Pendaftaran TKA 2026 Ditutup, Jumlah Pendaftar Lengkap Naik Hampir 350 Ribu

Pendaftaran TKA 2026 Ditutup, Jumlah Pendaftar Lengkap Naik Hampir 350 Ribu

Siaran Pers

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 843/sipers/A6/IX/2026

Jakarta, 30 September 2026 — Pendaftaran Tes Kemampuan Akademik (TKA) Tahun 2026 untuk murid SMA, SMK, MA, dan satuan pendidikan sederajat resmi ditutup pada 27 September 2026. Hingga batas akhir pendaftaran, tercatat 4.215.314 murid telah mendaftar dari berbagai satuan pendidikan di seluruh Indonesia.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.863.957 murid telah melengkapi proses pendaftaran. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan TKA Tahun 2025 yang mencatat 3.518.167 murid, dengan kenaikan sebanyak 345.790 murid atau 9,8 persen. Jumlah pendaftar dengan data lengkap masih berpotensi bertambah setelah proses penyelesaian data residu dilakukan.

Kepala Badan Kebijakan dan Pengembangan Mutu Pendidikan (BKPDM), Toni Toharudin, menyampaikan bahwa peningkatan jumlah calon pendaftar menunjukkan semakin luasnya partisipasi satuan pendidikan dalam pelaksanaan TKA. “Tahun ini jumlah calon pendaftar TKA meningkat hampir 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ini menunjukkan partisipasi yang semakin luas dari satuan pendidikan dan peserta didik. Kami juga masih melakukan penyelesaian data residu, sehingga jumlah calon peserta yang tercatat saat ini masih dapat bertambah,” ujar Toni.

Setelah penutupan pendaftaran, Kemendikdasmen bersama pemerintah daerah dan satuan pendidikan melanjutkan proses pemutakhiran dan penyelesaian data residu. Proses tersebut dilakukan untuk memastikan data calon peserta lengkap dan sesuai sebelum memasuki tahapan pelaksanaan TKA.

Kemendikdasmen menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah, satuan pendidikan, guru, orang tua, dan calon peserta yang telah mendukung proses pendaftaran TKA 2026. Kolaborasi seluruh pihak menjadi bagian penting dalam memastikan kesiapan pelaksanaan asesmen di berbagai wilayah Indonesia.

Selanjutnya, Kemendikdasmen menyiapkan pelaksanaan TKA yang dijadwalkan berlangsung pada 26 Oktober hingga 8 November 2026. Persiapan meliputi kesiapan satuan pendidikan, infrastruktur, sistem, serta koordinasi dengan pemerintah daerah, kantor wilayah Kementerian Agama, perguruan tinggi negeri, dan berbagai pemangku kepentingan terkait.

TKA merupakan asesmen untuk memperoleh informasi mengenai capaian kemampuan akademik peserta didik. Hasil TKA dapat dimanfaatkan sebagai salah satu informasi untuk melihat kesiapan peserta didik melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, mendukung proses penerimaan murid baru, serta menjadi data bagi pemangku kepentingan dalam meningkatkan mutu pembelajaran.

Kemendikdasmen menegaskan bahwa TKA bukan penentu kelulusan dan tidak menggantikan penilaian yang dilakukan oleh satuan pendidikan. TKA melengkapi informasi mengenai capaian belajar peserta didik sehingga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan pendidikan.

Menjelang pelaksanaan, Kemendikdasmen mengajak seluruh peserta didik mempersiapkan diri dengan belajar sungguh-sungguh secara wajar dan tetap menjaga kesehatan. Satuan pendidikan juga diharapkan memastikan kesiapan teknis serta memberikan pendampingan kepada peserta didik agar pelaksanaan TKA berlangsung tertib dan lancar.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

GSI Jawa Barat Matangkan Persiapan Menuju Putaran Nasional 2026

GSI Jawa Barat Matangkan Persiapan Menuju Putaran Nasional 2026

Bandung – Jawa Barat terus mematangkan persiapan menghadapi putaran nasional Gala Siswa Indonesia (GSI) 2026 yang akan berlangsung pada Oktober mendatang. Persiapan dilakukan melalui rangkaian Training Center (TC) dan Talent Scouting bagi peserta GSI jenjang SMP untuk menjaring bibit unggul yang akan mewakili Jawa Barat di tingkat nasional.

Rangkaian kegiatan diawali dengan TC dan Talent Scouting GSI Putra Jawa Barat di GOR Bogor Selatan pada Jumat (25/9/2026). Para peserta menjalani serangkaian tes secara terukur, mulai dari tes antropometri dan biomotor dasar hingga pengujian kecerdasan taktis dan mentalitas bertanding melalui Game Situation.

Proses penjaringan tidak hanya melihat kemampuan pemain dalam pertandingan, tetapi juga memetakan berbagai aspek yang mendukung performa atlet. Pendekatan tersebut dilakukan melalui pengukuran kondisi fisik, keterampilan, serta kemampuan memahami situasi permainan sehingga talenta yang terjaring dapat dipersiapkan secara lebih optimal.

Pendekatan serupa diterapkan pada GSI Putri Jawa Barat melalui TC yang berlangsung pada Senin (28/9/2026) di dua lokasi di Kota Bandung. TC dilaksanakan berbasis data objektif untuk memperoleh gambaran kemampuan setiap pemain secara lebih menyeluruh.

Pada sesi pagi di SMPN 37 Bandung, para pemain mengikuti Tes Antropometri untuk memetakan komposisi dan struktur tubuh, serta Tes Biomotor yang mengukur kecepatan, kelincahan, daya ledak, dan daya tahan fisik. Selanjutnya, sesi siang di Lapangan Pindad Bandung difokuskan pada Tes Keterampilan, Teknik, dan Taktikal, serta penilaian aspek psikologi dan lingkungan sosial.

Rangkaian kegiatan GSI Putri kemudian ditutup dengan Game Simulasi untuk menguji pemahaman permainan dan kemampuan pemain dalam menghadapi situasi pertandingan di bawah tekanan.

Rangkaian TC dan Talent Scouting tersebut menjadi bagian dari persiapan Jawa Barat dalam membentuk tim GSI yang memiliki kesiapan fisik, teknik, taktikal, dan mental untuk menghadapi putaran nasional GSI 2026. Melalui TC berbasis data objektif dan proses Talent Scouting yang terukur, Jawa Barat berupaya menjaring bibit unggul sekaligus mempersiapkan skuad terbaik untuk menghadapi putaran nasional GSI 2026.

Kemendikdasmen Perkuat Pendidikan Pancasila melalui Pembelajaran Mendalam dan Budaya Sekolah

Kemendikdasmen Perkuat Pendidikan Pancasila melalui Pembelajaran Mendalam dan Budaya Sekolah

Siaran Pers

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 842/sipers/A6/IX/2026

Bandung, Jawa Barat, 29 September 2026 – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat pendidikan Pancasila sebagai pilar pembentukan karakter dan kepribadian peserta didik. Sejalan dengan hal tersebut, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa penguatan pendidikan Pancasila dilakukan tidak hanya melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui budaya sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, pembiasaan, serta pengalaman nyata peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam Seminar Lokakarya Akademik yang mengangkat tema “Pancasila Sebagai Falsafah dan Dasar Negara: Penguatan Pendidikan Pancasila dalam Sistem Pendidikan Nasional”, Menteri Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa pendidikan Pancasila perlu dipahami secara utuh melalui tiga aspek, yaitu pengetahuan mengenai Pancasila, pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan nyata, dan internalisasi Pancasila sebagai kepribadian bangsa Indonesia.

Menurutnya, pembelajaran Pancasila perlu terus dikembangkan agar tidak berhenti pada aspek pengetahuan. Oleh karena itu, penguatan dilakukan melalui pembelajaran mendalam (deep learning) dan optimalisasi hidden curriculum, sehingga nilai-nilai Pancasila dapat hadir dalam berbagai aktivitas dan budaya di sekolah.

“Kiita ingin perkuat lagi hidden curriculum. Jadi, kami sekarang ada kebijakan deep learning, pembelajaran mendalam yang kita berusaha untuk bagaimana konteks dan implementasi dari mata pelajaran itu menjadi lebih kuat lagi,” ucap Mendikdasmen di Bandung, Jawa Barat, Selasa (29/9).

Melalui pendekatan tersebut, sekolah diharapkan menjadi ruang yang memberikan pengalaman nyata kepada peserta didik untuk mempraktikkan nilai-nilai Pancasila. Interaksi guru dan murid, hubungan antar peserta didik, serta berbagai kegiatan sekolah menjadi bagian penting dalam membangun budaya yang mencerminkan kehidupan kebangsaan.

Selain pembelajaran, penguatan nasionalisme dilakukan melalui kegiatan ekstrakurikuler dan pembiasaan. Pramuka menjadi salah satu sarana penguatan karakter, sementara berbagai pilihan ekstrakurikuler juga dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan keterampilan di luar pembelajaran formal.

“Kami punya prinsip bahwa pilihan ekstrakurikuler itu perlu kita perbanyak bagi. Para murid dapat memiliki keterampilan, memiliki kemampuan di luar mata pelajaran yang diajarkan di pelajaran formal,” ucapnya.

Kemendikdasmen juga memperkuat pelaksanaan upacara bendera dan kegiatan pada hari-hari besar nasional. Dalam kegiatan tersebut, peserta didik diajak menghayati nilai-nilai kebangsaan melalui Ikrar Pelajar Indonesia yang mencakup keimanan dan ketakwaan, penghormatan kepada orang tua dan guru, kesungguhan belajar, kerukunan dengan teman, serta kecintaan terhadap tanah air.

Penguatan tersebut menjadi semakin penting karena nilai Pancasila perlu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Kecintaan terhadap Indonesia, misalnya, perlu tercermin dalam kepedulian terhadap lingkungan, penghormatan terhadap keberagaman, kemampuan hidup bersama, serta sikap yang mencerminkan persatuan.

“Sikap-sikap seperti ini akan bisa ditumbuhkan kalau murid memiliki banyak pengalaman dalam lembaga pendidikan yang banyak mengamalkan nilai-nilai Pancasila,” lanjut Mendikdasmen.

Dengan penguatan pembelajaran, budaya sekolah, keteladanan, pembiasaan, serta kegiatan kolaboratif, pendidikan Pancasila diharapkan semakin bermakna bagi peserta didik. Upaya ini menjadi bagian dari komitmen bersama untuk membentuk generasi Indonesia yang berkarakter, menghargai keberagaman, mencintai tanah air, dan siap berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Kemendikdasmen optimistis bahwa pendidikan yang mengintegrasikan pengetahuan dan nilai akan mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih bermakna. Dengan dukungan guru, sekolah, keluarga, dan seluruh ekosistem pendidikan, nilai-nilai Pancasila diharapkan tumbuh menjadi bagian dari kehidupan peserta didik dan menjadi bekal mereka dalam menyongsong masa depan Indonesia yang maju, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. (Penulis: Nanda/Editor: Stephanie,Denty/Fotografer: Morecka)

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

Komik Buah Ajaib, Kenalkan Biji Pala Lewat Cerita dan Pembelajaran STEM

Komik Buah Ajaib, Kenalkan Biji Pala Lewat Cerita dan Pembelajaran STEM

Siaran Pers

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 841/sipers/A6/IX/2026

Jakarta, 29 September 2026 – Buku tidak selalu harus hadir dalam bentuk bacaan yang serius dan penuh teks. Komik dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan pengetahuan sekaligus menumbuhkan minat baca anak. Hal itu tergambar dalam buku yang berjudul Buah Ajaib, sebuah komik yang mengangkat biji pala melalui cerita, visual, dan informasi tentang manfaat serta sejarahnya.

Buku komik karya Tuti Adhayati tersebut dibedah dalam kegiatan Bedah Buku Seri “Balik Cerita” yang diselenggarakan Pusat Perbukuan, Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), di Perpustakaan Kemendikdasmen, Jakarta, pada Selasa (29/9).

Kepala Pusat Perbukuan, Supriyatno, dalam pesannya mengatakan kegiatan bedah buku merupakan salah satu ikhtiar untuk meningkatkan literasi sekaligus memperkenalkan buku-buku terbitan Pusat Perbukuan maupun karya penulis dan berbagai lembaga kepada masyarakat. “Bedah buku yang dilakukan sebagai sebuah ikhtiar dalam rangka untuk meningkatkan literasi, memperkenalkan buku-buku hasil terbitan Pusat Perbukuan maupun buku-buku yang dituliskan oleh para penulis dan juga dari berbagai lembaga,” ujar Supriyatno.

Dalam kesempatan tersebut, Penulis Buku Buah Ajaib, Tuti Adhayati, menceritakan bahwa ide penulisan komik tersebut berawal dari ketertarikan terhadap pala. Ia melihat masih banyak orang, termasuk orang dewasa, yang belum mengetahui secara utuh bentuk biji pala maupun berbagai manfaatnya. “Biji Pala bukan cuma untuk membuat soto, bukan cuma jadi bumbu aja. Tetapi dapat diolah menjadi obat-obatan, parfum, banyak sekali yang lengkap berada dalam kehidupan kita tanpa kita sadari,” kata Tuti.

Dari ketertarikan tersebut, Tuti menuturkan bahwa melakukan riset mengenai biji pala, mulai dari manfaat, pengolahan, hingga sejarahnya sebagai salah satu komoditas yang pernah menarik perhatian dunia. “Bahwa di Indonesia itu punya salah satu rempah-rempah yang dulu pernah mahal harganya, namun sekarang mungkin sudah banyak dan tampak biasa saja,” tuturnya.

Tuti memilih format komik dalam proses penulisan agar informasi tentang pala dapat diterima anak-anak dengan cara yang menyenangkan. Ia membayangkan buku yang penuh gambar dan warna, tetapi tetap menyampaikan informasi. “Pokoknya harus banyak gambarnya, berwarna, supaya anak-anak bacanya tidak membosankan dan kaku,” ujarnya.

Tuti kemudian menentukan pembaca sasaran pada jenjang sekolah dasar. Menurut Tuti, informasi dalam buku anak perlu disampaikan secara sederhana agar tidak membebani konsentrasi pembaca. Ia pun turut memilih satu persoalan sebagai bagian dari alur cerita, yaitu persoalan jamur yang berkaitan dengan pala. Informasi tentang manfaat dan kandungan pala kemudian dimasukkan ke dalam cerita melalui situasi yang dialami tokoh dalam komik. “Jadi tujuan utama agar info tentang masalah dalam komik tersebut tetap masuk tapi anak-anak tidak merasa seperti dibebankan untuk berpikir keras,” jelas Tuti.

Selain sebagai bacaan, buku komik ‘Buah Ajaib’ juga sudah digunakan menjadi sumber belajar yang kontekstual oleh guru SMP Bosowa Bina Insani Bogor, Kharisma Prawesti Sri Utami, yang melihat cerita tentang Biji Pala sebagai buah ajaib dalam komik tersebut dapat menjadi titik awal bagi murid untuk menemukan masalah, merancang solusi, dan menghubungkannya dengan berbagai bidang dalam pembelajaran STEM.

Kharisma menuturkan bahwa setelah membaca komik, murid dapat diajak mengidentifikasi persoalan yang muncul dalam cerita, misalnya persoalan jamur pada biji pala. Kemudian dari sana, murid dapat diajak memikirkan solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi persoalan tersebut.

Ia menjelaskan bahwa pendekatan engineering dalam STEM tidak selalu harus berkaitan dengan mesin atau teknologi. Namun murid dapat diajak memikirkan desain atau rekayasa solusi berdasarkan persoalan yang mereka temukan dalam cerita. “Karena engineering bukan hanya berkaitan dengan mesin, namun desain atau rekayasa solusi apa yang dapat dilakukan sudah termasuk dalam pembelajaran engineering sendiri,” ujarnya.

Lebih lanjut, Kharisma mengungkapkan bahwa konsep matematika juga dapat dihadirkan melalui aktivitas sederhana. Misalnya, murid dapat diajak menghitung ukuran rak pengering buah pala atau memperkirakan durasi pengeringan. “Setelah membaca buku komik tersebut dapat memberikan lembar kerja yang berisi pertanyaan tentang masalah yang ditemukan dalam cerita dan solusi yang dapat dirancang oleh murid,” ucap Kharisma.

Menurut Kharisma, pembelajaran STEM tidak berhenti pada IPA isi buku komik ‘Buah Ajaib’ juga dapat dikaitkan dengan IPS, misalnya dengan membahas pala sebagai komoditas ekspor serta bagaimana pengolahan produk dapat memberikan nilai ekonomi.

“Berbicara STEM tidak hanya dikaitkan dengan IPA namun bisa dengan mata pelajaran lain seperti komik ini bisa dikaitkan dengan IPS yakni komoditas ekspor atau bagaimana meningkatkan ekonomi dengan cara mengolahnya,” pungkasnya.

Harapannya dengan pendekatan tersebut, sebuah komik tidak hanya menjadi bahan bacaan, tetapi juga dapat menjadi pemantik rasa ingin tahu. Cerita tentang buah pala dapat membawa murid untuk membaca, menemukan persoalan, bertanya, menghitung, merancang solusi, sekaligus mengenal potensi Indonesia.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

248 SMA, 307 SMK, dan 121 SLB di Jatim Mendapatkan Revitalisasi

248 SMA, 307 SMK, dan 121 SLB di Jatim Mendapatkan Revitalisasi

Siaran Pers

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 837/sipers/A6/IX/2026

Surabaya, Jawa Timur, 29 September 2026 — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat kualitas pendidikan melalui Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Digitalisasi Pembelajaran. Kedua program tersebut merupakan program prioritas yang diamanatkan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
 
Hal tersebut disampaikan Abdul Mu’ti dalam kegiatan Penguatan Implementasi Program Prioritas dan Revitalisasi Satuan Pendidikan di Jawa Timur. Menurutnya, penguatan pendidikan dilakukan melalui empat fondasi, yaitu infrastruktur fisik melalui revitalisasi dan digitalisasi, infrastruktur pedagogis melalui peningkatan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan, infrastruktur budaya melalui penguatan pendidikan karakter, serta infrastruktur regulasi yang mendukung pelaksanaan pendidikan bermutu.

Mendikdasmen menghadiri kegiatan Penguatan Implementasi Program Prioritas dan Revitalisasi Satuan Pendidikan di Jawa Timur di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Surabaya, Sabtu (26/9). Fotografer: Destian

Untuk memperbaiki kondisi sarana belajar di sekolah, pemerintah menargetkan perbaikan secara bertahap pada seluruh sekolah yang mengalami kerusakan sedang dan berat. Pada 2025, sebanyak 16.167 satuan pendidikan telah direvitalisasi. pada 2026, pemerintah menargetkan revitalisasi 71.744 satuan pendidikan melalui dukungan tambahan anggaran dan APBN.
 
Pelaksanaan revitalisasi dilakukan dengan mekanisme swakelola. Menurut Menteri Mu’ti, mekanisme ini memberikan kemudahan dalam pelaksanaan, lebih efisien karena dikelola secara langsung, dan memungkinkan pembangunan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing sekolah. Swakelola juga melibatkan masyarakat setempat sehingga turut menggerakkan perekonomian di sekitar satuan pendidikan.
 
Pada 2026, prioritas revitalisasi diberikan kepada satuan pendidikan yang terdampak bencana, berada di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta mengalami kerusakan berat. Mendikdasmen mengajak seluruh pihak mengawal pelaksanaan program agar tepat sasaran dan berjalan sesuai tujuan. “Saya ingin mengajak semua kita untuk mendukung program ini. Jangan ada yang mengganggu program ini untuk kepentingan pribadi,” tegas Abdul Mu’ti.
 
Di sisi lain, program Digitalisasi Pembelajaran diarahkan untuk mendukung guru menghadirkan proses belajar yang lebih menarik dan bermakna. Dukungan tersebut dilakukan melalui penyediaan Interactive Flat Panel (IFP), yang disertai dengan pelatihan guru, bantuan laptop, serta penyediaan materi pembelajaran dalam media penyimpanan. Abdul Mu’ti menyampaikan, penyediaan IFP akan terus diperluas. Pada 2026, pemerintah menyiapkan tambahan perangkat sehingga setiap satuan pendidikan dapat memperoleh tiga IFP, sekaligus meningkatkan kapasitas guru dalam memanfaatkan teknologi tersebut agar pembelajaran lebih menarik dan bermakna.
 
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai, mengapresiasi dukungan pemerintah pusat terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Jawa Timur, khususnya melalui program Revitalisasi Satuan Pendidikan. Menurutnya, dukungan tersebut dirasakan oleh satuan pendidikan di berbagai wilayah, termasuk daerah yang membutuhkan afirmasi. “Salah satu program nasional yang sangat kami rasakan dampaknya adalah Revitalisasi Satuan Pendidikan. Atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan seluruh keluarga besar pendidikan di Provinsi Jawa Timur, kami menyampaikan terima kasih kepada Bapak Presiden Republik Indonesia, Bapak Menteri, dan seluruh jajarannya,” kata Aries.

Secara khusus di Jawa Timur, pada 2026 dukungan revitalisasi diberikan kepada 248 SMA, 307 SMK, dan 121 SLB, termasuk satuan pendidikan di daerah 3T. Angka tersebut menunjukkan bahwa revitalisasi tidak hanya menyasar perbaikan sarana fisik, tetapi juga diarahkan untuk mendukung terciptanya lingkungan belajar yang lebih baik bagi warga sekolah.
 
“Bagi kami, revitalisasi bukan hanya soal memperbaiki gedung atau tembok. Revitalisasi harus menghidupkan kembali semangat sekolah. Gedung boleh baru, tetapi yang jauh lebih penting [adalah] bagaimana di dalam gedung ini lahir pembelajaran yang lebih baik,” pungkas Aries. (Penulis: Stephanie / Editor: Rany)

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers