Jakarta, 1 Oktober 2026 — Karya-karya menarik yang sarat tradisi kembali hadir dalam pameran Kriyanusa 2026. Salah satunya adalah karya para peserta Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW), hasil kolaborasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas). Kriyanusa 2026 berlangsung pada 26 s.d. 30 September 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC).
Mengusung tema “Cipta Kriya Berkelanjutan, Perajin Mendunia”, Kriyanusa 2026 menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan kriya Nusantara sekaligus menunjukkan bagaimana proses belajar, berkreasi, dan berwirausaha dapat membuka peluang serta memberikan dampak bagi kemajuan masyarakat.
Direktur Kursus dan Pelatihan Kemendikdasmen, Yaya Sutarya, menyampaikan bahwa Pendidikan Kecakapan Wirausaha sendiri ditujukan bagi anak-anak yang tidak sekolah, putus sekolah, serta berkebutuhan khusus di bawah usia 25 tahun. Mereka diberikan keterampilan untuk kemudian berwirausaha. Program PKW didesain melalui kolaborasi dengan UMKM, lembaga permodalan, serta pihak yang terkait dengan ekonomi dan pemasaran.
“Kita bisa memastikan bahwa anak-anak yang tidak sekolah itu kita berikan keterampilan khusus melalui kecakapan wirausaha. Oleh karena itu, ada alur bagaimana program PKW ini dikerjasamakan dengan Dekranas,” ucap Yaya.
Mulai 2020 sampai dengan 2026, Kemendikdasmen bersama Dekranas dan Dekranasda telah melatih sekitar 6.156 peserta PKW. Di antara lulusan tersebut, terdapat peserta yang telah membuka usaha, membuka cabang, mempekerjakan lebih dari 20 pekerja, bahkan memiliki omzet besar per bulan.
“Jadi harapan kita dengan adanya kegiatan ini, dapat didorong juga Dekranas-Dekranas lain untuk bisa mengikuti program,” lanjut Yaya.
Pada ajang ini, pengunjung dapat melihat beragam karya tenun dan produk turunannya dari sembilan Dekranasda penerima program PKW, yaitu Provinsi Jambi, Kota Metro, Kabupaten Tasikmalaya, Aceh Barat, Manggarai Barat, Lamongan, Jepara, Sumba Barat, dan Ogan Ilir. Setiap karya menghadirkan kekayaan tradisi dan kearifan lokal yang dikembangkan menjadi produk kreatif bernilai tambah.
Wakil Ketua Dekranasda Kabupaten Tasikmalaya, Khifayati Nursetiana, mengaku Kabupaten Tasikmalaya telah mendapat dua kali kesempatan mengikuti PKW, yaitu pada 2025 dan 2026. Pelatihan yang dilakukan adalah membatik dan menenun.
“Program PKW ini kami tunggu-tunggu sekali, karena ketika perajin atau UMKM itu berdaya, maka sumber daya manusianya benar-benar kita pakai,” ucapnya.
Menurut Khifayati, pelatihan juga perlu menyesuaikan dengan karakter anak muda. Ia mencontohkan pelatihan di Kabupaten Tasikmalaya yang memberikan ruang kepada peserta untuk melakukan siaran langsung melalui TikTok saat mengikuti pelatihan. Cara tersebut menjadi salah satu upaya agar peserta tetap semangat mengikuti pelatihan sekaligus mendapatkan umpan balik dari masyarakat.
“Dekranasda berharap anak muda hari ini, sekarang ini, bisa terus bergerak menjadi pionir atau pelopor untuk terus kemajuan dari kerajinan hasil tangan,” ujarnya.
Salah satu alumni Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha Tenun Tahun 2022, Uci Monica, memperkenalkan kain khas Ogan Ilir dengan motif “Tujur” dan “Padi Pegagan”. Uci mengaku baru belajar menenun melalui program PKW. Sebelumnya, ia belum memiliki pengalaman dalam menenun, tetapi kemudian tertarik untuk mempelajarinya melalui program tersebut.
“Saya ingin memiliki keterampilan yang dekat dengan kehidupan saya. Mengikuti PKW dengan teman-teman seusia saya merupakan hal yang seru. Saya juga melihat peluang kerja nyata,” pungkasnya.
Stan pameran Kemendikdasmen juga menghadirkan demo menenun oleh alumni Program PKW 2026 dari Ogan Ilir. Pengunjung dapat menyaksikan proses pembuatan gebeng, kain tenun khas Ogan Ilir, sekaligus mencoba pengalaman menenun secara langsung. Tak hanya itu, ada pula Gelar Wicara Inspiratif membahas upaya pelestarian wastra melalui program PKW. Kegiatan ini menjadi kesempatan untuk menggali lebih jauh bagaimana pendidikan keterampilan dapat turut menjaga warisan budaya sekaligus mendorong lahirnya generasi perajin dan wirausaha kreatif. (Penulis: Stephanie, Tim Publikasi Ditsuslat / Editor: Uly)
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Bandung Barat – BBPMP Provinsi Jawa Barat melaksanakan Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila pada Senin (1/10/2026). Kegiatan ini menjadi momentum untuk mengenang nilai perjuangan dalam mempertahankan Pancasila sekaligus memperkuat komitmen untuk terus mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan dan pelaksanaan tugas.
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila juga menjadi kesempatan untuk kembali merefleksikan pentingnya Pancasila sebagai dasar negara dan pedoman dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya diharapkan senantiasa menjadi landasan dalam menjalankan tanggung jawab, termasuk dalam melaksanakan tugas dan memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Melalui pelaksanaan upacara tersebut, seluruh jajaran BBPMP Provinsi Jawa Barat diharapkan dapat terus menumbuhkan semangat kebangsaan serta memperkuat rasa tanggung jawab dalam menjalankan tugas. Peringatan ini tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi pengingat untuk menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam setiap aktivitas dan pengabdian.
Dalam dunia pendidikan, Pancasila bukan sekadar dasar negara, tetapi juga menjadi landasan dalam membentuk generasi yang berkarakter, berintegritas, menghargai keberagaman, memiliki semangat gotong royong, serta mampu menghadapi tantangan zaman.
Pendidikan memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila sejak dini. Melalui proses pembelajaran dan lingkungan pendidikan yang positif, peserta didik dapat dibentuk menjadi individu yang memiliki karakter kuat, mampu menghargai perbedaan, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat di sekitarnya.
Nilai-nilai tersebut juga menjadi bagian penting dalam mewujudkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter peserta didik. Dengan demikian, pendidikan dapat berkontribusi dalam menyiapkan generasi yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai kebangsaan.
Melalui semangat Hari Kesaktian Pancasila, BBPMP Provinsi Jawa Barat terus memperkuat kolaborasi dan komitmen dalam mendukung terwujudnya Pendidikan Bermutu untuk Semua.
Tangerang Selatan, Banten, 1 Oktober 2026 — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) terus memperkuat pengembangan talenta murid di bidang riset dan inovasi melalui Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) Tingkat Nasional Tahun 2026. Penutupan dan penganugerahan medali OPSI 2026 menjadi momentum guna menegaskan keberlanjutan pengembangan talenta, dengan prestasi sebagai pintu masuk menuju proses belajar, penguatan kompetensi, dan pengembangan diri.
Sebanyak 250 talenta riset dan inovasi jenjang pendidikan dasar dan menengah mengikuti rangkaian final OPSI 2026 yang berlangsung pada 24–30 September 2026. Penyelenggaraan OPSI menjadi bagian penting dari implementasi Manajemen Talenta Murid sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 25 Tahun 2025.
Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Peningkatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) dan Kompetensi Guru, Maila Dinia Husni Rahiem, mengatakan bahwa OPSI merupakan salah satu ruang aktualisasi talenta murid sekaligus bagian dari upaya Kemendikdasmen membangun ekosistem manajemen talenta yang mendukung proses identifikasi, pengembangan, aktualisasi, dan keberlanjutan talenta.
“Pemerintah ingin memastikan bahwa talenta-talenta OPSI mendapatkan ruang tumbuh yang berkelanjutan melalui apresiasi dan partisipasi semesta, termasuk dari perguruan tinggi dan dunia industri,” ujar Maila Dinia Husni Rahiem, saat menutup OPSI di Tangerang Selatan, Selasa (29/9).
Menurut Maila, OPSI tidak semata-mata diarahkan pada pencapaian medali. Pentingnya pengalaman selama mengikuti OPSI menjadi bekal penting dalam membangun karakter dan mengembangkan kapasitas diri sebagai peneliti muda. Kepada para peserta OPSI, Maila berpesan agar menjadikan ajang ini bukan hanya kesempatan meraih prestasi tetapi juga ajang yang membina karakter sebagai peneliti muda.
