Komik Buah Ajaib, Kenalkan Biji Pala Lewat Cerita dan Pembelajaran STEM

Komik Buah Ajaib, Kenalkan Biji Pala Lewat Cerita dan Pembelajaran STEM

Siaran Pers

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 841/sipers/A6/IX/2026

Jakarta, 29 September 2026 – Buku tidak selalu harus hadir dalam bentuk bacaan yang serius dan penuh teks. Komik dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan pengetahuan sekaligus menumbuhkan minat baca anak. Hal itu tergambar dalam buku yang berjudul Buah Ajaib, sebuah komik yang mengangkat biji pala melalui cerita, visual, dan informasi tentang manfaat serta sejarahnya.

Buku komik karya Tuti Adhayati tersebut dibedah dalam kegiatan Bedah Buku Seri “Balik Cerita” yang diselenggarakan Pusat Perbukuan, Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), di Perpustakaan Kemendikdasmen, Jakarta, pada Selasa (29/9).

Kepala Pusat Perbukuan, Supriyatno, dalam pesannya mengatakan kegiatan bedah buku merupakan salah satu ikhtiar untuk meningkatkan literasi sekaligus memperkenalkan buku-buku terbitan Pusat Perbukuan maupun karya penulis dan berbagai lembaga kepada masyarakat. “Bedah buku yang dilakukan sebagai sebuah ikhtiar dalam rangka untuk meningkatkan literasi, memperkenalkan buku-buku hasil terbitan Pusat Perbukuan maupun buku-buku yang dituliskan oleh para penulis dan juga dari berbagai lembaga,” ujar Supriyatno.

Dalam kesempatan tersebut, Penulis Buku Buah Ajaib, Tuti Adhayati, menceritakan bahwa ide penulisan komik tersebut berawal dari ketertarikan terhadap pala. Ia melihat masih banyak orang, termasuk orang dewasa, yang belum mengetahui secara utuh bentuk biji pala maupun berbagai manfaatnya. “Biji Pala bukan cuma untuk membuat soto, bukan cuma jadi bumbu aja. Tetapi dapat diolah menjadi obat-obatan, parfum, banyak sekali yang lengkap berada dalam kehidupan kita tanpa kita sadari,” kata Tuti.

Dari ketertarikan tersebut, Tuti menuturkan bahwa melakukan riset mengenai biji pala, mulai dari manfaat, pengolahan, hingga sejarahnya sebagai salah satu komoditas yang pernah menarik perhatian dunia. “Bahwa di Indonesia itu punya salah satu rempah-rempah yang dulu pernah mahal harganya, namun sekarang mungkin sudah banyak dan tampak biasa saja,” tuturnya.

Tuti memilih format komik dalam proses penulisan agar informasi tentang pala dapat diterima anak-anak dengan cara yang menyenangkan. Ia membayangkan buku yang penuh gambar dan warna, tetapi tetap menyampaikan informasi. “Pokoknya harus banyak gambarnya, berwarna, supaya anak-anak bacanya tidak membosankan dan kaku,” ujarnya.

Tuti kemudian menentukan pembaca sasaran pada jenjang sekolah dasar. Menurut Tuti, informasi dalam buku anak perlu disampaikan secara sederhana agar tidak membebani konsentrasi pembaca. Ia pun turut memilih satu persoalan sebagai bagian dari alur cerita, yaitu persoalan jamur yang berkaitan dengan pala. Informasi tentang manfaat dan kandungan pala kemudian dimasukkan ke dalam cerita melalui situasi yang dialami tokoh dalam komik. “Jadi tujuan utama agar info tentang masalah dalam komik tersebut tetap masuk tapi anak-anak tidak merasa seperti dibebankan untuk berpikir keras,” jelas Tuti.

Selain sebagai bacaan, buku komik ‘Buah Ajaib’ juga sudah digunakan menjadi sumber belajar yang kontekstual oleh guru SMP Bosowa Bina Insani Bogor, Kharisma Prawesti Sri Utami, yang melihat cerita tentang Biji Pala sebagai buah ajaib dalam komik tersebut dapat menjadi titik awal bagi murid untuk menemukan masalah, merancang solusi, dan menghubungkannya dengan berbagai bidang dalam pembelajaran STEM.

Kharisma menuturkan bahwa setelah membaca komik, murid dapat diajak mengidentifikasi persoalan yang muncul dalam cerita, misalnya persoalan jamur pada biji pala. Kemudian dari sana, murid dapat diajak memikirkan solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi persoalan tersebut.

Ia menjelaskan bahwa pendekatan engineering dalam STEM tidak selalu harus berkaitan dengan mesin atau teknologi. Namun murid dapat diajak memikirkan desain atau rekayasa solusi berdasarkan persoalan yang mereka temukan dalam cerita. “Karena engineering bukan hanya berkaitan dengan mesin, namun desain atau rekayasa solusi apa yang dapat dilakukan sudah termasuk dalam pembelajaran engineering sendiri,” ujarnya.

Lebih lanjut, Kharisma mengungkapkan bahwa konsep matematika juga dapat dihadirkan melalui aktivitas sederhana. Misalnya, murid dapat diajak menghitung ukuran rak pengering buah pala atau memperkirakan durasi pengeringan. “Setelah membaca buku komik tersebut dapat memberikan lembar kerja yang berisi pertanyaan tentang masalah yang ditemukan dalam cerita dan solusi yang dapat dirancang oleh murid,” ucap Kharisma.

Menurut Kharisma, pembelajaran STEM tidak berhenti pada IPA isi buku komik ‘Buah Ajaib’ juga dapat dikaitkan dengan IPS, misalnya dengan membahas pala sebagai komoditas ekspor serta bagaimana pengolahan produk dapat memberikan nilai ekonomi.

“Berbicara STEM tidak hanya dikaitkan dengan IPA namun bisa dengan mata pelajaran lain seperti komik ini bisa dikaitkan dengan IPS yakni komoditas ekspor atau bagaimana meningkatkan ekonomi dengan cara mengolahnya,” pungkasnya.

Harapannya dengan pendekatan tersebut, sebuah komik tidak hanya menjadi bahan bacaan, tetapi juga dapat menjadi pemantik rasa ingin tahu. Cerita tentang buah pala dapat membawa murid untuk membaca, menemukan persoalan, bertanya, menghitung, merancang solusi, sekaligus mengenal potensi Indonesia.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

248 SMA, 307 SMK, dan 121 SLB di Jatim Mendapatkan Revitalisasi

248 SMA, 307 SMK, dan 121 SLB di Jatim Mendapatkan Revitalisasi

Siaran Pers

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 837/sipers/A6/IX/2026

Surabaya, Jawa Timur, 29 September 2026 — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat kualitas pendidikan melalui Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Digitalisasi Pembelajaran. Kedua program tersebut merupakan program prioritas yang diamanatkan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
 
Hal tersebut disampaikan Abdul Mu’ti dalam kegiatan Penguatan Implementasi Program Prioritas dan Revitalisasi Satuan Pendidikan di Jawa Timur. Menurutnya, penguatan pendidikan dilakukan melalui empat fondasi, yaitu infrastruktur fisik melalui revitalisasi dan digitalisasi, infrastruktur pedagogis melalui peningkatan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan, infrastruktur budaya melalui penguatan pendidikan karakter, serta infrastruktur regulasi yang mendukung pelaksanaan pendidikan bermutu.

Mendikdasmen menghadiri kegiatan Penguatan Implementasi Program Prioritas dan Revitalisasi Satuan Pendidikan di Jawa Timur di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Surabaya, Sabtu (26/9). Fotografer: Destian

Untuk memperbaiki kondisi sarana belajar di sekolah, pemerintah menargetkan perbaikan secara bertahap pada seluruh sekolah yang mengalami kerusakan sedang dan berat. Pada 2025, sebanyak 16.167 satuan pendidikan telah direvitalisasi. pada 2026, pemerintah menargetkan revitalisasi 71.744 satuan pendidikan melalui dukungan tambahan anggaran dan APBN.
 
Pelaksanaan revitalisasi dilakukan dengan mekanisme swakelola. Menurut Menteri Mu’ti, mekanisme ini memberikan kemudahan dalam pelaksanaan, lebih efisien karena dikelola secara langsung, dan memungkinkan pembangunan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing sekolah. Swakelola juga melibatkan masyarakat setempat sehingga turut menggerakkan perekonomian di sekitar satuan pendidikan.
 
Pada 2026, prioritas revitalisasi diberikan kepada satuan pendidikan yang terdampak bencana, berada di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta mengalami kerusakan berat. Mendikdasmen mengajak seluruh pihak mengawal pelaksanaan program agar tepat sasaran dan berjalan sesuai tujuan. “Saya ingin mengajak semua kita untuk mendukung program ini. Jangan ada yang mengganggu program ini untuk kepentingan pribadi,” tegas Abdul Mu’ti.
 
Di sisi lain, program Digitalisasi Pembelajaran diarahkan untuk mendukung guru menghadirkan proses belajar yang lebih menarik dan bermakna. Dukungan tersebut dilakukan melalui penyediaan Interactive Flat Panel (IFP), yang disertai dengan pelatihan guru, bantuan laptop, serta penyediaan materi pembelajaran dalam media penyimpanan. Abdul Mu’ti menyampaikan, penyediaan IFP akan terus diperluas. Pada 2026, pemerintah menyiapkan tambahan perangkat sehingga setiap satuan pendidikan dapat memperoleh tiga IFP, sekaligus meningkatkan kapasitas guru dalam memanfaatkan teknologi tersebut agar pembelajaran lebih menarik dan bermakna.
 
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai, mengapresiasi dukungan pemerintah pusat terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Jawa Timur, khususnya melalui program Revitalisasi Satuan Pendidikan. Menurutnya, dukungan tersebut dirasakan oleh satuan pendidikan di berbagai wilayah, termasuk daerah yang membutuhkan afirmasi. “Salah satu program nasional yang sangat kami rasakan dampaknya adalah Revitalisasi Satuan Pendidikan. Atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan seluruh keluarga besar pendidikan di Provinsi Jawa Timur, kami menyampaikan terima kasih kepada Bapak Presiden Republik Indonesia, Bapak Menteri, dan seluruh jajarannya,” kata Aries.

Secara khusus di Jawa Timur, pada 2026 dukungan revitalisasi diberikan kepada 248 SMA, 307 SMK, dan 121 SLB, termasuk satuan pendidikan di daerah 3T. Angka tersebut menunjukkan bahwa revitalisasi tidak hanya menyasar perbaikan sarana fisik, tetapi juga diarahkan untuk mendukung terciptanya lingkungan belajar yang lebih baik bagi warga sekolah.
 
“Bagi kami, revitalisasi bukan hanya soal memperbaiki gedung atau tembok. Revitalisasi harus menghidupkan kembali semangat sekolah. Gedung boleh baru, tetapi yang jauh lebih penting [adalah] bagaimana di dalam gedung ini lahir pembelajaran yang lebih baik,” pungkas Aries. (Penulis: Stephanie / Editor: Rany)

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

Monitoring Revitalisasi dan Digitalisasi di Kabupaten Cirebon

Monitoring Revitalisasi dan Digitalisasi di Kabupaten Cirebon

Kabupaten Cirebon – BBPMP Provinsi Jawa Barat mendampingi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., bersama Bupati Cirebon, Drs. Imron, M.Ag., dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon, H. Ronianto, S.Pd., M.M., dalam monitoring dan evaluasi pelaksanaan program revitalisasi dan digitalisasi satuan pendidikan di Kabupaten Cirebon pada Senin (28/9/2026).

Kunjungan dilakukan di SDN 1 Kedungjaya, Kecamatan Kedawung. Pada tahun 2026, sekolah ini memperoleh bantuan revitalisasi untuk rehabilitasi 2 ruang administrasi, 12 ruang kelas, 1 ruang perpustakaan, serta 1 paket toilet yang terdiri atas 9 pintu beserta sanitasinya.

Revitalisasi sarana dan prasarana tersebut mendukung terciptanya lingkungan belajar yang lebih aman, nyaman, dan layak. Sementara itu, digitalisasi pendidikan menjadi bagian dari upaya mendorong pemanfaatan teknologi dalam mendukung pembelajaran dan pengelolaan pendidikan.

Monitoring dilakukan untuk melihat secara langsung pelaksanaan program sekaligus memastikan revitalisasi dan digitalisasi dapat memberikan manfaat bagi satuan pendidikan dan peserta didik.

Melalui sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, BBPMP Provinsi Jawa Barat, dan satuan pendidikan, program revitalisasi dan digitalisasi diharapkan terus mendukung peningkatan kualitas layanan pendidikan di Kabupaten Cirebon.

Kemendikdasmen Revitalisasi 89 Sekolah di Demak, 111 Titik Diusulkan

Kemendikdasmen Revitalisasi 89 Sekolah di Demak, 111 Titik Diusulkan

Siaran Pers

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 836/sipers/A6/IX/2026

Kabupaten Demak, Jawa Tengah, 28 September 2026 – Kondisi sekolah yang berada di wilayah rawan bencana menjadi perhatian dalam dialog Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, bersama guru dan kepala sekolah di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Sabtu (26/9). Revitalisasi sekolah dipandang penting untuk memastikan peserta didik tetap memiliki tempat belajar yang aman dan layak, termasuk ketika satuan pendidikan berada di wilayah yang terdampak banjir.

Kabupaten Demak telah memperoleh program revitalisasi bagi 89 satuan pendidikan pada 2025 dan mengusulkan 111 satuan pendidikan untuk tahap berikutnya. Sejumlah sekolah berada di wilayah yang berulang kali menghadapi banjir, sehingga penguatan bangunan, termasuk konsep sekolah panggung di lokasi tertentu, diperlukan agar kegiatan belajar tidak terhenti ketika bencana terjadi.

“Prioritas pertama adalah penyelesaian sekolah-sekolah di daerah bencana. Siswa tidak boleh kehilangan tempat dan waktu belajar karena fasilitasnya rusak akibat bencana,” ujarnya.

Dalam dialog tersebut, Kepala SD Negeri Batursari 1, Suwono, menyampaikan harapan agar pemerintah daerah dilibatkan dalam menentukan sekolah penerima revitalisasi agar kondisi nyata di lapangan ikut menjadi dasar penetapan.

Menanggapi hal tersebut, Wamen Atip mengatakan sekolah dengan kerusakan berat, terutama yang berada di wilayah terdampak bencana, perlu mendapat perhatian dalam penentuan prioritas. Ia juga mengingatkan pentingnya pengawasan bersama agar pelaksanaan revitalisasi sesuai dengan kebutuhan, spesifikasi pekerjaan, dan ketentuan yang berlaku.

Revitalisasi juga diharapkan tidak berhenti pada perbaikan bangunan. Sekolah perlu kembali berfungsi sebagai ruang belajar yang aman dan nyaman sehingga peserta didik tidak kehilangan kesempatan mengikuti pembelajaran akibat kerusakan fasilitas.

“Yang kita bangun bukan hanya bangunannya. Yang harus kita pastikan adalah anak-anak tetap punya tempat untuk belajar,” kata Atip.

Selain kondisi sarana pendidikan, peserta dialog turut menyampaikan kebutuhan yang dihadapi oleh para pendidik. Kepala TKN Pembina Mranggen, Istirokah, meminta agar pemerintah memberikan perhatian bagi guru TK yang telah mengajar lebih dari 20 tahun tetapi belum memiliki ijazah S1 sehingga belum dapat mengikuti PPG dan sertifikasi.

Menanggapi hal ini, Wamen Atip mengatakan bahwa pemerintah menyediakan beasiswa bagi guru yang perlu memenuhi kualifikasi D4/S1. Aspirasi mengenai pendidik PAUD nonformal saat ini masih dikaji dengan mempertimbangkan regulasi dan alokasi anggaran.

Kepala SMP Negeri 2 Mranggen, Heri Sarwanto, mengangkat persoalan lain. Ia menjelaskan bahwa sekolah kini menghadapi tuntutan yang semakin beragam, sementara sebagian keluarga masih melihat pendidikan hanya dari manfaat bantuan yang diterima. Ia juga mempertanyakan pendekatan penanganan anak tidak sekolah (ATS), terutama bagi anak yang belum memiliki kemauan untuk kembali ke sekolah formal.

Wamen Atip merespons bahwa belajar tidak selalu harus berlangsung melalui sekolah. Pemerintah perlu memperluas pendekatan dari schooling menuju learning, termasuk melalui PKBM. “Tujuan sekolah bukan semata-mata untuk mencari kerja, tetapi agar kita menjadi manusia yang cerdas,” ujarnya.

Di Kabupaten Demak, data sementara per 31 Agustus mencatat sekitar 8.000 anak tidak sekolah. Angka tersebut masih diverifikasi untuk memastikan tidak ada data ganda dan setiap anak benar-benar teridentifikasi. Pemerintah Kabupaten Demak menjalankan pendekatan lintas sektor melalui program Gerakan Terpadu Temukan, Layanan, dan Integrasikan (Gardu Teladan), serta dukungan PKBM dan program Ayo Sekolah Kembali.

Sementara itu, terkait kebutuhan guru, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Demak, Haris Wahyudi Ridwan, menyebut sekitar 20 guru dan tenaga kependidikan memasuki masa pensiun setiap bulan atau lebih dari 200 orang dalam setahun. Dalam dua tahun terakhir, Demak juga belum memperoleh formasi penerimaan yang mencukupi. Pemerintah daerah berharap kebutuhan sekitar 400 formasi dapat dipenuhi untuk mengurangi kekosongan tenaga pendidik di sekolah.

Wamen Atip mengatakan pemerintah terus melakukan penataan kebutuhan dan pengelolaan guru secara bertahap sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

Kemendikdasmen Perkuat Revitalisasi Pendidikan untuk Hadirkan Lingkungan Belajar yang Aman dan Nyaman

Kemendikdasmen Perkuat Revitalisasi Pendidikan untuk Hadirkan Lingkungan Belajar yang Aman dan Nyaman

Jakarta – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat revitalisasi pendidikan sebagai bagian dari upaya menghadirkan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi murid. Program tersebut menjadi salah satu langkah untuk mewujudkan pendidikan bermutu bagi semua, khususnya melalui peningkatan kualitas sarana dan prasarana pembelajaran.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menyampaikan hal tersebut saat menjadi narasumber dalam siniar bersama Direktur Pemberitaan Tribun Network, Febi Mahindra Putra, di Tribun Network, Jumat (25/9). Perbincangan tersebut membahas sejumlah isu pendidikan dasar dan menengah, antara lain revitalisasi pendidikan, digitalisasi pembelajaran, dan Tes Kemampuan Akademik (TKA).

Abdul Mu’ti menjelaskan, visi Kemendikdasmen adalah menghadirkan pendidikan bermutu untuk semua melalui partisipasi semesta. Untuk mendukung visi tersebut, Kemendikdasmen memperkuat empat aspek, yakni physical infrastructure, pedagogical infrastructure, cultural infrastructure, dan legal infrastructure.

Dalam penguatan physical infrastructure, Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Digitalisasi Pembelajaran menjadi bagian dari upaya menyediakan sarana pendidikan yang mendukung terciptanya proses belajar yang aman dan nyaman. “Revitalisasi dan digitalisasi itu bukan tujuan, tetapi sarana untuk mencapai tujuan pendidikan yang bermutu,” ujarnya.

Menurut Abdul Mu’ti, kondisi sarana dan prasarana sekolah memiliki kaitan dengan pelaksanaan pembelajaran. Ruang kelas dan fasilitas yang memadai dapat memberikan kenyamanan bagi murid sekaligus membantu guru menjalankan proses pembelajaran. Karena itu, revitalisasi tidak hanya diarahkan pada perbaikan bangunan sekolah, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan mutu pembelajaran dan ekosistem pendidikan.

Ia menyebutkan, sekolah yang mengalami kerusakan tersebar di berbagai wilayah dengan tingkat kerusakan mulai dari ringan, sedang, hingga berat. Secara keseluruhan, jumlah sekolah yang mengalami kerusakan mencapai lebih dari 200 ribu sekolah. Kemendikdasmen kemudian menetapkan sekolah dengan kerusakan berat sebagai salah satu prioritas untuk ditangani secara bertahap, dengan tetap mempertimbangkan kemampuan anggaran dan program prioritas pendidikan lainnya.

Pada 2025, Kemendikdasmen merevitalisasi 16.167 sekolah dari target 10.669 sekolah atau mencapai 135 persen. Sementara itu, sasaran awal revitalisasi pada 2026 mencapai 71.744 sekolah. Jumlah tersebut kemudian bertambah sekitar enam ribu sekolah, dengan pelaksanaannya masih menunggu pencairan anggaran tambahan pada tahap berikutnya.

Penetapan penerima revitalisasi dilakukan berdasarkan berbagai usulan, antara lain dari pemerintah daerah, aspirasi anggota dewan dan tokoh masyarakat, serta masyarakat. Informasi mengenai kondisi sekolah juga dapat disampaikan oleh kreator konten. Program revitalisasi tersebut mencakup sekolah negeri maupun swasta. Pada 2025, sebanyak 23 persen penerima bantuan revitalisasi merupakan sekolah swasta.

Untuk 2026, prioritas revitalisasi mencakup sekolah yang terdampak bencana di sejumlah daerah, sekolah di wilayah 3T, serta sekolah dengan kondisi kerusakan berat, termasuk sekolah yang berada di kawasan perkotaan.

Pelaksanaan Revitalisasi Satuan Pendidikan dilakukan melalui mekanisme swakelola dengan melibatkan pihak sekolah dalam proses pelaksanaannya. Mekanisme ini, menurut Mendikdasmen, memberikan sejumlah manfaat, antara lain efisiensi anggaran dan pelaksanaan pekerjaan yang lebih tepat waktu.

Selain mendukung perbaikan sarana pendidikan, mekanisme swakelola juga dapat memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar karena tenaga kerja maupun material dapat diperoleh dari lingkungan setempat. Dengan demikian, revitalisasi diharapkan dapat memperbaiki kondisi fisik sekolah sekaligus mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang lebih layak bagi murid dan menunjang guru dalam melaksanakan pembelajaran.

Berita ini telah tayang juga di https://www.kemendikdasmen.go.id/berita/16208-revitalisasi-satuan-pendidikan-dukung-murid-belajar-lebih-aman-dan-nyaman