Jakarta, 5 September 2026 – Apresiasi bagi murid berprestasi merupakan bagian penting dalam implementasi Permendikdasmen Nomor 25 Tahun 2025 tentang Manajemen Talenta Murid, yang menempatkan apresiasi sebagai salah satu tahapan dalam pengelolaan talenta, setelah proses identifikasi, pengembangan, dan aktualisasi. Melalui apresiasi tersebut, prestasi murid tidak berhenti sebagai capaian, tetapi menjadi bagian dari upaya membuka kesempatan pengembangan talenta secara berkelanjutan.
Apresiasi tersebut diberikan kepada juara dalam beragam ajang nasional yang diselenggarakan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas). Apresiasi tersebut menjadi bagian penghargaan kepada murid yang telah menunjukkan dedikasi, kerja keras, daya juang, dan prestasi dalam ajang talenta, termasuk OSN. “Kami terus berusaha mendukung dan mengapresiasi prestasi anak bangsa. Mohon maaf kalau mungkin hadiahnya tidak besar,” kata Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti di Jakarta, Jumat (4/9).
Komitmen tersebut diperlihatkan dengan aktifnya Kemendikdasmen melakukan pembinaan serta mengirim murid berprestasi ke ajang internasional. Pada tahun 2026, sebanyak 420 juara ajang nasional dibina oleh Puspresnas bersama mitra sebagai persiapan mengikuti ajang internasional. Pada tahun 2026 ini sebanyak 79 murid dikirim sebagai delegasi Indonesia ke berbagai ajang internasional. Para delegasi yang telah berkompetisi telah meraih 47 penghargaan internasional yang terdiri atas tujuh emas, 17 perak, 23 perunggu, dan lima honorable mention.
“Kami sedang mencari skema supaya anggarannya dapat digunakan dari sumber-sumber lain sehingga anggaran hadiahnya dapat ditambah,” terang Abdul Mu’ti.
Namun, Mendikdasmen juga mengimbau agar masyarakat tidak melihat suatu penghargaan hanya dari sisi hadiahnya, karena mereka yang juara juga akan mendapat dukungan pengembangan talenta berkelanjutan.
Kepala Puspresnas, Maria Veronica Irene Herdjiono, menambahkan bahwa apresiasi dan pembinaan bagi para peraih prestasi tidak berhenti pada pemberian hadiah atau dana pembinaan. Puspresnas secara berkelanjutan membina talenta berprestasi agar memperoleh kesempatan untuk mengikuti ajang internasional. “Prestasi di tingkat nasional bukanlah akhir dari proses pembinaan. Kami terus mendampingi para talenta berprestasi agar dapat berkembang dan memiliki kesempatan lebih luas lagi,” ucap Irene.
Dukung Talenta Berprestasi, Kemendikdasmen Lanjutkan Pembinaan hingga Ajang Internasional
Dukungan jangka panjang juga diberikan melalui kesempatan melanjutkan pendidikan. Melalui Beasiswa Talenta Indonesia yang merupakan kolaborasi Puspresnas dan LPDP, para talenta berprestasi mendapatkan pendanaan pendidikan program S1/D4 di dalam maupun luar negeri. Tahun ini, telah diumumkan 174 calon penerima beasiswa S1 terdiri atas 171 calon penerima beasiswa dalam negeri dan tiga orang calon penerima beasiswa luar negeri. Mereka merupakan pemenang ajang yang difasilitasi Puspresnas, termasuk OSN.
“OSN bukan semata-mata tentang medali atau menjadi juara. Proses mengikuti kompetisi menjadi ruang bagi murid untuk mengembangkan kemampuan, membangun karakter, sportivitas, daya juang, dan mental sebagai generasi unggul Indonesia,” tutur Irene.
Kemendikdasmen berkomitmen memastikan setiap murid memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi dan meraih prestasi melalui proses yang adil, transparan, dan berintegritas. Pembinaan talenta diarahkan agar prestasi yang diraih hari ini dapat membuka kesempatan pengembangan diri dan pendidikan pada jenjang berikutnya.
“Kami mengapresiasi perhatian dan masukan yang disampaikan masyarakat. Partisipasi publik merupakan bagian penting dalam upaya bersama untuk terus meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan dan ajang talenta yang berpihak pada murid, sejalan dengan semangat Pendidikan Bermutu untuk Semua,” pungkas Irene.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Tangerang, 4 September 2026 — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan murid Indonesia di ajang internasional. Tim Indonesia berhasil meraih satu medali emas, empat medali perak, dan tujuh medali perunggu, serta tiga penghargaan Young Reporters Initiative (YoRI) pada International Earth Science Olympiad (IESO) ke-19 yang diselenggarakan pada 20 s.d. 27 Agustus 2026 di Turin, Italia.
Capaian tersebut menjadi bukti kemampuan murid Indonesia dalam berkompetisi pada ilmu kebumian sekaligus hasil dari proses pembinaan dan seleksi yang dilakukan secara berkelanjutan oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Pada ajang yang diikuti 160 peserta dari 40 negara tersebut, empat murid Indonesia menunjukkan performa terbaik melalui sejumlah kategori kompetisi, yakni Individual Test, International Team Field Investigation (ITFI), Earth System Project (ESP), dan Young Reporters Initiative (YoRI).
Adapun perolehan prestasi Tim Indonesia adalah sebagai berikut. Marvell Collin Celeste dari SMAS Kristen Immanuel Pontianak, Kalimantan Barat, meraih medali perunggu pada Individual Test, medali emas pada International Team Field Investigation (ITFI), medali perunggu pada Earth System Project (ESP), serta Third Prize pada Young Reporters Initiative.
Kemudian, Louis Victor Iswaranimpunga Paris dari SMAK Katolik St. Albertus Malang, Jawa Timur, meraih medali perak pada Individual Test, medali perunggu pada ITFI, medali perak pada ESP, serta First Prize pada Young Reporters Initiative. Salma Rofidatul Hasanah dari MAN 2 Kota Malang, Jawa Timur, meraih medali perunggu pada Individual Test dan ITFI, medali perak pada ESP, serta Second Prize pada Young Reporters Initiative. Muhammad Ihsan dari MAN Insan Cendekia Serpong, Banten, juga meraih medali perunggu pada Individual Test dan ESP, serta medali perak pada ITFI.
Mengikuti rangkaian kompetisi selama delapan hari di Italia, Marvell Collin Celeste merasakan langsung manfaat dari proses pembinaan yang telah dijalaninya. Menurutnya, pembinaan yang diadakan Kemendikdasmen melalui Puspresnas memberikan bekal dan pengalaman yang berharga untuk menghadapi kompetisi tersebut.
“Semua berjalan dengan lancar dan kami semua bisa menyelesaikan kompetisi IESO selama delapan hari di Italia. Kami berterima kasih kepada Kemendikdasmen dan Puspresnas karena mulai dari Olimpiade Sains Nasional ke tahap pembinaan yang dilakukan sangat bermanfaat bagi kami,” jelas Marvel yang juga peraih medali emas OSN tingkat nasional untuk cabang ajang kebumian 2025.
Pengalaman berkompetisi di IESO juga menjadi kesempatan bagi Salma Rofidatul Hasanah untuk mengasah kemampuan sekaligus berkolaborasi dengan murid dari berbagai negara. Ia mengaku mendapatkan pengalaman yang menarik selama mengikuti rangkaian kompetisi tersebut.
“Seru sekali berkompetisi di IESO. Saat mengikuti bagian ESP kami mencari data ke gunung. Kami juga membuat poster, tes tertulis, dan presentasi bersama murid dari berbagai negara,” ungkap Salma.
Dua pembina yang mendampingi perjuangan tim Indonesia pada IESO 2026 adalah Ichsan Ibrahim dari STMIK Indonesia Mandiri dan Rahmawati Rahayu dari tim Olimpiade Ilmu Kebumian Indonesia.
Menurut Ichsan Ibrahim, selain mempertahankan prestasi pada kategori utama, tahun ini tim Indonesia juga mengikuti Young Reporters Initiative (YoRI) untuk pertama kalinya dan berhasil meraih tiga penghargaan. Capaian tersebut menjadi tambahan prestasi yang melengkapi keberhasilan para murid Indonesia di ajang internasional untuk ilmu kebumian ini.
“Prestasi di IESO tahun ini lebih baik. Tahun ini tim Indonesia memperoleh satu emas, empat perak, dan tujuh perunggu. Ditambah tahun ini kita mengikuti Young Reporters Initiative (YoRI) dan meraih tiga penghargaan,” tutur Ichsan.
Kepala Pusat Prestasi Nasional, Maria Veronica Irene Herdjiono, menyampaikan apresiasi kepada seluruh murid dan tim pembina yang telah meraih prestasi di ajang IESO. “Para murid pemenang ajang talenta nasional terus kami bina secara berkelanjutan hingga ke ajang internasional. Selamat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada adik-adik dan pembina,” ujarnya.
Keberhasilan ini diharapkan semakin memperkuat ekosistem pembinaan talenta. Melalui pembinaan yang terarah dan berkelanjutan, Kemendikdasmen berkomitmen memberikan ruang bagi murid Indonesia untuk mengembangkan potensi, berkompetisi secara sehat, dan mengharumkan nama Indonesia di berbagai ajang prestasi internasional.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Jakarta, 4 September 2026 – Bagi anak-anak di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), asap mungkin untuk sementara memindahkan ruang belajar dari sekolah ke rumah. Namun, asap tidak boleh menghentikan mereka untuk belajar. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memastikan layanan pendidikan tetap berjalan dengan mengutamakan kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal (PAUD, Dikdas, dan PNFI) Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, menegaskan bahwa penghentian sementara pembelajaran tatap muka bukan berarti kegiatan belajar dihentikan. “Keselamatan dan kesehatan anak adalah prioritas. Namun, belajar dari rumah bukan berarti libur. Ketika kondisi udara mengharuskan tatap muka dihentikan, sekolah tetap wajib memastikan hak belajar setiap murid terpenuhi melalui moda pembelajaran yang paling sesuai dengan kondisi daerah,” ujarnya dalam konferensi pers Perkembangan Harian Penanganan Bencana Karhutla di Indonesia, studio Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta, Rabu (2/9).
Untuk memastikan keputusan pembelajaran dilakukan secara terukur, Kemendikdasmen telah menerbitkan Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (SE Mendikdasmen) Nomor 20 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Layanan Pendidikan pada Satuan Pendidikan di Daerah Terdampak Asap Kebakaran Hutan dan Lahan pada 28 Agustus 2026. Kebijakan tersebut berlaku bagi PAUD, pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan khusus, dan pendidikan kesetaraan, baik negeri maupun swasta. Penyesuaian layanan pendidikan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi kualitas udara, tingkat risiko kesehatan, serta karakteristik dan kebutuhan satuan pendidikan dan peserta didik.
Penetapan moda pembelajaran mengacu pada Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Pada kategori Baik (1–50), pembelajaran berlangsung normal, sedangkan pada kategori Sedang (51–100), pembelajaran tatap muka tetap berlangsung dengan pembatasan aktivitas di luar ruangan. Pada kategori Tidak Sehat (101–200), pembelajaran tatap muka dilakukan secara terbatas dengan perlindungan tambahan dan kelompok rentan, seperti peserta didik PAUD, SD kelas I–III, SLB, serta peserta didik dengan penyakit penyerta, beralih ke pembelajaran jarak jauh. Jika ISPU mencapai kategori Sangat Tidak Sehat (201–300) atau Berbahaya (di atas 300), pembelajaran tatap muka dihentikan sementara.
“Dengan mekanisme ini, keputusan tidak dilakukan secara seragam tanpa melihat kondisi lapangan. Ketika kualitas udara memburuk, anak kita lindungi. Ketika kondisi kembali aman, mereka dapat segera kembali belajar di sekolah,” kata Gogot. Mekanisme tersebut juga memungkinkan pembelajaran kembali ke tatap muka ketika kualitas udara membaik. Kota Pekanbaru, misalnya, kembali menyelenggarakan pembelajaran tatap muka pada 31 Agustus setelah ISPU turun ke kategori Sedang, sementara Kota Palembang menyesuaikan jam masuk sekolah tanpa menghentikan tatap muka.
Berdasarkan pemantauan dengan cut-off data 1 September 2026 pukul 17.00 WIB, sebanyak 12.874 satuan pendidikan dengan sekitar 1,43 juta peserta didik di 27 wilayah pada enam provinsi tercatat melaksanakan pembelajaran dari rumah dengan moda pengganti. Sebanyak 9.683 satuan pendidikan dengan 1.143.421 peserta didik telah terverifikasi melalui pelaporan berjenjang, sementara 3.191 satuan pendidikan dengan 285.712 peserta didik masih dalam proses verifikasi melalui unit pelaksana teknis Kemendikdasmen.
Di Kalimantan Barat, sebanyak 8.888 satuan pendidikan dengan 1.001.440 peserta didik melaksanakan pembelajaran dari rumah. Pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah. Di Kabupaten Landak, misalnya, pembelajaran luring disiapkan bagi murid yang tidak memiliki akses internet. Sementara di Kalimantan Tengah, sebanyak 795 satuan pendidikan dengan 141.981 peserta didik telah terverifikasi melaksanakan pembelajaran jarak jauh.
Kemendikdasmen memastikan pembelajaran jarak jauh tidak selalu berarti pembelajaran daring. Bagi peserta didik yang memiliki akses listrik, internet, dan perangkat, pembelajaran dapat dilakukan secara daring. Sementara bagi satuan pendidikan yang belum memiliki akses listrik dan/atau jaringan internet, pembelajaran dapat dilakukan secara luring melalui modul pembelajaran cetak, lembar aktivitas, penugasan berbasis rumah, guru kunjung dengan tetap memperhatikan keselamatan, maupun radio dan televisi lokal. Beban belajar selama masa darurat juga disederhanakan dengan berfokus pada literasi, numerasi, dan penguatan karakter.
Selain itu, Kemendikdasmen juga memperkuat perlindungan di lingkungan sekolah melalui penyediaan ruang kelas aman asap dan sedikitnya satu sekolah rujukan aman asap pada setiap kecamatan terdampak. Prioritas diberikan kepada 1.365 sekolah tanpa listrik yang tidak dapat melaksanakan PJJ secara daring. Di saat yang sama, Pos Pendidikan Darurat Karhutla di tingkat pusat dan unit pelaksana teknis di provinsi terdampak terus memantau perkembangan ISPU, moda pembelajaran, jumlah satuan pendidikan dan peserta didik terdampak, serta gangguan kesehatan warga satuan pendidikan.
Dirjen Gogot mengajak orang tua dan wali murid turut memastikan anak tetap aman dan belajar dengan memantau kualitas udara dari sumber resmi, membatasi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara memburuk, memastikan anak menggunakan masker sesuai kebutuhan, serta segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila muncul keluhan pernapasan. “Kita tidak ingin anak-anak harus memilih antara kesehatan dan pendidikan. Keduanya harus kita lindungi. Negara bersama pemerintah daerah, sekolah, guru, dan orang tua akan memastikan anak-anak tetap aman sekaligus tetap memperoleh haknya untuk belajar,” tutupnya.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Jakarta, 4 September 2026 – Tiga pekan pascabencana gempa bumi yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mempercepat pemulihan layanan pendidikan kepada para warga sekolah terdampak bencana. Upaya tersebut dilakukan guna memastikan proses pembelajaran tetap berlangsung dengan menyesuaikan kondisi masing-masing satuan pendidikan, termasuk penyediaan ruang kelas darurat dan penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menjelaskan bahwa proses pemulihan layanan pendidikan pascagempa di NTT menunjukkan tren positif. Hingga saat ini, sebanyak 1.931 satuan pendidikan dan 171.476 murid telah kembali melaksanakan proses pembelajaran. Dari jumlah tersebut, 1.504 satuan pendidikan melaksanakan pembelajaran di sekolah darurat, 392 satuan pendidikan menerapkan PJJ, dan 35 satuan pendidikan telah kembali melaksanakan pembelajaran secara tatap muka.
Hingga 3 September 2026, Kemendikdasmen juga telah mendistribusikan 100 tenda kelas darurat ke sejumlah wilayah terdampak. Bantuan tersebut terdiri atas 8 tenda di Kabupaten Manggarai Barat, 28 tenda di Kabupaten Manggarai, 27 tenda di Kabupaten Manggarai Timur, 17 tenda di Kabupaten Nagekeo, 7 tenda di Kabupaten Ngada, 8 tenda di Kabupaten Sikka, dan 5 tenda di Kabupaten Ende.
Selain penyediaan ruang belajar darurat, Kemendikdasmen juga menyalurkan berbagai bantuan untuk mendukung pemulihan warga sekolah terdampak. Bantuan tersebut meliputi 5.500 school kit, 500 paket sembako, 9.500 bingkisan anak, 1.500 family kit, serta 9.500 buku bacaan yang didistribusikan ke Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka.
Lebih lanjut, bantuan awal senilai Rp1,1 miliar telah disalurkan untuk mendukung pembersihan lokasi sekolah yang mengalami kerusakan berat. Kemendikdasmen juga telah memberikan santunan senilai Rp47 juta kepada murid dan guru yang meninggal dunia maupun mengalami cedera akibat gempa.
“Penyediaan ruang belajar darurat dan seluruh bantuan yang diberikan merupakan upaya kami untuk memastikan anak-anak NTT tetap mendapatkan haknya untuk belajar di tengah situasi pascagempa. Selain itu, kami juga terus melakukan pendataan terkait kebutuhan revitalisasi untuk sekolah-sekolah terdampak dan menguatkan pos-pos pendidikan di setiap kabupaten,” ungkap Mendikdasmen, dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (4/9).
Memasuki masa transisi pembelajaran, Menteri Abdul Mu’ti menuturkan Kemendikdasmen terus berkomitmen melanjutkan pemulihan layanan pendidikan dengan memastikan kebutuhan dasar satuan pendidikan terdampak dapat terpenuhi. Upaya tersebut dilakukan melalui penyediaan ruang belajar darurat, peningkatan mutu layanan pendidikan, pendampingan psikososial, perbaikan sanitasi, serta asesmen terhadap kelayakan bangunan sekolah.
Untuk ruang kelas darurat, Kemendikdasmen berupaya memenuhi 3.763 unit ruang kelas darurat, sekaligus meningkatkan mutu layanan pembelajaran di 1.504 sekolah yang saat ini masih menggunakan fasilitas darurat. Selain penyedian sarana pendidikan, Kemendikdasmen juga akan memberikan pendampingan psikososial kepada 822 sekolah guna memulihkan kembali rasa aman dan nyaman kepada para warga sekolah.
Di sektor sanitasi, Kemendikdasmen juga akan melakukan perbaikan darurat terhadap 2.294 unit toilet sebagai langkah penting memastikan lingkungan belajar menjadi aman, sehat, dan layak bagi warga sekolah. Terakhir, Kemendikdasmen juga akan melaksanakan asesmen teknis terhadap kelayakan bangunan sekolah terdampak guna memastikan bangunan yang akan kembali digunakan memenuhi aspek keamanan dan kelayakan.
“Layanan pendidikan harus bangkit dan kembali membangun kebahagiaan dan harapan anak-anak NTT menatap masa depan yang jauh lebih baik. Dengan kerja keras dan partisipasi semesta dari seluruh pihak, kami berharap seluruh layanan pendidikan yang terdampak gempa di NTT akan berangsur pulih dengan cepat,” pungkas Mendikdasmen.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Bandung Barat – Gelaran Gala Siswa Indonesia (GSI) Provinsi Jawa Barat Tahun 2026 resmi bergulir pada Rabu (2/9/2026) di Kabupaten Purwakarta. Ajang kompetisi talenta sepak bola jenjang SMP ini menjadi wadah bagi murid untuk mengembangkan kemampuan olahraga sekaligus membangun karakter melalui semangat kompetisi yang sehat.
Sebanyak 16 tim putra dari berbagai daerah di Jawa Barat turut ambil bagian dalam GSI 2026. Tim tersebut berasal dari Kota Bogor, Bekasi, Cimahi, Bandung, Cirebon, dan Banjar, serta Kabupaten Bandung Barat, Ciamis, Cirebon, Garut, Kuningan, Indramayu, Pangandaran, Sukabumi, Tasikmalaya, dan Purwakarta sebagai tuan rumah.
Selain kategori putra, GSI Jawa Barat 2026 juga menghadirkan dua tim putri yang berasal dari Kabupaten Indramayu dan Kota Bandung. Kehadiran tim putri turut memperkaya gelaran sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi talenta sepak bola murid jenjang SMP untuk menunjukkan kemampuan dan prestasinya.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat sekaligus Ketua Panitia Penyelenggara, Purwanto, menyampaikan bahwa GSI tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga bagian dari upaya pembinaan talenta sepak bola sejak usia sekolah. Melalui ajang ini, bakat-bakat muda diharapkan dapat terus tumbuh dan berkembang hingga menjadi atlet yang membanggakan provinsi dan nasional.
Sementara itu, Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, dalam sambutannya sekaligus membuka kegiatan menyebutkan bahwa talenta olahraga harus memiliki kebiasaan yang sehat dan karakter yang baik. Hal ini senyampang dengan tema GSI 2026 yaitu “Talenta Sehat, Hebat dan Berkarakter melalui Olahraga”.
Pertandingan GSI Provinsi Jawa Barat 2026 berlangsung pada 2-6 September 2026 di Stadion Purnawarman dan Yon Armed, Purwakarta. Pertandingan diawali dengan laga antara Kabupaten Purwakarta melawan Kota Banjar sebagai kick off penyelenggaraan.
BBPMP Provinsi Jawa Barat sebagai UPT Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah turut memberikan asistensi dalam persiapan dan penyelenggaraan GSI 2026. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya bersama dalam mendorong pembinaan talenta murid melalui kegiatan olahraga yang sehat, sportif, dan berkarakter.
Melalui GSI Jawa Barat 2026, para peserta diharapkan tidak hanya mampu menunjukkan prestasi terbaik, tetapi juga menjunjung tinggi sportivitas dan membangun persahabatan antarmurid. Semangat tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk generasi muda yang sehat, hebat, berkarakter, dan siap berkontribusi bagi kemajuan Indonesia.
Junjung tinggi sportivitas! Tunjukkan prestasi! Bangun persahabatan! Majulah generasi Indonesia!