“Prestasi hari ini adalah pintu masuk menuju kesempatan berikutnya. Kesempatan untuk belajar lebih jauh, mengembangkan talenta, memperoleh pengalaman baru, berkompetisi di tingkat yang lebih tinggi, dan bagi sebagian talenta, membawa nama Indonesia ke panggung internasional serta mengikuti seleksi Beasiswa Talenta Indonesia,” jelas Maila.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Puspresnas, Maria Veronica Irene Herdjiono, menjelaskan bahwa karakteristik OPSI berbeda dengan kompetisi yang berorientasi pada pengerjaan soal. Dalam OPSI, peserta didorong untuk memahami dan menyelesaikan permasalahan melalui proses penelitian.
“Kalau ajang lainnya anak-anak diminta untuk mengerjakan soal. Tapi untuk riset, bukan mengerjakan soal, melainkan berpikir untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Bahkan berangkat dari hakikat riset, permasalahan yang belum ada pun harus mampu kita prediksi, apa masalah ke depan dan bagaimana solusinya,” ujar Irene.
Karena itu, rangkaian final OPSI 2026 tidak hanya menghadirkan presentasi penelitian, tetapi juga pameran hasil karya dan Research Idea Challenge (RICh). Melalui RICh, peserta ditantang membangun ide atau gagasan untuk menyelesaikan suatu permasalahan secara spontan dalam waktu terbatas.
Pengembangan talenta OPSI juga tidak berhenti pada rangkaian kompetisi. Salah satu penguatan dilakukan melalui Bina Talenta Indonesia (BTI) Kolaboratif yang dilaksanakan pada 28 September 2026.
Program tersebut menguatkan enam kompetensi atau 6C, yaitu Critical Thinking, Creativity, Collaboration, Communication, Character, dan Citizenship. Penguatan ini dirancang agar talenta riset memiliki kemampuan yang lebih utuh, tidak hanya dari aspek akademik, tetapi juga karakter dan kemampuan berinteraksi dengan lingkungan.
“Jadi anak-anak dari 125 tim berkolaborasi untuk menyelesaikan suatu masalah, berinteraksi, berkomunikasi sehingga tercipta interaksi yang kuat antar peserta. Harapannya, ke depan mereka dapat berjejaring untuk pengembangan mereka sebagai bibit-bibit talenta riset,” pungkas Irene.
Peningkatan jumlah pendaftar OPSI turut menunjukkan tingginya partisipasi murid dalam bidang riset dan inovasi. Pada 2026, jumlah pendaftar OPSI mencapai 39.300 murid, meningkat sekitar 47 persen dibandingkan 26.723 pendaftar pada 2025.
Selain itu, untuk memperkuat kompetensi penelitian bagi peserta OPSI 2026, Kemendikdasmen juga berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kolaborasi tersebut mencakup penguatan metodologi penelitian, pemahaman mengenai klirens etik dalam penelitian, serta pengenalan dasar-dasar penelitian sesuai kaidah ilmiah.
Pada tingkat nasional, OPSI 2026 diikuti finalis dari jenjang SMP/MTs/sederajat dan SMA/MA/SMK/MAK/sederajat. Untuk jenjang pendidikan dasar, bidang yang dilombakan mencakup Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Terapan (IPT), dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Sementara itu, pada jenjang pendidikan menengah terdapat bidang Fisika Terapan dan Rekayasa (FTR), Ilmu Sosial Humaniora (ISH), serta Matematika, Sains, dan Teknologi (MST).
Sebagai bentuk apresiasi atas capaian peserta, Kemendikdasmen memberikan uang pembinaan bagi para peraih medali OPSI Tingkat Nasional Tahun 2026. Pada jenjang SMP/MTs/sederajat, peraih medali emas memperoleh Rp15 juta, perak Rp10 juta, dan perunggu Rp5 juta. Sementara pada jenjang SMA/MA/SMK/MAK/sederajat, peraih emas memperoleh Rp25 juta, perak Rp20 juta, dan perunggu Rp15 juta.
Selain uang pembinaan, para talenta berprestasi memperoleh sejumlah peluang pengembangan lanjutan, antara lain mengikuti pembinaan menuju ajang internasional, program Bina Talenta Indonesia, peluang mengikuti seleksi Beasiswa Talenta Indonesia untuk jenjang sarjana (S1) di dalam maupun luar negeri, serta peluang mengikuti jalur prestasi untuk masuk perguruan tinggi di dalam maupun luar negeri.
Melalui berbagai kesempatan tersebut, Kemendikdasmen mendorong agar capaian peserta OPSI tidak berhenti pada penganugerahan medali, tetapi berlanjut pada kesempatan belajar, pengembangan kompetensi, dan penguatan jejaring untuk mendukung perjalanan talenta riset dan inovasi. (Penulis: Tim Puspresnas, Editor: Destian, Denty)
Para pemenang OPSI 2026 saat menerima penganugrahan dan medali oleh Staf Khusus Menteri Bidang Peningkatan STEM dan Kompetensi Guru, Maila Dinia Husni Rahiem, di Tangerang Selatan, Selasa (29/9). Fotografer: Tim Puspresnas
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Bandung Barat – Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) 7 Bogor menerapkan pembelajaran berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) untuk mendorong murid memahami materi melalui persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini diwujudkan melalui berbagai proyek yang mengintegrasikan sejumlah mata pelajaran.
Kepala SNT 7 Bogor, Fitriyani, menjelaskan bahwa penerapan STEM dan pembelajaran interdisipliner menjadi salah satu kekhasan SNT. Program tersebut mulai diterapkan setelah pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan prastudi pada awal pembelajaran September 2026.
Pada jenjang SMP, salah satu proyek yang dilaksanakan adalah “Misi Kurir Kemerdekaan”. Proyek ini menggabungkan Pendidikan Pancasila, Bahasa Indonesia, dan Matematika. Murid mempelajari informasi mengenai Proklamasi Kemerdekaan sekaligus melakukan perhitungan untuk merancang wadah yang mampu melindungi teks Proklamasi dari air dan tekanan selama proses pengiriman.
Sementara itu, pada jenjang SMA terdapat proyek “Site Plan Ruang Terbuka Adaptif”. Dalam proyek ini, murid kelas X mengintegrasikan pembelajaran IPA, Bahasa Indonesia, Matematika, dan PJOK untuk mengkaji fenomena urban heat island. Murid kemudian mengolah data dan menyusun rancangan ruang terbuka yang dapat mendukung upaya mitigasi perubahan iklim sekaligus meningkatkan kebugaran jasmani.
Proyek lainnya adalah “Teknologi Tapal Batas” yang memadukan Pendidikan Pancasila, Koding dan Kecerdasan Artifisial, Informatika, serta Fisika. Melalui proyek tersebut, murid mempelajari konsep kedaulatan NKRI, gelombang ultrasonik, penyusunan pseudocode, hingga pemrograman Arduino. Hasil pembelajaran diwujudkan dalam bentuk prototipe smart border berbasis sensor yang dapat mendeteksi objek secara otomatis dan real time.
Menurut Fitriyani, penerapan STEM memberikan dampak terhadap kemampuan murid dalam menyelesaikan persoalan. Murid didorong untuk mengembangkan kemampuan troubleshooting, berpikir logis dan sistematis, serta menerapkan pengukuran dalam kegiatan ilmiah.
Selain STEM, SNT 7 Bogor juga mengembangkan pembelajaran interdisipliner. Salah satunya melalui tema “Bersama Membangun Digital Positif” yang menggabungkan Pendidikan Pancasila, Bahasa Indonesia, Informatika, serta Koding dan Kecerdasan Artifisial. Murid diajak menganalisis persoalan etika digital dan menghasilkan kampanye positif dalam bentuk poster atau infografis.
Ada pula proyek “Bio Detective: Biodiversitas Tersembunyi” yang mengintegrasikan IPA dan Seni Rupa. Dalam kegiatan ini, murid mengamati serta mengidentifikasi keanekaragaman hayati di lingkungan sekolah dengan memanfaatkan perangkat digital dan sejumlah aplikasi berbasis kecerdasan artifisial. Hasil pengamatan kemudian diolah menjadi infografis digital dan dipresentasikan melalui kegiatan gallery walk.
Penerapan STEM dan pembelajaran interdisipliner tersebut menjadi bagian dari upaya SNT 7 Bogor menghadirkan pembelajaran yang kontekstual dan bermakna. Melalui proyek yang dikerjakan, murid tidak hanya memahami konsep pembelajaran, tetapi juga belajar menganalisis masalah, menguji gagasan, bekerja sama, dan menghasilkan solusi yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata. Proses inilah yang diharapkan mendorong terwujudnya pembelajaran mendalam di lingkungan SNT.