Siaran Pers Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Nomor: 736/sipers/A6/VIII/2026
Jakarta, 20 Agustus 2026 — Gempa susulan kembali mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di Kabupaten Manggarai, masyarakat kembali dilanda kepanikan setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,8 terjadi pada Kamis pagi (20/8). Sebelumnya, pada Rabu malam (19/8), gempa berkekuatan magnitudo 5,7 juga dirasakan masyarakat.
“Semoga kami selamat dan tidak terjadi tsunami,” ucap salah satu warga, dikutip Kasman, Tim Direktorat Sekolah Dasar yang mewakili Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan telah tiba di lokasi pada Rabu (19/8).
Menurut pengakuan Kasman, hingga saat ini guncangan masih terasa di lapangan. Perjalanan menuju titik lokasi tujuan juga diwarnai longsor di sisi jalan. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat Tim Kemendikdasmen untuk tetap hadir dan menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak.
Kemendikdasmen memberikan bantuan berupa goodie bag berisi makanan bagi 29 anak jenjang PAUD, 229 murid SD, dan 116 murid SMP yang berada di pengungsian SD Inpres Robo, Kecamatan Feri Ruteng, Kabupaten Manggarai.
Selain bingkisan makanan berupa susu, air minum kemasan, dan makanan ringan, Tim Kemendikdasmen juga menyerahkan school kit secara simbolis kepada perwakilan murid jenjang PAUD, SD, dan SMP. Family kit turut diberikan kepada para guru yang berada di lokasi pengungsian.
“Di tengah kondisi darurat, Kemendikdasmen hadir untuk memastikan masyarakat mendapatkan perhatian, dukungan, dan kebutuhan belajar. Bantuan yang kami bawa mungkin sederhana, tetapi ini adalah bentuk kepedulian dan komitmen kami untuk terus hadir bersama anak-anak, guru, dan keluarga yang terdampak bencana,” ujar Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, di Jakarta, Kamis (20/8).
Kemendikdasmen Berikan Santunan bagi Korban Gempa Bumi
Selain menyalurkan bantuan di lokasi pengungsian, Kemendikdasmen melalui Direktorat Sekolah Dasar juga memberikan santunan kepada guru dan murid yang terdampak gempa bumi.
Santunan senilai Rp2 juta dan family kit diberikan kepada salah satu guru di SDK Ri’i, Desa Bea Mese, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, NTT, yang tertimpa reruntuhan bangunan rumah akibat dampak gempa bumi.
Kemendikdasmen juga menyalurkan santunan sebesar Rp1 juta dan school kit kepada salah satu murid kelas V SDK Ri’i yang terkena reruntuhan puing bangunan sekolah.
Sementara itu, santunan juga diberikan kepada keluarga murid yang meninggal dunia, yakni Febriani Evika Jas, murid kelas V SDK Ri’i. Kemendikdasmen menyerahkan santunan sebesar Rp5 juta serta bantuan sembako kepada orang tua almarhumah.
Kepala Susteran Misionaria Claris Ruteng, Sr. Flaviana Dia, MC, mengungkapkan betapa bermaknanya kehadiran pemerintah di tengah masa-masa sulit yang dialami para suster, guru, dan peserta didik di Ruteng.
Gempa bumi mungkin telah merusak dinding-dinding kelas di Jalan Gurami, namun gerak cepat kepedulian pemerintah bersama keteguhan para pendidik membuktikan bahwa semangat belajar anak-anak Manggarai tidak akan pernah runtuh.
Kehadiran Tim Direktorat Sekolah Dasar Kemendikdasmen yang bergerak cepat menyalurkan bantuan ke lokasi bencana terasa berarti bagi para korban. Hal tersebut terlihat dari sambutan sesepuh adat dan tokoh masyarakat yang turut hadir menyaksikan penyerahan bantuan di lokasi pengungsian.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Jakarta, 19 Agustus 2026 — Pemerintah membuka ruang yang lebih jelas bagi pengembangan karier guru melalui kesempatan bagi guru PPPK paruh waktu untuk mengikuti proses menjadi PPPK penuh waktu. Pada saat yang sama, guru yang telah berstatus PPPK penuh waktu diberikan kesempatan mengikuti seleksi CPNS.
Dalam rapat koordinasi lintas kementerian dan lembaga bersama Pimpinan DPR RI, Selasa (18/8), Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPANRB) menyampaikan bahwa guru PPPK paruh waktu mendapat kesempatan menjadi PPPK penuh waktu mulai 2027. Sementara itu, guru yang telah berstatus PPPK penuh waktu diberikan kesempatan mengikuti seleksi CPNS, yang pendaftarannya mulai dibuka pada awal 2027.
Pelaksanaan kesempatan tersebut tetap mengikuti mekanisme, persyaratan, kebutuhan formasi, serta ketentuan yang ditetapkan pemerintah. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya penataan status kepegawaian sekaligus memberikan arah yang lebih jelas bagi keberlanjutan karier guru.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengatakan kebijakan tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk terus memperkuat kualitas pendidikan nasional, antara lain melalui peningkatan kesejahteraan, perlindungan, dan pengembangan kompetensi guru.
“Ini tentu kabar baik bagi para guru kita. Kami berterima kasih atas arahan dan dukungan Bapak Presiden yang menjadikan kesejahteraan dan kepastian karier guru sebagai salah satu prioritas dalam mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua,” ujar Mendikdasmen.
Dikatakan Mu’ti, pemerintah akan terus bersinergi untuk memastikan guru mendapatkan kesempatan berkembang, terlindungi. “Upaya tersebut berjalan beriringan dengan penguatan berbagi aspek profesi guru, mulai dari kesejahteraan dan perlindungan hingga pengembangan kompetensi serta apresiasi terhadap dedikasi dan pengabdian guru,” tambah Mu’ti.
Berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik), saat ini jumlah guru berstatus PPPK mencapai 908.617 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 231.246 orang masih berstatus PPPK paruh waktu.
Ke depan, Kemendikdasmen akan terus berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait untuk menindaklanjuti kebijakan tersebut sesuai dengan kewenangan masing-masing. Para guru dan masyarakat diimbau mengikuti perkembangan mengenai mekanisme, persyaratan, jadwal, formasi, dan tahapan seleksi CPNS tahun 2027 melalui kanal resmi Kementerian PANRB serta kanal resmi pemerintah terkait.
Komitmen Kemendikdasmen Perkuat Kesejahteraan dan Kompetensi Guru
Sejalan dengan langkah pemerintah dalam memberikan ruang yang lebih jelas bagi pengembangan karier guru, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat komitmen terhadap kesejahteraan dan peningkatan kompetensi guru. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyaluran aneka tunjangan bagi guru ASN sekaligus berbagai program pengembangan kompetensi yang disiapkan untuk menjawab kebutuhan guru dan perkembangan dunia pendidikan.
Sepanjang semester I 2026, penyaluran Tunjangan Profesi Guru (TPG) mencapai Rp37,9 triliun untuk 1,68 juta guru. Sementara itu, Tunjangan Khusus Guru (TKG) telah disalurkan sebesar Rp1,5 triliun kepada lebih dari 65 ribu guru, sedangkan Dana Tambahan Penghasilan (DTP) mencapai Rp25 miliar untuk lebih dari 25 ribu guru.
Dari sisi peningkatan kompetensi, sepanjang 2026 Kemendikdasmen juga telah meluncurkan berbagai pelatihan bagi guru. Program tersebut antara lain Pengembangan Kompetensi Guru Sekolah Dasar dalam Mengajar Bahasa Inggris (PKGSDMBI), Pelatihan Pembelajaran Mendalam (PM) dan Koding & Kecerdasan Artifisial (KKA), Pelatihan STEM, Peningkatan Kompetensi Guru BK, serta Pelatihan Pendidikan Inklusif.
Capaian dan berbagai program tersebut merupakan upaya pemerintah memastikan hak-hak guru dapat diterima dan tersalurkan serta penguatan status dan pengembangan karier guru berjalan beriringan dengan peningkatan kompetensi.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, 19 Agustus 2026 – Di tengah keberagaman yang menjadi bagian dari keseharian masyarakat Cigugur, ratusan murid merayakan kemerdekaan dengan cara yang dekat dengan dunia mereka: bermain, bernyanyi, bermimpi, dan belajar hidup rukun bersama teman. Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur, Kabupaten Kuningan, menjadi ruang berlangsungnya perayaan HUT ke-81 RI bertema Hari Anak Merdeka 2026: Rukun Sama Teman, Merdeka Bermain, Merdeka Bertumbuh, Merdeka Bermimpi.
Kegiatan kolaborasi lintas sektor tersebut sekaligus menggaungkan kampanye Gerakan Rukun Sama Teman yang digagas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) serta membangun kebiasaan saling menghargai. Paseban Cigugur dipilih karena nilai historisnya sebagai ruang harmoni keberagaman yang menjadi miniatur Indonesia.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, menegaskan bahwa keberagaman perlu dihayati sebagai fakta sekaligus anugerah. Menurutnya, pendidikan karakter yang dibangun melalui pembiasaan hidup rukun menjadi salah satu kunci menuju Indonesia Emas 2045.
“Kita tidak perlu menyamakan yang berbeda dan membedakan yang sama. Yang harus kita lakukan adalah menyatukan adab kebersamaan,” ujar Atip di hadapan ratusan murid yang hadir di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Rabu (19/8).
Atip juga mengajak murid untuk mengenali dan mengembangkan potensi yang mereka miliki. Ia menekankan bahwa tidak ada murid yang bodoh karena setiap individu memiliki bentuk kecerdasan yang berbeda-beda dan ini merupakan wujud nyata dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua. Komitmen ini diperkuat melalui Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses pada PAUD, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Menengah, yang mewajibkan terciptanya lingkungan belajar yang inklusif. Tugas sekolah, menurutnya, adalah mengembangkan kecerdasan tersebut agar setiap murid dapat bertumbuh dengan ceria.
“Semua murid cerdas, hanya berbeda bentuknya. Ada yang pintar matematika, seni, hingga olahraga, dan semuanya memiliki modal yang sama untuk sukses,” jelasnya.
Pesan tersebut kemudian hadir dalam suasana yang lebih dekat dengan keseharian murid. Dua murid bernama Kanaya naik ke panggung untuk menyanyikan lagu Rukun Sama Teman dan melantunkan selawat. Atip memuji keberanian mereka sebagai bentuk kecerdasan seni dan musikal yang luar biasa.
Keceriaan berlanjut ketika Atip berdialog dengan Ajeng yang bercita-cita menjadi dosen, Inara yang ingin menjadi guru, Bianca yang suka olahraga dan ingin menjadi dokter, serta Hatsir yang menyukai matematika dan bercita-cita menjadi guru agama.
Untuk memperkuat pesannya, Atip memberikan analogi “Tiga Rudy” yang sukses dengan keahlian berbeda, yakni Rudy Hadisuwarno di bidang tata rambut, Rudy Choirudin di bidang tata boga, dan Presiden ke-3 RI B.J. Habibie yang akrab disapa Rudy Habibie di bidang matematika dan teknologi.
“Ketiganya adalah orang sukses. Insyaallah Indonesia di tangan adik-adik yang memiliki kecerdasan berbeda ini akan menjadi kuat,” pesannya.
Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar, menambahkan bahwa murid bukan sekadar penerus pembangunan, melainkan pemilik dan pewaris masa depan. Ia menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk memastikan murid tumbuh dengan aman, sehat, dan berkarakter.
“Membangun manusia dan karakter jauh lebih penting daripada sekadar pembangunan fisik, karena kualitas sebuah daerah diukur dari peningkatan kualitas manusianya,” ungkapnya.
Senada dengan hal tersebut, Ketua 3 Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Chandra Setiawan, menyatakan bahwa masa depan Indonesia dimulai dari murid yang merasa aman, didengar, dan dihargai. Ia menjelaskan bahwa ICRP kini memperluas ruang dialognya hingga ke ruang bermain murid untuk menanamkan nilai toleransi sejak dini.
Chandra juga menyoroti fenomena sosial ketika orang dewasa kerap secara keliru menggunakan figur aparat keamanan untuk menakuti anak-anak agar mereka patuh. Ia menegaskan bahwa polisi, TNI, dan Satpol PP sebenarnya adalah sahabat anak yang berperan sebagai pelindung, bukan sosok menakutkan bagi mereka.
Melalui pelurusan persepsi tersebut, anak-anak diharapkan dapat memandang aparat keamanan sebagai sosok pelindung yang dekat dan hangat. Upaya ini selaras dengan semangat Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, di mana setiap elemen masyarakat, termasuk aparat, berkolaborasi melindungi hak dan masa depan anak Indonesia.
Semangat kebersamaan juga terlihat dari kehadiran komunitas adat AKUR Sunda Wiwitan yang turut memperkuat pesan persahabatan dan gotong royong. Gerakan Rukun Sama Teman diharapkan menjadi langkah nyata dalam membangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan menjadikan nilai persahabatan serta gotong royong sebagai DNA bangsa.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Jakarta, 19 Agustus 2026 – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyampaikan dukacita yang mendalam atas bencana yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan dampak yang dirasakan oleh masyarakat, termasuk warga sekolah. Kemendikdasmen turut prihatin atas kondisi yang dihadapi murid, guru, dan tenaga kependidikan yang terdampak. Dalam situasi ini, Kemendikdasmen memastikan satuan pendidikan dan seluruh warga sekolah yang terdampak terus mendapatkan perhatian dan dukungan agar proses pembelajaran serta pemenuhan hak belajar murid tetap dapat berlangsung sesuai dengan kondisi di lapangan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa keberlangsungan pembelajaran di daerah terdampak perlu disesuaikan dengan kondisi yang dihadapi satuan pendidikan.
“Prioritas dan komitmen Kemendikdasmen adalah keselamatan guru dan murid di wilayah bencana. Karena itu, pembelajaran yang dilakukan juga mempertimbangkan keselamatan guru dan murid. Salah satunya menggunakan sistem pembelajaran darurat dengan kurikulum darurat,” kata Mendikdasmen.
Mendikdasmen menambahkan bahwa bantuan dukungan untuk proses pembelajaran sudah bergerak ke beberapa wilayah terdampak bencana. Di Labuan Bajo yang membawa bantuan untuk mendukung keberlangsungan pembelajaran bagi warga sekolah yang terdampak sudah tiba.
“Tim Kemendikdasmen yang sudah sampai di Labuan Bajo telah membawa bantuan yang berisi 2.000 paket bingkisan anak, 800 school kit, dan 70 family kit untuk mendukung pembelajaran di masa darurat,” tambah Mendikdasmen.
Berdasarkan data SPAB, per 19 Agustus 2026, sebanyak 512 satuan pendidikan di tujuh kabupaten terdampak bencana, terdiri atas 94.452 murid serta 8.755 guru dan tenaga kependidikan. Dampak bencana juga menyebabkan 52.268 murid di 276 satuan pendidikan terganggu pembelajaran akibat sekolah diliburkan, dan pembelajaran dilakukan di rumah masing-masing dan di titik pengungsian.
Panduan Pembelajaran di Masa Darurat
Selain itu, Kemendikdasmen melalui Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) terus memastikan hak belajar murid tetap terpenuhi dalam situasi bencana yang diwujudkan melalui penyediaan panduan pembelajaran bagi satuan pendidikan terdampak bencana dalam menjaga keberlangsungan pembelajaran di tengah kondisi darurat.
Kepala BKPDM, Toni Toharudin, menegaskan bahwa satuan pendidikan, murid, dan guru yang terdampak bencana di NTT terus menjadi perhatian Kemendikdasmen. “Kami memastikan mereka tetap mendapatkan dukungan agar proses pembelajaran dapat terus berlangsung dan hak belajar murid tetap terpenuhi, meskipun berada dalam kondisi yang penuh keterbatasan. Kehadiran dan dukungan bagi warga sekolah terdampak menjadi bagian dari komitmen kami untuk memastikan pendidikan tetap berjalan dalam situasi apa pun,” ujarnya di Jakarta, pada Rabu (19/8).
Panduan ini disusun dengan mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan satuan pendidikan yang terdampak bencana. Pembelajaran tidak harus berlangsung dengan pola yang sama seperti dalam kondisi normal. Satuan pendidikan diberikan ruang untuk menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran berdasarkan tingkat kerusakan, ketersediaan sarana dan prasarana, kondisi murid dan guru, serta situasi lingkungan sekitar.
Dalam pelaksanaannya, satuan pendidikan dapat memprioritaskan materi pembelajaran yang esensial dan relevan dengan kondisi murid. Dukungan psikososial, keselamatan diri, literasi dan numerasi dasar, serta pemulihan rutinitas belajar menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan. Metode pembelajaran juga dapat disesuaikan, baik melalui pembelajaran tatap muka secara terbatas, pembelajaran mandiri, maupun metode lain yang memungkinkan sesuai dengan kondisi dan sumber daya yang tersedia.
Selain aspek akademik, panduan ini juga menempatkan aspek psikososial sebagai bagian penting dari proses pemulihan. Bencana dapat memberikan dampak emosional bagi murid, guru, dan tenaga kependidikan. Karena itu, lingkungan sekolah diharapkan dapat kembali menjadi ruang aman yang mendukung pemulihan, membangun rasa percaya diri, serta membantu warga sekolah kembali menjalankan aktivitas belajar secara bertahap.
Untuk mendukung implementasi di lapangan, Kemendikdasmen juga menyediakan contoh-contoh pembelajaran yang dapat menjadi inspirasi bagi satuan pendidikan dalam merancang kegiatan belajar sesuai kondisi pascabencana. Contoh dan materi pendukung tersebut dapat diakses oleh masyarakat melalui laman Rumah Pendidikan.
Kemendikdasmen mengajak pemerintah daerah, dinas pendidikan, kepala sekolah, guru, dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan di NTT untuk bersama-sama memastikan pembelajaran tetap berjalan dengan mengedepankan keselamatan, fleksibilitas, dan kebutuhan murid. Kolaborasi seluruh pihak diperlukan agar kondisi bencana tidak menjadi penghalang bagi anak-anak untuk mendapatkan hak atas pendidikan.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Bandung Barat – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) secara resmi membuka Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) Tingkat Nasional XIX Tahun 2026 di Jakarta, Selasa (18/8/2026). Ajang ini menjadi wadah bagi murid dari berbagai daerah untuk mengembangkan potensi, meraih prestasi, sekaligus membangun karakter melalui olahraga.
O2SN tidak hanya menjadi ajang untuk meraih prestasi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menumbuhkan kedisiplinan, kerja sama, keberanian, dan sportivitas. Melalui kompetisi yang sehat, murid didorong untuk menghadapi tantangan, menghargai proses, serta memberikan kemampuan terbaiknya.
Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, menegaskan bahwa O2SN bukan sekadar perlombaan untuk menentukan siapa yang menang atau paling terampil. Menurutnya, ajang ini menjadi bagian penting dalam upaya menemukan, mengembangkan, dan menjaga talenta-talenta Indonesia.
“O2SN ini bukan sekadar perlombaan untuk mencari siapa yang menang, yang terkuat atau yang paling terampil, tetapi O2SN merupakan bagian penting dari upaya Indonesia untuk menemukan, mengembangkan, dan menjaga talenta-talenta Indonesia,” ujar Suharti.
Ia menyampaikan bahwa para peserta telah melalui perjalanan panjang, mulai dari tingkat kabupaten/kota hingga provinsi sebelum akhirnya berkompetisi di tingkat nasional. Perjalanan tersebut, kata Suharti, tidak terlepas dari dukungan guru, pelatih, kepala sekolah, orang tua, pemerintah daerah, serta berbagai pihak yang membantu murid mengenali dan mengembangkan potensinya.
Suharti juga menekankan pentingnya kolaborasi dalam membangun ekosistem pembinaan talenta Indonesia. Kemendikdasmen melalui Puspresnas terus bekerja sama dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga, KONI, induk organisasi cabang olahraga, pemerintah daerah, serta berbagai mitra agar talenta muda dapat terus berkembang dan memiliki kesempatan meraih prestasi hingga tingkat internasional.
Sejalan dengan upaya pengembangan talenta tersebut, Kepala Puspresnas, Retno Juni Rochmaningsih, berharap O2SN dapat menjadi bagian dari proses pembibitan atlet sejak usia dini untuk menyiapkan sumber daya manusia unggul di masa depan.
“Harapannya tentu banyaknya para atlet di dalam usia pra pembibitan untuk tetap eksis menjadi calon-calon SDM unggul ke depan,” ujar Retno.
Selain menjadi wadah pengembangan potensi olahraga, O2SN juga diharapkan dapat membentuk karakter peserta melalui pengalaman bertanding. Karena itu, para peserta didorong untuk tidak hanya mengejar kemenangan, tetapi juga menjunjung tinggi sportivitas serta membangun persahabatan.
Kepada para peserta, Suharti berpesan agar menjadikan O2SN sebagai kesempatan untuk bertanding secara sportif, membangun persahabatan, dan membentuk karakter. Ia mengingatkan bahwa kemenangan memang penting, tetapi cara untuk meraihnya jauh lebih penting.
“Selamat bertanding. Tunjukkan kemampuan terbaik kalian. Junjung tinggi sportivitas,” tutupnya.
O2SN Tingkat Nasional XIX Tahun 2026 dilaksanakan dalam beberapa jenjang. Untuk jenjang Pendidikan Dasar (SD/MI/Sederajat dan SMP/MTs/Sederajat), pelaksanaan berlangsung pada 17-23 Agustus 2026. Selanjutnya, O2SN jenjang Pendidikan Khusus dijadwalkan pada 7-12 September 2026, sedangkan jenjang Pendidikan Menengah (SMA/MA/SMK/MAK/Sederajat) akan berlangsung pada 9-15 November 2026.
Melalui penyelenggaraan O2SN, pengembangan bakat dan minat murid diharapkan berjalan beriringan dengan pembentukan karakter. Ajang ini menjadi kesempatan bagi murid untuk berkembang, berprestasi, membangun persahabatan, serta membawa potensi terbaiknya menuju jenjang yang lebih tinggi.