO Kompasiana), dan Dzulfikar A. Ridlo (praktisi media/DMT Network Solution). Selain belajar secara teori, peserta juga diberikan kesempatan untuk berlatih atau praktik. (IA).
Webinar Pendidikan Berjenjang Pendidikan Inklusif: Modul Selesai, Aksi Nyata Dimulai
Bandung Barat, 22 Agustus 2024, WK – Indonesia semakin dekat dengan mewujudkan pendidikan yang inklusif. Hal ini ditandai dengan suksesnya webinar “Pendidikan Berjenjang Pendidikan Inklusi (Modul Selesai, Aksi Nyata Dimulai)” yang baru saja digelar. Webinar ini diikuti oleh seribu lebih peserta yang terdiri dari kepala sekolah, guru, pengawas, dan pemangku kepentingan pendidikan lainnya.
Tujuan utama webinar ini adalah untuk mensosialisasikan modul pendidikan inklusi yang dirancang secara komprehensif untuk memberikan panduan praktis bagi pendidik dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif bagi semua siswa, termasuk anak berkebutuhan khusus.
Dalam sambutannya, Kabag BBPMP Provinsi Jawa Barat, Mardi Wibowo, menekankan pentingnya pendidikan inklusi bagi masa depan pendidikan Indonesia. “Pendidikan inklusi bukan hanya sekedar tren, tetapi merupakan sebuah kebutuhan. Semua anak, tanpa terkecuali, berhak mendapatkan kesempatan belajar yang sama,” tegasnya.
Mardi Wibowo juga menyampaikan harapannya agar webinar ini dapat menjadi titik awal bagi para peserta untuk segera mengimplementasikan pendidikan inklusi di sekolah masing-masing. “Dengan adanya modul ini dan semangat kolaborasi yang tinggi, saya yakin kita dapat mewujudkan pendidikan inklusi yang berkualitas di Jawa Barat. Selain itu, acara ini menjadi wadah bagi guru, kepala sekolah, dan pengawas untuk saling belajar dan menginspirasi” ujarnya.
Webinar ini membahas berbagai aspek penting dalam pendidikan inklusif, antara lain: (1) konsep dasar pendidikan inklusif: peserta diajak untuk memahami konsep dan prinsip-prinsip dasar pendidikan inklusi, (2) penerapan modul: webinar memberikan panduan yang jelas mengenai cara menerapkan modul pendidikan inklusif di berbagai jenjang Pendidikan inklusi, (3) praktik terbaik: para peserta berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam melaksanakan pendidikan inklusif di sekolah mereka, (4) tantangan dan solusi: diskusi terbuka dilakukan untuk membahas berbagai tantangan yang dihadapi dalam implementasi pendidikan inklusif serta solusi-solusi yang dapat diterapkan.
Pentingnya Kolaborasi
Salah satu poin penting yang dibahas dalam webinar adalah pentingnya kolaborasi antara berbagai pihak dalam mewujudkan pendidikan inklusif. Alfi Afifah, salah satu narasumber, menekankan bahwa, “Mendorong kolaborasi antara guru, orang tua, dan otoritas pendidikan akan meningkatkan sistem dukungan bagi siswa. Upaya kolektif ini membantu mengatasi beragam kebutuhan pendidikan secara efektif.”
Senada dengan Alfi, Siti Ahadia Nurjanah juga menyoroti peran penting kepemimpinan sekolah dalam menciptakan lingkungan yang inklusif. “Peran kepemimpinan sekolah sangat penting dalam menumbuhkan budaya terbuka dan menerapkan kebijakan ramah anak,” ujarnya.
Tantangan dan Solusi
Para peserta juga berbagi berbagai tantangan yang mereka hadapi dalam mengimplementasikan pendidikan inklusif di sekolah masing-masing. Namun, mereka juga menawarkan solusi-solusi kreatif. Salah satu peserta bertanya, “Bagaimana cara mengajar anak-anak berkebutuhan khusus agar mereka merasa nyaman dan termotivasi untuk belajar?”
Menanggapi pertanyaan tersebut, Alfi Afifah menjelaskan bahwa, “Mengidentifikasi beragam kebutuhan siswa sangat penting untuk menciptakan lingkungan kelas yang aman dan menarik. Hal ini memastikan semua siswa merasa dihargai dan dilibatkan.”
Webinar ini juga menekankan pentingnya untuk memahami dan memenuhi kebutuhan individual setiap siswa. Siti Ahadia Nurjanah menambahkan, “Pendidikan yang efektif memerlukan pemahaman dan penanganan beragam kebutuhan semua siswa. Guru harus menciptakan lingkungan pembelajaran inklusif yang mendorong kolaborasi dan mengakomodasi berbagai gaya belajar.”
Webinar ini menjadi langkah awal yang baik dalam mewujudkan pendidikan inklusif di Indonesia. Para peserta diharapkan dapat menerapkan ilmu yang telah diperoleh dalam praktik sehari-hari di sekolah. Dengan kolaborasi yang kuat dan komitmen yang tinggi, kita dapat menciptakan lingkungan belajar yang inklusif bagi semua
Penulis: Sofi Suwaris dan Syifa Editor: Agus Ramdani
(Bandung Barat, 24 Juli 2024). — Dalam rangka memeriahkan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) tahun 2024, Selasa, 23 Juli 2024, Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan berbagai acara seperti senam pagi dan minum susu bersama, nonton bareng film edukasi, permainan tradisional, origami, menggambar poster, membaca nyaring, sosialisasi antiperundungan, podcast, bazaar makanan sehat bagi anak, dan lomba bekal sehat dan Bergizi (Bento).
Pada acara yang digawangi oleh Timker 3 tersebut, mengundang peserta didik dan guru dari sekolah yang berada di sekitar BBPMP Provinsi Jawa Barat, yaitu; SDN 1 Cimerang, SDN 2 Cimerang, SDN Sindangsari, SDN Tipar Barat, dan SMPN 4 Padalarang. Masing-masing sekolah mengirimkan perwakilan peserta sebanyak 30(tiga puluh) orang.
Dalam sambutannya, Kepala BBPMP Provinsi Jawa Barat, Sri Wahyuningsih menyampaikan bahwa acara ini spesial untuk seluruh anak di provinsi Jawa Barat. Sri mengajak agar orang tua mempersiapkan bekal makanan yang sehat untuk anak-anak. “Makanan yang sehat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Gerakan Sekolah Sehat (GSS). Mari kita awali untuk mempersiapkan anak-anak Indonesia yang keren melalui penyiapan bekal makanan sehat”, imbuhnya.
Ketua Timker 3 Yanti Triana menyampaikan bahwa acara ini selain untuk memeriahkan HAN 2024, juga sebagai sarana menyosalisasikan pentingnya perlindungan anak sesuai tema peringatan HAN 2024, yaitu “Anak Terlindungi, Indonesia Maju”. “Perlindungan anak penting, seperti perlindungan kesehatan dan kesejahteraan penting untuk kita wujudkan bersama.”, tukasnya. Yanti menyampaikan bahwa salah satu bentuk perlindungan orang tua terhadap anak adalah dengan menyiapkan bekal makanan yang sehat bagi anak. Hal inilah yang menginspirasi diadakannya lomba bekal makanan sehat bagi anak (Bento) pada peringatan HAN 2024 di BBPMP Provinsi Jawa Barat. “Lomba ini diikuti oleh delapan orang peserta. Jadi menu-menu yang dilombakan bisa jadi inspirasi bagi orang tua untuk menyiapkan bekal bagi anaknya untuk satu seminggu”, imbuhnya.
Peringatan HAN 2024 di BBPMP Provinsi Jawa Barat berlangsung meriah. Beberapa orang guru yang wawancarai tim media terkait kesan dan pesannya selama mengikuti kegiatan tersebut menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat berkesan, sangat bermanfaat, dan sangat menyenangkan. Ini adalah pengalaman pertama, pengalaman baru, dan pengalaman terbaik bagi peserta didik. Hal ini juga sangat bermanfaat rangka memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik di luar kelas. “Anak-anak sangat antusias saat mengikuti beragam acara pada hari ini.”, ucap salah seorang guru. “Kalau ada acara lagi, undang kami lagi ya”, guru yang lain menambahkan.
Beberapa orang peserta didik yang diwawancarai oleh tim media pun menyampaikan rasa senangnya menghadiri peringatan HAN 2024 di BBPMP Provinsi Jawa Barat. Mereka mendapatkan pengalaman yang menyenangkan. Mereka bisa bermain, ikut lomba, ikut nonton film bersama dengan teman-temannya. Bahkan saking senangnya, ada peserta didik yang tidak mau pulang.
Peringatan HAN 2024 di BBPMP Provinsi Jawa merupakan kerja kolaboratif semua unsur atau bagian yang di BBPMP Provinsi Jawa Barat. Mereka dengan penuh semangat menyukseskan acara tersebut. Semoga acara ini menjadi insprasi bagi semua pihak khususnya para orang tua untuk melindungi anak-anaknya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari menyiapkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkarakter Pancasila. “Anak terlindungi, Indonesia maju!”.
Bandung Barat – Senang dan cerianya anak-anak menyambut Tahun Ajaran Baru 2024-2025 yang dimulai pada Senin, 15 Juli 2024 . Saat ini Masa Pengenalan Lingkungan Sekilah(MPLS) Pendidikan Anak Usia Dini(PAUD) -Sekolah Dasar(SD) kelas 1(satu) di awal tahun ajaran sedang berlangsung di 27 (dua puluh tujuh) kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat. Untuk mendapatkan gambaran implementasi MPLS yang menyenangkan, dan menjaring permasalahan yang dihadapi dalam implementasinya di Satuan Pendidikan PAUD dan SD kelas 1(satu), Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan(BBPMP) Provinsi Jawa Barat lakukan koordinasi dengan Dinas Pendidikan di 27(dua puluh tujuh) kabupaten /kota dan turun lapangan untuk supervisi implementasi MPLS di tiap kabupaten/kota, 2(dua) PAUD dan 4(empat) SD sebagai sample acaknya.
MPLS diawali dengan upacara penyambutan yang dihadiri oleh kepala sekolah, para guru, serta orang tua peserta didik, perkenalan dengan semua guru dan pengenalan lingkungan sekolah yang dikemas dalam berbagai kegiatan yang menyenangkan.
Ragam cara yang dilakukan satuan PAUD dan SD dalam mengemas pelaksanaan MPLS dengan menyuguhkan berbagai kegiatan yang interaktif, kreatif dan edukatif. Unjuk performance ekstra kurikuler di SD dari kakak kelas pun menjadi suguhan yang menarik bagi anak, seperti menari, pencak silat, angklung,menyanyi, pantomim, sosiodrama, basket, demo futsal, sisingaan dan seni budaya lainnya. Di PAUD pun juga tak kalah menariknya. Guru mengajak anak bermain dengan permainan kreatif bersama orangtua, mendekorasi ruangan seperti pesta berikut kado dari orangtua untuk anak dengan balutan baju pesta yang dikenakan anak, , bermain di outdoor dan bercerita dengan balutan kostum pencerita.
Orang tua dan guru turut memberikan apresiasi positif terhadap pelaksanaan MPLS “Saya senang bisa ikut serta dalam kegiatan MPLS ini. Anak saya terlihat sangat senang dan lebih percaya diri untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah,” ungkap salah satu orang tua siswa kelas 1SD. “Anak-anak terlihat sangat antusias dan semangat mengikuti kegiatan MPLS. Mereka mulai mengenal lingkungan sekolah dan teman-teman baru dengan cara yang menyenangkan,” kata guru kelas 1 SD.
MPLS ini pun dapat menjadi momen yang efektif untuk mengenalkan dan menanamkan nilai-nilai anti bullying kepada peserta didik PAUD dan SD kelas 1, sehingga mereka dapat memulai tahun ajaran dengan pemahaman yang kuat tentang pentingnya sikap saling menghormati dan empati terhadap sesama misalnya dengan mengajak anak menonton video STOP BULLYING, bercerita, melakukan kegiatan Interaktif dan permainan yang membangun kerja sama dan menghargai perbedaan. Tidak hanya itu, peserta didik juga diajak untuk mengenal dan mematuhi tata tertib sekolah melalui permainan peran yang interaktif. Hal ini diharapkan dapat membentuk karakter disiplin dan tanggung jawab sejak dini.
Berdasarkan wawancara dan hasil observasi, rata-rata guru belum memahami dalam merancang dan melaksanakan asesmen awal. “Anak-anak di PAUD dan SD kelas 1 memiliki tingkat perkembangan yang sangat beragam. Guru harus bisa menyesuaikan asesmen untuk mengakomodasi perbedaan dalam keterampilan motorik, kognitif, bahasa, dan sosial-emosional,ini tantangan terbesar bagi kami , ungkap salah satu guru SD kelas 1(satu). Semoga BBPMP Jawa Barat dapat memberikan bimbingan teknis maupun pendampingan pada Pendidik dan tenaga kependidikan secara luring, harapnya.
Supervisi ini harapannya kami BBPMP Jabar dapat memperoleh gambaran implementasi MPLS di lapangan dan mengetahui sejauhmana pemahaman lapangan dalam mengimplementasikan kebijakan merdeka belajar episode 24(dua puluh empat) di awal tahun ajaran ini. Juga melalui supervisi ini ssebagai refleksi bagi program program yang telah dilakukan BBPMP melalui kegiatan PDM 09( nol sembilan), apakah informasi sudah dipahami lapangan, tantangan yang dihadapi Pendidik dan Tenaga Kependidikan(PTK) dalam melaksanakan MPLS 2 minggu. Hal ini akan menjadi input bagi BBPMP untuk melakukan strategi penguatan dalam implementasi transisi PAUD-SD di tahap berikutnya di tahun berikutnya, pungkas Sri Lilis Herliyanti .
Sambutan Kepala BBPMP pada Pengolahan Hasil Pemantauan Pelaksanaan PPDB
Bandung Barat, 19 Juli 2024 – Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Barat menyelenggarakan kegiatan Pengolahan Hasil Pemantauan Pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun 2024 pada hari Jumat, 19 Juli 2024. Acara yang diadakan secara daring melalui Zoom Meeting ini diikuti oleh berbagai pihak terkait, termasuk petugas pemantauan PPDB BBPMP Jabar, panitia PPDB provinsi/kab/kota, dan perwakilan Disdukcapil Provinsi/kab/kota.
Kepala BBPMP Jabar, dalam sambutannya, menyampaikan bahwa pelaksanaan PPDB 2024 menunjukkan peningkatan kualitas dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini terlihat dari beberapa indikator, seperti kelancaran proses pendaftaran, berkurangnya jumlah keluhan, dan meningkatnya transparansi dalam proses penerimaan.
Namun demikian, masih terdapat beberapa kendala yang perlu dibenahi. Salah satu kendala utama adalah upaya manipulasi data oleh sebagian orang tua untuk mendapatkan tempat terbaik bagi anak mereka. Hal ini tentunya perlu ditindaklanjuti dengan lebih tegas agar proses PPDB berjalan secara adil dan transparan.
Kendala lain yang dihadapi adalah kekurangan sekolah di beberapa daerah. Hal ini menyebabkan beberapa sekolah kelebihan murid dan melebihi daya tampungnya. Untuk mengatasi hal ini, perlu dilakukan koordinasi yang lebih baik antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan sekolah-sekolah swasta.
Dalam paparannya, Elsi Eka Rahmawati, S.E., M.A.P Narasumber dari PDM 05 Dit SD Ditjen PDM Kemdikbud Ristek menjelaskan bahwa PPDB 2024 telah dilaksanakan melalui beberapa tahap, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan. Tahap perencanaan meliputi penetapan wilayah zonasi, penentuan persentase setiap jalur penerimaan, pelibatan sekolah swasta, penyusunan juknis PPDB, pembentukan panitia, pengembangan aplikasi PPDB online, dan sosialisasi kepada masyarakat.
Pada sesi tanya jawab, beberapa peserta mengajukan pertanyaan terkait dengan pelaksanaan PPDB, seperti pengecekan NIK yang tidak aktif atau tidak sesuai, pembatasan jumlah rombel di Dapodik versi terbaru, solusi bagi siswa yang tidak mampu membayar sekolah swasta, dan mekanisme pengajuan kelas gemuk untuk sekolah yang kekurangan sekolah. Para narasumber memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dan memberikan saran serta masukan untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan PPDB di masa depan.
Acara ini diharapkan dapat membantu meningkatkan pemahaman dan kemampuan para peserta dalam melaksanakan PPDB yang lebih berkualitas, akuntabel, dan transparan, sehingga dapat mewujudkan mimpi anak bangsa untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik.
Berikut beberapa poin penting dari kegiatan ini:
Pelaksanaan PPDB 2024 menunjukkan peningkatan kualitas dibandingkan tahun sebelumnya.
Masih terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaan PPDB, seperti manipulasi data dan kekurangan sekolah.
Penting untuk terus meningkatkan kualitas pelaksanaan PPDB demi mewujudkan mimpi anak bangsa.
Dapodik versi terbaru membatasi jumlah per rombel menjadi 32 siswa.
Sekolah yang kelebihan murid dan terkunci di Dapodik dapat mengajukan pengajuan kelas gemuk, tentunya setelah dipenuhi berbagai syarat-syarat pengecualian, sebagai hasil kajian pihak Pemda.
Penting untuk meningkatkan koordinasi antara berbagai pihak terkait dalam pelaksanaan PPDB.
Bandung, 18 Juli 2024 – Ditjen PAUD Dasmen Kemendikbudristek sukses menyelenggarakan Webinar Seri 1 Rilis Dapodik Versi 2025 dengan tema “Pendataan Dapodik Tahun Ajaran 2024/2025 dan Identifikasi Siswa Inklusi di Satuan Pendidikan”. Webinar yang diadakan secara daring melalui kanal Youtube Ditjen PAUD Dasmen ini diikuti oleh lebih dari 1.000 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Webinar ini menghadirkan Praptono (Sesditjen PAUD Dikdas Dikmen) sebagai keynote speaker dan narasumber yang kompeten di bidang Dapodik, yaitu Aswin Wihdiyanto dan Nandana Aditya. Secara umum dalam paparan para narasumber menjelaskan tentang berbagai pembaruan dan fitur baru pada Dapodik Versi 2025, termasuk perubahan alur pendataan, integrasi data dengan aplikasi lain, dan penyempurnaan modul-modul yang ada. Selain itu, narasumber memaparkan tentang pentingnya identifikasi siswa inklusi di satuan pendidikan. Beliau menjelaskan bahwa identifikasi ini perlu dilakukan untuk memastikan bahwa siswa inklusi mendapatkan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya.
Peserta Antusias
Webinar ini juga diisi dengan sesi tanya jawab yang dipandu oleh moderator Nafis Khoirul. Para peserta antusias mengajukan pertanyaan seputar aplikasi Dapodik Versi 2025 dan identifikasi siswa inklusi.
Salah satu peserta webinar, mengaku sangat terbantu dengan informasi yang disampaikan dalam webinar ini. “Webinar ini sangat bermanfaat bagi saya dan rekan-rekan di sekolah. Kami mendapat banyak informasi baru tentang Dapodik Versi 2025 dan cara mengidentifikasi siswa inklusi,” ujarnya. Peserta lain, juga memberikan apresiasi kepada Ditjen PAUD Dasmen atas penyelenggaraan webinar ini. “Terima kasih kepada Ditjen PAUD Dasmen yang telah menyelenggarakan webinar ini. Webinar ini sangat penting bagi kami para operator Dapodik,” tuturnya.
Webinar Seri 1 Rilis Dapodik Versi 2025 ini diharapkan dapat membantu para operator Dapodik dalam memahami dan menggunakan aplikasi Dapodik Versi 2025 dengan baik. Selain itu, webinar ini juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran tentang pentingnya identifikasi siswa inklusi di satuan pendidikan.
Untuk materi dan referensi yang terkait dengan Dapodik Versi 2025 dapat di askses pada tautan berikut.
Bandung Barat, 17/07/2024 – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) merupakan momen penting bagi peserta didik baru untuk mengenal lebih dekat program, tata kelola, sarana dan prasarana sekolah, cara belajar, serta menanamkan konsep pengenalan diri dan pembinaan awal kultur Sekolah.
Tahun Ajaran 2024/2025 ini, MPLS akan menjadi lebih istimewa dengan fokus pada internalisasi nilai-nilai Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan (PPKSP) dan kesehatan jiwa peserta didik.
MPLS: Lebih dari Sekedar Orientasi
MPLS bukan hanya tentang orientasi sekolah, tetapi juga tentang membangun karakter dan jiwa yang sehat bagi peserta didik. Melalui kegiatan yang edukatif dan kreatif, MPLS diharapkan dapat menumbuhkan nilai-nilai positif seperti toleransi, rasa hormat, dan tanggung jawab.
Internalisasi nilai-nilai PPKSP dan kesehatan jiwa menjadi fokus utama MPLS tahun ini. Hal ini sejalan dengan amanat Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan (PPKSP) dan salah satu fokus dalam Program Gerakan Sekolah Sehat (GSS) yaitu Sehat Jiwa.
Fokus pada PPKSP dan Kesehatan Jiwa
Kemendikbudristek telah menyediakan panduan sosialisasi PPKSP pada saat pelaksanaan MPLS yang dapat diakses di http://bit.ly/panduanmpls-ppksp. Panduan ini berisi materi yang sederhana dan efektif untuk digunakan di setiap jenjang pendidikan. Panduan ini berisi materi yang sederhana dan efektif untuk digunakan di setiap jenjang pendidikan. Berikut beberapa aktivitas MPLS yang terdapat pada panduan tersebut.
Aktivitas MPLS PAUD
Mengajak peserta didik untuk melakukan ice breaking: 10 menit
Mengajak orang tua untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, berkebinekaan, dan aman bagi semua: 25 menit
Mengajak peserta didik untuk menonton film pendek pencegahan kekerasan: 20 menit
Mengajak peserta didik untuk mengenali emosi diri dengan aktivitas roda dan perasaan: 15 menit.
Melakukan deklarasi anti kekerasan: 20 menit.
Aktivitas-aktivitas di atas bisa dilakukan secara berurutan selama 90 menit. Tentunya, penyelenggara dapat melakukan adaptasi penyesuaian waktu sesuai dengan rencana yang telah dipersiapkan. Kegiatan-kegiatan tersebut juga bisa dimanfaatkan guru dalam proses belajar mengajar di kelas.
Aktivitas MPLS SD
Mengajak peserta didik untuk melakukan ice breaking: 10 menit
Mengajak peserta didik untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, berkebinekaan, dan aman bagi semua: 25 menit.
Mengajak peserta didik untuk menonton film pendek pencegahan kekerasan: 20 menit.
Memainkan permainan Boleh dan Tidak Boleh: 5 menit.
Mengajak peserta didik untuk mengenali emosi diri dengan Roda dan Catatan Perasaan: 15 menit.
Memasang poster bentuk-bentuk kekerasan: 15 menit
Kegiatan-kegiatan di atas dapat dilakukan secara berurutan dalam waktu 90 menit.
Aktivitas MPLS SMP
Mengajak peserta didik untuk melakukan ice breaking: 10 menit
Mengajak peserta didik untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, berkebinekaan, dan aman bagi semua: 25 menit
Mengajak siswa untuk menonton bareng film pendek pencegahan kekerasan
Memainkan permainan Mitos dan Fakta: 5 menit
Mengembangkan komitmen dan harapan melalui Kotak Harapan: 15 menit
Memasang poster bentuk-bentuk kekerasan di sekolah: 15 menit
Melakukan Deklarasi Antikekerasan: 30 menit
Menyebarkan aksi melalui kampanye media sosial: 15 menit
Aktivitas kreatif untuk MPLS 2024 jenjang SMP di atas bisa dilakukan secara berurutan dalam waktu 135 menit.
Aktivitas MPLS SMA 2024
Mengajak peserta didik untuk melakukan ice breaking: 10 menit
Mengajak peserta didik untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, berkebinekaan, dan aman bagi semua: 25 menit
Mengajak siswa untuk menonton film pendek pencegahan kekerasan: 20 menit
Memainkan permainan Mitos dan Fakta: 5 menit
Mengembangkan komitmen dan harapan melalui Kotak Harapan: 15 menit
Memasang poster bentuk-bentuk kekerasan di sekolah: 15 menit
Melakukan Deklarasi Antikekerasan: 30 menit
Menyebarkan aksi melalui media sosial: 15 menit
Daftar kegiatan MPLS SMA di atas dapat dilaksanakan secara berurutan selama 135 menit.
Mari ciptakan MPLS yang berkesan dan bermanfaat bagi peserta didik kita!
Flyer Webinar Peran Orang Tua dalam Mendukung Gerakan Transisi PAUD-SD yang Menyenangkan
Bandung Barat, 13 Juli 2024 – Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Jawa Barat sukses menyelenggarakan webinar bertajuk “Peran Orang Tua dalam Mendukung Gerakan Transisi PAUD SD yang Menyenangkan” pada Sabtu, 13 Juli 2024. Acara yang diadakan secara daring melalui Zoom dan YouTube ini menarik perhatian luar biasa, dengan total peserta mencapai 1000 (seribu) orang di Zoom dan 22000 (dua puluh dua ribu) orang di live streaming YouTube.
Kepala BBPMP Jawa Barat, Sriwahyuningsih, membuka webinar dengan menekankan pentingnya transisi PAUD SD yang menyenangkan bagi peserta didik. “Dua minggu pertama sekolah merupakan gerbang pertama bagi anak-anak untuk memasuki fase transisi PAUD-SD,” tutur beliau. “Terbangunnya transisi yang menyenangkan membutuhkan kerja sama semua pihak, termasuk orang tua, Bunda PAUD, dan satuan pendidikan.”
Sisilia Maryani, narasumber dalam webinar ini, menjelaskan lebih lanjut tentang peran orang tua dalam mendukung proses transisi. “Tidak semua anak mengalami proses penguatan kemampuan fondasi dengan baik,” jelasnya. “Oleh karena itu, diperlukan pembinaan yang tepat untuk membangun kemampuan dasar secara bertahap, bermakna, dan menyenangkan. Pastikan tidak ada patahan pembelajaran antara PAUD dan SD.” Beliau pun membagikan beberapa ide kegiatan bermain yang membangun kemampuan fondasi anak.
Sri Lilis Herliyanti, PIC PDM 09, menutup webinar dengan menyampaikan harapannya kepada orang tua dan Bunda PAUD. “Mari ajak anak-anak untuk mulai bersosialisasi dan membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan baru, mengenal teman baru, guru baru, dan tempat baru,” pesannya. “Bunda PAUD juga diharapkan dapat mendampingi satuan pendidikan dalam memastikan tidak ada tes calistung pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), menerapkan MPLS bagi peserta didik baru selama dua minggu pertama, dan menerapkan pembelajaran yang membangun enam kemampuan fondasi anak di PAUD dan SD.”
Webinar ini memberikan pemahaman penting bagi orang tua dan Bunda PAUD tentang peran mereka dalam mendukung Gerakan Transisi PAUD SD yang Menyenangkan. Melalui kerja sama dan sinergi antara orang tua, Bunda PAUD, dan satuan pendidikan, diharapkan anak-anak dapat melalui masa transisi dengan lancar dan menyenangkan, serta siap untuk memulai jenjang pendidikan selanjutnya dengan penuh semangat.
Tahun ajaran baru diawali dengan Masa Pengenalan Peserta Didik Baru (MPLS). Disamping berpedoman kepada program MPLS yang telah dibuat oleh pemerintah, sekolah bisa membuat program-program kreatif yang tujuannya untuk menyambut, melahirkan kesan positif, menumbuhkan rasa senang, serta memantik semangat belajar peserta didik baru.
MPLS dilaksanakan mulai dari 3 hari sampai dengan 2 minggu. Materi yang diberikan mulai dari perkenalan calon peserta didik baru, perkenalan pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah, observasi lingkungan sekolah, kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Berbagai kegiatan ekstrakurikuler biasa ditampilkan pada saat MPLS. Selain bentuk sosialisasi dan promosi, hal ini juga sebagai upaya untuk menarik minat peserta didik baru untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.
MPLS juga diisi dengan permainan dan ice breaking sebagai bentuk hiburan dan mengusir rasa bosan peserta didik baru. Sudah bukan musimnya lagi pada saat MPLS, peserta didik baru diberikan tugas yang aneh-aneh yang kadang tidak ada relevansinya dengan tujuan MPLS sendiri karena hal tersebut hanya menyulitkan dan berpotensi melahirkan perpeloncoan dan perundungan terhadap peserta didik baru.
Dibalik program dan kegiatan yang sudah disusun oleh sekolah selama MPLS, agar kegiatan ini bermakna, daripada sekolah melaksanakan kegiatan yang sifatnya seremonial, menurut saya, sebaiknya melaksanakan hal-hal yang lebih substantif. Misalnya bagaimana menanamkan budaya disiplin, budaya tepat waktu, budaya malu, budaya tanggung jawab, dan kemandirian. Selain itu, karakter saling menghargai dan saling menghormati dalam keberagaman perlu ditanamkan kepada peserta didik baru. Dengan demikian, MPLS selain sebagai sebuah agenda awal tahun ajaran, juga dapat meujudkan student wellbeing (kesejahteraan pelajar) bagi peserta didik baru.
Pembiasaan hidup bersih dan sehat perlu ditanamkan kepada peserta didik baru. Mislanya, toilet training dan pembiasaan buang sampah pada tempatnya. Maksud dari toilet training bukan berarti membimbing peserta didik baru pergi ke toilet, membimbing cara buang air, dan membimbing cara membersihkan diri setelah buang air, tetapi maksudnya adalah bagaimana sekolah menanamkan kesadaran kepada peserta didik untuk menjaga kebersihan toilet sekolah. Keberadaan toilet sangat penting di sekolah. Toilet menjadi sarana vital. Apa jadinya jika sebuah sekolah tidak memiliki toilet atau toilet sekolahnya ada tetapi rusak? Pasti sekolah akan kesulitan menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.
Kemudian pembiasaan membuang sampah pada tempatnya perlu ditanamkan kepada peserta didik baru. Salah satu masalah serius adalah di masyarakat kita adalah masalah penanganan sampah, khususnya tingginya volume sampah yang dihasilkan oleh masyarakat dan rendahnya kesadaran membuang sampah pada tempatnya. Salah satu upaya untuk mengurangi sampah yang dihasilkan pada saat kegiatan MPLS misalnya menginstruksikan peserta didik baru membawa makanan dan minuman pada wadah atau tumbler yang bisa dicuci setelah digunakan. Toilet training dan pembiasaan membuang sampah pada tempatnya bisa menjadi bagian dari program MPLS, khususnya penguatan pada aspek karakter.
Hal lainnya yang perlu dilakukan pada saat MPLS adalah pentingnya peserta didik menjaga dan memelihara lingkungan, mulai dari lingkungan fisik, seperti menjaga dan memelihara tanaman di taman sekolah, menjaga sarana sekolah, dan membangun budaya tertib dan budaya antri. Kampanye antiperundungan pun perlu menjadi agenda penting saat MPLS di tengah cukup seringnya terjadi kekerasan dan perundungan (bullying) di satuan pendidikan.
Peserta didik baru sebaiknya dibuat dalam beberapa kelompok. Dengan dipandu oleh pembimbing, mereka berkeliling untuk mengenal dan mengeksplorasi lingkungan sekolah. Pada saat berkeliling sekolah, pembimbing bisa meminta pendapat mereka terkait kondisi sekolah saat itu, apa harapannya untuk menciptakan sekolah yang dicita-citakan, dan apa hal yang bisa mereka lakukan untuk mewujudkan harapannya tersebut.
Sambutan yang hangat dari pendidik, tenaga kependidikan, kakak kelas. Kemudian lingkungan sekolah yang bersih, tertib, rapi, rasa aman, nyaman, dan rasa diakui sebagai keluarga baru di sekolah sangat penting untuk mewujudkan student wellbeing bagi peserta didik baru. Para peserta didik baru itu bukan hanya jadi objek, tetapi ikut dilibatkan dalam membangun student wellbeing pada saat MPLS.
Kesan yang baik yang didapatkan dari sekolah akan berdampak terhadap tumbunya rasa cinta dan bangga peserta didik baru terhadap sekolahnya. Mereka merasakan bahwa mereka belajar di tempat yang tepat. Oleh karena itu, semangat dan motivasi belajarnya pun akan meningkat. Mereka siap dan antusias dengan pembelajaran yang akan mereka ikuti.