Jakarta, 11 Agustus 2026 — Semangat membangun pendidikan bermutu tidak hanya dilakukan melalui kebijakan dan program pendidikan. Di lingkungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), semangat tersebut juga dibangun melalui budaya hidup sehat, kebersamaan, dan sportivitas di antara para pegawainya. Pesan itu mengemuka saat 896 pegawai mengikuti rangkaian perlombaan memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Selasa (11/8).
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mensyukuri kemerdekaan sekaligus memperkuat relasi sosial keluarga besar Kemendikdasmen. Kebersamaan itu, menurutnya, menjadi bagian dari upaya seluruh pegawai untuk menjalankan tugas dalam mewujudkan pendidikan bermutu bagi semua.
“Penyelenggaraan lomba ini tujuannya adalah untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia, dan meningkatkan keakraban, meningkatkan relasi sosial di antara semua keluarga besar Kemendikdasmen. Karena itu semangatnya adalah semangat kebersamaan, spirit-nya adalah bahwa kita semuanya ini harus bisa bersama-sama mewujudkan cita-cita para pahlawan, mengisi kemerdekaan sesuai dengan tupoksi kita (yaitu) mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujarnya
Rangkaian kegiatan yang berlangsung selama empat hari tersebut dibuka dengan Senam Sehat Anak Indonesia Hebat, dilanjutkan berbagai pertandingan olahraga dan seni. Sebanyak 11 cabang dipertandingkan, mulai dari Senam Anak Indonesia Hebat, bulu tangkis, tenis meja, tenis lapangan, bola voli, futsal, catur, memancing, E-sport, baca puisi, hingga stand-up comedy.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, mengatakan keberagaman cabang tersebut sekaligus membuka ruang partisipasi bagi pegawai dengan minat dan latar belakang yang berbeda. Peserta berasal dari delapan unit kerja, termasuk ASN dan non-ASN.
“Komposisi ini menggambarkan kita tidak hanya mempertandingkan olahraga saja, tetapi juga ada seni dan tentu saja untuk melihat minat sehingga ruang partisipasi ini terbuka untuk semua pegawai, serta diberi kesempatan untuk bertanding dari delapan unit kerja Kemendikdasmen,” ujarnya.
Bagi Kemendikdasmen, budaya hidup sehat dan sportivitas menjadi nilai yang relevan dengan pembangunan ekosistem pendidikan. Lingkungan kerja yang sehat dan kolaboratif diharapkan turut mendukung para pegawai dalam menjalankan tugas pelayanan pendidikan.
Karena itu, rangkaian perlombaan tidak ditempatkan sebagai ajang mengejar kemenangan. Mendikdasmen menekankan pentingnya nilai yang dibangun melalui kegiatan tersebut.
“Semangatnya tentu bukan siapa yang menjadi juara, tetapi semangatnya (untuk) membangun budaya hidup sehat dan kemudian membangun keakraban di antara kita semua warga Kemendikdasmen. Selamat bertanding, selamat berlomba, selamat bergembira memperingati kemerdekaan Indonesia yang ke-81. Merdeka!,” ujar Mendikdasmen meresmikan pembukaan rangkaian perlombaan.
Suharti menambahkan, kegiatan tersebut tetap dirancang agar tidak mengganggu tugas kedinasan. Menurutnya, aktivitas bersama di tengah kesibukan bekerja justru diharapkan memperkuat kebugaran, kebersamaan, dan sportivitas pegawai.
“Panitia sudah menyusun jadwal sedemikian rupa supaya pelaksanaan lomba tidak mengganggu pelayanan dan tugas kedinasan. Jadi, lomba ini bukan liburan, tetapi di sela-sela pekerjaan. Harapan kami, rangkaian perlombaan ini juga bisa menumbuhkan tidak hanya kebugaran dan budaya hidup sehat, tetapi juga kebersamaan dan sportivitas di antara seluruh pegawai Kemendikdasmen,” tutup Sesjen Suharti.
Semangat tersebut menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan kerja yang sehat dan kolaboratif sebagai pendukung pelaksanaan tugas Kemendikdasmen dalam menghadirkan pendidikan bermutu untuk semua.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Tasikmalaya, Jawa Barat, 11 Agustus 2026 – Program Peningkatan Kompetensi bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Vokasi Tahun 2026 Angkatan 4 resmi dibuka. Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kualitas SDM pendidikan vokasi agar selaras dengan kebutuhan industri. Kegiatan diselenggarakan oleh Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi-Bidang Mesin dan Teknik Industri (BBPPMPV-BMTI) dan dipusatkan di SMK Negeri 1 Tasikmalaya.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, dalam sambutannya menekankan bahwa peningkatan keahlian atau upskilling bagi para guru vokasi bukan lagi pilihan, melainkan sebuah kewajiban di tengah pesatnya perkembangan teknologi saat ini.
“Perkembangan teknologi jika tidak disikapi secara cermat oleh kita, khususnya guru-guru di SMK, maka nanti lulusan kita tidak siap untuk bekerja, karena teknologinya sudah melampaui, ini tantangannya,” tegas Wamen Atip, Senin (10/8).
Peningkatan kompetensi ini tidak lepas dari fenomena inovasi teknologi yang dapat menggantikan teknologi sebelumnya dalam waktu singkat. Teknologi seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) luar biasa cepat, sehingga guru dituntut untuk cermat merespons perubahan tersebut agar lulusan SMK siap bekerja sesuai kebutuhan industri yang melampaui teknologi konvensional.
“Para guru harus terus di-upskilling karena kita menyadari bahwa kecepatan teknologi sekarang tidak lagi dalam hitungan tahun. Mungkin ke depan dalam hitungan satu bulan sudah muncul teknologi baru, ini tantangan yang luar biasa,” jelas Wamen Atip.
Kepala BBPPMPV BMTI, Baharudin, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi profesional terkait teknis kejuruan sesuai dengan bidang masing-masing, penguatan pedagogi, perubahan pola pikir (mindset), serta penguatan aspek kepemimpinan dan kewirausahaan, juga membiaskan guru dengan iklim dan budaya di dunia kerja.
“Harapannya, dari kegiatan ini nanti seluruh peserta memahami materi pelatihan, kemudian mengimplementasikan dan mampu mengimbaskan hasilnya kepada guru-guru dan murid,” jelas Baharudin.
Ditambahkan Baharudin bahwa selain di SMKN 1 Tasikmalaya, kegiatan ini juga diselenggarakan secara serentak di beberapa pusat belajar lain, di antaranya SMK 2 Yogyakarta, SMK 5 Surakarta, SMK 1 Karawang, serta SMK Lelea.
Anggota Komisi X DPR RI, Ferdiansyah, memberikan apresiasi sekaligus mendorong adanya terobosan teknologi rekayasa di SMK. Seperti mengubah limbah menjadi produk bernilai ekonomi, yaitu pengolahan sampah plastik menjadi bahan baku furnitur sekolah. Inovasi ini diharapkan dapat memperkuat pengakuan publik terhadap keberadaan SMK melalui penerapan konsep 3R (reuse, reduce, recycle).
“Tidak menutup kemungkinan BMTI juga melakukan rekayasa, misalnya pembuatan pelelehan terhadap sampah plastik untuk dijadikan balok-balok yang menjadi bahan baku untuk bangku sekolah, bangku kafe, ataupun bangku kepala sekolah seluruh Indonesia. Itu menjadi ide yang bagus,” jelas Ferdiansyah.
Dukungan terhadap program peningkatan kompetensi ini juga diperkuat dengan komitmen DPR RI dalam hal penganggaran. Sebagai mitra Kemendikdasmen, Komisi X siap mendukung inisiatif pendidikan vokasi yang mampu menjawab permasalahan bangsa saat ini.
“Kita minta dari balai supaya ada terobosan-terobosan dan dampaknya. Sehingga nanti saat pembahasan anggaran tentu kami sebagai Komisi X yang punya hak budget, akan mendukung dalam rangka untuk menjawab masalah nasional di antaranya adalah darurat sampah,” tutup Ferdiansyah.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Bogor – Hari kedua Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) 7 Bogor, Selasa (11/8/2026), menjadi momentum bagi murid untuk mengenal lingkungan sekolah sekaligus menumbuhkan harapan dan cita-cita yang ingin dicapai setelah menyelesaikan pendidikan di SNT.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Senam Anak Indonesia Hebat yang diikuti murid dan guru bersama-sama di lapangan. Kegiatan kemudian dilanjutkan di dalam ruangan dengan pengenalan delapan profil pelajar Pancasila, lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan menggembirakan, serta berbagai hal terkait lingkungan sekolah.
Tidak hanya mengenal lingkungan tempat mereka belajar, murid juga diajak memandang masa depan melalui kegiatan menuliskan harapan yang ingin dicapai setelah lulus dari SNT. Kegiatan ini mendorong murid untuk berpikir ke depan, mengenali tujuan yang ingin diraih, serta mulai membangun motivasi untuk mewujudkannya.
Dengan penuh semangat, murid menuangkan gagasan dan cita-cita mereka melalui kertas plano maupun PID. Beragam harapan yang dituliskan memperlihatkan impian mereka terhadap pendidikan, pengembangan diri, hingga perguruan tinggi yang ingin dituju.
Salah satunya Anisya Nada Firmansyah, murid kelas XA, yang berharap dapat mengembangkan kemampuan akademik, organisasi, kepemimpinan, dan komunikasi. Ia juga menargetkan dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri maupun perguruan tinggi internasional terbaik.
“I want to improve and enhance my academic skills, organizational skills, leadership skills, communication skills, and also get accepted into a top 10 state university (PTN) or top international university (PTLN),” tulis Anisya.
Sementara itu, Joey Ramiro, murid kelas XA, memiliki harapan untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Indonesia sekaligus meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, khususnya kemampuan berbicara.
“I want to get into the University of Indonesia. I hope I can improve my English skills, especially my speaking skill,” tulis Joey.
Harapan untuk terus berkembang juga dituliskan Adelia, murid kelas XA. Ia berharap dapat meningkatkan kemampuan akademik dan nonakademik, menjadi lebih disiplin, melanjutkan pendidikan di universitas dan fakultas psikologi yang diimpikannya, serta membanggakan orang tua.
“I hope to improve my academic and non-academic, I could be more disciplined, to be able to study my dream university, to enter the faculty of psychology, and I can make my parent proud,” tulis Adelia.
Beragam cita-cita tersebut menjadi gambaran semangat murid SNT dalam menatap masa depan. Melalui MPLS, mereka tidak hanya diajak mengenal lingkungan sekolah, tetapi juga mulai membangun tujuan dan keyakinan untuk menjadi generasi unggul yang mampu meraih cita-cita serta membanggakan Indonesia.
Kabupaten Bogor, Jawa Barat, 10 Agustus 2026 – Hari pertama menjadi murid Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) 7 Bogor membuka babak baru bagi Misel. Murid kelas VII yang memiliki ketertarikan pada bidang fisika, sains, komputer, koding dan kecerdasan artifisial (AI), serta bahasa Inggris itu menyimpan satu mimpi besar: menjadi peneliti.
Misel mungkin belum pernah berdiri di podium untuk menerima medali lomba. Namun, baginya, hal itu bukan batas untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan. Kesempatan menjadi bagian dari angkatan pertama SNT 7 Bogor membuatnya semakin bersemangat untuk mengenali potensi diri dan membawanya ke tingkat yang lebih tinggi.
“Saya sekolah di sini karena ingin memiliki fasilitas yang lebih baik, mengejar akademik saya, dan meningkatkan diri ke tingkat yang baru,” ujar Misel di sela kegiatan hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SNT 7 Bogor, Senin (10/8).
Ketertarikan Misel pun tidak berhenti pada satu bidang. Ia ingin terus mendalami sains dan komputer, sekaligus memperluas wawasannya. Kelak, ia bercita-cita menjadi peneliti yang mendalami makhluk hidup dan sejarah.
“Saya ingin menjadi anak yang lebih berprestasi lagi, memiliki banyak kemampuan, dan ingin membahagiakan orang tua saya,” katanya.
Cerita Misel menggambarkan bahwa potensi seorang anak tidak semata-mata ditentukan oleh medali, piala, atau prestasi yang telah diraih. Setiap murid memiliki minat, kemampuan, dan potensi yang dapat terus ditemukan serta dikembangkan melalui lingkungan belajar yang mendukung.
Kepala SNT 7 Bogor, Fitriyani, mengatakan bahwa pemetaan awal terhadap murid angkatan pertama menunjukkan keragaman potensi yang besar, mulai dari bahasa, sains, hingga seni. Ada murid yang telah memiliki kemampuan berbahasa Inggris dan Arab, berprestasi dalam olimpiade, serta memiliki talenta seni. Bahkan, salah seorang murid memiliki pengalaman di bidang seni tari hingga mewakili Indonesia di tingkat internasional.
“Dalam kondisi awal, kami sudah melihat begitu banyak potensi bakat dan minat yang sangat luar biasa. Ada anak-anak yang potensinya di bahasa, sains, hingga seni,” tutur Fitriyani.
Keragaman tersebut menjadi salah satu pijakan SNT 7 Bogor dalam membangun lingkungan belajar yang memberi kesempatan kepada setiap murid untuk berkembang sesuai dengan potensi masing-masing.
“SNT, salah satunya SNT 7 Bogor, akan didesain untuk memfasilitasi seluruh potensi bakat dan minat,” ujarnya.
Menurut Fitriyani, proses pendidikan di SNT tidak hanya diarahkan pada kemampuan akademik. Murid juga akan mendapatkan ruang untuk mengeksplorasi berbagai bidang sehingga dapat semakin mengenali kekuatan dirinya dan memperoleh pendampingan untuk mengembangkannya.
Pengembangan potensi tersebut turut didukung melalui pemanfaatan fasilitas sekolah. Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) SNT 7 Bogor, Muharsyad Al Azip, mencontohkan lapangan futsal sintetis yang dapat dimanfaatkan murid secara rutin melalui kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan talenta olahraga.
Pengembangan talenta di SNT juga berjalan beriringan dengan pembentukan karakter. Menurut Fitriyani, kemampuan akademik dan berbagai talenta yang dimiliki murid perlu ditopang karakter yang kuat agar mereka memiliki bekal yang utuh untuk menghadapi masa depan.
“Karena ketika pintar saja, tapi karakternya tidak kita asah, itu menjadi sesuatu yang sangat perlu kita pertimbangkan. Jadi karakter itu pun menjadi bagian dari visi besar Sekolah Nasional Terintegrasi di seluruh Indonesia,” tambahnya.
Arah tersebut sejalan dengan konsep integrasi yang menjadi dasar pengembangan SNT. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa integrasi dalam SNT tidak hanya menyangkut jenjang pendidikan maupun bangunan sekolah, tetapi juga keseluruhan ekosistem pendidikan yang mendukung perkembangan murid.
“Jadi yang diintegrasikan bukan hanya jenjang dan bangunannya, tetapi juga pembelajaran, pengembangan guru, pembinaan karakter, pengembangan talenta, pemanfaatan fasilitas, dan penjaminan mutu. Dengan demikian perkembangan murid dapat didampingi secara lebih utuh dan berkelanjutan,” ujar Mendikdasmen di SNT 7 Bogor, Jawa Barat, Senin (10/8).
Melalui pendekatan tersebut, SNT diharapkan menjadi ruang tempat setiap murid tidak hanya belajar, tetapi juga mengenali dirinya, menemukan kekuatannya, mengembangkan talenta, dan membangun karakter untuk berani menata cita-cita masa depan.
Bagi Misel, perjalanan itu baru saja dimulai. Dari ketertarikannya pada sains, komputer, dan berbagai bidang pengetahuan, kini ia memiliki ruang yang lebih luas untuk belajar dan mengejar mimpinya menjadi seorang peneliti.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Kabupaten Bogor, Jawa Barat, 10 Agustus 2026 – Sebanyak 17 Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) di berbagai wilayah Indonesia telah resmi memulai layanan pendidikan untuk tahun ajaran 2026/2027. SNT menjadi bagian dari langkah pemerintah untuk mendorong pemerataan pendidikan bermutu sekaligus menghadirkan ruang belajar yang memungkinkan setiap murid mengembangkan potensi, kemampuan, minat, dan bakatnya secara optimal.
Beroperasinya 17 SNT ditandai dengan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah yang dimulai pada Senin (10/8). Di SNT 7 Bogor, Jawa Barat, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, hadir dan menjadi pembina upacara pada hari pertama MPLS.
Mendikdasmen mengatakan bahwa penyelenggaraan SNT merupakan bagian dari upaya besar pemerintah membangun sumber daya manusia unggul menuju Generasi Emas Indonesia 2045. Dimulainya layanan pendidikan SNT pada tahun ajaran 2026/2027 sekaligus menjadi momentum penting dalam perjalanan pendidikan Indonesia.
“Sekolah Nasional Terintegrasi merupakan salah satu model pendidikan khusus yang kita kembangkan sebagai penjabaran dari Instruksi Presiden yang telah diterbitkan oleh Bapak Presiden dan sebagai bagian dari usaha besar bangsa Indonesia untuk mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045. Penyelenggaraan Sekolah Nasional Terintegrasi menjadi sejarah baru karena mulai dilaksanakan pada tahun ajaran 2026/2027,” ujar Menteri Mu’ti.
Menurut Mendikdasmen, SNT memberikan kesempatan dan layanan pendidikan yang memungkinkan murid dengan kemampuan istimewa, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik, memperoleh lingkungan belajar yang mendukung perkembangan potensinya secara lebih optimal.
“Tujuannya untuk memberikan kesempatan dan pelayanan kepada anak-anak yang memiliki kemampuan istimewa, khususnya dalam bidang akademik maupun nonakademik, untuk dapat tumbuh dan berkembang lebih cepat dan lebih baik lagi,” tuturnya.
SNT dikembangkan untuk memberikan ruang tumbuh yang lebih luas bagi potensi murid melalui lingkungan dan proses pembelajaran yang berkualitas. Kehadiran SNT di berbagai daerah juga menjadi bagian dari upaya pemerintah menghadirkan pusat-pusat mutu pendidikan yang diharapkan dapat memberikan manfaat bagi peningkatan kualitas pendidikan di wilayah sekitarnya.
Mendikdasmen menekankan bahwa setiap murid memiliki kemampuan dan kebutuhan belajar yang beragam. Karena itu, diperlukan pendekatan pendidikan yang dapat memberikan ruang bagi murid untuk berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
“Model pendidikan khusus ini adalah satu pilihan agar kalian semua dapat tumbuh, dapat berkembang sesuai dengan kemampuan akademik yang kalian miliki, dan berkembang menjadi generasi hebat Indonesia 2045,” kata Mendikdasmen kepada para murid.
Untuk memastikan layanan pendidikan SNT dapat segera dimulai pada tahun ajaran 2026/2027, pemerintah pada tahap awal mengoptimalkan fasilitas yang dimiliki Kemendikdasmen dan pemerintah daerah di sejumlah kabupaten/kota sebagai lokasi pembelajaran. Pada saat yang sama, pemerintah terus mempersiapkan pembangunan gedung SNT dengan fasilitas yang lebih representatif.
“Pada tahap awal, penyelenggaraan 17 Sekolah Nasional Terintegrasi di seluruh Indonesia dilakukan di fasilitas yang dimiliki Kemendikdasmen dan fasilitas yang dimiliki pemerintah daerah. Proses pembangunan sedang dipersiapkan dan diharapkan pada tahun depan Sekolah Nasional Terintegrasi telah memiliki gedung sendiri dengan fasilitas yang representatif, yang memungkinkan kalian semua dapat belajar dengan sebaik-baiknya,” ujar Mendikdasmen.
Hari pertama pembelajaran di SNT juga menjadi awal perjalanan baru bagi para murid angkatan pertama. Mereka datang membawa pengalaman, prestasi, cita-cita, serta semangat untuk tumbuh bersama di lingkungan belajar yang baru.
Salah satunya adalah Agisni Ramadani, murid jenjang SMP di SNT 7 Bogor. Sebelum bergabung dengan SNT, Agisni berhasil meraih peringkat pertama di kelas dan menjadi lulusan terbaik di sekolah asalnya. Ia berharap kesempatan belajar di SNT dapat membantunya terus mengembangkan kemampuan dan mewujudkan cita-citanya.
“Saya sangat senang setelah diterima di sini. Saya berharap bisa berkembang dan menjadi lebih baik lagi. Saya ingin menjadi dokter spesialis,” ujar Agisni.
Semangat yang sama disampaikan Nadine A. Zuhrah Farista, murid kelas X SNT 7 Bogor. Nadine membawa pengalaman dan prestasi nonakademik, khususnya di bidang kepramukaan. Sebelumnya ia berhasil meraih predikat Pramuka Garuda tingkat penggalang.
“Harapan saya ke depan semoga saya bisa lebih berkembang lagi di sini dan menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya,” ujar Nadine.
Dimulainya pembelajaran di 17 SNT menjadi langkah awal pemerintah dalam mengembangkan SNT sebagai lingkungan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar, bertumbuh, berprestasi, dan mengembangkan potensi terbaiknya. Melalui SNT, pemerintah berkomitmen memperluas hadirnya pendidikan bermutu di berbagai daerah sekaligus menyiapkan generasi Indonesia yang unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah