Penataan Guru Jadi Fokus Pemerintah, Kepastian Status Disiapkan Mulai 2027

Penataan Guru Jadi Fokus Pemerintah, Kepastian Status Disiapkan Mulai 2027

Siaran Pers

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 858/sipers/A6/X/2026

Jakarta, 8 Oktober 2026 – Pemerintah menyiapkan penataan guru atau pembenahan tata kelola guru mulai 2027 sebagai bagian dari upaya memberikan kepastian status dan mendukung keberlanjutan layanan pendidikan. Penataan tersebut mencakup guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu, guru PPPK, hingga pemenuhan kebutuhan guru melalui rekrutmen CPNS secara bertahap.

“Guru PPPK paruh waktu akan diangkat menjadi PPPK penuh waktu mulai 1 Januari 2027 dengan mekanisme otomatis tanpa seleksi. Status mereka juga akan dialihkan menjadi pegawai pemerintah pusat. Jumlah guru PPPK paruh waktu sebanyak 242.482 orang,” ujar Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti dalam Rapat Kerja bersama Komite III DPD RI di Jakarta, Selasa (6/10).

Selain penataan guru PPPK paruh waktu, pemerintah memberikan kesempatan kepada guru PPPK yang memenuhi syarat administrasi untuk menjadi guru PNS melalui seleksi yang dilakukan secara bertahap mulai 2027. Jumlah guru PPPK saat ini sebanyak 935.316 orang, dengan proses penataan menuju pegawai pemerintah pusat yang dilakukan secara bertahap mulai 2027 hingga 2029.

Pemerintah juga menyiapkan rekrutmen guru CPNS secara bertahap untuk memenuhi kebutuhan guru sebanyak 464.856 orang. Proses rekrutmen pertama akan dimulai pada 2027, dengan penugasan awal pada 2028 sebagai pegawai pemerintah pusat.

Mendikdasmen Abdul Mu’ti juga menyampaikan bahwa untuk menjaga keberlanjutan layanan pendidikan, dispensasi penugasan bagi guru non-ASN juga akan diberikan sehingga mereka tetap dapat bekerja setelah 31 Desember 2026.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti menyampaikan paparan dalam rapat kerja bersama Komite III DPD RI di Jakarta, pada Selasa (6/10). Fotografer: Yuswan Rosepi

Anggaran 2027 Dukung Penataan Guru

Dukungan terhadap penataan tata kelola guru juga tercermin dalam alokasi anggaran Kemendikdasmen Tahun Anggaran 2027. Berdasarkan Surat Menteri Keuangan, Pagu Alokasi Anggaran Kemendikdasmen Tahun Anggaran 2027 ditetapkan sebesar Rp89,10 triliun.

Pagu tersebut meningkat Rp28 triliun dari Pagu Anggaran sebelumnya sebesar Rp61,10 triliun. Tambahan anggaran tersebut antara lain dialokasikan untuk mengembalikan anggaran Program Revitalisasi Satuan Pendidikan sebesar Rp5 triliun sehingga menjadi Rp14,28 triliun, serta mendukung gaji dan tunjangan guru yang beralih status dari PPPK paruh waktu menjadi PPPK penuh waktu sebesar Rp23 triliun.

“Alokasi anggaran Kemendikdasmen difokuskan untuk mendanai beberapa Program Kerja Prioritas Nasional dan program Prioritas Kementerian antara lain, Program Pembangunan dan Revitalisasi Satuan Pendidikan, inisiatif awal untuk pelaksanaan pendidikan dasar tanpa memungut biaya, bantuan perlengkapan sekolah, Sekolah Nasional Terintegrasi, Studio Guru, Digitalisasi Pembelajaran, peningkatan kesejahteraan guru, gaji dan tunjangan PPPK guru,” kata Abdul Mu’ti.

Kemendikdasmen juga telah menyampaikan usulan tambahan anggaran Tahun Anggaran 2027 sebesar Rp157,76 triliun untuk mendukung berbagai program Prioritas Nasional dan Kementerian.

Pengawasan Revitalisasi Satuan Pendidikan

Dalam rapat kerja tersebut, Mendikdasmen juga menyampaikan perkembangan pengawasan Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun 2026. Kemendikdasmen telah melakukan pengawasan dan pemantauan terhadap 138 satuan pendidikan. Dari keseluruhan sasaran pemantauan tersebut, sebanyak 20 satuan pendidikan berada di daerah terdampak bencana, terdiri atas 15 SMK dan 5 SLB.

Pemantauan dilakukan terhadap berbagai aspek pelaksanaan program, khususnya tertib administrasi, akuntabilitas keuangan, pengendalian pekerjaan, serta kualitas hasil pembangunan.

“Hasil pemantauan Program Revitalisasi Tahun 2026 juga memberikan gambaran mengenai berbagai aspek pelaksanaan yang terus kami perkuat, khususnya dalam tertib administrasi, akuntabilitas keuangan, pengendalian pekerjaan, serta kualitas hasil pembangunan,” ujar Abdul Mu’ti.

Menurutnya, pelaksanaan revitalisasi tidak hanya diarahkan pada penyelesaian secara administratif, tetapi juga untuk memastikan sarana dan prasarana pendidikan yang dihasilkan berkualitas, dapat dipertanggungjawabkan, serta memberikan manfaat langsung bagi peserta didik dan masyarakat.***(Penulis/Editor: Ririn)

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

Kunjungan Kerja Menteri Koordinator PMK dan Mendikdasmen ke SNT 7 Bogor

Kunjungan Kerja Menteri Koordinator PMK dan Mendikdasmen ke SNT 7 Bogor

Kabupaten Bogor – Pada Rabu (7/10/2026), Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) 7 Bogor menjadi ruang perjumpaan antara kebijakan pendidikan nasional dan praktik pendidikan yang tumbuh dalam keseharian anak-anak.

Kunjungan kerja sinergis Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dipimpin langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Sugiono, dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. Rombongan turut didampingi oleh Dirjen PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah beserta jajaran, Bupati Kabupaten Bogor beserta jajaran, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor beserta jajaran, Universitas Negeri Jakarta (UNJ), serta para undangan terkait. Kunjungan ini bukan semata-mata untuk melihat bagaimana sebuah sekolah menjalankan proses pembelajaran. Lebih jauh, kunjungan ini menjadi kesempatan untuk menyaksikan bagaimana pendidikan hadir dalam kehidupan anak: bagaimana mereka diberi ruang untuk berpikir, mencoba, menemukan, berkarya, berkolaborasi, dan perlahan mengenali siapa dirinya serta apa yang dapat ia berikan bagi lingkungannya.

Sekitar pukul 12.00 WIB, rombongan tiba di SNT 7 Bogor dan disambut dengan penuh semangat melalui penampilan kreasi siswa berupa olahraga Pencak Silat. Sambutan tersebut bukan sekadar pertunjukan. Ia menjadi simbol bahwa pendidikan memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada pencapaian akademik. Di dalamnya terdapat ketangguhan, kedisiplinan, keberanian, kecintaan terhadap budaya, serta pembentukan karakter.

SNT 7 Bogor berangkat dari keyakinan bahwa pendidikan bukanlah sekadar proses memenuhi kepala anak dengan pengetahuan. Pendidikan adalah proses menyalakan rasa ingin tahu, menumbuhkan keberanian untuk mencoba, membangun kemampuan untuk bekerja bersama, serta menumbuhkan keyakinan bahwa setiap anak memiliki potensi untuk menjadi manusia yang berarti bagi dirinya, keluarga, masyarakat, dan bangsa. Atas semangat tersebut, rangkaian kunjungan diarahkan pada tiga agenda utama.

1. Menyaksikan Pembelajaran Berlandaskan STEAMS

Menteri dan rombongan meninjau proses pembelajaran di kelas X A, X B, VII A, dan VII B yang menerapkan pendekatan STEAMS (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics and Sports). Suasana kelas memperlihatkan wajah pembelajaran yang hidup. Siswa tidak hanya duduk menerima penjelasan, tetapi terlibat dalam proses berpikir dan berkarya. Mereka berdiskusi, mencoba, membuat, menguji, memperbaiki, dan kemudian menjelaskan kembali apa yang telah mereka temukan. Berbagai model dan proyek dikembangkan untuk mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan, di antaranya Modul Teknologi Tapal Batas dan Site Plan Ruang Terbuka.

Melalui STEAMS, batas-batas antarbidang ilmu menjadi lebih cair. Sains bertemu teknologi, teknologi berkelindan dengan seni, matematika hadir untuk menjawab persoalan nyata, dan olahraga membangun ketangguhan tubuh serta karakter. Semuanya bertemu dalam satu tujuan: membentuk anak yang mampu berpikir, mencipta, bekerja sama, beradaptasi, dan memecahkan persoalan kehidupan.

2. Gallery Walk: Menghargai Jejak Proses Belajar

Perjalanan kemudian dilanjutkan melalui Gallery Walk, yang menampilkan beragam karya dan dokumentasi perjalanan belajar siswa, mulai dari tahap pra-study hingga proses pembelajaran terakhir pada awal Oktober 2026. Berbagai karya hadir dalam beragam bentuk, antara lain Model Atom, Model Teknologi Tapal Batas, Game Interaktif, Game Pengelolaan Sampah, Film Pendek, Lukisan, dan berbagai karya lainnya.

Para siswa dengan antusias menjelaskan hasil karya yang mereka buat dan proses di balik karya mereka kepada para pengunjung yang hadir. Dari setiap penjelasan terlihat bahwa yang paling berharga bukan semata-mata produk akhirnya, tetapi perjalanan panjang yang menyertainya: bagaimana sebuah gagasan lahir, dikembangkan, mengalami kesulitan, diperbaiki, dan akhirnya diwujudkan menjadi sebuah karya.

Karena itu, Gallery Walk bukan sekadar ruang untuk memamerkan hasil belajar. Ia adalah ruang untuk menghargai proses. Setiap karya menyimpan jejak perjuangan, kegigihan, rasa ingin tahu, kerja sama, bahkan kegagalan yang kemudian menjadi bagian penting dari keberhasilan.

3. Sambutan dan Dialog Bersama Siswa SNT se-Indonesia

Agenda berikutnya berlangsung di aula melalui sambutan dan dialog bersama siswa Sekolah Nasional Terintegrasi dari seluruh Indonesia secara daring. Kegiatan ini diikuti oleh 17 Sekolah Nasional Terintegrasi dari berbagai wilayah Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Menko PMK dan Mendikdasmen menyampaikan arahan serta motivasi kepada seluruh siswa SNT untuk terus belajar, berani bermimpi, dan mempersiapkan diri menjadi generasi yang akan menentukan masa depan Indonesia. Setelah itu dilakukan dialog interaktif dengan siswa dari berbagai provinsi. Mereka  diberi ruang untuk bertanya, menyampaikan gagasan, serta berbagi pengalaman. Antusiasme mereka memperlihatkan sesuatu yang sederhana namun sangat penting: anak-anak tidak hanya membutuhkan ruang untuk belajar, tetapi juga ruang untuk didengar.

Jejak yang Ditinggalkan Pendidikan

Pada penghujung kegiatan, diserahkan dua buku kompilasi karya siswa SNT 7 Bogor kepada Menko PMK dan Mendikdasmen. Dua buku tersebut berjudul “Jejak Juang dan Jejak Syukur” serta “Jejak Belajar Kami.”

Kedua judul tersebut bukan sekadar nama sebuah buku. Ia menjadi cermin dari perjalanan pendidikan yang sedang dibangun di SNT 7 Bogor. “Jejak Juang dan Jejak Syukur” mengingatkan bahwa setiap pencapaian selalu memiliki perjuangan di belakangnya. Tidak ada keberhasilan yang hadir begitu saja. Di dalamnya ada proses, ketekunan, kesabaran, dukungan, dan orang-orang yang hadir menemani perjalanan. Pada saat yang sama, rasa syukur mengajarkan anak untuk tidak hanya melihat apa yang telah dicapai, tetapi juga menghargai kesempatan untuk belajar, orang-orang yang telah mendampingi, serta perjalanan yang telah dilalui.

Sementara itu, “Jejak Belajar Kami” menjadi pengingat bahwa pendidikan pada akhirnya adalah sebuah perjalanan yang meninggalkan jejak. Jejak itu tidak hanya tertulis dalam buku atau tersimpan dalam nilai rapor. Ia tertanam dalam cara seseorang berpikir, bersikap, mengambil keputusan, memperlakukan orang lain, menghadapi persoalan, dan memandang masa depan.

Karena itulah, pendidikan sesungguhnya bukan hanya tentang apa yang anak ketahui, tetapi juga tentang siapa yang kemudian ia tumbuh menjadi.

Kunjungan kerja ke SNT 7 Bogor memberikan gambaran bahwa sekolah semestinya bukan hanya tempat anak belajar tentang dunia, tetapi juga tempat anak belajar hidup di dalam dunia. Di sekolah, anak tidak hanya perlu belajar menjawab pertanyaan, tetapi juga diberi keberanian untuk mengajukan pertanyaan. Tidak hanya belajar menghafal, tetapi belajar memahami, menghubungkan, dan mencipta. Tidak hanya belajar menyelesaikan tugas sendiri, tetapi belajar bekerja bersama. Tidak hanya mengejar keberhasilan pribadi, tetapi belajar memahami bahwa dirinya adalah bagian dari masyarakat dan memiliki tanggung jawab untuk memberi manfaat bagi lingkungan di sekitarnya. Di situlah pendidikan menemukan maknanya yang paling dalam.

Pendidikan bukan hanya mempersiapkan anak untuk menghadapi masa depan. Pendidikan juga membentuk manusia yang kelak akan menciptakan masa depan itu sendiri.Inilah filosofi yang menjadi ruh Sekolah Nasional Terintegrasi: membangun manusia secara utuh—manusia yang memiliki pengetahuan, karakter, keterampilan, kepedulian, kreativitas, ketangguhan, dan keberanian untuk menghadapi perubahan.

Pada akhirnya, SNT 7 Bogor bukan sekadar tentang sebuah bangunan, ruang kelas, atau kumpulan program pendidikan. SNT adalah tentang sebuah gagasan tentang manusia dan masa depan.Sebuah keyakinan bahwa ketika pendidikan dirancang secara terintegrasi, berpihak pada anak, dekat dengan kehidupan, memberi ruang bagi kreativitas, dan membuka kesempatan bagi setiap potensi untuk tumbuh, maka sekolah tidak lagi sekadar menjadi tempat belajar. Sekolah dapat menjadi tempat tumbuhnya harapan. Harapan bagi seorang anak untuk mengenali dirinya. Harapan bagi keluarga untuk melihat masa depan yang lebih baik.Harapan bagi masyarakat untuk melahirkan generasi yang peduli dan mampu memberi arti. Dan pada akhirnya, harapan bagi Indonesia untuk memiliki generasi yang tidak hanya cerdas dalam berpikir, tetapi juga kuat dalam karakter, luas dalam wawasan, lembut dalam sikap, dan teguh dalam memberikan kontribusi bagi bangsa.

Bertemu Anak-Anak di SD Negeri Cirimekar 02, Mendikdasmen Dampingi Menko PMK Lihat Sekolah yang Kini Lebih Nyaman

Bertemu Anak-Anak di SD Negeri Cirimekar 02, Mendikdasmen Dampingi Menko PMK Lihat Sekolah yang Kini Lebih Nyaman

Siaran Pers

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 857/sipers/A6/X/2026

Kabupaten Bogor, 7 Oktober 2026 — Di SD Negeri Cirimekar 02, Kabupaten Bogor, ruang kelas yang sebelumnya mengalami kerusakan kini telah diperbaiki, dan pembelajaran berlangsung dengan dukungan layar interaktif. Di sekolah tersebut, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mendampingi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Sugiono, meninjau langsung pelaksanaan program prioritas pemerintah di bidang pendidikan, Rabu (7/10).

Kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat hasil Revitalisasi Satuan Pendidikan dan pemanfaatan program Digitalisasi Pembelajaran. Menko PMK dan Mendikdasmen melihat kondisi sekolah sebelum dan sesudah revitalisasi, mengamati proses pembelajaran di kelas, serta makan bersama anak-anak melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Mendikdasmen, Abdul Mu’ti, mendampingi Menko PMK, Sugiono, saat melakukan kunjungan kerja di SD Negeri Cirimekar 02 Kab. Bogor, pada Rabu (7/10), untuk meninjau hasil Revitalisasi Satuan Pendidikan dan pemanfaatan program Digitalisasi Pembelajaran. (Fotografer: Ikram)

Kedatangan kedua menteri disambut antusias oleh para murid. Anak-anak tampak bersemangat menyapa dan bersalaman, sekaligus menunjukkan ruang belajar mereka yang kini terasa lebih nyaman.

Menteri Mu’ti turut mengingatkan para murid untuk memanfaatkan lingkungan belajar yang semakin baik dengan meningkatkan semangat belajar. “Kalau sekolahnya bagus, harus rajin belajar,” ucapnya.

Kepala SD Negeri Cirimekar 02, Bagus Eko Kurniawan, mengatakan kondisi sekolah sebelum direvitalisasi cukup memprihatinkan. Ruang kelas mengalami kebocoran, plafon rusak berat, dan lantai juga mengalami kerusakan. Melalui program revitalisasi dengan nilai bantuan Rp951.543.177, sekolah mendapatkan rehabilitasi tiga ruang kelas dan ruang UKS, pembangunan toilet beserta sanitasinya, serta pembangunan ruang administrasi.

Perbaikan tersebut, kata Bagus, tidak hanya mengubah kondisi fisik sekolah, tetapi juga membuat kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dengan lebih baik. Guru, murid, dan orang tua murid turut menyambut perubahan tersebut.

“Revitalisasi membawa dampak yang signifikan terhadap sarana dan prasarana di sekolah kami, sehingga pembelajaran di sekolah pun berjalan dengan baik,” ungkap Bagus.

Hal senada diungkapkan oleh para murid. Ketika ditanya mengenai kondisi sekolah setelah direvitalisasi, mereka dengan semangat mengatakan lebih senang karena kini memiliki ruang belajar yang lebih nyaman. Bagi mereka, perubahan sederhana yang terlihat pada kelas menjadi sesuatu yang langsung mereka rasakan dalam keseharian.

Salah satu murid kelas VI, Muhammad Ghazy Alfarizki, mengatakan ruang belajar yang telah diperbaiki membuat suasana belajar menjadi lebih nyaman dibandingkan sebelumnya. “Sekarang lebih nyaman!” ujar Ghazy.

Selain revitalisasi, SD Negeri Cirimekar 02 juga menerima program Digitalisasi Pembelajaran berupa Interactive Flat Panel (IFP). Menko PMK melihat langsung bagaimana perangkat tersebut digunakan dalam pembelajaran. Para murid tampak mengikuti kegiatan dengan antusias, menyimak materi yang ditampilkan melalui layar, dan berinteraksi selama proses pembelajaran.

Guru kelas V, Satya Dewanta, mengatakan IFP telah dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran selama sekitar satu tahun. Mata pelajaran IPAS menjadi salah satu yang paling sering memanfaatkan perangkat tersebut, antara lain untuk memvisualisasikan bagian tubuh, bunyi, cahaya, dan berbagai materi lainnya.

Menurut Satya, penggunaan IFP membuat pembelajaran terasa lebih dekat dengan keseharian anak-anak yang sudah terbiasa berinteraksi dengan perangkat digital. “Mereka lebih berani mengungkapkan pendapat. Mereka lebih terpantik lagi motivasinya untuk belajar dengan adanya IFP ini,” ungkapnya.

Kunjungan ke SD Negeri Cirimekar 02 menunjukkan bagaimana program revitalisasi dan digitalisasi pembelajaran hadir secara langsung di lingkungan sekolah. Perbaikan ruang belajar memberikan kenyamanan bagi murid dan guru, sementara pemanfaatan teknologi membuka pengalaman belajar yang lebih interaktif bagi peserta didik. (Penulis: Stephanie / Editor: Ririn)

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

IMSO-23 Dorong Penguatan Fondasi Matematika dan Sains Murid

IMSO-23 Dorong Penguatan Fondasi Matematika dan Sains Murid

Siaran Pers

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 856/sipers/A6/X/2026

Depok, Jawa Barat, 7 Oktober 2026 – International Mathematics and Science Olympiad (IMSO) ke-23 resmi ditutup di Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Depok, Jawa Barat, Selasa (6/10). Penutupan ini menjadi momentum apresiasi bagi para peserta sekaligus menegaskan pentingnya penguatan fondasi matematika dan sains, penalaran, serta kemampuan pemecahan masalah.

Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Manajemen dan Kelembagaan, Didik Suhardi, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah mengikuti rangkaian IMSO ke-23. Menurutnya, seluruh peserta merupakan anak-anak muda yang telah mempersiapkan diri untuk menjadi yang terbaik.

“Saya mengucapkan selamat kepada para peserta yang telah meraih prestasi luar biasa dan medali emas. Bagi kami, seluruh peserta adalah anak-anak muda hebat yang telah mempersiapkan diri untuk menjadi yang terbaik,” ujar Didik.

SKM Bidang Manajemen dan Kelembagaan, Didik Suhardi, saat menyampaikan sambutan dalam penutupan IMSO-23 di PPSDM Kemendikdasmen, Depok, Jawa Barat, Selasa (6/10). (Fotografer: Laili)

Ia mengatakan, selama enam hari pelaksanaan IMSO ke-23, berbagai kegiatan telah sukses dijalankan, mulai dari seminar internasional, malam kebudayaan, hingga wisata edukasi ke Taman Mini Indonesia Indah. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Ketua Umum IMSO, dewan juri, serta seluruh panitia dan sukarelawan yang telah bekerja keras hingga kompetisi berjalan lancar.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum IMSO, Raden Ridwan Hasan Saputra, mengatakan IMSO bukan sekadar kompetisi akademik. Menurutnya, selama pelaksanaan kompetisi, para peserta juga menunjukkan sportivitas, ketangguhan, serta semangat persahabatan global.

“IMSO jauh lebih dari sekadar kompetisi. Ini adalah sebuah keluarga besar internasional yang dipersatukan oleh semangat penemuan dan rasa saling menghormati,” ujar Ridwan.

Ia menilai keberanian peserta untuk tampil di panggung internasional, ketekunan menghadapi setiap soal, serta persahabatan yang terjalin merupakan pencapaian yang jauh lebih bernilai daripada medali. Ia juga menyebut para peserta sebagai duta sains dan matematika yang diharapkan dapat membawa pengalaman untuk membangun dunia yang lebih cerah dan bersatu.

Dari sisi akademik, laporan Komite Akademik Bidang Sains menunjukkan bahwa peserta secara umum memiliki pemahaman yang baik terhadap berbagai konsep sains. Namun, peserta masih perlu memperdalam konsep dan memahami penerapannya secara lebih luas. Juri menemukan sejumlah kekeliruan konsep pada materi penyajian grafik, gravitasi dan percepatan, arus dan hambatan listrik, penguapan dan kondensasi, serta perbedaan unsur, senyawa, dan campuran.

Pada tes eksperimen, kemampuan komunikasi dan kerja sama tim peserta mendapat apresiasi. Namun, sebagian peserta masih lebih mengandalkan pengamatan dibandingkan menerapkan konsep ilmiah. Beberapa peserta juga masih mengalami kesulitan mengolah data menjadi grafik yang tepat. Meski demikian, juri menilai IMSO ke-23 merupakan salah satu kompetisi yang paling ketat, dengan selisih nilai yang sangat tipis antara peraih medali perak dan perunggu.

Sementara itu, Komite Akademik Bidang Matematika melaporkan bahwa IMSO ke-23 menghadirkan 207 matematikawan muda dari 23 negara. Soal yang diberikan dirancang untuk menguji kelancaran matematis, penalaran logis, pemahaman konseptual, dan keterampilan pemecahan masalah secara kreatif melalui tiga bagian ujian, yakni isian singkat, uraian, dan eksplorasi.

Data kinerja tahun ini menunjukkan rerata skor keseluruhan sebesar 24,43 dengan skor individu tertinggi mencapai 65. Tingkat kesulitan soal disebut jauh lebih tinggi dibandingkan IMSO sebelumnya. Namun, peningkatan tersebut dirancang untuk mendorong peserta keluar dari zona nyaman dan berhadapan dengan persoalan baru yang menantang.

Para peserta juga didorong untuk tidak mengukur keberhasilan hanya berdasarkan skor, tetapi menjadikan IMSO sebagai tonggak evaluasi dalam perjalanan belajar matematika. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi katalis untuk mengasah kemampuan pemecahan masalah sehingga peserta dapat kembali dengan lebih kuat, lebih bijak, dan lebih siap menghadapi kompetisi mendatang. (Penulis: Rayhan/Editor: Ririn)

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers