Keterampilan Spa Buka Jalan Fifayu Zuhara dan Ribuan Alumni PKK ke Dunia Kerja Global

Keterampilan Spa Buka Jalan Fifayu Zuhara dan Ribuan Alumni PKK ke Dunia Kerja Global

Siaran Pers

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 814/sipers/A6/IX/2026

Jakarta, 18 September 2026 Bagi Fifayu Zuhara Malelestari, keterampilan spa yang dipelajarinya melalui Program Pendidikan Kecakapan Kerja (PKK) tidak hanya bekal untuk menyelesaikan pelatihan. Dari ruang pelatihan, ia kini bersiap mewujudkan mimpinya bekerja sebagai spa terapis di Turki. Fifayu merupakan salah satu peserta PKK Spa Terapis di LKP Puspita Martha International Beauty School untuk melanjutkan proses penempatan untuk bekerja di luar negeri.

“Harapan saya lulus dari sini (menjadi) kompeten, dan juga bisa menambah skill saya. Kerja di sana juga salah satu mimpi saya karena yang pertama gaji di luar negeri itu cukup besar dan Saya mau belajar budaya, bahasa baru di luar negeri,” ujarnya.

Selama mengikuti pelatihan, keterampilan pijat menjadi salah satu kemampuan yang menurut Fifayu paling bermanfaat untuk mendukung pekerjaannya sebagai spa terapis. Ia berharap dapat lulus dengan kompetensi yang baik, menambah keterampilan, serta memperoleh pengalaman bekerja di Turki. Keputusan Fifayu untuk bekerja di luar negeri juga didorong keinginannya untuk mengenal budaya dan bahasa baru selama dua tahun di Turki.

Peserta lainnya, Khana Sus Nurprasetyo, memiliki latar belakang sebagai lulusan SMK bidang kecantikan. Ia kemudian menemukan informasi mengenai pelatihan PKK Spa Terapis di Puspita Martha melalui media sosial. Menurut Khana, keterampilan massage atau wellness menjadi salah satu kemampuan yang penting karena memiliki kebutuhan di dunia kerja spa dan menurutnya tidak mudah digantikan oleh teknologi. Menurutnya, kesempatan mengikuti program tersebut sebagai ruang untuk mengembangkan keterampilan sekaligus mempelajari budaya lain.

“Kesempatan untuk kerja di luar negeri itu untuk mengembangkan skill dan bakat saya, untuk mengembangkan keterampilan, belajar budaya lain supaya tidak stuck di sini saja. Semoga program-program seperti ini tetap terbuka luas sehingga lebih banyak peserta yang bisa belajar, bisa berlatih, dan mendapatkan pengalaman seperti yang saya dapatkan,” ujarnya.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan bahwa alumni lembaga kursus dan pelatihan serta SMK yang bekerja ke mancanegara tidak hanya berupaya meningkatkan kualitas hidupnya, tetapi juga membawa nama Indonesia di negara tempat mereka bekerja.

“Alumni lembaga kursus dan pelatihan serta SMK yang kita lepas untuk bekerja ke mancanegara membawa misi untuk Indonesia, mereka adalah para pahlawan, para pejuang yang tidak hanya mereka berusaha memperbaiki kualitas hidupnya secara pribadi tapi juga membawa nama bangsa dan negara di manapun mereka bekerja,” ungkapnya.

Mendikdasmen menilai keberadaan lembaga kursus menjadi bagian penting dalam memberikan kesempatan kepada setiap warga negara Indonesia untuk mengembangkan diri dan meraih mimpi, tanpa memandang kondisi ekonomi maupun status sosial.

“Keberadaan lembaga-lembaga kursus ini menjadi bagian penting dari bagaimana kita memberikan kesempatan kepada setiap warga negara Indonesia dimanapun mereka berada, apapun keadaan ekonominya, apapun status sosialnya mereka semua adalah anak-anak Indonesia yang harus kita dampingi, kita bantu untuk meraih mimpi-mimpi bagi kemajuan dirinya dan tentu saja bagi kualitas dan kemajuan bangsa dan negara,” ucapnya.

Lebih lanjut, Mendikdasmen menuturkan bahwa berbagai pelatihan perlu membekali peserta dengan hard skill dan soft skill, sekaligus tetap mengedepankan human and personal touch. Menurutnya, model pelatihan ke depan juga perlu memuat unsur entrepreneurship agar peserta tidak hanya memiliki keterampilan untuk bekerja sebagai pegawai, tetapi juga memiliki kesempatan untuk berkembang menjadi pengusaha.

Kesempatan tersebut menjadi bagian dari pelepasan 2.883 alumni Program PKK dari 20 LKP yang disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, dalam rangkaian kegiatan di LKP Puspita Martha International Beauty School, Jakarta, Kamis (17/9). Tatang mengatakan, para alumni PKK yang bekerja ke luar negeri membawa keterampilan yang diperoleh melalui pendidikan nonformal sekaligus membawa nama Indonesia ke lingkungan kerja internasional. Pelepasan ini tersebar di berbagai negara tujuan, mulai dari Bulgaria sebanyak 1.831, kemudian Jepang 692 orang, Turki 212 orang, dan Malaysia 76 orang. Tatang mengungkapkan bahwa kesempatan bekerja di luar negeri perlu dimanfaatkan para alumni untuk mengembangkan pengalaman sekaligus menjaga nama baik Indonesia.

“Mereka bukan hanya membawa keterampilan, tetapi juga membawa nama baik bangsa Indonesia. Mereka bekerja di berbagai sektor: industri manufaktur, garmen, spa dan estetika, perhotelan, hingga jasa pelayanan di berbagai negara di Asia, Timur Tengah, dan Eropa. Mereka adalah bukti nyata bahwa pendidikan nonformal Indonesia mampu mencetak sumber daya manusia yang kompeten dan berdaya saing global,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur LKP Puspita Martha International Beauty School Wulan Maharani Tilaar mengatakan, Puspita Martha telah dipercaya menyelenggarakan PKK Platinum sejak 2021. Program tersebut diarahkan untuk menghasilkan sumber daya manusia di bidang kecantikan dan spa yang memiliki kompetensi dan mampu bersaing di tingkat internasional. Ia menegaskan bahwa kemitraan pihaknya dengan Kemdikdasmen tidak hanya dalam program PKK tetapi juga dalam kredensial mikro bagi instruktur LKP dan guru SMK serta penyusunan kurikulum dan materi pendidikan kursus keterampilan berbasis industri.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

Menjawab Rasa Ingin Tahu Murid Dengan Pembelajaran Mendalam

Menjawab Rasa Ingin Tahu Murid Dengan Pembelajaran Mendalam

Siaran Pers

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 813/sipers/A6/IX/2026

Jakarta, 17 September 2026 Hasil PISA 2025 tidak hanya menunjukkan capaian akademik murid Indonesia, tetapi juga menemukan potensi positif yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran. Sebanyak 80 persen murid Indonesia menyatakan ingin tahu tentang banyak hal, lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) sebesar 73 persen. Potensi tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Seminar Hasil PISA Indonesia Tahun 2025 yang diselenggarakan Pusat Asesmen Pendidikan, Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), di Jakarta, Selasa (15/9).

Kepala BKPDM, Toni Toharudin, mengatakan, kenaikan kemampuan membaca dan sains patut diapresiasi, sementara penurunan pada matematika menjadi perhatian yang perlu ditindaklanjuti melalui kebijakan yang tepat. “Pada tahun 2025, perlu kita tempatkan bukan sekadar sebagai laporan capaian, melainkan sebagai dasar untuk memperbaiki dan juga mempercepat peningkatan mudu pendidikan kita,” ujar Toni. Salah satu arah kebijakan yang disampaikan adalah meningkatkan kualitas pembelajaran di ruang kelas, terutama kemampuan bernalar, memecahkan masalah, dan menerapkan pengetahuan dalam konteks nyata.

Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD, Andreas Schleicher, menyampaikan bahwa kuatnya rasa ingin tahu merupakan salah satu temuan positif PISA 2025 di Indonesia. Ia menyebut Indonesia termasuk negara dengan tingkat rasa ingin tahu murid yang kuat. Dalam indeks yang digunakan OECD, rata-rata negara anggota OECD berada pada angka 5, sementara Indonesia mencapai 9. Indonesia juga menunjukkan kemampuan self-directed learning yang relatif baik, yakni kemampuan merencanakan dan mengelola pembelajaran sendiri.

Selain rasa ingin tahu, 74 persen murid Indonesia melaporkan berupaya lebih keras ketika menghadapi pekerjaan yang menantang, dibandingkan rata-rata negara anggota OECD sebesar 60 persen. Dibandingkan tahun 2022, proporsi murid yang menyatakan ingin tahu tentang banyak hal meningkat 7,3 poin persentase, sementara yang melaporkan berupaya lebih keras ketika menghadapi tantangan meningkat 7,2 poin persentase.

Menanggapi hal ini, perwakilan Dewan Pendidikan Nasional, Ali Saukah, melihat rasa ingin tahu tersebut sebagai potensi yang perlu dikembangkan melalui proses pembelajaran. Ia menyebutnya sebagai “modal sosial” yang dapat menjadi sumber optimisme. “Itu (rasa ingin tahu) modal sosial yang menurut saya sangat bagus membuat kita optimis,” kata Ali.

Bagaimana potensi tersebut berkembang menjadi kemampuan berpikir terlihat dari contoh yang disampaikan Guru Besar Institut Teknologi Bandung, Edy Tri Baskoro. Menurutnya, pembelajaran matematika perlu memberi ruang bagi murid untuk berpikir, bernalar, mencoba berbagai cara penyelesaian, menyampaikan alasan, dan melakukan refleksi. Pembelajaran juga tidak harus mengejar banyak materi, tetapi memberi ruang untuk memahami satu topik secara lebih mendalam.

Salah satu gagasannya adalah “one reasoning problem every day” atau satu soal bernalar setiap hari yang diterapkan di tiap jenjang pendidikkan. Dengan sekitar 200 hari belajar dalam setahun, maka selama sembilan tahun, kebiasaan tersebut dapat memberi murid sekitar 1.800 pengalaman bernalar.

Pandangan tersebut juga menempatkan guru sebagai bagian penting dalam menciptakan pembelajaran yang memberi ruang bagi murid untuk berpikir. Diana Rochintaniawati dari Universitas Pendidikan Indonesia mengatakan, kekuatan guru Indonesia yang dinilai helpful perlu diarahkan pada pembelajaran berbasis inquiry atau penyelidikan. PISA 2025 mencatat 82 persen murid Indonesia menilai guru menunjukkan perhatian terhadap pembelajaran mereka dalam sebagian besar pelajaran sains, sementara 85 persen mengatakan guru terus mengajar sampai mereka memahami materi. Melalui inquiry , murid didorong untuk menemukan, menguji, merefleksikan, dan menyampaikan argumentasi berdasarkan bukti. “Jadi ajaklah siswa itu dari inquiry ,” ujar Diana.

Sri Rezki Widuri dari INOVASI mengatakan bahwa Pembelajaran Mendalam bisa membawa proses belajar melampaui tahap memahami. Ia menjelaskan bahwa pendekatan ini mendorong murid untuk menerapkan, mengevaluasi, merefleksikan, dan mentransfer pengetahuan atau keterampilan ke konteks baru. Dalam literasi, kemampuan membaca juga diarahkan menjadi reading to learn, sehingga membaca berjalan bersamaan dengan kemampuan berpikir.

Proses tersebut juga membutuhkan dukungan keluarga. Murni Leo dari Tanoto Foundation menyampaikan, survei yang dilakukan oleh Tanoto Foundation dan J-PAL pada tahun 2025 terhadap 8.060 orang tua di 17 kabupaten/kota pada lima provinsi menunjukkan 92 persen orang tua menganggap keterlibatan dalam pendidikan anak penting dan 68 persen diantaranya ikut membantu anak mengerjakan tugas. Ia menambahkan bahwa orang tua rata-rata menghabiskan 104 menit per hari untuk mendampingi pendidikan anak. “Jadi, sebenarnya peluang kita adalah bagaimana kita mematuhkan 104 menit itu menjadi lebih baik,” ujar Murni.

Rangkaian temuan tersebut menunjukkan bahwa rasa ingin tahu murid merupakan potensi yang dapat dikembangkan menjadi kemampuan belajar yang lebih dalam. Melalui pendekatan Pembelajaran Mendalam, rasa ingin tahu itu dapat diberi ruang untuk tumbuh menjadi kebiasaan bertanya, bernalar, memecahkan masalah, merefleksikan pengalaman, dan menggunakan pengetahuan tersebut dalam situasi baru.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

Perkuat Sinergi, Kawal Pembangunan SNT Kabupaten Tasikmalaya

Perkuat Sinergi, Kawal Pembangunan SNT Kabupaten Tasikmalaya

Kabupaten Tasikmalaya – BBPMP Provinsi Jawa Barat mendampingi Tim Kejaksaan Agung bersama Sekretariat Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal (Setditjen PAUD Dikdas dan PNFI) dalam Forum Group Discussion (FGD) Pengamanan Pembangunan Strategis Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) Kabupaten Tasikmalaya pada Senin (14/9/2026).

FGD tersebut melibatkan Kejaksaan Negeri Kabupaten Tasikmalaya, Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, Kantor Pertanahan/Badan Pertanahan Nasional (BPN), serta perangkat daerah terkait. Kegiatan ini menjadi ruang koordinasi untuk mengidentifikasi potensi hambatan dan membahas berbagai permasalahan dalam persiapan pembangunan SNT Kabupaten Tasikmalaya.

Melalui forum tersebut, para pihak menyusun langkah penyelesaian secara kolaboratif agar proses pembangunan SNT Kabupaten Tasikmalaya dapat berjalan aman, tertib, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Hingga Agustus 2026, berbagai tahapan persiapan pembangunan SNT Kabupaten Tasikmalaya telah dikawal bersama. Salah satunya ditandai dengan terbitnya Persetujuan Teknis Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (Pertek KKPR) pada 31 Agustus 2026 sebagai bagian dari kesiapan lokasi pembangunan SNT.

Kolaborasi lintas sektor ini menjadi bagian dari upaya bersama dalam mengawal proses pembangunan SNT di Kabupaten Tasikmalaya. Sinergi tersebut diharapkan dapat mendukung terwujudnya layanan pendidikan yang berkualitas bagi masyarakat Kabupaten Tasikmalaya.

Kemendikdasmen Buka 174 Formasi Guru dan Tenaga Kependidikan untuk SILN dan CLC Tahun 2026

Kemendikdasmen Buka 174 Formasi Guru dan Tenaga Kependidikan untuk SILN dan CLC Tahun 2026

Siaran Pers

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 812/sipers/A6/IX/2026

Jakarta, 17 September 2026 Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) membuka seleksi Guru dan Tenaga Kependidikan Sekolah Indonesia di Luar Negeri (SILN) serta Pendidik Tetap pada Community Learning Center (CLC) Tahun 2026. Seleksi ini diarahkan untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia pendidikan secara lebih tepat berdasarkan formasi, kompetensi, dan karakteristik satuan pendidikan di luar negeri.

Dari total 174 formasi yang dibuka, tersedia 42 formasi untuk SILN, yang terdiri atas 39 guru dan 3 tenaga kependidikan. Selain itu, tersedia juga 132 formasi Pendidik Tetap CLC. Dari kebutuhan CLC tersebut, sebanyak 112 formasi dialokasikan untuk Sabah dan 20 formasi untuk Sarawak, Malaysia. Pembukaan formasi tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga keberlangsungan sekaligus meningkatkan mutu layanan pendidikan bagi warga negara Indonesia di luar negeri.

Sekretaris Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen, Temu Ismail, menekankan bahwa penugasan di SILN dan CLC membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan mengajar, melainkan juga komitmen yang kuat dalam pengabdian di dunia pendidikan.

“Menjadi guru di SILN dan CLC membutuhkan kompetensi, integritas, kemampuan beradaptasi, resiliensi, profesional, serta komitmen pengabdian yang kuat. Lingkungan pendidikan yang berbeda juga menjadi ruang bagi guru untuk belajar, memperluas wawasan, dan mengembangkan kompetensinya,” ujar Temu Ismail dalam acara sosialisasi program yang digelar secara daring pada Rabu (16/9).

Atas dasar itu, Temu Ismail menekankan bahwa proses seleksi harus dilaksanakan secara objektif, transparan, akuntabel, dan berbasis pada kompetensi serta kebutuhan. Hal ini untuk memastikan bahwa guru yang terpilih benar-benar memiliki kesiapan untuk menjalankan amanah di SILN dan CLC.

Sementara itu, Kepala Bagian Kerja Sama dan Fasilitasi Internasional, Biro Perencanaan dan Kerja Sama, Kemendikdasmen, Lukmanul Hakim, menyebut bahwa pendidik yang terpilih akan memperoleh berbagai capaian pengembangan diri dalam penugasan ini. Capaian tersebut meliputi pengalaman internasional yang luas, kesempatan berinteraksi secara global, serta pengembangan kompetensi profesional yang signifikan.

Terkait aspek kesejahteraan, Lukmanul menjelaskan bahwa besaran honorarium mengacu pada Satuan Biaya Masukan Lainnya (SBML) yang ditetapkan Kementerian Keuangan. Besaran honorarium berbeda pada setiap negara penempatan sesuai biaya hidup setempat, dan sudah mencakup biaya hidup, tempat tinggal, social security, asuransi kecelakaan, pajak, dan lembur. Kemudian masa penugasan bagi guru non-ASN adalah 2 tahun dan dapat diperpanjang berdasarkan evaluasi kinerja serta kebutuhan sekolah.

Seleksi 2026 memberi perhatian pada kesiapan calon pendidik menghadapi lingkungan belajar lintas budaya dan kondisi penugasan yang berbeda dengan sekolah di dalam negeri.

Selain itu, Nissa Apriliana, dari Bagian Kerja Sama, Setditjen GTK, menjelaskan bahwa secara umum persyaratan bagi pelamar guru SILN dan Pendidik Tetap CLC antara lain: berstatus WNI, berstatus non-ASN, dan berusia maksimal 45 tahun. Pelamar juga harus memenuhi persyaratan kualifikasi dan kompetensi sesuai formasi, memiliki kemampuan berbahasa Inggris, serta menunjukkan integritas dan kelayakan untuk menjalankan penugasan di luar negeri. Dokumen kemampuan Bahasa Inggris antara lain dapat berupa TOEFL minimal 450 atau IELTS 5,0.

Persyaratan khusus juga disesuaikan dengan kebutuhan penempatan. Pelamar guru SILN minimal berpendidikan S1 sesuai bidang dengan IPK minimal 3,00. Untuk penempatan Jeddah, Riyadh, dan Makkah, kemampuan Bahasa Arab lisan dan tulisan dipersyaratkan.

Guru TIK di SILN diutamakan memiliki kemampuan mengajar Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA), sementara guru Matematika SILN Davao diutamakan dapat mengajar TIK/KKA. Guru kejuruan kuliner di Kota Kinabalu wajib memiliki sertifikat kompetensi yang linier sekurang-kurangnya setara Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) Level 4.

Kemampuan mengajar lintas jenjang dan lintas mata pelajaran juga menjadi salah satu kompetensi yang diperhatikan. Hal tersebut penting mengingat karakteristik SILN dan CLC yang menuntut fleksibilitas pendidik dalam memberikan layanan pembelajaran.

Untuk tenaga kependidikan SILN, kompetensi yang dibutuhkan antara lain pengalaman pengelolaan administrasi sekolah, penguasaan teknologi informasi, pengelolaan data dan Dapodik, serta pengelolaan keuangan satuan pendidikan. Pelamar Kepala Tenaga Administrasi Sekolah juga harus memiliki pengalaman sebagai kepala tenaga administrasi pada satuan pendidikan formal sekurang-kurangnya dua tahun.

Pendaftaran dibuka secara daring pada 14 September s.d. 2 Oktober 2026 melalui laman resmi gtk.kemendikdasmen.go.id/gtksilnclc/. Seluruh tahapan seleksi SILN dan CLC 2026 tidak dipungut biaya, dan setiap pelamar hanya dapat memilih satu formasi sesuai kebutuhan yang tersedia.

Melalui seleksi ini, Kemendikdasmen menargetkan hadirnya guru dan tenaga kependidikan yang tidak hanya memenuhi kualifikasi administratif, tetapi juga memiliki kompetensi, adaptabilitas, dan kesiapan pengabdian untuk memastikan anak-anak Indonesia tetap memperoleh pendidikan bermutu di mana pun mereka berada.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

Persiapan Matang, Kontingen Indonesia Siap Berlaga di WorldSkills Competition 2026 Shanghai

Persiapan Matang, Kontingen Indonesia Siap Berlaga di WorldSkills Competition 2026 Shanghai

Siaran Pers

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 811/sipers/A6/IX/2026

Jakarta, 16 September 2026 Indonesia mematangkan persiapan untuk berlaga pada WorldSkills Competition (WSC) 2026 di Shanghai, Republik Rakyat Tiongkok. Sebanyak 20 kompetitor dan 17 eksper (expert) disiapkan untuk mewakili Indonesia dengan dukungan technical delegate, technical delegate assistant, pelatih, pendamping, serta tim pendukung lainnya.

Para kompetitor berasal dari berbagai latar belakang, baik murid maupun alumni SMK, serta institusi pendidikan dan mitra industri. Mereka telah menjalani proses pembinaan dan pelatihan secara intensif untuk mempersiapkan kemampuan teknis sekaligus aspek mental, kedisiplinan, dan presisi yang dibutuhkan dalam kompetisi tingkat dunia.

Persiapan menuju WSC Shanghai 2026 dilakukan secara bertahap. Dari sisi teknis, para kompetitor mengikuti Competition Preparation Week pada Februari 2026. Proses pembinaan kemudian dilanjutkan melalui berbagai simulasi yang dirancang menyerupai atmosfer kompetisi sesungguhnya sehingga kompetitor terbiasa bekerja dengan standar, tekanan waktu, dan tuntutan presisi yang berlaku dalam ajang WSC.

Salah satu kompetitor Indonesia, Kanya Anggrek Gunawan, alumnus SMK Raden Umar Said (RUS), Kudus, Jawa Tengah, mengaku bangga sekaligus antusias mendapat kesempatan mewakili Indonesia pada kompetisi vokasi tingkat dunia. Sejak Februari 2026, Kanya menjalani berbagai persiapan untuk menghadapi kompetisi pada bidang keahlian 3D Game Art.

“Persiapan yang kami jalani cukup panjang dan banyak hal yang saya pelajari, bukan hanya tentang kompetensi, tetapi juga bagaimana menjaga fokus, disiplin, dan mental dalam menghadapi kompetisi. Saya harap ketika bertanding, kami bisa fokus mengerjakan sesuai apa yang sudah dipelajari dan bisa memberikan yang terbaik untuk negeri. Mohon doa dan dukungannya agar kami bisa memberikan hasil terbaik untuk Indonesia,” ucap Kanya Anggrek di Jakarta, Selasa (15/9).

Menurutnya, 3D Game Art menjadi salah satu tantangan tersendiri karena merupakan bidang lomba yang untuk pertama kalinya diikuti Indonesia. Oleh karena itu, ia terus memperkuat kemampuan dan mempersiapkan diri agar dapat memberikan penampilan terbaik di Shanghai.

Sementara itu, kompetitor Indonesia bidang Auto Body Repair, Dewangga Pratama Putra dari SMK Krian 2 Sidoarjo, Jawa Timur, telah menjalani persiapan selama sekitar enam bulan bersama industri. Pelatihan dilakukan di dua lokasi dengan dukungan peralatan serta lingkungan pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan kompetisi.

“Untuk target saya, yang paling utama adalah Gold Medal, tapi yang paling minimum adalah Medal of Excellence,” kata Dewangga.

Bagi Dewangga, keikutsertaan dalam WSC tidak hanya menjadi kesempatan untuk berkompetisi, tetapi juga menjadi bagian dari proses untuk mengembangkan kompetensi yang nantinya dapat dibagikan kepada generasi berikutnya. Setelah kompetisi, ia berencana kembali ke sekolah dan membagikan keterampilan yang diperolehnya selama menjalani pembinaan. “Saya mengharapkan ada junior yang meneruskan bakat-bakat saya di bidang auto body repair terutama, dan skill-skill yang saya miliki bisa diasah oleh adik-adik kelas selanjutnya,” tuturnya.

Persiapan juga dilakukan secara intensif pada bidang Robot Systems Integration. Eksper bidang tersebut, Reza Pahlevi, mengatakan bahwa tim yang didampinginya merupakan juara pertama ASEAN Skills 2025 di Filipina. Menjelang WSC 2026, tim menjalani pelatihan selama sekitar tiga hingga empat bulan di training center industry.

Menurut Reza, Robot Systems Integration menjadi salah satu bidang yang mencerminkan kebutuhan teknologi industri saat ini. Perkembangan robotik dan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) membuat talenta vokasi perlu terus memperbarui dan meningkatkan kompetensinya.

“Kalau kita tidak meng-upskilling, tidak me-reskilling kita, kita akan ketinggalan zaman, ketinggalan teknologi yang nantinya akan diambil oleh AI dan robotik yang ada di dunia. Jadi, kita harus persiapkan ke era baru yaitu robotik dan AI,” ujarnya.

Reza juga menyampaikan optimisme terhadap kesiapan tim yang didampinginya untuk menghadapi kompetisi. Meskipun terdapat keterbatasan dalam penggunaan peralatan yang sama persis dengan perangkat kompetisi, proses pelatihan terus diarahkan agar kompetitor mampu beradaptasi dengan tuntutan lomba. “Targetnya di WorldSkills 2026 ini, tetap kita optimistis kita bisa bawa pulang emas pertama untuk Indonesia tahun ini di bidang Robot Systems Integration,” katanya.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, berharap kontingen Indonesia dapat menunjukkan kemampuan terbaik di panggung dunia sekaligus membawa pulang pengalaman yang dapat ditularkan kepada komunitas pendidikan dan vokasi di tanah air.

Wamen Fajar mengingatkan bahwa keberhasilan dalam sebuah kompetisi tidak semata-mata diukur dari medali yang diraih, tetapi juga dari mentalitas dan pengalaman yang dibangun selama proses persiapan dan kompetisi. “Juara itu bukan semata-mata kita ranking 1, ranking 2, atau ranking 3, ataupun tidak semata-mata kita meraih medali atau tidak, tetapi itu juara menyangkut soal mentalitas, menyangkut soal cara pandang hidup,” ujarnya.

Ia pun berpesan agar seluruh kontingen Indonesia tetap bangga atas proses yang telah dijalani dan membawa pulang pengalaman berharga dari Shanghai untuk dibagikan kepada masyarakat pendidikan dan vokasi di Indonesia.

“Apa pun hasilnya, pulanglah kembali ke tanah air dengan kebanggaan, dengan tanggung jawab bahwa apa yang telah dicapai di Shanghai, apa yang telah dilihat dan dipelajari di Shanghai itu perlu ditularkan, disebarkan di Indonesia, terutama di komunitas masing-masing,” pungkasnya.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers