Bandung Barat – BBPMP Provinsi Jawa Barat kembali menjadi bagian dalam upaya mendorong prestasi dan potensi murid melalui penyelenggaraan Seleksi Tahap 2 Kompetisi Juara Kelas Indonesia Jenjang Sekolah Dasar Regional 4. Kegiatan ini menjadi ajang bagi murid untuk menunjukkan kemampuan, ketangkasan berpikir, serta semangat berkompetisi dalam suasana yang edukatif.
Sebanyak 15 sekolah dari wilayah Jawa Barat dan Banten, mengikuti seleksi yang berlangsung pada Jumat–Minggu, 2–4 Oktober 2026, bertempat di BBPMP Provinsi Jawa Barat Kampus Jayagiri.
Seleksi dilaksanakan dalam format lomba cerdas cermat dengan membagi peserta ke dalam tiga grup. Kompetisi berlangsung melalui babak penyisihan, penentuan juara grup, hingga babak final. Para peserta dituntut untuk menguasai materi, berpikir cepat, dan menunjukkan kemampuan terbaik untuk melaju ke babak berikutnya.
Persaingan yang berlangsung hingga babak final akhirnya menempatkan SDIT As Saidiyyah Kabupaten Bandung sebagai juara pertama. SD Labschool Cibubur Kota Bekasi meraih posisi kedua, sedangkan SDIT Persis Tarogong 2 Kabupaten Garut menempati posisi ketiga.
Hasil tersebut sekaligus mengantarkan SDIT As Saidiyyah Kabupaten Bandung sebagai wakil Regional 4 untuk melanjutkan kompetisi di tingkat nasional. Keberhasilan ini menjadi buah dari persiapan, semangat juang, dan sportivitas yang ditunjukkan para peserta selama mengikuti kompetisi.
Melalui kegiatan ini, BBPMP Provinsi Jawa Barat turut mendorong penguatan karakter serta kemampuan literasi dan numerasi murid. Kompetisi ini juga menjadi ruang bagi untuk belajar, berkolaborasi, dan mengembangkan kepercayaan diri demi melalui pengalaman berkompetisi.
Depok, Jawa Barat, 4 Oktober 2026 — Bagi Kaindra Nadira Saidtama dan Aiden Gracio, mengikuti International Mathematics and Science Olympiad (IMSO) ke-23 Tahun 2026 bukan sekadar kesempatan untuk berkompetisi. Di balik keikutsertaan mereka terdapat proses panjang untuk belajar, berlatih, menghadapi soal-soal sulit, hingga berani menguji kemampuan di tingkat internasional.
Kaindra, murid kelas 6 SDIT Bina Bangsa Sejahtera Kota Bogor yang mengikuti bidang Sains, mengaku harus menjalani latihan soal secara intensif selama persiapan. Ia juga mengikuti pembinaan secara daring dan luring serta mendapat dukungan dari orang tua. Sebelumnya, Kaindra meraih medali emas Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Sains jenjang SD. Pengalaman tersebut, menurutnya, membantu membangun kebiasaan belajar secara disiplin dan teratur.
“Senang sama bangga,” ujar Kaindra ketika mengetahui dirinya terpilih mewakili Indonesia di IMSO-23. Ia juga berpesan kepada teman-temannya yang tertarik pada sains tetapi belum percaya diri mengikuti kompetisi agar berani mencoba. “Dicobain dulu belajar sains atau ikut kompetisinya. Kalau lumayan suka, coba ikutin,” katanya.
Cerita serupa datang dari Aiden Gracio, murid kelas 6 SD Witama Nasional Plus Srikandi Pekanbaru yang mengikuti bidang matematika. Untuk sampai ke IMSO-23, Aiden mengikuti tiga tahap seleksi, mulai dari seleksi daring hingga seleksi luring yang dilengkapi latihan dan simulasi. Ia juga merupakan peraih medali emas sekaligus the best overall OSN bidang matematika jenjang SD.
Dalam menghadapi soal yang dirasanya sulit, Aiden memilih mengerjakan soal dengan tipe serupa tetapi tingkat kesulitannya lebih rendah. Setelah memahami idenya, ia kemudian mengembangkannya untuk menyelesaikan soal yang lebih menantang. “Jangan takut untuk mencoba. Yang penting, kamu dapat penambahan ilmu. Jangan takut hasilnya, tapi cobalah mengikuti saja dulu biar kita dapat banyak ilmu pengetahuan,” tutur Aiden.
Kiri ke kanan: Aiden Gracio, Murid Kelas 6 SD Witama Plus Srikandi Pekanbaru, dan Kaindra Nadira Saidtama, Murid Kelas 6 SDIT Bina Bangsa Sejahtera Kota Bogor, dua peserta IMSO-23 asal Indonesia yang merupakan peraih medali emas OSN. (Fotografer: Laili)
Team Leader Indonesia untuk IMSO-23, Muchammad Fachri, mengatakan para peserta merupakan murid berprestasi yang sebagian di antaranya merupakan peraih medali emas OSN. Proses seleksi dilakukan melalui tiga tahap, yaitu dua tahap daring dan satu tahap luring. Dari proses tersebut terpilih sekitar 30 peserta, ditambah peraih medali emas OSN sehingga keseluruhan tim pembinaan berjumlah 63 peserta, terdiri atas 32 peserta matematika dan 31 peserta sains.
Fachri menjelaskan, tantangan peserta tidak hanya terletak pada penguasaan materi. Materi olimpiade memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi dibandingkan materi sekolah. Peserta juga dituntut memahami dan menjawab soal dalam bahasa Inggris serta menjalani karantina selama lebih dari satu minggu jauh dari orang tua.
Di tengah tantangan tersebut, semangat belajar peserta menjadi hal yang membanggakan. Para peserta mendapatkan materi sesuai silabus dari pengajar berbagai institusi serta pelatih olimpiade. Mereka menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengerjakan soal hingga tim pembina perlu menyiapkan banyak bahan latihan.
“Harapan saya dan kami semua dari tim Indonesia adalah peserta dapat meraih prestasi terbaik di IMSO-23. Dari seluruh proses yang sudah dilakukan, mulai dari tahap seleksi hingga karantina, kami berharap dapat meraih medali emas, baik di bidang sains maupun matematika. Mudah-mudahan juga ada peserta yang mendapatkan best overall , best theory , best exploration , atau best experiment . Kami juga berharap IMSO-23 menjadi salah satu ajang terbaik yang menghasilkan juara-juara dari tim Indonesia,” ujar Fachri.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengatakan bahwa upaya tersebut sejalan dengan program Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang tengah berfokus meningkatkan pendidikan STEM ( Science, Technology, Engineering, and Mathematics ).
“Melalui ajang ini, kami berharap lahir generasi ilmuwan baru, para pelajar cerdas yang tidak hanya unggul di bidang sains dan matematika, tetapi juga siap menjadi pemimpin bangsa di masa depan. Hal ini juga mendukung prioritas Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat pendidikan karakter,” pungkasnya.
Melalui IMSO-23, Kaindra, Aiden, dan para peserta lainnya tidak hanya membawa harapan untuk meraih prestasi, tetapi juga pengalaman belajar, keberanian menghadapi tantangan, dan semangat untuk terus mencoba. Bagi mereka, kompetisi menjadi ruang untuk menambah pengetahuan sekaligus mengembangkan potensi. (Penulis: Rayhan/Editor: Denty)
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Jakarta, 4 Oktober 2026 – Menghargai teman yang berbeda keyakinan, saling mendengarkan, dan bekerja sama menjadi bagian penting dari pengalaman belajar murid. Peran guru dalam menumbuhkan sikap tersebut menjadi perhatian dalam webinar internasional yang diselenggarakan Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Institut Leimena, Jumat (2/10), dalam rangka menyambut Hari Guru Sedunia dan Hari Guru Nasional.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa guru memiliki peran sebagai “Agent of Learning as well as Agent of Civilization”, yakni agen pembelajaran sekaligus agen pembangunan peradaban. Melalui keteladanan, guru membantu murid membangun karakter dan belajar saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari. “Substansi pendidikan itu membangun peradaban, membangun karakter,” ujar Abdul Mu’ti dalam sambutannya.
Menurut Mendikdasmen, sekolah perlu menjadi ruang perjumpaan bagi murid dengan beragam latar belakang. Di dalamnya, murid memperoleh kesempatan untuk mengenal, menerima, dan bekerja sama dengan mereka yang berbeda. Ia menyebut pentingnya toleransi yang otentik, yaitu tetap teguh pada keyakinan masing-masing sekaligus mampu menghargai dan memberi ruang kepada orang lain. “Perbedaan itu tidak boleh menjadi pemisah, tapi menjadi kekayaan untuk kita bekerja sama satu sama lain,” tuturnya.
Menteri Mu’ti juga menekankan bahwa lingkungan yang aman dan nyaman mencakup dimensi fisik, sosial, spiritual, dan digital. Penguatannya membutuhkan dukungan keluarga, masyarakat, serta media karena pengalaman anak di luar sekolah turut memengaruhi perilaku dan pembentukan karakternya.
Pesan tersebut sejalan dengan penguatan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 6 Tahun 2026. Kebijakan ini menempatkan pencegahan dan keterlibatan seluruh ekosistem pendidikan sebagai bagian penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung murid.
Kepala Puspeka, Rusprita Putri Utami, menegaskan bahwa murid bukan hanya penerima manfaat, tetapi juga perlu dilibatkan sebagai bagian aktif dalam membangun budaya sekolah aman dan nyaman. Melalui Gerakan Rukun Sama Teman, murid didorong menjadi Sahabat Hebat yang saling mendukung dengan prinsip Look, Listen, dan Link. Peka melihat teman yang membutuhkan dukungan, mendengarkan, dan menghubungkannya dengan bantuan yang tepat. “Budaya sekolah aman dan nyaman tidak lahir hanya dari regulasi. Budaya itu hidup dari relasi dan tindakan kita setiap hari. Dengarkan murid, cegah risiko sedini mungkin, dan respons dengan tepat,” ujar Rusprita.
Peran guru dalam membangun hubungan antarmanusia juga disampaikan Direktur Eksekutif Institut Leimena Matius Ho. Di tengah perkembangan kecerdasan buatan, ia menekankan pentingnya pendidikan yang membantu murid menjalin relasi dengan sesama, termasuk mereka yang berbeda agama, kepercayaan, dan budaya. “Kita bukan mendidik robot, tapi manusia,” ujar Matius.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan pendidikan memerlukan dukungan yang melampaui lingkungan sekolah. “Keberhasilan guru dalam mendidik tidak lepas dari dukungan dan kerja sama masyarakat dan pemerintah, baik pusat maupun daerah,” katanya.
Menurut Matius, dalam lima tahun terakhir, program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang dijalankan Institut Leimena bersama puluhan lembaga mitra berbagai agama telah menjangkau lebih dari 12.000 guru dan pendidik lainnya dari 38 provinsi. Institut Leimena bekerja sama dengan Kemendikdasmen dan pemerintah daerah untuk mendorong pendekatan tersebut dalam memperkuat BSAN.
Chief of Education UNESCO Jakarta, Santosh Khatri, mengingatkan bahwa lingkungan belajar yang mendukung murid memerlukan lingkungan profesional yang juga mendukung guru. Ia menilai budaya sekolah yang aman dan nyaman merupakan bagian dari pengalaman belajar itu sendiri, tempat murid mengembangkan empati dan kemampuan hidup bersama.
Khatri menjelaskan bahwa kecerdasan buatan dapat membantu perencanaan pembelajaran dan pengembangan profesional. Guru tetap memiliki peran manusiawi untuk memahami kondisi murid, mengenali kesulitan yang belum mereka ungkapkan, serta membantu mereka belajar mendengarkan dan menghormati orang lain.
Belajar Hidup Bersama melalui Perjumpaan Lintas Agama Pengalaman penerapan di sekolah dibagikan Yonathan Djalimun, alumni LKLB sekaligus Wakil Direktur Sekolah Kristen Tritunggal. Dalam paparannya, ia menyoroti tantangan terbatasnya ruang interaksi dengan perbedaan di lingkungan pendidikan berbasis agama yang cenderung homogen.
Yonathan membagikan pengalaman kegiatan kokurikuler berbasis pengalaman dan kunjungan persahabatan lintas agama. Dokumentasi dalam paparannya memperlihatkan kunjungan murid SMA Tritunggal Semarang ke MA Al Manar Tengaran serta perjumpaan di Pondok Pesantren Amal Sholeh. Kunjungan tersebut menjadi langkah awal untuk menumbuhkan rasa saling percaya dan menghargai perbedaan. “Praktik lebih membekas ketimbang sekadar teori di kelas,” tulis Yonathan dalam paparannya.
Ia menggambarkan kegiatan yang berlangsung secara berkelanjutan dari tahun ke tahun, dengan jaringan kerja sama dan kesempatan berinteraksi yang semakin luas. Dalam refleksinya, ia menulis, “Siswa merasa aman, nyaman, dan percaya diri dalam kolaborasi lintas agama.”
Webinar bertema “Pendidikan Bermutu untuk Semua: Peran Guru dalam Mewujudkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman” tersebut mempertemukan perspektif kebijakan, pengalaman pendidik, dan pandangan internasional mengenai pendidikan dalam keberagaman. Kegiatan ini didukung oleh Templeton Religion Trust dan berlangsung melalui Zoom dengan penerjemahan simultan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.*** (Penulis & Dokumentasi: Tim Puspeka/Editor: Denty, Seno)
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Jakarta, 4 Oktober 2026 — Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Jenjang Pendidikan Dasar Tingkat Nasional tahun 2026 resmi ditutup. Ajang ini menjadi ruang bagi murid untuk mengembangkan, menampilkan, dan mengaktualisasikan talenta di bidang seni, budaya, dan sastra.
Kepala Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Maria Veronica Irene, menyampaikan apresiasi kepada para murid yang telah menjadi finalis FLS3N tingkat nasional. Ia menilai para murid telah menunjukkan bakat dan talenta yang berperan dalam menjaga dan melestarikan kebudayaan, termasuk melalui bidang seni dan sastra. Menurutnya, FLS3N bukan sekadar kompetisi, tetapi juga ruang bagi murid untuk menghadirkan karya yang menunjukkan kerja keras, kreativitas, dan cerita dari daerah masing-masing.
“Saya sangat bangga dalam penyelenggaraan kompetisi ini kalian telah menunjukkan bakat-bakat talenta dan kalian yang menjadi ujung tombak utama dalam menjaga kebudayaan dan melestarikan kebudayaan,” ujar Maria di Jakarta (3/10).
Ia juga mengajak para murid untuk tidak berhenti berkarya setelah kompetisi berakhir. Prestasi yang diperoleh dalam FLS3N diharapkan menjadi bagian dari perjalanan untuk terus mengembangkan kreativitas dan potensi yang dimiliki. “Jangan hanya sekadar ingin berprestasi tapi juga berkreasi. Jangan pernah berhenti berkarya. Jadikan prestasi ini bukan sebagai garis akhir, tetapi sebagai awal dari perjuangan yang lebih panjang,” lanjutnya.
Seluruh rangkaian FLS3N jenjang pendidikan dasar tingkat nasional 2026 mencakup tujuh cabang ajang untuk murid SD, yaitu Gambar Bercerita, Menyanyi Solo, Kriya, Mendongeng, Menulis Cerita, Pantomim, dan Tari. Sementara itu, terdapat delapan cabang ajang untuk murid SMP, yaitu Ansambel Campuran Tiga Alat Musik, Ilustrasi, Kreativitas Musik Tradisional, Mendongeng, Menyanyi Solo, Menulis Cerita, Pantomim, dan Tari.
Lebih lanjut, Kapuspresnas menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah menunjukkan semangat, kreativitas, keberanian, kedisiplinan, dan sportivitas selama mengikuti kompetisi. Ia menyampaikan para peserta yang meraih penghargaan mendapatkan medali, sertifikat, dan uang pembinaan. Sementara itu, bagi peserta yang belum memperoleh penghargaan, pengalaman mengikuti kompetisi tetap menjadi bagian penting dalam proses belajar, aktualisasi diri, dan perjalanan mengembangkan talenta.
“Penghargaan ini hendaknya menjadi motivasi untuk terus berkarya dan mengembangkan talenta. Sementara bagi peserta yang belum memperoleh penghargaan, pengalaman mengikuti kompetisi merupakan bagian penting dari proses belajar, aktualisasi diri, dan perjalanan mengembangkan talenta,” ujar Maria.
Bagi Jasmine Aulia Putri, murid SMP Negeri 1 Kota Cirebon, Jawa Barat, yang meraih medali emas pada cabang ajang Mendongeng, pencapaian di tingkat nasional merupakan hasil dari perjalanan yang panjang. Sebelum tampil di tingkat nasional, Jasmine terlebih dahulu melewati kompetisi di tingkat kota dan provinsi.
“Alhamdulillah, karena untuk sampai di tahap ini itu prosesnya lumayan panjang, mulai dari bersaing di tingkat kota, di tingkat provinsi, sampai di tahap terakhir ini di tingkat nasional,” ujar Jasmine.
Ia menjalani latihan yang lebih intensif, terutama untuk memerankan sejumlah karakter dalam dongeng, seperti Sunan Kalijaga, santri laki-laki, dan seekor kera. Ia juga harus berlatih memainkan alat musik sambil bercerita sehingga dapat menyelaraskan musik dengan alur cerita yang dibawakan. “Seni itu bukan cuma tentang tampil, tapi tentang bagaimana perasaan kalian bisa sampai ke orang-orang yang melihat, baik itu di panggung atau di sebuah kanvas. Jangan pernah takut mencoba, dan jangan pernah lelah untuk belajar. Karena sebuah kemenangan itu pastinya membutuhkan sebuah proses. Seni itu segala sesuatu yang dilakukan harus sepenuh hati,” ungkap Jasmine.
Sementara itu, Dinda Tsalaasa, peraih medali perunggu pada cabang ajang Gambar Bercerita dari SDN 15 Tanjungpinang, Riau mengungkapkan pengalaman berkesan saat tema lomba baru disampaikan beberapa menit sebelum perlombaan dimulai. Kondisi tersebut menuntutnya untuk segera menyiapkan karya sesuai tema dalam waktu yang tersedia. “Momen yang paling berkesan bagi saya adalah saat tema lomba gambarnya disebutkan beberapa menit sebelum mulai dan saya harus bisa menyiapkan karya yang sesuai tema dan waktu yang ada,” ujar Dinda.
Menurut Dinda, pengalaman mengikuti kompetisi bukan hanya tentang hasil akhir, tetapi juga proses dan keberanian untuk terus berkarya. Ia mengajak peserta lain untuk tidak takut bermimpi, mengembangkan bakat, terus berlatih, dan turut melestarikan seni serta budaya Indonesia.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah