Bogor, 7 Oktober 2026 – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menekankan pentingnya pendidikan dalam meningkatkan kesadaran dan mendorong aksi nyata pelestarian keanekaragaman hayati. Hal tersebut disampaikan dalam pembukaan The 5th International Conference on Tropical Biology (ICTB) 2026 di Bogor, yang mempertemukan peneliti, akademisi, pendidik, pembuat kebijakan, mahasiswa, dan pemangku kepentingan dari berbagai negara, Senin (5/10).
Dalam kesempatan tersebut, Staf Ahli Bidang Teknologi Pendidikan, Kemendikdasmen, Moch. Abduh, menyampaikan bahwa keanekaragaman hayati merupakan fondasi kehidupan yang menopang sistem pangan, perekonomian, warisan budaya, dan keseimbangan ekologi. Namun, kehilangan keanekaragaman hayati, perubahan iklim, degradasi lahan, serta pembangunan yang tidak berkelanjutan menjadi tantangan yang membutuhkan kerja sama lintas negara, disiplin ilmu, dan generasi. Menurutnya, pendidikan menjadi salah satu instrumen penting untuk membangun masa depan yang berkelanjutan.
Abduh menjelaskan bahwa pendidikan tidak hanya berfungsi untuk menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membentuk cara berpikir, sikap, dan hubungan manusia dengan lingkungan. Oleh karena itu, pembelajaran perlu memberikan pengalaman langsung agar peserta didik mampu memahami ekosistem serta berkontribusi dalam pelestarian alam. Ia menegaskan, “Sebuah sekolah juga tidak terpisah dari lingkungannya. Sebaliknya, lingkungan itu sendiri seharusnya menjadi ruang kelas hidup. Hutan, sungai, gunung, kawasan pesisir, dan taman nasional dapat dimanfaatkan sebagai ruang belajar untuk menghubungkan pengetahuan ilmiah dengan kondisi nyata,” ujarnya pada ICTB 2026 sekaligus acara peluncuran PROTIBAGURU (Program Praktik Baik Guru Berkelanjutan) di Bogor (5/10).
Sementara itu, Direktur SEAMEO BIOTROP, Edi Santosa, menyampaikan bahwa tantangan pelestarian keanekaragaman hayati tidak dapat diselesaikan oleh satu negara, lembaga, atau disiplin ilmu saja. Menurutnya, diperlukan keterhubungan antara sains, pendidikan, inovasi, kebijakan, dan kolaborasi regional.
Selain itu, Koordinator ICTB 2026, Dewi Suryani, menjelaskan bahwa konferensi ini menjadi wadah pertukaran pengetahuan dan pengembangan kolaborasi di bidang biologi tropis. ICTB 2026 menerima 51 makalah/karya penelitian, terdiri atas 43 presentasi lisan dan delapan presentasi poster. Kegiatan ini diikuti sekitar 200 peserta yang mencakup mahasiswa, guru, dan pemakalah dari sembilan negara, yaitu Aljazair, Australia, India, Indonesia, Malaysia, Filipina, Polandia, Tailan, dan Timor-Leste. Ia berharap konferensi ini dapat memperkuat kolaborasi untuk mendukung masa depan kawasan tropis yang berkelanjutan.
Dukungan terhadap kolaborasi lintas negara juga disampaikan oleh Deputy Director for Programme and Development, SEAMEO Secretariat, John Arnold Sasi Siena, yang menekankan bahwa strategi pelestarian, penelitian, dan tata kelola keanekaragaman hayati perlu melampaui batas geografis. Ia juga berharap ICTB 2026 menghasilkan keluaran konkret, termasuk rekomendasi kebijakan, publikasi ilmiah, dan jaringan regional untuk memperkuat kolaborasi jangka panjang.
Pada kesempatan yang sama, Presiden IPB University sekaligus anggota Governing Board SEAMEO BIOTROP dari Indonesia, Alim Setiawan, menambahkan bahwa pengetahuan ilmiah perlu diterapkan dalam kebijakan dan praktik nyata. Alim menuturkan bahwa upaya pelestarian membutuhkan pendidikan keanekaragaman hayati, literasi lingkungan, inovasi teknologi, serta kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah, lembaga penelitian, masyarakat, dan sektor swasta.
ICTB 2026 menjadi momentum untuk memperluas jejaring kolaborasi dan mempertemukan berbagai gagasan dalam menjawab tantangan pelestarian keanekaragaman hayati tropis. Hasil pertemuan tersebut diharapkan dapat membuka lebih banyak peluang kerja sama dalam penelitian, pendidikan, dan penerapan di masyarakat demi mendukung keberlanjutan lingkungan.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Jakarta, 7 Oktober 2026 — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat upaya pencegahan korupsi dan pembangunan budaya integritas di sektor pendidikan. Hal itu disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti sebagai respons atas penyampaian hasil Indeks Integritas Pendidikan 2026 oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), saat peluncuran Indeks Integritas Pendidikan Nasional, di Jakarta, Selasa (6/10).
Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyampaikan apresiasi kepada KPK atas kolaborasi serta hasil Indeks Integritas Pendidikan 2026 yang menjadi salah satu masukan guna memperbaiki kebijakan layanan pendidikan. Ia menegaskan, penguatan integritas pendidikan telah dilakukan melalui sejumlah kebijakan strategis yang sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk membangun bangsa yang jujur, berperilaku baik, serta memiliki budaya yang bersih dari korupsi.
“Pendidikan bukan sekadar proses administratif yang hanya untuk mengukur capaian akademik, tetapi juga proses untuk membangun karakter dan budaya bangsa. Salah satu karakter yang terus kita bangun adalah sikap kejujuran dan integritas,” ungkap Mendikdasmen.
Untuk mendukung hal tersebut, Kemendikdasmen terus melakukan penguatan sistem layanan publik yang semakin terbuka, akuntabel, dan mampu mencegah terjadinya praktik penyimpangan. Dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), Mendikdasmen menjelaskan bahwa Kemendikdasmen terus menyempurnakan sistem tersebut melalui kebijakan yang mengedepankan prinsip inklusif dan berkeadilan.
Kemendikdasmen juga turut memperkuat layanan pengaduan masyarakat melalui Unit Layanan Terpadu (ULT). Masyarakat diberikan akses untuk menyampaikan laporan dan aspirasi melalui berbagai saluran yang tersedia, termasuk kanal komunikasi langsung dengan pihak kementerian.
”Penguatan integritas juga kami lakukan melalui Pembelajaran Mendalam. Dengan pendekatan tersebut, kami tidak hanya mengarahkan murid untuk meningkatkan kemampuan akademik, namun juga memperkuat pendidikan karakter yang melibatkan empat pusat pendidikan, yakni sekolah, keluarga, masyarakat, dan media,” ujarnya.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, saat menyampaikan keynote speech dalam peluncuran Indeks Integritas Pendidikan Nasional di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (6/10). Fotografer: Destian
Upaya pembentukan karakter juga turut diperkuat melalui Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, penguatan layanan bimbingan dan konseling, serta berbagai program lainnya. Penguatan transparansi dan akuntabilitas juga dilakukan dalam penyaluran dana pendidikan yang terus disempurnakan melalui sistem yang semakin terbuka, akuntabel, dan berbasis digital.
Lebih lanjut, pada program Revitalisasi Satuan Pendidikan, Kemendikdasmen juga telah melakukan penyederhanaan proses sekaligus memperkuat akuntabilitas agar pelaksanaan pembangunan sekolah dapat menghasilkan kualitas hasil pekerjaan yang lebih baik. Dalam pelaksanaannya, program ini dilakukan dengan skema swakelola, dengan harapan juga mampu meningkatkan ekonomi bagi masyarakat di daerah.
Pada sektor Data Pokok Pendidikan (Dapodik), Mendikdasmen juga mendorong seluruh pihak untuk membangun budaya kejujuran dalam penyampaian data. Menurutnya, akurasi data yang tepat dapat berpengaruh pada penentuan arah kebijakan dan program agar memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat.
”Berbagai langkah yang telah kami lakukan merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk membangun tata kelola pendidikan yang semakin transparan, akuntabel, dan berintegritas. Dengan semangat tersebut, kami ingin layanan pendidikan dapat menjadi cerminan pembangunan budaya integritas dan pencegahan korupsi,” tutur Mendikdasmen.
Sementara itu, Ketua KPK, Setyo Budiyanto, menekankan bahwa masa depan Indonesia dapat dibangun dari aktivitas ruang kelas. Sudut sekolah bukan hanya tempat ilmu diajarkan, namun juga tempat karakter murid dibentuk dan tempat masa depan bangsa dimulai.
Kepada seluruh peserta acara, Setyo menegaskan bahwa pemberantasan korupsi harus dimulai dari ruang belajar. Baginya, penindakan korupsi merupakan hal penting, namun pencegahan melalui pembangunan karakter adalah kunci utama dalam menentukan masa depan bangsa.
”Sekolah boleh melahirkan orang cerdas, kampus boleh melahirkan ahli. Tetapi hanya pendidikan yang berintegritas yang dapat melahirkan pemimpin yang dapat dipercaya,” tutup Setyo. (Penulis: Destian, Editor: Ririn, Seno)
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Tangerang, 7 Oktober 2026 – Talenta muda Indonesia hasil pembinaan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) kembali menorehkan prestasi membanggakan di panggung internasional. Lima murid Indonesia yang menjadi delegasi pada ajang International Olympiad on Astronomy and Astrophysics (IOAA) 2026 berhasil membawa pulang tiga medali perunggu, satu Honorable Mention, dan Winner of the Poster Competition.
Adapun tiga medali perunggu diraih oleh Muhammad Zhafif dari SMAS Kharisma Bangsa, Kota Tangerang Selatan; Khalil Azyumardi Abnel dari MAN 1 Pekanbaru, Kota Pekanbaru; serta Yugo Deandra Wirayudha dari SMA Negeri 1 Purwokerto, Kabupaten Banyumas. Sementara itu, Muhammad Bagir dari SMA Negeri 8 Jakarta meraih Honorable Mention. Selain capaian tersebut, Muhammad Faiz Rahman dari SMAS Pesantren Unggul Al Bayan, Kabupaten Sukabumi, turut mengukir prestasi melalui Winner of the Poster Competition secara tim dengan karya berjudul “VGOS in SEA, and the FUTURE of HUMANKIND.”
Kepala Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Maria Veronica Irene Herdjiono, menyampaikan apresiasi kepada seluruh delegasi Indonesia yang telah berjuang di ajang IOAA 2026. Menurutnya, capaian pada ajang internasional merupakan bagian dari proses panjang dalam mengembangkan potensi murid.
“Capaian ini menjadi bukti bahwa talenta muda Indonesia memiliki potensi untuk bersaing di tingkat dunia. Kemendikdasmen terus memperkuat pembinaan talenta secara berkelanjutan agar potensi tersebut dapat berkembang, berprestasi, dan pada saatnya memberikan kontribusi bagi kemajuan Indonesia,” jelas Kepala Puspresnas, Kemendikdasmen, Maria Veronica Irene Herdjiono, Senin (5/10).
Prestasi di IOAA 2026 sekaligus memperkuat komitmen Kemendikdasmen dalam membangun ekosistem Manajemen Talenta Murid secara berkelanjutan. Prestasi internasional tidak ditempatkan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai bagian dari perjalanan murid dalam mengembangkan kompetensi, karakter, pengalaman, dan kontribusi bagi masyarakat.
Keikutsertaan murid Indonesia pada IOAA 2026 merupakan bagian dari proses pembinaan talenta yang dilakukan secara berkelanjutan oleh Kemendikdasmen. Sebelum menjadi bagian dari delegasi Indonesia, para murid mengikuti rangkaian seleksi yang berawal dari Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Astronomi. Kemudian, para pemenang OSN mengikuti pembinaan dan seleksi secara bertahap hingga terpilih lima murid terbaik yang mewakili Indonesia di IOAA 2026.
Salah satunya adalah Muhammad Zhafif dari SMAS Kharisma Bangsa. “Ajang tersebut merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Selain berkompetisi, kami membangun jejaring dengan murid dari seluruh dunia,” ungkap Zhafif.
Zhafif turut merasakan bahwa perjalanan mengikuti OSN hingga ajang internasional memberikan pengalaman yang tidak hanya memperkuat kemampuan, tetapi juga membentuk karakter.
“Prestasi di OSN tentunya merupakan sebuah privilege. Perjalanan panjang yang saya lalui, mulai dari mengikuti OSN hingga meraih prestasi di ajang internasional, tidak hanya memberikan banyak ilmu dan pengalaman, tetapi juga sangat membantu dalam membentuk karakter saya,” tambah Zhafif.
Sementara itu, orang tua Muhammad Zhafif, yakni Muhammad Joni, mengaku bangga atas capaian putranya yang berhasil meraih medali pada IOAA 2026.
“Alhamdulillah, kami sebagai orang tua sangat bersyukur atas prestasi yang diraih Zhafif di ajang IOAA. Kami mengucapkan terima kasih kepada Kemendikdasmen dan Puspresnas yang telah memberikan pembinaan dan pendampingan kepada Zhafif hingga dapat meraih prestasi di tingkat internasional,” ucap Muhammad Joni.
Pengalaman mengesankan juga disampaikan Yugo Deandra Wirayudha, dari SMA Negeri 1 Purwokerto. “IOAA menjadi salah satu pengalaman dan memori yang tidak terlupakan bagi saya. Pembinaan yang diberikan Puspresnas juga sangat membantu, khususnya dalam mempersiapkan diri untuk berkompetisi di tingkat internasional,” tuturnya.
IOAA 2026 merupakan kompetisi internasional bidang astronomi dan astrofisika bagi murid pendidikan menengah. Tahun ini, kompetisi berlangsung di Hanoi dengan pusat kegiatan akademik di Phenikaa University. Sebanyak 320 peserta dari 66 negara berkompetisi pada ajang tersebut.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Bandung Barat – Dalam rangka memastikan tersedianya instrumen asesmen yang berkualitas, telah dilaksanakan Kegiatan Penjaminan Mutu Soal Tes Kemampuan Akademik (TKA) Jenjang SD dan SMP Provinsi Jawa Barat pada 5-9 Oktober 2026, bertempat di BBPMP Kampus Jayagiri Provinsi Jawa Barat.
Kegiatan ini merupakan kerja sama Pusmendik BKPDM Kemendikdasmen, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, dan BBPMP Jawa Barat. Sebanyak 128 peserta terlibat dalam kegiatan tersebut, yang terdiri atas 108 penulis soal TKA, 10 penjamin mutu dari guru SMA/SMK, 4 penjamin mutu dari BPPMP, serta 6 narasumber pusat.
Pelaksanaan kegiatan mencakup pemaparan kebijakan dan mekanisme penjaminan mutu, telaah soal, diskusi dan validasi, perbaikan serta penyempurnaan soal, hingga finalisasi instrumen TKA.
Melalui proses penjaminan mutu yang kolaboratif dan berkelanjutan, setiap butir soal ditelaah dari aspek substansi, konstruksi, bahasa, kesesuaian kompetensi, objektivitas, dan kualitas instrumen asesmen.
Hasil kegiatan ini menjadi bagian penting dalam memastikan instrumen TKA jenjang SD dan SMP memiliki kualitas yang baik, sesuai ketentuan, serta dapat dipertanggungjawabkan. Selanjutnya, proses akan dilanjutkan dengan penyelesaian perbaikan soal oleh penulis, verifikasi oleh penjamin mutu, konsultasi dengan narasumber pusat apabila diperlukan, dan finalisasi instrumen.
Bersama menjaga mutu asesmen, menghadirkan instrumen TKA yang berkualitas untuk mendukung pendidikan Jawa Barat.