Bandung Barat – Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Barat menerima kunjungan koordinasi dari Yayasan Pulih dan Save the Children pada Senin (21/9/2026). Kunjungan ini membahas pelaksanaan program dukungan kesehatan mental dan psikososial bagi dunia pendidikan.
Program yang dibahas meliputi pendekatan Healing and Education Through Art (HEART) di Kota Bandung serta program Kelompok Dukungan Sebaya di Kabupaten Cianjur. Kedua program tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan dukungan kesehatan mental dan psikososial di lingkungan pendidikan.
Dalam pertemuan tersebut, BBPMP Jawa Barat bersama Yayasan Pulih dan Save the Children berdiskusi mengenai perkembangan program, pemetaan kebutuhan dukungan, serta sinergi pelaksanaan kegiatan kesehatan mental dan psikososial bagi guru dan murid di wilayah sasaran. Koordinasi yang berkelanjutan ini diharapkan dapat memperkuat dukungan bagi ekosistem pendidikan. Dengan demikian, pelaksanaan program dapat memberikan dampak positif bagi guru maupun murid.
Bandung, Jawa Barat, 22 September 2026 – Sebanyak 150.000 guru mendapat kesempatan menuntaskan kualifikasi akademik S1 atau D4 melalui Program Pemenuhan Kualifikasi Akademik (PKA) yang dilaksanakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Kuota program PKA melalui mekanisme Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) tersebut meningkat signifikan dari 12.500 penerima manfaat pada tahun sebelumnya. Perluasan kesempatan ini menjadi bagian dari upaya Kemendikdasmen mempercepat pemenuhan kualifikasi akademik bagi ratusan ribu guru yang belum memenuhi kualifikasi minimal S1 atau D4 sesuai amanat Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
Program PKA merupakan program bagi guru untuk memenuhi kualifikasi pendidikan S1 atau D4. Salah satu mekanisme pelaksanaannya adalah RPL, yang memungkinkan capaian pembelajaran yang telah dimiliki guru untuk diakui dan dipertimbangkan dalam proses pendidikan sesuai ketentuan perguruan tinggi.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa program PKA tidak hanya menjadi sarana percepatan bagi guru untuk memperoleh kualifikasi pendidikan S1 atau D4, tetapi harus berdampak pada peningkatan kualitas dan kompetensi guru. Hal tersebut disampaikannya saat memberikan kuliah umum kepada mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Bandung (UMB), Jawa Barat, Senin (21/9). Dalam kesempatan tersebut, Wamen Fajar mengapresiasi UMB yang menjadi mitra Kemendikdasmen dalam pelaksanaan program PKA melalui RPL.
“Harapan kita kan ini bukan hanya formalitas mengikuti PKA dan dapat setara S1, tetapi juga harus berdampak terhadap kualitas dan kompetensi para guru kita,” ujarnya.
Wamen Fajar mengungkapkan masih terdapat ratusan ribu guru yang belum menyelesaikan pendidikan S1 atau D4 karena berbagai keterbatasan. Oleh karena itu, Kemendikdasmen menjadikan percepatan pendidikan guru dengan Program PKA melalui RPL sebagai salah satu program prioritas.
“Karena itu salah satu program prioritas kami di Kemendikdasmen adalah mempercepat para guru-guru kita untuk segera mendapatkan pendidikan S1 atau D4 dalam bentuk program PKA melalui RPL,” tuturnya.
Menurutnya, penguatan kompetensi guru melalui PKA merupakan bagian penting dalam memastikan transformasi pendidikan di Indonesia berjalan secara simultan karena guru merupakan aktor utama dalam proses pembelajaran.
Dalam kuliah umumnya, Wamen Fajar juga mengajak para mahasiswa, termasuk guru peserta PKA melalui RPL, untuk terus membangun budaya belajar tanpa terhalang faktor usia. Para guru yang mengikuti program PKA melalui RPL disebutnya menjadi contoh bahwa semangat belajar dapat terus menyala meskipun berada pada usia yang lebih matang.
“Usia bukan hambatan untuk mencari ilmu,” katanya.
Melalui kerja sama Kemendikdasmen dengan perguruan tinggi seperti UMB, pemerintah optimistis para guru tidak hanya memperoleh kualifikasi akademik formal, tetapi juga memiliki kompetensi yang semakin kuat untuk mendukung proses pembelajaran yang hidup dan berorientasi pada murid di sekolah. Penulis: Rayhan/Editor: Uly
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Cimahi, Jawa Barat, 21 September 2026 – Gedung Galeri Kejuruan di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Mesin dan Teknik Industri (BBPPMPV BMTI), Cimahi, Jawa Barat, kini menjadi ruang yang mempertemukan karya guru, inovasi teknologi, dan kebutuhan dunia industri. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti meresmikan gedung tersebut sekaligus membuka rangkaian Gelar Karya Pelatihan Peningkatan Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) Vokasi dengan tema Etalase Karya, Kemitraan Industri, dan AI untuk Transformasi Pendidikan Vokasi”, Senin (21/9).
Bagi Abdul Mu’ti, Galeri Kejuruan tidak hanya menjadi tempat memajang hasil karya. Ia berharap ruang tersebut terus hidup dengan menghadirkan inovasi dan kreativitas baru dari SMK dan balai pendidikan vokasi. “Gedung Galeri itu menjadi pusat yang di dalamnya ditampilkan berbagai inovasi, kreativitas, dan juga capaian yang berbasis teknologi yang dikembangkan oleh SMK-SMK yang ada di Indonesia,” ujar Mu’ti. Ia menekankan agar koleksi Galeri Kejuruan diperbarui setiap tahun sehingga perkembangan teknologi dan kreativitas pendidikan vokasi dapat terus terlihat.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Dirjen Dikmen Diksus), Tatang Muttaqin, mengatakan peresmian Galeri Kejuruan menjadi penanda bahwa peningkatan mutu pendidikan vokasi harus bergerak dari konsep menuju praktik. Menurutnya, tantangan pendidikan vokasi saat ini mencakup percepatan perkembangan teknologi, implementasi kemitraan dengan industri yang belum sepenuhnya hadir dalam pembelajaran, serta pemanfaatan teknologi pembelajaran yang belum merata. “Hari ini kita ingin membuktikan bahwa tantangan itu bisa kita jawab dengan aksi nyata,” kata Tatang.
Tatang menjelaskan, Galeri Kejuruan dirancang sebagai rumah inovasi tempat guru belajar dan murid berkarya. Pada saat yang sama, kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) diarahkan untuk menghasilkan kegiatan nyata seperti pengajaran berbasis pabrik (teaching factory), kurikulum bersama, proyek, dan sertifikasi yang membuka jalan bagi murid menuju dunia kerja. “Kita tidak ingin MoU hanya menjadi dokumen yang rapi di atas meja; MoU harus turun ke dalam kelas,” ujarnya.
Penguatan kompetensi tersebut dilakukan melalui Pelatihan Daring Terbimbing Angkatan 6 yang terdiri dari 16 kelas dengan total peserta sebanyak 320 guru SMK dan pelatihan bagi 16 instruktur lembaga kursus dan pelatihan (LKP) untuk produksi iklan animasi 3D terintegrasi AI. Karya hasil pelatihan ditampilkan melalui gelar karya sebagai bukti bahwa peningkatan kompetensi guru tidak berhenti pada sertifikat, tetapi menghasilkan produk pembelajaran, perangkat ajar, dan inovasi yang dapat diterapkan di kelas maupun bengkel kerja.
Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu’ti juga menyaksikan penguatan kemitraan Kemendikdasmen melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus dengan PT ASIX Indonesia Cerdas sebagai landasan formal kemitraan pengembangan kompetensi berbasis kecerdasan buatan, robotika, dan teknologi drone di lingkungan pendidikan vokasi. Kegiatan ini merupakan soft launch kolaborasi AI vokasi bersama PT Asix Indonesia Cerdas, meliputi aktivasi platform AI vokasi yang dirancang untuk mendukung penyusunan modul ajar, personalisasi pembelajaran, dan efisiensi beban administratif guru SMK. Lalu juga penandatanganan Rencana Kerja antara BBPPMPV BMTI dengan PT Agate International dan PT Handal Yesindo Sejahtera sebagai tindak lanjut operasional kemitraan industri di bidang pengembangan konten dan teknologi pembelajaran.
Mu’ti menegaskan bahwa pengembangan pendidikan vokasi juga perlu memperkuat keterhubungan antara pendidikan formal dan nonformal agar lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Kemendikdasmen, kata dia, mulai merancang skema yang memungkinkan lulusan SMK maupun SMA memiliki ijazah sekaligus sertifikat keahlian yang diperoleh melalui kursus dan pelatihan. “Berbagai kritik tentu saja kita dengar, tapi kita jawab dengan bekerja, bukan hanya dengan berkata-kata,” tegasnya. Ia juga mengajak murid SMK untuk percaya diri karena pendidikan vokasi membekali mereka dengan kompetensi yang tidak kalah dengan jalur pendidikan lainnya.
Sejalan dengan itu, pemanfaatan kecerdasan artifisial diarahkan untuk memperkuat pembelajaran, bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi. Mu’ti mengingatkan agar kecerdasan artifisial digunakan secara bertanggung jawab dan sesuai dengan nilai serta budaya bangsa Indonesia.
Dirjen Tatang dalam kesempatan tersebut mengajak guru, sekolah, industri, dan pemerintah daerah memastikan hasil kegiatan memberikan manfaat nyata setelah acara berakhir. “Hari ini kita meresmikan fasilitas, besok kita hidupkan manfaatnya. Hari ini kita menandatangani kemitraan, besok kita wujudkan hasilnya,” katanya. Menurut Tatang, tujuan akhirnya bukan hanya membangun gedung, teknologi, atau kemitraan, tetapi menyiapkan masa depan anak-anak Indonesia melalui pendidikan yang terus berkembang serta memberi ruang bagi guru dan murid untuk bertumbuh.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah