Jayapura, Papua, 20 Oktober 2026 — Pemanfaatan Interactive Flat Panel (IFP) atau Papan Interaktif Digital (PID) membuat suasana pembelajaran di SMA Negeri 2 Jayapura terasa lebih menyenangkan. Dalam mata pelajaran kimia, kecanggihan teknologi pada perangkat PID membuat pembelajaran yang sebelumnya terlihat abstrak menjadi lebih nyata.
Hardianti, guru Kimia SMAN 2 Jayapura, menjadikan PID sebagai media untuk membangun kreativitas murid dan mengubah stigma abstrak kimia menjadi lebih bermakna. Melalui Laboratorium Virtual Stoikiometri dalam platform Rumah Pendidikan, Hardianti menghadirkan visualisasi dan animasi guna menjelaskan berbagai konsep kimia yang sulit diamati secara langsung.
“Ketika mengetahui adanya PID, saya merasa sangat terbantu. Mata pelajaran memiliki materi yang sifatnya abstrak dan tidak terlihat oleh mata. Murid terkadang bertanya bagaimana contoh konkretnya. Dengan PID, saya bisa mencari dan menunjukkan animasi yang membantu mereka memahami hal-hal yang sebelumnya sulit dibayangkan,” ujar Hardianti.
Selain membantu menjelaskan materi, penggunaan IFP turut mengubah dinamika pembelajaran di kelas. Hardianti menyebut, muridnya kini mudah untuk bekerja sama menyelesaikan tugas pembelajaran yang dirancang guru, sehingga proses belajar tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, namun juga pada keterlibatan dan pengalaman belajar murid.
“Kini anak-anak sangat dekat dengan teknologi. Oleh karena itu, saya berusaha terus mencari ide dan berinovasi agar mereka semakin tertarik belajar kimia. Dengan harapan mereka lebih bersemangat mengikuti pembelajaran dan dapat memahami materi dengan cara yang lebih menyenangkan,” tutur Hardianti.
Pengalaman belajar menyenangkan juga turut disampaikan oleh murid kelas XI SMAN 2 Jayapura, Nelson Mariadu. Baginya, penyajian materi secara visual membuat konsep kimia yang sebelumnya sulit dibayangkan menjadi lebih mudah dipahami.
Salah satu materi yang paling menarik bagi Nelson adalah konfigurasi elektron dan bentuk molekul. Melalui tampilan visual dan permainan edukatif di PID, ia dapat mengamati representasi bentuk molekul serta berlatih memahami konsep kimia dengan cara yang lebih menyenangkan.
”Permainan edukatif seperti latihan menyetarakan persamaan reaksi kimia dan menentukan konfigurasi elektron juga menjadi pengalaman yang berkesan bagi saya. Melalui aktivitas tersebut, saya bersama teman-teman dapat mempelajari konsep secara bertahap dan memaknai kimia dalam aspek lebih luas,” terang Nelson.
Saat meninjau pemanfaatan PID, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menilai penggunaan media tersebut mendapat respon positif karena mampu membantu guru menyampaikan materi secara lebih. Pemanfaatan PID, menurut Mendikdasmen, juga selaras dalam penerapan pembelajaran mendalam (deep learning).
”Upaya tersebut tentunya untuk mendorong proses belajar lebih bermakna, menyenangkan, dan melibatkan murid secara aktif. Dengan demikian, pemanfaatan teknologi pembelajaran melalui PID kami harapkan dapat menjaga antusiasme dan meningkatkan semangat murid saat belajar di sekolah,” pungkas Mendikdasmen Abdul Mu’ti, di Jayapura, Senin (19/10).
Dukungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Digitalisasi Pembelajaran terus berlanjut. Tahun 2026, Kemendikdasmen mencatat sebanyak 2.688 IFP telah tersalur kepada 1.409 sekolah di Provinsi Papua dengan total anggaran lebih dari Rp83 miliar. Khusus di Kota Jayapura, IFP telah tersalur sebanyak 410 unit kepada 144 sekolah dengan nilai anggaran lebih dari Rp12 miliar.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Jakarta, 20 Oktober 2026 — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Pengembangan Prestasi dan Karakter (Puspreska) mengirimkan 16 murid jenjang pendidikan menengah yang tergabung dalam delapan tim untuk mengikuti ajang internasional Young Inventors Challenge (YIC) 2026. Rangkaian pelaksanaan ajang tersebut berlangsung pada 12–19 Oktober 2026 di Jakarta.
Kepala Pusat Pengembangan Prestasi dan Karakter (Puspreska), Rusprita Putri Utami, menyampaikan bahwa pengembangan talenta murid perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan memberikan kesempatan kepada setiap murid untuk bertumbuh sesuai dengan potensi yang dimiliki.
“Setiap murid memiliki potensi dan keunikan masing-masing yang perlu dikenali, dikembangkan, dan diberikan ruang untuk bertumbuh agar mampu mencapai potensi terbaiknya. Semoga adik-adik meraih prestasi yang membanggakan di ajang Young Inventors Challenge,” ujar Rusprita.
Persiapan menuju ajang YIC 2026 dimulai melalui Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2025. Sebanyak 12 tim pemenang OPSI yang terdiri atas 24 murid sebelumnya mengikuti pra pembinaan YIC 2026 pada 2–6 Maret 2026 di Jakarta. Dalam kegiatan tersebut, para murid mempresentasikan hasil penelitian OPSI 2025 dan proposal dengan format YIC, memperoleh pendalaman penyempurnaan proposal riset, penguatan visualisasi produk, serta pendampingan dari pembina dan alumni YIC.
Lebih lanjut, para murid mengikuti pembinaan tahap I dan tahap II YIC. Dari proses pembinaan tersebut, sebanyak delapan tim lolos sebagai 32 besar finalis. Para murid membawa beragam gagasan penelitian yang mengangkat pemanfaatan teknologi, kesehatan, lingkungan, pertanian, dan solusi bagi masyarakat. Presentasi dan wawancara utama (online viva session) YIC diselenggarakan pada Sabtu, 17 Oktober 2026.
Adapun delapan tim delegasi Indonesia beserta inovasi yang diusung dalam YIC 2026 adalah sebagai berikut:
Tim PORTIS, Cameela Ahmad dan Shaheza Aleesha Risky dari SMA Negeri 1 Sumenep, dengan penelitian DRAVIS: The Use of Drone Surveillance Equipped with YOLO Computer Vision Framework for Monitoring and Detecting Illegal Fishing, yang mengembangkan pemanfaatan teknologi drone untuk memantau dan mendeteksi praktik penangkapan ikan ilegal.
Tim Tirto’s User, Hanin Naurayani Alifa dan Khariza Fazari Shafiya dari SMA Negeri 2 Ponorogo, dengan penelitian Integrated and Automatically Controlled Irrigation System (TIRTO) for Rice Fields Based on Artificial Intelligence, yang mengembangkan sistem irigasi sawah terintegrasi dan otomatis berbasis kecerdasan artifisial.
Tim AGRITEVO, Muhammad Rijal dan Salwa Salsabila Az dari SMAS Islam Athirah, Sulawesi Selatan, dengan penelitian AGRITEVO: Internet of Things (IoT)-Based Rice Seedling Incubator Powered by Solar Energy, yang mengembangkan inkubator kecambah padi berbasis Internet of Things (IoT) dengan dukungan energi surya.
Tim ChemisTwin, Safira Laksmi Dewi dan Prayogo Aryobimo dari SMA Nasional KPS, Kalimantan Timur, dengan penelitian NANOVA: Ecofriendly Cellulose Nanocrystals (CNC)-SiO₂-PDMS Superhydrophobic Coating for Robust Steel Protection, yang mengembangkan pelapis superhidrofobik ramah lingkungan untuk perlindungan material baja.
Tim SCAB, Revalina Marbun dan Kayra Naurin Aqueeni dari SMA Negeri 6 Yogyakarta, dengan penelitian EnviroSmart Device: Smart Guidance and Emergency Device for Visually Impaired, yang mengembangkan perangkat pemandu cerdas dan pemberitahuan darurat bagi penyandang tunanetra.
Tim AKU DAH LUPA, Fathan Abdillah Al Attar dan Fachry Bahtiar Rahadiansyah dari MAN 2 Kota Malang, dengan penelitian AlzScan: An Alzheimer’s Disease Detection System Using EfficientNetV2 and Multi-Head Self-Attention on MRI Images, yang mengembangkan sistem pendeteksi penyakit Alzheimer melalui analisis citra MRI berbasis web.
Tim SYFORCE, Muhammad Sulthan Fadhil Ardani dan Alrizta Winant Maliki Herdyanto dari MAN Insan Cendekia Pekalongan, dengan penelitian SIMUFLEX: A Wearable Spinal Curvature Measurement System Based on Fusion Sensor for Detecting Scoliosis, yang mengembangkan perangkat pakai untuk mengukur kelengkungan tulang belakang menggunakan sistem fusi sensor.
Tim DewaCerva, Muhammad Bagir dan Xahida Xena Xanadu Adam Talib dari SMA Negeri 8 Jakarta, dengan penelitian DewaCerva: Lipid-Polymer Hybrid Nanoparticles (LPNs) of Dewandaru (Eugenia uniflora L.) Leaf Extract for Cervical Cancer Therapy with Evaluation of p53, AKT and mTOR Pathways, yang meneliti potensi formulasi nanopartikel berbasis ekstrak daun dewandaru dalam penelitian terapi kanker serviks.
Koordinator Pembina YIC 2026, Abu Amar dari Institut Teknologi Indonesia (ITI), mengapresiasi upaya dan kerja keras para murid yang mengikuti rangkaian pembinaan hingga berhasil melaju ke tahap 32 besar YIC 2026. Ia berharap capaian tersebut dapat berlanjut dengan hasil terbaik pada pengumuman pemenang yang dijadwalkan pada November mendatang.
“Alhamdulillah untuk tahun ini luar biasa. Pada pra pembinaan, sebanyak 12 tim diseleksi menjadi sembilan tim. Selanjutnya, penelitian dari kesembilan tim dikirimkan dan sebanyak delapan tim berhasil melaju ke tahap 32 besar. Anak-anak sudah berusaha semaksimal mungkin. Mudah-mudahan saat pengumuman pemenang pada bulan November mendatang mendapatkan hasill terbaik,” jelas Abu Amar.
Keikutsertaan delegasi Indonesia dalam YIC 2026 menjadi bagian dari implementasi Manajemen Talenta Murid, yang mendorong pengembangan potensi melalui tahapan identifikasi, pengembangan, aktualisasi, apresiasi, dan pemanfaatan talenta. Pengalaman mengikuti kompetisi internasional diharapkan dapat memperkuat kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, serta keterampilan murid dalam menyampaikan gagasan ilmiah.
Muhammad Rijal dari SMAS Islam Athirah, Sulawesi Selatan (Tim AGRITEVO), menerangkan penelitiannya yang bermanfaat untuk petani. “Penelitian kami mengembangkan inkubator untuk menyemai kecambah benih padi. Tujuannya untuk meminimalisir kegagalan para petani dalam tahap penyemaian benih padi. AGRITEVO kami rancang dengan solar panel, ESP32, sensor kelembaban tanah, dan sensor suhu,” jelas Rijal.
Pengalaman mengesankan selama mengikuti pembinaan disampaikan oleh Fachry Bahtiar Rahadiansyah dari MAN 2 Kota Malang (Tim AKU DAH LUPA). “Pembinaan ini sangat seru dan bermanfaat untuk kami, khususnya dalam persiapan untuk berkompetisi di ajang Young Inventors Challenge,” ujarnya.
Sebagai informasi, Young Inventors Challenge merupakan ajang penelitian internasional yang diselenggarakan oleh Association of Science, Technology, and Innovation (ASTI) untuk mendorong kolaborasi murid sekolah menengah dalam menghasilkan produk dan solusi inovatif terhadap berbagai persoalan, termasuk yang relevan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Indramayu – SMAS NU Tenajar Kidul Indramayu, menggelar kegiatan Open House Revitalisasi Sekolah pada hari Jumat (16/10/2026). Kegiatan ini menjadi momentum untuk melihat secara langsung hasil revitalisasi sekaligus memperkuat kolaborasi antara sekolah, pemerintah, orang tua, dan masyarakat dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan.
Pada tahun 2026, SMAS NU Tenajar Kidul menerima bantuan revitalisasi sebesar Rp773.034.000. Bantuan tersebut digunakan untuk merehabilitasi dua ruang kelas atau ruang serbaguna, satu ruang perpustakaan, satu ruang laboratorium komputer, serta toilet beserta fasilitas sanitasinya. Seluruh ruang yang direhabilitasi memiliki tingkat kerusakan minimal sedang, dengan perbaikan yang mencakup perabot sesuai peruntukannya.
Kegiatan open house dihadiri oleh Kepala BBPMP Provinsi Jawa Barat, perwakilan Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Wilayah IX, perwakilan Forkomcat, orang tua siswa, serta masyarakat sekitar sekolah.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyampaikan bahwa revitalisasi tersebut merupakan bagian dari upaya perbaikan dan pembangunan sekolah di berbagai jenjang pendidikan di Jawa Barat. Ia juga mengapresiasi dukungan pemerintah pusat dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
“Ini bagian kecil saja dari banyaknya bantuan rehab sekolah, pembangunan sekolah baru, SD, SMP, SMA, dan SMK di seluruh provinsi Jawa Barat. Dan tentunya seluruh bangunan ini merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Saya atas nama masyarakat Provinsi Jawa Barat mengucapkan terima kasih buat Bapak Presiden Prabowo Subianto yang memiliki perhatian yang kuat terhadap upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia,” ujar Dedi Mulyadi.
Sejalan dengan hal tersebut, Kepala KCD Pendidikan Wilayah IX, Didin Mahpudin, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya program revitalisasi sekolah. Ia berharap program tersebut dapat mendukung terwujudnya cita-cita pendidikan yang lebih baik.
“Kami ucapkan terima kasih atas terselenggaranya dua program kegiatan ini yang sangat luar biasa kepada Bapak Presiden. Kepada Bapak Kementerian Mendikdasmen dan kepada Pak Gubernur, mudah-mudahan tujuan pemulihan cita-cita pendidikan segera tercapai,” ujar Didin.
Manfaat revitalisasi dirasakan langsung oleh warga sekolah, terutama dalam menunjang kenyamanan belajar. M. Adnan Sadewa, siswa SMAS NU Tenajar Kidul, mengungkapkan bahwa ruang yang telah direvitalisasi kini terasa lebih hidup dan nyaman digunakan. Kiki Rahmat, siswa lainnya, juga merasa lebih nyaman dengan kondisi sekolah setelah dilakukan perbaikan.
Perubahan turut dirasakan pada fasilitas sanitasi. Alesia Kris, siswi SMAS NU Tenajar Kidul, mengatakan bahwa toilet kini lebih nyaman digunakan, airnya jernih, serta pintunya telah dilengkapi kunci. Sementara itu, Vika Angelya menilai penggunaan Papan Interaktif Digital (PID) membuat pembelajaran lebih mudah dipahami oleh siswa.
Kepala SMAS NU Tenajar Kidul, Badrudin, menyampaikan terima kasih kepada Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah atas bantuan revitalisasi yang diterima sekolahnya. Ia bersyukur pembangunan telah selesai sehingga fasilitas yang diperbaiki dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pembelajaran.
Selain mendukung kegiatan belajar, revitalisasi juga memberikan dampak bagi masyarakat sekitar. Herudin, pekerja proyek revitalisasi, mengungkapkan bahwa pembangunan tersebut turut membantu perekonomiannya. Puni, pemilik kantin sekolah, juga merasakan manfaat dari meningkatnya aktivitas usaha setelah renovasi. Ia berharap warga sekolah dapat menjaga dan merawat fasilitas yang telah diperbaiki.
Berbagai manfaat tersebut diharapkan dapat diiringi dengan kepedulian warga sekolah dalam menjaga fasilitas yang telah tersedia. Evatul Jannah, siswi SMAS NU Tenajar Kidul, mengingatkan teman-temannya agar turut merawat hasil revitalisasi.
Semoga program revitalisasi sekolah menjadi langkah nyata dalam menghadirkan fasilitas pendidikan yang lebih baik serta membuka peluang bagi generasi penerus bangsa untuk meraih masa depan yang gemilang.
Bersama membangun sekolah, bersama memajukan pendidikan, demi Indonesia yang lebih maju.
Revitalisasi untuk Prestasi, Pendidikan untuk Masa Depan!
Indramayu – Pendidikan yang bermutu membutuhkan dukungan nyata, mulai dari peningkatan kualitas pembelajaran hingga penyediaan sarana dan prasarana sekolah yang layak. Dalam kunjungannya ke SMKS PUI Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Gubernur Jawa Barat meninjau kondisi bangunan sekolah sekaligus melihat secara langsung proses revitalisasi sarana pendidikan yang tengah dilaksanakan.
Revitalisasi ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas fasilitas pendidikan melalui dukungan anggaran APBN Tahun Anggaran 2026. Bantuan revitalisasi diharapkan dapat memperbaiki kondisi bangunan sekolah sehingga tercipta lingkungan belajar yang lebih aman, nyaman, dan mendukung kegiatan pembelajaran bagi para peserta didik.
Tidak hanya di SMKS PUI Jatibarang, upaya perbaikan sarana pendidikan ini juga menjadi bagian dari perhatian terhadap sejumlah lembaga pendidikan lainnya di Kabupaten Indramayu. Langkah ini menunjukkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan satuan pendidikan dalam mewujudkan pemerataan akses terhadap fasilitas pendidikan yang layak.
Sebab, kualitas mutu pendidikan tidak hanya ditentukan oleh proses pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga oleh tersedianya lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan memadai.
Melalui perhatian dan dukungan nyata terhadap sarana pendidikan, diharapkan semakin banyak peserta didik yang memperoleh kesempatan untuk belajar dan berkembang secara optimal. Pendidikan bermutu untuk semua bukan sekadar cita-cita, melainkan tanggung jawab bersama yang harus diwujudkan melalui tindakan nyata.
Dari SMKS PUI Jatibarang, Kabupaten Indramayu, semangat membangun pendidikan yang lebih baik terus digaungkan demi masa depan generasi Jawa Barat yang unggul dan berdaya saing.
Jayapura, Papua, 19 Oktober 2026 — Berdiri kokoh menghadap pemandangan indah Samudra Pasifik, SMA Negeri 2 Kota Jayapura kini bersiap menyambut wajah baru. Melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan tahun anggaran 2026, sekolah ini tengah membangun unit bangunan baru dengan total anggaran lebih dari Rp2 miliar.
Kondisi bangunan sekolah yang telah berusia sekitar 40 tahun menjadi tantangan tersendiri. Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala SMAN 2 Jayapura, Lea Ansanay, mengungkapkan bahwa bantuan revitalisasi semula direncanakan untuk merehabilitasi tujuh ruang kelas. Namun, setelah dilakukan perhitungan ulang, pemanfaatan anggaran dapat memberikan perbaikan yang lebih luas, mencakup pembangunan tiga ruang kelas baru, rehabilitasi empat ruang kelas, serta pengembangan lantai dua untuk tiga ruang kelas.
“Kami keluarga besar SMA Negeri 2 Jayapura mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo, Bapak Menteri beserta jajaran, serta Pemerintah Provinsi Papua dan Kota Jayapura. Semoga hasil pembangunan ini menjadi kesempatan berharga bagi seluruh warga sekolah untuk meningkatkan fasilitas dan mutu pendidikan,” tuturnya.
Keterlibatan masyarakat juga menjadi hal membanggakan bagi sekolah. Lea menjelaskan, dengan pelaksanaan swakelola melibatkan banyak pekerja yang sebagian besar pekerja merupakan putra asli Papua. Bahkan, terdapat seorang pekerja penyandang disabilitas tunawicara yang turut berkontribusi dalam pembangunan sekolah.
Selain itu, program revitalisasi juga turut membawa perubahan nyata bagi warga SMP YPK Sion Dok VIII Jayapura. Sejak berdiri pada 31 Oktober 1991, sekolah ini akhirnya mendapatkan bantuan revitalisasi tahun 2026 dengan total anggaran lebih dari Rp1,1 miliar. Kepala SMP YPK Sion Dok VIII Jayapura, Sonya N. Rumanasen, menuturkan bantuan revitalisasi seluruhnya sudah selesai 100 persen selama pengerjaan bulan Mei hingga Agustus 2026.
Dengan mengoptimalkan skema swakelola, Sonya menyebut sekolahnya mendapatkan menu perbaikan yaitu ruang administrasi/ruang guru, ruang kepala sekolah, laboratorium IPA, dan satu ruang kelas. Selama proses pengerjaan, ia melihat adanya peluang untuk menambah perbaikan ruang kelas. Hasilnya, perbaikan kelas tersebut bertambah dari sebelumnya satu ruang menjadi empat ruang kelas. ”Perubahan sekolah kami juga mendapat respons positif dari masyarakat dan jemaat gereja. Bangunan yang kini lebih tertata kami harap dapat meningkatkan kepercayaan sekaligus mendorong semakin banyak orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya di sini,” tutur Sonya.
Dampak revitalisasi juga terlihat dari meningkatnya antusiasme murid dalam mengikuti pembelajaran. Hal itu disampaikan oleh Roby Aikarem May, murid kelas IX SMP YPK Sion Dok VIII Jayapura. Roby mengenang kondisi sekolahnya yang cukup memprihatinkan sebelum revitalisasi. Sejumlah plafon sudah rusak, atap seng mengalami kebocoran hingga air hujan sering masuk ke dalam ruangan, serta banyaknya fasilitas meja dan kursi yang tidak lagi layak digunakan.
Kini, setelah revitalisasi selesai terlaksana, kondisi sekolahnya jauh lebih baik. Plafon telah diperbaiki dan diganti, keramik sekolah sudah baru, sehingga ruang kelas menjadi lebih nyaman untuk mendukung kegiatan belajar mengajar dan membangun semangat yang lebih guna mengikuti pembelajaran di sekolah.
“Saya berharap adik-adik yang nanti bersekolah di sini tidak mencoret-coret tembok atau merusak barang-barang yang sudah diberikan. Mari kita jaga dan gunakan bersama supaya semua bisa menikmati fasilitas ini,” terang Roby.
Di akhir ceritanya, Roby menyampaikan rasa terima kasih kepada Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, atas bantuan revitalisasi yang telah diberikan kepada sekolahnya.
“Terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto dan Bapak Abdul Mu’ti atas bantuan revitalisasi yang diberikan. Sekarang sekolah kami menjadi lebih bagus dan tidak rusak seperti dahulu. Kami bisa belajar dengan lebih nyaman, lebih bersemangat, dan betah di sekolah,” kata Roby.
Melalui program Revitalisasi Satuan Pendidikan, Mendikdasmen menyebut pemerintah terus berupaya menciptakan lingkungan belajar yang layak dan aman bagi seluruh murid. ”Saya melihat revitalisasi di Jayapura berjalan dengan baik, beberapa di antaranya bahkan sudah menyelesaikan pembangunan. Perbaikan sarana dan prasarana sekolah ini kami harapkan tidak hanya memperkuat kualitas layanan pendidikan, tetapi juga menumbuhkan semangat belajar, rasa percaya diri, serta harapan akan masa depan yang lebih baik bagi generasi muda Papua,” ungkap Mendikdasmen di Jayapura, Senin (19/10).
Secara keseluruhan, sebanyak 214 satuan pendidikan di Provinsi Papua telah melakukan Perjanjian Kerja Sama (PKS) revitalisasi 2026 dengan total anggaran lebih dari Rp208 miliar. Sampai dengan Oktober 2026, terdapat 36 satuan pendidikan (13 PAUD dan 23 SMP) yang sudah menyelesaikan pembangunan dengan progres 100 persen. Program ini juga turut menjangkau pekerja lokal dengan total 2.821 orang.
Khusus di Kota Jayapura, 47 satuan pendidikan sudah melakukan PKS dengan total anggaran lebih dari Rp41 miliar. Terdapat 8 sekolah (5 PAUD dan 3 SMP) yang sudah menyelesaikan pembangunan serta menjangkau pekerja lokal sebanyak 535 orang. (Penulis: Destian, Editor: Stephanie, Seno)
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah