Kudus, Jawa Tengah, 3 September 2026 – Pembelajaran Sains, Teknologi, Enjinering, dan Matematika (STEM) hadir sebagai upaya untuk menumbuhkan pola pikir kritis dan inovatif pada peserta didik. Dengan mengusung prinsip 5M, yaitu: Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful, Kemendikdasmen mengenalkan STEM dengan cara yang sederhana sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di pembelajaran mereka.
Penerapan Program STEM di sekolah perlu didukung dengan meningkatkan kompetensi guru dalam menerapkan pembelajaran STEM yang sesuai prinsip Pembelajaran Mendalam serta prinsip 5M. Dengan pembekalan ini, guru diharapkan tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga mampu menghadirkan pengalaman belajar yang relevan, inspiratif, dan berdampak bagi murid.
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Nunuk Suryani, mengatakan bahwa komitmen penguatan STEM hadir melalui berbagai program prioritas. Upaya ini diwujudkan melalui berbagai upaya peningkatan kompetensi, termasuk menargetkan 3.272 guru yang menjadi sasaran pengimbasan oleh fasilitator daerah.
“Dengan implementasi terarah, pembelajaran STEM dengan prinsip 5M yang erat dengan kearifan lokal diharapkan dapat menjadi pengungkit mutu pembelajaran sekaligus mempersiapkan Generasi Emas bagi terwujudnya Indonesia Emas 2045,” tambah Dirjen Nunuk.
Kemendikdasmen telah membentuk 155 Fasilitator Nasional melalui pelatihan yang bermitra dengan Monash University, SEAQIS, dan Korea National University of Education. Program penguatan kompetensi mencakup pelatihan teknis, micro-credential, dan lokakarya lintas jenjang. Dengan prinsip ini diharapkan agar para pendidik dapat mengajarkan STEM kepada anak-anak dengan cara yang tidak rumit dan mahal.
“Sebagai wujud partisipasi semesta, dukungan Bupati Kudus beserta seluruh jajaran pemerintahan, para kepala dinas pendidikan, dan tentunya seluruh mitra pembangunan, termasuk Pusat Belajar Guru menjadi kunci Program STEM ini dapat berjalan dan memberikan dampak nyata bagi pendidikan Indonesia,” tutur Nunuk Suryani.
Salah satu guru yang hadir dalam acara peluncuran Fitri Anggraeni, guru RA Miftahul Falah Dawe menyampaikan pesan semangat agar rekan-rekan pendidik terus meningkatkan kompetensi. “Mari kita terus semangat belajar mengasah kemampuan dan saling menginspirasi bertukar pengalaman mengajar untuk memperkaya wawasan dan mencetak generasi unggul,” pesannya.
Senada dengan itu, guru TKIT Umar bin Khatab, Annisa berharap, melalui peluncuran program STEM Nasional ini guru-guru di Indonesia terdorong untuk menciptakan model pembelajaran yang lebih kreatif guna menumbuhkembangkan pola pikir kritis anak sejak dini.
Dukungan Dinas Pendidikan Pelaksana tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga, Kabupaten Kudus, Anggun Nugroho, mengatakan bahwa Dispora Kabupaten Kudus sangat mengapresiasi peluncuran Program STEM Nasional. Ia menyatakan bahwa hal ini adalah bukti kepedulian Kemendikdasmen terhadap tumbuh kembang anak-anak di sekolah.
“Kami akan mengimplementasikan program ini secara bertahap di semua jenjang. Mungkin akan ada piloting satu atau dua sekolah terlebih dahulu sebelum pelaksanaan secara menyeluruh di Kudus. Kami juga siap berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk memberikan bekal kepada anak-anak kita untuk menerapkan STEM,” tambah Anggun
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Jepara, Adi Hananto juga menyatakan apresiasinya atas peluncuran Program STEM Nasional. Ia berharap Program STEM dapat dilaksanakan secara menyeluruh di Kabupaten Jepara, sehingga peserta didik yang ada di Kabupaten Jepara dapat belajar dasar STEM dengan lebih baik lagi. “Kami akan mendukung program ini melalui komunitas belajar (kombel) guru. Harapannya, mereka dapat mengimbaskan STEM ini kepada semua guru yang ada di Kabupaten Jepara,” ujar Adi.
Pendekatan STEM dipilih untuk mengajarkan anak berpikir lewat masalah nyata, bukan menghafal rumus tanpa tahu untuk apa rumus itu dipakai. Dengan prinsip 5 M, STEM bisa dimulai dari apa yang ada di sekitar kita, oleh guru mana pun, di sekolah mana pun. Ini sesuai dengan slogan STEM, yaitu Berani Mencoba, Kreatif Mencipta.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Kudus, Jawa Tengah, 3 September 2026 — Seekor katak di sawah, belalang yang melompat di rerumputan, semut yang berjalan beriringan, hingga kupu-kupu yang beterbangan dapat menjadi pintu masuk anak mengenal sains. Tak perlu laboratorium mahal atau peralatan berteknologi tinggi. Rasa ingin tahu dan lingkungan sekitar justru dapat menjadi ruang belajar yang kaya.
Cara pandang inilah yang didorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Sains, Teknologi, Enjinering, dan Matematika (STEM) dengan pendekatan 5M: Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti mengatakan perubahan pola pikir menjadi kunci agar pembelajaran sains dapat hadir dekat dengan kehidupan anak. “Bangun mindset menentukan bagaimana kita melakukan sesuatu sehingga mindset kita ubah dengan science itu mudah. Semua orang bisa menjadi saintis dan murah, tidak harus membeli peralatan lab yang mahal. Bisa dari keseharian, di mana anak-anak menemukan banyak hal di sekitarnya, dan belajar sains itu menggembirakan, mindful dan meaningful,” ujarnya.
Menurut Abdul Mu’ti, pendekatan tersebut perlu ditanamkan sejak pendidikan anak usia dini (PAUD), sejalan dengan gagasan wajib belajar 13 tahun dan pengenalan sains sejak taman kanak-kanak. “Mereka bisa tanya apa saja dan semuanya spontan sehingga sains bisa menggembirakan kalau rasa ingin tahu itu tidak kita batasi dan takut-takuti,” katanya.
Ia mencontohkan, anak dapat diajak ke sawah untuk mengamati rumput, padi, katak, belalang, semut, serta berbagai hal yang ada di lingkungan nyata. Pengalaman langsung membantu anak memahami bahwa sains bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan mereka. “Sains tidak boleh menjauhkan dari lingkungan alam di mana mereka berada karena alam adalah tempat belajar,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya memberi ruang kepada anak untuk mencipta dan bereksplorasi. “Kita dorong mereka mencipta. Pengalaman itu sangat penting untuk memancing rasa ingin tahu mereka.dalam suasana yang menggembirakan.”
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Nunuk Suryani mengungkapkan, “Kami menyadari, selama ini STEM diidentikkan sebagai bidang mahal dan sulit untuk diterapkan dalam pembelajaran. Stigma ini menjadi salah satu alasan mendorong kami untuk merancang Program STEM secara menyeluruh, termasuk di dalamnya penguatan kompetensi guru melalui pelatihan STEM yang mengusung prinsip 5M, yaitu Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful,” tutur Nunuk.
Melalui pendekatan tersebut, Kemendikdasmen ingin STEM hadir sebagai cara berpikir dalam keseharian murid: mengamati persoalan, bertanya, mencari solusi, mencoba, mengevaluasi, dan menciptakan sesuatu yang bermakna. Guru menjadi penggerak utama agar pengalaman belajar tersebut tumbuh secara alami, menyenangkan, dan relevan dengan lingkungan anak.
“Peluncuran ini bukan sebagai awal kegiatan, tetapi menjadi sebuah katalis dalam praktik pedagogis yang menghubungkan konsep lintas disiplin dengan konteks nyata sekaligus memfasilitasi praktik saintifik, enjinering, komunikasi ilmiah, dan kolaborasi,” lanjut Dirjen Nunuk.
Fitri Anggraeni, guru RA Miftahul Falah Dawe menyampaikan rasa senangnya atas peluncuran STEM Nasional. Meski baru menyadari bahwa aktivitas mengajarnya selama ini merupakan bentuk penerapan STEM, peluncuran secara nasional membuatnya semakin yakin bahwa metode pembelajaran yang telah ia terapkan sudah tepat. “Alhamdulillah, memang sedikit banyak aktivitas pembelajaran selama ini ternyata sudah terkait dengan STEM. Anak-anak memang terlihat lebih bersemangat mengikuti pelajaran ketika diajak dalam suasana bermain. Seperti membuat bangun ruang menggunakan kardus, belajar numerasi sambil bernyanyi, dan lain-lain,” jelas Fitri.
Sementara itu, Syafaatun Nimah, guru RA Miftahul Huda 1 Dawe justru merasakan pengalaman pembelajaran yang lebih kaya saat anak-anak belajar dengan menerapkan STEM. “Tak jarang saya takjub dengan reaksi dan umpan balik yang diberikan anak-anak. Sebab, sering kali justru saya belajar dari mereka. Ruang interaksi antara guru dan murid, membuat saya belajar hal baru dan terpacu untuk menjadi pengajar yang lebih baik lagi untuk anak-anak,” ungkapnya.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Jakarta, 2 September 2026 — Bagi guru sekolah menengah kejuruan (SMK), belajar di industri tidak berhenti pada pengalaman pribadi. Pengetahuan tentang teknologi, cara kerja industri, hingga budaya kerja yang diperoleh di Jerman akan dibawa pulang ke sekolah dan diterjemahkan menjadi pembelajaran yang lebih relevan bagi murid. Hal tersebut menjadi salah satu tujuan Program Magang Luar Negeri bagi Guru SMK Tahun 2026 yang diikuti 50 guru SMK selama tiga bulan di Jerman. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) menggandeng Technische Universität Dresden (TU Dresden) dan Festo sebagai mitra pendidikan dan industri dalam pelaksanaan program.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengatakan pengalaman yang diperoleh para guru selama berada di Jerman perlu memberikan manfaat lebih luas setelah mereka kembali ke Indonesia. Menurutnya, pengetahuan yang diperoleh peserta dapat ditransformasikan kepada guru SMK lainnya sehingga dampaknya tidak berhenti pada 50 peserta program.
“Setelah memperoleh pengalaman dan keahlian selama tiga bulan, ada trickle down effect atau ada proses di mana Bapak dan Ibu sekalian juga dapat mentransformasikan pengalamannya pada guru-guru SMK yang lainnya, sehingga dapat terjadi peningkatan mutu yang berjalan seiring dengan pengalaman Bapak dan Ibu sekalian magang di Jerman,” ujar Mendikdasmen saat melepas peserta Program Magang Luar Negeri Guru SMK Tahun 2026 di Gedung A Kemendikdasmen, Jakarta, Selasa (1/9).
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, mengatakan pengalaman internasional menjadi bagian penting dalam pengembangan profesional guru SMK. Menurutnya, pembelajaran di lingkungan pendidikan dan industri menjadi jembatan untuk mendekatkan sekolah dengan kebutuhan dunia kerja.
“Keberangkatan ini penting untuk meningkatkan kompetensi, kapasitas profesional, dan sekaligus pengalaman belajar dan praktik bagaimana di dunia pendidikan dan juga di dunia industri,” ujar Tatang.
Tatang menambahkan, pengalaman peserta juga membuka peluang bagi SMK untuk membangun jejaring dengan industri, termasuk perusahaan Jerman yang beroperasi di Indonesia. Jejaring tersebut dapat berkembang menjadi kerja sama yang memberi manfaat bagi pembelajaran dan kesiapan lulusan.
Dari sisi industri, Festo turut memberikan pengalaman pembelajaran di bidang otomasi industri. Perwakilan Festo, Safri Susanto, mengatakan peserta akan memperoleh gambaran mengenai perkembangan teknologi yang digunakan dalam manufaktur, termasuk otomasi dan mekatronika. Menurut Safri, kolaborasi Festo dengan pendidikan vokasi Indonesia telah berlangsung sejak 2015. Setelah sempat terhenti akibat pandemi, kerja sama tersebut kembali dilanjutkan pada 2026 melalui program magang guru SMK.
Bagi peserta, kesempatan tersebut bukan hanya tentang mengenal sistem pendidikan vokasi di negara lain. Mereka juga akan mempelajari perkembangan teknologi dan praktik industri yang dapat diterapkan sesuai kebutuhan sekolah masing-masing.
Guru Teknik Otomasi Industri SMK Negeri 1 Cilegon, Banten, Lingganu Rahman, melihat program tersebut sebagai kesempatan untuk membawa pembelajaran vokasi Indonesia agar semakin mampu bersaing secara global. Ia secara khusus ingin mendalami perkembangan teknologi kontrol otomasi selama berada di Jerman.
“Saya sangat bersemangat untuk mengikuti program ini, karena saya rasa ini bisa meningkatkan pendidikan vokasi di negeri kita agar mampu bersaing di tingkat global,” ujar Lingganu.
Sepulang dari Jerman, Lingganu berencana membagikan pengetahuan yang diperolehnya kepada rekan-rekan sejawat, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Menurutnya, pengalaman tersebut akan lebih berarti jika dapat digunakan bersama untuk mengembangkan pembelajaran.
“Saya akan mendiseminasikan praktik-praktik baik yang saya pelajari di sana kepada rekan-rekan sejawat, di lingkungan internal maupun eksternal,” tuturnya.
Hal serupa disampaikan Guru SMK Negeri 1 Sanga-Sanga, Kalimantan Timur, Astri Damayanti. Ia ingin menerjemahkan pengalaman magang menjadi perubahan yang dirasakan langsung oleh murid dan sekolah.
“Perubahan yang kami bawa itu bisa berdampak langsung kepada siswa kami, sekolah kami, maupun daerah kami untuk membawa vokasi Indonesia menjadi lebih baik,” kata Astri.
Menurut Astri, salah satu hal penting yang ingin dipelajari adalah bagaimana sekolah membangun hubungan yang lebih erat dengan industri. Dengan demikian, pembelajaran di SMK tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki keterampilan teknis, tetapi juga memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
“Yang kami harapkan jelas bagaimana penerapannya nanti di sekolah, bagaimana cara kita bekerja sama dengan perusahaan sehingga hasil lulusan-lulusan SMK itu tidak hanya memiliki keterampilan berstandar internasional, tapi kami harapkan bisa bersaing di tingkat internasional,” ujarnya.
Program ini menjadi ruang bagi guru untuk membawa pengetahuan baru tentang teknologi, praktik kerja, dan hubungan dengan industri ke sekolah masing-masing. Pengalaman tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam pembelajaran yang lebih dekat dengan kebutuhan dunia kerja, sehingga murid SMK tidak hanya belajar keterampilan, tetapi juga mengenal standar dan cara kerja industri global.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Jakarta, 3 September 2026 — Isu kekerasan dan paparan paham ekstremisme di kalangan anak menjadi perhatian bersama berbagai pihak. Untuk memperkuat langkah pencegahan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menggelar kegiatan Penguatan Peran Komite Sekolah, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan dalam Pencegahan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme di Satuan Pendidikan. Kegiatan ini menjadi ruang untuk membangun komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman sekaligus mendukung tumbuh kembang anak.
“Forum ini menjadi sangat penting untuk melakukan langkah bersama, gerakan bersama, menciptakan lingkungan yang aman dan lingkungan yang memungkinkan anak-anak kita dapat tumbuh dengan gembira dalam mencapai cita-cita,” ujar Menteri Pendididikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, di Jakarta, Rabu (2/9).
Menurutnya, upaya tersebut sejalan dengan kebijakan Presiden dalam membangun budaya ASRI, yaitu Aman, Sehat, Resik, dan Indah. Selain itu, Kemendikdasmen juga terus mendorong terwujudnya budaya sekolah yang aman dan nyaman sesuai dengan kebijakan yang berlaku.
“Kami berupaya untuk menjadikan sekolah yang aman dan nyaman itu sebagai budaya dan lingkungan yang memungkinkan anak-anak kita dapat belajar dengan sebaik-baiknya dan dapat merasakan suasana kekeluargaan di dalam lingkungan sekolah mereka. Kami menggunakan pendekatan yang humanis, inklusif, dan partisipatif,” tuturnya.
Mendikdasmen menjelaskan bahwa sejak awal Kemendikdasmen menekankan pentingnya sinergi empat pusat pendidikan, yaitu lingkungan sekolah, keluarga, masyarakat, dan media. Keempat lingkungan tersebut memiliki peran dalam mendampingi anak, terutama pada masa pertumbuhan ketika mereka sedang membangun identitas dan mencari ruang untuk berekspresi.
Dalam konteks keluarga, Mendikdasmen menilai hubungan antara orang tua dan anak menjadi bagian penting dari pencegahan. “Tidak hanya educate, tetapi juga nurture. Tidak hanya mendidik, tetapi juga membimbing. Inilah yang menjadi penting, bagaimana membangun relasi dan keharmonisan keluarga sebagai faktor untuk mendukung program ini,” ujarnya.
Ia juga mengaitkan upaya tersebut dengan Program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, khususnya kebiasaan bermasyarakat. Menurutnya, anak perlu tetap memiliki ruang untuk berinteraksi, bergaul, dan menjadi bagian dari lingkungan sosialnya. Mendikdasmen menjelaskan bahwa sebagian anak yang terpapar paham kekerasan dan radikalisme memiliki keterbatasan ruang sosial dan ekspresi. Karena itu, anak perlu didampingi melalui pendekatan sosial yang humanis serta diberikan ruang aktualisasi yang edukatif, bermanfaat, dan produktif sesuai bakat dan minat mereka.
“Kita mendampingi mereka karena suasana aman, perasaan terlindungi, dan rasa di mana mereka mendapatkan pengakuan itu menjadi modal dan bekal yang penting untuk kita mendidik anak-anak kita menjadi generasi Indonesia yang hebat, generasi Indonesia yang kuat,” kata Mendikdasmen.
Sementara itu, Kepala BNPT, Eddy Hartono, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAN PE) yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2026.
Ia mengungkapkan bahwa tantangan pencegahan semakin penting diperhatikan mengingat perkembangan paparan paham kekerasan di kalangan anak. Berdasarkan data aparat penegak hukum, sejak Januari hingga 26 Agustus 2026 terdapat 620 anak yang masuk dalam kategori terpapar paham kekerasan maupun radikalisme. Paparan tersebut antara lain terjadi melalui berbagai ruang digital, seperti media sosial, podcast, forum, dan platform lainnya.
Menurut Eddy, kondisi tersebut membutuhkan langkah bersama yang tidak hanya dilakukan di tingkat pusat. Setelah deklarasi komitmen, BNPT akan melakukan intervensi ke 38 provinsi sebagai bagian dari upaya pencegahan yang lebih luas.
“Hari ini kita hadir, kita sama-sama membuat komitmen. Nanti setelah komitmen deklarasi ini, kami akan melakukan intervensi ke 38 provinsi,” ujar Eddy.
Kegiatan tersebut juga diisi dengan deklarasi komitmen bersama sebagai bentuk kesepahaman untuk memperkuat peran komite sekolah, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat dalam mencegah ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme di lingkungan pendidikan.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Jakarta, 3 September 2026 — Bagi Luvidi Pranawa Alghari, prestasi tidak datang secara instan. Ketertarikannya pada matematika dan pemrograman sejak sekolah dasar membawanya mengikuti berbagai ajang talenta, mulai dari Olimpiade Sains Nasional (OSN) hingga meraih medali emas International Olympiad in Artificial Intelligence (IOAI).
Murid kelas 11 SMAS Pribadi Beji, Depok, Jawa Barat, tersebut kini tercatat sebagai peraih medali emas IOAI 2026 setelah sebelumnya meraih medali perak pada IOAI 2025. Capaian tersebut melengkapi perjalanan prestasinya yang dimulai dari tingkat nasional, dengan meraih medali perak OSN Jenjang Pendidikan Dasar cabang ajang matematika pada 2023 dan medali emas OSN Jenjang Pendidikan Menengah cabang ajang Informatika pada 2024.
Perjalanan Luvidi menunjukkan bahwa ajang talenta nasional dapat menjadi salah satu pintu masuk bagi murid untuk mengembangkan potensi hingga ke tingkat internasional. Prestasi yang diraih dalam kompetisi nasional kemudian berlanjut dengan kesempatan mengikuti seleksi dan pembinaan untuk menjadi delegasi Indonesia pada ajang internasional.
“Dari SD, saya suka ikut lomba matematika. Tahun 2023, saya ikut OSN SMP cabang ajang matematika dan mendapat medali perak. Tahun 2024, saya mendapat medali emas OSN cabang ajang informatika. Lalu, saya ikut seleksi untuk delegasi IOAI 2025. Saya lolos dan mendapat medali perak di Beijing. Awal tahun 2026 ini, saya diundang untuk ikut seleksi IOAI 2026 dan mendapat medali emas di Astana, Kazakshtan,” tutur Luvidi.
Ketertarikan Luvidi terhadap kecerdasan artifisial juga tumbuh dari minatnya pada matematika dan pemrograman. Ketika mengikuti proses pembinaan dan seleksi IOAI, ia mulai mempelajari lebih dalam kecerdasan artifisial hingga akhirnya menemukan ketertarikan baru. “Karena awalnya saya tertarik pada matematika dan pemrograman, jadi saya mencoba ikut seleksi IOAI. Di sana, saya belajar lebih banyak tentang kecerdasan artifisial dan saya tertarik,” ujarnya.
Perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Salah satu tantangan yang dihadapi Luvidi adalah masih terbatasnya soal-soal latihan untuk olimpiade kecerdasan artifisial dibandingkan olimpiade lainnya. Untuk mengatasinya, Luvidi membangun kebiasaan belajar secara rutin. Ia berusaha belajar hampir setiap hari atau memanfaatkan waktu luang. Selain itu, ia bergabung dengan sejumlah komunitas olimpiade kecerdasan artifisial yang anggotanya berasal dari berbagai negara. “Usahakan rutin belajar hampir setiap hari atau saat ada waktu luang. Saya juga ikut beberapa komunitas olimpiade kecerdasan artifisial yang anggotanya dari berbagai negara,” kata Luvidi.
Pembinaan Membuka Ruang untuk Berkembang Dalam perjalanan menuju prestasi internasional, pembinaan menjadi bagian penting bagi Luvidi. Melalui pembinaan internasional yang dilakukan oleh Puspresnas, ia tidak hanya mendapatkan pembelajaran dari para ahli, tetapi juga bertemu dengan murid dari seluruh Indonesia yang memiliki ketertarikan serupa. “Saat mengikuti pembinaan, saya bertemu banyak teman dengan ketertarikan yang serupa. Selain itu, banyak diajarkan oleh para ahli di bidangnya,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut menjadi gambaran bahwa pengembangan talenta tidak berhenti setelah murid meraih prestasi di tingkat nasional. Capaian dalam ajang talenta dapat menjadi bagian dari proses panjang untuk mengidentifikasi, mengembangkan, dan mengaktualisasikan potensi murid melalui pembinaan yang berkelanjutan.
Hal tersebut sejalan dengan upaya Kemendikdasmen melalui Puspresnas dalam membangun ekosistem talenta murid. Berbagai ajang talenta nasional, seperti OSN, OPSI, FIKSI, LKS, O2SN, GSI, dan FLS3N, memberikan ruang bagi murid untuk mengembangkan minat dan bakat sesuai potensinya. Prestasi yang diraih kemudian dapat menjadi pintu masuk menuju berbagai program pembinaan dan kesempatan pengembangan di tingkat yang lebih tinggi.
Pada 2026, Puspresnas memfasilitasi talenta terbaik Indonesia untuk mengikuti 14 ajang internasional melalui proses seleksi dan pembinaan. Hingga September 2026, delegasi Indonesia yang telah dibina Puspresnas telah meraih 40 penghargaan internasional, terdiri atas enam medali emas, 12 medali perak, 18 medali perunggu, satu honorable mention, dan tiga penghargaan khusus.
“Prestasi murid tidak berhenti ketika kompetisi selesai. Capaian prestasi pada ajang talenta nasional menjadi pintu masuk bagi proses pembinaan berikutnya agar talenta yang telah teridentifikasi dapat terus berkembang,” tutur Kepala Pusat Prestasi Nasional, Kemendikdasmen, Maria Veronica Irene Herdjiono.
Perjalanan Luvidi menjadi salah satu contoh bagaimana prestasi pada ajang talenta nasional dapat berkembang menjadi prestasi internasional. Dari medali perak OSN matematika SMP pada 2023, medali emas OSN informatika pada 2024, medali perak IOAI 2025, hingga medali emas IOAI 2026, perjalanan tersebut menunjukkan proses pengembangan talenta yang berlangsung secara bertahap.
Bagi Luvidi, perjalanan prestasi juga tidak terlepas dari dukungan banyak pihak. Keluarga menjadi pendukung utama, ditambah dukungan sekolah melalui pembinaan OSN, guru, pembina, dan teman-teman. Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah dapat belajar sekaligus bertemu dengan teman-teman selama pelatnas.
Kisah Luvidi memperlihatkan bahwa keberhasilan seorang murid tidak hanya ditentukan oleh satu kompetisi. Ada proses panjang yang mencakup pencarian minat, pengembangan kemampuan, kesempatan berkompetisi, pembinaan, hingga aktualisasi talenta di tingkat internasional.
Melalui ekosistem tersebut, Kemendikdasmen terus berupaya memastikan prestasi murid menjadi awal dari kesempatan yang lebih luas. Ajang talenta nasional bukan sekadar ruang untuk mencari juara, melainkan bagian dari perjalanan untuk menemukan dan mengembangkan talenta terbaik Indonesia.“Isi waktu dengan kegiatan positif dan jangan mudah menyerah,” pesan Luvidi kepada Sobat Prestasi di seluruh Indonesia.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah