Jakarta – BBPMP Provinsi Jawa Barat melakukan konsultasi dengan Direktorat SMP, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, pada Rabu (15/7/2026), sebagai tindak lanjut hasil pelaksanaan SPMB Tahun 2026 sekaligus membahas usulan revitalisasi satuan pendidikan jenjang SMP di Provinsi Jawa Barat.
Kegiatan dipimpin oleh Kepala BBPMP Provinsi Jawa Barat, Dra. Hj. Komalasari, M.Pd., didampingi tim revitalisasi dan perwakilan Satgas SPMB Tahun 2026. Rombongan diterima langsung oleh Direktur SMP, Dr. Maulani Mega Hapsari, bersama PIC Revitalisasi dan PIC SPMB Direktorat SMP.
Dalam konsultasi tersebut, BBPMP Provinsi Jawa Barat menyampaikan hasil analisis pelaksanaan SPMB Tahun 2026. Dari 2.112 rombongan belajar (rombel) yang diusulkan, sebanyak 1.338 rombel (63,35%) memiliki jumlah peserta didik melebihi ketentuan maksimal 32 peserta didik per rombel. Selain itu, terdapat 814 SMP yang memiliki jumlah rombel lebih banyak dibandingkan dengan ruang kelas yang tersedia.
Data tersebut menjadi salah satu dasar pengusulan pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) melalui program revitalisasi satuan pendidikan agar kebutuhan ruang belajar dapat terpenuhi dan layanan pendidikan semakin optimal.
Melalui koordinasi ini, diharapkan sinergi antara Direktorat SMP dan BBPMP Provinsi Jawa Barat semakin kuat dalam mendukung pemerataan akses pendidikan serta peningkatan mutu layanan pendidikan di Provinsi Jawa Barat.
Bandung Barat – BBPMP Provinsi Jawa Barat menerima kunjungan Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat dalam rangka sosialisasi program Strategi Adaptif Peningkatan Kecakapan Literasi (SiAPIK): Tata Kelola Literasi Berbasis Kolaborasi Lintas Sektor, Selasa (14/7/2026). Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam memperkuat sinergi lintas sektor untuk meningkatkan kecakapan literasi masyarakat.
Semangat yang diusung melalui SiAPIK selaras dengan upaya BBPMP Provinsi Jawa Barat dalam mendukung penguatan budaya literasi sebagai fondasi pembelajaran yang bermutu. Literasi dipandang sebagai kemampuan esensial yang mendorong murid tidak hanya mampu membaca, tetapi juga memahami, mengolah, menganalisis, dan memaknai informasi secara kritis.
Penguatan kecakapan literasi tersebut diharapkan mampu membentuk karakter pembelajar yang kritis, reflektif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Dengan demikian, literasi menjadi bekal penting dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan sekaligus pengembangan sumber daya manusia yang unggul.
Melalui diskusi dan koordinasi ini diharapkan semakin memperkuat ekosistem literasi di Jawa Barat, sehingga budaya membaca dan bernalar kritis dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Bandung Barat – Membangun budaya mutu pendidikan tidak dapat dilakukan secara instan. Dibutuhkan komitmen, kolaborasi, dan perbaikan berkelanjutan dari seluruh pemangku kepentingan. Sebagai upaya mewujudkan hal tersebut, pada Rabu (14/07/2026) BBPMP Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan Koordinasi Pemetaan Potensi Sekolah Percontohan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) Tahun 2026. Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam menyiapkan sekolah-sekolah yang akan menjadi model penerapan budaya mutu di satuan pendidikan.
Kegiatan ini diikuti oleh Dinas Pendidikan kabupaten/kota se-Jawa Barat untuk melakukan verifikasi dan pemetaan calon sekolah percontohan, sekaligus menyamakan persepsi mengenai kebijakan penjaminan mutu pendidikan. Melalui sekolah percontohan, diharapkan tumbuh budaya refleksi, kolaborasi, pengambilan keputusan berbasis data, serta perbaikan berkelanjutan yang berdampak nyata pada peningkatan kualitas layanan dan pembelajaran di sekolah.
Dengan semangat gotong royong dan sinergi, mari bersama membangun ekosistem pendidikan yang bermutu melalui implementasi SPMI yang berkelanjutan. Semoga sekolah-sekolah percontohan ini menjadi inspirasi bagi satuan pendidikan lainnya dalam menghadirkan pendidikan yang semakin berkualitas untuk semua.
Kabupaten Bekasi – Kepala BBPMP Provinsi Jawa Barat didampingi Penanggung Jawab (PIC) SPMB Provinsi Jawa Barat melaksanakan monitoring pasca pelaksanaan SPMB di sejumlah SD Negeri dan SMP Negeri di Kabupaten Bekasi pada Senin (13/7/2026). Kegiatan ini bertujuan mengidentifikasi kebutuhan penambahan Ruang Kelas Baru (RKB) sebagai langkah antisipatif untuk mengatasi keterbatasan daya tampung pada SPMB Tahun 2027.
Monitoring dilakukan melalui peninjauan langsung ke satuan pendidikan guna memperoleh gambaran kondisi nyata di lapangan, khususnya terkait kapasitas ruang belajar dan potensi kebutuhan pengembangan sarana prasarana pendidikan. Hasil identifikasi ini diharapkan menjadi dasar dalam penyusunan perencanaan pembangunan yang lebih tepat sasaran.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi, serta didampingi camat dan kepala desa setempat. Kehadiran pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam kegiatan ini menunjukkan komitmen bersama untuk memperkuat koordinasi dalam menjawab tantangan pemerataan akses pendidikan, terutama di wilayah yang mengalami peningkatan jumlah peserta didik.
Melalui peninjauan langsung di lapangan, pemerintah pusat dan daerah memperkuat sinergi dalam menyusun perencanaan berbasis kebutuhan nyata. Melalu perencanaan tersebut, pengembangan sarana pendidikan diharapkan dapat dilakukan secara tepat sasaran untuk mendukung pemerataan akses pendidikan. Upaya ini sekaligus menegaskan komitmen bersama dalam mewujudkan layanan pendidikan yang bermutu dan berkeadilan bagi seluruh peserta didik.
BandungBarat – Hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) Ramah 2026 yang dilaksanakan pada Senin (13/7/2026) berlangsung penuh semangat dan kehangatan di berbagai satuan pendidikan di Jawa Barat. Mengusung tema “Hari Baru, Aman dan Nyaman di Sekolah”, murid baru disambut oleh kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, kakak pendamping, serta orang tua dalam suasana yang aman, nyaman, inklusif, dan menyenangkan.
Lebih dari sekadar mengenalkan lingkungan sekolah, MPLS Ramah menjadi langkah awal membangun budaya sekolah yang inklusif, bebas dari perundungan dan kekerasan, serta mendukung tumbuh kembang peserta didik sejak hari pertama. Pelaksanaan hari pertama MPLS Ramah memperlihatkan komitmen berbagai satuan pendidikan di Jawa Barat dalam menghadirkan pengalaman awal yang positif bagi murid baru, mulai dari jenjang taman kanak-kanak, sekolah dasar, hingga sekolah menengah pertama.
Suasana hangat tampak di jenjang pendidikan anak usia dini. Di TK Islam Terpadu Al Madani Kabupaten Subang, anak-anak disambut dengan berbagai aktivitas bermain sambil belajar yang membantu mereka mengenal lingkungan sekolah tanpa rasa takut. Kepala TK Islam Terpadu Al Madani, Irma Maolani, S.Pd., Gr., mengatakan bahwa MPLS bukan sekadar ajang perkenalan, tetapi juga menjadi langkah awal menumbuhkan rasa aman, nyaman, dan percaya diri bagi anak.
“MPLS bukan hanya sebagai ajang perkenalan tetapi juga langkah awal menumbuhkan rasa aman, nyaman dan percaya diri pada anak untuk memulai perjalanan belajar mereka” ujar Irma Maolani.
Hal senada disampaikan Kasi PAUD Dinas Pendidikan Kabupaten Subang, Citra Riahastuti Mansyur, S.IP., yang berharap kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembentukan karakter anak sejak usia dini.
“Mudah-mudahan ini menjadi pembentukan karakter yang baik untuk anak-anak kita ke depan. Membentuk jiwa yang baik dan berkarakter” ungkap Citra Riahastuti.
Keceriaan anak-anak pun terlihat dari ungkapan sederhana Raqilla yang mengaku senang memiliki guru dan teman-teman baru. Orang tua murid, Utami Suci Lestari, juga merasa tenang karena anaknya disambut dengan ramah sejak memasuki gerbang sekolah.
Semangat yang sama juga terlihat di TKN Pembina Ciloa Kabupaten Kuningan. Berbagai kegiatan pengenalan lingkungan sekolah membantu anak-anak beradaptasi sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri pada hari pertama.
Kepala sekolah TKN Pembina Ciloa berharap pengalaman pertama tersebut menjadi fondasi bagi tumbuh kembang peserta didik.
“Langkah awal ini diharapkan menjadi pondasi kuat bagi tumbuh kembang anak. Membawa semangat baru, mari kita wujudkan sekolah menjadi rumah kedua yang aman dan nyaman bagi anak.” ujarnya.
Sambutan hangat tersebut turut dirasakan para orang tua. Salah seorang wali murid mengaku anaknya semula merasa tegang, namun keramahan guru dan suasana penyambutan yang meriah membuatnya lebih bersemangat mengikuti kegiatan hari pertama sekolah.
Semangat yang sama juga terasa di jenjang sekolah dasar. Melalui berbagai aktivitas yang interaktif dan menyenangkan, sekolah membantu murid baru beradaptasi dengan lingkungan belajar sekaligus membangun rasa percaya diri sejak hari pertama.
Di SDN Cimahi Mandiri 1 Kota Cimahi, murid baru disambut oleh kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan kakak pendamping dalam suasana penuh kehangatan. Salah seorang guru menjelaskan bahwa MPLS Ramah menjadi langkah awal membangun hubungan positif antara guru dan murid.
“MPLS Ramah merupakan langkah awal yang baik dalam membangun hubungan yang positif antara guru dan juga murid sehingga terciptanya suasana belajar yang aman, nyaman, dan juga menyenangkan.” ungkapnya.
Keceriaan peserta didik pun tampak sejak awal kegiatan. “MPLS-nya seru, menyenangkan dan menarik,” ujar salah seorang murid. Murid lainnya menambahkan, “MPLS tadi seru banget karena ada penampilan dari guru dan anak-anak kelas dua.” Sambutan tersebut juga mendapat apresiasi dari orang tua. “Kami berharap semoga anak-anak merasa senang dan nyaman berada di sekolah. Terima kasih atas sambutan hangat dari bapak dan ibu guru,” ujar salah seorang wali murid.
Di SDN 1 Soreang Kabupaten Bandung, pelaksanaan MPLS Ramah berlangsung selama lima hari dengan mengacu pada panduan Kemendikdasmen. Kepala sekolah, Hildawati, menjelaskan bahwa seluruh kegiatan dirancang agar peserta didik merasa nyaman sekaligus menikmati pengalaman baru selama berada di sekolah.
“MPLS Ramah dirancang merujuk pada program Kemendikdasmen, membuat peserta didik nyaman, berpetualangan di sekolah kami selama lima hari lamanya” ujar Hildawati
Orang tua murid pun mengaku merasa tenang karena anak-anak disambut dengan baik. Mereka berharap anak-anaknya semakin bersemangat belajar sekaligus memperoleh banyak teman baru sejak hari pertama sekolah.
Di jenjang sekolah menengah pertama, MPLS Ramah tidak hanya mengenalkan lingkungan sekolah, tetapi juga menjadi momentum membangun budaya sekolah yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari perundungan maupun kekerasan.
Hal tersebut terlihat di SMPN 3 Kota Depok. Kepala sekolah, Drs. Hudaya, M.Pd., mengatakan bahwa penyambutan yang hangat menjadi bagian dari komitmen sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif.
“Kami menyambut seluruh murid baru dengan penuh kehangatan. MPLS Ramah menjadi langkah awal untuk membangun budaya sekolah yang aman, nyaman, inklusif dan bebas dari perundungan maupun kekerasan” ujar Hudaya.
Salah seorang murid mengaku kegiatan MPLS membantunya lebih mengenal lingkungan sekolah dan memperoleh banyak teman baru. “Saya lebih percaya diri untuk memulai belajar di sini. Kegiatannya menyenangkan dan membuat saya merasa diterima. Semoga saya bisa belajar dengan baik dan berprestasi di sini,” ungkapnya. Orang tua murid pun merasa lebih tenang karena anak-anak disambut dengan baik sejak hari pertama.
Pelaksanaan MPLS Ramah di SMPN 1 Leles Kabupaten Garut mendapat dukungan langsung dari Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Asep Wawan Budiman, yang hadir menyaksikan pelaksanaan kegiatan. Ia menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung terciptanya lingkungan belajar yang aman bagi seluruh peserta didik.
“Kami dari Pemda Garut berkomitmen untuk melaksanakan kegiatan MPLS yang ramah, aman, dan nyaman untuk kita semua” ujar Asep Wawan Budiman.
Sementara itu, Kepala SMPN 1 Leles, Dedi Kustiana, menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh murid baru.
“Kami mengucapkan selamat kepada siswa-siswi baru dan selamat melaksanakan MPLS yang aman, ramah, dan nyaman. Selamat datang di SMP Negeri 1 Leles” ungkap Dedi Kustiana.
Semangat yang sama juga terlihat di SMP Negeri Model. Berbagai kegiatan pengenalan lingkungan sekolah dan pendampingan membantu murid baru lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan belajar yang baru.
Kepala sekolah SMPN Negeri Model, Eneng Nurhasanah, menegaskan bahwa MPLS Ramah merupakan langkah awal membangun budaya sekolah yang aman, nyaman, inklusif, serta bebas dari perundungan dan kekerasan.
“Kami menyambut semua murid baru dengan penuh kehangatan. Melalui MPLS Ramah ini merupakan langkah awal untuk membangun budaya sekolah yang aman, nyaman, inklusif, bebas dari perundungan dan kekerasan” ujar Eneng Nurhasanah.
Kesan positif juga dirasakan para peserta didik. Sira Almita mengaku kini lebih mengenal lingkungan sekolah dan teman-teman baru sehingga lebih percaya diri memulai pembelajaran. Sementara Gita mengatakan bahwa kegiatan MPLS sangat menyenangkan dan membuatnya merasa diterima. “Semoga saya bisa belajar dengan baik dan berprestasi,” ujarnya.
Potret hari pertama MPLS Ramah 2026 di berbagai satuan pendidikan di Jawa Barat tersebut menunjukkan bahwa sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang yang menghadirkan rasa aman, nyaman, dan menyenangkan bagi setiap murid. Melalui kolaborasi antara sekolah, orang tua, pemerintah daerah, serta seluruh warga sekolah, semangat “Hari Baru, Aman dan Nyaman di Sekolah” diharapkan menjadi fondasi dalam membangun budaya sekolah yang inklusif, bebas dari perundungan dan kekerasan, serta menghargai keberagaman setiap anak. Bersama-sama, mari kita wujudkan sekolah sebagai rumah kedua yang menyenangkan, tempat setiap murid dapat tumbuh, belajar, berkreasi, dan mengembangkan potensi terbaiknya.
Bandung – Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bekerja sama dengan BBPMP Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan kegiatan Finalisasi Dokumen Perencanaan dan Pendampingan Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Program Revitalisasi PAUD Tahun 2026 Angkatan 29 pada 9-11 Juli 2026 di Kota Bandung. Kegiatan ini menjadi tahapan penting dalam memastikan kesiapan satuan pendidikan sebelum pelaksanaan program revitalisasi.
Sebanyak 238 kepala satuan PAUD calon penerima bantuan revitalisasi dari berbagai daerah di Provinsi Jawa Barat mengikuti kegiatan tersebut. Melalui finalisasi dokumen perencanaan dan pendampingan penandatanganan PKS, peserta dipersiapkan untuk melaksanakan Program Revitalisasi PAUD Tahun 2026 secara tepat waktu, tepat mutu, tepat sasaran, tertib administrasi, dan akuntabel.
Program Revitalisasi PAUD merupakan salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan anak usia dini melalui penyediaan sarana dan prasarana yang lebih memadai. Selain mendukung peningkatan fasilitas, program ini juga diarahkan untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan bermutu sehingga setiap anak memperoleh kesempatan yang sama untuk tumbuh dan mengembangkan potensinya secara optimal.
Kepala BBPMP Jabar, Komalasari, menegaskan bahwa kualitas lingkungan belajar memiliki peran penting dalam membangun karakter dan pola pikir anak sejak usia dini.
“Lingkungan belajar yang bermutu menumbuhkan growth mindset: keyakinan bahwa setiap anak memiliki potensi yang dapat berkembang melalui proses belajar, berusaha, dan pantang menyerah,” ujar Komalasari.
Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh satuan PAUD penerima bantuan revitalisasi di Jawa Barat dapat melaksanakan program sesuai ketentuan yang telah ditetapkan. Kolaborasi antara Direktorat PAUD, BBPMP Provinsi Jawa Barat, dan satuan pendidikan diharapkan semakin memperkuat penyelenggaraan layanan PAUD yang berkualitas sebagai fondasi bagi terwujudnya generasi Indonesia yang unggul sejak usia dini.
Bandung – Dalam rangka Kunjungan Kerja Panitia Kerja (Panja) Revisi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Komisi X DPR RI di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Kepala BBPMP Provinsi Jawa Barat turut hadir bersama para pemangku kepentingan bidang pendidikan untuk memberikan masukan terhadap penyusunan revisi regulasi pendidikan yang lebih terintegrasi, adaptif, inklusif, dan berkeadilan.
Kunjungan kerja Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 ini dipimpin oleh Ketua Tim sekaligus Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, didampingi Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Hj. Himmatul Aliyah, dan Kurniasih Mufidayati. Turut hadir pula pimpinan dan anggota Komisi X DPR RI, Sekretariat Komisi X DPR RI, tenaga ahli Komisi X DPR RI, Badan Keahlian Dewan (BKD), serta tim pendukung dari TVR Parlemen dan media cetak maupun media sosial DPR RI.
Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 9 Juli 2026, mempertemukan Komisi X DPR RI dengan Plt. Inspektur Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Nur Syarifah, Staf Khusus Menteri Bidang Pemerintahan dan Akuntabilitas Tjitjik Sri Tjahjandarie, Kepala LLDIKTI Wilayah IV Jawa Barat dan Banten Lukman, Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Toni Toharudin, Sekretaris Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Muhammad Yusro, Direktur Pendidikan Nonformal dan Pendidikan Informal I Gusti Made Ardana, Kepala BBPMP Provinsi Jawa Barat Komalasari, serta Kepala BBGTK Provinsi Jawa Barat Sugito Adiwarsito, Turut hadir pula Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, LLDIKTI Wilayah IV, serta berbagai perguruan tinggi negeri, perguruan tinggi swasta, dan politeknik di Jawa Barat.
Melalui forum ini, Komisi X DPR RI menyerap berbagai masukan terkait revisi regulasi pendidikan, mulai dari penguatan hak atas pendidikan, wajib belajar 13 tahun, peningkatan kualitas dan kesejahteraan pendidik, pendidikan inklusif, digitalisasi pembelajaran, penguatan pendidikan karakter, hingga tata kelola pendidikan nasional yang lebih terpadu melalui pendekatan kodifikasi.
Kolaborasi seluruh pemangku kepentingan diharapkan mampu menghasilkan regulasi pendidikan yang semakin adaptif terhadap perkembangan zaman, menjamin pemerataan akses dan mutu pendidikan, serta memperkuat sistem pendidikan nasional yang berkualitas bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Bandung Barat – Dalam rangka menyambut tahun ajaran baru 2026/2027, BBPMP Provinsi Jawa Barat melalui Tim BURAS (Bantuan untuk Orang Sekitar) menyelenggarakan kegiatan sosial bertajuk Peduli Anak Yatim “Ayo Kembali ke Sekolah”. Kegiatan ini diwujudkan melalui penyaluran 100 paket perlengkapan sekolah kepada anak yatim piatu dan anak-anak dari keluarga kurang mampu yang berada di sekitar lingkungan BBPMP Jawa Barat.
Penyaluran bantuan dilaksanakan secara bertahap di dua lokasi, yaitu di Kampus I BBPMP Jawa Barat, Padalarang, pada Senin (6/7/2026), dan dilanjutkan di Kampus II Jayagiri pada Rabu (8/7/2026). Melalui kegiatan ini, BBPMP Jawa Barat ingin membantu memenuhi kebutuhan perlengkapan belajar anak-anak agar lebih siap menyambut dimulainya tahun ajaran baru.
Program ini merupakan bentuk kepedulian sosial BBPMP Jawa Barat kepada masyarakat sekitar sekaligus dukungan terhadap program prioritas nasional di bidang pendidikan. Bantuan yang diberikan diharapkan dapat meringankan beban keluarga penerima manfaat serta memberikan semangat baru bagi anak-anak untuk memulai proses pembelajaran.
Selain menjadi wujud tanggung jawab sosial, kegiatan ini juga mencerminkan semangat kebersamaan dan kepedulian yang terus dibangun melalui Tim BURAS. Kehadiran program tersebut diharapkan dapat mempererat hubungan antara BBPMP Jawa Barat dengan masyarakat sekitar sekaligus mendukung terciptanya akses pendidikan yang lebih baik bagi seluruh anak.
Melalui kegiatan Peduli Anak Yatim “Ayo Kembali ke Sekolah”, BBPMP Provinsi Jawa Barat berharap bantuan yang diberikan dapat menjadi penyemangat bagi anak-anak dalam menyambut tahun ajaran baru dengan penuh optimisme, sehingga mereka dapat mengikuti pembelajaran dengan semangat dan terus berupaya meraih cita-cita melalui pendidikan.
Bandung Barat – Dalam upaya memperkuat tata kelola keamanan informasi di era transformasi digital, BBPMP Provinsi Jawa Barat menerima kunjungan kerja Tim Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada Rabu (8/7/2026). Kunjungan tersebut dilakukan untuk melaksanakan Evaluasi Indeks KAMI (Keamanan Informasi) sebagai bagian dari penguatan sistem pengelolaan keamanan informasi di lingkungan BBPMP Jabar.
Kegiatan dibuka oleh Kepala Bagian Umum BBPMP Jabar, Mardi Wibowo. Momentum ini menjadi wujud komitmen BBPMP Jabar dalam membangun budaya keamanan informasi yang semakin kuat, sehingga pengelolaan data dan layanan digital dapat berlangsung secara aman, andal, dan bertanggung jawab.
Dalam pelaksanaannya, evaluasi Indeks KAMI mengacu pada standar ISO/IEC 27001:2022 yang digunakan untuk mengukur tingkat kesiapan organisasi dalam menerapkan keamanan informasi. Melalui evaluasi ini, BBPMP Jabar dapat memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi keamanan informasi yang telah diterapkan sekaligus mengidentifikasi aspek-aspek yang masih perlu ditingkatkan..
Hasil evaluasi tersebut diharapkan menjadi dasar dalam menyusun langkah-langkah perbaikan secara berkelanjutan. Dengan tata kelola keamanan informasi yang semakin baik, perlindungan terhadap data dan informasi dapat terus diperkuat sehingga kualitas layanan publik yang diberikan kepada masyarakat menjadi semakin aman, andal, dan berkualitas.
Kolaborasi antara BBPMP Jabar dengan Pusdatin Kemendikdasmen ini menjadi langkah nyata dalam mewujudkan tata kelola digital yang semakin baik serta mendukung transformasi pendidikan yang terpercaya dan berkelanjutan. Mari bersama menjaga keamanan informasi, karena setiap data yang terlindungi adalah bagian dari pelayanan publik yang berkualitas.
Bandung Barat – Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) Ramah 2026 tidak hanya menjadi momen bagi murid untuk mengenal lingkungan sekolah. Pada pelaksanaannya, guru dan satuan pendidikan juga melakukan asesmen sebagai langkah awal untuk memahami kondisi setiap peserta didik sehingga pembelajaran dapat dirancang lebih tepat, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang mereka sejak hari pertama masuk sekolah.
Asesmen ini bukan bertujuan mengukur prestasi atau menentukan peringkat murid, melainkan memetakan kebutuhan belajar sebagai dasar penyusunan layanan pendidikan yang sesuai dengan karakteristik masing-masing peserta didik.
Mengapa Asesmen MPLS Ramah Penting?
Melalui asesmen, guru dan sekolah dapat memperoleh gambaran awal mengenai berbagai aspek perkembangan murid, meliputi:
Bakat dan minat, untuk mengidentifikasi potensi, ketertarikan, serta kecenderungan murid sebagai dasar pengembangan diri.
Sosial-emosional, guna mengenali kondisi emosional, kemampuan berinteraksi, dan kesiapan murid mengikuti pembelajaran.
Literasi dan numerasi, untuk memetakan kemampuan awal membaca dan berhitung sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan murid.
Kebugaran, melalui pengukuran seperti Indeks Massa Tubuh (IMT), denyut nadi, dan fleksibilitas sebagai dasar pembiasaan hidup sehat.
Pendaftaran Cek Kesehatan Gratis (CKG), sebagai bagian dari upaya mendukung deteksi dini kondisi kesehatan peserta didik. Mendukung pemeriksaan kesehatan murid melalui pendaftaran layanan CKG.
Apa Saja yang Diasesmen?
Asesmen MPLS kini dilaksanakan selama 90 menit dengan materi yang disesuaikan berdasarkan jenjang pendidikan. Adapun cakupan asesmen untuk setiap jenjang adalah sebagai berikut:
PAUD
Sosial-emosional
Kebugaran
Pendaftaran Cek Kesehatan Gratis (CKG)
SD
Sosial-emosional
Bakat dan minat
Kebugaran
Pendaftaran Cek Kesehatan Gratis (CKG)
SMP, SMA, dan SMK
Sosial-emosional
Bakat dan minat
Literasi dan numerasi
Kebugaran
Pendaftaran Cek Kesehatan Gratis (CKG)
Hal yang Perlu Dipahami
Kemendikdasmen menegaskan bahwa asesmen dalam MPLS Ramah memiliki prinsip sebagai berikut:
Bukan tes untuk menentukan peringkat murid.
Bukan dasar kelulusan maupun kenaikan kelas.
Bukan untuk memberikan label kepada peserta didik.
Hasil asesmen bersifat rahasia dan hanya digunakan sebagai dasar pendampingan serta perencanaan pembelajaran.
Seluruh soal dan hasil asesmen dikelola langsung oleh Kemendikdasmen. Setiap murid akan menerima laporan hasil asesmen secara individu, sedangkan sekolah memperoleh rekapitulasi hasil yang dapat digunakan sebagai dasar dalam penyusunan pembelajaran.
Melalui asesmen ini, dapat membantu guru, sekolah, dan orang tua dalam memahami kebutuhan setiap murid. Pemahaman tersebut menjadi landasan untuk menghadirkan proses pembelajaran yang lebih tepat, nyaman, dan sesuai dengan potensi murid. Dengan demikian, pembelajaran dapat berlangsung lebih efektif sejak awal sekaligus mendukung terciptanya lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi seluruh murid.