Peringatan 60 Tahun Hari Aksara Internasional, Kemendikdasmen Dorong Literasi yang Berdampak

Peringatan 60 Tahun Hari Aksara Internasional, Kemendikdasmen Dorong Literasi yang Berdampak

Siaran Pers

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 796/sipers/A6/IX/2026

Jakarta, 8 September 2026 — Enam dekade setelah Hari Aksara Internasional (HAI) diproklamasikan UNESCO pada 1966, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mendorong agar peringatan HAI 2026 menjadi momentum memperluas makna literasi semakin berdampak untuk menjawab perubahan sosial, lingkungan, teknologi digital, dan kecerdasan artifisial.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa momentum ini menjadi pengingat bahwa masih banyak orang yang belum mendapatkan akses terhadap hak dasar mereka, hak untuk belajar, memahami, dan berkembang. “Ini adalah momentum refleksi dan aksi nyata bagi kita semua. Bapak-Ibu, para serta yang saya merayakan, para para sumber, literasi hari ini memiliki makna yang semakin luas. Literasi tidak lagi cukup dimaknai sekadar kemampuan membaca dan menulis,” ujarnya di Jakarta, Selasa (8/9) dalam Webinar Peringatan Hari Aksara Internasional 2026.

Menurut Abdul Mu’ti, di tengah perubahan sosial, krisis lingkungan, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial, masyarakat perlu mampu untuk memahami informasi secara kritis, berpikir reflektif terhadap konten yang dikonsumsi, terus belajar sepanjang hayat, serta menggunakan pengetahuan untuk memperbaiki kehidupan dan lingkungan.

Tahun ini menjadi istimewa karena menandai 60 tahun HAI. Mengusung tema global Literacy for People, the Planet and Prosperity, Indonesia mengadaptasinya menjadi “Literasi untuk Sesama, Semesta, dan Sejahtera.” Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, literasi harus membuat manusia semakin berdaya, mampu hidup bersama secara bermartabat, memahami keterhubungan dengan lingkungan, serta memiliki kecakapan untuk membangun kehidupan.

“Oleh karena itu, literasi tidak boleh dipahami secara sempit. HAI bukan semata mengenang masa lalu, tetapi kita sedang memastikan literasi tetap menjadi bekal manusia menghadapi masa depan,” jelasnya.

Tatang Muttaqin menguraikan, 60 tahun perjalanan Hari Aksara Internasional, mengajarkan bahwa ketika dunia berubah maka literasi pun harus terus berkembang. “Dulu kita berjuang agar setiap orang bisa membaca dan menulis. Hari ini tantangannya lebih luas lagi. Kita harus mampu membaca informasi, memilah mana yang benar dan mana yang menyesatkan, berpikir kritis menggunakan teknologi, dan menggunakan kecerdasan buatan secara bijak dalam mengambil keputusan serta terus belajar sepanjang hayat,” tuturnya.

Tiga kata yang menggambarkan perjalanan literasi. Pertama, Sesama karena literasi harus membuat manusia berdaya dan mampu hidup bersama secara bermartabat. Kedua, Semesta karena kita bukan hanya membaca buku tetapi juga membaca alam dan memahami tanggung jawab terhadap bumi. Ketiga, Sejahtera karena pengetahuan harus terus berujung pada kesempatan produktivitas dan kualitas hidup yang lebih baik.

Chief of Education at the UNESCO Regional Office in Jakarta, Santosh Kathri mengungkap bahwa selama 60 tahun terakhir, dunia telah membuat kemajuan yang signifikan. Hingga hari ini, lebih dari 88 persen orang dewasa di seluruh dunia telah melek aksara. Tapi setidaknya 739 juta orang dewasa di seluruh dunia belum memiliki keterampilan literasi dasar dan hampir dua pertiga dari mereka adalah perempuan. Lebih dari data angka dan kata-kata, literasi juga tentang memiliki pengetahuan, kemampuan, dan kepercayaan untuk membentuk dunia yang semakin baik.

“Semoga literasi terus membuka pintu ke pelajaran, kepemilikan, kepartisipasipasian, dan semakin inklusif untuk masa depan semua di Indonesia,” ujar Santosh.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman:kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

Belajar STEM dari Persoalan di Sekitar, Murid SMA Negeri 2 Surabaya Ciptakan Beragam Solusi

Belajar STEM dari Persoalan di Sekitar, Murid SMA Negeri 2 Surabaya Ciptakan Beragam Solusi

Siaran Pers

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 795/sipers/A6/IX/2026

Surabaya, 8 September 2026 — Pembelajaran STEM (Science, Technology, Engineering, dan Mathematics) tidak selalu hadir sebagai materi yang kompleks. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong penerapan STEM sebagai pendekatan yang memantik murid untuk peka terhadap persoalan di lingkungan sekitar dan menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk mencari solusi.

Dalam program yang dijalankan Kemendikdasmen, penerapan STEM dalam pembelajaran diarahkan untuk membangun budaya sekolah yang membiasakan murid untuk berani mencoba, kreatif mencipta, menguji dan memperbaiki, serta mencoba kembali. Proses tersebut diharapkan membentuk generasi Indonesia yang unggul dan mampu menghadapi berbagai tantangan masa depan.
 
Di SMA Negeri 2 Surabaya, STEM diterapkan melalui pembelajaran yang dekat dengan kehidupan murid, mulai dari persoalan lingkungan hingga pemanfaatan teknologi. Murid diajak mengamati masalah, mencari solusi, mencoba, mengevaluasi, hingga bereksperimen dan merancang produk.

Guru Fisika SMA Negeri 2 Surabaya, Neny Else Josephine, misalnya, mengembangkan pembelajaran yang menyenangkan dengan memanfaatkan teknologi digital. Dengan memanfaatkan berbagai perangkat sederhana dan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), murid diajak mengembangkan sendiri simulator fisika berbasis permainan untuk menjelaskan konsep-konsep fisika.
 
“Mereka memanfaatkan tools yang sangat sederhana dan gratis di internet, tetapi hasilnya sangat di luar ekspektasi. Anak-anak meluncur lebih jauh dalam mengeksplorasi konsep fisika yang dikembangkan dalam lab virtual,” ujar Neny.
 
Melalui proyek tersebut, murid tidak hanya mendalami konsep fisika, tetapi juga mengembangkan kemampuan untuk menjelaskan dan mempresentasikan hasil karyanya. Salah satu murid kelas XII, Reynaldo, mengembangkan produk berupa laman interaktif.

“Dari laman interaktif inilah kita bisa mendalami ilmu-ilmu fisika yang di beberapa tools internet tidak tersedia. Jadi selain untuk memahami, kita juga menambah alat baru yang terbuka untuk umum dan bisa digunakan bersama,” tutur Reynaldo.
 
Penerapan STEM juga terlihat dalam proyek yang mengangkat persoalan lingkungan. Guru Matematika SMA Negeri 2 Surabaya, Nimas Izmi Aufa, mengintegrasikan matematika dan fisika melalui proyek perancangan miniatur kota berbasis energi terbarukan. Menurutnya, STEM tidak diajarkan sebagai mata pelajaran tersendiri, tetapi diterapkan melalui pendekatan kontekstual yang mendorong murid membaca persoalan dan mencari solusi.
 
“Anak-anak jadi lebih kritis dalam menghadapi atau membaca sesuatu. Kemampuan literasi anak-anak juga semakin meningkat. Karena diberikan permasalahan-permasalahan kontekstual yang benar-benar nyata, jadi mereka mau membaca dan mencari,” jelas Nimas.
 
Proyek tersebut dikembangkan Ananda Aqila Zahir Diptyo, murid kelas XI, yang berangkat dari persoalan polusi dan keterbatasan lahan di Surabaya.

Ia merancang konsep miniatur pulau reklamasi yang dapat menjadi sumber energi terbarukan sekaligus ruang hutan kota untuk menyerap karbon dioksida. Ketertarikannya terhadap isu lingkungan telah tumbuh sejak SMP melalui keterlibatannya dalam organisasi yang membahas persoalan lingkungan di Surabaya dan Jawa Timur. Melalui proyek ini, ia merasa lebih leluasa menyampaikan ide dan mencari solusi atas persoalan yang dekat dengan kesehariannya.
 
Persoalan lingkungan lainnya diangkat Khalisha Zahratus Syita melalui proyek “Morico”, sebuah sistem pengelolaan air yang berangkat dari kondisi di desa yang masih memiliki keterbatasan akses dan pengelolaan air. Dalam proyek ini, air hujan ditampung untuk kebutuhan sehari-hari, kemudian dialirkan ke kolam pengendapan dengan memanfaatkan biji kelor sebagai biokoagulan. Setelah melalui proses filtrasi, air dipantau menggunakan sensor pH dan kekeruhan sebelum dimanfaatkan untuk menyiram tanaman dan budi daya ikan lele.

“Karena saya memiliki ketertarikan di bidang engineering, saya suka ketika ada isu-isu mengenai lingkungan yang bisa saya selesaikan. Ketika saya menemukan masalah dan saya bisa menemukan solusinya, saya merasa senang,” tutur Khalisha.
 
Guru Kimia SMA Negeri 2 Surabaya, Bahrul Ulum, mengatakan proyek-proyek tersebut berangkat dari ketertarikan murid terhadap kondisi lingkungan di sekitar mereka, yang kemudian dikaitkan dengan materi kimia hijau, termasuk prinsip pencegahan limbah. Menurutnya, pembelajaran berbasis persoalan nyata membantu murid melihat manfaat pengetahuan yang dipelajari sekaligus menumbuhkan kepedulian dan ketertarikan untuk belajar.
 
Penerapan STEM di sekolah menunjukkan bahwa pembelajaran dapat menjadi lebih bermakna ketika pengetahuan dikaitkan dengan kehidupan nyata. Melalui berbagai proyek, murid tidak hanya memahami konsep akademik, tetapi juga belajar mengidentifikasi masalah, mengembangkan gagasan, dan menghasilkan solusi bagi lingkungan di sekitarnya.  

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

GSI Jabar 2026 Resmi Berakhir, 6 Tim Raih Gelar Juara pada Kategori Putra & Putri

GSI Jabar 2026 Resmi Berakhir, 6 Tim Raih Gelar Juara pada Kategori Putra & Putri

Bandung Barat – Gelaran Gala Siswa Indonesia (GSI) Provinsi Jawa Barat Tahun 2026 resmi berakhir setelah mempertemukan talenta sepak bola jenjang SMP dari berbagai daerah di Jawa Barat. Kompetisi yang berlangsung di Kabupaten Purwakarta pada 2-6 September 2026 tersebut menjadi wadah bagi murid untuk mengembangkan kemampuan olahraga sekaligus membangun karakter melalui semangat kompetisi yang sehat.

Pada kategori putra, Kota Bogor berhasil meraih Juara 1, disusul Kota Bandung sebagai Juara 2 dan Kabupaten Bandung Barat sebagai Juara 3. Sementara itu, pada kategori putri, Kota Bandung keluar sebagai Juara 1, Kabupaten Cirebon meraih Juara 2, dan Kabupaten Indramayu menempati posisi Juara 3.

Capaian tersebut merupakan hasil dari kerja keras, semangat, kekompakan, dan sportivitas yang ditunjukkan para peserta sepanjang kompetisi. Prestasi yang diraih para juara tidak hanya menjadi kebanggaan, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembinaan talenta sepak bola pelajar di Jawa Barat untuk terus berkembang, mengasah kemampuan, dan meraih prestasi yang lebih tinggi di masa mendatang.

GSI Jawa Barat 2026 mengusung tema “Talenta Sehat, Hebat dan Berkarakter melalui Olahraga”. Tema tersebut menegaskan bahwa kegiatan olahraga di lingkungan pendidikan tidak hanya diarahkan pada pencapaian prestasi, tetapi juga menjadi sarana untuk membangun kebiasaan hidup sehat dan karakter murid.

BBPMP Provinsi Jawa Barat sebagai UPT Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah turut memberikan asistensi dalam persiapan dan penyelenggaraan GSI Jawa Barat 2026. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya bersama dalam mendorong pembinaan talenta murid melalui kegiatan olahraga yang sehat, sportif, dan berkarakter.

Selamat kepada seluruh juara dan peserta GSI Jawa Barat 2026. Setiap perjuangan dan prestasi yang diraih menjadi bekal sekaligus motivasi untuk terus berlatih, berkembang, dan mengukir prestasi yang lebih tinggi, serta memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan olahraga dan pendidikan di Jawa Barat.

Kemendikdasmen Kembali Buka Program Beasiswa S1/D4 bagi Guru

Kemendikdasmen Kembali Buka Program Beasiswa S1/D4 bagi Guru

Siaran Pers

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 794/sipers/A6/IX/2026

Jakarta, 7 September 2026 – Kesempatan guru untuk meningkatkan kualifikasi akademik semakin terbuka. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) memfasilitasi 32.828 guru untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Sarjana (S-1)/Diploma Empat (D-4) pada 2026 melalui Program Pemenuhan Kualifikasi Akademik S-1/D-4 Guru.

Program tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi dengan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). Kemitraan ini diperkuat melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Program Pemenuhan Kualifikasi Akademik S-1/D-4 Guru Gelombang 3, sebagai bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kualitas dan profesionalisme guru di seluruh Indonesia.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Nunuk Suryani, menekankan bahwa peningkatan kualitas guru merupakan bagian penting dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua. “Bangsa yang maju ditentukan oleh seberapa baik kualitas sumber daya manusianya. Oleh karena itu, pendidikan merupakan kunci penting dalam membangun manusia Indonesia, terutama ditentukan dengan kualitas gurunya,” ujar Nunuk.

Ia menegaskan bahwa kesempatan memperoleh kualifikasi akademik harus terbuka bagi semua guru, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. “Kualifikasi bukanlah mimpi. Bapak Presiden Prabowo dan Bapak Mendikdasmen membuka kesempatan bagi guru-guru yang memiliki keterbatasan untuk bisa belajar di perguruan tinggi,” tegasnya dalam kegiatan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Program Pemenuhan Kualifikasi Akademik S-1/D-4 Guru Gelombang 3 di Jakarta, Senin (7/9).

Selain itu, Nunuk menjelaskan bahwa program dirancang agar guru tetap dapat menjalankan tugasnya di sekolah selama mengikuti perkuliahan. LPTK penyelenggara memberikan skema perkuliahan secara fleksibel sehingga guru dapat belajar tanpa meninggalkan sekolah dan murid-muridnya.

Pada Gelombang 3 tahun 2026, sebanyak 45.660 guru mendaftar, dan 32.828 guru difasilitasi mengikuti program. Peserta terdiri atas 25.936 guru dan pendidik PAUD, 3.278 guru SD, 3.391 guru mata pelajaran jenjang SMP, SMA, dan SMK, serta 223 guru SLB. Dengan total 127 LPTK dimana sebanyak 35 LPTK yang baru bergabung turut bergotong royong mendukung pemenuhan kualifikasi akademik guru pada tahun ini.

Nunuk mengatakan bahwa kemitraan dengan perguruan tinggi merupakan bentuk gotong royong untuk menjawab tantangan peningkatan kualitas guru. “Perjanjian kerja sama yang dilakukan bersama Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan merupakan salah satu bentuk gotong royong dalam memajukan pendidikan. Dengan semangat kolaboratif dan bersinergi, bergerak bersama memajukan pendidikan melalui peningkatan kualitas guru,” katanya.

Lebih jauh, pemenuhan kualifikasi S-1/D-4 ini sekaligus membuka jalan bagi guru untuk mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) Guru Tertentu dan memperoleh sertifikasi pendidik. Pada 2026, sebanyak 8.900 guru ditargetkan menyelesaikan Program Pemenuhan Kualifikasi Akademik Gelombang 1 melalui skema afirmasi untuk kemudian melanjutkan ke program PPG.

Nunuk mengingatkan bahwa indikator keberhasilan program tidak sekadar bermuara pada lembar ijazah, melainkan pada peningkatan mutu pembelajaran yang dirasakan langsung oleh murid. “Program ini bukan hanya memenuhi tuntutan regulasi, tetapi lebih jauh mendukung upaya dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua. Tak hanya kualifikasi yang terpenuhi, namun juga meningkatnya kompetensi guru dalam melaksanakan proses belajar dan mengajar di kelas,” pesannya.

Sementara itu, Direktur Guru Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Nonformal (Dir. Guru PAUD dan PNF), Saiful Bari, mengapresiasi dukungan LPTK yang turut membuka akses peningkatan kualifikasi bagi para guru. “Apresiasi yang setinggi-tingginya kami sampaikan kepada Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan penyelenggara Program Pemenuhan Kualifikasi Akademik S-1/D-4 Guru atas dukungan dan kerja samanya. Kehadiran Ibu/Bapak hari ini menunjukkan komitmen kita bersama untuk menghadirkan pendidikan bermutu bagi semua anak Indonesia,” ungkap Saiful.

Ia menambahkan bahwa peningkatan kualifikasi guru memiliki dampak yang lebih luas karena berkaitan langsung dengan kualitas layanan pendidikan yang diterima murid. “Berdasarkan data Dapodik, sebanyak 174.520 guru belum memenuhi kualifikasi akademik S-1/D-4, dan sebagian besar berasal dari Guru PAUD dan SD. Artinya, ratusan ribu anak didik kita masih belajar bersama guru yang perlu kita dukung untuk meningkatkan kompetensinya,” pungkasnya.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

Revitalisasi dan Digitalisasi, Mengubah Ruang Belajar dan Membuka Harapan Baru

Revitalisasi dan Digitalisasi, Mengubah Ruang Belajar dan Membuka Harapan Baru

Siaran Pers

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 793/sipers/A6/IX/2026

Jakarta, 6 September 2026 — Program Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Digitalisasi Pembelajaran tidak hanya menghadirkan perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, tetapi juga membawa perubahan yang dirasakan langsung oleh satuan pendidikan di berbagai daerah. Ruang belajar yang lebih nyaman, fasilitas yang semakin layak, serta pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran menjadi bagian dari perubahan yang terjadi setelah program dilaksanakan.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, pada 2025 program revitalisasi telah menjangkau 16.167 satuan pendidikan. Pada tahun yang sama, pemerintah juga mendistribusikan Interactive Flat Panel (IFP) ke sekolah-sekolah sebagai bagian dari percepatan digitalisasi pembelajaran.

“Alhamdulillah tahun 2025 revitalisasi 16.167 satuan pendidikan berjalan dengan lancar, demikian pula distribusi IFP ke sekolah-sekolah. Budaya sekolah yang aman dan nyaman merupakan kebijakan Kemendikdasmen dalam rangka menumbuhkan iklim belajar yang humanis, inklusif, dan partisipatif. Dan program revitalisasi juga merupakan bagian dari fasilitas yang tidak terpisahkan dengan gerakan yang dicanangkan Bapak Presiden yaitu membangun budaya ‘ASRI’ (Aman, Sehat, Resik, dan Indah),” ujar Mendikdasmen.

Dampak program juga dirasakan di Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Keerom, Deivy Regar, mengatakan revitalisasi menciptakan suasana belajar yang lebih nyaman, sementara digitalisasi membuka akses dan pengalaman pembelajaran baru bagi peserta didik di wilayah 3T. Menurutnya, keberlanjutan digitalisasi perlu diiringi peningkatan kapasitas guru agar teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal.

“Program revitalisasi pendidikan ini sangat bermanfaat dan sangat terasa sekali untuk satuan pendidikan yang ada di kabupaten kami, program ini menciptakan suasana belajar yang lebih nyaman untuk guru maupun peserta didik di sekolah kami, digitalisasi juga itu membawa dampak yang sangat baik, membawa suasana yang baru untuk anak-anak kami khususnya kami di daerah 3T. Dengan adanya bantuan digitalisasi ini membuat peserta didik kami lebih belajar dan membuka akses serta suasana baru dengan yang selama ini pembelajarannya bersifat konvensional, sekarang dengan adanya digitalisasi anak-anak kami bisa lebih mengikuti perkembangan zaman di era digitalisasi,” ujar Deivy.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah, Muhammad Reza Prabowo, mengatakan program revitalisasi dan digitalisasi menjadi harapan baru untuk meningkatkan pemerataan kualitas pembelajaran. “Program revitalisasi dan digitalisasi pendidikan ini adalah harapan baru bagi kita, khususnya anak-anak pedalaman di Kalimantan Tengah. Di mana dengan adanya program revitalisasi dan digitalisasi itu bisa menyamaratakan kualitas pembelajaran antara yang di kota, pedesaan, maupun pedalaman,” ujar Reza.

Salah satu praktik yang dikembangkan adalah Kelas Digital Huma Betang untuk mengatasi keterbatasan guru melalui pembelajaran hibrida. Didukung konektivitas internet dan perangkat Starlink yang diberikan pemerintah provinsi, guru dapat mengajar peserta didik dari lokasi berbeda, termasuk untuk mata pelajaran yang sebelumnya kekurangan tenaga pengajar.

Di Provinsi Banten, perubahan program revitalisasi terlihat dari kondisi fisik sekolah yang sebelumnya mengalami kerusakan atau belum memiliki ruang kelas yang memadai. Setelah mendapatkan revitalisasi, peserta didik dapat belajar dalam lingkungan yang lebih nyaman dan kondusif. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten, Jamaluddin, mengatakan revitalisasi memberikan perubahan nyata bagi sejumlah sekolah di wilayahnya. Pemanfaatan IFP turut mendukung pembelajaran interaktif di sekolah-sekolah Banten, termasuk menghubungkan guru dengan peserta didik yang belajar dari rumah.

“Provinsi Banten Alhamdulillah di tahun kemarin mendapatkan 110 sekolah penerima manfaat revitalisasi. Saya cukup bangga melihat sekolah-sekolah yang tadinya di daerah selatan seperti Lebak, Pandeglang, termasuk di kota juga, sekolah yang rusak, tidak punya RKB (Ruang Kelas Baru), sekarang anak-anak kita sekolah dengan nyaman dan kondusif. Pak Gubernur sangat mendukung terkait dengan program revitalisasi ini, bahkan didukung juga dengan kegiatan dari APBD Provinsi Banten,” ujar Jamaluddin.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Intan Jaya, Papua, Ertinus, mengatakan revitalisasi menjadi harapan bagi sekolah-sekolah di wilayahnya, terutama setelah daerah tersebut menghadapi konflik berkepanjangan. Menurut Ertinus, pengembangan digitalisasi di Intan Jaya masih menghadapi tantangan jaringan internet dan ketersediaan listrik. Karena itu, dukungan terhadap digitalisasi perlu disesuaikan dengan kondisi lapangan agar teknologi yang diberikan dapat benar-benar digunakan oleh satuan pendidikan.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers