Dari OPSI 2026, Kemendikdasmen Tumbuhkan Budaya Riset dan Inovasi Berkelanjutan

Dari OPSI 2026, Kemendikdasmen Tumbuhkan Budaya Riset dan Inovasi Berkelanjutan

Siaran Pers

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 844/sipers/A6/X/2026

Tangerang Selatan, Banten, 1 Oktober 2026 — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) terus memperkuat pengembangan talenta murid di bidang riset dan inovasi melalui Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) Tingkat Nasional Tahun 2026. Penutupan dan penganugerahan medali OPSI 2026 menjadi momentum guna menegaskan keberlanjutan pengembangan talenta, dengan prestasi sebagai pintu masuk menuju proses belajar, penguatan kompetensi, dan pengembangan diri.

Sebanyak 250 talenta riset dan inovasi jenjang pendidikan dasar dan menengah mengikuti rangkaian final OPSI 2026 yang berlangsung pada 24–30 September 2026. Penyelenggaraan OPSI menjadi bagian penting dari implementasi Manajemen Talenta Murid sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 25 Tahun 2025.

Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Peningkatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) dan Kompetensi Guru, Maila Dinia Husni Rahiem, mengatakan bahwa OPSI merupakan salah satu ruang aktualisasi talenta murid sekaligus bagian dari upaya Kemendikdasmen membangun ekosistem manajemen talenta yang mendukung proses identifikasi, pengembangan, aktualisasi, dan keberlanjutan talenta.

“Pemerintah ingin memastikan bahwa talenta-talenta OPSI mendapatkan ruang tumbuh yang berkelanjutan melalui apresiasi dan partisipasi semesta, termasuk dari perguruan tinggi dan dunia industri,” ujar Maila Dinia Husni Rahiem, saat menutup OPSI di Tangerang Selatan, Selasa (29/9).

Menurut Maila, OPSI tidak semata-mata diarahkan pada pencapaian medali. Pentingnya pengalaman selama mengikuti OPSI menjadi bekal penting dalam membangun karakter dan mengembangkan kapasitas diri sebagai peneliti muda. Kepada para peserta OPSI, Maila berpesan agar menjadikan ajang ini bukan hanya kesempatan meraih prestasi tetapi juga ajang yang membina karakter sebagai peneliti muda.

“Prestasi hari ini adalah pintu masuk menuju kesempatan berikutnya. Kesempatan untuk belajar lebih jauh, mengembangkan talenta, memperoleh pengalaman baru, berkompetisi di tingkat yang lebih tinggi, dan bagi sebagian talenta, membawa nama Indonesia ke panggung internasional serta mengikuti seleksi Beasiswa Talenta Indonesia,” jelas Maila.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Puspresnas, Maria Veronica Irene Herdjiono, menjelaskan bahwa karakteristik OPSI berbeda dengan kompetisi yang berorientasi pada pengerjaan soal. Dalam OPSI, peserta didorong untuk memahami dan menyelesaikan permasalahan melalui proses penelitian.

“Kalau ajang lainnya anak-anak diminta untuk mengerjakan soal. Tapi untuk riset, bukan mengerjakan soal, melainkan berpikir untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Bahkan berangkat dari hakikat riset, permasalahan yang belum ada pun harus mampu kita prediksi, apa masalah ke depan dan bagaimana solusinya,” ujar Irene.

Karena itu, rangkaian final OPSI 2026 tidak hanya menghadirkan presentasi penelitian, tetapi juga pameran hasil karya dan Research Idea Challenge (RICh). Melalui RICh, peserta ditantang membangun ide atau gagasan untuk menyelesaikan suatu permasalahan secara spontan dalam waktu terbatas.

Pengembangan talenta OPSI juga tidak berhenti pada rangkaian kompetisi. Salah satu penguatan dilakukan melalui Bina Talenta Indonesia (BTI) Kolaboratif yang dilaksanakan pada 28 September 2026.

Program tersebut menguatkan enam kompetensi atau 6C, yaitu Critical Thinking, Creativity, Collaboration, Communication, Character, dan Citizenship. Penguatan ini dirancang agar talenta riset memiliki kemampuan yang lebih utuh, tidak hanya dari aspek akademik, tetapi juga karakter dan kemampuan berinteraksi dengan lingkungan.

“Jadi anak-anak dari 125 tim berkolaborasi untuk menyelesaikan suatu masalah, berinteraksi, berkomunikasi sehingga tercipta interaksi yang kuat antar peserta. Harapannya, ke depan mereka dapat berjejaring untuk pengembangan mereka sebagai bibit-bibit talenta riset,” pungkas Irene.

Peningkatan jumlah pendaftar OPSI turut menunjukkan tingginya partisipasi murid dalam bidang riset dan inovasi. Pada 2026, jumlah pendaftar OPSI mencapai 39.300 murid, meningkat sekitar 47 persen dibandingkan 26.723 pendaftar pada 2025.

Selain itu, untuk memperkuat kompetensi penelitian bagi peserta OPSI 2026, Kemendikdasmen juga berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kolaborasi tersebut mencakup penguatan metodologi penelitian, pemahaman mengenai klirens etik dalam penelitian, serta pengenalan dasar-dasar penelitian sesuai kaidah ilmiah.

Pada tingkat nasional, OPSI 2026 diikuti finalis dari jenjang SMP/MTs/sederajat dan SMA/MA/SMK/MAK/sederajat. Untuk jenjang pendidikan dasar, bidang yang dilombakan mencakup Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Terapan (IPT), dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Sementara itu, pada jenjang pendidikan menengah terdapat bidang Fisika Terapan dan Rekayasa (FTR), Ilmu Sosial Humaniora (ISH), serta Matematika, Sains, dan Teknologi (MST).

Sebagai bentuk apresiasi atas capaian peserta, Kemendikdasmen memberikan uang pembinaan bagi para peraih medali OPSI Tingkat Nasional Tahun 2026. Pada jenjang SMP/MTs/sederajat, peraih medali emas memperoleh Rp15 juta, perak Rp10 juta, dan perunggu Rp5 juta. Sementara pada jenjang SMA/MA/SMK/MAK/sederajat, peraih emas memperoleh Rp25 juta, perak Rp20 juta, dan perunggu Rp15 juta.

Selain uang pembinaan, para talenta berprestasi memperoleh sejumlah peluang pengembangan lanjutan, antara lain mengikuti pembinaan menuju ajang internasional, program Bina Talenta Indonesia, peluang mengikuti seleksi Beasiswa Talenta Indonesia untuk jenjang sarjana (S1) di dalam maupun luar negeri, serta peluang mengikuti jalur prestasi untuk masuk perguruan tinggi di dalam maupun luar negeri.

Melalui berbagai kesempatan tersebut, Kemendikdasmen mendorong agar capaian peserta OPSI tidak berhenti pada penganugerahan medali, tetapi berlanjut pada kesempatan belajar, pengembangan kompetensi, dan penguatan jejaring untuk mendukung perjalanan talenta riset dan inovasi. (Penulis: Tim Puspresnas, Editor: Destian, Denty)

Para pemenang OPSI 2026 saat menerima penganugrahan dan medali oleh Staf Khusus Menteri Bidang Peningkatan STEM dan Kompetensi Guru, Maila Dinia Husni Rahiem, di Tangerang Selatan, Selasa (29/9). Fotografer: Tim Puspresnas

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

SNT 7 Bogor Terapkan Pembelajaran STEM melalui Proyek Berbasis Masalah Nyata

SNT 7 Bogor Terapkan Pembelajaran STEM melalui Proyek Berbasis Masalah Nyata

Bandung Barat – Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) 7 Bogor menerapkan pembelajaran berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) untuk mendorong murid memahami materi melalui persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini diwujudkan melalui berbagai proyek yang mengintegrasikan sejumlah mata pelajaran.

Kepala SNT 7 Bogor, Fitriyani, menjelaskan bahwa penerapan STEM dan pembelajaran interdisipliner menjadi salah satu kekhasan SNT. Program tersebut mulai diterapkan setelah pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan prastudi pada awal pembelajaran September 2026.

Pada jenjang SMP, salah satu proyek yang dilaksanakan adalah “Misi Kurir Kemerdekaan”. Proyek ini menggabungkan Pendidikan Pancasila, Bahasa Indonesia, dan Matematika. Murid mempelajari informasi mengenai Proklamasi Kemerdekaan sekaligus melakukan perhitungan untuk merancang wadah yang mampu melindungi teks Proklamasi dari air dan tekanan selama proses pengiriman.

Sementara itu, pada jenjang SMA terdapat proyek “Site Plan Ruang Terbuka Adaptif”. Dalam proyek ini, murid kelas X mengintegrasikan pembelajaran IPA, Bahasa Indonesia, Matematika, dan PJOK untuk mengkaji fenomena urban heat island. Murid kemudian mengolah data dan menyusun rancangan ruang terbuka yang dapat mendukung upaya mitigasi perubahan iklim sekaligus meningkatkan kebugaran jasmani.

Proyek lainnya adalah “Teknologi Tapal Batas” yang memadukan Pendidikan Pancasila, Koding dan Kecerdasan Artifisial, Informatika, serta Fisika. Melalui proyek tersebut, murid mempelajari konsep kedaulatan NKRI, gelombang ultrasonik, penyusunan pseudocode, hingga pemrograman Arduino. Hasil pembelajaran diwujudkan dalam bentuk prototipe smart border berbasis sensor yang dapat mendeteksi objek secara otomatis dan real time.

Menurut Fitriyani, penerapan STEM memberikan dampak terhadap kemampuan murid dalam menyelesaikan persoalan. Murid didorong untuk mengembangkan kemampuan troubleshooting, berpikir logis dan sistematis, serta menerapkan pengukuran dalam kegiatan ilmiah.

Selain STEM, SNT 7 Bogor juga mengembangkan pembelajaran interdisipliner. Salah satunya melalui tema “Bersama Membangun Digital Positif” yang menggabungkan Pendidikan Pancasila, Bahasa Indonesia, Informatika, serta Koding dan Kecerdasan Artifisial. Murid diajak menganalisis persoalan etika digital dan menghasilkan kampanye positif dalam bentuk poster atau infografis.

Ada pula proyek “Bio Detective: Biodiversitas Tersembunyi” yang mengintegrasikan IPA dan Seni Rupa. Dalam kegiatan ini, murid mengamati serta mengidentifikasi keanekaragaman hayati di lingkungan sekolah dengan memanfaatkan perangkat digital dan sejumlah aplikasi berbasis kecerdasan artifisial. Hasil pengamatan kemudian diolah menjadi infografis digital dan dipresentasikan melalui kegiatan gallery walk.

Penerapan STEM dan pembelajaran interdisipliner tersebut menjadi bagian dari upaya SNT 7 Bogor menghadirkan pembelajaran yang kontekstual dan bermakna. Melalui proyek yang dikerjakan, murid tidak hanya memahami konsep pembelajaran, tetapi juga belajar menganalisis masalah, menguji gagasan, bekerja sama, dan menghasilkan solusi yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata. Proses inilah yang diharapkan mendorong terwujudnya pembelajaran mendalam di lingkungan SNT.

Sumber: Laman Kemendikdasmen

Pendaftaran TKA 2026 Ditutup, Jumlah Pendaftar Lengkap Naik Hampir 350 Ribu

Pendaftaran TKA 2026 Ditutup, Jumlah Pendaftar Lengkap Naik Hampir 350 Ribu

Siaran Pers

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 843/sipers/A6/IX/2026

Jakarta, 30 September 2026 — Pendaftaran Tes Kemampuan Akademik (TKA) Tahun 2026 untuk murid SMA, SMK, MA, dan satuan pendidikan sederajat resmi ditutup pada 27 September 2026. Hingga batas akhir pendaftaran, tercatat 4.215.314 murid telah mendaftar dari berbagai satuan pendidikan di seluruh Indonesia.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.863.957 murid telah melengkapi proses pendaftaran. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan TKA Tahun 2025 yang mencatat 3.518.167 murid, dengan kenaikan sebanyak 345.790 murid atau 9,8 persen. Jumlah pendaftar dengan data lengkap masih berpotensi bertambah setelah proses penyelesaian data residu dilakukan.

Kepala Badan Kebijakan dan Pengembangan Mutu Pendidikan (BKPDM), Toni Toharudin, menyampaikan bahwa peningkatan jumlah calon pendaftar menunjukkan semakin luasnya partisipasi satuan pendidikan dalam pelaksanaan TKA. “Tahun ini jumlah calon pendaftar TKA meningkat hampir 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ini menunjukkan partisipasi yang semakin luas dari satuan pendidikan dan peserta didik. Kami juga masih melakukan penyelesaian data residu, sehingga jumlah calon peserta yang tercatat saat ini masih dapat bertambah,” ujar Toni.

Setelah penutupan pendaftaran, Kemendikdasmen bersama pemerintah daerah dan satuan pendidikan melanjutkan proses pemutakhiran dan penyelesaian data residu. Proses tersebut dilakukan untuk memastikan data calon peserta lengkap dan sesuai sebelum memasuki tahapan pelaksanaan TKA.

Kemendikdasmen menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah, satuan pendidikan, guru, orang tua, dan calon peserta yang telah mendukung proses pendaftaran TKA 2026. Kolaborasi seluruh pihak menjadi bagian penting dalam memastikan kesiapan pelaksanaan asesmen di berbagai wilayah Indonesia.

Selanjutnya, Kemendikdasmen menyiapkan pelaksanaan TKA yang dijadwalkan berlangsung pada 26 Oktober hingga 8 November 2026. Persiapan meliputi kesiapan satuan pendidikan, infrastruktur, sistem, serta koordinasi dengan pemerintah daerah, kantor wilayah Kementerian Agama, perguruan tinggi negeri, dan berbagai pemangku kepentingan terkait.

TKA merupakan asesmen untuk memperoleh informasi mengenai capaian kemampuan akademik peserta didik. Hasil TKA dapat dimanfaatkan sebagai salah satu informasi untuk melihat kesiapan peserta didik melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, mendukung proses penerimaan murid baru, serta menjadi data bagi pemangku kepentingan dalam meningkatkan mutu pembelajaran.

Kemendikdasmen menegaskan bahwa TKA bukan penentu kelulusan dan tidak menggantikan penilaian yang dilakukan oleh satuan pendidikan. TKA melengkapi informasi mengenai capaian belajar peserta didik sehingga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan pendidikan.

Menjelang pelaksanaan, Kemendikdasmen mengajak seluruh peserta didik mempersiapkan diri dengan belajar sungguh-sungguh secara wajar dan tetap menjaga kesehatan. Satuan pendidikan juga diharapkan memastikan kesiapan teknis serta memberikan pendampingan kepada peserta didik agar pelaksanaan TKA berlangsung tertib dan lancar.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

GSI Jawa Barat Matangkan Persiapan Menuju Putaran Nasional 2026

GSI Jawa Barat Matangkan Persiapan Menuju Putaran Nasional 2026

Bandung – Jawa Barat terus mematangkan persiapan menghadapi putaran nasional Gala Siswa Indonesia (GSI) 2026 yang akan berlangsung pada Oktober mendatang. Persiapan dilakukan melalui rangkaian Training Center (TC) dan Talent Scouting bagi peserta GSI jenjang SMP untuk menjaring bibit unggul yang akan mewakili Jawa Barat di tingkat nasional.

Rangkaian kegiatan diawali dengan TC dan Talent Scouting GSI Putra Jawa Barat di GOR Bogor Selatan pada Jumat (25/9/2026). Para peserta menjalani serangkaian tes secara terukur, mulai dari tes antropometri dan biomotor dasar hingga pengujian kecerdasan taktis dan mentalitas bertanding melalui Game Situation.

Proses penjaringan tidak hanya melihat kemampuan pemain dalam pertandingan, tetapi juga memetakan berbagai aspek yang mendukung performa atlet. Pendekatan tersebut dilakukan melalui pengukuran kondisi fisik, keterampilan, serta kemampuan memahami situasi permainan sehingga talenta yang terjaring dapat dipersiapkan secara lebih optimal.

Pendekatan serupa diterapkan pada GSI Putri Jawa Barat melalui TC yang berlangsung pada Senin (28/9/2026) di dua lokasi di Kota Bandung. TC dilaksanakan berbasis data objektif untuk memperoleh gambaran kemampuan setiap pemain secara lebih menyeluruh.

Pada sesi pagi di SMPN 37 Bandung, para pemain mengikuti Tes Antropometri untuk memetakan komposisi dan struktur tubuh, serta Tes Biomotor yang mengukur kecepatan, kelincahan, daya ledak, dan daya tahan fisik. Selanjutnya, sesi siang di Lapangan Pindad Bandung difokuskan pada Tes Keterampilan, Teknik, dan Taktikal, serta penilaian aspek psikologi dan lingkungan sosial.

Rangkaian kegiatan GSI Putri kemudian ditutup dengan Game Simulasi untuk menguji pemahaman permainan dan kemampuan pemain dalam menghadapi situasi pertandingan di bawah tekanan.

Rangkaian TC dan Talent Scouting tersebut menjadi bagian dari persiapan Jawa Barat dalam membentuk tim GSI yang memiliki kesiapan fisik, teknik, taktikal, dan mental untuk menghadapi putaran nasional GSI 2026. Melalui TC berbasis data objektif dan proses Talent Scouting yang terukur, Jawa Barat berupaya menjaring bibit unggul sekaligus mempersiapkan skuad terbaik untuk menghadapi putaran nasional GSI 2026.

Kemendikdasmen Perkuat Pendidikan Pancasila melalui Pembelajaran Mendalam dan Budaya Sekolah

Kemendikdasmen Perkuat Pendidikan Pancasila melalui Pembelajaran Mendalam dan Budaya Sekolah

Siaran Pers

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 842/sipers/A6/IX/2026

Bandung, Jawa Barat, 29 September 2026 – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat pendidikan Pancasila sebagai pilar pembentukan karakter dan kepribadian peserta didik. Sejalan dengan hal tersebut, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa penguatan pendidikan Pancasila dilakukan tidak hanya melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui budaya sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, pembiasaan, serta pengalaman nyata peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam Seminar Lokakarya Akademik yang mengangkat tema “Pancasila Sebagai Falsafah dan Dasar Negara: Penguatan Pendidikan Pancasila dalam Sistem Pendidikan Nasional”, Menteri Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa pendidikan Pancasila perlu dipahami secara utuh melalui tiga aspek, yaitu pengetahuan mengenai Pancasila, pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan nyata, dan internalisasi Pancasila sebagai kepribadian bangsa Indonesia.

Menurutnya, pembelajaran Pancasila perlu terus dikembangkan agar tidak berhenti pada aspek pengetahuan. Oleh karena itu, penguatan dilakukan melalui pembelajaran mendalam (deep learning) dan optimalisasi hidden curriculum, sehingga nilai-nilai Pancasila dapat hadir dalam berbagai aktivitas dan budaya di sekolah.

“Kiita ingin perkuat lagi hidden curriculum. Jadi, kami sekarang ada kebijakan deep learning, pembelajaran mendalam yang kita berusaha untuk bagaimana konteks dan implementasi dari mata pelajaran itu menjadi lebih kuat lagi,” ucap Mendikdasmen di Bandung, Jawa Barat, Selasa (29/9).

Melalui pendekatan tersebut, sekolah diharapkan menjadi ruang yang memberikan pengalaman nyata kepada peserta didik untuk mempraktikkan nilai-nilai Pancasila. Interaksi guru dan murid, hubungan antar peserta didik, serta berbagai kegiatan sekolah menjadi bagian penting dalam membangun budaya yang mencerminkan kehidupan kebangsaan.

Selain pembelajaran, penguatan nasionalisme dilakukan melalui kegiatan ekstrakurikuler dan pembiasaan. Pramuka menjadi salah satu sarana penguatan karakter, sementara berbagai pilihan ekstrakurikuler juga dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan keterampilan di luar pembelajaran formal.

“Kami punya prinsip bahwa pilihan ekstrakurikuler itu perlu kita perbanyak bagi. Para murid dapat memiliki keterampilan, memiliki kemampuan di luar mata pelajaran yang diajarkan di pelajaran formal,” ucapnya.

Kemendikdasmen juga memperkuat pelaksanaan upacara bendera dan kegiatan pada hari-hari besar nasional. Dalam kegiatan tersebut, peserta didik diajak menghayati nilai-nilai kebangsaan melalui Ikrar Pelajar Indonesia yang mencakup keimanan dan ketakwaan, penghormatan kepada orang tua dan guru, kesungguhan belajar, kerukunan dengan teman, serta kecintaan terhadap tanah air.

Penguatan tersebut menjadi semakin penting karena nilai Pancasila perlu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Kecintaan terhadap Indonesia, misalnya, perlu tercermin dalam kepedulian terhadap lingkungan, penghormatan terhadap keberagaman, kemampuan hidup bersama, serta sikap yang mencerminkan persatuan.

“Sikap-sikap seperti ini akan bisa ditumbuhkan kalau murid memiliki banyak pengalaman dalam lembaga pendidikan yang banyak mengamalkan nilai-nilai Pancasila,” lanjut Mendikdasmen.

Dengan penguatan pembelajaran, budaya sekolah, keteladanan, pembiasaan, serta kegiatan kolaboratif, pendidikan Pancasila diharapkan semakin bermakna bagi peserta didik. Upaya ini menjadi bagian dari komitmen bersama untuk membentuk generasi Indonesia yang berkarakter, menghargai keberagaman, mencintai tanah air, dan siap berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Kemendikdasmen optimistis bahwa pendidikan yang mengintegrasikan pengetahuan dan nilai akan mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih bermakna. Dengan dukungan guru, sekolah, keluarga, dan seluruh ekosistem pendidikan, nilai-nilai Pancasila diharapkan tumbuh menjadi bagian dari kehidupan peserta didik dan menjadi bekal mereka dalam menyongsong masa depan Indonesia yang maju, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. (Penulis: Nanda/Editor: Stephanie,Denty/Fotografer: Morecka)

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers