Bandung Barat – Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan Workshop dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Hybrid Piloting Implementasi Edukasi Gizi di Satuan Pendidikan pada 6-7 Oktober 2026 di Kampus Jayagiri, Lembang. Kegiatan ini bertujuan memperkuat penerapan edukasi gizi dan keamanan pangan dalam pembiasaan sehari-hari di lingkungan sekolah.
Kegiatan strategis ini merupakan tindak lanjut amanat Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025 untuk mengintegrasikan literasi gizi dan keamanan pangan ke dalam ekosistem sekolah. Pelaksanaannya juga mendukung Program Prioritas Nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) serta diselaraskan dengan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH).
Kepala Bagian Umum BBPMP Provinsi Jawa Barat, Mardi Wibowo, menyampaikan bahwa kegiatan ini diarahkan untuk memastikan satuan pendidikan sasaran siap melaksanakan rencana tindak lanjut secara mandiri. Menurutnya, edukasi gizi tidak hanya berkaitan dengan penyediaan makanan bergizi, tetapi juga pembentukan kebiasaan sehat yang menjadi bagian dari karakter peserta didik.
“Melalui bimtek ini, kami ingin memastikan 12 satuan pendidikan piloting dari Bandung Raya dan Cimahi siap mengeksekusi rencana tindak lanjut. Kita tidak hanya berbicara soal makanan gratis, tetapi bagaimana membangun budaya gizi yang sehat yang melekat pada karakter siswa,” ujar Mardi.
Sebanyak 12 satuan pendidikan menjadi sasaran kegiatan ini, terdiri atas tiga satuan PAUD, tiga SD, tiga SMP, dan tiga SMA di Kabupaten Bandung, Kota Bandung, dan Kota Cimahi. Melalui pelaksanaan secara luring dan daring, perwakilan satuan pendidikan merumuskan Rencana Tindak Lanjut (RTL) implementasi edukasi gizi yang akan dilaksanakan secara mandiri pada September-Desember 2026.
Salah satu peserta workshop, Ayu Diana Sigit, mengungkapkan bahwa kegiatan ini memberikan pemahaman dan gambaran konkret mengenai penerapan edukasi gizi di sekolah.
“Saya mendapatkan pencerahan yang luar biasa di Kampus Jayagiri ini. Kami bisa berdiskusi langsung dan mendapatkan gambaran konkret bagaimana mengintegrasikan edukasi gizi ke dalam pembiasaan sehari-hari di sekolah tanpa membebani anak-anak,” ungkap Ayu.
Praktik baik yang diidentifikasi dari masa piloting dan evaluasi kegiatan ini akan menjadi fondasi utama untuk program pengimbasan implementasi masal ke seluruh satuan pendidikan di tahun 2027. Melalui sinergi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dengan Badan Gizi Nasional, upaya ini diharapkan dapat memperkuat budaya hidup sehat di sekolah serta mendukung terwujudnya generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkarakter mulia.
Kabupaten Bogor, Jawa Barat, 8 Oktober 2026 — Pembelajaran di kelas tidak lagi terbatas pada apa yang dituliskan guru di papan tulis. Dengan dukungan teknologi, murid dapat mengeksplorasi materi secara visual, mengeksplorasi berbagai sumber belajar, hingga mengerjakan aktivitas secara bersama-sama. Hal tersebut menjadi bagian dari pemanfaatan Papan Interaktif Digital (PID) atau Interactive Flat Panel (IFP) yang kini telah dimanfaatkan sejumlah satuan pendidikan melalui program Digitalisasi Pembelajaran.
Salah satu sekolah yang telah memanfaatkan perangkat tersebut adalah SMA Negeri 2 Cibinong, Kabupaten Bogor. Guru Matematika SMAN 2 Cibinong, Nurlaela, mengatakan penggunaan IFP memberikan manfaat bagi guru maupun murid. Guru terbantu dengan media pembelajaran yang lebih interaktif dan inovatif, sedangkan murid memiliki kesempatan lebih luas untuk mengeksplorasi materi yang dipelajari.
“Anak-anak lebih semangat karena mereka juga bisa eksplorasi. Ditambah lagi, dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) juga terdapat platform Rumah Pendidikan. Di ruang tersebut kami menggunakan Ruang Murid, anak-anak bisa menggunakan materi ajar, lab maya, ataupun bahan-bahan interaktif lainnya dari sana,” terangnya.
Sebelum menggunakan IFP, Nurlaela lebih banyak memanfaatkan laptop dan proyektor dalam pembelajaran. Penggunaan perangkat tersebut dinilai masih lebih terbatas karena interaksi dengan media pembelajaran hanya dilakukan oleh guru. Dengan IFP, murid dapat ikut berinteraksi langsung dengan materi yang ditampilkan.
Pemanfaatan IFP juga didukung dengan peningkatan kapasitas guru. Nurlaela sebelumnya mengikuti pelatihan Digitalisasi Pembelajaran yang membahas penggunaan PID, pembuatan media pembelajaran interaktif, hingga pemanfaatan Canva AI. Pengetahuan tersebut kemudian dibagikannya kepada guru lain di sekolah. Saat ini, sejumlah guru juga telah memanfaatkan IFP sebagai media pembelajaran di kelas.
“Karena saya sudah merasakan manfaatnya, menurut saya wajib PID ini ada di sekolah, karena sangat membantu guru dalam kegiatan belajar dan bisa menarik motivasi murid dalam mendalami pelajaran,” pungkasnya.
Manfaat penggunaan PID juga dirasakan langsung oleh murid. Dayana, murid kelas X SMAN 2 Cibinong, mengatakan perangkat tersebut membantu seluruh murid mengikuti pembelajaran melalui satu media yang sama. Hal ini menjadi lebih berarti karena beberapa temannya di kelas tidak memiliki gawai pribadi.
“Lebih efektif juga karena yang kita lihat itu sama, dibanding terpisah-pisah dari device lain,” ujarnya.
Dayana juga menyukai aktivitas pembelajaran berbentuk permainan yang tersedia di IFP. Menurutnya, kegiatan tersebut dapat dikerjakan bersama, sehingga mereka dapat berdiskusi dan memikirkan jawaban secara bersama-sama. Pembelajaran pun terasa lebih menyenangkan dan membuat materi lebih mudah dipahami.
Pengalaman serupa disampaikan Ibrahim Al-Haraqi. Ia menilai pembelajaran menjadi lebih aktif dibandingkan sebelumnya ketika murid lebih banyak menggunakan laptop atau telepon seluler secara individual. Dengan IFP, murid dapat belajar sekaligus berinteraksi dalam satu kegiatan yang sama.
“Seru banget sih! Selain belajar, kita juga bisa sambil bermain memilih jawaban-jawabannya, pokoknya seru banget,” kata Ibrahim.
Hal serupa juga dirasakan Dinda Aulia Kasih. Ia merasakan manfaat IFP dengan mudah mengakses dan menyimpan materi pembelajaran. Jika sebelumnya murid hanya mengandalkan tulisan di papan tulis, kini mereka dapat bersama-sama melihat video pembelajaran dan mencari informasi tambahan. Guru juga dapat menulis langsung pada layar sentuh, menyimpan hasilnya, kemudian membagikannya kepada murid.
“Sebelumnya, kita tidak ada sarana untuk melihat video pembelajaran atau mencari tahu informasi. Sekarang, kita bisa melakukannya bersama, sehingga pembelajaran lebih seru,” ungkap Dinda.
Pemanfaatan IFP dalam pembelajaran tersebut turut dilihat langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Sugiono, yang didampingi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, saat melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Bogor. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari peninjauan program-program prioritas nasional di bidang pendidikan sekaligus kesempatan untuk melihat langsung pemanfaatan digitalisasi pembelajaran di kelas.
”Di SMAN 2 Cibinong, pemanfaatan PID menunjukkan bahwa Digitalisasi Pembelajaran tidak berhenti pada penyediaan perangkat. Kehadiran PID menjadi lebih bermakna ketika digunakan untuk memperkaya cara guru mengajar dan memberi kesempatan kepada murid untuk melihat, mencoba, berdiskusi, serta terlibat lebih aktif dalam proses belajar,” tutup Mendikdasmen Abdul Mu’ti. (Penulis: Stephanie / Editor: Destian)
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Tangerang, Banten, 8 Oktober 2026 — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkuat pendidikan karakter di 17 Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) melalui pengembangan kegiatan ekstrakurikuler Pramuka dan pencak silat. Penguatan tersebut dilakukan dengan menyiapkan 102 pembina dan pelatih melalui Kursus Pengelola Gugus Depan dan Penataran Pelatih Pencak Silat Nasional yang diselenggarakan di Tangerang, Banten.
Kolaborasi dengan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mengembangkan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk karakter, kepemimpinan, kedisiplinan, serta ketangguhan fisik dan mental murid.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa SNT diarahkan untuk membentuk generasi Indonesia yang unggul secara intelektual, berkarakter kuat, serta memiliki keseimbangan jasmani dan rohani.
“Bagaimana agar lembaga pendidikan khususnya sekolah-sekolah unggul ini memang tidak hanya mencetak generasi yang unggul secara intelektual, tapi juga harus anggun secara moral dan memiliki fisik dan jasmani serta rohani yang kuat,” ujar Mendikdasmen, Rabu (7/10).
Mendikdasmen, Abdul Mu’ti, menghadiri dan membuka kegiatan Kursus Pengelola Gugus Depan dan Penataran Pelatih Pencak Silat Nasional untuk SNT di Tangerang, Banten, Rabu malam (7/10). Fotografer: Rayhan
Menurutnya, pendidikan karakter perlu dikembangkan secara menyeluruh melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olahraga. Kegiatan Pramuka dan pencak silat menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai tersebut melalui pengalaman belajar yang nyata.
Pencak silat, misalnya, tidak hanya mengajarkan keterampilan bela diri, tetapi juga pengendalian diri, ketahanan mental, dan pembentukan kepribadian. Sementara itu, Pramuka mengembangkan kemandirian, kepemimpinan, kerja sama, serta kepedulian sosial. “Kami memiliki prinsip bahwa mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua itu tidak dapat kita lakukan tanpa dukungan dan partisipasi semesta,” ujarnya.
Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Budi Waseso, menyampaikan bahwa gugus depan memiliki peran penting sebagai tempat berlangsungnya pendidikan kepramukaan secara berkesinambungan.
“Di sanalah peserta didik kita belajar tentang arti kedisiplinan, tanggung jawab, kemandirian, kepemimpinan, kerja sama, kepedulian sosial, serta rasa cinta terhadap tanah air,” ucapnya.
Menurut Budi, pendidikan formal dan kepramukaan harus saling melengkapi. Melalui integrasi kegiatan Pramuka di SNT, gugus depan diharapkan dapat berkembang menjadi wadah pembinaan karakter yang unggul dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PB IPSI, Abdul Karim Aljufri, menyatakan dukungannya terhadap pengembangan pencak silat di lingkungan sekolah. Ia menilai pencak silat memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai kedisiplinan, keberanian, sportivitas, pengendalian diri, serta kecintaan terhadap warisan budaya bangsa.
Abdul Karim juga menyampaikan kesiapan IPSI untuk bekerja sama dalam meningkatkan kualitas pelatih dan mengembangkan pembelajaran pencak silat di sekolah. Penguatan kompetensi pelatih diharapkan dapat mendukung pembinaan pencak silat secara berkelanjutan, baik untuk pengembangan karakter maupun potensi prestasi murid.
Selanjutnya, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal, Gogot Suharwoto, menyampaikan bahwa 17 SNT yang mulai beroperasi sejak Agustus 2026 telah menempatkan Pramuka dan pencak silat sebagai bagian dari kegiatan ekstrakurikuler wajib. Untuk mendukung pelaksanaannya, Kemendikdasmen telah menetapkan 102 orang melalui proses seleksi guna mendukung pembinaan Pramuka dan pelatihan pencak silat di 17 SNT.
Ia menegaskan bahwa pembekalan ini harus menghasilkan tindak lanjut nyata di masing-masing sekolah, sehingga kegiatan ekstrakurikuler menjadi bagian yang terintegrasi dengan proses pendidikan dan pembentukan karakter murid. “Selain membangun karakter, kami berharap pembinaan yang terstruktur dapat membuka kesempatan bagi murid untuk mengembangkan bakat dan meraih prestasi, termasuk dalam pencak silat,” ucap Dirjen Gogot.
Melalui kolaborasi ini, pengembangan ekstrakurikuler di SNT diharapkan tidak berhenti pada kegiatan rutin sekolah, tetapi menjadi bagian dari pengalaman belajar yang bermakna. Dengan demikian, murid SNT memperoleh kesempatan untuk tumbuh menjadi generasi yang cerdas, mandiri, tangguh, berkarakter, serta memiliki kepedulian terhadap sesama dan kecintaan terhadap bangsa. (Penulis: Rayhan & Tim Setditjen PAUD Dikdas PNFI/Editor: Destian)
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah