Tangerang, 7 Oktober 2026 – Talenta muda Indonesia hasil pembinaan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) kembali menorehkan prestasi membanggakan di panggung internasional. Lima murid Indonesia yang menjadi delegasi pada ajang International Olympiad on Astronomy and Astrophysics (IOAA) 2026 berhasil membawa pulang tiga medali perunggu, satu Honorable Mention, dan Winner of the Poster Competition.
Adapun tiga medali perunggu diraih oleh Muhammad Zhafif dari SMAS Kharisma Bangsa, Kota Tangerang Selatan; Khalil Azyumardi Abnel dari MAN 1 Pekanbaru, Kota Pekanbaru; serta Yugo Deandra Wirayudha dari SMA Negeri 1 Purwokerto, Kabupaten Banyumas. Sementara itu, Muhammad Bagir dari SMA Negeri 8 Jakarta meraih Honorable Mention. Selain capaian tersebut, Muhammad Faiz Rahman dari SMAS Pesantren Unggul Al Bayan, Kabupaten Sukabumi, turut mengukir prestasi melalui Winner of the Poster Competition secara tim dengan karya berjudul “VGOS in SEA, and the FUTURE of HUMANKIND.”
Kepala Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Maria Veronica Irene Herdjiono, menyampaikan apresiasi kepada seluruh delegasi Indonesia yang telah berjuang di ajang IOAA 2026. Menurutnya, capaian pada ajang internasional merupakan bagian dari proses panjang dalam mengembangkan potensi murid.
“Capaian ini menjadi bukti bahwa talenta muda Indonesia memiliki potensi untuk bersaing di tingkat dunia. Kemendikdasmen terus memperkuat pembinaan talenta secara berkelanjutan agar potensi tersebut dapat berkembang, berprestasi, dan pada saatnya memberikan kontribusi bagi kemajuan Indonesia,” jelas Kepala Puspresnas, Kemendikdasmen, Maria Veronica Irene Herdjiono, Senin (5/10).
Prestasi di IOAA 2026 sekaligus memperkuat komitmen Kemendikdasmen dalam membangun ekosistem Manajemen Talenta Murid secara berkelanjutan. Prestasi internasional tidak ditempatkan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai bagian dari perjalanan murid dalam mengembangkan kompetensi, karakter, pengalaman, dan kontribusi bagi masyarakat.
Keikutsertaan murid Indonesia pada IOAA 2026 merupakan bagian dari proses pembinaan talenta yang dilakukan secara berkelanjutan oleh Kemendikdasmen. Sebelum menjadi bagian dari delegasi Indonesia, para murid mengikuti rangkaian seleksi yang berawal dari Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Astronomi. Kemudian, para pemenang OSN mengikuti pembinaan dan seleksi secara bertahap hingga terpilih lima murid terbaik yang mewakili Indonesia di IOAA 2026.
Salah satunya adalah Muhammad Zhafif dari SMAS Kharisma Bangsa. “Ajang tersebut merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Selain berkompetisi, kami membangun jejaring dengan murid dari seluruh dunia,” ungkap Zhafif.
Zhafif turut merasakan bahwa perjalanan mengikuti OSN hingga ajang internasional memberikan pengalaman yang tidak hanya memperkuat kemampuan, tetapi juga membentuk karakter.
“Prestasi di OSN tentunya merupakan sebuah privilege. Perjalanan panjang yang saya lalui, mulai dari mengikuti OSN hingga meraih prestasi di ajang internasional, tidak hanya memberikan banyak ilmu dan pengalaman, tetapi juga sangat membantu dalam membentuk karakter saya,” tambah Zhafif.
Sementara itu, orang tua Muhammad Zhafif, yakni Muhammad Joni, mengaku bangga atas capaian putranya yang berhasil meraih medali pada IOAA 2026.
“Alhamdulillah, kami sebagai orang tua sangat bersyukur atas prestasi yang diraih Zhafif di ajang IOAA. Kami mengucapkan terima kasih kepada Kemendikdasmen dan Puspresnas yang telah memberikan pembinaan dan pendampingan kepada Zhafif hingga dapat meraih prestasi di tingkat internasional,” ucap Muhammad Joni.
Pengalaman mengesankan juga disampaikan Yugo Deandra Wirayudha, dari SMA Negeri 1 Purwokerto. “IOAA menjadi salah satu pengalaman dan memori yang tidak terlupakan bagi saya. Pembinaan yang diberikan Puspresnas juga sangat membantu, khususnya dalam mempersiapkan diri untuk berkompetisi di tingkat internasional,” tuturnya.
IOAA 2026 merupakan kompetisi internasional bidang astronomi dan astrofisika bagi murid pendidikan menengah. Tahun ini, kompetisi berlangsung di Hanoi dengan pusat kegiatan akademik di Phenikaa University. Sebanyak 320 peserta dari 66 negara berkompetisi pada ajang tersebut.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Bandung Barat – Dalam rangka memastikan tersedianya instrumen asesmen yang berkualitas, telah dilaksanakan Kegiatan Penjaminan Mutu Soal Tes Kemampuan Akademik (TKA) Jenjang SD dan SMP Provinsi Jawa Barat pada 5-9 Oktober 2026, bertempat di BBPMP Kampus Jayagiri Provinsi Jawa Barat.
Kegiatan ini merupakan kerja sama Pusmendik BKPDM Kemendikdasmen, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, dan BBPMP Jawa Barat. Sebanyak 128 peserta terlibat dalam kegiatan tersebut, yang terdiri atas 108 penulis soal TKA, 10 penjamin mutu dari guru SMA/SMK, 4 penjamin mutu dari BPPMP, serta 6 narasumber pusat.
Pelaksanaan kegiatan mencakup pemaparan kebijakan dan mekanisme penjaminan mutu, telaah soal, diskusi dan validasi, perbaikan serta penyempurnaan soal, hingga finalisasi instrumen TKA.
Melalui proses penjaminan mutu yang kolaboratif dan berkelanjutan, setiap butir soal ditelaah dari aspek substansi, konstruksi, bahasa, kesesuaian kompetensi, objektivitas, dan kualitas instrumen asesmen.
Hasil kegiatan ini menjadi bagian penting dalam memastikan instrumen TKA jenjang SD dan SMP memiliki kualitas yang baik, sesuai ketentuan, serta dapat dipertanggungjawabkan. Selanjutnya, proses akan dilanjutkan dengan penyelesaian perbaikan soal oleh penulis, verifikasi oleh penjamin mutu, konsultasi dengan narasumber pusat apabila diperlukan, dan finalisasi instrumen.
Bersama menjaga mutu asesmen, menghadirkan instrumen TKA yang berkualitas untuk mendukung pendidikan Jawa Barat.
Bandung Barat – Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) tahun 2026 untuk jenjang SMA, SMK, MA, dan satuan pendidikan sederajat terus dipersiapkan melalui berbagai tahapan, mulai dari pendataan, sinkronisasi, hingga persiapan teknis pelaksanaan. Tahapan tersebut dilakukan untuk memastikan pelaksanaan TKA berjalan sesuai ketentuan dan kesiapan satuan pendidikan.
Menjelang pelaksanaan, satuan pendidikan perlu memastikan seluruh proses pendataan telah diselesaikan, termasuk melengkapi data infrastruktur, menentukan status dan moda pelaksanaan, mengisi rincian komputer proktor, klien, dan ruang, serta mengatur gelombang dan sesi. Pengaturan tersebut menjadi bagian dari persiapan menuju tahapan gladi dan pelaksanaan TKA.
Memasuki awal Oktober 2026, rangkaian TKA dan Asesmen Nasional (AN) telah memasuki tahapan gladi bersih. Gladi bersih TKA dan AN dilaksanakan dalam dua gelombang, yakni Gelombang 1 pada 5-11 Oktober 2026 dan Gelombang 2 pada 12-18 Oktober 2026. Selanjutnya, pelaksanaan TKA dan AN dijadwalkan berlangsung pada 26 Oktober hingga 8 November 2026.
Jadwal pelaksanaan TKA dan AN tahun 2026 jenjang SMA, SMK, MA, dan satuan pendidikan sederajat
Pelaksanaan TKA tahun 2026 juga mengalami sejumlah perubahan mekanisme berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan sebelumnya. Salah satu perubahan dilakukan untuk mengurangi kelelahan kognitif peserta. Jika pada tahun 2025 tiga mata pelajaran wajib dilaksanakan dalam satu hari, maka pada tahun 2026 mata pelajaran wajib dilaksanakan satu mata pelajaran untuk satu hari.
Selain perubahan pembagian waktu pelaksanaan, durasi pengerjaan juga mengalami penyesuaian. Untuk Matematika, waktu pengerjaan meningkat dari 60 menit menjadi 75 menit untuk 25 butir soal. Sementara Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris juga memiliki durasi 75 menit untuk 30 butir soal. Penyesuaian tersebut menjadi salah satu upaya dalam meningkatkan efektivitas pelaksanaan TKA bagi peserta.
Perubahan mekanisme juga diterapkan pada pelaksanaan TKA bagi peserta didik SMK, termasuk penyediaan pilihan mata uji berdasarkan program keahlian. Sementara itu, akomodasi bagi murid berkebutuhan khusus turut diperluas dengan mencakup tuna netra, tuna rungu, dan hambatan belajar spektrum ringan.
Dari sisi efisiensi, pelaksanaan Asesmen Nasional (AN) dan TKA juga diintegrasikan sesuai jadwal TKA sehingga satuan pendidikan tidak perlu melaksanakan keduanya secara terpisah. Penyesuaian tersebut merupakan bagian dari hasil evaluasi untuk membuat implementasi asesmen lebih efektif dan efisien.
Selain mengukur kemampuan akademik peserta didik, hasil TKA dapat dimanfaatkan untuk melihat capaian secara lebih rinci. Laman hasil TKA tidak hanya menampilkan statistik nilai, tetapi juga menyediakan analisis capaian berdasarkan indikator kompetensi pada setiap butir soal dan mata pelajaran, serta contoh soal untuk membantu pemahaman. Hasil hingga tingkat kabupaten/kota dapat dilihat oleh publik, sedangkan hasil satuan pendidikan dapat diakses melalui akun satuan pendidikan.
Melalui berbagai persiapan dan penyempurnaan mekanisme tersebut, pelaksanaan TKA diharapkan dapat berlangsung secara optimal serta memberikan hasil yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung peningkatan kualitas pembelajaran di satuan pendidikan.
Bandung Barat – BBPMP Provinsi Jawa Barat kembali menjadi bagian dalam upaya mendorong prestasi dan potensi murid melalui penyelenggaraan Seleksi Tahap 2 Kompetisi Juara Kelas Indonesia Jenjang Sekolah Dasar Regional 4. Kegiatan ini menjadi ajang bagi murid untuk menunjukkan kemampuan, ketangkasan berpikir, serta semangat berkompetisi dalam suasana yang edukatif.
Sebanyak 15 sekolah dari wilayah Jawa Barat dan Banten, mengikuti seleksi yang berlangsung pada Jumat–Minggu, 2–4 Oktober 2026, bertempat di BBPMP Provinsi Jawa Barat Kampus Jayagiri.
Seleksi dilaksanakan dalam format lomba cerdas cermat dengan membagi peserta ke dalam tiga grup. Kompetisi berlangsung melalui babak penyisihan, penentuan juara grup, hingga babak final. Para peserta dituntut untuk menguasai materi, berpikir cepat, dan menunjukkan kemampuan terbaik untuk melaju ke babak berikutnya.
Persaingan yang berlangsung hingga babak final akhirnya menempatkan SDIT As Saidiyyah Kabupaten Bandung sebagai juara pertama. SD Labschool Cibubur Kota Bekasi meraih posisi kedua, sedangkan SDIT Persis Tarogong 2 Kabupaten Garut menempati posisi ketiga.
Hasil tersebut sekaligus mengantarkan SDIT As Saidiyyah Kabupaten Bandung sebagai wakil Regional 4 untuk melanjutkan kompetisi di tingkat nasional. Keberhasilan ini menjadi buah dari persiapan, semangat juang, dan sportivitas yang ditunjukkan para peserta selama mengikuti kompetisi.
Melalui kegiatan ini, BBPMP Provinsi Jawa Barat turut mendorong penguatan karakter serta kemampuan literasi dan numerasi murid. Kompetisi ini juga menjadi ruang bagi untuk belajar, berkolaborasi, dan mengembangkan kepercayaan diri demi melalui pengalaman berkompetisi.
Depok, Jawa Barat, 4 Oktober 2026 — Bagi Kaindra Nadira Saidtama dan Aiden Gracio, mengikuti International Mathematics and Science Olympiad (IMSO) ke-23 Tahun 2026 bukan sekadar kesempatan untuk berkompetisi. Di balik keikutsertaan mereka terdapat proses panjang untuk belajar, berlatih, menghadapi soal-soal sulit, hingga berani menguji kemampuan di tingkat internasional.
Kaindra, murid kelas 6 SDIT Bina Bangsa Sejahtera Kota Bogor yang mengikuti bidang Sains, mengaku harus menjalani latihan soal secara intensif selama persiapan. Ia juga mengikuti pembinaan secara daring dan luring serta mendapat dukungan dari orang tua. Sebelumnya, Kaindra meraih medali emas Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Sains jenjang SD. Pengalaman tersebut, menurutnya, membantu membangun kebiasaan belajar secara disiplin dan teratur.
“Senang sama bangga,” ujar Kaindra ketika mengetahui dirinya terpilih mewakili Indonesia di IMSO-23. Ia juga berpesan kepada teman-temannya yang tertarik pada sains tetapi belum percaya diri mengikuti kompetisi agar berani mencoba. “Dicobain dulu belajar sains atau ikut kompetisinya. Kalau lumayan suka, coba ikutin,” katanya.
Cerita serupa datang dari Aiden Gracio, murid kelas 6 SD Witama Nasional Plus Srikandi Pekanbaru yang mengikuti bidang matematika. Untuk sampai ke IMSO-23, Aiden mengikuti tiga tahap seleksi, mulai dari seleksi daring hingga seleksi luring yang dilengkapi latihan dan simulasi. Ia juga merupakan peraih medali emas sekaligus the best overall OSN bidang matematika jenjang SD.
Dalam menghadapi soal yang dirasanya sulit, Aiden memilih mengerjakan soal dengan tipe serupa tetapi tingkat kesulitannya lebih rendah. Setelah memahami idenya, ia kemudian mengembangkannya untuk menyelesaikan soal yang lebih menantang. “Jangan takut untuk mencoba. Yang penting, kamu dapat penambahan ilmu. Jangan takut hasilnya, tapi cobalah mengikuti saja dulu biar kita dapat banyak ilmu pengetahuan,” tutur Aiden.
Kiri ke kanan: Aiden Gracio, Murid Kelas 6 SD Witama Plus Srikandi Pekanbaru, dan Kaindra Nadira Saidtama, Murid Kelas 6 SDIT Bina Bangsa Sejahtera Kota Bogor, dua peserta IMSO-23 asal Indonesia yang merupakan peraih medali emas OSN. (Fotografer: Laili)
Team Leader Indonesia untuk IMSO-23, Muchammad Fachri, mengatakan para peserta merupakan murid berprestasi yang sebagian di antaranya merupakan peraih medali emas OSN. Proses seleksi dilakukan melalui tiga tahap, yaitu dua tahap daring dan satu tahap luring. Dari proses tersebut terpilih sekitar 30 peserta, ditambah peraih medali emas OSN sehingga keseluruhan tim pembinaan berjumlah 63 peserta, terdiri atas 32 peserta matematika dan 31 peserta sains.
Fachri menjelaskan, tantangan peserta tidak hanya terletak pada penguasaan materi. Materi olimpiade memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi dibandingkan materi sekolah. Peserta juga dituntut memahami dan menjawab soal dalam bahasa Inggris serta menjalani karantina selama lebih dari satu minggu jauh dari orang tua.
Di tengah tantangan tersebut, semangat belajar peserta menjadi hal yang membanggakan. Para peserta mendapatkan materi sesuai silabus dari pengajar berbagai institusi serta pelatih olimpiade. Mereka menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengerjakan soal hingga tim pembina perlu menyiapkan banyak bahan latihan.
“Harapan saya dan kami semua dari tim Indonesia adalah peserta dapat meraih prestasi terbaik di IMSO-23. Dari seluruh proses yang sudah dilakukan, mulai dari tahap seleksi hingga karantina, kami berharap dapat meraih medali emas, baik di bidang sains maupun matematika. Mudah-mudahan juga ada peserta yang mendapatkan best overall , best theory , best exploration , atau best experiment . Kami juga berharap IMSO-23 menjadi salah satu ajang terbaik yang menghasilkan juara-juara dari tim Indonesia,” ujar Fachri.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengatakan bahwa upaya tersebut sejalan dengan program Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang tengah berfokus meningkatkan pendidikan STEM ( Science, Technology, Engineering, and Mathematics ).
“Melalui ajang ini, kami berharap lahir generasi ilmuwan baru, para pelajar cerdas yang tidak hanya unggul di bidang sains dan matematika, tetapi juga siap menjadi pemimpin bangsa di masa depan. Hal ini juga mendukung prioritas Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat pendidikan karakter,” pungkasnya.
Melalui IMSO-23, Kaindra, Aiden, dan para peserta lainnya tidak hanya membawa harapan untuk meraih prestasi, tetapi juga pengalaman belajar, keberanian menghadapi tantangan, dan semangat untuk terus mencoba. Bagi mereka, kompetisi menjadi ruang untuk menambah pengetahuan sekaligus mengembangkan potensi. (Penulis: Rayhan/Editor: Denty)
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah