Jakarta, 14 Agustus 2026 — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mendapat apresiasi dari Save the Children Indonesia sebagai mitra strategis dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak. Apresiasi tersebut disampaikan dalam Festival Pahlawan Anak yang diselenggarakan Save the Children Indonesia di Jakarta, Kamis (13/8), yang menjadi ruang bagi anak-anak untuk menyampaikan gagasan, cita-cita, dan harapan kepada para pemangku kepentingan.
Festival Pahlawan Anak menjadi ruang bagi 14 anak dari program Nona Hebat untuk menyampaikan gagasan dan harapan, termasuk mengenai pencegahan perundungan, perlindungan dari kekerasan dan pelecehan seksual, serta lingkungan sekolah yang aman dan inklusif.
Menanggapi aspirasi tersebut, Menteri Mu’ti mengatakan gagasan anak-anak mengenai sekolah sebagai tempat yang aman dan nyaman sejalan dengan program Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dalam membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman. Hal tersebut juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo melalui gerakan Budaya ASRI, yaitu aman, sehat, resik, dan indah.
“Banyak ide yang menarik tentang bagaimana sekolah dapat menjadi tempat di mana mereka merasa aman, merasa nyaman untuk belajar. Dan ini yang juga sejalan dengan program yang sudah kami laksanakan, membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan budaya sekolah dilakukan dengan pendekatan humanis, inklusif, dan partisipatif melalui kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk Save the Children. Ia juga menilai aspirasi anak mengenai pencegahan perundungan sejalan dengan program Kemendikdasmen yang membutuhkan dukungan berbagai pihak.
“Mudah-mudahan program seperti ini tidak sekadar menjadi seremonial, tetapi menjadi bagian dari gerakan bersama, bahkan menjadi budaya yang kita laksanakan berdasarkan kesadaran dan juga visi bahwa masa depan negara ini ditentukan oleh anak-anak kita,” tutur Mendikdasmen. Ia berharap sekolah menjadi ruang aman bagi anak untuk belajar, berinteraksi, dan tumbuh bersama dalam keberagaman.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenPPPA) Arifah Fauzi menekankan pentingnya membangun ruang aman bagi anak melalui keterlibatan seluruh pihak. Berdasarkan Survei Pengalaman Hidup Anak dan Remaja 2024, sebanyak 50,78 persen anak usia 13–17 tahun pernah mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan sepanjang hidupnya, sementara 33,64 persen mengalami kekerasan dalam 12 bulan terakhir.
Menteri Arifah menegaskan data tersebut merepresentasikan pengalaman takut, kecewa, khawatir, dan trauma yang dialami anak. Karena itu, seluruh pihak perlu bergerak sebelum anak menjadi korban. “Ini tidak bisa dikerjakan sendiri. Ini harus bersama-sama,” ujarnya.
Menurutnya, perlindungan anak perlu dilakukan dengan membangun lingkungan aman, merespons ketika kekerasan terjadi, serta memastikan dukungan bagi anak. Ruang aman tersebut perlu hadir di keluarga, satuan pendidikan, ruang publik, dan ruang digital
Menteri Arifah juga menilai Festival Pahlawan Anak menjadi momentum penting untuk mendengarkan suara anak. Ia mengajak seluruh pihak mengawal agar mimpi dan cita-cita anak dapat terwujud dengan dukungan bersama.
Sementara itu, Dewan Pembina Yayasan Save the Children Indonesia, Dewi Soeharto mengatakan ruang aman memungkinkan anak menjadi dirinya sendiri tanpa takut dihakimi, direndahkan, atau disakiti. Menurutnya, menciptakan ruang aman merupakan tanggung jawab orang dewasa.
“Tentunya pertama kalinya adalah dengan mendengarkan anak-anak. Mendengar tidak hanya menggunakan telinga kita, tapi dengan segenap hati, isi pikiran kita,” ujar Dewi. Ia berharap Festival Pahlawan Anak mendorong semakin banyak pihak untuk mendengarkan suara anak dan mengambil tindakan nyata.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Jepara, 14 Agustus 2026 — Bagi Devani Fara Maritza, menjadi bagian dari Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) 14 Jepara bukan sekadar berpindah sekolah. Ia melihatnya sebagai kesempatan untuk mengembangkan berbagai potensi yang selama ini dimilikinya.
Bagi Devani Fara Maritza, menjadi bagian dari Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) 14 Jepara bukan sekadar berpindah sekolah. Murid jenjang SMP itu melihatnya sebagai kesempatan untuk mengembangkan potensi yang selama ini dimilikinya.
Devani telah meraih sejumlah prestasi, di antaranya lomba FTBI Sesorah Bahasa Jawa, MAPSI Khitobah, dan Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang IPA. Ia mengenal SNT melalui sosialisasi Pemerintah Kabupaten Jepara dan tertarik dengan lingkungan belajar serta fasilitas yang ditawarkan.
“Di SNT ada fasilitas seperti kolam renang dan laboratorium, serta pembelajaran Smart Classroom berbasis Science, Technology, Enginering, Art, Matematic, Sport (STEAMS). Saya ingin mendapatkan pembinaan yang lebih sesuai, bertemu teman-teman yang memiliki semangat belajar tinggi, dan mengembangkan bakat saya dalam bahasa, keagamaan, komunikasi, dan sains,” ujar Devani.
Devani merupakan satu dari 80 murid yang menjadi angkatan pertama SNT 14 Jepara. Mereka terdiri atas dua rombongan belajar (rombel) kelas VII SMP sebanyak 40 murid dan dua rombel kelas X SMA sebanyak 40 murid.
Kepala BBPMP Provinsi Jawa Tengah Nugraheni Triastuti mengatakan, 80 murid tersebut telah melewati proses seleksi dan dinyatakan lolos melalui jalur prestasi.
“Delapan puluh murid ini telah melewati proses seleksi dan dinyatakan lolos melalui jalur prestasi,” ujar Nugraheni saat pelepasan murid SNT 14 Jepara.
Menurutnya, pembelajaran di SNT tidak hanya mengacu pada kurikulum nasional. Para murid juga akan mendapatkan pembelajaran berbasis Sains, Teknologi, Engineering, dan Matematika (STEM), serta pendekatan yang mengangkat kearifan lokal.
Saat ini, para murid mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) di BBPMP Provinsi Jawa Tengah pada 11–17 Agustus 2026. Rangkaian MPLS akan ditutup dengan momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyebut beroperasinya SNT sebagai tonggak penting dalam perjalanan pendidikan nasional. Hal itu disampaikan saat membuka MPLS 17 SNT di Bogor, Jawa Barat, Senin (10/8).
“Ini adalah tonggak sejarah dalam satu sistem pendidikan nasional,” ujar Mendikdasmen.
Kehadiran SNT 14 Jepara juga mendapat sambutan positif dari Bupati Jepara Witiarso Utomo. Ia menyampaikan kebanggaannya karena Jepara dipercaya menjadi salah satu lokasi penyelenggaraan SNT.
“Saya ikut bangga dalam rangka peningkatan SDM di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Kita dipercaya mendapatkan SNT, mudah-mudahan ini menjadi momentum kebangkitan pendidikan di Jepara,” kata Witiarso saat pelepasan murid SNT 14 Jepara di Pendopo Kartini Jepara.
Ia berharap SNT tidak sekadar menambah pilihan fasilitas pendidikan, tetapi menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Jepara.
Kepala SNT 14 Jepara Darojah menegaskan, pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran tetap harus berjalan seiring dengan penguatan karakter.
“Teknologi kami gunakan sebagai alat untuk memperkaya pembelajaran, bukan menggantikan peran guru. Setiap penggunaan teknologi tetap diimbangi dengan penguatan karakter melalui disiplin, tanggung jawab, kolaborasi, etika digital, dan pembiasaan positif,” ujarnya.
Di SNT 14 Jepara, potensi murid dikembangkan melalui kegiatan akademik dan nonakademik, seperti seni, olahraga, keagamaan, literasi, keterampilan, ekstrakurikuler, dan proyek pembelajaran.
Darojah berpesan agar para murid tidak takut bermimpi dan terus mengenali potensi diri.
“Jangan takut bermimpi dan jangan membandingkan diri dengan orang lain. Kenali potensi diri, berani mencoba, disiplin berlatih, dan terus belajar. Karena setiap anak memiliki keunikan, dan tugas kita adalah mengubah keunikan itu menjadi kekuatan dan prestasi.”
Bagi 80 murid tersebut, SNT 14 Jepara bukan sekadar sekolah baru. Mereka sedang memulai perjalanan sebagai angkatan pertama untuk tumbuh, belajar, dan mengembangkan potensi demi masa depan.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Kab. Bandung Barat, Jawa Barat, 14 Agustus 2026 – Kehadiran Interactive Digital Panel (IFP)/Papan Interaktif Digital (PID) di sekolah memberi pengalaman baru bagi guru dalam merancang pembelajaran yang lebih beragam dan interaktif. Perangkat tersebut tidak hanya dimanfaatkan sebagai media pembelajaran, tetapi juga membuka ruang bagi guru untuk mengembangkan bahan ajar sesuai kebutuhan peserta didik serta memanfaatkan kecerdasan artifisial (AI) untuk mendukung proses pembelajaran di kelas.
Pengalaman itu dirasakan para guru setelah mengikuti kegiatan Advokasi Pemanfaatan Perangkat Digitalisasi Pembelajaran yang diselenggarakan Direktorat Sekolah Menengah Pertama, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), di Bandung Barat, beberapa waktu lalu.
Kehadiran perangkat digital di sekolah perlu diikuti dengan peningkatan kapasitas guru agar teknologi yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal dalam proses pembelajaran. Melalui kegiatan advokasi, guru tidak hanya mengenal berbagai fitur IFP, tetapi juga belajar mengembangkan media dan bahan ajar serta memanfaatkan AI sesuai kebutuhan di kelas.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal (PAUD, Dikdas, dan PNFI), Gogot Suharwoto, menegaskan bahwa penyediaan perangkat digital harus berjalan beriringan dengan revitalisasi sekolah dan peningkatan kompetensi guru. Menurutnya, ukuran keberhasilan digitalisasi pendidikan bukan sekadar tersedianya perangkat di sekolah, melainkan sejauh mana teknologi tersebut membantu guru menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna bagi murid.
”Teknologi tidak menggantikan peran guru. Justru teknologi harus memperkuat kemampuan dan peran guru untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih interaktif, kreatif, dan sesuai dengan kebutuhan murid. Karena itu, setelah perangkat hadir di sekolah, yang paling penting adalah memastikan guru mampu memanfaatkannya secara optimal untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar,” ujar Gogot.
Ia menambahkan bahwa pemanfaatan teknologi juga perlu mendorong guru untuk terus belajar, berkolaborasi, dan mengembangkan bahan ajar yang relevan dengan karakteristik murid.
”Kami ingin Papan Interaktif Digital tidak berhenti menjadi perangkat di ruang kelas. Perangkat ini harus hidup dalam proses pembelajaran, digunakan guru untuk menjelaskan konsep dengan lebih menarik, membuka ruang interaksi, mengembangkan kreativitas murid, dan pada akhirnya membantu setiap anak memperoleh pengalaman belajar yang lebih baik. Inilah semangat digitalisasi untuk mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua,” tambahnya.
Guru Matematika SMPN 1 Atap Rimbakarya, Kabupaten Bandung Barat, Sumirah, merasakan langsung manfaat kegiatan tersebut. Ia mempelajari berbagai cara memanfaatkan IFP, mulai dari menyusun perencanaan, membuat media pembelajaran interaktif, hingga mengembangkan Learning Management System (LMS) dengan memanfaatkan AI.
