PJJ Jadi Langkah Perlindungan Murid di Wilayah Terdampak Abu Vulkanik

PJJ Jadi Langkah Perlindungan Murid di Wilayah Terdampak Abu Vulkanik

Bandung Barat – Pemerintah Provinsi Jawa Barat menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi satuan pendidikan yang berada di wilayah dengan intensitas sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang tinggi. Kebijakan ini menjadi langkah perlindungan sekaligus memastikan layanan pendidikan tetap berlangsung sesuai kondisi di lapangan.

Penerapan PJJ tertuang dalam Surat Edaran Gubernur Jawa Barat tentang Kesiapsiagaan dan Perlindungan Kesehatan Masyarakat Jawa Barat terhadap Dampak Erupsi dan Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau yang dikeluarkan pada 6 September 2026.

Melalui kebijakan tersebut, kepala sekolah diminta menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran berdasarkan kondisi wilayah masing-masing. Penyesuaian dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan, penerapan PJJ dilakukan sebagai bentuk perlindungan terhadap warga satuan pendidikan.

“PJJ diberlakukan dengan tujuan melindungi peserta didik dan warga satuan pendidikan,” ujar Dedi Mulyadi.

Selain menyesuaikan pembelajaran, satuan pendidikan juga diminta menghentikan sementara kegiatan di luar ruangan apabila kondisi kualitas udara mengalami penurunan dan berpotensi membahayakan kesehatan. Dengan demikian, aktivitas pendidikan dapat tetap berjalan dengan menyesuaikan perkembangan kondisi lingkungan.

Kebijakan tersebut menjadi bentuk kesiapsiagaan satuan pendidikan dalam menghadapi kondisi darurat lingkungan. Pelaksanaan pembelajaran tetap diarahkan berlangsung secara fleksibel tanpa mengesampingkan aspek kesehatan dan keselamatan warga satuan pendidikan.

Sejalan dengan itu, perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap menjadi perhatian. Berdasarkan informasi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), episode erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam telah berakhir pada Minggu (6/9/2026).

Meski demikian, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III (Siaga). Kondisi tersebut menjadi pertimbangan penting bagi satuan pendidikan dalam menyesuaikan kegiatan pembelajaran dan aktivitas sekolah.

Melalui penyesuaian tersebut, pemerintah mendorong satuan pendidikan tetap memberikan layanan pembelajaran sekaligus memastikan keselamatan peserta didik dan seluruh warga sekolah. Langkah ini diharapkan menjaga keberlangsungan proses pendidikan di tengah kondisi lingkungan yang memerlukan kewaspadaan.

Sumber: ANTARA NEWS/Ricky Prayoga

Mendikdasmen: Daerah yang Tidak Aman Tak Dianjurkan Tatap Muka di Sekolah

Mendikdasmen: Daerah yang Tidak Aman Tak Dianjurkan Tatap Muka di Sekolah

Siaran Pers

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 792/sipers/A6/IX/2026

Jakarta, 6 September 2026 — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengimbau seluruh warga sekolah untuk tetap tenang dan mengutamakan keselamatan serta kesehatan dalam menghadapi erupsi Anak Gunung Krakatau. Penyelenggaraan pembelajaran dapat disesuaikan dengan kondisi wilayah dan perkembangan situasi, dengan mengacu pada kebijakan pemerintah daerah sebagai otoritas yang mengetahui kondisi lapangan.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti menegaskan, keselamatan murid dan guru harus menjadi pertimbangan utama dalam menentukan pelaksanaan pembelajaran. “Perlindungan, keselamatan, dan kesehatan warga sekolah menjadi prioritas,” ujarnya pada Minggu (6/9).

Mendikdasmen menjelaskan, wilayah yang terdampak erupsi dengan kondisi udara yang cukup berat dapat menyesuaikan pembelajaran berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). “Di daerah yang terdampak oleh erupsi Anak Gunung Krakatau dapat dilakukan penyesuaian pembelajaran dengan mengacu pada ISPU. Kegiatan pembelajaran di daerah yang cukup berat seperti di Kabupaten Serang, Provinsi Banten, serta Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, maka pembelajaran dapat dilakukan di rumah melalui daring atau tempat tertentu yang aman melalui Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), tidak harus di sekolah,” jelas Abdul Mu’ti.

Sementara itu, bagi daerah yang tidak terdampak langsung, pembelajaran dapat tetap berlangsung dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat. “Untuk daerah yang tidak terdampak langsung, pembelajaran dapat tetap diselenggarakan di sekolah dengan mematuhi protokol kesehatan seperti memakai masker, tidak melaksanakan kegiatan di luar kelas, menutup pintu, jendela dan mengutamakan kegiatan belajar mengajar yang aman,” terang Abdul Mu’ti.

Lebih lanjut, ia menambahkan, durasi pembelajaran juga dapat disesuaikan dengan kondisi. “Lama dan jam belajar dapat disesuaikan tidak harus dilaksanakan penuh sebagaimana pembelajaran normal.”

Dalam situasi bencana, sekolah juga diharapkan menjadi ruang untuk membangun ketenangan dan kesiapsiagaan murid. “Di sela-sela materi pembelajaran dapat diberikan tentang pengetahuan pentingnya keselamatan, pentingnya mereka memiliki sikap yang tenang dan menjaga kesehatan serta tetap mengikuti informasi kebijakan dari pihak yang berwenang,” ujarnya.

Mendikdasmen juga menegaskan bahwa keputusan mengenai pelaksanaan pembelajaran, termasuk PJJ, mengikuti kondisi dan kebijakan pemerintah daerah. “Mulainya PJJ bisa dilakukan besok sesuai dengan otoritas daerah setempat karena yang tahu kondisinya adalah masing-masing daerah. Tiap kabupaten/kota bisa menyampaikan info update ke masyarakat. Kami mengikuti perkembangan situasinya melalui Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) karena situasi erupsi ini sangat dinamis dan kami belum bisa menetapkan daerah mana yang melakukan PJJ.”

Abdul Mu’ti menegaskan bahwa keselamatan dan kesehatan murid dan guru menjadi prioritas utama. Jika kondisi dinyatakan berbahaya oleh otoritas berwenang maka jangan diselenggarakan pembelajaran di sekolah. Kalaupun dilakukan pembelajaran maka harus mematuhi protokol kesehatan yang ketat dan aktivitas jangan melakukan kegiatan di luar kelas. Untuk kegiatan di dalam kelas agar memperhatikan pintu, jendela supaya aman dari debu yang masuk.

“Daerah yang tidak aman maka sangat tidak dianjurkan tatap muka di sekolah, tapi semuanya mengikuti otoritas pemda. Kami menyarankan kepada guru dan murid mengikuti kebijakan pemda. Jika Jakarta sudah ditetapkan pembelajaran mulai besok daring, maka semuanya harus mengikuti,” tegas Abdul Mu’ti. Sementara, bagi daerah lain yang belum memberikan keputusan agar sesegera mungkin memberikan informasi kepada masyarakat agar dapat menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Kebijakan pembelajaran dalam situasi bencana mengacu pada Permendikbud Nomor 33 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), Peraturan Sekretaris Jenderal Kemendikbudristek Nomor 6 Tahun 2023 tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Program SPAB, Surat Edaran Mendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Pembelajaran pada Satuan Pendidikan Terdampak Bencana, serta Panduan Implementasi Pendidikan Kebencanaan (2026). Informasi dan peraturan terkait dapat diakses melalui laman bkpdm.kemendikdasmen.go.id/TangguhBencana.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian mengatakan bahwa pemerintah terus melakukan koordinasi dengan BMKG dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk memantau perkembangan situasi serta mengurangi dampak terhadap masyarakat.

Tito juga mengingatkan warga sekolah dan masyarakat untuk terus mengikuti informasi resmi. “Jika masih memungkinkan kegiatan pembelajaran, agar warga sekolah terus mengamati situasi. Kegiatan outdoor harus disesuaikan dengan perkembangan situasi keamanan. Ikuti informasi resmi dari BMKG, BNPB, dan lain-lain. Kurangi aktivitas di luar rumah jika ada peningkatan sebaran abu. Hati-hati terhadap kontaminasi abu terhadap makanan dan sumber air,” tuturnya.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman:kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

Komitmen Kemendikdasmen Apresiasi Talenta Berprestasi Indonesia

Komitmen Kemendikdasmen Apresiasi Talenta Berprestasi Indonesia

Siaran Pers

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 788/sipers/A6/IX/2026

Jakarta, 5 September 2026 – Apresiasi bagi murid berprestasi merupakan bagian penting dalam implementasi Permendikdasmen Nomor 25 Tahun 2025 tentang Manajemen Talenta Murid, yang menempatkan apresiasi sebagai salah satu tahapan dalam pengelolaan talenta, setelah proses identifikasi, pengembangan, dan aktualisasi. Melalui apresiasi tersebut, prestasi murid tidak berhenti sebagai capaian, tetapi menjadi bagian dari upaya membuka kesempatan pengembangan talenta secara berkelanjutan.

Apresiasi tersebut diberikan kepada juara dalam beragam ajang nasional yang diselenggarakan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas). Apresiasi tersebut menjadi bagian penghargaan kepada murid yang telah menunjukkan dedikasi, kerja keras, daya juang, dan prestasi dalam ajang talenta, termasuk OSN. “Kami terus berusaha mendukung dan mengapresiasi prestasi anak bangsa. Mohon maaf kalau mungkin hadiahnya tidak besar,” kata Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti di Jakarta, Jumat (4/9).

Komitmen tersebut diperlihatkan dengan aktifnya Kemendikdasmen melakukan pembinaan serta mengirim murid berprestasi ke ajang internasional. Pada tahun 2026, sebanyak 420 juara ajang nasional dibina oleh Puspresnas bersama mitra sebagai persiapan mengikuti ajang internasional. Pada tahun 2026 ini sebanyak 79 murid dikirim sebagai delegasi Indonesia ke berbagai ajang internasional. Para delegasi yang telah berkompetisi telah meraih 47 penghargaan internasional yang terdiri atas tujuh emas, 17 perak, 23 perunggu, dan lima honorable mention.

“Kami sedang mencari skema supaya anggarannya dapat digunakan dari sumber-sumber lain sehingga anggaran hadiahnya dapat ditambah,” terang Abdul Mu’ti.

Namun, Mendikdasmen juga mengimbau agar masyarakat tidak melihat suatu penghargaan hanya dari sisi hadiahnya, karena mereka yang juara juga akan mendapat dukungan pengembangan talenta berkelanjutan.

Kepala Puspresnas, Maria Veronica Irene Herdjiono, menambahkan bahwa apresiasi dan pembinaan bagi para peraih prestasi tidak berhenti pada pemberian hadiah atau dana pembinaan. Puspresnas secara berkelanjutan membina talenta berprestasi agar memperoleh kesempatan untuk mengikuti ajang internasional. “Prestasi di tingkat nasional bukanlah akhir dari proses pembinaan. Kami terus mendampingi para talenta berprestasi agar dapat berkembang dan memiliki kesempatan lebih luas lagi,” ucap Irene.

Dukung Talenta Berprestasi, Kemendikdasmen Lanjutkan Pembinaan hingga Ajang Internasional

Dukungan jangka panjang juga diberikan melalui kesempatan melanjutkan pendidikan. Melalui Beasiswa Talenta Indonesia yang merupakan kolaborasi Puspresnas dan LPDP, para talenta berprestasi mendapatkan pendanaan pendidikan program S1/D4 di dalam maupun luar negeri. Tahun ini, telah diumumkan 174 calon penerima beasiswa S1 terdiri atas 171 calon penerima beasiswa dalam negeri dan tiga orang calon penerima beasiswa luar negeri. Mereka merupakan pemenang ajang yang difasilitasi Puspresnas, termasuk OSN.

“OSN bukan semata-mata tentang medali atau menjadi juara. Proses mengikuti kompetisi menjadi ruang bagi murid untuk mengembangkan kemampuan, membangun karakter, sportivitas, daya juang, dan mental sebagai generasi unggul Indonesia,” tutur Irene.

Kemendikdasmen berkomitmen memastikan setiap murid memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi dan meraih prestasi melalui proses yang adil, transparan, dan berintegritas. Pembinaan talenta diarahkan agar prestasi yang diraih hari ini dapat membuka kesempatan pengembangan diri dan pendidikan pada jenjang berikutnya.

“Kami mengapresiasi perhatian dan masukan yang disampaikan masyarakat. Partisipasi publik merupakan bagian penting dalam upaya bersama untuk terus meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan dan ajang talenta yang berpihak pada murid, sejalan dengan semangat Pendidikan Bermutu untuk Semua,” pungkas Irene.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

Pembinaan Kemendikdasmen Antarkan Murid Indonesia Raih 12 Medali dan Tiga Penghargaan YoRI pada IESO 2026

Pembinaan Kemendikdasmen Antarkan Murid Indonesia Raih 12 Medali dan Tiga Penghargaan YoRI pada IESO 2026

Siaran Pers

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 787/sipers/A6/IX/2026

Tangerang, 4 September 2026 — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan murid Indonesia di ajang internasional. Tim Indonesia berhasil meraih satu medali emas, empat medali perak, dan tujuh medali perunggu, serta tiga penghargaan Young Reporters Initiative (YoRI) pada International Earth Science Olympiad (IESO) ke-19 yang diselenggarakan pada 20 s.d. 27 Agustus 2026 di Turin, Italia.
 
Capaian tersebut menjadi bukti kemampuan murid Indonesia dalam berkompetisi pada ilmu kebumian sekaligus hasil dari proses pembinaan dan seleksi yang dilakukan secara berkelanjutan oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
 
Pada ajang yang diikuti 160 peserta dari 40 negara tersebut, empat murid Indonesia menunjukkan performa terbaik melalui sejumlah kategori kompetisi, yakni Individual Test, International Team Field Investigation (ITFI), Earth System Project (ESP), dan Young Reporters Initiative (YoRI). 
 
Adapun perolehan prestasi Tim Indonesia adalah sebagai berikut. Marvell Collin Celeste dari SMAS Kristen Immanuel Pontianak, Kalimantan Barat, meraih medali perunggu pada Individual Test, medali emas pada International Team Field Investigation (ITFI), medali perunggu pada Earth System Project (ESP), serta Third Prize pada Young Reporters Initiative.
 
Kemudian, Louis Victor Iswaranimpunga Paris dari SMAK Katolik St. Albertus Malang, Jawa Timur, meraih medali perak pada Individual Test, medali perunggu pada ITFI, medali perak pada ESP, serta First Prize pada Young Reporters Initiative. Salma Rofidatul Hasanah dari MAN 2 Kota Malang, Jawa Timur, meraih medali perunggu pada Individual Test dan ITFI, medali perak pada ESP, serta Second Prize pada Young Reporters Initiative. Muhammad Ihsan dari MAN Insan Cendekia Serpong, Banten, juga meraih medali perunggu pada Individual Test dan ESP, serta medali perak pada ITFI.

Mengikuti rangkaian kompetisi selama delapan hari di Italia, Marvell Collin Celeste merasakan langsung manfaat dari proses pembinaan yang telah dijalaninya. Menurutnya, pembinaan yang diadakan Kemendikdasmen melalui Puspresnas memberikan bekal dan pengalaman yang berharga untuk menghadapi kompetisi tersebut. 
 
“Semua berjalan dengan lancar dan kami semua bisa menyelesaikan kompetisi IESO selama delapan hari di Italia. Kami berterima kasih kepada Kemendikdasmen dan Puspresnas karena mulai dari Olimpiade Sains Nasional ke tahap pembinaan yang dilakukan sangat bermanfaat bagi kami,” jelas Marvel yang juga peraih medali emas OSN tingkat nasional untuk cabang ajang kebumian 2025. 
 
Pengalaman berkompetisi di IESO juga menjadi kesempatan bagi Salma Rofidatul Hasanah untuk mengasah kemampuan sekaligus berkolaborasi dengan murid dari berbagai negara. Ia mengaku mendapatkan pengalaman yang menarik selama mengikuti rangkaian kompetisi tersebut. 
 
“Seru sekali berkompetisi di IESO. Saat mengikuti bagian ESP kami mencari data ke gunung. Kami juga membuat poster, tes tertulis, dan presentasi bersama murid dari berbagai negara,” ungkap Salma. 
 
Dua pembina yang mendampingi perjuangan tim Indonesia pada IESO 2026 adalah Ichsan Ibrahim dari STMIK Indonesia Mandiri dan Rahmawati Rahayu dari tim Olimpiade Ilmu Kebumian Indonesia. 
 
Menurut Ichsan Ibrahim, selain mempertahankan prestasi pada kategori utama, tahun ini tim Indonesia juga mengikuti Young Reporters Initiative (YoRI) untuk pertama kalinya dan berhasil meraih tiga penghargaan. Capaian tersebut menjadi tambahan prestasi yang melengkapi keberhasilan para murid Indonesia di ajang internasional untuk ilmu kebumian ini. 
 
“Prestasi di IESO tahun ini lebih baik. Tahun ini tim Indonesia memperoleh satu emas, empat perak, dan tujuh perunggu. Ditambah tahun ini kita mengikuti Young Reporters Initiative (YoRI) dan meraih tiga penghargaan,” tutur Ichsan.

Kepala Pusat Prestasi Nasional, Maria Veronica Irene Herdjiono, menyampaikan apresiasi kepada seluruh murid dan tim pembina yang telah meraih prestasi di ajang IESO. “Para murid pemenang ajang talenta nasional terus kami bina secara berkelanjutan hingga ke ajang internasional. Selamat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada adik-adik dan pembina,” ujarnya. 
 
Keberhasilan ini diharapkan semakin memperkuat ekosistem pembinaan talenta. Melalui pembinaan yang terarah dan berkelanjutan, Kemendikdasmen berkomitmen memberikan ruang bagi murid Indonesia untuk mengembangkan potensi, berkompetisi secara sehat, dan mengharumkan nama Indonesia di berbagai ajang prestasi internasional.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

Kemendikdasmen Pastikan Hak Belajar Murid di Wilayah Terdampak Asap Karhutla Tetap Terpenuhi

Kemendikdasmen Pastikan Hak Belajar Murid di Wilayah Terdampak Asap Karhutla Tetap Terpenuhi

Siaran Pers

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 785/sipers/A6/IX/2026

Jakarta, 4 September 2026 – Bagi anak-anak di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), asap mungkin untuk sementara memindahkan ruang belajar dari sekolah ke rumah. Namun, asap tidak boleh menghentikan mereka untuk belajar. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memastikan layanan pendidikan tetap berjalan dengan mengutamakan kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal (PAUD, Dikdas, dan PNFI) Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, menegaskan bahwa penghentian sementara pembelajaran tatap muka bukan berarti kegiatan belajar dihentikan. “Keselamatan dan kesehatan anak adalah prioritas. Namun, belajar dari rumah bukan berarti libur. Ketika kondisi udara mengharuskan tatap muka dihentikan, sekolah tetap wajib memastikan hak belajar setiap murid terpenuhi melalui moda pembelajaran yang paling sesuai dengan kondisi daerah,” ujarnya dalam konferensi pers Perkembangan Harian Penanganan Bencana Karhutla di Indonesia, studio Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta, Rabu (2/9).

Untuk memastikan keputusan pembelajaran dilakukan secara terukur, Kemendikdasmen telah menerbitkan Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (SE Mendikdasmen) Nomor 20 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Layanan Pendidikan pada Satuan Pendidikan di Daerah Terdampak Asap Kebakaran Hutan dan Lahan pada 28 Agustus 2026. Kebijakan tersebut berlaku bagi PAUD, pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan khusus, dan pendidikan kesetaraan, baik negeri maupun swasta. Penyesuaian layanan pendidikan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi kualitas udara, tingkat risiko kesehatan, serta karakteristik dan kebutuhan satuan pendidikan dan peserta didik.

Penetapan moda pembelajaran mengacu pada Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Pada kategori Baik (1–50), pembelajaran berlangsung normal, sedangkan pada kategori Sedang (51–100), pembelajaran tatap muka tetap berlangsung dengan pembatasan aktivitas di luar ruangan. Pada kategori Tidak Sehat (101–200), pembelajaran tatap muka dilakukan secara terbatas dengan perlindungan tambahan dan kelompok rentan, seperti peserta didik PAUD, SD kelas I–III, SLB, serta peserta didik dengan penyakit penyerta, beralih ke pembelajaran jarak jauh. Jika ISPU mencapai kategori Sangat Tidak Sehat (201–300) atau Berbahaya (di atas 300), pembelajaran tatap muka dihentikan sementara.

“Dengan mekanisme ini, keputusan tidak dilakukan secara seragam tanpa melihat kondisi lapangan. Ketika kualitas udara memburuk, anak kita lindungi. Ketika kondisi kembali aman, mereka dapat segera kembali belajar di sekolah,” kata Gogot. Mekanisme tersebut juga memungkinkan pembelajaran kembali ke tatap muka ketika kualitas udara membaik. Kota Pekanbaru, misalnya, kembali menyelenggarakan pembelajaran tatap muka pada 31 Agustus setelah ISPU turun ke kategori Sedang, sementara Kota Palembang menyesuaikan jam masuk sekolah tanpa menghentikan tatap muka.

Berdasarkan pemantauan dengan cut-off data 1 September 2026 pukul 17.00 WIB, sebanyak 12.874 satuan pendidikan dengan sekitar 1,43 juta peserta didik di 27 wilayah pada enam provinsi tercatat melaksanakan pembelajaran dari rumah dengan moda pengganti. Sebanyak 9.683 satuan pendidikan dengan 1.143.421 peserta didik telah terverifikasi melalui pelaporan berjenjang, sementara 3.191 satuan pendidikan dengan 285.712 peserta didik masih dalam proses verifikasi melalui unit pelaksana teknis Kemendikdasmen.

Di Kalimantan Barat, sebanyak 8.888 satuan pendidikan dengan 1.001.440 peserta didik melaksanakan pembelajaran dari rumah. Pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah. Di Kabupaten Landak, misalnya, pembelajaran luring disiapkan bagi murid yang tidak memiliki akses internet. Sementara di Kalimantan Tengah, sebanyak 795 satuan pendidikan dengan 141.981 peserta didik telah terverifikasi melaksanakan pembelajaran jarak jauh.

Kemendikdasmen memastikan pembelajaran jarak jauh tidak selalu berarti pembelajaran daring. Bagi peserta didik yang memiliki akses listrik, internet, dan perangkat, pembelajaran dapat dilakukan secara daring. Sementara bagi satuan pendidikan yang belum memiliki akses listrik dan/atau jaringan internet, pembelajaran dapat dilakukan secara luring melalui modul pembelajaran cetak, lembar aktivitas, penugasan berbasis rumah, guru kunjung dengan tetap memperhatikan keselamatan, maupun radio dan televisi lokal. Beban belajar selama masa darurat juga disederhanakan dengan berfokus pada literasi, numerasi, dan penguatan karakter.

Selain itu, Kemendikdasmen juga memperkuat perlindungan di lingkungan sekolah melalui penyediaan ruang kelas aman asap dan sedikitnya satu sekolah rujukan aman asap pada setiap kecamatan terdampak. Prioritas diberikan kepada 1.365 sekolah tanpa listrik yang tidak dapat melaksanakan PJJ secara daring. Di saat yang sama, Pos Pendidikan Darurat Karhutla di tingkat pusat dan unit pelaksana teknis di provinsi terdampak terus memantau perkembangan ISPU, moda pembelajaran, jumlah satuan pendidikan dan peserta didik terdampak, serta gangguan kesehatan warga satuan pendidikan.

Dirjen Gogot mengajak orang tua dan wali murid turut memastikan anak tetap aman dan belajar dengan memantau kualitas udara dari sumber resmi, membatasi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara memburuk, memastikan anak menggunakan masker sesuai kebutuhan, serta segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila muncul keluhan pernapasan. “Kita tidak ingin anak-anak harus memilih antara kesehatan dan pendidikan. Keduanya harus kita lindungi. Negara bersama pemerintah daerah, sekolah, guru, dan orang tua akan memastikan anak-anak tetap aman sekaligus tetap memperoleh haknya untuk belajar,” tutupnya.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers