Moving Class B3 Hadirkan Pembelajaran Interaktif bagi Anak RA Nurul Hidayah

Moving Class B3 Hadirkan Pembelajaran Interaktif bagi Anak RA Nurul Hidayah

Bandung Barat – Program Belajar Bersama BBPMP Provinsi Jawa Barat (B3) kembali menghadirkan layanan Moving Class sebagai bagian dari pembelajaran di luar kelas. Pada Rabu, 11 Maret 2026, kegiatan ini diikuti oleh peserta didik RA Nurul Hidayah yang belajar langsung di Laboratorium PAUD BBPMP Jawa Barat.

Dalam kegiatan tersebut, anak-anak mengikuti pembelajaran dengan tema “Indahnya Berbagi dan Menyambut Idulfitri.” Melalui tema ini, peserta didik diperkenalkan pada berbagai nilai kebaikan yang dapat dipraktikkan sejak usia dini.

Kegiatan diawali dengan membiasakan anak-anak untuk berdoa sebelum memulai aktivitas sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah. Anak-anak juga belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan baru serta mengikuti aturan yang berlaku selama kegiatan berlangsung.

Selain itu, peserta didik berlatih melafalkan surat-surat pendek dan doa harian, sekaligus mengenal berbagai informasi sederhana yang ada di sekitar mereka. Pembiasaan lain yang juga dikenalkan adalah menjaga kebersihan lingkungan sebagai bagian dari pembentukan karakter.

Tidak hanya berfokus pada anak-anak, kegiatan Moving Class ini juga melibatkan orang tua melalui kelas parenting bertajuk “Yuk, Gunakan Gawai dengan Bijak.” Pada sesi tersebut, orang tua diajak berdiskusi mengenai pentingnya pendampingan dalam penggunaan gawai oleh anak. Mereka juga mendapatkan pemahaman tentang cara memilih konten yang sesuai serta membangun kebiasaan penggunaan teknologi yang lebih sehat di lingkungan keluarga.

Melalui kegiatan ini, proses belajar tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melibatkan keluarga sebagai bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang anak. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu menanamkan nilai berbagi, kebiasaan baik, serta membangun pola pendampingan yang lebih tepat bagi anak di rumah.

(Tim media)

Tak Sekadar Makan, Program MBG Dorong Kesehatan dan Prestasi Belajar Siswa

Tak Sekadar Makan, Program MBG Dorong Kesehatan dan Prestasi Belajar Siswa

Bandung Barat –  Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tidak hanya sekadar menyediakan makanan bagi peserta didik di sekolah. Program ini dirancang sebagai langkah strategis untuk mendukung kesehatan, meningkatkan kualitas belajar, sekaligus mempersiapkan masa depan generasi muda Indonesia.

Dalam kurun waktu sekitar 1 tahun 5 bulan sejak diluncurkan, program MBG telah menjangkau sekitar 60 juta penerima manfaat di berbagai daerah. Capaian tersebut menunjukkan bahwa upaya penyediaan makanan bergizi di sekolah mulai memberikan dampak luas bagi peserta didik.

Penyediaan makanan bergizi di lingkungan sekolah dinilai penting karena kondisi gizi sangat memengaruhi kemampuan anak dalam belajar. Anak yang datang ke sekolah dalam keadaan lapar sering kali mengalami kesulitan berkonsentrasi dan cender ung tidak aktif selama proses pembelajaran berlangsung.

Berbagai kajian menunjukkan bahwa program makan di sekolah dapat membantu meningkatkan partisipasi siswa dalam pendidikan. Dengan adanya akses makanan bergizi, siswa memiliki energi yang cukup untuk mengikuti kegiatan belajar dengan lebih baik.

Laporan UNESCO tahun 2025 juga menyoroti manfaat program makan bergizi di sekolah yang diterapkan di berbagai negara. Program semacam ini terbukti mampu meningkatkan motivasi siswa untuk datang ke sekolah sekaligus membantu mengurangi risiko kekurangan gizi pada anak.

Selain itu, program tersebut juga berdampak pada peningkatan kualitas pembelajaran. Siswa yang mendapatkan asupan gizi yang cukup cenderung lebih fokus saat mengikuti pelajaran dan mampu memahami materi dengan lebih optimal.

Hasil evaluasi dari puluhan penelitian di sejumlah negara menunjukkan bahwa program makan bergizi di sekolah dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa. Peningkatan ini terlihat dari kemajuan dalam berbagai bidang akademik, termasuk literasi dan matematika.

Tidak hanya berdampak pada proses belajar, program ini juga berkontribusi dalam menekan angka putus sekolah. Ketika siswa mendapatkan dukungan gizi yang memadai, peluang mereka untuk menyelesaikan pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi menjadi lebih besar.

Program MBG juga menjadi bagian dari kontribusi Indonesia dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Program ini berkaitan erat dengan upaya meningkatkan kualitas kesehatan sekaligus memperluas akses pendidikan yang lebih baik.

Melalui program ini, pemerintah berupaya memastikan bahwa kebutuhan dasar peserta didik dapat terpenuhi. Asupan gizi yang baik menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Di sisi lain, program MBG juga diharapkan mampu membangun kebiasaan hidup sehat di kalangan siswa. Selain menyediakan makanan, program ini turut mendorong penerapan pola makan yang lebih baik melalui edukasi mengenai pentingnya gizi seimbang. Upaya tersebut juga dapat membantu menekan berbagai masalah kesehatan pada anak, seperti kekurangan gizi maupun risiko stunting yang masih menjadi perhatian di sejumlah daerah.

Dengan cakupan penerima manfaat yang terus bertambah, program Makan Bergizi Gratis diharapkan mampu memberikan dampak jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia. Melalui sinergi antara sektor pendidikan dan kesehatan, program ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih mendukung bagi peserta didik.

Ke depan, keberlanjutan program MBG menjadi salah satu langkah penting untuk memastikan generasi muda Indonesia dapat tumbuh sehat, berprestasi, dan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk meraih masa depan yang lebih baik.

(Tim media)

Atasi Anak Tidak Sekolah, BBPMP Provinsi Jawa Barat Perkuat Sinergi dengan Pemerintah Daerah

Atasi Anak Tidak Sekolah, BBPMP Provinsi Jawa Barat Perkuat Sinergi dengan Pemerintah Daerah

Bandung Barat – Upaya mengatasi persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS) di Jawa Barat terus diperkuat melalui koordinasi antara Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Barat dengan pemerintah daerah. Pertemuan yang berlangsung pada Selasa, 10 Maret 2026 tersebut menjadi ruang diskusi untuk menyamakan langkah dalam menangani anak-anak yang belum mendapatkan layanan pendidikan.

Dalam koordinasi tersebut, berbagai pihak membahas kondisi terbaru terkait data ATS di daerah. Pemutakhiran data menjadi salah satu fokus utama karena data yang akurat dinilai penting untuk mengetahui jumlah anak yang belum bersekolah sekaligus memahami penyebabnya. Dengan data yang lebih terbarui, pemerintah daerah dapat menentukan langkah penanganan yang lebih tepat sasaran.

Selain pembaruan data, diskusi juga menyoroti beragam faktor yang membuat anak tidak melanjutkan pendidikan. Beberapa di antaranya berkaitan dengan kondisi ekonomi keluarga, anak yang harus bekerja, hingga keterbatasan akses pendidikan di wilayah tertentu. Karena itu, penanganan ATS tidak bisa dilakukan hanya oleh satu pihak, melainkan membutuhkan kerja sama lintas sektor.

BBPMP Jawa Barat juga mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat berbagai alternatif layanan pendidikan, termasuk pendidikan nonformal. Program seperti paket kesetaraan menjadi salah satu pilihan agar anak yang sempat putus sekolah tetap memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan.

Pendekatan kepada keluarga dan masyarakat juga dinilai penting dalam upaya ini. Dukungan orang tua dan lingkungan sekitar menjadi faktor yang berpengaruh terhadap keberlanjutan pendidikan anak. Melalui pendekatan sosial yang lebih intensif, diharapkan kesadaran akan pentingnya pendidikan dapat terus meningkat.

Di sisi lain, koordinasi ini juga menekankan pentingnya pendampingan bagi anak-anak yang bekerja. Upaya penanganan tidak hanya sebatas mengajak mereka kembali ke sekolah, tetapi juga mencari solusi agar mereka tetap dapat mengakses pendidikan tanpa mengabaikan kondisi yang mereka hadapi.

Langkah penanganan ATS ini turut mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2026 yang menegaskan pentingnya percepatan penuntasan anak tidak sekolah di berbagai daerah. Kebijakan tersebut memberikan kerangka bagi pemerintah daerah untuk memperkuat upaya penjangkauan dan pengembalian anak ke dalam sistem pendidikan.

Melalui koordinasi yang dilakukan, diharapkan pemerintah daerah dapat merancang strategi yang lebih terarah dalam menurunkan angka ATS. Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan berbagai pihak terkait menjadi kunci agar setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan.

Upaya bersama ini juga menjadi bagian dari komitmen untuk memastikan akses pendidikan yang lebih inklusif. Dengan langkah yang terkoordinasi dan berbasis data, penanganan ATS di Jawa Barat diharapkan dapat berjalan lebih efektif sehingga semakin sedikit anak yang tertinggal dari layanan pendidikan.

(Tim media)

Gerakan ASRI Dorong Sekolah Bangun Budaya Hidup Bersih sejak Dini

Gerakan ASRI Dorong Sekolah Bangun Budaya Hidup Bersih sejak Dini

Sukabumi — Upaya menumbuhkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan mulai ditanamkan sejak usia sekolah melalui berbagai kegiatan sederhana yang dilakukan secara rutin. Salah satunya melalui kegiatan Jumat Bersih yang dilaksanakan di SD Negeri 01 Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari implementasi Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) yang bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang lebih bersih, sehat, dan nyaman bagi peserta didik. Dalam kegiatan ini, para siswa terlibat langsung membersihkan lingkungan sekolah bersama para guru.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, meninjau langsung pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, pembiasaan menjaga kebersihan lingkungan sekolah memiliki peran penting dalam membentuk karakter peserta didik.

“Ini bagian dari program yang didorong oleh Bapak Presiden melalui Gerakan Indonesia ASRI: Aman, Sehat, Resik, dan Indah. Salah satu implementasinya di lingkungan sekolah adalah menggiatkan kembali kegiatan Jumat Bersih, yakni kegiatan bersih-bersih yang dilakukan secara rutin dengan melibatkan para siswa,” ucap Wamen Fajar.

Melalui kegiatan sederhana seperti membersihkan kelas dan halaman sekolah, siswa dapat belajar memahami pentingnya menjaga lingkungan. Kebiasaan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari perilaku sehari-hari yang terus terbawa hingga di luar lingkungan sekolah.

Selain menciptakan lingkungan belajar yang lebih bersih, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menanamkan rasa tanggung jawab kepada siswa. Dengan dilibatkan secara langsung, siswa dapat memahami bahwa menjaga kebersihan merupakan tanggung jawab bersama.

Para guru juga berperan aktif dalam membimbing siswa selama kegiatan berlangsung. Mereka tidak hanya mengajak siswa membersihkan lingkungan sekolah, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kebersihan dalam kehidupan sehari-hari.

Guru kelas 5 SD Negeri 01 Cibadak, Gina Permata Desa, menilai kegiatan tersebut memberikan dampak positif bagi siswa. Menurutnya, kebiasaan menjaga kebersihan yang dilakukan di sekolah dapat memengaruhi perilaku siswa di rumah.

Ia menjelaskan bahwa melalui pembiasaan yang dilakukan secara rutin, siswa menjadi lebih mandiri dan sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Nilai-nilai tersebut tidak hanya diterapkan di sekolah, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kegiatan pembelajaran, guru juga sering memberikan contoh sederhana kepada siswa mengenai perbedaan kondisi belajar di lingkungan yang bersih dan yang kotor. Dari pengalaman tersebut, siswa dapat merasakan secara langsung bagaimana kebersihan memengaruhi kenyamanan belajar.

Lingkungan yang bersih membuat siswa lebih fokus dalam mengikuti pembelajaran. Sebaliknya, kondisi lingkungan yang kotor dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan mengganggu konsentrasi siswa saat belajar.

Melalui Gerakan ASRI, pemerintah bersama satuan pendidikan berupaya mendorong terbentuknya budaya hidup bersih dan sehat di lingkungan sekolah. Pembiasaan tersebut diharapkan dapat membangun karakter siswa yang lebih peduli terhadap kebersihan dan lingkungan sejak dini.

Selain menciptakan lingkungan sekolah yang lebih nyaman, gerakan ini juga menjadi bagian dari upaya pendidikan karakter yang menekankan pentingnya tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.

(berita ini telah tayang di https://kemendikdasmen.go.id/siaran-pers/14859-menanamkan-kepedulian-lingkungan-sejak-dini-melalui-gerakan-asri-di-sekolah )

Revitalisasi Fasilitas SMAN 2 Sukabumi Dorong Peningkatan Kualitas Pembelajaran

Revitalisasi Fasilitas SMAN 2 Sukabumi Dorong Peningkatan Kualitas Pembelajaran

Sukabumi — Upaya peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah terus dilakukan melalui perbaikan fasilitas pendidikan. Salah satu langkah tersebut terlihat di SMAN 2 Sukabumi, Jawa Barat, yang baru saja menyelesaikan program revitalisasi sarana dan prasarana sekolah.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, meninjau langsung kondisi sekolah tersebut untuk melihat bagaimana fasilitas yang telah diperbaiki digunakan dalam mendukung kegiatan belajar mengajar. Perbaikan yang dilakukan mencakup berbagai ruang penting di sekolah, seperti ruang kelas, laboratorium IPA, perpustakaan, hingga ruang administrasi.

Program revitalisasi ini didukung oleh bantuan pemerintah pusat senilai sekitar Rp1,4 miliar. Dana tersebut digunakan untuk memperbaiki fasilitas yang sebelumnya mengalami kerusakan dan dinilai kurang mendukung kegiatan pembelajaran.

“Kami ingin memastikan bahwa program revitalisasi ini benar-benar memberikan manfaat bagi sekolah, baik bagi siswa maupun guru. Perbaikan sarana prasarana seperti laboratorium, perpustakaan, dan ruang belajar menjadi bagian penting dalam mendukung proses pembelajaran yang lebih berkualitas,” ujar Fajar.

Perbaikan sarana pendidikan dinilai memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih nyaman dan efektif. Fasilitas seperti laboratorium dan perpustakaan, misalnya, dapat memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan pemahaman materi secara lebih mendalam melalui kegiatan praktik maupun eksplorasi sumber belajar.

Selain perbaikan infrastruktur fisik, sekolah juga mulai memanfaatkan perangkat pembelajaran berbasis teknologi. Salah satunya adalah penggunaan Interactive Flat Panel (IFP) atau papan interaktif digital yang tersedia di ruang perpustakaan. Perangkat ini memungkinkan guru menyampaikan materi dengan cara yang lebih visual dan interaktif.

Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran diharapkan dapat membantu siswa memahami materi secara lebih menarik sekaligus menyesuaikan metode belajar dengan perkembangan teknologi digital.

Dalam waktu dekat, pemerintah juga berencana menambah dua unit perangkat papan interaktif digital untuk setiap satuan pendidikan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperluas penggunaan teknologi pembelajaran di sekolah.

Di sisi lain, pihak sekolah merasakan perubahan yang cukup signifikan setelah revitalisasi dilakukan. Sebelumnya, beberapa fasilitas di SMAN 2 Sukabumi mengalami kerusakan cukup berat sehingga mengganggu kenyamanan kegiatan belajar mengajar. Bahkan terdapat ruang kelas yang kondisinya sudah tidak layak digunakan.

Setelah proses perbaikan selesai, kondisi sekolah menjadi lebih aman dan mendukung aktivitas pembelajaran. Lingkungan belajar yang lebih baik diharapkan dapat meningkatkan motivasi siswa serta membantu guru menjalankan proses pembelajaran secara lebih optimal.

Program revitalisasi satuan pendidikan sendiri menjadi salah satu upaya pemerintah dalam memperbaiki kondisi fasilitas sekolah di berbagai daerah. Melalui program ini, sekolah yang membutuhkan perbaikan sarana dapat memperoleh dukungan untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih layak dan kondusif.

Dengan fasilitas yang lebih baik serta dukungan teknologi pembelajaran, sekolah diharapkan mampu meningkatkan kualitas proses belajar mengajar sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman belajar yang lebih efektif dan relevan dengan perkembangan zaman.

(berita ini telah tayang di https://kemendikdasmen.go.id/siaran-pers/14868-wamen-fajar-pastikan-fasilitas-belajar-sman-makin-berkualitas-di-sukabumi )

BBPMP Provinsi Jawa Barat Dorong Sekolah Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana Melalui SPAB

BBPMP Provinsi Jawa Barat Dorong Sekolah Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana Melalui SPAB

Bandung Barat – Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Barat menggelar kegiatan sosialisasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) pada Jumat, 6 Maret 2026. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan satuan pendidikan dalam menghadapi potensi bencana yang cukup tinggi di wilayah Jawa Barat.

Sosialisasi tersebut diikuti oleh ratusan peserta yang terdiri dari perwakilan Dinas Pendidikan, kepala sekolah, serta guru dari jenjang PAUD hingga SMA di berbagai daerah di Jawa Barat. Kegiatan dilaksanakan secara daring untuk menjangkau lebih banyak peserta dan memperluas pemahaman tentang pentingnya kesiapsiagaan bencana di lingkungan sekolah.

Kepala Bagian Umum BBPMP Jabar, Mardi Wibowo, dalam pembukaannya turut menceritakan duka yang dialami warga sekolah di Desa Pasirlangu, Kabupaten Bandung Barat, yang terdampak longsor beberapa waktu lalu.

“Sekolah bukan hanya tempat mereka untuk belajar, sekolah itu adalah tempat mereka untuk membangun mimpinya, mengantar masa depannya, sekolah adalah tempat lahirnya generasi yang suatu hari nanti akan menggantikan kita akan memimpin negeri ini, dan kita sangat berharap mereka tumbuh dalam suasana, dalam lingkungan yang penuh dengan kebaikan, yang penuh dengan keamanan, yang penuh dengan kenyamanan,” ujar Mardi saat membuka acara secara resmi

Langkah ini menjadi bagian dari upaya penguatan budaya keselamatan di satuan pendidikan, terutama setelah beberapa wilayah di Jawa Barat mengalami peristiwa pergerakan tanah dan longsor dalam waktu terakhir. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sekolah juga perlu memiliki kesiapan dalam menghadapi berbagai risiko bencana yang mungkin terjadi.

Dalam kegiatan tersebut, pihak BBPMP Jawa Barat menekankan bahwa sekolah bukan hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai ruang yang harus memberikan rasa aman bagi seluruh warga sekolah. Lingkungan pendidikan yang aman dinilai sangat penting agar proses belajar dapat berlangsung dengan baik dan siswa dapat berkembang secara optimal.

BBPMP Jawa Barat juga menampilkan dokumentasi kondisi salah satu sekolah yang terdampak bencana longsor di wilayah Kabupaten Bandung Barat. Tayangan tersebut memperlihatkan bagaimana fasilitas pendidikan sempat digunakan sebagai tempat pengungsian ketika terjadi bencana.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa satuan pendidikan perlu memiliki kesiapan menghadapi situasi darurat. Selain kesiapan infrastruktur, kesiapsiagaan warga sekolah juga menjadi faktor penting dalam meminimalkan risiko saat bencana terjadi.

Salah satu guru dari SD Negeri Karyabakti di wilayah Cisarua mengungkapkan bahwa bencana yang terjadi sempat menimbulkan rasa cemas pada para siswa. Namun secara perlahan kondisi psikologis siswa mulai membaik seiring dengan dukungan dari sekolah dan berbagai pihak yang terlibat dalam proses pemulihan.

Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bagi sekolah untuk meningkatkan kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan bencana di masa depan.

Dalam kegiatan sosialisasi tersebut, BBPMP Jawa Barat juga menghadirkan narasumber dari Bandung Mitigasi Hub yang memberikan pemaparan mengenai manajemen kebencanaan di lingkungan sekolah. Materi yang disampaikan mencakup langkah-langkah yang perlu dilakukan sebelum, saat, dan setelah terjadinya bencana.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu sekolah dalam menyusun rencana mitigasi yang lebih terstruktur. Sekolah juga didorong untuk mengenali potensi risiko bencana di wilayah masing-masing sehingga dapat menyusun langkah pencegahan yang lebih tepat.

Melalui kegiatan sosialisasi SPAB ini, satuan pendidikan diharapkan tidak hanya memahami teori mitigasi bencana, tetapi juga mampu menerapkannya dalam praktik di lingkungan sekolah. Upaya ini menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan tangguh terhadap risiko bencana.

(Tim media)

Program MBG Didorong Jadi Sarana Pembentukan Karakter Siswa

Program MBG Didorong Jadi Sarana Pembentukan Karakter Siswa

Bandung Barat – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan gizi peserta didik, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sarana pembentukan kebiasaan positif di lingkungan sekolah. Program ini mulai diintegrasikan dengan penguatan nilai dan karakter siswa melalui berbagai kegiatan pendamping dalam proses pembelajaran.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menjelaskan bahwa MBG dapat menjadi bagian dari pendidikan karakter yang diterapkan secara langsung dalam keseharian siswa. Melalui program tersebut, siswa didorong untuk membangun kebiasaan baik yang sejalan dengan konsep 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH).

Menurutnya, kegiatan makan bersama di sekolah dapat dimanfaatkan untuk menanamkan sejumlah nilai seperti disiplin, kebersamaan, serta kepedulian terhadap kesehatan. Dengan cara itu, program MBG tidak hanya berfungsi sebagai dukungan pemenuhan gizi, tetapi juga sebagai media pembelajaran yang membentuk perilaku positif sejak dini.

“Berdasarkan hasil penelitian kolaboratif dengan LabSosio UI, program MBG membantu murid meningkatkan motivasi belajar, memberikan pengalaman menyenangkan bagi siswa baik dari produk maupun saat makan bersama, juga memberikan kesempatan bagi siswa dari kelompok sosio-ekonomi rendah mendapatkan pangan yang bergizi,” jelasnya. 

Secara nasional, implementasi program MBG telah menjangkau sekitar 49,6 juta siswa atau sekitar 93 persen dari total peserta didik di Indonesia. Cakupan tersebut menunjukkan bahwa program ini telah menjadi salah satu intervensi pendidikan dan kesehatan terbesar yang dijalankan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir.

Untuk mendukung pelaksanaannya, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah juga menyiapkan berbagai perangkat pendukung. Di antaranya berupa modul edukasi serta pedoman pelaksanaan MBG yang dirancang agar dapat diterapkan secara terintegrasi dengan kegiatan belajar di sekolah.

Selain itu, penguatan program ini juga dikaitkan dengan rencana peningkatan anggaran pendidikan pada 2026. Dukungan anggaran tersebut tidak hanya difokuskan pada penyediaan makanan bergizi bagi siswa, tetapi juga diarahkan pada revitalisasi satuan pendidikan serta pengembangan pembelajaran berbasis teknologi.

Pelaksanaan MBG juga melibatkan dukungan lintas sektor dari berbagai kementerian dan lembaga. Koordinasi tersebut diperlukan untuk memastikan program berjalan efektif, mulai dari penyediaan bahan pangan, distribusi, hingga pengawasan kualitas makanan yang diterima siswa.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menilai kecukupan gizi bagi peserta didik merupakan faktor penting dalam mendukung kualitas sumber daya manusia di masa depan. Asupan gizi yang memadai dinilai dapat membantu meningkatkan konsentrasi belajar sekaligus mendukung perkembangan fisik dan kognitif anak.

Karena itu, pemerintah terus mendorong perbaikan dalam implementasi program MBG agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas. Evaluasi berkala dilakukan untuk memastikan kualitas makanan, sistem distribusi, serta mekanisme pengawasan berjalan sesuai standar yang ditetapkan.

Ke depan, pemerintah juga berupaya meningkatkan kualitas pelaksanaan program dengan memperkuat koordinasi antara sekolah, pemerintah daerah, serta pihak terkait lainnya. Langkah tersebut dilakukan agar program MBG dapat berjalan berkelanjutan sekaligus memberikan dampak nyata bagi kesehatan dan pendidikan siswa.

(berita ini telah tayang di https://kemendikdasmen.go.id/siaran-pers/14845-mendikdasmen-mbg-bagian-dari-pendidikan-karakter-siswa )

Fakta-Fakta Revitalisasi Satuan Pendidikan: 16 Ribu Sekolah Diperbaiki, Program Berlanjut pada 2026

Fakta-Fakta Revitalisasi Satuan Pendidikan: 16 Ribu Sekolah Diperbaiki, Program Berlanjut pada 2026

Bandung Barat – Program Revitalisasi Satuan Pendidikan mencatat realisasi melampaui target sepanjang 2025. Dari sasaran awal 10.440 satuan pendidikan, sebanyak 16.167 sekolah berhasil mendapatkan manfaat rehabilitasi dan pembangunan. Capaian ini mencakup berbagai jenjang pendidikan formal maupun nonformal di seluruh Indonesia.

Jika dirinci, revitalisasi menyasar 1.515 satuan PAUD, 6.328 SD, 3.989 SMP, 2.240 SMA, dan 1.465 SMK. Selain itu, 382 SLB, 62 PKBM, serta 114 SKB juga masuk dalam daftar penerima bantuan perbaikan sarana dan prasarana. Di luar rehabilitasi, program ini juga mencakup pembangunan unit sekolah baru sebanyak 72 sekolah, terdiri atas 37 PAUD, 32 SMA, dan 3 SLB.

Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, revitalisasi menyasar berbagai jenjang, mulai dari PAUD hingga pendidikan nonformal. Sekolah dasar dan menengah pertama menjadi kelompok dengan jumlah penerima terbanyak. Selain rehabilitasi bangunan, sebagian sekolah juga memperoleh bantuan pembangunan unit sekolah baru.

Pelaksanaan revitalisasi dilakukan dengan skema swakelola, yang berdampak langsung pada perekonomian daerah. Tercatat 5.273 kecamatan terlibat dalam kegiatan ini. Selain itu, sekitar 28.000 pelaku UMKM dan 192.665 tenaga kerja lokal memperoleh manfaat dari proyek pembangunan dan perbaikan fasilitas sekolah.

Memasuki 2026, pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp14 triliun untuk melanjutkan program tersebut. Sebanyak 11.744 satuan pendidikan ditargetkan menerima pembangunan maupun revitalisasi lanjutan. Prioritas diberikan kepada sekolah dengan kondisi rusak berat, berada di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta satuan pendidikan yang terdampak bencana.

Ke depan, cakupan program juga direncanakan diperluas secara signifikan. Pemerintah menargetkan tambahan 60.000 satuan pendidikan untuk direvitalisasi, sehingga total sekolah yang diproyeksikan tersentuh program ini dapat melampaui 71.000 satuan pendidikan secara nasional.

Dengan fokus pada perbaikan infrastruktur dan penyediaan fasilitas belajar yang memadai, program ini diarahkan untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman dan mendukung proses pembelajaran. Sekolah yang ingin diusulkan sebagai penerima bantuan diimbau memastikan data satuan pendidikan telah diperbarui serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah agar masuk dalam daftar prioritas.

(Tim media)

TKA Berlanjut ke Simulasi dan Gladi Bersih Setelah Pendaftaran Ditutup

TKA Berlanjut ke Simulasi dan Gladi Bersih Setelah Pendaftaran Ditutup

Jakarta — Tahap pendaftaran Tes Kemampuan Akademik (TKA) resmi berakhir setelah satuan pendidikan menyelesaikan proses pendataan dan verifikasi peserta. Dengan ditutupnya pendaftaran, pelaksanaan TKA kini memasuki tahap simulasi dan gladi bersih sebagai persiapan teknis sebelum ujian utama digelar.

Berdasarkan data Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), sebanyak 4.452.973 siswa jenjang SD/MI/sederajat dan 4.207.509 siswa SMP/MTs/sederajat terdaftar mengikuti gladi bersih yang dijadwalkan berlangsung pada 9–17 Maret 2026. Tahap ini dirancang untuk menguji kesiapan sistem, perangkat, serta koordinasi pelaksana di tingkat satuan pendidikan.

Kepala BSKAP, Toni Toharudin, menyebut jumlah pendaftar tahun ini sesuai dengan proyeksi awal. Menurutnya, angka tersebut menunjukkan kesiapan sekolah dan peserta dalam mengikuti kebijakan evaluasi pembelajaran yang tengah dijalankan. Pemerintah menilai partisipasi yang tinggi menjadi indikator meningkatnya pemahaman terhadap mekanisme TKA.

 “Jumlah pendaftar Tes Kemampuan Akademik (TKA) tahun ini menunjukkan tren yang sesuai dengan harapan dan perencanaan awal. Capaian ini mencerminkan meningkatnya pemahaman serta kesiapan satuan pendidikan dan peserta terhadap kebijakan evaluasi pembelajaran yang sedang kami dorong. Ke depan, BSKAP akan terus memastikan kualitas dan relevansi pelaksanaan TKA agar sejalan dengan tujuan peningkatan mutu pendidikan,” ujar Toni di Jakarta, Senin (2/3).

Secara teknis, Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) menekankan bahwa gladi bersih memiliki fungsi berbeda dari simulasi awal. Jika simulasi berfokus pada pengenalan sistem, gladi bersih dilaksanakan dengan skema yang mendekati kondisi pelaksanaan sebenarnya, termasuk pengujian alur prosedur, kesiapan perangkat, serta koordinasi pengawas dan operator.

Tahapan ini diharapkan mampu mengidentifikasi potensi kendala sebelum hari pelaksanaan utama, sehingga gangguan teknis dapat diminimalkan. Dengan langkah persiapan berlapis tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menargetkan pelaksanaan TKA berjalan lancar dan memberikan layanan yang optimal bagi jutaan peserta di seluruh Indonesia.

(berita ini telah ditayangkan di https://kemendikdasmen.go.id/siaran-pers/14838-pendaftaran-tka-ditutup-simulasi-dan-gladi-bersih-digelar-untuk-pastikan-kesiapan-pelaksanaan )

BBPMP Provinsi Jawa Barat Tuntaskan Bimtek Digitalisasi, Target 3.000 Satuan Pendidikan

BBPMP Provinsi Jawa Barat Tuntaskan Bimtek Digitalisasi, Target 3.000 Satuan Pendidikan

Bandung – Program Bimbingan Teknis (Bimtek) Digitalisasi Pembelajaran gelombang ketiga di Jawa Barat diikuti ratusan guru lintas jenjang dan menandai selesainya rangkaian pelatihan yang menyasar ribuan satuan pendidikan. Kegiatan yang berlangsung di 21 Tempat Praktik Kegiatan (TPK) ini melibatkan 820 guru dari PAUD, pendidikan kesetaraan, SD, SMP, hingga SMA yang sebelumnya belum pernah mengikuti pelatihan serupa.

Pelaksanaan gelombang terakhir tersebut sekaligus menuntaskan target program digitalisasi pembelajaran di 3.000 satuan pendidikan se-Jawa Barat. Melalui pelatihan ini, peserta dibekali pemahaman kebijakan digitalisasi pendidikan, pemanfaatan perangkat pembelajaran interaktif (IFP), serta penggunaan platform Rumah Pendidikan dan fitur ruang murid untuk mendukung proses belajar berbasis teknologi.

Selain materi konseptual, kegiatan juga menekankan praktik langsung penggunaan perangkat dan aplikasi pembelajaran. Guru dibagi dalam kelompok untuk mencoba berbagai skenario pemanfaatan teknologi di kelas, termasuk penyusunan bahan ajar digital. Pendekatan berbasis praktik ini dimaksudkan agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi mampu menerapkannya dalam pembelajaran sehari-hari.

Pelatihan menghadirkan narasumber dari dinas pendidikan kabupaten/kota, pegiat digital daerah, serta tim BBPMP Jawa Barat. Kolaborasi ini diharapkan memperkuat dukungan teknis di tingkat daerah sekaligus mempercepat adopsi pembelajaran digital di sekolah. Guru peserta juga didorong menularkan keterampilan yang diperoleh kepada rekan sejawat di sekolah maupun satuan pendidikan sekitar.

BBPMP Jawa Barat menargetkan dampak berkelanjutan melalui pendampingan hingga Mei 2026. Pemantauan dilakukan secara daring untuk memastikan penggunaan perangkat interaktif dan praktik pembelajaran digital berjalan sesuai rencana tindak lanjut yang telah disusun peserta. Pendekatan ini diarahkan agar transformasi pembelajaran berbasis teknologi tidak berhenti pada pelatihan, tetapi menjadi praktik rutin di sekolah.

(Tim media)