“Kegiatan advokasi pada hari ini banyak sekali hal yang saya dapatkan. Bagaimana pemanfaatan papan interaktif digital yang sudah diberikan kepada sekolah kami. Mulai dari bagaimana membuat perencanaan, kemudian juga membuat media pembelajaran interaktif, dan juga bagaimana membuat Learning Management System menggunakan kecerdasan artifisial yang saat ini berkembang di dunia pendidikan,” ujar Sumirah.
Setelah mengikuti kegiatan tersebut, Sumirah berencana mengeksplorasi kembali materi yang diperoleh sebelum menerapkannya dalam pembelajaran. Ia akan memperbaiki perencanaan, bahan ajar, dan media pembelajaran agar pemanfaatan IFP dapat diterapkan secara lebih tepat di kelas. “Dengan memanfaatkan apa yang sudah diberikan, saya akan memperbaikinya dan menerapkannya dalam pembelajaran, mulai dari perencanaan, kemudian juga pembuatan bahan ajar dan lain sebagainya,” katanya.
Bagi Sumirah, pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan dapat membuat pembelajaran lebih aktif, termasuk dalam mata pelajaran matematika. Ia berharap siswa yang sebelumnya cenderung pasif dapat lebih terlibat dan antusias mengikuti pembelajaran. “Semoga pembelajaran di sekolah saya, utamanya di kelas saya, bisa lebih aktif. Banyak siswa yang tadinya pasif bisa mengikuti pembelajaran dengan baik terutama di pelajaran Matematika itu yang tadinya mungkin membosankan dan mumet, jadi lebih antusias, kemudian bisa memperoleh hasil belajar yang lebih baik lagi,” tutur Sumirah.
Sumirah juga menyampaikan apresiasi atas pemberian IFP dan kesempatan mengikuti pelatihan. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan pengetahuan baru yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran di sekolah.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, kemudian juga kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto yang telah memberikan papan interaktif digital ini kepada kami dan juga memberikan kesempatan pelatihan bagi kami di sini, sehingga lebih banyak hal baru yang kami dapatkan dan bisa kami manfaatkan dengan sebaik-baiknya demi kemajuan pendidikan Indonesia yang lebih baik,” ujar Sumirah.
Pengalaman mengikuti advokasi juga dirasakan Dewa Romshani, guru SMP PGRI 385 Puteran. Bagi Dewa, kegiatan tersebut membuka pengalaman baru dalam mengenal berbagai fitur IFP yang sebelumnya belum diketahuinya, seperti penggunaan lima jari, dua layar, serta fitur penerjemahan otomatis dalam Bahasa Inggris.
“Alhamdulillah yang saya dapatkan dari pelatihan advokasi ini banyak sekali, mulai dari fitur-fitur papan interaktif digital, mulai dari lima jari, kemudian bisa dua layar, kemudian saya lebih tahu bahwa ternyata Bahasa Inggris juga bisa dipakai di papan interaktif ini mulai dari translate otomatis,” kata Dewa.
Menurut Dewa, pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa pembelajaran tidak hanya berkaitan dengan materi, tetapi juga media yang digunakan untuk menyampaikan dan mengembangkan materi tersebut. Ia melihat AI dan IFP dapat menjadi bagian dari pengembangan media pembelajaran. “Saya jadi lebih tahu bahwasanya belajar itu enggak hanya soal materi, tetapi tentang media belajar yang bisa digunakan dan dikembangkan oleh AI dan papan interaktif ini,” ujarnya.
Setelah mengikuti advokasi, Dewa berencana membagikan pengetahuan yang diperolehnya kepada rekan-rekan guru di sekolah. Ia juga akan mengeksplorasi kembali materi yang telah dipelajari untuk mengembangkan media pembelajaran yang lebih beragam bagi siswa.
“Yang pertama tadi sudah saya sebutkan akan share kembali kepada guru-guru rekan-rekan saya di sekolah. Kemudian yang kedua, tentunya kepada siswa yang menjadi tujuan utama dari pelatihan advokasi ini adalah mengembangkan kembali media-media ajar,” kata Dewa.
Menurutnya, pengembangan media tersebut diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih bervariasi dan mendorong siswa lebih kreatif dalam menggunakan IFP. “Nanti siswa akan lebih bervariasi lagi dalam belajar, kemudian bisa lebih kreatif lagi menggunakan papan interaktif ini,” ujarnya.
Dewa juga berharap kegiatan advokasi dapat menjangkau lebih banyak guru. Menurutnya, pelatihan yang diikuti oleh perwakilan dari masing-masing sekolah perlu diikuti dengan kesempatan bagi guru lainnya agar pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan lebih luas.
“Harapan saya untuk pelatihan advokasi ini mungkin lebih luas lagi cakupan guru yang dituju, karena kan ini perwakilan, per orang perwakilan per sekolah. Mungkin ke depannya bisa lebih banyak lagi untuk guru-guru yang lain untuk bisa mengikuti pelatihan advokasi ini,” tutur Dewa.
Dewa menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan advokasi yang dinilainya memberikan manfaat bagi guru dalam mengembangkan pembelajaran berbasis teknologi. “Terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto, kemudian kepada Kementerian Pendidikan yang telah mengadakan pelatihan advokasi ini. Tentunya pelatihan ini sangat bermanfaat untuk kita sebagai guru, apalagi yang jauh tertinggal kayak 3T, itu memang sangat bermanfaat,” katanya.
Bagi Sumirah dan Dewa, pemberian perangkat digital menjadi awal dari proses belajar baru bagi guru. Setelah mengenal berbagai fitur dan cara pemanfaatannya, keduanya memiliki ruang untuk terus mencoba, mengembangkan media, dan menyesuaikannya dengan kebutuhan siswa di kelas.
Dengan pendampingan yang berkelanjutan, perangkat digital diharapkan semakin dekat dengan praktik pembelajaran sehari-hari sehingga teknologi yang tersedia di sekolah benar-benar memberi pengalaman belajar yang lebih aktif dan beragam bagi siswa.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Yogyakarta, 14 Agustus 2026 — Menjadi murid bukan hanya tentang belajar dan meraih prestasi, tetapi juga tentang menemukan potensi diri, berani menyampaikan gagasan, dan mengambil peran di lingkungan. Semangat tersebut menjadi bagian dari Program Duta SMA yang dikembangkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sebagai ruang bagi murid untuk mengembangkan talenta, kepemimpinan, dan kemampuan berkolaborasi dengan teman sebaya dari berbagai daerah.
Bagi para Duta SMA 2026, pengalaman program ini tidak berhenti pada proses seleksi dan pengukuhan. Mereka mengikuti rangkaian pembinaan, bertukar pengalaman dengan murid dari berbagai provinsi, serta terlibat dalam berbagai kegiatan yang mendorong mereka untuk melihat persoalan di sekitar dan memikirkan kontribusi yang dapat dilakukan.
Duta SMA Nasional Kategori Putri, Fidela Shahia Myiesha Susilo dari SMA Negeri 1 Yogyakarta, mengatakan bahwa kesempatan menjadi Duta SMA Nasional menjadi pengalaman yang berharga sekaligus tanggung jawab untuk memberikan kontribusi terbaik bersama teman-teman Duta SMA. Menurutnya, proses yang dilalui mendorong dirinya untuk mengenali kembali kemampuan yang dapat dikembangkan dan diberikan untuk Indonesia.
“Saya berusaha untuk menampilkan versi terbaik dari diri saya untuk Duta SMA kali ini. Saya menggali lebih dalam lagi tentang kemampuan saya yang bisa saya sumbangkan untuk Indonesia,” ujar Fidela.
Ia pun mengajak murid SMA di seluruh Indonesia untuk tidak ragu mengenali kemampuan diri dan terus mengembangkannya. “Persiapkan diri kalian dengan baik, gali potensi kalian sedalam-dalamnya. Cari di manakah celah kalian untuk bersinar,” pesan Fidela.
Sementara itu, Duta SMA Nasional Kategori Putra, Fachri Akbar Triyanto dari SMA Negeri 1 Bojonegoro, Jawa Timur, melihat kebersamaan dengan para Duta SMA dari berbagai daerah sebagai pengalaman penting selama mengikuti rangkaian kegiatan. Pertemuan tersebut, menurutnya, menjadi kesempatan untuk saling mendukung dan menyusun gagasan.
“Kami pastinya menyusun rencana tindak lanjut yang akan menjadi sebuah wadah bagi siswa di Indonesia untuk bisa mengembangkan karya-karyanya, sehingga bisa menjadi seseorang yang bermanfaat pada masa depan,” ujar Fachri.
Pengalaman serupa dirasakan Rhiana Abigail Katu dari SMA Negeri 1 Waikabubak, Nusa Tenggara Timur. Selama mengikuti rangkaian Duta SMA, ia mendapatkan berbagai materi yang sebelumnya belum pernah diperoleh, termasuk mengenai komunikasi, kepemimpinan, kepedulian terhadap lingkungan sekitar, serta cara menemukan solusi bagi persoalan yang dihadapi murid.
Berbekal pengalaman tersebut, Rhiana ingin mengambil peran sebagai representasi pelajar di daerahnya melalui program yang dapat melibatkan lebih banyak teman sebayanya.
“Tentunya hal yang ingin saya kembangkan sebagai Duta SMA adalah menjadi representasi yang dapat memberikan dampak positif bagi teman-teman SMA, khususnya di daerah saya, dengan menjalankan program Teman SMA Impact Challenge, di mana teman-teman SMA itu menjadi agen perubahan,” tutur Rhiana.
Selain mengembangkan kemampuan diri, rangkaian kegiatan Duta SMA juga mempertemukan murid dari berbagai latar belakang budaya. Albert Edon dari SMA Negeri 1 Lobalain, Nusa Tenggara Timur, mengaku senang dapat mengenal budaya dari berbagai daerah sekaligus memperkenalkan budaya Kabupaten Rote Ndao kepada para duta lainnya.
“Kita bisa belajar banyak budaya dari provinsi-provinsi lain yang dapat kita lestarikan. Tentunya, sebagai Duta SMA Provinsi Nusa Tenggara Timur, saya juga mengajarkan banyak budaya dari Kabupaten Rote Ndao kepada teman-teman dari provinsi lain,” ujar Albert.
Selama mengikuti karantina di Yogyakarta, para Duta SMA juga diajak menerapkan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yaitu bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, serta tidur lebih cepat. Rangkaian kegiatan juga diisi dengan kunjungan dan aktivitas bersama di SMA Negeri 2 Ngaglik, dengan menanam pohon sebagai bentuk kegiatan bersama, serta kunjungan ke Keraton Yogyakarta untuk mengenal lebih dekat warisan budaya dan sejarah Yogyakarta.
Berbagai pengalaman tersebut menjadi bekal bagi para Duta SMA untuk menjalankan peran selama satu tahun ke depan. Melalui aksi tersebut, para Duta SMA tidak hanya menjadi representasi dari provinsi masing-masing, tetapi juga dapat menjadi inspirasi bagi lebih banyak murid untuk berani berkarya, menyampaikan gagasan, dan mengambil bagian dalam menghadirkan perubahan di lingkungan pendidikan.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Jakarta, 14 Agustus 2026 – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) bersama Kementerian Pendidikan Korea melalui Institute of APEC Collaborative Education (IACE) menyelenggarakan APEC AI and Digital Education Forum 2026 di Jakarta, Rabu (12/8). Forum ini merupakan bagian dari rangkaian APEC Digital Education Policy Forum (ADEPF) 2026 yang berlangsung pada 11 s.d. 14 Agustus 2026.
Sebagai focal point APEC Human Resources Development Working Group (HRDWG), BKPDM memanfaatkan forum ini sebagai ruang berbagi pengalaman dan praktik baik mengenai pendidikan digital dan pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI), sekaligus memperkuat jejaring kerja sama antar-ekonomi APEC.
Kepala BKPDM Kemendikdasmen, Toni Toharudin, menjelaskan bahwa salah satu tujuan dari forum ini adalah untuk berbagi praktik baik dari para alumni APEC Digital Education Policy Training (ADEPT) asal Indonesia, Thailand, dan Filipina. “Sejak 2006, Indonesia sendiri telah mengirimkan sekitar 150 delegasi untuk mengikuti ADEPT. Banyak di antara mereka yang kemudian kembali ke institusinya dan secara konsisten membawa perubahan dalam cara kerja dan praktik yang dijalankan,” ujar Kepala BKPDM Kemendikdasmen, Toni Toharudin.
Forum ini juga menjadi momentum untuk mempertemukan alumni ADEPT, yang sebelumnya dikenal sebagai APEC e-Learning Training Program (AeLTP), dari berbagai angkatan. Jejaring alumni yang terbentuk diharapkan terus menjadi ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam merespons perkembangan teknologi pendidikan. Sekaligus menerjemahkan hasil pelatihan menjadi arah kebijakan yang konsisten dan dapat dikembangkan di berbagai ekonomi APEC.
Direktur APEC Secretariat (Policy Support Unit), Carlos Kuriyama, menyampaikan keynote speech bertajuk AI and Digital Transformation in the APEC Region. Sementara itu, Kemendikdasmen memaparkan kebijakan Indonesia mengenai Coding dan AI dalam pendidikan serta pengembangan Rumah Pendidikan sebagai bagian dari penguatan ekosistem digital dan integrasi data untuk mendukung pembelajaran berkelanjutan.
Senada dengan hal tersebut, Prof. Dongsun Park, Direktur IACE Korea menyampaikan apresiasinya kepada para alumni ADEPT yang kini telah tumbuh menjadi pemimpin di bidang pendidikan masing-masing. “Kontribusi dan perjalanan mereka melalui ADEPT telah memainkan peran penting dalam mendorong inovasi dan perubahan yang berarti di kawasan APEC. Kami sungguh menyadari kerja keras dan dedikasi tanpa henti dari para alumni,” ujar Prof. Dongsun Park.
Ia menambahkan bahwa kecerdasan artifisial kini memainkan peran penting dalam memperluas akses pendidikan, meningkatkan pembelajaran yang dipersonalisasi, serta menjembatani kesenjangan digital menuju masa depan yang lebih inklusif.
Forum ini turut menghadirkan praktik baik dari alumni ADEPT di Indonesia, Thailand, dan Filipina. Berbagi pengalaman tersebut kemudian dilanjutkan dengan panel diskusi bertajuk Policy Changes Through Training: Conditions for Sustainability and Expansion of AI and Digital Education Policies, yang membahas kondisi yang diperlukan agar hasil pelatihan dan pengembangan kapasitas dapat menghasilkan perubahan kebijakan yang berkelanjutan.
Melalui forum ini, Indonesia mendorong penguatan kolaborasi antar-ekonomi APEC untuk memastikan transformasi digital dan pemanfaatan AI di bidang pendidikan berlangsung secara inklusif, berkelanjutan, dan berorientasi pada peningkatan kualitas pembelajaran.
“Pertemuan hari ini menjadi kesempatan penting untuk merefleksikan capaian kolaborasi ini sekaligus mendiskusikan tantangan ke depan. Ke depan, saya sungguh berharap forum ini dapat menjadi katalisator bagi komunitas ADEPT untuk terus terhubung erat dan saling menguatkan sebagai calon pemimpin pendidikan masa depan,” tutup Prof. Dongsun Park.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah