Dua Dekade Menanti, Mimpi SMA Swasta Afore Susua Miliki Sekolah Layak Terwujud melalui Revitalisasi

Dua Dekade Menanti, Mimpi SMA Swasta Afore Susua Miliki Sekolah Layak Terwujud melalui Revitalisasi

Siaran Pers

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 808/sipers/A6/IX/2026

Jakarta, 15 September 2026 Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memastikan satuan pendidikan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) mendapatkan dukungan sarana dan prasarana pendidikan yang layak. Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun 2026 di SMA Swasta Afore Susua, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengatakan revitalisasi pada tahun 2026 diarahkan untuk menjangkau sekolah yang membutuhkan dukungan, khususnya di wilayah 3T, sekolah dengan kondisi fisik rusak berat, dan sekolah yang terdampak bencana.

“Kami ingin memastikan anak-anak di mana pun mereka berada tetap mendapatkan tempat belajar yang layak. Karena itu, revitalisasi tahun ini diarahkan kepada sekolah-sekolah yang berada di wilayah 3T, sekolah dengan kondisi fisik rusak berat, dan sekolah yang terdampak bencana,” ujar Mendikdasmen.

Di Kabupaten Nias Selatan, Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun 2026 menyasar 106 satuan pendidikan dengan total bantuan sekitar Rp118,7 miliar. Bantuan tersebut terdiri atas 30 PAUD senilai Rp16,3 miliar, 46 SD senilai Rp54,6 miliar, 18 SMP senilai Rp34,7 miliar, 6 SMA senilai Rp7,8 miliar, dan 6 SMK senilai Rp5,3 miliar.

Salah satu satuan pendidikan penerima bantuan tersebut adalah SMA Swasta Afore Susua. Pada 2026, sekolah yang berada di Kecamatan Susua tersebut mendapatkan bantuan revitalisasi sebesar Rp1.103.448.000 untuk rehabilitasi tujuh ruang kelas atau ruang serbaguna beserta perabotnya. Hingga saat ini, pelaksanaan revitalisasi telah mencapai progres 72 persen.

Kepala SMA Swasta Afore Susua, Esti Jefriani Giawa, menyampaikan rasa syukur atas revitalisasi yang dilaksanakan di sekolahnya. Ia mengatakan, SMA Swasta Afore Susua merupakan sekolah pertama yang didirikan di Kecamatan Susua pada 2006. Sekolah tersebut didirikan oleh yayasan sebagai bentuk kepedulian terhadap masih terbatasnya akses pendidikan jenjang SMA bagi anak-anak di wilayah tersebut.

“Dengan bangunan seadanya dan fasilitas alakadarnya, sekolah ini dibangun dengan tujuan membantu putra-putri daerah Kecamatan Susua mendapatkan pendidikan yang layak dan tidak tertinggal oleh perkembangan zaman,” ujar Esti.

Selama hampir dua dekade, SMA Swasta Afore Susua telah meluluskan hampir dua ribu alumni yang kini berkontribusi di tengah masyarakat. Namun, kondisi sejumlah ruang kelas sebelum direvitalisasi cukup memprihatinkan. Atap mulai bocor, plafon mengalami kerusakan, sementara lantai, jendela, dan pintu juga dalam kondisi rusak.

Menurut Esti, perubahan mulai terlihat setelah proses revitalisasi berjalan. Ruang belajar yang sebelumnya mengalami kerusakan kini mulai tampak kokoh, rapi, dan lebih layak digunakan. Meskipun pembangunan belum sepenuhnya selesai, para murid dan guru sudah tidak sabar untuk menempati ruang kelas yang telah direhabilitasi.

“Mimpi kami untuk bisa mendapatkan bangunan yang layak dan fasilitas yang layak telah terwujud pada tahun 2026 ini atas program revitalisasi yang telah diberikan di sekolah kami. Saya mewakili civitas akademika, para guru, tenaga kependidikan, seluruh siswa-siswi, serta orang tua murid mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Republik Indonesia, Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah atas bantuan program revitalisasi yang telah diberikan di sekolah kami,” ungkapnya.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

Kemendikdasmen Siapkan Empat Strategi Tindak Lanjut Hasil PISA 2025

Kemendikdasmen Siapkan Empat Strategi Tindak Lanjut Hasil PISA 2025

Bandung Barat – Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 menunjukkan perkembangan positif dalam pendidikan Indonesia. Selain mencatat peningkatan pada kemampuan literasi sains dan membaca, Indonesia juga berhasil memperluas akses pendidikan bagi anak usia sekolah.

Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) merilis hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025, yang diikuti oleh 91 negara dan ekonomi dengan melibatkan lebih dari 760 ribu murid sebagai sampel di seluruh dunia. Jumlah peserta tersebut menjadi yang terbesar sejak PISA pertama kali diselenggarakan pada 2000.

Pada PISA 2025, skor literasi sains Indonesia meningkat enam poin, dari 383 pada 2022 menjadi 389. Kemampuan membaca juga mengalami peningkatan dari 359 menjadi 365. Sementara itu, skor matematika Indonesia tercatat 364.

Peningkatan capaian tersebut berjalan seiring dengan semakin luasnya akses pendidikan. Berdasarkan Coverage Index, yaitu proporsi murid berusia 15 tahun yang berada dalam sistem pendidikan formal, angka Indonesia meningkat dari 0,46 pada keikutsertaan pertama PISA pada 2003 menjadi 0,90 pada 2025. Kondisi ini menunjukkan perluasan akses pendidikan yang signifikan dalam kurun waktu lebih dari dua dekade.

Perkembangan juga terlihat pada kemampuan murid Indonesia dalam pemecahan masalah komputasional. Murid Indonesia tercatat lebih sering terlibat dalam pembelajaran untuk menilai kredibilitas konten yang dihasilkan kecerdasan artifisial (AI) dibandingkan murid di banyak negara lainnya. Hal ini menjadi peluang untuk terus memperkuat kemampuan bernalar dan literasi digital peserta didik di tengah perkembangan teknologi.

Hasil PISA 2025 menjadi salah satu pijakan dalam memperkuat kebijakan peningkatan mutu pendidikan. Kemendikdasmen menyiapkan empat arah strategis sebagai tindak lanjut, mulai dari penguatan kompetensi guru, peningkatan kualitas pembelajaran, penyelarasan asesmen, hingga penguatan peran keluarga.

Penguatan kompetensi guru diarahkan melalui peningkatan kualifikasi akademik, Pendidikan Profesi Guru (PPG), serta pengembangan kompetensi pedagogik dan digital, termasuk kemampuan di bidang koding dan kecerdasan artifisial.

Dari sisi pembelajaran, penguatan dilakukan melalui penerapan pembelajaran mendalam, digitalisasi pembelajaran, serta penguatan literasi, numerasi, dan karakter murid. Kerangka Asesmen Nasional (AN) dan Tes Kemampuan Akademik (TKA) juga akan terus diselaraskan dengan kompetensi penalaran yang menjadi bagian penting dalam kerangka PISA.

Selain sekolah dan guru, keluarga turut menjadi bagian penting dalam peningkatan kualitas pendidikan. Kemendikdasmen mendorong penguatan peran orang tua melalui Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH) serta kemitraan keluarga dalam penerapan pembelajaran mendalam.

Capaian PISA 2025 dengan demikian tidak hanya menjadi gambaran mengenai posisi Indonesia dalam asesmen pendidikan internasional. Lebih dari itu, hasil tersebut dapat menjadi bahan refleksi untuk terus memperkuat kualitas pembelajaran sekaligus memastikan semakin banyak anak Indonesia memperoleh kesempatan mendapatkan pendidikan yang bermutu.

Dengan perluasan akses yang berjalan beriringan dengan peningkatan kemampuan literasi dan sains, hasil PISA 2025 menjadi momentum untuk melanjutkan transformasi pendidikan Indonesia menuju pembelajaran yang lebih bermakna, relevan, dan mampu menjawab tantangan masa depan.

Sumber: Siaran Pers Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor: 797/sipers/A6/IX/2026

Pemulihan Pendidikan NTT Bergerak Positif, 187 Bantuan Revitalisasi dan 672 RKS Mulai Berjalan

Pemulihan Pendidikan NTT Bergerak Positif, 187 Bantuan Revitalisasi dan 672 RKS Mulai Berjalan

Siaran Pers

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 804/sipers/A6/IX/2026

Jakarta, 14 September 2026 – Pemulihan layanan pendidikan pascabencana gempa bumi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terus menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan data per hari ini, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus melakukan percepatan dengan mulai menyalurkan bantuan revitalisasi tahap pertama bagi satuan pendidikan yang mengalami kerusakan akibat bencana serta dengan membangun Ruang Kelas Sementara (RKS).

Bantuan revitalisasi mulai diberikan secara bertahap kepada 187 satuan pendidikan dengan total anggaran Rp50 miliar. Revitalisasi ini mencakup 140 satuan PAUD dengan nilai Rp500 juta, 5 SLB senilai Rp6,45 miliar, 2 PKBM dan 1 SKB dengan total Rp1 miliar, serta 39 SMK dengan nilai Rp42,2 miliar. Sementara itu, untuk jenjang SD, SMP, dan SMA, proses verifikasi dan validasi telah dilakukan dan saat ini masih dalam tahap penghitungan kebutuhan.

Selain bantuan revitalisasi, Kemendikdasmen juga melakukan percepatan pemulihan dengan menyalurkan bantuan RKS sebanyak 672 unit dengan total anggaran Rp 3,5 miliar. Bantuan RKS ini menjangkau 194 RKS PAUD, 12 RKS SLB, dan 372 RKS SMK dengan nilai Rp4 juta per RKS, serta 65 RKS SMP dan 29 RKS SMA dengan nilai Rp15 juta per RKS.

Kemendikdasmen juga mencatat sebanyak 2.447 satuan pendidikan telah melakukan kembali proses pembelajaran. Dari jumlah tersebut, 487 di antaranya kembali menyelenggarakan secara normal di ruang kelas, dan 1.960 satuan pendidikan lainnya menyelenggarakan pembelajaran dalam berbagai moda darurat, baik di tenda, ruang terbuka, maupun ruang kelas darurat.

“Kabar baik tersebut merupakan hasil kerja keras seluruh pihak yang bergotong royong membantu agar layanan pendidikan di NTT dapat bangkit dan pulih seperti sediakala. Kemendikdasmen terus berkomitmen mendukung proses pemulihan layanan pendidikan di NTT agar kegiatan pembelajaran kembali berlangsung secara optimal dan seluruh murid tetap memiliki ruang untuk tumbuh, belajar, serta meraih cita-cita,” Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, Senin (14/9).

Pendampingan Psikososial dan Penyediaan Ruang Kelas Darurat

Selain penyaluran bantuan revitalisasi dan pembangunan RKS, Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus, Saryadi, menyampaikan bahwa Kemendikdasmen turut memberikan pendampingan psikososial kepada 75 sekolah melalui kolaborasi dengan berbagai mitra. Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melaksanakan pelatihan bagi 120 fasilitator nasional dan 1.700 fasilitator daerah yang nantinya akan mendukung pendampingan bagi sekitar 51 ribu pendidik dan tenaga kependidikan di tujuh kabupaten terdampak.

“Langkah ini dilakukan untuk kembali membangun mental dan semangat para warga sekolah agar proses pembelajaran kembali pada situasi normal,” tutur Saryadi.

Menegaskan komitmen pemerintah dalam memastikan keberlanjutan layanan pendidikan, Saryadi menjelaskan Kemendikdasmen juga telah mendistribusikan tenda kelas darurat dengan total nilai Rp5,5 miliar. Bantuan tenda tersebut telah tersebar dan didistribusikan seluruhnya ke Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai Timur, Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Manggarai Barat, Kabupaten Sikka, Kabupaten Ngada, dan Kabupaten Ende.

Di sisi lain, bantuan awal senilai Rp6 miliar juga telah Kemendikdasmen salurkan ke tujuh kabupaten terdampak. Bantuan tersebut meliputi 10.000 paket makanan anak, 1.000 paket sembako, 5.500 school kit, 1.500 family kit, serta 10.000 buku bacaan.

“Kami turut mengapresiasi langkah pemerintah provinsi dan pemerintah daerah di NTT yang telah menerbitkan surat edaran maupun keputusan terkait penyelenggaraan pendidikan pascabencana. Kebijakan tersebut sejalan dengan Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Pembelajaran pada Satuan Pendidikan Terdampak Bencana,” ujarnya.

Kepada keluarga warga sekolah yang kehilangan anggota keluarga maupun mengalami luka akibat gempa, Saryadi menuturkan Kemendikdasmen telah menyalurkan santunan dengan total Rp330 juta, yang terdiri Rp5 juta bagi setiap peserta didik yang meninggal dunia, Rp10 juta bagi guru yang meninggal dunia, Rp2 juta bagi guru yang mengalami luka, serta Rp1 juta bagi peserta didik yang mengalami luka.

“Kami mengajak seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah daerah maupun masyarakat, untuk terus bergotong royong memastikan hak pendidikan anak-anak NTT tetap terpenuhi, sekalipun dalam kondisi darurat,” tutup Saryadi.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers